Anda di halaman 1dari 3

KESIMPULAN

DISKUSI

1. Isu yang disampaikan dalam artikel :


Permasalahan muskuloskletal yang dibahas dalam artikel ini adalah analisis
keluhan muskuloskletal pada siswa akibat penggunaan meja kursi yang tidak
ergonomis (nilai guna yang terdapat didalam suatu benda yang mengandung nilai
keamanan,kenyamanan serta keindahan) di SDN 13 KABILA KABUPATEN BONE
BOLANGO PROVINSI GORONTALO.
Biasanya setiap harinya siswa sekolah dasar pasti menghabiskan sebagian besar
waktunya belajar dan menerima pelajaran di dalam kelas. Mereka menggunakan meja
dan kursi untuk menulis,membaca dan menerima materi dari guru. Untuk membantu
siswa menerima pelajaran dengan baik dibutuhkan meja dan kursi yang
ergonomis.
Terdapat ketidaksesuaian (tidak ergonomis) antara meja kursi sekolah (meja=
100% dan kursi = 81,11%) dengan ukuran tubuh anak sekolah. Dampak dari
ketidakerogonomisan antara meja dengan ukuruan tubuh siswa merupakan salah
satu hambatan dalam meningkatkan prestasi belajar anak bahkan bisa
menimbulkan masalah kesehatan. Beberapa keadaan seperti repetisi, beban
dinamis/statis, sikap/posisi tubuh, kurang istirahat dan sebagainya berperan
sebagai faktor resiko timbulnya gangguan Muskuloskeletal pada leher, bahu, siku,
pergelangan tangan, sindrom terowongan karpal, sindrom fibrasi lengan-tangan,
nyeri pinggang sebagaimana telah diteliti dalam banyak penelitian.
Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot
skeletal, yaitu peregangan otot yang berlebihan, aktivitas berulang, sikap kerja
tidak alamiah. Di Gorontalo tepatnya di Sekolah Dasar Negeri 13 Kabila terdapat
masalah ketidaksesuaian antara meja kursi dengan ukuran tubuh siswa terutama siswa
kelas 1 yang rata-rata memiliki postur tubuh kecil. Penelitian mengenai keluhan
kesehatan berdasarkan keadaan meja dan kursi pada anak kelas 1, 2 dan 3 di
Sekolah Dasar Negeri 13 Kabila. Sekolah Dasar Negeri 13 Kabila merupakan salah
satu dari 15 sekolah yang berada di Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango yang
masih menggunakan meja kursi yang berbeda dengan sekolah dasar negeri lainnya,

1
yaitu dalam 1 meja ditempati oleh 2 anak bahkan ada yang sampai 3 anak. Meja dan
kursi siswa harus kuat, stabil, dan mudah dipindahkan oleh siswa. Ukuran sesuai
dengan kelompok usia siswa dan mendukung pembentukan postur tubuh yang
baik, minimum dibedakan untuk kelas 1-3 dan kelas 4-6.
Penelitian yang dilakukan oleh Ardianto dan Yuantari (2014) menunjukkan
bahwa keluhan muskuloskeletal pada siswa Sekolah Dasar di wilayah Kecamatan
Semarang Selatan yang paling banyak muncul adalah kriteria “tidak sakit” pada
pergelangan tangan kanan (96,8%), keluhan “agak sakit” pada bahu kanan
(14,8%), keluhan “sakit” pada betis kiri (5,8%), dan keluhan “sangat sakit” pada
leher atas dan bahu kiri (2,6%), Tidak ada perbedaan antara jenis kelamin
dengan keluhan muskuloskeletal, tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh
dengan keluhan muskuloskeletal, terdapat hubungan antara berat beban dengan
keluhan muskuloskeletal serta tidak ada hubungan tingkat pengetahuan dengan
keluhan muskuloskeletal.

2. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah :


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Sampel yang diteliti adalah seluruh siswa kelas 1, 2 dan 3 yang sedang berada di
lokasi penelitian sebanyak 63 anak. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive
sampling, dengan menentukan kriterian sampel yang akan diteliti. Untuk mengetahui
adanya meja kursi yang tidak ergonomis dilakukan penilaian kesesuaian dengan
melihat secara langsung sedangkan untuk mengetahui keluhan kesehatan yang
dirasakan siswa menggunakan kuesioner Nordic body map. Untuk pengukuran
antropometri di ukur menggunakan alat ukur centimeter. Kemudian dianalisis
secara univariat yang disajikan dalam bentuk tabel.
Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kuantitatif yaitu
penelitian yang dilakukan dengan tujuan umtuk mengetahui gambaran atau
deskripsi tentang suatu masalah kesehatan baik berupa faktor risiko maupun
faktor efek.

2
3. Hasil dari penelitian ini adalah :
Berdasarkan hasil analisis data terdapat 47 (74,6%) meja kursi yang
ergonomis dan 16 (25,4%) meja kursi yang tidak ergonomis. Keluhan kesehatan
yang paling banyak dirasakan oleh siswa adalah keluhan leher bagian atas dengan
tingkat agak sakit (54,5 %) sedangkan untuk tingkat sakit yang paling tinggi
adalah keluhan sakit punggung (30,3%).

4. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah Meja dan kursi yang tidak
ergonomis sebanyak 47 atau 74,6 % dan yang ergonomis sebanyak 16 atau 25,4%.
Penilaian meja dan kursi yang tidak ergonomis lebih banyak di sebabkan oleh
tinggi meja tidak sesuai dengan siku dalam posisi duduk dengan jumlah 43
(68,3%). Keluhan kesehatan untuk tingkat agak sakit yang paling banyak di rasakan
siswa adalah keluhan leher bagian atas dengan jumlah keluhan sebesar 36
(54,5%). Keluhan kesehatan untuk tingkat sakit yang paling banyak di rasakan
siswa adalah keluhan sakit punggung dengan jumlah keluhan sebesar 20 (30,3%).