Anda di halaman 1dari 12

resiko yang akan dihadapi bank.

Risiko kredit (credit risk)

Risiko kredit (credit risk) didefinisikan sebagai risiko kerugian yang terkait dengan
kemungkinan kegagalan counterparty memenuhi kewajibannya; atau risiko
bahwa debitur tidak membayar kembali utangnya.

Contoh

Bank A memberikan kredit perumahan kepada debitur perorangan. Saat


memberikan kredit tersebut, bank memiliki risiko bahwa sebagian – atau seluruh
– debitur perorangan tersebut akan gagal membayar bunga ataupun pokok kredit
yang diterimanya.

Risiko kredit timbul dari adanya kemungkinan bahwa kredit yang diberikan oleh
bank, atau obligasi yang dibeli, tidak dapat dibayarkan kembali. Risiko kredit juga
timbul dari tidak dipenuhinya berbagai bentuk kewajiban pihak lain kepada bank,
seperti kegagalan memenuhi kewajiban pembayaran dalam kontrak derivatif.

Untuk sebagian bank, risiko kredit merupakan risiko terbesar yang dihadapi. Pada
umumnya, marjin yang diperhitungkan untuk mengantisipasi risiko kredit
hanyalah merupakan bagian kecil dari total kredit yang diberikan bank dan oleh
karenanya kerugian pada kredit dapat menghancurkan modal bank dalam waktu
singkat.

Contoh

Barclays Bank
Pada bulan Maret 1993 Barclays Bank di Inggris mengumumkan kerugian sebesar
GBP 244 juta untuk tahun 1992, walaupun telah membentuk provisi sebesar GBP
2,5 miliar untuk kredit macet (bad debt) dan kredit yang diragukan (doubtful
debt) pada tahun berjalan. Termasuk dalam jumlah provisi tersebut adalah
pembentukan provisi tertinggi dalam sejarah sebesar GBP 240 juta untuk
pemberian kredit sebesar GBP 422 juta kepada IMRY, sebuah perusahaan
pengembang properti. Besarnya kerugian ini berawal dari kejatuhan harga
properti di Inggris pada awal tahun 1990-an.

Metode pengelolaan risiko kredit

Bank menggunakan sejumlah teknik dan kebijakan dalam mengelola risiko kredit
untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya atau dampak dari kerugian kredit
(dikenal dengan mitigasi risiko kredit). Teknik dan kebijakan tersebut adalah:

model pemeringkatan (grading model)untuk kredit perorangan

manajemen portofolio kredit

sekuritisasi

agunan

pengawasan arus kas


manajemen pemulihan (recovery management).

Untuk meningkatkan pemahaman pembaca mengenai risiko kredit, berbagai


metode di atas dijelaskan di bawah ini.

Model pemeringkatan (grading model)

Kredit yang diberikan bank setiap saat dapat menjadi bermasalah namun
kemungkinannya menjadi kecil jika bank menerapkan kebijakan pemberian kredit
yang sehat. Langkah pertama adalah menciptakan model pemeringkatan kredit
sebagai sarana untuk menetapkan kemungkinan terjadinya default. Dalam hal ini
bank melakukan kalibrasi risiko yang pada gilirannya akan memungkinkan bank
untuk menetapkan suatu probabilitas tertentu untuk setiap kejadian yang tidak
diinginkan (yang dikenal dengan probability of default/PD). Cara ini
memungkinkan bank untuk memastikan bahwa portofolio kredit bank tidak
terkonsentrasi pada kredit berkualitas buruk yang memiliki kemungkinan default
yang tinggi.

Lembaga pemeringkat kredit seperti Moody’s Investors Service dan Standard &
Poor’s menggunakan model pemeringkatan untuk menghasilkan berbagai
peringkat yang sensitif terhadap risiko (peringkat kredit). Peringkat kredit ini
digunakan untuk menetapkan risiko kredit obligasi.

Contoh

Model pemeringkatan faktor tunggal

Bank A memberikan kredit perumahan kepada debiturnya. Untuk minimalkan


risiko kredit, bank membuat sebuah model pemeringkatan yang sederhana.
Dalam kasus ini Bank A mengelompokkan kredit tersebut berdasarkan prosentase
kredit yang diberikan kepada debitur terhadap nilai properti saat ini. Bank
kemudian menghitung probabilitas potensi kerugian dari setiap kelompok kredit
dan menyesuaikan kebijakan pricing-nya agar terdapat keseimbangan dalam
portofolio kredit bank.

Ekspektasi bank dalam hal ini adalah bahwa potensi kerugian atas pemberian
kredit sebesar 50% dari nilai properti saat ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan
potensi kerugian dari pemberian kredit sebesar 100% dari nilai properti.
Selanjutnya bank akan berupaya menyesuaikan pricing kredit yang diberikan
dalam rangka mengoptimalkan pengembalian (return) atas risiko yang dihadapi.

Dalam penerapannya, model pemeringkatan mempertimbangkan pula beberapa


faktor tambahan. Misalnya, persentase pendapatan debitur yang digunakan untuk
membayar bunga kredit, riwayat pekerjaan debitur, dan jumlah tahun
pembayaran kembali kredit dibandingkan dengan usia debitur.

Basel II secara spesifik membahas model pemeringkatan sebagai bagian dari


kerangka kerja risiko kredit.

Manajemen portofolio kredit

Bank dengan cara yang sama mengukur portofolio kreditnya untuk memberikan
keyakinan bahwa kredit yang diberikan tidak terlalu terkonsentrasi pada satu
industri atau wilayah geografis tertentu. Hal ini memungkinkan bank untuk
melakukan diversifikasi pada portofolio kredit-nya sehingga risiko terjadinya
default yang bersifat sistemik dapat ditekan. Analisis seperti ini dikenal sebagai
cohort analysis dan dapat digunakan baik pada kredit korporasi maupun
perorangan.
Sekuritisasi

Basel II mempersyaratkan bank untuk memperkirakan dampak gejolak ekonomi


dan memastikan bahwa kegiatan usahanya telah didukung dengan permodalan
yang memadai untuk mengantisipasi dampak gejolak ekonomi tersebut. Selain
mengalokasikan modal pada tingkat yang mencukupi, bank juga melakukan
tindakan-tindakan lain untuk melindungi kegiatan usahanya. Salah satu teknik
yang digunakan bank untuk melindungi dirinya dari gejolak ekonomi adalah
dengan mengemas dan menjual sebagian portofolio kreditnya kepada investor
dalam bentuk surat berharga. Teknik ini dikenal sebagai sekuritisasi.

Sekuritisasi memungkinkan bank untuk mengurangi potensi eksposur yang tinggi


pada suatu jenis kredit tertentu yang menurut skenario bank menunjukkan
tingkat risiko atau konsentrasi risiko yang paling tinggi. Sekuritisasi
memungkinkan bank menggunakan dana yang dihasilkan dari penjualan aktiva
dan menginvestasikannya pada aktiva lain yang dianggap memiliki risiko lebih
rendah.

Peran agunan

Agunan (collateral) didefinisikan sebagai aktiva yang diperjanjikan oleh debitur


untuk mendapatkan kredit dan dapat diambil alih dalam hal terjadi default.
Agunan memiliki peranan penting dalam kebijakan pemberian kredit yang
diterapkan bank. Agunan dapat memiliki bentuk yang beragam. Bantuk agunan
yang paling mudah dikenali dan paling aman adalah uang tunai, sementara
bentuk yang paling umum adalah properti hunian (residential property).

Contoh

Bank A memberikan kredit kepada seorang debitur untuk membeli sebuah rumah
dan, sebagai jaminan, bank diberikan hak untuk mengambil alih kepemilikan
rumah tersebut jika pembayaran kembali kredit tidak dilakukan sesuai jadwal.
Dalam contoh ini, rumah di atas menjadi agunan atas kredit perumahan yang
diberikan bank.

Bank perlu memastikan bahwa agunan yang diterima benar-benar dapat


digunakan untuk memitigasi risiko saat debitur mengalami default. Bentguk
agunan yang diserahkan seringkali bersifat spesifik sesuai dengan kegiatan usaha
yang dibiayai. Jika kegiatan usaha tersebut secara umum tidak menguntungkan,
maka aktiva debitur yang bersangkutan akan dinilai rendah. Dalam hal ini bank
harus memastikan bahwa agunan tetap memiliki nilai yang cukup dalam hal
terjadi default.

Contoh

Bank A memberikan kredit kepada sebuah pabrik mobil dan menerima hak untuk
mengambil alih kepemilikkan pabrik dan peralatannya dalam hal terjadi default.
Karena kurangnya penjualan, pabrik mobil tersebut gulung tikar dan tidak dapat
membayar kembali kreditnya. Bank A mengambil alih kepemilikan pabrik dan
peralatannya. Namun demikian karena kondisi umum industri mobil sedang
mengalami penurunan, peralatan tersebut memiliki nilai jual kembali yang
rendah. Dalam hal ini, nilai agunan jauh lebih kecil dari kredit yang masih harus
dibayar sehingga Bank A menderita kerugian yang cukup besar.

Basel I sangat membatasi jenis agunan yang dapat diakui. Namun demikian jenis
agunan yang diakui dalam Basel II lebih beragam, khususnya pada pendekatan
Internal Ratings-Based (IRB) dalam risiko kredit. (Pendekatan Internal Ratings-
Based dalam risiko kredit akan dibahas secara lebih rinci pada tingkatan sertifikasi
berikutnya.)
Monitoring arus kas

Sebagian bank yang mengalami tingkat default yang tinggi menemukan bahwa
tindakan segera terhadap situasi kredit yang memburuk dapat mengurangi
permasalahan secara signifikan. Bank-bank tersebut menurunkan risiko kreditnya
dengan cara:

membatasi tingkat eksposur (dikenal sebagai EAD/Exposure at Default), dan

memastikan bahwa nasabah bereaksi cepat terhadap keadaan yang berubah.

Beberapa model kredit memberikan perhatian khusus terhadap arus kas


perusahaan dan perorangan yang tercermin dalam rekening bank mereka.

Manajemen pemulihan

Manajemen yang efisien terhadap suatu kredit yang mengalami default dapat
menghasilkan pemulihan (recovery) yang cukup besar dibandingkan tingkat
kerugian semula. Oleh karena itu, sebagian bank menciptakan unit kerja yang
secara khusus ditugasi untuk menangani pemulihan kredit macet sebagai bagian
dari proses manajemen risiko kredit yang berkualitas tinggi.

Loss given default (LGD) adalah perkiraan kerugian yang akan diderita oleh bank
sebagai akibat terjadinya default. Penetapan LGD dan pengelolaannya secara
bersama-sama berperan dalam pendekatan Internal Rating-Based untuk
menghitung modal berdasarkan risiko kredit. Nilai LGD dalam pendekatan
Advanced IRB secara langsung dipengaruhi oleh estimasi bank mengenai jumlah
yang dapat dipulihkan dari suatu kredit yang mengalami default.
ANALISIS KREDIT DAN PREDIKSI
KESULITAN KEUANGAN
BY ADMIN · OCTOBER 22, 2016
Resume diskusi dari Mhs UT : Selin

Tujuan dari adanya analisis kredit adalah untuk menentukan kesanggupan dan
kesungguhan seorang peminjam untuk membayar kembali pinjaman sesuai
dengan persyaratan yang terdapat dalam perjanjian pinjaman serta untuk
melihat/menilai suatu usaha atas dasar kelayakan usaha, menilai risiko usaha
dan bagaimana mengelolanya, dan memberikan kredit atas dasar kelayakan
usaha.

Tujuan utama analisis permohonan kredit adalah untuk memperoleh keyakinan


apakah nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi
kewajibannya kepada bank secara tertib, baik pembayaran pokok pinjaman
maupun bunganya, sesuai dengan kesepakatan dengan bank. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam penyelesaian kredit nasabah, terlebih dahulu harus
terpenuhinya Prinsip 6 C’s Analysis, yaitu sebagai berikut:

1. Character
Character adalah keadaan watak dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi
maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter
ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana kemauan nasabah untuk
memenuhi kewajibannya (willingness to pay) sesuai dengan perjanjian yang
telah ditetapkan.
Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah
tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain:
a. Meneliti riwayat hidup calon nasabah.
b. Meneliti reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan usahanya.
c. Meminta bank to bank information (Sistem Informasi Debitur).
d. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha dimana calon nasabah
berada.
e. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi.
f. Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi berfoya-foya.

2. Capital
Capital adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah.
Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi
kesungguhan calon nasabah dalam menjalankan usahanya dan bank akan
merasa lebih yakin dalam memberikan kredit. Modal sendiri juga diperlukan
bank sebagai alat kesungguhan dan tangung jawab nasabah dalam
menjalankan usahanya karena ikut menanngung resiko terhadap gagalnya
usaha. Dalam praktik, kemampuan capital ini dimanifestasikan dalam bentuk
kewajiban untuk menyediakan self-financing, yang sebaiknya jumlahnya lebih
besar daripada kredit yang dimintakan kepada bank.
3. Capacity
Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan
usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini
adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana calon nasabah mampu untuk
mengembalikan atau melunasi utang-utangnya secara tepat waktu dari usaha
yang diperolehnya. Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui
berbagai pendekatan berikut ini:
1. Pendekatan historis, yaitu menilai past performance, apakah
menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu.
2. Pendekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para
pengurus.
3. Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon nasabah mempunyai
kapasitas untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan
perjanjian kredit dengan bank.
4. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan
keterampilan nasabah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam
memimpin perusahaan.
5. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon
nasabah mengelola faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber
bahan baku, peralatan-peralatan, administrasi dan keuangan, industrial
relation sampai pada kemampuan merebut pasar.
4. Collateral
Collateral adalah barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan
terhadap kredit yang diterimanya.Collateral tersebut harus dinilai oleh bank
untuk mengetahui sejauh mana resiko kewajiban finansial nasabah kepada
bank. Pada hakikatnya bentuk collateral tidak hanya berbentuk kebendaan
tetapi juga collateral yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi
(borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomendasi dan avalis.

5. Condition of Economy
Condition of Economy, yaitu situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya
yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang
kemungkinannya memengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk
mendapat gambaran mengenai hal tersebut, perlu diadakan penelitian
mengenai hal-hal antara lain:
a. Keadaan konjungtur.

b. Peraturan-peraturan pemerintah.

c. Situasi, politik dan perekonomian dunia.

d. Keadaan lain yang memengaruhi pemasaran.

6. Constraint
Constraint adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu
bisnis untuk dilaksanakan pada tempat tertentu, misalnya pendirian suatu
usaha pompa bensin yang disekitarnya banyak bengkel las atau pembakaran
batu bata.
Dari keenam prinsip diatas, yang paling perlu mendapatkan perhatian account
officer adalah character, dan apabila prinsip ini tidak terpenuhi, prinsip lainnya
tidak berarti. Dengan perkataan lain, permohonannya harus ditolak. Pemberian
kredit kepada pelanggan dilakukan berdasarkan analisa kelayakan pemberian
kredit Analisa kelayakan pemberian kredit kepada pelanggan pada dasarnya
adalah memperkirakan kemampuan pelanggan dalam mengelola usahanya
sehingga akan dapat membayar kewajibannya.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan:

· Menerapkan prinsip-prinsip umum pemberian kredit.

· Menganalisa berkas dokumen atau catatan pelanggan.

· Mencari masukan dari sumber-sumber lain, misalnya: daftar hitam


penunggak kredit, kelompok usaha yang sejenis, mitra usaha pelanggan.

7P
1. Personality yaitu menilai dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya
sehari-hari maupun masa lalunya.
2. Party yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifiasi tertentu atau
golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya.
3. Perpose yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil
kredit, termasuk jenis yang diinginkan nasabah.
4. Prospect yaitu untuk menilai usaha nasabah dimasa yang akan datang
apakah menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek
atau sebaliknya.
5. Payment merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan
kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja untuk pengembalian
kredit yang diperolehnya.
6. Profitability untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam
mencari laba.
7. Protection tujuannya adalah bagaimana menjaga kredit yang dikucurkan
oleh bank namun melalui suatu perlindungan.

3R
1. Return (hasil yang dicapai)
Return disini dimaksudkan penilaian atas hasil yang akan dicapai oleh
perusahaan debitur setelah dibantu dengan kredit oleh bank. Dapat pula
diartikan keuntungan yang akan diperoleh bank apabila memberikan kredit
kepada pemohon.
2. Repayment (pembayaran kembali)
Dalam hal ini bank harus menilai berapa lama perusahaan pemohon kredit
dapat membayar kembali pinjamannya sesuai dengan kemampuan membayar
kembali (repayment capacity), dan apakah kredit harus diangsur/ dicicil/ atau
dilunasi sekaligus diakhir periode.
3. Risk bearing ability (kemampuan untuk menanggung resiko)
Dalam hal ini bank harus mengetahui dan menilai sampai sejauh mana
perusahaan pemohon kredit mampu menanggung resiko kegagalan andai kata
terjadi sesuatu yang tak diinginkan.