Anda di halaman 1dari 24

F5 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan

Tidak Menular

Pengobatan dan Pemberian Edukasi pada Keluarga


Penderita Skabies

Untuk memenuhi sebagian syarat mengikuti


Program Internsip Dokter Indonesia

Diajukan kepada:
dr. Sandra

Disusun oleh:
Dokter Internsip Puskesmas Lubuk Buaya

KEMENTERIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2017

1
F5 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan
Tidak Menular

Tanda tangan :
1.dr. Hannie Qalbina Syaiful 1.
2. dr. Azila Balqis 2.
3. dr. Risa Artelia 3.
4. dr. Astria Rima Rara Yuswir 4.
Nama Peserta
5. dr. Ratih Praseti 5.
6. dr. M. Yoga 6.
7. dr. Fajar Tri Decroli 7.
8.dr. Mikail Nadjmir 8.
Nama
Pendamping : dr. Sandra Tanda tangan :

Nama Wahana : Puskesmas Lubuk Buaya


: Pengobatan dan Pemberian Edukasi pada Keluarga Penderita
Tema
Skabies

1. Memberikan pengetahuan tentang pengertian, penyebab, tanda dan


gejala dan faktor resiko.
Tujuan 2. Memberikan pengobatan secara komprehensif
3. Mengajak anggota keluarga untuk ikut berobat karena sangat rentan
untuk tertular.

Hari/Tanggal :

Waktu : Pukul

Tempat : Aula Puskesmas Lubuk Buaya

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Skabies adalah infestasi kulit manusia disebabkan oleh penetrasi parasit
tungau Sarcoptes scabiei var. hominis ke dalam epidermis. Skabies adalah masalah
seluruh dunia dan segala usia, ras dan kelompok sosial ekonomi yang rentan.
Di Indonesia skabies lebih dikenal dengan nama gudik, kudis, buduk, kerak,
penyakit ampere, dan gatal agogo. Faktor lingkungan mempercepat penyebaran
meliputi kepadatan penduduk, pengobatan yang terlambat kasus primer, dan
kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi tersebut. Insiden yang lebih tinggi
terjadi pada daerah dengan kepadatan penduduk, sering berhubungan dengan bencana
alam, perang, depresi ekonomi dan tempat pengungsian. Skabies dapat ditularkan
langsung melalui kontak pribadi yang dekat, seksual atau lainnya, atau tidak langsung
melalui transmisi melalui benda-benda. Prevalensi lebih tinggi pada anak dan pada
orang yang aktif secara seksual. Pada umumnya infestasi penyebarannya terjadi
antara anggota keluarga dan orang yang dekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang
terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup
beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang
telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3
milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai
mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan
lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva
yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi
dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2
bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari
telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.

Kelainan kulit yang menyerupai dermatitis tersebut sering terjadi lebih luas
dibandingkan lokasi tungau dengan efloresensi dapat berupa papul, nodul, vesikel,

3
urtika dan lainnya. Akibat garukan yang dilakukan oleh pasien dapat timbul erosi,
ekskoriasi, krusta hingga terjadinya infeksi sekunder.

Cara penularan skabies:(1)


1. Kontak langsung (Kulit dengan kulit, tidur bersama dan hubungan seksual).
2. Kontak tidak langsung (melalui benda misalnya pakaian handuk, sprei,
bantal dan lain - lain)
Penulis menemukan kasus sebanyak 33 kasus skabies dalam kurun waktu satu
bulan sejak penulis menjalankan tugas sebagai dokter di poli pengobatan umum.
Penulis pun tergerak untuk melakukan intervensi terhadap temuan ini, yang pula
terdapat kasus kambuhan. Intervensi yang dilakukan sebagai sebuah tahap awal
penerapan program kesehatan pemerintah, yakni kesehatan lingkungan. Sehubungan
dengan cara pengobatan yang sederhana dan efisien, serta memungkinkan untuk
dilakukan secara serentak sangat disayangkan bila penderita tidak tertangani dan
mengalami akibat yang begitu luas, seperti insomnia berkepanjangan, penurunan
prestasi, dan kualitas hidup. Maka, alangkah baiknya sebagai tenaga kesehatan
mampu mengeradikasi skabies.
Untuk mengobati skabies perlu diberika penjelasan kepada pasien dan
keluarganya bahwa penyakit skabies mudah sekali menular, sehingga semua individu
yang berkontak /serumah harus diobati walaupun gejala belum ada.

1.2 RUMUSAN MASALAH


I. Ditemukan kasus kejadian Skabies di Puskesmas Lubuk Buaya
II. Akibat yang ditimbulkan oleh skabies berdampak luas, seperti insomnia
berkepanjangan, penurunan prestasi, dan kualitas hidup.
III. Sebagai tahap awal penerapan program pemerintah yakni PHBS
( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ).

I.3 TUJUAN & SASARAN

4
II. Mengeradikasi skabies/gudik di wilayah kerja Puskesmas Skabies yang
merupakan penyakit sederhana dan efisien, serta memungkinkan untuk
dilakukan secara serentak.
III. Meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusia yang potensial.
IV. Mencegah munculnya akibat yang berpotensi menimbulkan gangguan
yang cukup serius.

BAB II

5
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum

Menurut Juanda, Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh


infestasi dan sensitisasi kulit terhadap Sarcoptes scabiei dan produknya. Parasit ini
menggali paritparit di dalam epidermis sehingga menimbulkan gata-gatal dan
merusak kulit penderita. Menurut Wahidayat, skabies adalah penyakit kulit yang
mudah menular dan ditimbulkan oleh infestasi kutu Sarcoptes scabiei var homini
yang membuat terowongan pada stratum korneum kulit, terutama pada tempat
predileksi.
Sarcoptes scabiei adalah parasit yang termasuk dalam filum artropoda
(serangga). Secara morfologi, merupakan tungau kecil berbentuk oval, punggungnya
cembung dan bagian perutnya rata. Berwarna putih kotor, ukuran yang betina berkisar
330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240
mikron x 150-200 mikron.
Siklus hidup tungau ini adalah sebagai berikut, setelah kopulasi yang terjadi
di atas kulit, tungau jantan akan mati. Tungau betina yang telah dibuahi akan
menggali terowongan dalam stratum korneum dengan kecepatan 2-3 milimeter
perhari dan meletakkan telurnya 2-4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40-50 butir
telur. Telur akan menetas biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva. Larva ini
dapat tinggal, tetapi dapat juga keluar. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur
sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.
Skabies umumnya menyerang bagian lipatan tubuh. Gejala gatal-gatal,
menyerang pada bagian kulit di malam hari. Penyakit skabies, disebabkan faktor
kebersihan yang kurang dipelihara secara baik. Alat tidur berupa kasur, sprei, bantal,
tempat tidur dan kondisi kamar yang pengab, dapat memicu terjadinya gatal-gatal.
Penyakit gatal-gatal ini mudah menyerang siapapun yang jarang mandi. Karena itu,
jika ingin menghindar dari serangan penyakit gatal-gatal, maka harus menjaga
kebersihan. Bahkan skabies dapat menjangkit siapa saja yang bersentuhan tubuh
dengan penderita.

6
2.2 FAKTOR PREDISPOSISI

Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain sosial
ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan, perkembangan demografis serta ekologis. Penyakit skabies disebut juga
penyakit masyarakat karena mudah menular dan sangat cepat perkembangannya,
terutama di tempat yang padat penduduk.
Kelainan kulit ini tidak hanya dapat disebabkan oleh tungau skabies, tetapi juga
oleh garukan penderita sendiri. Gatal yang terjadi di sebabkan oleh sensitisasi
terhadap sekreta dan ekskreta tungau. Kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemukannya papula, vesikel, urtika, dll. Dengan garukan dapat timbul erosi,
ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.
Pasien dengan skabies mempunyai gejala yang sangat khas. Ini berbeda dengan
penyakit kulit yang lain. Gejala tersebut antara lain :
1. Proritus nocturna, yakni gatal pada malam hari. Ini terjadi karena aktivitas
tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas, dan pada saat
hospes dalam keadaan tenang atau tidak beraktivitas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok. Misalnya dalam sebuah
keluarga, biasanya seluruh anggota keluarga dapat terkena infeksi. Begitu pula
dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, misalnya asrama,
pesantren dan penjara.
3. Adanya lesi yang khas, berupa terowongan (kurnikulus) pada tempat-tempat
predileksi; berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau
berkelok-kelok, rata-rata panjang 1cm. pada ujung terowongan ditemukan papul
dan vesikel. Tempat predileksinya adalah kulit dengan stratum korneum yang
tipis yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipatan
ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genetalia
eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat mengenai telapak
tangan dan kaki.
4. Ditemukannya tungau merupakan penentu utama diagnosis.

7
Diagnosis penyakit skabies dapat dibuat jika ditemukan 2 dari 4 tanda
kardinal di atas.

2.3 EPIDEMIOLOGI SKABIES

Skabies merupakan penyakit kulit yang endemis di wilayah beriklim tropis dan
subtropics, seperti Afrika, Amerika selatan, Karibia, Australia tengah dan selatan, dan
Asia. Prevalensi skabies pada anak berusia 6 tahun di daerah kumuh di Bangladesh
adalah 23-29% dan di Kamboja 43%. Studi di rumah kesejahteraan di Malaysia tahun
2010 menunjukkan prevalensi 30% dan di Timor Leste prevalensi skabies 17,3%.
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak
faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang
rendah, hygiene yang buruk dan perkembangan demografik serta ekologik. Penyakit
skabies dapat terjadi pada satu keluarga, tetangga yang berdekatan, bahkan dapat
terjadi di seluruh kampung.
Skabies sering diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga prioritas
penanganannya rendah, namun sebenarnya skabies kronis dan berat dapat
menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Skabies menimbulkan ketidaknyamanan
karena menimbulkan lesi yang sangat gatal. Akibatnya, penderita sering menggaruk
dan mengakibatkan infeksi sekunder terutama oleh bakteri Group A Streptococci
(GAS) serta Staphylococcus aureus. Komplikasi akibat infestasi sekunder GAS dan
S. aureus sering terdapat pada anak-anak di negara berkembang.
Penyebab dan proses terjadinya penyakit skabies berkembang dari rantai sebab
akibat ke suatu proses kejadian penyakit, yakni proses interaksi antara manusia
(pejamu) dengan berbagai sifatnya (biologis, fisiologis, psikologis, sosiologis dan
antropologis) dengan penyebab (agent) serta dengan lingkungan (environment).
Faktor yang berperan pada tingginya prevalensi skabies di negara berkembang
terkait dengan kemiskinan yang diasosiasikan dengan rendahnya tingkat kebersihan,
akses air yang sulit, dan kepadatan hunian. Tingginya kepadatan hunian dan interaksi

8
atau kontak fisik antar individu memudahkan transmisi dan infestasi tungau skabies.
Oleh karena itu, prevalensi skabies yang tinggi umumnya ditemukan di lingkungan
dengan kepadatan penghuni dan kontak interpersonal tinggi seperti penjara, panti
asuhan, dan pondok pesantren.
Pengobatan skabies, mudah dilakukan dengan cure rate yang tinggi, namun jika
tidak secara masal dan serentak, maka rekurensi segera terjadi. Dengan demikian,
pengobatan skabies harus diikuti dengan penyuluhan kesehatan supaya masyarakat
dapat mencegah rekurensi skabies. Agar penyuluhan kesehatan memberikan hasil
yang baik, penyuluhan harus disesuaikan dengan karakteristik demografi masyarakat
antara lain jenis kelamin dan pendidikan.

2.4 Penularan Skabies


Penularan penyakit skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung, adapun cara penularannya adalah:
1. Kontak langsung (kulit dengan kulit) Penularan skabies terutama melalui
kontak langsung seperti berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual.
Pada orang dewasa hubungan seksual merupakan hal tersering, sedangkan
pada anak-anak penularan didapat dari orang tua atau temannya.
2. Kontak tidak langsung (melalui benda) Penularan melalui kontak tidak
langsung, misalnya melalui perlengkapan tidur, pakaian atau handuk dahulu
dikatakan mempunyai peran kecil pada penularan. Namun demikian,
penelitian terakhir menunjukkan bahwa hal tersebut memegang peranan
penting dalam penularan skabies dan dinyatakan bahwa sumber penularan
utama adalah selimut. Skabies norwegia, merupakan sumber utama terjadinya
wabah skabies pada rumah sakit, panti jompo, pemondokkan/asrama dan
rumah sakit jiwa, karena banyak mengandung tungau (Handoko dkk, 2005).
2.5 Pengobatan Penyakit Skabies

9
Semua keluarga yang berkontak dengan penderita harus diobati termasuk
pasangan hidupnya. Beberapa obat yang dapat dapat dipakai pada pengobatan skabies
yaitu (Harahap, 2000).
1. Permetrin
Merupakan obat pilihan dalam bentuk salep untuk saat ini, tingkat keamanannya
cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak megiritasi kulit. Dapat digunakan di
kepala dan di leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara
dioleskan ditempat lesi kurang 8 jam kemudian dicuci bersih (Harahap, 2000).
2. Malation
Malation 0,5% dengan dasar air dalam bentuk salep digunakan selama 24 jam.
Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.
3. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %)
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering
terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
4. Sulfur
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10% secara umum aman dan efektif
digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini
digunakan pada malam hari selama 3 hari.
5. Monosulfiran
Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 2-3
hari.
6. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan)
Kadarnya 1% dari krim atau lotion, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap
semua stadium, mudah digunakan dan terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak
dibawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat.
Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian.

2.6 Teori HL Blum

10
Hendrik L Blum menggambarkan status kesehatan seseorang atau masyarakat
dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut : 3

Keempat faktor tersebut diatas saling berpengaruh positif satu dengan yang lain
dan tentu saja sangat berpengaruh terhadap status kesehatan seseorang. Status
kesehatan akan tercapai optimal apabila ke empat faktor tersebut positif
mempengaruhi secara optimal pula. Apabila salah satu faktor tidak optimal maka
status kesehatan akan bergeser ke arah dibawah optimal.
Berikut ini akan dijelaskan satu per satu keempat faktor tersebut sebagai
berikut:
1. Faktor Keturunan
Faktor ini lebih mengarah kepada kondisi individu yang berkaitan dengan
asal usul keluarga, ras dan jenis golongan darah. Beberapa penyakit tertentu
disebabkan oleh faktor keturunan antara lain : hemophilia, hipertensi, kelainan
bawaan, albino dll.
2. Faktor Pelayanan Kesehatan
Faktor ini dipengaruhi oleh seberapa jauh pelayanan kesehatan yang
diberikan. Hal ini berhubungan dengan tersedianya sarana dan prasarana institusi
kesehatan antara lain : Rumah Sakit, Puskesmas, Labkes, Balai Pengobatan, serta
tersedianya fasilitas pada institusi tersebut : tenaga kesehatan, obat-obatan, alat-

11
alat kesehatan yang kesemuanya tersedia dalam kondisi baik dan cukup dan siap
pakai.
3. Faktor Perilaku
Faktor perilaku berhubungan dengan perilaku individu atau masyarakat,
perilaku petugas kesehatan dan perilaku para pejabat pengelola negeri ini (Pusat
dan Daerah) serta perilaku pelaksana bisnis.
Perilaku individu atau masyarakat yang positif pada kehidupan sehari-hari
misalnya : membuang sampah / kotoran secara baik, minum air masak, saluran
limbah terpelihara, mandi setiap hari secara higienis dll.
Perilaku petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan yang baik antara
lain : ramah, cepat tanggap, disiplin tinggi, terapi yang tepat sesuai diagnosa,
tidak malpraktek pemberian obat yang rasional, dan bekerja dengan penuh
pengabdian.
Perilaku pemerintah Pusat dan Daerah dalam menyikapi suatu
permasalahan kesehatan masyarakat secara tanggap dan penuh kearifan
misalnya: cepat tanggap terhadap adanya penduduk yang gizinya buruk, adanya
wabah penyakit, serta menyediakan sarana dan prasarana kesehatan dan fasilitas
umum (jalan, parit, TPA, penyediaan air bersih, jalur hijau, pemukiman sehat)
yang didukung dengan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan
kesehatan dan lingkungan hidup dan menerapkan sanksi hukum yang tegas bagi
pelanggarnya.
4. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap status kesehatan,
terlihat dari diagram di atas dengan panah yang lebih besar dibanding faktor
lainnya.
Faktor Lingkungan terdiri dari 3 bagian besar :
a. Lingkungan Fisik
Terdiri dari benda mati yang dapat dilihat, diraba, dirasakan antara lain:
bangunan, jalan, jembatan, kendaraan, gunung, air, tanah. Benda mati yang
dapat dilihat dan dirasakan tapi tidak dapat diraba : api, asap, kabut dll. Benda

12
mati yang tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan :
udara, angin, gas, bau-bauan, bunyi-bunyian / suara dll.
b. Lingkungan Biologis
Terdiri dari makhluk hidup yang bergerak, baik yang dapat dilihat
maupun tidak : manusia, hewan, kehidupan akuatik, amoeba, virus, plankton.
Makhluk hidup tidak bergerak : tumbuhan, karang laut, bakteri dll.
c. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah bentuk lain selain fisik dan biologis di atas.
Lingkungan sosial tidak berbentuk secara nyata namun ada dalam kehidupan
di bumi ini. Lingkungan sosial terdiri dari sosio-ekonomi, sosio-budaya, adat
istiadat, agama/kepercayaan, organisasi kemasyarakatan dll. Melalui
lingkungan sosial manusia melakukan interaksi dalam bentuk pengelolaan
hubungan dengan alam dan buatannya melalui pengembangan perangkat nilai,
ideologi, sosial dan budaya sehingga dapat menentukan arah pembangunan
lingkungan yang selaras dan sesuai dengan daya dukung lingkungan yang
mana hal ini sering disebut dengan “etika lingkungan”

2.7 Perencanaan dan Pemilihan Intrvensi


Laporan ini disusun berdasarkan data dari pasien yang datang ke Poliklinik
Umum Puskesmas Perawatan Cipelang dengan keluhan adanya gatal hebat pada
malam hari. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita
menjadi gelisah, diderita oleh sekelompok orang disekitar lingkungannya, adanya
terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-
abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung
terowongan itu ditemukan papul atau vesikel.

BAB III

13
METODE
3.1 Metode intervensi
Metode yang digunakan dengan tahapan berikut :
1. Melakukan anamnesa
2. Melengkapi pemeriksaan fisik
3. Menyampaikan hasil pemeriksaan fisik
4. Menyampaikan hasil diagnosa, rencana terapi, dan edukasi mengenai
pengetahuan dasar mengenai penyakit, pencegahan dan pengendalian
penyakit.
5. Mengajak seluruh keluarga yang tinggal dalam satu rumah untuk ikut serta
dalam pengobatan.

BAB IV

14
HASIL

4.1 Gambaran Umum


Puskesmas Lubuk Buaya terletak di wilayah Kecamatan Koto Tangah tepatnya
di Jl. Adinegoro KM 15 Kelurahan Lubuk Buaya Kota Padang dengan wilayah kerja
meliputi 2 kelurahan yaitu Kelurahan Sriwidari dan Kelurahan Gunung Puyuh.
Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Cipelang adalah sebagai berikut :
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Karamat Kecamatan Gunung
Puyuh
 Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Karang Tengah Kecamatan
Gunung Puyuh
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Benteng Kecamatan
Warudoyong
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Gunung Parang dan Kelurahan
Selabatu Kecamatan Cikole.
Lokasi Puskesmas Cipelang yang strategis yaitu terletak di jalan raya utama
Kota Sukabumi serta dapat dengan mudah dilalui oleh kendaraan umum maupun
pribadi memudahkan masyarakat di wilayah kerja maupun di luar wilayah untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan.Mengingat lokasiPuskesmas Cipelang yang juga
berdekatan dengan perbatasan wilayah Kabupaten Sukabumi maka banyak pula
kunjungan pasien dari luar kota.

15
1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Jum’at, 8 Desember 2017
Waktu : Pukul 15.16 WIB
Tempat : Puskesmas Lubuk Buaya Padang
2. Subjektif
A. Keluhan utama
Gatal pada seluruh tubuh

B. Riwayat penyakit sekarang


Keluhan dialami pasien sejak seminggu sebelum berobat ke Puskesmas. Gatal
terutama dirasakan pada malam hari di daerah punggung kaki dan pergelangan
kaki. Demam disangkal.
Pasien tinggal di pesantren selama 2 tahun ini. Teman-teman pasien juga ada
yang mengalami keluhan yang serupa.

16
C. Riwayat penyakit dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Riwayat alergi
disangkal. Riwayat asma disangkal. Riwayat penggunaan obat-obatan
sebelumnya disangkal.
D. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat alergi disangkal. Riwayat asma disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status generalisata
Keadaan umum : baik
Kesadaran : komposmentis
Tanda vital
Nadi : 84 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
B. Status Dermatologis
Lokalisasi: di daerah punggung kaki dan pergelangan kaki bilateral. Tampak luka
terbuka et pedis digiti II dextra.
Efloresensi : papul multipel berukuran milier sewarna kulit sebagian
eritematosa, lokalisata. Terdapat pustul dengan tepi eritema, erosi dan ekskoriasi
yang ditutupi krusta merah kehitaman. Tampak ulkus dengan dasar luka kotor, pus
(+), eritema (+), skuama (+).

DIAGNOSIS
 Skabies et pedis bilateral
 Impetigo krustosa et pedis digiti II dextra

PENATALAKSANAAN
1. Topikal
o Permetrin krim 5%, dioles pada kulit sebelum tidur (diaplikasikan selama 8-
14 jam) dan mandi pada pagi harinya dan di ulang 1 minggu kemudian.
o Gentamicin 5% salf, dioles tipis pada luka terbuka setiap 8 jam sehabis mandi.
2. Oral

17
CTM tab 4 mg/ 12 jam
3. Edukasi
Untuk mengobati skabies perlu diberika penjelasan kepada pasien dan
keluarganya bahwa penyakit skabies mudah sekali menular, sehingga semua
individu yang berkontak /serumah harus diobati walaupun gejala belum ada.
Obat topikal sebaiknya diberikan setelah mandi karena hidrasi kulit. Pakaian,
sprei, handuk dan alat tidur lain hendaknya dicuci dengan air panas.
Edukasi pada pasien skabies :
1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada
malam hari sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan
bila perlu direndam dengan air panas.
5. Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu
walaupun rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.
6. Setiap anggota keluarga serumah dan semua yang kontak dengan pasien
sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan.

4.2 Analisis Masalah dengan Data

1. Ditemukannya angka cakupan pelayanan kesehatan anak SD, remaja, dan usia
lanjut yang masih rendah.
2. Ditemukannya belum tercapai cakupan PromKes PHBS di pesantren, dan
3. Ditemukannya cakupan pembinaan institusi oleh tenaga kesehatan yang masih
rendah.
4.3 Diagnosis Komunitas & Faktor Terkait
- Skabies pada Lingkungan masyarakat.
- Merupakan Pondokan yang padat siswa MTs dan MA, yang tinggal dan tidur
bersama-sama.
- Lingkungan tempat tinggal yang berdekatan, masih sangat mendukung untuk
penyebaran skabies, misal luas kamar tidak sesuai jumlah penghuni.

18
- Penggunaan alat mandi, pakaian, alas tidur, dll secara bersama-sama

BAB V
DISKUSI
5.1 Solusi Penatalaksanaan
A. Gerakan bersih Pondok bersama-sama:
- Membersihkan/mengebas alas tidur, kamar, dan tempat tidur.
- Merendam pakaian dengan air panas sekali sebulan.
B. Melakukan gerakan mandi dengan sabun sulfur.
C. Membagikan salep Skabisid 6 bulan sekali untuk seluruh warga Pondok.
D. Penempelan poster tentang gejala dan cara membasmi Skabies di Pondokan
dan Sekolah-sekolah.
E. Penyuluhan ke kelas-kelas tiap 6 bulan sekali.
F. Segera melapor dan memeriksakan diri bagi warga yang memiliki gejala
skabies.

19
G. Gerakan Aktif Penjaga Persaudaraan: dibentuk kesadaran bahwa kesehatan
pribadi adalah kesehatan bersama, jadi mengajak untuk saling
memperhatikan teman yang merupakan saudara di rumah maupun sekolah.
5.2 Solusi yang Mungkin Dilaksanakan
1. Gerakan Bersih Lingkungan.
2. Penyuluhan ke kelas-kelas tiap 6 bulan sekali.
3. Penempelan poster tentang gejala dan cara membasmi Skabies di Pondokan
dan Sekolah-sekolah
4. Segera melapor dan memeriksakan diri bagi warga pondok yang mengalami
gejala skabies.
5. Gerakan Aktif Penjaga Persaudaraan

5.3 Monitoring
Untuk menilai apakah masyarakat memahami intervensi yang diberikan maka
perlu adanya monitoring. Selain itu monitoring juga diperlukan untuk mengetahui
apakah masyarakat menerapkan apa yang sudah diberikan dalam kegiatan sehari-
harinya. Monitoring dapat dilakukan dengan meminta pasien dan keluarga untuk
saling mengingatkan dan saling bekerjasama untuk sama-sama mengobati
penyakitnya.
5.4 Evaluasi
Secara keseluruhan, intervensi yang diberikan berjalan cukup baik.

20
BAB VI
KESIMPULAN
Dari analisa dengan H.L Blum dapat diambil kesimpulan tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya skabies adalah sebagai berikut:
1. Perilaku kesehatan yang kurang baik, lingkungan, dan pelayanan
kesehatan.
2. Kepadatan hunian sangat berpengaruh terhadap jumlah bakteri penyebab
penyakit menular. Selain itu kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara
didalam rumah.
3. Personal hygiene menjadi penting karena personal hygiene yang baik akan
meminimalkan pintu masuk (port de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana
dan pada akhirnya mencegah seseorang terkena penyakit. Untuk selalu memelihara
kebersihan kulit kebiasaan-kebiasaan yang sehat.

21
4. Berdasarkan kasus ini pelayanan kesehatan berpengaruh dalam angka
kejadian skabies. Kurangnya penyuluhan atau pemberian informasi tentang skabies
membuat angka kejadian skabies menjadi tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Handoko RP, Djuanda A, Hamzah M. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed 4.


Jakarta: FKUI; 2005. 119-22
2. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. Ed.1. Jakarta: Hipokrates; 2000. 109-13
3. Blum, HL., Planning of Health; Development Application of Social Change
Theory, New York, 1972
4.

22
Komentar/Feed Back

Lubuk Buaya, Desember 2017


Mengetahui,
Pendamping Dokter Internsip

dr. Tri Betawihanta


NIP 198111152010011007

23
24

Anda mungkin juga menyukai