Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS ASPEK BIOLOGI (PERTUMBUHAN, REPRODUKSI, DAN FOOD HABITS)

IKAN LALAWAK (Barbodes balleroides)

Maulana R. Habibie*, Muwahid I. Haq*, dan Susthira Wicakso*

*Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan


Universitas Padjadjaran
humas@unpad.ac.id

Abstrak

Tujuan dari praktikum analisis aspek biologi (pertumbuhan, reproduksi, dan food habits) ikan
lalawak ini adalah untuk mengetahui aspek pertumbuhan ikan lalawak, mengetahui aspek
reproduksi ikan lalawak, mengetahui aspek food habits ikan lalawak. Metode yang digunakan yaitu
metode observasi dengan mengambil sampel dari waduk Jatigede. Data yang diperoleh dihitung
dan dianalisis secara kuantitatif untuk melihat aspek pertumbuhan, aspek reproduksi, dan aspek
food habits. Praktkum ini dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2017. Kesimpulan dari praktikum ini
yaitu ikan lalawak memiliki pola pertumbuhan berisifat allometrik negatif, yaitu pertambahan
panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan ikan yang kurus. Ikan
lalawak termasuk ikan yang poliandri, dimana satu betina dapat dibuahi oleh beberapa ikan jantan,
dengan perbandingan rasio 3:1. Ikan lalawak merupakan ikan herbivora namun ia juga pemakan
detritus.

Kata kunci: Ikan Lalawak, Pertumbuhan, Reproduksi, Kebiasaan Makan

Pendahuluan
Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel
yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Pertumbuhan pada ikan ditandai dengan
bertambah panjangnya ukuran dan bertambahnya bobot ikan.
Reproduksi adalah suatu proses biologis suatu individu organisme baru diproduksi. Reproduksi
merupakan cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan oleh
pendahulu setiap individu organisme untuk menghasilkan suatu generasi selanjutnya.
Kebiasaan makanan (food habits) adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan oleh
ikan. Umumnya makanan yang pertama kali datang dari luar untuk semua ikan dalam mengawali
hidupnya ialah plankton yang bersel tunggal yang berukuran kecil. Jika untuk pertama kali ikan itu
menemukan makanan berukuran tepat dengan mulutnya, diperkirakan akan dapat meneruskan
hidupnya. Tetapi apabila dalam waktu relatif singkat ikan tidak dapat menemukan makanan yang
cocok dengan ukuran mulutnya akan terjadi kelaparan dankehabiasan tenaga yang mengakibatkan
kematian. Hal inilah yang antara lain menyebabkan ikan pada masa larva mempunyai mortalitas
besar. Kajian kebiasaan makan ikan perlu dipelajari untuk mengetahui jenis makanan apa yang
ikan suka.
Ikan lalawak berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (compressed). Mulut ikan
lalawak terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Sisik ikan lalawak
berukuran cukup besar dengan tipe sisik lingkaran dan terletak beraturan. Sisik ikan lalawak
memiliki bentuk cycloid. Garis rusuk atau gurat sisi (linea lateralis) yang dimiliki lengkap dan
berada di pertengahan tubuh dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang
pangkal ekor.
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai aspek biologi ikan lalawak seperti pola pertumbuhan,
rasio kelamin, dan food habits maka dibuatlah laporan hasil praktikum ini. Dengan mengetahui
semua aspek tersebut diharapkan nantinya para pembudidaya dapat memproduksi ikan lalawak
secara optimal.
Minimnya pengetahuan mengenai aspek biologi dari ikan lalawak membuat praktikum ini perlu
dilakukan. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan lalawak,
mengetahui aspek reproduksi ikan lalawak, serta mengetahui aspek food habits ikan lalawak.
Bahan dan Metode

Tempat dan Waktu


Praktikum Analisis Aspek Biologi (pertumbuhan, reproduksi, dan kebiasaan makan) ikan
lalawak (Barbodes balleroides) dilaksanankan pada hari Senin tanggal 13 Maret 2017 pada pukul
07.45-09.40 WIB bertempat di Laboratorium Akuakultur, Gedung 2 Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Universitas Padjadjaran.

Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ikan Lalawak (jantan/betina), sebagai
bahan yang diujikan. Air/Aquades, sebagai bahan untuk melakukan perhitungan volume gonad
ikan. Larutan sera, sebagai bahan untuk mempermudah pengukuran diameter telur ikan,
pengukuran tingkat kematangan telur ikan, dan pengamatan letak inti telur.

Metode Praktikum
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah observasi. Observasi menurut Kusuma
(1987) adalah pengamatan yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis terhadap aktivitas
individu atau obyek lain yang diselidiki. Adapun jenis-jenis observasi tersebut diantaranya yaitu
observasi terstruktur, observasi tak terstruktur, observasi partisipan, dan observasi nonpartisipan.

Hasil dan Pembahasan

Morfometrik Ikan Uji


Ikan lalawak yang kami teliti memiliki jenis kelamin jantan. Ikan lalawak berbentuk memanjang
dan sedikit pipih ke samping (compressed). Mulut ikan lalawak terletak di ujung tengah (terminal)
dan dapat disembulkan (protaktil). Sisik ikan lalawak berukuran cukup besar dengan tipe sisik
lingkaran dan terletak beraturan. Sisik ikan lalawak memiliki bentuk cycloid. Garis rusuk atau gurat
sisi (linea lateralis) yang dimiliki lengkap dan berada di pertengahan tubuh dengan posisi melintang
dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan, ikan lalawak yang kami teliti memiliki
panjang SL (Standar Length) sepanjang 177 mm, panjang FL (Fork Length) sepanjang 195 mm,
dan panjang TL (Total Length) sepanjang 189 mm. Ikan lalawak yang kami teliti memiliki bobot
tubuh sebesar 180 gram, dengan lingkar kepala sepanjang 108 mm, dan lingkar badan sepanjang
190 mm. Berdasarkan literature ikan lalawak dewasa dapat mencapai panjang 25 cm atau 250
mm.

Pertumbuhan
Pertumbuhan ikan merupakan perubahan dimensi (panjang, bobot, volume, jumlah, dan
ukuran) persatuan waktu baik individu, stok, maupun komunitas, sehingga pertumbuhan banyak
dipengaruhi faktor lingkungan seperti makanan, jumlah ikan, jenis makanan, dan kondisi ikan.
Pertumbuhan yang cepat dapat mengindikasikan kelimpahan makanan dan kondisi lingkungan
yang sesuai (Moyle dan Cech 2004 dalam Tutupoho 2008).
Berdasarkan data yang didapatkan praktikan dari praktikum yang dilaksanakan, ikan mas yang
diuji memiliki keberagaman panjang dan bobot yang berbeda-beda adapun yang nyaris sama
antara satu sama lainnya. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor yaitu, faktor
internal dan eksternal. Faktor internal sendiri terdiri dari keturunan, parasit, sex, umur, dan
penyakit, kemudian faktor eksternal meliputi kondisi perairan dan makanan. Namun juga ada
beberapa pendapat para ahli yakni, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dapat
digolongkan menjadi dua bagian yang besar yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor-faktor ini ada
yang dapat dikontrol dan ada juga yang tidak. Faktor dalam umumnya adalah faktor yang sulit
untuk dikontrol, di antaranya adalah keturunan, jenis kelamin, umur, parasit, dan penyakit (Effendie
1997).

Pengelompokan Kelas Ukuran


Berdasarkan data hasil praktikum mengenai distribusi panjang ikan Lalawak (Barbodes
balleroides), diperoleh grafik sebagai berikut :
Distribusi Panjang Ikan Lalawak
30% 26% 26%
23%
20%
9%
10% 6% 6% 6%

0%
172-187 188-203 204-219 220-235 236-251 252-267 268-283

Gambar 1. Distribusi Panjang Ikan Lalawak

Sedangkan, data hasil praktikum mengenai distribusi bobot ikan Lalawak (Barbodes
balleroides), diperoleh grafik sebagai berikut :

Distribusi Bobot Ikan Lalawak


34%
40% 26%
30% 14% 14%
20% 3% 6% 3%
10%
0%

Gambar 2. Distribusi Bobot Ikan Lalawak

Berdasarkan data pengamatan pada grafik ditribusi panjang ikan lalawak dapat diketahui
diketahui perbedaan panjang ikan lalawak yang diamati dari tiap-tiap kelompok. Interval 172-187
memiliki persentase sebesar persentase sebesar 6%. Interval 188-203 memiliki persentase
sebesar 9%. Interval 204-219 memiliki persentase sebesar 26%. Interval 220-235 memiliki
persentase sebesar 23%. Interval 236-251 memiliki persentase sebesar 26%. Interval 252-267
memiliki persentase sebesar 6%. Interval 268-283 memiliki persentase sebesar 6%.
Berdasarkan data pengamatan pada grafik ditribusi berat ikan lalawak, dapat diketahui
perbedaan berat ikan lalawak yang diamati dari tiap-tiap kelompok. Interval 72-112 memiliki
persentase sebesar 14%. Interval 113-153 memiliki persentase sebesar 34%. Interval 154-194
memiliki persentase sebesar 26%. Interval 195-235 memiliki persentase sebesar 14%. Interval
236-276 memiliki persentase sebesar 3%. Interval 277-317 memiliki persentase sebesar 6%.
Interval 318-358 memiliki persentase sebesar 3%. Pertumbuhan dan perkembangan panjang dan
bobot ikan tentunya terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi, yakni faktor dalam/intenal dan
faktor luar/eksternal. Faktor dalam/internal adalah umur dan kedewasaan. Sementara faktor
luar/eksternal yang ikut mempengaruhi pertumbuhan antara lain suhu, oksigen terlarut, kadar
amonia, salinitas, kompetisi dan ketersediaan makanan (Moyle dan Cech,1988). Selain itu,
Effendie (1997) juga menyatakan bahwa panjang hari juga ikut mempengaruhi pertumbuhan.

Pola Pertumbuhan
Hubungan panjang dan berat dapat dilihat dari nilai konstanta b (Effendi 1997):
 Bila b = 3, hubungan yang terbentuk adalah isometrik (pertambahan panjang seimbang
dengan pertambahan berat).
 Bila b ≠ 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik;
- Bila b > 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik positif yaitu pertambahan
berat lebih cepat daripada pertambahan panjang, menunjukkan keadaan ikan tersebut
montok.
- Bila b < 3, hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif yaitu pertambahan panjang
lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan ikan yang kurus.
Berdasarkan data hasil praktikum pola pertumbuhan panjang dan berat ikan Lalawak
(Barbodes balleroides), diperoleh grafik sebagai berikut :

Hubungan Panjang dan Berat Pada Ikan


Berat
400
y = 0.0002x2.5096
200 R² = 0.7099

0
0 50 100 150 200 250 300

Panjang
Panjang Total (L) Bobot (W) Power (Panjang Total (L) Bobot (W))

Gambar 3. Hubungan Panjang dan Berat Pada Ikan Lalawak

Berdasarkan hasil perhitungan data pengamatan ikan lalawak, didapatkan b sebesar


2.509646505 . Diketahui bahwa nilai b < 3, sehingga hubungan yang terbentuk adalah allometrik
negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan
keadaan ikan yang kurus. Data hasil pengamatan ikan Seren didapatkan b sebesar 3.076866091
Diketahui bahwa nilai b = 3, sehingga hubungan yang terbentuk adalah isometrik yaitu
pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan berat.

Faktor Kondisi
Faktor kondisi adalah keadaan yang menyatakan kemontokan ikan secara kualitas, dimana
perhitungannya didasarkan pada panjang dan bobot ikan. Faktor kondisi atau indeks ponderal dan
sering disebut faktor K yang merupakan hal yang penting dari pertumbuhan ikan. Beragamnya
faktor kondisi salah satunya disebabkan oleh pengaruh makanan (Effendie 1997). Salah satu
derivat penting dari pertumbuhan ialah faktor kondisi atau indeks ponderal dan sering disebut pula
sebagai faktor K. Faktor kondisi menunjukkan keadaan baik dari ikan dilihat dari segi kapasitas
fisik untuk survival. Faktor kondisi dapat menjadi indikator kondisi pertumbuhan ikan di perairan.

Faktor Kondisi Ikan Lalawak


1.50
1.31 1.31
Faktor Kondisi

1.18 1.27 1.30 1.27


1.00 1.01
0.50
0.00
172-187 188-203 204-219 220-235 236-251 252-267 268-283

Interval Panjang Total

Gambar 4. Faktor Kondisi Ikan Lalawak

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa pada interval 172-187 faktor kondisi sebesar
1.01. Kemudian pada interval 188-203 faktor kondisi mengalami kenaikan yang cukup signifikan
menjadi sebesar 1.18. Interval 204-219 mengalami kenaikan menjadi 1,27. Interval 220-235
sampai dengan interval 236-251 mengalami sedikit kenaikan menjadi sebesar 1,31. Interval 252-
267 sampai dengan interval 268-283 mengalami penurunan faktor kondisi sampai faktor kondisi
terakhir sebesar 1,27.
Rendahnya nilai faktor kondisi tersebut dapat disebabkan karena ikan-ikan yang masih muda
belum mempunyai kemampuan hidup yang baik di tempat hidupnya dan dapat diduga pula karena
kalah bersaing mendapatkan makanan dengan ikan yang lebih tua (Pandu, 2011)
Faktor kondisi tinggi pada ikan menunjukkan ikan dalam perkembangan gonad, sedangkan
faktor kondisi rendah menunjukkan ikan kurang mendapat asupan makanan. Faktor kondisi juga
akan berbeda tergantung jenis kelamin ikan, musim atau lokasi penangkapan serta faktor kondisi
juga dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad dan kelimpahan makanan (King, 1995).
Variasi nilai faktor kondisi tergantung pada makanan, umur, jenis kelamin dan kematangan
gonad. Ikan betina memiliki nilai faktor kondisi yang relatif lebih besar dibanding ikan jantan,
diduga disebabkan karena bobot gonad betina lebih besar dari ikan jantan. Peningkatan nilai faktor
kondisi relatif terdapat pada waktu gonad ikan terisi dengan jenis kelamin dan mencapai
puncaknya sebelum terjadi pemijahan. Dengan demikian fluktuasi faktor kondisi pada ikan tidak
hanya dipengaruhi oleh bobot gonad tetapi juga oleh aktifitas selama pematangan dan pemijahan
(Effendie,1997).

Reproduksi
Reproduksi merupakan kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya
untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Nikolsky (1963) menyatakan bahwa reproduksi
merupakan mata rantai dalam siklus hidup yang berhubungan dengan mata rantai yang lain untuk
menjamin keberlanjutan spesies. Sebagian besar organisme akuatik menghabiskan sebagian
besar hidup dan energinya untuk bereproduksi (Royce 1972).
Parameter yang diukur dalam reproduksi ikan meliputi: rasio kelamin, tingkat kematangan
gonad, indeks kematangan gonad, hepatosomatik indeks, diameter telur, fekunditas, dan tingkat
kematangan telur.

Rasio Kelamin
Rasio kelamin adalah perbandingan antara jantan dan betina dalam suatu populasi. Melalui
rasio kelamin dapat diketahui kemampuan induk ikan jantan untuk membuahi induk betina
sehingga diperoleh larva yang optimal. Komposisi jantan dan betina dapat memberikan perilaku
pemijahan yang berbeda (Musrin 2014)
Berdasarkan hasil praktikum mengenai aspek biologi ikan lalawak dan ikan seren terutama
dalam aspek reproduksi, didapatkan rasio kelamin sebagai berikut:

Rasio Kelamin Ikan Lalawak

26%

74%

Jantan (♂) Betina (♀)

Gambar 5. Rasio Kelamin Ikan Lalawak

Berdasarkan grafik tersebut, dapat dilihat perbandingan antara jumlah ikan lalawak jantan dan
ikan lalawak betina dengan persentase ikan lalawak jantan sebesar 74% dan persentase ikan
lalawak betina sebesar 26%. Rasio perbandingannya adalah 3:1. Sama halnya dengan literatur
menurut Musrin (2014), komposisi jantan dan betina dapat memberikan perilaku pemijahan yang
berbeda, sehingga dapat diketahui bahwa ikan lalawak termasuk ikan yang poliandri, dimana satu
ikan betina dapat dibuahi oleh beberapa ikan jantan. Hal tersebut terlihat dari jumlah ikan lalawak
jantan yang lebih banyak daripada ikan lalawak betina.
Rasio kelamin juga dihitung dengan uji chi kuadrat (chi square). Berdasarkan hasil perhitungan
uji chi kuadrat ddiapatkan X2 hitung sebesar 23,04 dan X2 tabel sebesar 3,8. Berdasarkan hasil
perhitungan chi kuadrat dapat diketahui bahwa chi kuadrat hitung lebih besar dari tabel
(23,04>3,8), maka Ho ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rasio antara ikan
jantan dengan ikan betina.

Tingkat Kematangan Gonad


Tingkat kematangan gonad (TKG) adalah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan
sesudah ikan memijah. Tingkat kematangan gonad diperlukan untuk menentukan perbandingan
antara organisme yang telah matang gonad dengan yang belum matang, ukuran atau umur
organisme pada saat pertama kali matang gonad, untuk menentukan apakah organisme tersebut
sudah memijah atau belum, masa pemijahan, dan frekuensi pemijahan.

Tingkat Kematangan Gonad


Berdasarkan data pengamatan tingkat kematangan gonad, didapatkan hasil sebagai berikut:

Distribusi TKG Ikan Lalawak


6 5
5 4
4 3
3 2 2 2 2 2
2 11 11 1 11 1 1 1 1 1 1
1
0
(♂) (♀) (♂) (♀) (♂) (♀) (♂) (♀) (♂) (♀)
TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V

172-187 188-203 204-219 220-235 236-251 252-267 268-283

Gambar 6. Distribusi TKG Ikan Lalawak

Pengamatan tingkat kematangan gonad dilakukan dengan dua cara, yang pertama dengan
cara histologi yang dilakukan di laboratorium dan yang ke dua dengan cara pengamatan
morfologis yang dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan. Penentuan tingkat
kematangan gonad dilakukan pengamatan secara morfologi dengan mengacu pada kriteria Tingkat
Kematangan Gonad (TKG) menurut Effendi (1979).
Berdasarkan grafik tersebut, dapat diketahui bahwa individu ikan lalawak paling banyak
termasuk ke dalam golongan TKG II. Terdapat perbedaan golongan TKG dari tiap-tiap interval.
Ada 4 ikan jantan yang termasuk ke golongan TKG I dengan interval 172-187, interval 188-203,
interval 220-235, dan interval 236-251. Ada 13 ikan jantan dan 3 ikan betina yang termasuk
golongan TKG II dengan interval 172-187 sampai interval 236-251 serta interval 268-283. Ada 5
ikan jantan dan 3 ikan betina yang termasuk golongan TKG III dengan interval 204-219, interval
220-235, dan interval 236-251. Ada 3 ikan jantan dan 3 ikan betina yang termasuk kedalam
golongan TKG IV dengan interval 204-219, interval 236-251, interval 252-267, dan interval 268-
283. Ada 1 ikan jantan yang termasuk golongan TKG V dengan interval 268-283. Hal ini sesuai
dengan literatur. Berdasarkan literatur yang didapatkan, perbedaan TKG ini bisa disebabkan
karena petumbuhan ikan yang tidak seragam sehingga menyebabkan pertumbuhan gonadnya
berbeda-beda. Terdapat perbedaan tahapan TKG yang dimiliki oleh masing-masing ikan dapat
dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti spesies, umur, ukuran, dan sifat fisiologis ikan dalam hal
kemampuan adaptasi (Lagler et al. 1977).
Sebelum terjadi pemijahan, sebagian hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad.
Gonad akan bertambah besar dengan semakin bertambah besar ukurannya. Ukuran panjang ikan
saat pertama kali matang gonad berhubungan dengan pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan
yang memengaruhinya terutama ketersediaan makanan, oleh karena itu ukuran ikan pada saat
pertama kali matang gonad tidak selalu sama (Effendie 2002).

Indeks Kematangan Gonad


Sebagian besar hasil metabolisme tertuju kepada perkembangan gonad. Peningkatan bobot
ovarium dan testis juga bergantung kepada ketersediaan pakan, karena bahan baku dalam proses
pematangan gonad terdiri atas karbohidrat, lemak dan protein. Untuk mengetahui perubahan yang
terjadi dalam gonad secara kuantitatif, dapat dinyatakan dengan suatu indeks yang dinamakan
Indeks Kematangan Gonad (IKG), yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat
gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikalikan 100%.
Berdasarkan data pengamatan indeks kematangan gonad, didapatkan hasil sebagai berikut:

IKG Terhadap TKG Ikan Lalawak


17.9%
20.0%

15.0% 10.4%
10.0% 5.8%
2.7% 2.5% 1.6%
5.0%
0.0%1.2% 0.4% 0.0%
0.0%
TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V

Nilai IKG (%) (♂) Nilai IKG (%) (♀)

Gambar 7. IKG Terhadap TKG Ikan Lalawak

Berdasarkan grafik IKG Terhadap TKG pada ikan lalawak tersebut, pada TKG I persentase
IKG ikan jantan sebesar 0,0% dan persentase IKG ikan betina sebesar 1,2%. Kemudian pada TKG
II, IKG ikan jantan dan IKG ikan betina mengalami peningkatan. Kemudian pada TKG IV,
persentase IKG ikan jantan mengalami penurunan namun, persentase IKG ikan betina mengalami
kenaikan. Hal tersebut dapat disebabkan karena jumlah ikan betina pada TKG IV tidak lebih
banyak dari ikan betina pada TKG II. Persentase IKG ikan jantan dan ikan betina pada TKG V
menurun drastis sehubungan dengan kondisi gonad yang mulai mengkerut dan kempis. Hal ini
tidak sesuai dengan literatur. Menurut literatur, Gonad akan semakin bertambah berat dengan
semakin bertambahnya ukuran gonad dan diameter telur. Berat gonad akan mencapai maksimum
sesaat sebelum ikan memijah, kemudian menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung
hingga selesai (Effendie 2002).

Hepatosomatik Indeks
Berdasarkan data pengamatan hepatosomatik indeks terhadap tingkat kematangan gonad,
didapatkan hasil sebagai berikut:

HSI Terhadap TKG Ikan Lalawak Betina


33.0%
35.0%
30.0%
25.0%
18.0%
20.0% 14.2%
15.0%
10.0%
5.0% 0.0% 0.0%
0.0%
TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V

Gambar 8. HSI Terhadap TKG Ikan Lalawak Betina

Selain gonad yang ditimbang beratnya, hati pada ikan pun ditimbang. Hal ini dilakukan karena
pada hati terjadi proses vitelogenesis (pembentukan kuning telur). Perhitungan HSI dihitung
dengan membandingkan bobot hati ikan dengan bobot tubuh ikan lalu dikalikan dengan 100%.
Berdasarkan data angkatan nilai TKG cenderung menaiki kenaikan dari TKG I hingga TKG III,
namun dari TKG IV terus mengalami penurunan hingga TKG V dan nilai HSI terbesar berada pada
saat tahap TKG III hal ini dikarenakan pada saat tahap TKG III terjadi proses vitelogenesis dan
penurunan yang terjadi pada saat TKG IV-TKG V dikarenkan perkembangan gonad maksimal
pada tahap TKG III jadi proses vitelogenesis sudah berakhir pada saat TKG IV-TKG V dan
energinya di sebarkan ke berbagai jaringan., dimana material yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
gonad akan disintesis di dalam hati yaitu vitelogenin. Nilai HSI ini akan semakin besar seiring
dengan semakin berat bobot hati ikan tersebut. Besarnya nilai HSI juga dipengaruhi oleh jenis
kelamin. Ikan betina memiliki nilai HSI yang lebih tinggi dikarenakan hati adalah tempat terjadinya
proses pembentukan vitelogenin. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Tang et al. (2001),
Peningkatan HSI ini karena hati mampu mensintesis dan mensekresikan vitelogenin sebagai
prekusor pembentukan prakuning telur. Vitelogenesis adalah proses induksi dari sintesis
vitelogenin dihati oleh hormon estradiol 17β, serta penyerapan vitelogenin yang dibawa oleh darah
kedalam oosit. Vitelogenesis merupakan aspek penting dalam pertumbuhan oosit yang meliputi
rangkaian proses adanya sirkulasi estrogen (estradiol 17β) dalam darah merangsang hati untuk
mensintesis dan mensekresi vitelogenin yang merupakan prekusor protein kuning telur.

Fekunditas dan Diameter Telur


Berdasarkan hasil perhitungan fekunditas pada ikan lalawak betina, dapat diketahui bahwa
fekunditas ikan lalawak betina sebanyak 43.593 butir dengan panjang tubuh 235 mm dan bobot
sebesar 295,8 gram. Ikan yang memiliki panjang tubuh 278 mm dan bobot sebesar 346 gram
memiliki nilai fekunditasnya sebesar 10.368 butir namun, ikan ini memiliki diameter telur sebesar
110 mikro dan ukuran terkecilnya 85 mikro, sedangkan pada ikan dengan fekunditas tertinggi telur
yang melebur hanya 20 butir dan ukuran terkecil dari telur ikan ini adalah 75 mikro, dan
kemungkinan pada ikan ini mayoritas telurnya berukuran kecil.
Menurut Herawati (2017), diameter telur berpengaruh pada fekunditas, semakin besar telur
maka fekunditas akan semakin kecil karena kapasitas ruang digonad akan semakin penuh.
Diameter telur berpengaruh pada fekunditas, semakin besar telur maka fekunditas akan semakin
kecil karena kapasitas ruang digonad akan semakin penuh apabila telur semakin besar dan tidak
cukup untuk jumlah yang lebih banyak.
Fekunditas dipengaruhi oleh beberapa faktor menurut Sukendi (2001), nilai fekunditas suatu
spesies ikan selain dipengaruhi oleh ukuran panjang total juga dipengaruhi oleh bobot tubuh.

Kebiasaan Makan dan Cara Makan Ikan Lalawak

Indeks Preponderan
Setiap kelompok pakan dapat dikategorikan berdasarkan Indeks Preponderan (IP) menjadi 3
jenis pakan diantaranya adalah pakan utama, pakan pelengkap dan pakan tambahan.

Indeks Preponderan Ikan Lalawak


54.4%
60.0%

40.0% 32.2%

20.0% 6.5%
4.4% 1.0%
0.4%
0.0%
0.0%
0.0% 0.1%
0.0% 0.0% 0.1%
0.0% 1.0%
0.0% 0.0%
0.0%
Desmidia…

Bagian…
Bagian…
Cyanophy…

Bacillario…

Entomost…
Chrysoph…
Chloroph…

Platyhelm…
Nemata
Rotatoria

Detritus
Ikan
Rhizopoda

Copepoda
Tardigrada

Benthos

Gambar 9. Indeks Preponderan Ikan Lalawak


Berdasarkan nilai IP, menunjukkan bahwa ikan lalawak yang diambil dari Cimanuk makanan
utamanya yaitu detritus dan bagian tumbuhan sedangkan makanan pelengkapnya adalah
fitoplankton kelas Chlorophycae, Sedangkan sisanya adalah pakan tambahan. Nilai detritus yang
tinggi bisa diasumsikan karena ikan lalawak merupakan ikan yang kebanyakan hidupnya berada
didasar perairan, hal ini didasarkan dari sepasang misai yang dimiliki ikan lalawak. Akumulasi
detritus di dasar perairan sangat tinggi, dikarenakan berat jenis detritus lebih berat daripada air
sehingga detritus akan mengendap di dasar perairan dan menjadi pakan utama ikan lalawak.

Indeks Trofik
Tingkat trofik adalah urutan-urutan tingkat pemanfaatan makanan atau material dan energi
seperti yang tergambarkan oleh rantai makanan. Tingkat trofik ikan dikategorikan menjadi tingkat
trofik 2 yaitu untuk ikan yang bersifat herbivora, tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivora dan
tingkat trofik 3 atau lebih untuk ikan yang bersifat karnivora (Lena 2012).

Tingkat Trofik Ikan Lalawak


1.20 1.015554393
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
Tingkat Trofik

Gambar 10. Tingkat Trofik Ikan Lalawak

Berdasarkan hasil perhitungan tingkat trofik, ikan lalawak didapatkan nilai 1,015, yang berarti
termasuk ikan herbivora. Hal ini dapat terlihat dari jenis makanan yang ada dalam saluran
pencernaannya yang kebanyakan berupa fitoplankton dan bagian tumbuhan. Menurut Effendie
(2002) dalam Agus (2016) menyatakan bahwa perbedaan jumlah organisme yang dimakan ikan
terjadi karena perbedaan sebaran organisme tersebut pada masing-masing wilayah.Secara umum
kebiasaan makan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor habitat hidupnya, kesukaan
terhadap jenis makanan tertentu, musim, ukuran makanan, warna makanan dan umur ikan
tersebut. Perubahan persediaan makanan disuatu badan perairan yang disebabkan oleh
perubahan lingkungan perairan akan merubah pola kebiasaan makan ikan.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Setelah praktikum analisis aspek biologi ikan lalawak dan ikan Seren dilakukan dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pertumbuhan ikan lalawak hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif, yaitu
pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan
ikan yang kurus.
2. Ikan lalawak merupakan ikan poliandri, kebanyakan ikan lalawak termasuk ke dalam
golongan TKG II.
3. Dari data angkatan dapat disimpulkan bahwa ikan lalawak merupakan herbivora tetapi
lebih cenderung detrivore, Hal ini dapat terlihat dari jenis makanan yang ada dalam saluran
pencernaannya yang kebanyakan berupa fitoplankton dan bagian tumbuhan.

Saran
Praktikum dilakukan secara berurutan. Ketika melakukan pengamatan dilakukan secara hati-
hati agar tidak terjadi kesalahan. Selain itu juga lebih baik jika penggunaan sarung tangan dan
masker saat melakukan praktikum, agar tidak terganggu saat praktikum dilaksanakan
Daftar Pustaka
Ardiwinata, R.O. 1981. Pemeliharaan Ikan Jilid 3: Pemeliharaan Gurami. Sumur
Bandung, Bandung. 77p.

Bachtiar, Y. Pembesaran Ikan Mas di Kolam Pekarangan.

Cholik. F., Artati dan R.Arifudin., 1986. Pengelolaan Kualitas Air Kolam. INFIS Manual seri nomor
26. Dirjen Perikanan. Jakarta. 52 hal

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Jakarta : Yayasan Pustaka Nusatama

Effendie. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan.
Kanisius. Jogjakarta

Fujaya, Yushinta. 2004. “Fisiologi Ikan (Dasar Pengembangan Teknik Perikanan)”. PT. Rineka
Cipta: Jakarta.

Fajarwati. N., Elly. 2006. Aspek Eko-Biologi Ikan Lalawak (Barbodes balleroides) pada Berbagai
Ketinggian Tempat di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Nikolsky, G. V. 1969. The Theory of Fish Population Dynamics As The Biological Background for
Rational Exploitation And Management of Fish Fishery Resources. London: Oliver and
Boyd Publisher United Kingdom. 322 hal.

Luvi. M., Dede.2000. Aspek Reproduksi dan Kebiasaan Makan Ikan Lalawak (Barbodes
balleroides) Di Sungai Cimanuk Sumedang Jawa Barat. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor.