Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN

1.1 Persentuhan Weda dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pada abad pertengahan, saat hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama sedang
sangat mesra-mesranya, maka para peneliti, penemu dalam Fisika adalah orang-orang yang
taat beragama. Banyak merupakan aktivis keagaamaan, gereja, ulama, sufi dan lain
sebagainya. Tidak jarang kalangan rokhaniwan umumnya sebagai seorang peneliti, mencari
kebenaran ciptaan Tuhan. Seperti penelitian mereka tentang asal muasal dari alam semesta
ini.

Menurut Albert Einsten, dimasa depan agama akan menjadi agama alam semesta. Agama
akan dapat diterima berbagai kalangan secara universal. Agama yang menghindari dogma
dan teologi. Berlaku secara alamiah dan bathiniah, serta berdasarkan pengertian agama yang
muncul karena berbagai pengalaman, baik fisik maupun spiritual, dan merupakan satu
kesatuan yang sangat berarti.

Alam sebagai satu-kesatuan terdiri atas Bhuta-kala yang meliputi: (1) bhuta
(ruang,materi), serta (2) kala (waktu,energi). Interaksi antara keduanya menyebabkan alam
-baik buana agung, makrokosmos maupun buana alit, mikro kosmos ) tidak bersifat kekal,
tetapi senantiasa mengalami perubahan, karena hanya perubahanlah yang kekal. Sangat
sesuai dengan management modern yaitu manajemen perubahan ( Change Management),
yang selalu mengelola perubahan dalam mencapai suatu tujuan, karena diyakini bahwa yang
kekal adalah peruybahan tersebut secara dinamis, bukan bersifat statis.

Materi (bhuta) berubah karena ulah sang kala. Lalu adakah aturan untuk semuanya ini?.
Berubah karena peradaban, karena meningkatnya kemampuan iptek dan kemampuan nalar
manusia di dunia ini.

1
Alam semesta ini diciptakan Tuhan, Ida Sang Hyang Widi Wasa sebagai suatu paket yang
lengkap dalam suatu system dengan komposisi, struktur dan hukumnya sendiri. Segala gerak
alam diatur dengan hukum alam Rta, sedangkan tingkah laku manusia diatur dengan dharma.

Manusia merupakan bagian dari alam, maka secara langsung mereka juga dibelenggu
oleh hukum alam. Hukum alam ini kemudian menurut Darwin, dalam hukum struggle for
live nya, memaparkan bahwa siapa yang kuat (bertahan) survival dialah yang akan menang,
dan bertahan. Disini sering kita sebut dengan proses seleksi alam.

Hukum alam ini bersifat mengatur gerak alam semesta, baik makrokosmos, maupun
mikrokosmos. Dari skala pada tingkat mikro hingga makro. Benda-benda langit beredar
dalam lintasannya menurut Rta.

Demikian pula gerakan-gerakan elektron di sekeliling inti., hampir mirip gerakannya


dengan gerakan planet, atau bintang sebagai anggota system tata surya. Hukum alam bersifat
rahasia yang mesti disingkap dengan kemampuan akal budhi manusia. Pada perkembangan
selanjutnya Rta berkembang menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang saati ini lebih
dikenal dengan sains.

Petualangan manusia dalam dunia sains berawal dari keragu-raguan dan bermuara pada
kepercayaan akan adanya ketidakpastian. Sebaliknya, penyerahan diri pada dharma, secara
umum dikenal sebagai ajaran agama. Hal ini bermula dari kepercayaan dan mencapai
puncaknya, bermuara pada tingkat keyakinan dan kepasrahan.

Dengan demikian, sains dan agama menurut perspektif Hindu bukanlah sesuatu yang
bertentangan, tetapi perlu dipadukan untuk suatu inovasi yang lebih baik. Jika ajaran agama
dianggap sebagai filsafat hidup, sementara filsafat merupakan induk bagi pengetahuan, maka
keduanya sebenarnya merupakan sebuah himpunan dan himpunan bagiannya, sehingga tidak
layak jika keduanya masih dipertentangkan.

Memperoleh kebenaran ilmiah, pengetahuan modern memakai langkah-langkah baku


yang dikenal sebagai metode ilmiah. Dalam ajaran agama hindu dikenal dalam falsafat
Samkhya, langkah-langkah itu disebut Tri Pramana, yaitu :
(1) Anumana Pramana.
(2) Agama Pramana.
(3) Praktyasa Pramana.

2
Tri Pramana merupakan metode ilmiah dalam Hindu. Jika hidup dipandang sebagai
sebuah eksperimen bila meminjam dan menyitir pendapat Mahatma Gandhi, maka Tri
Pramana adalah landasannya.

Eksperimen bermula dari adanya problema yang perlu dipecahkan. Pemecahan masalah
dilakukan dengan pengamatan atas gejala-gejala yang timbul (Anumana Pramana),
mengumpulkan keterangan-keterangan dari sumber tertulis atau pengalaman (Agama
Pramana), serta dibuktikan dengan pengamatan langsung (Praktyasa Pramana). Dalam ilmu
pengetahuan dikenal bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didapat melalui cara
ilmiah dan sitematis. Cara ilmiah tersebut adalah dengan cara rasional dan empiric, serta
tahapan yang mengikuti kaidah ilmiah. Tahapan ini dikenal dengan tahapan kerja yang
sistematis.

Kebenaran pengetahuan yang telah berhasil disingkap harus dipublikasikan, disampaikan


kepada orang lain dan tidak boleh dikuasai sendiri. Hal ini disebabkan pengetahuan bersifat
mengalir (Saraswati), bagaikan siklus air (Banyu Pinaruh) dalam kerangka Tri Pramana.

Sungguhlah berdosa jika sampai kita memiliki ilmu pengetahuan itu sendiri tapi hanya
kita kuasai sendiri. Agar kita tidak serakah terhadap ilmu, maka ada baiknya kita mengingat
amanat kitab suci WEDA. Seperti nyala api, pengetahuan dan keterampilan hendaknya
disebarluaskan kepada yang lainnya (Rigveda 1.12.6). Dan dalam Bhagawadgita disebutkan
bahwa : persembahan berupa ilmu pengetahuan lebih bermutu daripada persembahan materi ;
dalam keseluruhannya semua kerja ini berpusat pada ilmu pengetahuan ( Bhagawadgita
IV.33).

Terkait dengan hal ini perlu pula kita ingat Catur Marga, atau empat jalan menuju
kesempurnaan yang merupakan salah satu cara yang bisa dipilih umat manusia adalah Jnana
Marga, disamping tiga marga lainnya, yang tentunya akan bermuara pada muara besar
Mokhsa.

Informasinya diatas dapat dilengkapi dalam bidang-bidang lain ilmu pengetahuan dan
teknologi, yang menunjukkan betapa kayanya weda dalam kaitanmya dengan iptek,
diantaranya pada uraian dibawah ini yang mana isi weda bila ditarik mundur pada zaman

3
penulisannya, maka akan terlihat sangat futuristic, memandang sesuatu itu sangat jauh
kedepan.

Pada tahun 1895, delapan tahun sebelum pesawat terbang Amerika pertama di uji
cobakan di Kitty Howk, North Carolina, seorang sastrawan sansekerta India bernama Shivkar
Bapuji Talpade dan istrinya menerbangkan pesawat buatan mereka di Chowpatty Beach
Mumbai.

Para penganut Weda di jaman dahulu telah menjelajahi angkasa dengan menggunakan
kendaraan sejenis pesawat. Tidak hanya sekedar menjelajah akan tetapi mereka juga
berperang menggunakan pesawat tempur dalam usaha menguasai angkasa. Hal ini
menunjukkan bahwa mereka telah menguasai tehnologi yang berkaitan dengan penerbangan
termasuk strata, arus atmosfir, tempetur relatif, kelembaban udara, grafitasi dan lain-lain.

Rig Weda, merupakan dokumen tertua dalam sejarah pustaka manusia berisikan referensi
tentang jenis-jenis kendaraan sebagai berikut:
Jalayan yaitu kendaraan yang dapat bergerak di udara dan air (Rig Weda 6.58.3);
Kaara, kendaraan yang dapat bergerak di darat dan air (Rig Weda 9.14.1);
Tritala, kendaraan bertingkat tiga (Rig Weda 3.14.1);
Trichakra Raatha, kendaraan beroda tiga yang bergerak di udara (Rig Weda 4.36.1);
Vaayu Raatha, kendaraan yang menggunakan tenaga gas (Rig Weda 5.41.6);
Vidyut Raatha,kendaraan yang menggunakan tenaga listrik (Rig Weda3.14.1)
Agastya Samhita menjelaskan tentang dua jenis pesawat terbang sederhana, yaitu :

1. Chatra yaitu balon terbang menggunakan gas hydrogen. Proses ekstraksi gas hydrogen
dari air dijelaskan secara detail termasuk menggunakan tenaga listrik. Ini disebut sebagai
pesawat primitif dan sederhana hanya digunakan untuk melarikan diri saat terkepung oleh
musuh. Pesawat in dinamai “Agniyana”.

2. Parasut. sejenis parasut yang dapat dibuka dan ditutup dengan menggunakan tali.

4
BAB III

PENUTUP

1.2 KESIMPULAN

Suatu hal yang memang merupakan suatu hal yang sangat penting, Karena Hindu
mengagungkan ilmu pengetahuan sebagai suatu anugerah Tuhan untuk dapat didaya gunakan
dengan baik oleh manusia sehingga dapat mempermudah manusia dalam kehidupannya, tetapi
kembali lagi kepada azas tunggal yang tidak dapat diabaikan, bahwa setiap hal harus dilakukan
berdasarkan dharma, sehingga keseimbangan hidup dapat dicapai yang menuju pada tercapainya
tujuan hidup dalam agama Hindu yaitu “Mokshartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”.

5
1.3 DAFTAR PUSTAKA

[1] Pudja, G. Sudhartha, Tjokorda RAI. (2003). Manawadharma sastra. Jakarta Ditjen Bimas
Hindu Buddha Depag RI.

[2] Titib, I Made. (1998). Veda Sastra Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita.

[3] Surpha, I Wayan. (2005). Pengantar Hukum Hindu. Surabaya: Paramita.

[4] Astana, I Made. (2003). Astha Sastra. Surabaya: Paramita.

[5] Kajeng, I Wayan, dkk. (1988). Sarasamuccaya. Jakarta: Daya Praza Press.

[6] Puja, I Gede. (1980). Weda, Pengantar Agama Hindu III. Jakarta: Ditjen Bimas Hindu
Budha Depag RI.

[7] Pendit, Nyoman S. (1967). Bhagawadgita. Jakarta: Ditjen Bimas Hindu dan Buddha
Depag RI.

[8] Dharmayasa, I Made. (1995). Canaknya Niti Sastra. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.

[9] Pendit, Nyoman S. (1967). Aspek-aspek Agama Kita. Jakarta: Ditjen Bimas Hindu dan
Buddha Depag. RI.