Anda di halaman 1dari 5

Nama narasumber : Urai Jau

Umur : 85 tahun

Alamat : Desa Sajau Pura

Pekerjaan : Petani

ASAL USUL BULUNGAN


Kuwanyi, adalah nama seorang pemimpin suku Dayak Hupan (Dayak Kayan)

karena tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan

kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang,

cabang Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka

mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kayan.

Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak seekorpun binatang yang

diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir

telur yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya

pulang ke rumah. Dari bambu itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu

dipecah ke luar pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai

karunia para Dewa. Kuwanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai

dewasa. Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama Jauwiru untuk

yang laki-laki dan yang perempuan bernama Lemlai Suri. Keduanya dinikahkan oleh

Kuwanyi.

Kisah Jauwiru dan Lemlai Suri kini diabadikan dengan didirikannya sebuah

Monumen Telor Pecah. Monumen tersebut terletak di antara Jl. sengkawit dan Jl.

Jelarai, Kota Tanjung Selor, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya

kesultanan Bulungan.

Bulungan, berasal dari perkataan Bulu Tengon (Bahasa Bulungan), yang artinya

bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah

menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang

diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan
Bulungan. Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukan sebagai

ketua suku bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putera

bernama Paran Anyi.

Paran Anyi tidak mempunyai seorang putera, tetapi mempunyai seorang puteri

yang bernama Lahai Bara yang kemudian menikah dengan seorang laki-laki bernama

Wan Paren, yang menggantikan kedudukannya. Dari pernikahan Lahai Bara dan Wan

Paren lahir seorang putera bernama Si Barau dan seorang puteri bernama Simun

Luwan. Pada masa akhir hidupnya, Lahai Bara mengamanatkan kepada anak-anaknya

supaya “Lungun” yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir sungai Kipah.

Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu ani-ani (kerkapan).

Hung , sejenis tutup kepala dan sebuah dayung (besai). Tiga jenis barang warisan ini

menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudaranya, Simun Luwan. Akhirnya

Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai

Bara.

Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan, hanya dengan menggoreskan

ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka tanjung itu terputus dan

hanyut ke hilir sampai ke tepi Sungai Kayan, yang sekarang terletak di kampung Long

Pelban. Di Hulu kampung Long Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan.

Menurut kepercayaan seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja

Bulungan, dahulu tidak ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara ini,

karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan. Bahwa siapa

saja dari keturunan Lahai Bara bila melewati peti matinya niscaya tidak akan selamat.
Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan

Busang Mayun, artinya Pulau Hanyut.

Kepergian Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan saudaranya

sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku bangsa Kayan,

meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka di sungai Payang menuju sungai

Kayan, dan menetap tidak jauh dari Kota Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten

Bulungan sekarang. Suku bangsa Kayan hingga sekarang masih terdapat di beberapa

perkampungan di sepanjang sungai Kayan, di hulu Tanjung Selor, di Kampung Long

Mara, Antutan dan Pimping. Simun Luwan mempunyai suami bernama Sadang, dan

dari pernikahan mereka lahir seorang anak perempuan bernama Asung Luwan. Asung

Luwan menikah dengan seorang bangsawan dari Brunei, yaitu Datuk Mencang.

Para kerabat Kesultanan Bulungan

Sejak pemerintahan Datuk Mencang inilah timbulnya kerajaan Bulungan. Datuk

Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di Kalimantan Utara yang telah

mempunyai bentuk pemerintahan teratur. Datuk Mencang berlabuh di muara sungai

Kayan Karena kehabisan persediaan air minum. Dengan sebuah perahu kecil Datuk

Mencang dan Datuk Tantalani menyusuri sungai Kayan mencari air tawar, tetapi suku

bangsa Kayan sudah siap menghadang kedatangan mereka. Mujur pihak Datuk

Mencang dan Datuk Tantalani cukup bijaksana dapat mengatasi keadaan dan berhasil

mengadakan perdamaian dengan penduduk asli sungai Kayan. Dari hasil perdamaian

ini akhirnya Datuk Mencang kawin dengan Asung Luwan, salah seorang puteri
keturunan Jauwiru.

Menurut legenda, lamaran Datuk Mencang atas Asung Luwan ditolak, kecuali

Pangeran dari Brunei itu sanggup mempersembahkan mas kawin berupa kepala

Sumbang Lawing, pembunuh Sadang, kakaknya. Melalui perjuangan, ketangkasan

dan kecerdasan, akhirnya Datuk Mencang dapat mengalahkan Sumbang Lawing.

Perang tanding dilakukan dengan uji ketangkasan membelah jeruk yang bergerak

dengan senjata. Datuk Mencang lebih unggul dan memenangkan uji ketangkasan

tersebut.

Setelah Asung Luwan menikah dengan datuk Mencang (1555-1594), berakhirlah

masa pemerintahan di daerah Bulungan yang dipimpin oleh Kepala Adat/Suku, karena

sejak Datuk Mencang memimpin daerah Bulungan, pemimpinnya disebut sebagai

Kesatria/Wira.