Anda di halaman 1dari 11

PENGUKURAN TEKANAN DARAH

A. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan yang dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Memahami cara pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter digital dan
manual

2. Menentukan tekanan darah pasien

3. Membedakan prosedur pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter digital dan


manual

B. Landasan Teori

Darah itu sangat penting artinya bagi tubuh Anda. Agar kita dapat hidup dan terus hidup
dengan nyaman, darah harus terus mengalir tanpa henti ke semua bagian-bagian tubuh kita.
Untuk itu, Tuhan telah menciptakan bagi tubuh kita apa yang disebut dengan sistem
peredaran darah. Pusat dari sistem peredaran darah ini adalah sebuah “pompa ganda” yang
terbuat dari seonggok daging berongga seukuran kepalan tangan kita, dengan berat lebih
kurang 300 gram. Kita menyebutnya dengan jantung dan orang Yunani menye-butnya kardia.
Jantung atau kardia inilah yang memompa darah melalui “pipa-pipa” beragam ukuran
diameter dan panjangnya yang disebut pembuluh darah atau vaskular. Maka, para dokter
menyebut sistem peredaran darah dengan sebutan sistem kardiovaskular.
Pembuluh darah atau “pipa-pipa” ini secara keseluruhan sangat panjang – jika disambung-
sambung panjangnya mencapai 100 ribu kilometer atau dua setengah kali keliling bumi.
Secara otomatis “pipa-pipa” ini juga dapat menguncup dan mengembang mengikuti irama
pompa dari jantung.
Darah yang membawa oksigen dan nutrisi serta sampah/
limbah dapat mengalir atau beredar ke seluruh bagian-
bagian tubuh karena adanya tekanan yang menggerakkan.
Tekanan itu berasal dari kerja pompa jantung. Setiap
kali jantung menekan (berkontraksi), darah terdorong
mengalir menyusuri pembuluh-pembuluh darah. Pada saat
itu juga tekanan (kontraksi) tadi menekan pula dinding
pembuluh darah. Tekanan dalam pembuluh darah pada
saat jantung berkontraksi disebut tekanan darah
sistolik. Tekanan pada dinding pembuluh darah menurun
sampai pada batas tertentu pada saat jantung
mengendur (rileks). Tekanan dalam pembuluh darah pada
saat jantung rileks disebut tekanan darah diastolik.

Jadi, yang dimaksud dengan tekanan darah adalah


tekanan yang terdapat dalam pembuluh darah. Besarnya
tekanan itu diukur dengan seberapa kuat ia dapat menekan naik air raksa (Hg) yang ada
dalam tabung pengukur tekanan darah. Oleh karena itu satuan tekanan darah adalah mmHg,
yaitu berapa milimeter air raksa (Hg) dalam tabung pengukur tekanan darah dapat ditekan
naik.

Tekanan itu sangat penting artinya, sebab dialah yang menyebabkan darah dapat mengalir
sampai di seluruh bagian-bagian tubuh dalam jumlah yang cukup dan waktu yang tepat.
Kekuatan jantung memompa harus diimbangi dengan menguncup dan mengembangnya pipa-
pipa pembuluh darah. Jika pembuluh darah mengalami gangguan, misalnya mengalami
pengerasan atau penyumbatan, maka jantung harus memompa lebih kuat lagi. Hal ini tentu
akan memperberat kerja jantung.

Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan alat yang disebut sphygmomanometer. Mula-mula
dipasang manset (sabuk) di lengan atas orang yang hendak diukur tekanan darahnya, tepat di
atas lipatan siku. Sambil mendengarkan denyut nadi menggunakan stetoskop, tekanan di dalam
manset dinaikkan dengan cara memompa pompa karet sampai denyut
nadi tidak terdengar. Setelah itu, perlahan-lahan tekanan dalam
manset diturunkan, dengan cara mengendurkan (membuka) kran
penutup udara pada pompa secara perlahan-lahan. Air raksa dalam
sphygmomanometer pun perlahan-lahan turun. Pada saat denyut nadi
terdengar lagi, tinggi air raksa dalam sphygmomanometer
menunjukkan tekanan darah sistolik. Pengenduran (pembukaan) kran
dilanjutkan, sehingga tekanan dalam manset terus turun, dan air
raksa dalam sphygmomanometer pun terus turun. Pada saat itu,
denyut nadi akan terdengar lebih jelas, untuk kemudian melemah
dan melemah, sampai akhirnya tidak terdengar. Ketika denyut nadi
melemah, tinggi air raksa dalam sphygmomanometer menunjukkan tekanan darah diastolik.
Pengukuran tekanan darah dengan sphygmomanometer sampai saat ini dianggap cara yang paling
baik, karena ketepatannya (akurasinya). Oleh karena itu hasil pengukuran dengan
sphygmomanometer digunakan sebagai standar dalam memastikan ketepatan (akurasi) alat
pengukur lain. Namun demikian, pengukuran tekanan darah dengan sphygmomanometer memang
tidak mudah.

Ha-hal yang perlu diperhatikan :


Beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan pengukuran tekanan darah, yaitu bahwa
hasil pengukuran tekanan darah bisa “tidak benar” akibat minum kopi atau minuman beralkohol
akan meningkatkan tekanan darah dari nilai sebenarnya. Demikian juga merokok, rasa cemas
(tegang), terkejut, dan stress. Ingin kencing, karena kandung kemih penuh, juga dapat
meningkatkan tekanan darah. Oleh karena itu, sebelum melakukan pengukuran tekanan darah,
sebaiknya:

a. Buang air kecil terlebih dahulu (kosongkan kandung kemih).

b. Tidak minum kopi atau minuman beralkohol, dan tidak merokok.

c. Sebaiknya tenangkan pikiran dan perasaan, misalnya dengan duduk santai selama lebih kurang
lima menit. Duduklah dengan menapakkan kaki di lantai atau di injakan kaki dan sandarkan
punggung. Injakan kaki dan sandaran punggung akan membantu untuk rileks dan memberikan
hasil pengukuran tekanan darah yang lebih akurat.
Agar pengukuran tekanan darah yang dilakukan hasilnya valid, maka harus diperhatikan validitas
alat pengukuran tekanan darah, terutama alat pengukur tekanan darah di Rumah (ATDR).

Klasifikasi
Tekanan Darah

Tekanan Darah Klasifikasi Tekanan Darah


< 120/< 80 mmHg Normal
120 – 139/80 – 90 mmHg Prehipertensi
140 – 150/90 – 99 mmHg Hipertensi Derajat 1
> 160/ >100 mmHg Hipertensi Derajat 2
> 140 / < 90 mmHg Hipertensi Sistolik Terisolasi

C. Alat dan Bahan:

Alat dan Bahan yang dibutuhkan pada praktikum ini adalah :

No Nama Alat dan Bahan Spesifikasi Keterangan

1 Tensimeter Manual (air raksa) 1 buah

2 Tensimeter Digital 1 buah

3 Stetoskop 1 buah

4 Jam Tangan 1 buah

5 Kertas 5 Lembar

6 Mancet Besar 1 buah

D. Prosedur Pengukuran Tekanan Darah

1. Cara Pengukuran menggunakan Tensi Meter Digital:

1). Tekan tombol “START/STOP” untuk mengaktifkan alat.

2). Sebelum melakukan pengukuran tekanan darah, responden sebaiknya menghindar


kegiatan aktivitas fisik seperti olah raga, merokok, dan makan, minimal 30 menit
sebelum pengukuran. Dan juga duduk beristirahat setidaknya 5- 15 menit sebelum
pengukuran.
3). Hindari melakukan pengukuran dalam kondisi stres. Pengukuran sebaiknya dilakukan
dalam ruangan yang tenang dan dalam kondisi tenang dan posisi duduk.
4). Pastikan responden duduk dengan posisi kaki tidak menyilang tetapi kedua telapak
kaki datar menyentuh lantai. Letakkan lengan kanan responden di atas meja sehinga
mancet yang sudah terpasang sejajar dengan jantung responden.
5). Singsingkan lengan baju pada lengan bagian kanan responden dan memintanya untuk
tetap duduk tanpa banyak gerak, dan tidak berbicara pada saat pengukuran. Apabila
responden menggunakan baju berlengan panjang, singsingkan lengan baju ke atas
tetapi pastikan lipatan baju tidak terlalu ketat sehingga tidak menghambat aliran
darah di lengan.
6). Biarkan lengan dalam posisi tidak tegang dengan telapak tangan terbuka ke atas.
Pastikan tidak ada lekukan pada pipa mancet.
7). Ikuti posisi tubuh, lihat gambar dihalaman berikut.

8). Jika pengukuran selesai, manset akan mengempis kembali dan hasil pengukuran akan
muncul. Alat akan menyimpan hasil pengukuran secara otomatis.
9). Tekan “START/STOP” untuk mematikan alat. Jika Anda lupa untuk mematikan alat,
maka alat akan mati dengan sendirinya dalam 5 menit.
2. Prosedur penggunaan manset

1). Masukkan ujung pipa manset pada bagian alat.

2). Perhatikan arah masuknya perekat manset.

3). Pakai manset, perhatikan arah selang.

4). Pastikan selang sejajar dengan jari tengah, dan posisi lengan terbuka keatas.

5). Jika manset sudah terpasang dengan benar, rekatkan manset.

6). Menghasilkan pengukuran yang akurat.

7). Pada formulir hasil pengukuran dan pemeriksaan.

8). Pengukuran dilakukan dua kali, jarak antara dua pengukuran sebaiknya antara 2 menit
dengan melepaskan mancet pada lengan.
9). Apabila hasil pengukuran satu dan kedua terdapat selisih > 10 mmHg, ulangi
pengukuran ketiga setelah istirahat selama 10 menit dengan melepaskan mancet
pada lengan.

10). Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat dilakukan dengan posisi
berbaring, dan catat kondisi tersebut di lembar catatan.

3. Pengukuran Tekanan Darah dengan Tensimeter manual


1). Duduk dengan tenang dan rileks sekitar 5 (lima) menit
2). Jelaskan manfaat rileks tersebut, yaitu agar nilai tekanan darah yang terukur adalah
nilai yang stabil
3. Pasang manset pada lengan dengan ukuran yang sesuai, dengan jarak sisi manset paling
bawah 2,5 cm dari siku dan rekatkan dengan baik, seperti gambar berikut
4. Posisikan tangan di atas meja dengan posisi sama tinggi dengan letak jantung.
5. Bagian yang terpasang manset harus terbebas dari lapisan apapun.

6. Pengukuran dilakukan dengan tangan di atas meja dan telapak tangan terbuka ke atas.
7. Rabalah nadi pada lipatan lengan, pompa alat hingga denyutan nadi tidak teraba lalu
dipompa lagi hingga tekanaan meningkat sampai 30 mmHg di atas nilai tekanan nadi
ketika denyutan nadi tidak teraba
8. Tempelkan steteskop pada perabaan denyut nadi, lepaskan pemompa perlahan-lahan
dan dengarkan suara bunyi denyut nadi.
9. Catat tekanan darah sistolik yaitu nilai tekanan ketika suatu denyut nadi yang pertama
terdengar dan tekanan darah diatolik ketika bunyi terakhir denyut nadi.
10. Sebaiknya pengukuran dilakukan 2 kali. Pengukuran ke-2 setelah selang waktu 2 (dua)
menit.
11. Jika perbedaan hasil pengukuran ke-1 dan ke-2 adalah 10 mmHg atau lebih harus
dilakukan pengukuran ke-3.
12. Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat dilakukan dengan posisi
berbaring, dan catat kondisi tersebut di lembar catatan.
a. Manset tensimeter dipasang (diikatkan) pada lengan atas. Manset sedikitnya harus
dapat melingkari 2/3 lengan atas dan bagian bawahnya sekitar 2 jari di atas
daerah lipatan lengan atas untuk mencegah kontak dengan stetoskop. Stetoskop
ditempatkan pada lipatan lengan atas (pada arteri brakhialis pada permukaan
ventral/depan siku agak ke bawah manset tensimeter).
b. Sambil mendengarkan denyut nadi, tekanan dalam tensimeter dinaikkan dengan
memompa sampai tidak terdengar lagi. Kemudian tekanan di dalam tensimeter
diturunkan pelan-pelan.
c. Pada saat denyut nadi mulai terdengar kembali, baca tekanan yang tercantum
dalam tensimeter, tekanan ini adalah tekanan atas (sistolik).
d. Suara denyutan nadi selanjutnya menjadi agak keras dan tetap terdengar sekeras
itu sampai suatu saat denyutannya melemah atau menghilang sama sekali. Pada saat
suara denyutan yang keras itu melemah, baca lagi tekanan dalam tensimeter,
tekanan itu adalah tekanan bawah (diastolik).
e. Tekanan darah orang yang diperiksa adalah rata-rata pengukuran yang dilakukan
sebanyak 2 kali.

E. Lembar Pengamatan

Nama Kelompok : .....................


Kelas : .....................................................

Frekuensi
Tekanan Darah Tekanan Darah Re Re
Nama Rera Jantung
No Sistole (mmHg) Diastole (mmHg) ra rat
Responden ta (frek/menit)
ta a
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

1. Hitunglah tekanan rata-rata dari setiap pengukuran Anda?


2. Mengapa setiap pengukuran tekanan darah selalu berubah-ubah, jelaskan?
3. Buatlah kesimpulan terhadap apa yang Anda Ukur?
Sumber:

Kementerian Kesehatan, 2013. Panduan Peringatan Hari Kesehatan Sedunia 7 April 2013.
Jakarta:Kemenkes RI

Perhimpunan Hipertensi Indonesia. 2012. Kenalilah Tekanan Darah Anda. Jakarta: Direktorat
Penyakit tidak Menular Kemenkes RI.

Yuda Turana, 2014. Bagaimana Mengukur Tekanan Darah Yang Benar.


http://www.medikaholistik.com/medika.html?xmodule=document_detail&xid=219&ts=141741514
4&qs=health (Diedit, 02 Desember 2014).
PENGUKURAN RATA-RATA SUHU TUBUH DAN ANTHROPOMETRI SERTA

LINGKAR LENGAN ATAS

A. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan
B. Landasan Teori
C. Prosedur Praktikum

A. PENGUKURAN ANTROPOMETRI

Pengukuran berat badan, tinggi badan/panjang badan dimaksudkan untuk mendapatkan data

status gizi penduduk.

1. Pengukuran Berat Badan

Sasaran:

Semua anggota rumah tangga

Alat:

Timbangan berat badan digital merek AND dengan kapasitas 150 kg dan ketelitian 50 gram;

menggunakan baterai alkaline 3A sebanyak 2 buah.

Timbangan berat badan digital sangat sederhana penggunaannya, namun diperlukan pelatihan

petugas agar mengerti dan dapat menggunakannya secara sempurna. Pedoman penggunaan

timbangan berat badan ini harus dipelajari dengan benar untuk hasil yang optimal.

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam menggunakan timbangan digital merek AND :

PERSIAPAN

1. Ambil timbangan dari kotak karton dan keluarkan dari bungkus plastiknya

2. Pasang baterai pada bagian bawah alat timbang (PERHATIKAN POSISI BATERAI)

3. Pasang 4 (empat) kaki timbangan pada bagian bawah alat timbang (KAKI TIMBANGAN

HARUS DIPASANG DAN TIDAK BOLEH HILANG)

4. Letakan alat timbang pada lantai yang datar


5. Responden yang akan ditimbang diminta membuka alas kaki dan jaket serta mengeluarkan

isi kantong yang berat seperti kunci.

PROSEDUR PENIMBANGAN RESPONDEN DEWASA ATAU ANAK YANG SUDAH BISA

BERDIRI:

1. Aktifkan alat timbang dengan cara menekan TOMBOL sebelah kanan (warna BIRU). Mula-
mula akan muncul angka 8,88, dan tunggu sampai muncul angka 0,00. Bila muncul bulatan (O)

pada ujung kiri kaca display, berarti timbangan siap digunakan.

2. Responden diminta naik ke alat timbang dengan posisi kaki tepat di tengah alat
timbang tetapi tidak menutupi jendela baca .
3. Perhatikan posisi kaki responden tepat di tengah alat timbang, sikap tenang
(JANGAN BERGERAK-GERAK) dan kepala tidak menunduk (memandang lurus
kedepan)
4. Angka di kaca jendela alat timbang akan muncul, dan tunggu sampai angka tidak
berubah (STATIS)
5. Catat angka yang terakhir (ditandai dengan munculnya tanda bulatan O diujung
kiri atas kaca display) dan isikan pada kolom: Berat Badan pada formulir
RKD.IND. Bagian XI. No 1. Angka hasil penimbangan dibulatkan menjadi satu
digit misal 0,51 - 0,54 dibulatkan menjadi 0,5 dan 0,55 - 0,59 dibulatkan menjadi
0,6
6. Minta Responden turun dari alat timbang
7. Alat timbang akan OFF secara otomatis.
8. Untuk menimbang responden berikutnya, ulangi prosedur 1 s/d 7. Demikian pula
2. untuk responden berikutnya.
BELUM BISA BERDIRI:
• Mintalah kepada ibu untuk membuka topi/tutup kepala, jaket, sepatu, kaos kaki
atau asesoris yang digunakan anak maupun ibu.
• Siapkan buku catatan untuk mencatat hasil penimbangan ibu dan penimbangan
ibu dan anak sebelum dipindahkan ke formulir.
1. Aktifkan alat timbang dengan cara menekan TOMBOL sebelah kanan (warna
BIRU). Mula-mula akan muncul angka 8,88, dan tunggu sampai muncul angka
0,00. Bila muncul bulatan (O) pada ujung kiri kaca display, berarti timbangan siap
digunakan.
2. Timbang ibu dari anak yang akan ditimbang dengan meminta ibu naik ke alat
timbang.
3. Perhatikan posisi kaki ibu tepat di tengah alat timbang, sikap tenang (JANGAN
BERGERAK-GERAK) dan kepala tidak menunduk (pandangan lurus kedepan).
4. Angka di kaca jendela alat timbang akan muncul, dan tunggu sampai angka tidak
berubah (STATIS).
5. Catat angka yang terakhir (ditandai dengan munculnya tanda bulatan O diujung
kiri atas kaca display.
6. Minta Responden turun dari alat timbang dan tunggu sampai alat timbang OFF
secara otomatis.
7. Aktifkan kembali alat timbang dengan cara menekan TOMBOL sebelah kanan
(warna BIRU), dan tunggu sampau muncul angka 0,00.
8. Timbang ibu dan anak (digendong) bersama-sama.
9. Catat angka yang terakhir.
10. Berat badan anak adalah selisih antara (berat badan ibu dan anak) dengan berat
badan ibu. PEMBULATAN berat badan anak dilakukan setelah pengurangan
(berat badan ibu dan anak) dengan berat badan ibu. Isikan pada kolom: Berat
Badan pada formulir RKD07.IND. Blok XI. nomor 1.