Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Granul berasal dari kata granula yang artinya butir. Sebelum pecetakan tablet,
bahan obat (zat aktif) dan bahan pembantu digranulasi, sehingga menjadi butir
granul, granul tersebut mempuyai daya lekat dan daya alirnya menjadi lebih baik.
Ukuran biasanya berkisar ayakan 4-12 mesh. Umumnya granul dibuat dengan
cara melembutkan serbuk yang diinginkan atau campuran serbuk yang diingin.
Setelah dibuat dan dibiarkan beberapa waktu, granul tidak segera mengering
seperti balok bila dibandingkan dengan serbuknya. Hal ini karena luas permukaan
granul lebih kecil dibandingkan serbuk (Ibrahim F., 1989).

Granul effervescent di definisikan sebagai bentuk sediaan yang menghasilkan


gelembung sebagai hasil reaksi kimia dalam larutannya. Produk dalam
effervescent merupakan bentuk pangan yang cukup dekenal karena memiliki
beberapa keuntungulan diantaranya praktis, mempuyai rasa yang menarik dan
mudah larut dalam air. Sediaan effervescent yang paling sederhana, mudah dan
praktis dibuat adalah granul (Rosmala Dewi et al., 2014). Granul effervescent
dapat dibuat dengan mengkombinasikan asam sitrat dan asam tatrat, tidak hanya
dipilih satu macam asam saja karena akan menimbulkan kesukaran dalam
pembentukkan tekstur serbuk. Apabila yang digunakan asam sitrat sebagai asam
tunggal, maka granul yang terbentuk akan menghasilkan campuran yang lengket
ketika dipegang, sementara apabila yang digunakan adalah asam tatrat maka
granul akan kehilangan tekstur dan mengumpal membentuk granul yang lebih
besar dan kasar (Lieberman, H.A., & Schwaet, 1989).

Bahan baku yang digunakan pada proses pembuatan tablet effervescent


adalah sebagai berikut: sumber asam meliputi food acid yaitu bahan yang
mengandung asam atau yang dapat membuat suasana asam pada campuran

1
effervescent seperi asam sitrat, asam malat, asam suksinat, dan asam fumarat. Asam-
asam ini sangat penting pada pembuatan tablet effervescent, jika direaksikan dengan
air bahan tersebut akan terhidrolisa kemudian akan melepaskan asam yang dalam
proses selanjutnya akan bereaksi dengan bahan– bahan karbonat. Bahan-bahan yang
digunakan harus tahan panas, mudah dikempa dan larut dalam air (Lachman et al.,
1986).

Menurut Mohrle (1980), keasaman sangat penting dalam proses reaksi


effervescent, dan ini didapat dari tiga sumber yang mengandung asam tersebut,
yaitu:

a. Asam bebas. Asam bebas adalah asam yang mengandung asam atau bahan
yang bisa memberikan suasana asam pada campuran effervescent, seperti: asam
sitat (citric acid), asam tartrat (tartaric acid), asam malat (malic acid) dan asam
fumarat (fumaric acid).

b. Asam anhidrat (acid anhidrides) Pada asam anhidrat ini tidak terdapat air
kristal, contohnya: asam suksinat dan asam anhidrat.

c. Asam garam (acid salt) Asam dalam bentuk garam, yang lebih mudah larut
dalam air, contohnya natrium dihidrogen fosfat. Sumber karbonat yang umum
digunakan yaitu natrium bikarbonat dan natrium karbonat. Natrium bikarbonat
merupakan bagian terbesar sumber karbonat dengan kelarutan yang sangat baik
dalam air, nonhigroskopis serta tersedia di pasaran mulai dari bentuk bubuk
sampai bentuk garam. Natrium bikarbonat menghasilkan 52% karbondioksida
(Mohrle, 1980).

Daun papaya (carica papaya L.) merupakan tanaman herba dari familia caricae
yang berasal dari Amerika Tengah yang memiliki bentuk daun sangat beragam,
namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun
digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat,
dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya

2
bisa meruncing panjang.Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada
kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun
tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ
penyimpan air. Daun segar (kiri) dan tua.

Daun tua telah kehilangan klorofil sebagai bagian dari penuaan.Warna hijau
pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa
pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya
diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya
karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna
merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil
sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas
pada daun yang gugur).

Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai formulasi


dan uji evaluasi granul efferfescent ekstrak daun papaya sebagai obat analgesic.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud granul effervescent ?


2. Apakah bahan baku dalam pembuatan granul effervescent ?
3. Bagaimana cara pembuatan granul effervescent ?
4. Uji apa saja yang diperlukan untuk granul effervescent ?

1.3. Tujuan

1. Dapat mengetahui sifat fisik sediaan granul effervescent yakni:


organoleptis, keseragaman bobot, waktu larut dan derajat pH.
2. Dapat mengetahui parameter yang dilakukan untuk evaluasi granul
efferfescent
3. Dapat mengetahui manfaat ekstrak daun papaya yang digunakan
sebagai analgesic

3
1.4. Hipotesis

Tablet effervescent ekstrak daun prpaya yang dibuat dengan kombinasi asam
sitrat dan asam tartrat sebagai sumber asam dan natrium karbonat sebagai sumber
basa diduga dapat menaikkan kekerasan, menurunkan kerapuhan, mempercepat
waktu larut dan memberikan respon rasa yang enak serta dapat menghasilkan tabet
effervescent yang berkualitas.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Pepaya atau bahasa latinnya (Carica Papaya L), termasuk


family Caricaceae yang tidak begitu besar ruang lingkupnya. Memang sebelum
perang telah didatangkan jenis pepaya yaitu Carica candamarcensis. Pepaya (Carica
papaya L) merupakan tumbuhan yang berbatang tegak dan basah. Pepaya menyerupai
palma, bunganya berwarna putih dan buahnya yang masak berwarna kuning
kemerahan, rasanya seperti buah melon. Tinggi pohon pepaya dapat mencapai 8
sampai 10 meter dengan akar yang kuat. Helaian daunnya menyerupai telapak tangan
manusia. Apabila daun pepaya tersebut dilipat menjadi dua bagian persis di tengah,
akan nampak bahwa daun pepaya tersebut simetris. Rongga dalam pada buah pepaya
berbentuk bintang apabila penampang buahnya dipoting melintang. Tanaman ini juga
dibudidayakan di kebun-kebun luas karena buahnya yang segar dan bergizi.

Klasifikasi papaya :

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)


Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (Dikotil)
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Violales
Familia : Cariccaceae
Genus : Carica
Spesies : Carica papaya L.

Penelitian dijelaskan, batang dan daun pada tumbuhan pepaya mengandung


banyak getah putih seperti susu (white milky latex), yang berpeluang dikembangkan
sebagai antikanker. Manfaat getah pepaya untuk kesehatan dibuktikan Bouchut secara

5
ilmiah, seperti dikutip Journal Society of Biology, yang menyatakan daun pepaya
bersifat antitumor atau kanker. Peran itu dimungkinkan oleh kandungan senyawa
karpain, alkaloid bercincin laktonat dengan tujuh kelompok rantai metilen. Dengan
konfigurasi itu, tak hanya tumor dan penyakit kulit yang disembuhkan, karpain
ternyata juga ampuh menghambat kinerja beberapa mikroorganisme yang menggangu
fungsi pencernaan. Sehingga efektif untuk menekan penyebab tifus. Daun pepaya
juga mengandung berbagai macam zat, antara lain vitamin A, B1, kalori, protein,
lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, besi, dan air.
Papaya terdapat Lebih dari 50 asam amino terkandung dalam getah pepaya,
antara lain asam aspartat, treonin, serin, asam glutamat, prolin, glisin, alanin, valine,
isoleusin, leusin, tirosin, fenilalanin, histidin, lysin, arginin, tritophan, dan sistein.
Bahan-bahan tersebut biasanya dipadukan dalam bahan baku industri kosmetik untuk
menghaluskan kulit, menguatkan jaringan agar lebih kenyal, dan menjaga gigi dari
timbunan plak. Selain bermanfaat bagi kulit, daun pepaya terutama dapat digunakan
untuk kesehatan wanita antara lain untuk mengobati keputihan, demam akibat
nifas,melancarkan haid dan melancarkan air susu ibu (ASI). Daun dari tumbuhan ini
memiliki berbagai manfaat seperti : Mengobati jerawat, obat demam berdarah,
penambah nafsu makan, dan nyeri haid.
Ekstrak adalah sediaan kering kental atau cair dibuat dengan menyari
simplisia menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya matahari langsung.
Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Sebagai cairan penyari
digunakan air, eter, etanol atau campuran etanol dan air (Anonim, 2000). Penyarian
simplisia dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau penyeduhan dengan air
mendidih. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi
atau perkolasi. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi (Anonim,
1979).

Maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara


merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada
temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Metode maserasi digunakan untuk

6
menyari simplisia yang mengandung komonen kimia yang mudah larut dalam cairan
penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin (Anonim, 1986)

Metode granulasi basah merupakan metode yang paling banyak digunakan


dalam industri farmasi untuk memproduksi tablet kompresi (Parrott, 1971).
Keuntungan granulasi basah menurut Sheth dkk (1980) adalah: 1) Meningkatkan
kohesifitas dan kompresibilitas serbuk, sehingga granul yang dihasilkan dapat dibuat
tablet dengan jalan mengempa sejumlah granul pada tekanan kompresi tertentu,
mempunyai penampilan bagus, cukup keras dan tidak rapuh. 2) Mencegah terjadinya
segregasi komponen penyusun tablet yang telah homogen selama proses
pencampuran. 3) Zat yang bersifat hidrofob, dapat memperbaiki kecepatan pelarutan
obat dengan cara menambahkan cairan pelarut yang cocok pada bahan pengikat.
Metode granulasi basah ,Metode ini berbeda dari metode peleburan, metode granulasi
basah tidak perlu air kristal asam sitrat tetapi digunakan air yang ditambahkan ke
dalam pelarut (seperti alkohol) yang digunakan sebagai unsur pelembab untuk
membuat adonan bahan yang lunak dan larut untuk pembuatan granul. Dalam metode
ini tablet yang tidak mengandung air, tergantung dari air ditambahkan (sebagian)
untuk mengolah adonan yang tepat, baru granul diolah dan dikeringkan dengan cara
seperti yang diuraikan diatas (Ansel et al., 2005).

Metode kempa langsung Kempa langsung didefinisikan sebagai proses


pembuatan tablet dengan langsung mengempa campuran serbuk (zat aktif dan
eksipien), dan tidak ada proses sebelumnya kecuali penimbangan dan pencampuran.
Material yang dapat dikempa langsung hanya material yang mempunyai sifat alir dan
kompresibilitas yang baik. Tahapan proses untuk kempa langsung hanya terdiri dari
beberapa langkah (sangat singkat) yaitu penimbangan bahan (zat aktif dan eksipien),
pencampuran zat aktif dengan semua eksipien dan pengempaan tablet (Sulaiman,
2007).

Uji evaluasi granul untuk mengetahui kualitas granul efferfescent yang


dihasilkan maka perlu dilakukan berbagai uji kualitas granul sebagai berikut :

7
1. Granulometri

Granulometri adalah analisis ukuran dan repartisi granul


(penyebaran ukuran-ukuran granul). Dalam melakukan analisis granulometri
digunakan susunan pengayak dengan berbagai ukuran. Mesh terbesar
diletakkan paling atas dan dibawahnya disusun pengayak dengan mesh yang
makin kecil.

Tujuan granulometri adalah untuk melihat keseragaman dari


ukuran granul. Diharapkan ukuran granul tidak terlalu berbeda. Granulometri
berhubungan dengan sifat aliran granul. Jika ukuran granul berdekatan, aliran
akan lebih baik. Diharapkan ukuran granul mengikuti kurva distribusi normal.

2. Bobot Jenis
a. Bobot jenis sejati

BJ sejati dapat dilakukan dengan menggunakan alat piknometer,


yaitu dengan cara ditimbang bobot piknometer kosong, masukka 1 gram
granul pada piknometer yang telah ditimbang tadi, kemudian masukkan 1
gram granul dan cairan pendispersi pada piknometer yang kedua, dan
berikutnya masukkan cairan pendispersi pada piknometer ketiga, catat hasil
yang diperoleh kedalam rumus sebagai berikut :

Bj = (B – a) x Bj cairan pendispersi

(B+d)–(a+c)

a = Bobot piknometer kosong

B = Bobot piknometer 1 gram granul

c = Bobot piknometer 1 gram granul dan cairan pendispersi

d = Bobot piknometer cairan pendispersi.

b. Bobot jenis nyata

8
BJ nyata dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu gelas ukur, dengan
cara ditimbang bobot granul, misalnya 50 gram dimasukkan kedalam gelas
ukur. Kemudian dimasukkan kedalam rumus sebagai berikut :

𝑤
P=
𝑣

W = Bobot granul setelah ditimbang

V = Volume granul tanpa pemampatan

c. Obat jenis nyata setelah pemampatan

b. BJ Mampat

BJ mampat dapat dilakukan dengan alat gelas ukur, dengan cara


ditimbang bobot ganul yang akan dilakukan evaluasi, kemudian dimasukkan
kedalam gelas ukur, dan lihat volume granul setelah dilakukan 500 kali katuk
pada gelas ukur tersebut. Dengan rumus sebagai berikut :

𝑊
Pn =
𝑉𝑛

W = Bobot granul setelah ditimbang

Vn = Bobot granul setelah dilakukan pemampatan

3. Kadar Pemampatan

𝑉𝑜−𝑉500
%T = x 100
𝑉𝑜

%T = Kadar pemampatan

Vo = Volume sebelum pemampatan

V500 = Volume setelah pemampatan 500 x

9
%T < 20 atau ^V<20 m granul memiliki aliran yang baik

Kadar pemampatan dan berat jenis dapat untuk menilai aliran. Alat dan
metode nya hampir sama seperti pada saat melakukan BJ mampat.

4. Aliran
a. Metode corong

Mengukur kecepatan aliran 100 g granul menggunakan corong kaca


dengan dimensi sesuai. Metode corong dapat dilakukan dengan 2 cara :

· cara bebas

· cara tidak bebas (paksa) digetarkan

Menggunakan corong yang dipasang pada statif yang diletakkan


dengan ketinggian tertentu. Awalnya granul ditimbang, berat granul dicatat
sebagai m. Lalu granul tersebut dialirkan melalui corong dan ditampung pada
bagian bawahnya. Waktu yang diperlukan granul untuk melewati corong
dicatat sebagai t.

b. Metode sudut istirahat (α)

Masukkan 100 g granul (tutup bagian bawah corong) kemudian


tampung granul di atas kertas grafik. Hitung α. Jika α

Α Sifat alir

25 – 30 sangat mudah mengalir

30 – 40 mudah mengalir

40 – 45 mengalir

>45 kurang mengalir

10
Menggunakan corong yang dipasang pada statif yang diletakkan
dengan ketinggian tertentu. Kemudian granul dialirkan melalui corong dan
ditampung pada bagian bawahnya. Gundukan yang tertampung lalu diukur
tinggi (dicatat sebagai h) dan diameternya (dicatat sebagai d).

5. Kompresibilitas

Merupakan pengukuran persen kemampatan. Pada uji ini


menggunakan gelas ukur bervolume besar, kemudian seluruh granul
dimasukkan ke dalam gelas ukur. Tinggi awal granul dicatat, kemudian gelas
ukur diketuk-ketukkan sebanyak 500 kali ketukan dengan kecepatan konstan.
Tingginya lulu diukur lagi dan dicatat Diukur persen (%) kemampatan (K)
dengan rumus :

𝐵𝐽 𝑚𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡−𝐵𝐽 𝑁𝑦𝑎𝑡𝑎
%K= x100 %
𝐵𝐽 𝑀𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡

% K = 5-15 % aliran sangat baik

16-25% aliran baik

>/ 26% aliran buruk

6. Uji Kadar Air

Susut pengeringan diukur dengan alat Moisture Balance. Kadar air


yang baik untuk granul tablet adalah 3 – 5 %. Atau menggunakan oven (
gravimetri ).

2.2. Tinjauan Bahan

2.2.1 Formula yang dibuat :

11
Nama Bahan Fungsi % rentang %yang Jumlah Jumlah
pemakaian dibuat tiap (g)
(mg)
Ekstrak Zat Aktif - 37,2 % 9309,6 121,024
kental daun
papaya
Asam sitrat Sumber - 4,8% 1200 15,6
Asam
Asam tartrat Sumber - 12,8 % 3200 41,6
Asam
Natrium Sumber 25-50% 20,086 5021,5 67,795
bikarbonat Basa %
Talcum Pelicin 1-10% 0,8 % 200 2,6
Laktosa Pengisi - 4,27 % 1069 13,897
Aerosil Pengisi 2-10% 20 % 5000 5

2.2.2 Bahan yang digunakan :

a. Asam sitrat

Asam sitrat merupakan jenis asam yang biasa digunakan dalam


sediaan farmasetika dan produk makanan terutama untuk mengatur pH,
paling banyak tersedia dan murah. Asam sitrat berupa hablur kuning,
tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau, sangat mudah
larut dalam air, mempunyai kekuatan asam yang tinggi, sangat
higroskopik, serta memberikan rasa jeruk pada sediaan tablet
effervescent (Amidon, 2006).

b. Natrium karbonat

12
Natrium bikarbonat yaitu berupa hablur tidak berwarna atau serbuk
hablur putih. Mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih.
Natrium karbonat ini menghasilkan rasa yang enak dan segar karena
mengandung karbonat yang dapat menghasilkan gas CO2 serta membantu
memperbaiki rasa beberapa obat tertentu (Allen, 2002). Selain sebagai sumber
karbondioksida, natrium karbonat dalam formulasi effervescent juga berfungsi
sebagai penstabil karena kemampuannya mengadsorpsi lembab yang dapat
menginisiasi reaksi effervescent (Lachman et al., 1986).

c. Talcum

Talc ini berupa mineral yang didalamnya terkandung Magnesium


Silikat yang sudah terhidrasi. Ketika batuan mineral dari talc ini
ditaburkan keatas permukaan tubuh, maka akan terjadi penguapan dan
pengendapan. Pada proses pengendapan inilah yang sangat berbahaya
karena partikel-partikel dari talc itu akan berubah menjadi partikel-
partikel yang lain yang biasa disebut asbes. Hidrat Magnesium Silikat
atau yang biasa dikenal sebagai talk terdiri dari variasi suatu kumpulan
mineral seperti alpha-quartz, kalsit, klorit, dlomit, magnesit dan
phologopit. Rumus kimia dari hidrat magnesium silikat adalah Mg3
(Si4O10)(OH)2. Hidrat magnesium silikat mempunyai variasi dalam
warna, tetapi pada umumnya berwarna putih. Karakteristik hidrat
magnesium silikat ini yaitu teksturnya lembut, kilauan seperti mutiara
dan berminyak. Adapaun karakteristik utama pada hidrat magnesium
silikat yaitu permukaannya yang bersifat hidrofobik (tidak menarik air)
dan pinggirannya bersifat hidrofolik. (Ardi, 2015).

d. Lactosa

Merupakan pengisi yang paling luas digunakan dalam formulasi


sediaan tablet. Bentuk hidrat biasanya digunakan dalam sistem granulasi
basah dan granulasi kering. Formula laktosa biasanya menunjukkan

13
kecepatan pelepasan zat aktif dengan baik, mudah dikeringkan dan tidak
peka terhadap variasi moderat dalam kekerasan tablet pada pengempaan.
Laktosa dapat memadatkan massa granul dalam granulasi basah atau
metode kempa langsung. Laktosa merupakan eksipien yang baik sekali
digunakan dalam tablet yang mengandung zat aktif berkonsentrasi kecil
karena mudah melakukan pencampuran yang homogen. Harga laktosa
lebih murah daripada banyak pengisi lainnya.

e. Aerosil

Aerosil merupakan silikon dioksida murni yang diketahui dalam


jumlah kecil dapat menyerap air yang cukup besar. Aerosil diperoleh
melalui penguapan silikon tetraklorida yang dioksidasi dengan nyala suhu
tinggi menggunakan H2 dan O2. Aerosil berupa serbuk dan memberikan
efek mengentalkan dan thixothropy dengan mendispersikannya ke dalam
bahan yang bersifat cair. Produk hidrofilik standar dibuat dari partikel
utama dengan ukuran 7 nm hingga 40 nm. Adapun kegunaan aerosil adalah
sebagi bahan pengalir untuk toner, makanan dan bidang farmasi sebagai
pengontrol, cat, mantel, lem, sealant, plastik, film, serat, keramik dan
pendukung katalisator. (Wikipedia, 2011).

14
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pembuatan granul efferfescent adalah timbangan


analitik, heather, mortir dan stamper, ayakan no.12, oven, loyang, toples, cawan,
beaker glass, gelas ukur, batang pengaduk, sendok tanduk, corong, jangka sorong.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan granul efferfescent adalah ekstrak


kental daun pepaya, asam sitrat, asam tartrat, natrium bikarbonat, talcum, laktosa,
aerosil

3.2 Formula yang dibuat :

Nama Bahan Fungsi % rentang %yang Jumlah tiap Jumlah


pemakaian dibuat sachet 13
25.000(mg) sachet(g)
Ekstrak kental Zat - 37,2 9309,6 121,0245
daun papaya Aktif
Asam sitrat Sumber - 4,8 1200 15,0
Asaam
Asam tartrat Sumber - 12,8 3200 41,6
Asam
Natrium Sumber 25-50% 20,086 5021,5 67,795
bikarbonat Basa
Talcum Pelicin 1-10% 0,8 200 2,6
Laktosa Pengisi - 4,27 1069 13,897
Aerosil Pelicin - 20 5000 5

15
3.3 Diagram Alir Proses Produksi

Ekstrak kental Ekstrak kental


daun papaya daun papaya
(Sebagian) (Sebagian)

Tambahkan Natrium Tambahkan Asam Sitrat


Bikarbonat dan Asam Tartrat

Tambahkan sebagian Tambahkan sebagian


lactose gerus ad lactose gerus ad homogen
homogen

Tambahkan sebagian Tambahkan sebagian


talcum gerus ad talcum gerus ad homogen
homogen

Ayak dengan ukuran Ayak dengan ukuran


mesh 12 mesh 12

Oven dengan suhu Oven dengan suhu


50-55˚ selama ±30 50-55˚ selama ±30
menit menit

Hasil Basa Hasil Asam

Dicampur jadi satu, diayak dengan ayakan ukuran mesh 20

Dioven hingga kering

Hasil

16
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. PENIMBANGAN BAHAN

NO NAMA BAHAN JUMLAH

1 Ekstrak kental daun papaya 121,024 g

2 Asam Sitrat 15,6 g

3 Asam Tartrat 41,6 g

4 Natrium Bikarbonat 67,795 g

5 Talkum 2,6 g

6 Laktosa 13,897 g

7 Aerosil 5g

4.2. EKSTRAKSI

Pelarut yang digunakan : Etanol 70%

Jumlah pelarut yang digunakan : 10 liter

Alasan pemilihan pelarut : 1. Sesuai dengan prinsip like dissolve


like

2. Inert

3. Ekonomis

4. Mudah dicari

Lama ekstraksi : 5 hari

Diagram alir proses ekstraksi :

17
1 kg simplisia daun pepaya

Direndam dengan pelarut etanol 70% sebanak 6 liter

Dimaserasi selama 3 hari

Disaring, ampas diekstrak lagi dengan pelarut sebanyak 4 liter

Dimaserasi selama 2 hari

Disaring

Filtrat 1 dan 2 digabung, dipekatkan

4.3. GRANULASI

4.3.1. Pembuatan Masa Granul

Alat : Mortir, stamper, beaker glass, kaca arloji,


sudip

Lama granulasi : ± 30 menit

Posedur :

4.3.1.1. Pembuatan granul bagian asam

18
 Masukkan 60,512 g ekstrak kental daun papaya
dalam mortir
 Masukkan 15,6 g asam sitrat, 41,6 g asam tartrat
yang sudah dicampur sampai homogen kedalam
mortir
 Masukkan laktosa 6,948 g aduk sampai homogen
 Masukkan talcum 1,3 g aduk sampai homogen /
kalis
 Bentuk menjadi bulatan

4.3.1.2. Pembuatan granul bagian basa

 Masukkan 60,512 g ekstrak kental daun papaya


dalam mortir
 Masukkan 67,795 g natrium bikarbonat sedikit
demi sedikit aduk sampai homogen
 Masukkan 6,948 g laktosa aduk sampai homogen
 Masukkan 1,3 g talcum aduk hingga homogen dan
kalis
 Bentuk menjadi bulatan
4.3.2. Pengayakan masa granul
Alat : Ayakan, loyang
Ukuran ayakan : mesh 12
Prosedur :
 Siapkan ayakan mesh 12 dan Loyang untuk
menampung hasil ayakan
 Ambil satu kepal masa ganul lalu ayak dengan cara
menekan masa granul pada ayakan sampai keluar
melalui lubang ayakan, gunakan bantuan sudip

19
untuk menjatuhkan granul yang melekat pada
ayakan ke Loyang
 Masa granul yang lolos ayakan siap dioven

4.4. PENGERINGAN

Alat : Oven

Suhu : 45˚- 55˚

Lama pengeringan : ± 60 menit

Berat Awal Proses Berat Akhir Proses TTD


Pengeringan Pengeringan
172 g 164 g 1.
2.
4.5. PENGAYAKAN GRANUL KERING

Alat : Ayakan, loyang

Ukuran Ayakan : 20 mesh

4.6. EVALUASI GRANUL

4.6.1. Bobot Jenis

BJ Nyata

Hasil pengamatan

No. Replikasi W(g) V(ml) Bobot jenis


(g/ml)
1. 23,17 40 0,5793

𝑊 23,17
Perhitungan :B= = = 0,5793 g/ml
𝑉 40

20
Kesimpulan : Dari hasil pengamatan bobot jenis nyata diperoleh hasil
sebesar 0,5793 g/ml dengan berat serbuk 23,17 g ang dituang
bebas ke dalam gelas ukur 100ml.

BJ Mampat

Hasil pengamatan

Interval Volume(ml)
pengetukan
1 2 3
10 40
20 39
30 38
40 38
50 38
𝑤 23,17
Perhitungan :T= = = 0,6097 g/ml
𝑣1 38

Kesimpulan : Dari hasil pengamatan bobot jenis mampat diperoleh hasil


volume tetap sebesar 38 ml yang dilakukan sebanyak 5 kali
interval pengetukan dan bobot mampatnya diperoleh hasil
sebesar 0,6097 g/ml.

Porositas

𝑣𝑝 38
Perhitungan : 1- x 100% = 1- 40
x 100% = 1- 0,95 x 100% = 5%
𝑣𝑔

Syarat : 37-40 %

Kesimpulan : Granul effervescent ekstrak daun papaya memiliki porositas


yang jelek karena jauh dari nilai persyaratan.

21
Pembahasan : Porositas adalah nilai persentase yang menyatakan rongga
kosong antar partikel. Peningkatan nilai porositas akan
meningkatkan laju disolusi dan menurunkan waktu disentegrasi
(Ennis, 2005). Apabila porositasnya rendah maka waktu
melarutnya akan lambat. Sebaliknya apabila porositasnya
tinggi waktu melarutnya akan cepat.

Kompresibilitas

(𝐵𝐽 𝑀𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡−𝐵𝐽 𝑁𝑦𝑎𝑡𝑎) (0,697−0,5793)


Perhitungan : x 100% = x 100% =
𝐵𝐽 𝑀𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡 0,6097

4,9861 %

Syarat : 12-16 (baik) Wells et al (1998)

Kesimpulan : Granul effervescent ekstrak daun papaya memiliki


persentase kompressibilitas yang jelek karena jauh dari
persyaratan

Pembahasan : Uji ini bertujuan untuk mengetahui perilaku granul


selama diberi tekanan. Persentase kompresibilitas
merupakan cara lain untuk mengukur sifat alir granul.
Apabila nilai kompresibilitasnya jelek maka sifat
alirnya akan jelek. Sebaliknya apabila nilai
kompressibilitas baik maka aliran granul akan baik.

Indeks pemampatan

(𝐵𝐽 𝑀𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡−𝐵𝐽 𝑁𝑦𝑎𝑡𝑎) (0,697−0,5793)


Perhitungan : x 100% = x 100% =
𝐵𝐽 𝑀𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡 0,6097

4,9861 %

Syarat : < 20 %

22
Kesimpulan : Granul effervescent ekstrak daun papaya memiliki nilai
indeks pemampatan yang terlalu rendah dari persyaratan

Pembahasan : Indeks pemampatan bergantung pada penurunan granul/


serbuk akibat getaran /keretakan. Semakin kecil harga %
indeks pemampatan maka semakin baik sifat alirnya.

Kadar Kelembaban

Perhitungan : 2,95

Syarat : 3-5 %

Kesimpulan : Granul effervescent ekstrak daun papaya memiliki


persentase kelembaban yang rendah karena tidak sesuai
dengan persyaratan.

Pembahasan : Uji kandungan lembab dilakukan untuk mengetahui


kandungan lembab dari granul effervescent. Kandungan
lembab pada granul dapat mempengaruhi sifat alir dan
stabilitas granul selama penyimpanan. Kandungan
lembab granul yang terlalu tinggi akan menyebabkan
terjadinya reaksi effervescent yang premature sehingga
granul menjadi tidak stabil. Kandungan lembab granul
yang terlalu rendah dapat menyebabkan granul mudah
rapuh. Kandungan lembab granul yang trelalu tinggi
menyebabkan granul sulit mengalir dan tidak stabil
selama penyimpanan (Voight, 1994)

4.6.2. Kecepatan Alir dan Sudut Istirahat

Pembahasan : Pada uji ini tidak dilakukan karena granul effervescent


ekstrak daun papaya tidak bisa mengalir. Sebenarnya

23
kecepatan alir atau uji sifat alir pada granul dipengaruhi oleh
beberapa factor diantaranya adalah porositas, kandungan
lembab, dan kondisi percobaan. Penyebab dari tidak
mengalirnya granul adalah kemungkinan karena kondisi
percobaan yang dapat mempengaruhi sifat alir yaitu diameter
lubang alat uji,besar/luas hopper dan sudut dinding hopper.
Penyebab lain yaitu karena granul yang mudah menyerap udara
yang menjadikan granul lembab sehingga tidak bisa mengalir..

4.6.3. Waktu Melarut

Perhitungan : 4 menit 23 detik

Syarat : < 5 menit

Kesimpulan : Granul effervescent ekstrak daun papaya memuliki waktu


larut yang memenuhi syarat

Pembahasan : Uji ini dilakukan dengan melarutkan granul pada air yang
akan menimbulkan reaksi asam dan basa yang kemudian
menghasilkan CO2 dan menyebabkan larutnya granul
effervescent. Pengujian ini dilakukan dengan cara melarutkan
5 g dengan 200ml air kemudian dihitung waktu larutnya
menggunakan stopwatch. Dari hasil yang diperoleh granul
larut dalam 4 menit 23 detik. Akan tetapi penampakan
fisiknya berwarna keruh. Seharusya effervescent yang baik
adalah apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan
yang transparan. Hal ini terjadi kemungkinan karena
terbawanya residu simplisia daun papaya pada saat
penyaringan.

24
BAB V

Penutup

5.1. Kesimpulan

Pada praktikum pembuatan serbuk effervescent ekstrak daun papaya


kali ini, dapat disimpulan bahwa serbuk effervescent yang kami buat tidak layak
untuk dikonsumsi dan tidak layak dijual dipasaran. Hal ini karena terdapat beberapa
uji mutu fisik yang tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

5.2. Saran

Saran yang dapat disampaikan pada praktikum ini adalah bimbingan


dari dosen pembimbing praktikum sangat diperlukan. Dan juga perbekalan materi
sebelum praktikum sangatlah penting agar praktikan mengerti apa yang harus
dilakukan serta untuk menunjang keberhasilan praktikum agar berjalan dengan
lancar.

25
Daftar Pustaka

Allen, L., V., 2002, The Art, Sience, and Technology og Pharmaceutical
Compounding, Second Edition, 301, American Pharmaceutical
Association, Washington, D. C.

Ansel, H.C.,2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Ibrahim,


F., Edisi IV, 605-619, Jakarta, UI Press.

Ardi, M. (2015, September Selasa). Magnesium Silikat Sebagai Adsorben. Retrieved


Februari Jumat, 2016

Ditjen POM (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III, Jakarta : Departemen Kesehatan
RI.

Ennis, B.J. 2005. Theory Of Granulation : an Engineering Perspektive in Parikh,


D.M., (ed). Handbook of Pharmaceutical Granulation Tecnology.
Taylor & Francis. Singapore. 9, 44, 55

Lachman,1994, Teori dan Praktik Farmasi Industri Edisi II, Universitas Indonesia:
Jakarta

Sulaiman, T.N.S., 2007, Teknologi & Formulasi Sediaan Tablet, Pustaka


Laboratorium Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta. 56 – 59, 198 – 215.

Voight, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi ke-5, 10-11, 165-
167,172, 177, 199-202, 219-224, 579-580, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.

26
LAMPIRAN

 Perhitungan
37,2384
1. Ekstrak kental daun papaya = 𝑥 25000 𝑚𝑔 = 9309,6 𝑚𝑔
100

4,8
2. Asam Sitrat = 100 𝑥 25000 𝑚𝑔 = 1200 𝑚𝑔

12,8
3. Asam Tartrat = 𝑥 25000 𝑚𝑔 = 3200 𝑚𝑔
100

20,086
4. Natrium Bikarbonat = 𝑥 25000 𝑚𝑔 = 5021,5 𝑚𝑔
100

0,8
5. Talkum = 100 𝑥 25000 𝑚𝑔 = 200 𝑚𝑔

4,276
5. Laktosa = 𝑥 25000 𝑚𝑔 = 1069 𝑚𝑔
100

20
6. Aerosil = 100 𝑥 25000 𝑚𝑔 = 5000 𝑚𝑔

 Kesetimbangan Asam Basa

1200 𝑥
1. Asam sitrat = =
210,13 84,01 𝑥 3

1200 𝑥
= 210,13 = 252,03

X = 1439,28

3200 𝑥
2. Asam Tartrat = 150,09 = 84,01 𝑥 2

3200 𝑥
= 150,09 = 168,02

X = 3582,27

1439,28
3582,27
3. Natrium bikarbonat = +
5021,55

27
 Brosur

PAPASARI
Komposisi :
 Ekstrak daun papaya 9309,6 mg
 Asam Sitrat 1200 mg
 Asam Tartrat 3200 mg
 Natrium Bikarbonat 5021,6 mg
 Talkum 200 mg
 Laktosa 1069 mg
 Aerosil 5000 mg
Indikasi :
Digunakan sebagai obat analgesic atau antinyeri
Dosis/ anjuran pemakaian :
9 sachet serbuk effervescent perhari ( 1x minum 3 sachet pagi,siang,
malam)
Cara penggunaan :
Larutkan serbuk effervescent kedalam segelas air untuk memperoleh
minuman effercescent dengan rasa daun papaya alami. Sebaiknya segera
diminum setelah dilarutkan

Kontraindikasi :
Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui pada dosis tertentu

Peringatan :
Hati- hati pada ibu hamil dan menyusui
Efek samping :
Daun papaya pada dosis tinggi dapat menyebabkan iritasi lambung

Penyimpanan :
Simpan ditempat yang kering, jauhkan dari sinar matahari langsung.

No. reg : DBL 17222 11111 A1


No. batch : Q 0 8 3 5 4

Diproduksi oleh:
PT Sehat Pharma
Kediri- Indonesia

28