Anda di halaman 1dari 9

1.

Jenis-Jenis Kepribadian
1) Kepribadian Yang Sehat
Menurut Scheneider (1964) pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. mengartikan
penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral
maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan
emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan
kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Sedangkan yang dimaksud dengan
unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan
individu lainnya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-
aspek kepribadian, yang di dalamnya mencakup :
a. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten
tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
b. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi
terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
c. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen
d. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari
lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus asa
e. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan
atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci
tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
f. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan
interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan
berkomunikasi dengan orang lain.

Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan
kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth (Syamsu
Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai
berikut: Kepribadian yang sehat :

a. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya
tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan
dan sebagainya.
b. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi
kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar,
tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
c. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai
keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi
sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh
prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia
tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
d. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap
kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang
dihadapinya.
e. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak,
mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta
menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
f. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat
menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif
, tidak destruktif (merusak)
g. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas
dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak
atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara
mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
h. Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain,
memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya
dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain
seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak
membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan
mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
i. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki
sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
j. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup
yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
k. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh
faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection
(kasih sayang)

2) Kepribadian Tidak Yang Sehat


Kepribadian yang tidak sehat meliputi:
a. Mudah marah (tersinggung)
b. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
c. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
d. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda
atau terhadap binatang
e. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun
sudah diperingati atau dihukum
f. Kebiasaan berbohong
g. Hiperaktif
h. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
i. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
j. Sulit tidur
k. Kurang memiliki rasa tanggung jawab
l. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang
bersifat organis)
m. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Pesimis dalam
menghadapi kehidupan
n. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan
2. Jenis-Jenis Konsep Diri
Menurut William D.Brooks (dalam Rahkmat, 2005:105) bahwa dalam menilai dirinya
seseorang ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif. Maksudnya individu tersebut
ada yang mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang
negatif.
Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percaya diri sendiri dan
selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialami.
Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan
pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri positif akan
mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi
keberhasilan di masa yang akan datang. Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang
positif adalah :

a. Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai rasa
percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang
dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada
jalan keluarnya.
b. Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak sombong,
mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
c. Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa
menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak
membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
d. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta
perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap
perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan orang lain meskipun
kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
e. Mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek
kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk
mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu
untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya.

Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah
kekerendahan hati dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan. Orang yang
mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai konsep diri yang positif.

Sedangkan Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa
dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak
menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung
bersikap psimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat
tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep
diri negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan
menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain. Tanda-Tanda individu yang memiliki
konsep diri negatif adalah :

a. Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah
marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu
tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal
yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk
menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri
negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan
pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
b. Responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari
pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian.
Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung harga dirinya
menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun
hiperkritis terhadap orang lain.
c. Cenderung bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun
dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau
pengakuan pada kelebihan orang lain.
d. Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, karena
itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan
kehangatan dan keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau
bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela atau bahkan yang
melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi (bermusuhan).
e. Bersikap psimis terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk
bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan
berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
3. Potensi, Minat, dan Bakat
Semua orang memiliki minat, bakat dan potensinya masing-masing. Tetapi banyak orang
mengalami masalah dan kesulitan mengidentifikasikan minat, bakat dan potensinya, sehingga,
mereka tidak mengetahui apa bakat dan potensi yang dimilikinya. Berikut ini adalah perbedaan
antara potensi, minat, dan bakat :
a. Potensi
Potensi berarti kemampuan yg mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan,
kekuatan, kesanggupan dan daya. Berpotensi artinya memiliki potensi. Menurut kamus
bahasa Indonesai, potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan untuk lebih
berkembang. Setiap orang memiliki potensi, dan tentu berbeda setiap apa yang dimiliki
antara satu orang dengan orang lain. Ada dua bentuk potensi yaitu potensi fisik dan
potensi mental (psikis)
 Potensi fisik
Potensi fisik adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang
dapat dikembangkan dan ditingkatkan apabila dilatih dengan baik.
Kemampuan yang terlatih ini akan menjadi suatu kecakapan, keahlian, dan
ketrampilan dalam bidang tertentu.
 Potensi psikis
Potensi psiskis adalah bentuk kekuatan diri secara kejiwaan yang
dimiliki seseorang dan memungkinkan untuk ditingkatkan dan
dikembangkan apabila dipelajari dan dilatih dengan baik. Potensi psikis ini
meliputi IQ(Intelligence Quotient),EQ ( Emotional Quotient), AQ (
Addversity quotient) dan SQ (Spiritual Quotient).

Jadi potensi adalah, kadar kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mencapai hasil
yang maksimal.

b. Minat
Minat adalah seberapa besar seseorang merasa suka/tertarik atau tidak
suka/mengabaikan kepada suatu rangsangan. Minat adalah dorongan yang kuat bagi
seseorang untuk melakukan segala sesuatu yang menjadi keinginannya. Minat
merupakan faktor yang dapat mengarahkan bakat dan keberadaannya merupakan faktor
utama dalam pengembangan bakat.Spesifikasi minat dapat dibedakan menjadi:
 Minat pribadi (personal interest), yaitu ciri pribadi individu yang relatif
stabil. Minat pribadi ditujukan pada suatu kegiatan atau topik yang
spesifik (misalnya minat pada olah raga, ilmu pengetahuan, musik, tarian,
komputer, dan lain-lain).
 Minat situasional, yaitu minat yang ditumbuhkan oleh kondisi atau faktor
lingkungan, misalnya peran pendidikan formal, informasi yang diperoleh
melalui buku, internet atau televisi.
 Minat sebagai keadaan psikologis, yakni bila seseorang memiliki penilaian
yang tinggi untuk suatu kegiatan (value of activity) dan pengetahuan yang
tinggi terhadap kegiatan tersebut.
Jadi minat merupakan kecenderungan atau arah keinginan terhadap sesuatu untuk
memenuhi dorongan hati, minat merupakan dorongan dari dalam diri yang
mempengaruhi gerak dan kehendak terhadap sesuatu, merupakan dorongan kuat bagi
seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan
cita-cita yang menjadi keinginannya.
c. Bakat
Bakat adalah sebuah sifat dasar, kepandaian dan pembawaan yang dibawa sejak
lahir, misalnya menulis. Ada juga kata “bakat yang terpendam”, artinya bakat alami
yang dibawah sejak lahir tapi tidak dikembangkan. Misalnya seseorang memilki bakat
menjadi seorang pelari, tetapi tidak dikembangkan, sehingga kemampuannya untuk
berlari juga tidak berkembang.Bakat memiliki tiga arti yaitu achievement (kemampuan
aktual), capacity (Kemampuan potensial), dan aptitude (sifat dan kualitas). Ciri-ciri
bakat, yaitu:
 Bakat merupakan kondisi atau kualitas yang dimiliki seseorang, yang
memungkinkan seseorang tersebut akan berkembang pada masa
mendatang.
 Bakat merupakan potensi bawaan yang masih membutuhkan latihan agar
dapat terwujud secara nyata.
 Bakat merupakan potensi terpendam dalam diri seseorang.
 Bakat dapat muncul perlu digali, ditemukan, dilatih, dan dikembangkan.

Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi
harus ditunjang dengan minat, latihan, pengertian, pengetahuan, pengalaman, dan
dorongan.Bakat tidak selalu identik disertai minat. Bakat yang tidak disertai minat, maupun
minat yang tidak disertai bakat, akan menimbulkan gap. Bila orang tua tidak cukup cermat
misalnya dengan hal ini akan berdampak buruk bagi anak. Aspek-aspek Bakat:

 Aspek perseptual: meliputi kemampuan dalam memberikan penilaian


atau pemahaman terhadap sesuatu.
 Aspek psikomotor: meliputi kemampuan fisik seperti kekuatan fisik,
kecepatan gerak, ketelitian dan ketepatan, koordinasi dan keluwesan
anggota tubuh.
 Aspek intelektual: meliputi kemampuan mengingat dan mengevaluasi
suatu informasi
Daftar Pustaka

http://indonesiaindonesia.com/f/76872-ciri-ciri-kepribadian-sehat-sehat/

http://belajarpsikologi.com/jenis-jenis-konsep-diri/

http://www.psychologymania.com/2012/02/perbedaan-antara-potensi-minat-dan.html