Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa nifas merupakan masa yang diawali sejak beberapa jam setelah plasenta
lahir dan berakhir setelah 6 minggu pasca melahirkan. Akan tetapi seluruh organ kandungan
baru pulih kembali seperti dalam keadaan sebelum hamil dalam waktu 3 bulan setelah
bersalin.
Di negara maju maupun negara berkembang, perhatian utama bagi ibu dan bayi
terlalu banyak tertuju pada masa kehamilan dan persalinan, sementara keadaan yang
sebenarnya justru merupakan kebalikannya, oleh karena resiko kesakitan dan kematian ibu
serta bayi lebih sering terjadi pada masa pasca persalinan. Keadaan ini terutama disebabkan
oleh konsekuensi ekonomi, disamping ketidaktersediaan pelayanan atau rendahnya peranan
fasilitas kesehatan dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang cukup berkualitas.
Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan juga menyebabkan rendahnya
keberhasilan promosi kesehatan dan deteksi dini serta penatalaksanaan yang adekuat terhadap
masalah dan penyakit yang timbul pada masa pasca persalinan. Walaupun menderita nyeri
dan tidak nyaman, kelahiran bayi biasanya merupakan peristiwa yang menyenangkan karena
dengan berakhirnya masa kehamilan yang telah lama ditunggu-tunggu dan dimulainya suatu
kehidupan baru. Namun kelahiran bayi juga merupakan suatu masa kritis bagi kesehatan ibu.
Kemungkinan timbul masalah atau penyulit. Cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2009
adalah 71,54%, sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%.
Oleh sebab itu penting dilakukanya deteksi dini pada masa nifas.

1.2 Rumusan Masalah


1
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan deteksi dini masa nifas?
1.2.2 Apakah tujuan deteksi dini pada masa nifas?
1.2.3 Bagaimana deteksi dini kegawatdaruratan masa nifas?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi deteksi dini dari masa nifas
1.3.2 Untuk mengetahui tujuan deteksi dini pada masa nifas
1.3.3 Untuk mengetahui deteksi dini kegawatdaruratan masa nifas

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
2.1.1 Definisi masa nifas
Ada beberapa definisi masa nifas, antara lain :
 Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6
minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).
 Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6
minggu. (Abdul Bari,2000:122).
 Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang
meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke
keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).

2
 Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan
untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12
minggu. ( Ibrahim C, 1998).
2.1.2 Definisi deteksi dini

Pengertian deteksi dini adalah upaya awal untuk mengenali atau menandai suatu gejala
atau ciri-ciri kelainan.
2.1.3 Definisi deteksi dini masa nifas

Deteksi dini masa nifas adalah usaha untuk mengidentifikasi atau mengenali atau
kelainan pada masa nifas yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes (uji),
pemeriksaan, atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara tepat untuk
membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat, benar-benar sehat, dan yang tampak
sehat tetapi sesungguhnya ,menderita kelainan. (Dr. dr. Imam Rasjidi, Sp.OG (K) Onk )

2.2 Tujuan deteksi dini pada masa nifas :

Deteksi dini ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit pada stadium yang lebih
awal atau dengan kata lain menemukan adanya kelainan sejak dini, yaitu komplikasi
masa nifas yang masih dapat disembuhkan, untuk mengurangi morbiditas (angka
kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) akibat komplikasi masa nifas.

2.3 Perubahan yang terjadi pada masa nifas


 Rahim
Setelah melahirkan rahim akan berkontraksi (gerakan meremas) untuk merapatkan
dinding rahim sehingga terjadi perdarahan. Kontraksi inilah yang menimbulkan rasa mulas
pada perut ibu. Namun apabila tidak ada kontrasi pada rahim maka akan terjadi perdarahan.
 Jalan lahir (serviks, vulva, vagina)
Jalan lahir mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses
melahirkan bayi, sehingga menyebabkan mengendurnya organ ini, bahkan robekan ynag
memerlukan penjahitan, namun setelah 2 sampai 3 pekan jaga kebersihan daerah kewanitaan
agar tidak timbul infeksi.
 Darah nifas (locea)
Lochea yaitu cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
Darah nifas yang berbau sangat amis atau busuk dapat menjadi petunjuk adanya infeksi
dalam rahim.
 Lochea rubra atau krueta.
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo
dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan.
 Lochea sanguinolenta
3
Berwarna merah kuning berisi darah dan lender, terjadi hari ke 7 pasca persalinan.
 Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, terjadi hari ke 7 sampai 14 pasca persalinan.
 Lochea alba
Merupakan cairan putih terjadi setelah 2 minggu
 Lochea purulenta
Biasanya lochea berbau agak sedikit amis, kecuali bila terdapat infeksi.
 Lokhiotasis
Lochea tidak lancar keluarnya.
 Payudara
Payudara menjadi besar, keras, dan menghitam di sekitar putting susu. Sejak kehamilan
muda, sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar mamae untuk menghadapi masa
laktasi ini.

Perubahan yang terdapat pada kedua mamae ini antara lain :


 Poliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar dan alveolus mamae dan lemak.
 Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan
(kolostrum).
 Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mamae.
 Setelah persalinan, pengaruh menekan estrogen dan progesterone hilang, maka timbul
pengaruh hormone laktogenik (LH).
 Sistem perkemihan
Hari pertama biasanya ibu mengalami kesulitan buang air kecil, selain khawatir nyeri
jahitan juga karena penyempitan saluran kencing akibat penekanan kepala bayi saat proses
melahirkan. Namun usahakan tetap kencing secara teratur, buang rasa takut dan khawatir,
karena kandung kemih yang terlalu penuh dapat menghambat kontraksi Rahim yang
berakibat perdarahan.
 Sistem pencernaan
Perubahan kadar hormone dan gerak tubuh yang kurang menyebabkan menurunnya
fungsi usus, sehingga ibu tidak merasa ingin atau sulit BAB. Terkadang muncul wasir atau
ambeien pada ibu setelah melahirkan. Ini kemungkinan karena kesalahan cara mengejan saat
bersalinnjuga karena sembelit berkepanjangan sebelum dan setelah melahirkan.
 Peredaran darah
Sel darah putih akan meningkat dan sel darah merah serta hemoglobin akan berkurang.
Ini akan normal kembali setelah 1 minggu. Tekanan dan jumlah darah jantung akan lebih
tinggi dan kembali normal hingga 2 pekan.
Pada masa hamil di dapat hubungan pendek yang dikenal sebagai “shunt” antara
sirkulasi ibu dan plasenta. Setelah melahirkan shunt akan hilang dengan sendirinya dan tiba-
tiba. Volume darah pada ibu relative akan bertambah. Keadaan ini menimbulkan pada
jantung, sehingga dapat menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitium kordis.
 Suhu badan
4
Suhu badan wanita inpartu tidak lebih dari 37,20C. sesudah partus dapat naik + 0,50 C
dari keadaan normal, tetapi tidak melebihi 38,0 0 C sesudah 12 jam pertama melahirkan,
umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu badan lebih dari 38 0 C mungkin ada
infeksi.

 Nadi
Pada umumnya nadi berkisar antara 60-80 denyutan atau menit. Segera setelah partus
dapat terjadi bradikardi. Bila terjadi takikardi sedangkan badan tidak panas mungkin ada
perdarahan berlebihan atau ada vitium kordis pada penderitanya. Pada masa nifas umumnya
denyut nadi labil dibandingkan dengan suhu badan.

2.4 Komplikasi pada masa nifas yang beresiko gawat darurat


1. Perdarahan pervaginam

Perdarahan pervaginam (perdarahan postpartum) atau postpartum hemorargi (PPH)


adalah kehilangan darah sebanyak 500 cc atau lebih dari traktus genetalia setelah melahirkan.
Perdarahan yang terjadi bersifat mendadak sangat parah (jarang), perdarahan sedang (pada
kebanyakan kasus), dan perdarahan sedang menetap (terutama pada ruptur). Peningkatan
anemia akan mengancam terjadinya syok, kegelisahan, mual, peningkatan frekuensi nadi, dan
penurunan tekanan darah.

Hemorargi postpartum primer adalah mencakup semua kejadian perdarahan dalam 24


jam setelah kelahiran.
Penyebab:
 Terus atanik (terjadi karena misalnya : plasenta atau selaput ketuban tertahan )
 Trauma genetalia (meliputi penyebab spontan dan trauma akibat pelaksanaan atau
gangguan, misalnya kelahiran yang menggunakan peralatan termasuk sectio
caesaria, episiotomi)
 Koagulasi intravascular disetaminata
 Inversi uterus
Hemorargi postpartum skunder adalah mencakup semua kejadian PPH yang terjadi
antara 24 jam setelah kelahiran bayi dan 6 minggu masa postartum.
Penyebab:
 Fragmen plasenta atau selaput ketuban tertahan.
 Pelepasan jaringan mati setelah persalinan macet ( dapat terjadi di servik, vagina,
kandung kemih, rektum)
 Tebukanya luka pada uterus ( setelah sectio caesaria, ruptur uterus).

5
Penatalaksanaan:
 Hemorargi postpartum primer
 Hemorargi postpartum atonik
1. Pijat uterus agar berkontraksi dan keluarkan bekuan darah.
2. Kaji kondisi pasien (denyut jantung, tekanan darah, warna kulit, kesadaran,
kontraksi uterus) dan perkirakan banyaknya darah yang sudah keluar. Jika
pasien dalam kondisi syok, pastikan jalan nafas dalam kondisi terbuka,
palingkan wajah hilang.
3. Berikan oksitosin (oksitosin untuk 10 iu IV dan ergometri 0,5 IV. Berikan
melalui IM apabila tidak bisa melalui IV).
4. Siapkan donor tranfusi, ambil darah untuk cross cek , berikan NaCl 11/15 menit
apabila pasien mengalami syok), pada kasus syok yang parah gunakan plasma
darah ekspander.
5. Kandung kemih selalu dalm keadaan kosong.
6. Awasi agar uterus tetap berkontraksi dengan baik. Tambahkan 40 iu oksitosin
dalam 1 liter cairan infus dengnantetesaan 40 tetes/menit. Usahakan tetap
menyusui bayinya.
7. Jika perdarahan persisten dan uterus tetap relaks, lakukan kompresi bimanual.
8. Jika perdarahan persisten dan uterus tetap berkontraksi dengan baik , pastikan
laserasi jalan lahir.
9. Jika ada indikasi mungkin terjadi infeksi maka berikan antibiotic
10. Lakukan pencatatan yang akurat.
Penatalaksanaan lanjutan : Pantau kondisi pasien selama 24 sampai 48 jam.
Hal yang harus dihindari :
1. Jangan pernah meninggalkan pasien sendiri sampai perdarahan telah terkendali
dan keadaan umum telah stabil.
2. Pada kasus PPH atonik jangan pernah memasukkan pack vagina
3. Jika penolong berada di rumah perlu dilakukan rujukan

 Hemorargi postpartum traumatik

1. Pastikan asal perdarahan.


2. Ambil darah untuk cros creck dan lakukan sekedar HB
3. Pasang infus IV, NaCl atau RI jika pasie mengalami syok
4. Pasien dalam posisi litotomi dan penerangan yang cukup
5. Perkirakan darah yang hilang
6. Periksa denyut nadi, tekanan darah dan kondisi umum
7. Jahit robekan
8. Berikan antibiotik
9. Membuat catatan yang akurat
 Hemorargi postportum sekunder
Prioritas dalam penatalaksanaan hemorargi postpartum sekunder (sama dengan
penatalaksanaan hemorargi postpartum primer)
1. Masukkan pasien ke rumah sakit sebagai salah satu kesusu kegawadaruratan
6
2. Lakukan massase uterus, juka uterus masih teraba
3. Berikan oksitosin
4. Siapkan donor untuk transfusi
5. Awasi uterus agar tetap berkontraksi dengan baik
6. Berikan antibiotik
7. Jika mungkin siapkan pasien untuk pemeriksaan segera dibawah pengaruh
anastesi.
 Gejala Klinis

Gejala klinis berupa pendarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir.
Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat,
tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain. Penderita
tanpa disadari dapat kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat bila pendarahan
tersebut sedikit dalam waktu yang lama.

 Diagnosis

Perdarahan yang langsung terjadi setelah anak lahir tetapi plasenta belum lahir biasanya
disebabkan oleh robekan jalan lahir. Perdarahan setelah plasenta lahir, biasanya disebabkan
oleh atonia uteri. Atonia uteri dapat diketahui dengan palpasi uterus, fundus uteri tinggi di
atas pusat, uterus lembek, kontraksi uterus tidak baik. Sisa plasenta yang tertinggal dalam
kavum uteri dapat diketahui dengan memeriksa plasenta yang lahir apakah lengkap atau tidak
kemudian eksplorasi kavum uteri terhadap sisa plasenta, sisa selaput ketuban, atau plasenta
suksenturiata (anak plasenta). Eksplorasi kavum uteri dapat juga berguna untuk mengetahui
apakan ada robekan rahum. Laserasi (robekan) serviks dan vagina dapat diketahui dengan
inspekulo. Diagnosis pendarahan pasca persalinan juga memerlukan pemeriksaan
laboratorium antara lain pemeriksaan Hb, COT (Clot Observation Test), kadar fibrinogen, dan
lain-lain.

 Faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan pascapersalinan

 Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu

Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan
kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi
seorang wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun
fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi

7
reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pascapersalinan
terutama perdarahan akan lebih besar. Perdarahan pascapersalinan yang mengakibatkan
kematian maternal pada wanita hamil yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali
lebih tinggi daripada perdarahan pascapersalinan yang terjadi pada usia 20-29 tahun.
Perdarahan pascapersalinan meningkat kembali setelah usia 30-35 tahun.

 Perdarahan pasca persalinan dan gravida

Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida
mempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pascapersalinan dibandingkan
dengan ibu-ibu yang termasuk golongan primigravida (hamil pertama kali). Hal ini
dikarenakan pada multigravida, fungsi reproduksi mengalami penurunan sehingga
kemungkinan terjadinya perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar.

 Perdarahan pascapersalinan dan paritas

Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan pascapersalinan

yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga)
mempunyai angka kejadian perdarahan pascapersalinan lebih tinggi. Pada paritas yang
rendah (paritas satu), ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama
merupakan faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang
terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas.

 Perdarahan pascapersalinan dan Antenatal Care

Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu
serta anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga angka morbiditas dan
mortalitas ibu serta anak dapat diturunkan.Pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya
fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi terutama perdarahan yang selalu mungkin terjadi
setelah persalinan yang mengakibatkan kematian maternal dapat diturunkan. Hal ini
disebabkan karena dengan adanya antenatal. care tanda-tanda dini perdarahan yang
berlebihan dapat dideteksi dan di tanggulangi dengan cepat.

 Perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin

Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobin dibawah
nilai normal. Dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%. Perdarahan

8
pascapersalinan mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500 ml atau lebih, dan jika hal
terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat dan akurat akan mengakibatkan
turunnya kadar hemoglobin dibawah nilai normal. Komplikasi perdarahan pascapersalinan
Disamping menyebabkan kematian, perdarahan pascapersalinan memperbesar kemungkinan
infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang. Perdarahan banyak kelak bisa
menyebabkan sindrom Sheehan sebagai akibat nekrosis pada hipofisisis pars anterior
sehingga terjadi insufisiensi pada bagian tersebut. Gejalanya adalah asthenia, hipotensi,
anemia, turunnya berat badan sampai menimbulkan kakeksia, penurunan fungsi seksual
dengan atrofi alat alat genital, kehilangan rambut pubis dan ketiak, penurunan metabolisme
dengan hipotensi, amenore dan kehilangan fungsi laktasi. Penanganan perdarahan
pascapersalinan.

 Penanganan perdarahan pasca persalinan pada prinsipnya adalah :

 Hentikan perdarahan, cegah/atasi syok, ganti darah yang hilang dengan diberi infus
cairan (larutan garam fisiologis, plasma ekspander, Dextran-L, dan sebagainya),
transfuse darah, kalau perlu oksigen.

 Pada perdarahan sekunder atonik:

 Beri Syntocinon (oksitosin) 5-10 unit IV, tetes oksitosin dengan dosis 20 unit atau
lebih dalam larutan glukosa 500 ml.

 Pegang dari luar dan gerakkan uterus ke arah atas.

 Kompresi uterus bimanual.

 Kompresi aorta abdominalis.

 Lakukan hiserektomi sebagai tindakan akhir.

2. Infeksi nifas
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri yg berasal dari saluran reproduksi selama persalinan
atau nifas. Infeksi tidak lagi bertanggung jawab terhadap tingginya insiden mortalitas nifas
seperti dahulu, saat lebih dikenal sebagai demam nifas. Akan tetapi, infeksi nifas masih tetap
bertanggung jawab terhadap presetase signifikan morbiditas nifas.

 Etiologi

9
Organisme pada bekas implantasi placenta atau lasersi akibat persalinan adalah kuman
anaerob : coocus gram positive (peptoskreptokok, peptokok, bakteriodes dan clostridium)
kuman aerob gram positive dan e.coli.

 Faktor predisposisi

Situasi berikut merupakan predisposisi infeksi nifas pada wanita :

 Persalinan lama, khususnya dengan pecah ketuban


 Pecah ketuban yang lama sebelum persalinan
 Bermacam – macam pemeriksaan vagina selama persalinan, khususnya pecah ketuban
 Teknik aseptic tidak sempurna
 Tidak memperhaatikan teknik mencuci tangan
 Manipulasi intrauteri (eksplorasi uteri, pengeluaran plasenta manual)
 Trauma jaringan yang luas atau luka terbuka, seperti laserasi yang tidak diperbaiki
 Hematoma
 Hemoraghi khususnya jika kehilangan darah lebih dari 1000ml
 Kelahiran operatifterutamakelahiranmelaluisextiosesaria
 Retensi sisa plasenta atau membran janin
 Perawatan perineum tidak memadai
 Infeksi vagina atau servix atau PMS yang tidak ditangani (vaginosis bakteri, klamidia,
gonorea)
 Tanda dan gejala :
 Peningkatan suhu tubuh
 Nyeri
 Lochea berbau tidak sedap
 Peningkatan kecepatan nadi, terjadi saat infeksi berat

 Macam – macam infeksi masa nifas :

A. Infeksi trauma vulva, perineum, vagina atau serviks


Jahitan episiotomy dan laserasi yang tampak sebaiknya diperiksa secara rutin.
 Tanda dan gejalanya :
 Nyeri local
 Dysuria
 Suhu derajat rendah
 Edema
 Sisi jahitan merah dan inflamasi
 Mengeluarkan pus
 Pemisahan atau terlepasnya lapisan luka operasi

 Penanganan :

Penanganan jahitan yang terinfeksi meliputi pertama membuang semua jahitan, membuka
dan membersihkan luka. Dan memberikan obat anti mikroba spectrum luas. Selain episiotomi

10
atau laserasi trauma dapat meliputi memar, abrasi terlalu kecil untuk dijahit dan pembentukan
hematoma. Hal ini juga disebabkan oleh objek asing seperti spons kasa yang tertinggal dalam
vagina.

B. Endometritis
 Tanda dan gejala :
 Peningkatan demam secara persisten hingga 40o C
 Takikardi
 Menggigil dengan infeksi berat
 Nyeri tekan uteri menyebar secara lateral
 Nyeri panggul
 Sub involusi
 Lochia sedikittidakberbauatauberbautidaksedap

 Penanganan :

Dengan obat anti mikroba spectrum luas termasuk sefalosporin (cefoxitin, cefotatan) dan
penicillin spectrum luas atau inhibitor kombinasi penicillin/beta laksamase
(augmentiunasyn). Kombinasi kilndamisin dan gentamisin juga dapat digunakan, seperti
metronidazole jika ibu tidak menyusui. Endometritis ringan dapat ditangani dengan oral
meskipun infeksi lebih serius memerlukan hospitalisasi untuk terapi intravena.

C. Tromboflebitis dan Emboli Paru

Tromboflebitis adalah invasi/perluasan mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran


darah disepanjang vena dan cabang-cabangnya. Tromboflebitis didahului dengan trombosis,
dapat terjadi pada kehamilan tetapi lebih sering ditemukan pada masa nifas.

 Tanda dan Gejala :

 Kemungkinan peningkatan suhu ringan

 Takikardi ringan

 Awitan tiba-tiba nyeri sangat berat pada tungkai diperburuk dengan pergerakan
atau saat berdiri

 Edema pergelangan kaki, tungkai, dan paha

 Tanda homan positif

 Nyeri saat penekanan betis

11
 Nyeri tekan sepanjang aliran pembuluh darah yang terkena dengan pembuluh
darah dapat teraba

 Penyebab :

 Perubahan susunan darah

 Perubahan laju peredaran darah

 Perlukaan lapisan intema pembuluh darah

 Penanganan :

 Tirah baring

 Elevasi ekstemitas yang terkena

 Kompres panas

 Stoking elastis

 Analgesia

3. Hematoma
Hematoma adalah pembengkakan jaringan yang berisi darah. Bahaya hematoma adalah
kehilangan darah karena hemoragi, anemia, dan infeksi.
 Penyebab :
 Kelahiran operatif
 Laserasi robekan pembuluh darah yang tidak dijahit selama injeksi anastesi lokal
 Kegagalan hemostatis lengkap sebelum penjahitan laserasi
 Pembuluh darah diatas apeks insisi atau laserasi tidak dibendung atau kegagalan
melakukan penjahitan pada titik tersebut
 Penanganan kasar pada jaringan vagina
 Tanda-tanda hematoma:
 Penekanan perineum, vagina, uretra, kandung kemih atau rektum dan nyeri hebat
 Pembengkakan yang tegang dan berdenyut
 Perubahan warna jaringan kebiruan atau biru kehitaman
4. Subinvolusi
Subinvolusi terjadi jika proses kontraksi uterus tidak terjadi seperti seharusnya dan
kontraksi ini lama berhenti.
 Penyebab :
 Retensi sisa plasenta
 Miomata
 Infeksi

12
 Tanda-tanda dan Gejala :
 Uterus lunak tidak bergerak, tidak berkurang ukurannya dan tinggi fundus tidak
berubah
 Lochea banyak an berwarna merah terang sampai coklat kemerahan
 Tidak perlu dipertimbangkan adanya infeksi kecuali terdapat nyeri tekan atau
nyeri pada adneksa atau pergerakan uterus
 Penanganan :
 Terapi ergonovin atau metilergnonovin 0,2 mg per oral setiap 4 jam selama 3 hari
selama 2 minggu
 Jika wanita menderita endometritis, bidan menambahkan resep antibiotik
spektrum-luas.

5. Syok Hemoragik

Semua keadaan perdarahan diatas, dapat menyebabkan syok pada penderita, khususnya
syok hemoragik yang di sebabkan oleh berkurangnya volume darah yang beredar akibat
perdarahan atau dehidrasi.

 Penyebab gangguan ini :

 Perdarahan eksterna atau interna yang menyebabkan hiposekmia atau ataksia


vasomotor akut.

 Ketidakcocokan antara kebutuhan metabolit perifer dan peningkatan transpor


gangguan metabolic, kekurangan oksigen jaringan dan penimbunan hasil sisa
metabolik yang menyebabkan cidera sel yang semula reversibel kemudian tidak
reversibel lagi.

 Gangguan mikrosirkulasi.

 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan tekanan darah dan nadi; pemeriksaan suhu, warna
kulit, dan membrane mukosa perbedaab suhu antara bagian pusat dan perifer badan, evaluasi
keadaan pengisian (kontraksi) vena dan evaluasi palung kuku, keterlambatan pengisian
daerah kapiler setelah kuku ditekan, dan ekskresi urin tiap jam.

 Penanganan Syok Hemoragik

13
Pada syok hemoragik tindakan yang esensial adalah menghentikan perdarahan dan
mengganti kehilangan darah. Setelah diketahui adanya syok hemoragik :

 Penderita dibaringkan dalam posisi Trendelenburg, yaitu dalam posisi terlentang biasa
dengan kaki sedikit tinggi ( 30 derajat ).

 Dijaga jangan sampai penderita kedinginan badannya. Setelah kebebasan jalan napas
terjamin, untuk meningkatkan oksigenasi dapat diberi oksigen 100% kira-kira 5
liter/menit melalui jalan napas.

 Sampai diperoleh persediaan darah buat transfusi, pada penderita melalui infuse
segera diberi cairan dalam bentuk larutan seperti NaCI 0,9%, ringer laktat, dekstran,
plasma dan sebagainya.

 Jika dianggap perlu kepada penderita syok hemoragik diberi cairan bikarbonat
natrikus untuk mencegah atau menanggulangi asidosis. Penampilan klinis penderita
banyak memberi isyarat mengenai keadaan penderita dan mengenai hasil
perawatannya

6. Syok Septik (Bakteri, Endotoksin)

Penyebab gangguan ini adalah masuknya endotoksin bakteri gram negative (coli, proteus,
pseudomonas, aerobakter, enterokokus). Toksin bakteri gram positif (streptokokus,
Clostridium welchii) lebih jarang terjadi. Pada abortus septic, sering terjadi amnionitis atau
pielonefritis. Adanya demam sering didahului dengan menggigil, yang diikuti penurunan
suhu dalam beberapa jam, jarang terjadi hipotermi. Tanda lain adalah takikardia dan hipotensi
yang jika tidak diobati hamper selalu berlanjut ke syok yang tidak reversible. Gangguan
pikiran sementara (disorientasi) sering tidak diperhatikan. Nyeri pada abdomen.
Ketidakcocokan antara gambaran setempat dan keparahan keadaan umum. Jika ada gagal
ginjal akut dapat berlanjut ke anuria. Trobopenia sering terjadi hanya sementara.

 Terapi

Terapi untuk gangguan ini adalah tindakan segera selama fase awal. Terapi tambahan
untuk pengobatan syok septic (bakteri) selalu bersifat syok hipovolemik (hipovolemia relatif)
adalah terapi infuse secepat mungkin yang diarahkan pada asidosis metabolik. Terapi untuk
infeksi adalah antibiotika (Leucomycin, kloramfenikol 2-3 mg/hari, penisilin sampai 80 juta
satuan/ hari). Pengobatan insufisiensi ginjal dengan pengenalan dini bagi perkembangan
14
insufisiensi ginjal, manitol (Osmofundin). Jika insufisiensi ginjal berlanjut 24 jam setelah
kegagalan sirkulasi, diperlukan dialysis peritoneal.

7. Preeklampsia Berat

Tindakan yang dapat dilakukan oleh bidan berdasarkan standart asuhan kebidanan untuk
mendeteksi secara dini preeklamsi berat pada ibu nifas adalah sebagai berikut :

 Menimbang BB

 Mengukur tekanan darah

 Mengamati adakah oedema pada ektremitas pasien atau tidak

 Memeriksa adanya proteinuria

8. Eklampsia

Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalinan harus
berlangsung dalam 6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.

 Pengelolaan kejang

 Beri obat anti kejang (anti konvulsan)

 Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir, masker


oksigen, oksigen)

 Lindungi pasien dari kemungkinan trauma

 Aspirasi mulut dan tenggorokan

 Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk mengurangi risiko
aspirasi

 Berikan O2 4-6 liter/menit

 Pengelolaan umum

15
 Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolic
antara 90-100 mmHg

 Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar no.16 atau lebih

 Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload

 Kateterisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan proteinuria

 Infus cairan dipertahankan 1.5 – 2 liter/24 jam

 Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan


kematian ibu dan janin.

 Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam

 Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi merupakan tanda
adanya edema paru. Jika ada edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan
diuretic (mis. Furosemide 40 mg IV)

 Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan.

Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati


Anti konvulsan Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan
mengatasi kejang pada preeklampsia dan eklampsia. Alternatif lain adalah Diasepam,
dengan risiko terjadinya depresi neonatal.

2.5 Deteksi dini komplikasi pada masa nifas


Ada sembilan deteksi dini komplikasi pada masa nifas, yaitu berkurangnya sirkulasi
progesteron mempengaruhi otot-otot pada panggul, perineum, vagina, dan vulva. Proses ini
menbantu kearah tonisitas atau elastisitas dari ligamentum otot rahim ini merupakan proses
bertahap yang akan berguna pada ibu apabila ibu melakukan ambulasi dini, senam masa
nifas, dan mencegah timbulnya konstipasi. Progesterone juga meningkatkan pembuluh darah
pada vagina dan vulva selama kehamilan dan persalinan biasanya menyebabkan timbulnya
beberapa hematoma dan edema pada jaringan ini dan pada perineum.

Berikut ini adalah deteksi dini pada masa nifas :


1. Perdarahan pervaginam
Perdarahan pervaginam melebihi 500 ml setelah bersalin didefinisikan sebagai
perdarahan pascapersalinan, terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini :
16
 Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang
hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau
dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di dalam ember dan lantai.
 Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin
pada ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb akan dapat menyesuaikan diri kehilangan darah
yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemi pun dapat
mengalami akibat fatal dari kekurangan darah.
 Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka yang beberapa jam dan kondisi ini
dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian risiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan terjadi perdarahan pasca
persalinan. Penanganan aktif kala III sebaikknya dilakukan pada semua wanita yang
bersalin karena hal ini dapat menurunklan insiden perdarahan pascapersalinan akibat
atonia uteri. Semua ibu pasca persalinan harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosa
perdarahan fase persalinan.
2. Infeksi pada masa nifas
Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan, infeksi masa nifas
masih juga menyebabkan tertinggi AKI. Infeksi alat genetal merupakan komplikasi masa
nifas. Infeksi yang meluas ke saluran urinaria, payudara atau pasca pembedahan merupakan
salah satu penyebab terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi berupa suhu badan panas,
malaise dan denyut nadi cepat. Gejala local dapat berupa uterus lembek, kemerahan dan rasa
nyeri dan payudara atau adanya disuria.
3. Sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur
Gejala-gejala ini merupakan tanda-tanda terjadinya eklamsi postpartum, bila disertai
dengan tekanan darah tinggi.
4. Pembengkakan diwajah atau ekstermitas
Hal ini berhubungan dengan poin diatas, yang mana pembengkakan pada bagian wajah
dan ekstermitas merupakan salah satu dari beberapa gejala dan tanda terjadinya eklamsi
postpartum.

5. Demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih


Pada masa nifas dini sensitifitas kandung kemih terhadap tegfangan air kemih didalan
vesika sering menurun akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi
peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman, yang
ditimbulkan episiotomy yang lebar, laserasi, hematoma dinding vagina.
6. Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan terasa sakit
Disebabkan oleh payudara yang tidak disusu secara adekuat, putting susu yang lecet,
BH yang terlalu ketat, ibu dengan diet yang jelek, kurang istirahat, anemia.
7. Kehilangan nafu makan dalam waktu yang lama

17
Kelelahan yang amat sangat berat setelah persalinan dapat mengganggu nafsu makan,
sehingga ibu tidak ingin makan sampai kelelahan itu hilang. Hendaknya setelah bersalin
berikan ibu minuman hangan, susu, kopi, atau the yang bergula untuk mengembalikan tenaga
yang hilang. Berikanlah makanan yang bersifat ringan, karena alat pencernaan perlu istirahat
guna perlu memulihkan keadaan kembali.
8. Rasa sakit merah lunak pembengkakan di kaki
Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-vena manapun di
pelvis yang mengalami dilatasi.
9. Merasa sedih atau tidak mampu mengasuh bayinya dan dirinya sendiri
Penyebabnya adalah kekecewaan emosional bercampur rasa takut yang dialami
kebanyakan wanita hamil yang dan melahirkan, rasa nyeri pada masa awal nifas, kelelahan
akibat kurang tidur selama persalinan dan setelah melahirkan, kecemasan akan
kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit, ketakutan akan
menjadi tidak menarik lagi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Deteksi dini pada masa nifas bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit pada stadium
yang lebih awal atau dengan kata lain menemukan adanya kelainan sejak dini, yaitu
komplikasi masa nifas yang masih dapat disembuhkan, untuk mengurangi morbiditas (angka
kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) akibat komplikasi masa nifas.Komplikasi yang
dapat timbul pada masa nifas misalnya seperti perdarahan pervaginam, infeksi masa nifas,
syok hemoragik, syok septik (bakteri, endotoksin), preeklampsia berat, dan eklamsia.
18
Ada sembilan deteksi dini komplikasi pada masa nifas, yaitu perdarahan pervaginam,
infeksi masa nifas, sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur, pembengkakan diwajah
atau ekstermitas, demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih, payudara yang berubah
menjadi merah, panas dan terasa sakit, kehilangan nafu makan dalam waktu yang lama, rasa
sakit merah lunak pembengkakan di kaki, merasa sedih atau tidak mampu mengasuh bayinya
dan dirinya sendiri.

3.2 Saran

 Pentingnya seorang tenaga kesehatan untuk dapat melakukan deteksi dini untuk
mengurangi angka kematian oleh karena kurangnya pemahaman tentang suatu tanda
kegawat daruratan.
 Diharapkan kepada petugas kesehatan khususnya bidan untuk lebih meningkatkan
mutu pelayanannya dalam memberikan penatalaksanaan terutama dalam pencegahan
infeksi pada masa nifas.

DAFTAR PUSTAKA

Suhermi. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : FitramayaSuheimi. 2006. Dasar-dasar


Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : HipokratSaifudin. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBPSP.

Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP.


Wildan, moh. dan hidayat, alimul. 2008. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta : salemba medika

http://www.dheanbj.com/2012/12/deteksi-dini-pengertian-dan-tujuannya.html

19