Anda di halaman 1dari 9

“AIDSOLUTION CENTRE” : SARANA EDUKASI DAN KESEHATAN BAGI

MASYARAKAT DALAM RANGKA PENINGKATAN PENGETAHUAN


MENGENAI HIV/AIDS SEBAGAI UPAYA PROMOTIF DAN PREVENTIF
PENULARAN HIV

diajukan untuk memenuhi tugas Farmakologi II dengan tema Penyakit Infeksi

Oleh:
WILDHAN ALVIAN HAKIM
(3311141136)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2016
BAB I
PENDAHULUAN

HIV (Human Immuno-deficiency Virus) adalah virus yang memperlemah


kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan
terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. AIDS (Accuired
Immuno-deficiency Syndrome) merupakan sekumpulan gejala dan infeksi yang
timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi HIV atau
Human Immuno-deficiency Virus. HIV menyerang sel darah putih khusus yang
disebut dengan T-lymphocytes.
Menurut data Kemenkes, sejak tahun 2005 sampai September 2015,
terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat dari laporan layanan konseling
dan tes HIV. Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (38.464 kasus),
diikuti Jawa Timur (24.104 kasus), Papua (20.147 kasus), Jawa Barat (17.075
kasus) dan Jawa Tengah (12.267 kasus). Kasus HIV dari Juli hingga September
2015 sejumlah 6.779 kasus. Faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah hubungan
seks tidak aman pada heteroseksual (46,2 persen) penggunaan jarum suntik tidak
steril pada Penasun (3,4 persen), dan LSL (Lelaki sesama Lelaki) (24,4 persen).
Sementara, kasus AIDS sampai September 2015 sejumlah 68.917 kasus.
Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus AIDS tahun 2015 didapatkan
tertinggi pada usia 20-29 tahun(32,0 persen), 30-39 tahun (29,4 persen), 40-49
tahun (11,8 persen), 50-59 tahun (3,9 persen) kemudian 15-19 tahun (3 persen).
Namun peningkatan prevalensi dari kasus HIV sendiri tidak dibiarkan begitu saja
oleh pemerintah. Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
secara konsisten dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan melaui instansi-instansi
kesehatan yang tersebar di Indonesia.
Selama 8 tahun terakhir perkembangan terus dilakukan dalam upaya
pengendalian HIV/AIDS di Indonesia, mulai dari inovasi pencegahan penularan
dari jarum suntik yang disebut Harm Reduction pada tahun 2006, pencegahan
Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) mulai tahun 2010, penguatan
Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) pda tahun 2011, pengembangan
Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) di tingkat Puskesmas pada

1
tahun 2012, hingga terobosan paling baru yang disebut Strategic use of ARV
(SUFA) dimulai pada pertengahan tahun 2013.
Tahun 2006, epidemi HIV/AIDS di Indonesia paling banyak terdapat di
kalangan pengguna narkoba suntik. Maka, penanganan utama saat itu adalah
bagaimana mengurangi dampak buruk pada pengguna narkoba suntik (Penasun).
Untuk itu, mulai awal tahun 2007 dilaksanakan pengurangan dampak buruk
penularan melalui jarum suntik atau harm reduction. Program ini dilakukan melalui
pemberian alat suntik steril, sebagai cara untuk memutus rantai penularan di antara
Penasun. Pada saat sama, diselaraskan dengan pemberian layanan Methadone agar
secara perlahan, para Penasun tersebut terbebas dari jeratan obat-obatan terlarang.
Inovasi pemerintah ini dirasa dapat mengubah cara pandang masyarakat yang
semula kriminalisasi penasun menjadi upaya pencegahan penularan.
Selanjutnya, tahun 2010 prevalensi penasun sudah mulai menurun secara
bermakna, namun mulai muncul kasus HIV pada ibu rumah tangga sehingga mulai
diintensifkan upaya pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS).
Upaya tersebut diiintegrasikan dalam Strategi dan Rencana Aksi Nasional 2010-
2014 (integrasi dalam RPJMN) dengan fokus pada populasi kunci di 141 Kab/Kota
prioritas.
Sementara itu, tahun 2011, penularan kepada ibu rumah tangga dan mulai
terjadi peningkatan penularan dari ibu positif HIV kepada bayi-bayi yang
dilahirkan. Oleh karena itu, Kemenkes melakukan akselerasi peningkatan cakupan
dan layanan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA), dengan tujuan utama
untuk memutus rantai penularan dari orang tua ke bayinya. Hingga akhir tahun
2013, telah terdapat layanan PPIA di 91 RS dan di 23 Puskesmas. Tahun 2012,
mulai ditegaskan agar penanggulangan HIV/AIDS tidak boleh dipisahkan dari
prioritas nasional pencapaian Millenium Development Goals ke-6 (MDGs-6). Sejak
itulah, mulai dikembangkan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) di
tingkat Puskesmas. Dimana pelayanan HIV/AIDS mulai dari upaya pencegahan,
tes HIV sedini mungkin, sampai kepada pengobatan dapat dilaksanakan di tingkat
Puskesmas. Inovasi terbaru diperkenalkan pada pertengahan 2013, dinamakan
Strategic use of ARV (SUFA). Merupakan kebijakan baru, yaitu setiap orang yang

2
rentan atau berisiko, ditawarkan untuk melakukan tes. Dan bila hasilnya positif,
akan langsung ditawari pemberian obat Antiretroviral (ARV).
Meskipun program-program yang dicanangkan pemerintah dirasa sudah
cukup baik untuk mengendalikan HIV/ AIDS di Indonesia, namun berbagai upaya
tersebut dinilai lebih berfokus kepada pencegahan atau preventif saja tanpa
memperhatikan upaya promotif yang dapat meningkatkan awareness dari
masyarakat itu sendiri terhadap HIV/ AIDS. Tindakan pengendalian berbasis
edukasi juga sangat dibutuhkan untuk mengendalikan HIV/AIDS di Indonesia
terutama dengan sasaran para generasi muda dan/ atau penderita HIV/ AIDS itu
sendiri. Apabila negara Indonesia mampu memfasilitasi masyarakatnya dengan
program berbasis edukasi pada pengendalian HIV/ AIDS, bukan tidak mungkin
akan membantu penurunan tingkat prevalensi penyakit tersebut di Indonesia.
Bahkan Indonesia dapat menjadi barometer yang menjadi contoh bagi negara lain
dalam penanggulangan HIV/ AIDS.

3
BAB II
SOLUSI

Indonesia telah melakukan berbagai upaya unyuk mengatasi masalah HIV/


AIDS, namun program-program tersebut dirasa belum cukup karena hanya menitik
beratkan pada tindakan pencegahan saja. Salah satu tindakan promotif dalam
penanggulangan HIV/ AIDS yang diajukan oleh penulis adalah “Aidsolution Centre
: Sarana Edukasi dan Kesehatan bagi Masyarakat dalam Rangka Peningkatan
Pengetahuan Mengenai HIV/AIDS Sebagai Upaya Promotif dan Preventif
Penularan HIV”.
Solusi ini diajukan atas dasar pertimbangan dari PERMENKES RI No. 21
Tahun 2013 Tentang Penanggulangan Hiv/Aids, pasal 10: (1) dan (2), serta pasal
21: (1) dan (2). Pasal-pasal tersebut berbunyi sebagai berikut :
1. Pasal 10 : (1) untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif
mengenai pencegahan penularan HIV dan menghilangkan stigma serta
diskriminasi.
2. Pasal 10 : (2) Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
dalam bentuk advokasi, bina suasana, pemberdayaan, kemitraan dan peran serta
masyarakat sesuai dengan kondisi sosial budaya serta didukung kebijakan
publik.
3. Pasal 21 : (1) Pemeriksaan diagnosis HIV dilakukan untuk mencegah sedini
mungkin terjadinya penularan atau peningkatan kejadian infeksi HIV.
4. Pasal 21 : (2) Pemeriksaan diagnosis HIV sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan berdasarkan prinsip konfidensialitas, persetujuan, konseling,
pencatatan, pelaporan dan rujukan.

“Aidsolution Centre” merupakan lembaga pusat edukasi yang memiliki sarana


yang menjelaskan secara umum maupun spesifik mengenai HIV/AIDS. Pusat
edukasi ini juga dirancang dengan desain yang unik disertai alat-alat peraga yang
edukatif serta menarik dan mudah digunakan. Pada fasilitas ini terutama ditujukan
kepada para pelajar atau mahasiswa yang ingin memperdalam pemahaman tentang
HIV/ AIDS, termasuk bahayanya dan cara pencegahannya. Selain pusat edukasi,
fasilitas pendukung yang tersedia adalah pusat tes HIV dan konseling yang dibantu

4
oleh tenaga kesehatan yang profesional di bidangnya. Fasilitas ini terutama
ditujukan bagi penderita HIV/ AIDS yang membutuhkan bimbingan konseling
sebagai terapi pendamping ARV-nya, serta bagi masyarakat yang membutuhkan tes
deteksi dini HIV/AIDS sebagai langkah pencegahan penularan lebih lanjut.
Program ini memiliki tujuan yang terdiri atas :
1. Meningkatkan pengetahuan baik secara umum, maupun spesifik tentang HIV/
AIDS bagi masyarakat.
2. Membantu program pemerintah dalam menangani HIV/ AIDS dalam bentuk
promosi kesehatan bagi masyarakat, dan juga pencegahan sedini mungkin
terjadinya penularan.
3. Membantu penurunan tingkat prevalensi penderita HIV/ AIDS di Indonesia.

Suatu program yang unggulan apabila tidak didukung oleh mitra kerja yang baik
dan mumpuni hanya akan menjadi program yang sia-sia, maka dari itu program ini
juga diciptakan dengan sasaran mitra kerja yang terdiri atas :
1. Sektor Pemerintah
Sasaran sektor pemerintah yang dimaksud adalah kementrian kesehatan yang
pendamping, badan hukum, serta pelaksana utama program, yang juga
berfungsi sebagai promotor dalam mempromosikan program ini ke seluruh
Indonesia.
2. Mitra Internasional
Mitra internasional yang dimaksud adalah organisasi-organisasi yang bergerak
dalam bidang penanganan HIV/ AIDS, salah satunya UNAIDS (Joint United
Nations Programme on HIV and AIDS) yang berada di bawah naungan WHO
yang memiliki tujuan adalah pencapaian tingkat kesehatan yang tertinggi untuk
seluruh umat manusia di dunia, dimana kesehatan tersebut didefinisikan sebagai
“kesejahteraan yang seutuhnya baik fisik, mental maupun sosial”.
3. Perguruan Tinggi
Sasaran yang dituju dari perguruan tinggi sendiri adalah mahasiswa kesehatan
dan para dosen, dengan tujuan untuk meningkatkan skill dalam hal penanganan
HIV/ AIDS, serta menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati terhadap para
penderita HIV/ AIDS.

5
4. Organisasi Profesi
Organisasi profesi yang dimaksud adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan
Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), yang pada masing-masing organisasi tersebut
memiliki program kerja salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat.
Dengan program “Aidsolution Centre”, dapat juga membantu menyukseskan
program pengabdian kepada masyarakat itu sendiri.
5. Sektor Swasta
Pada sektor swasta sendiri berfungsi sebagai penyumbang dana untuk sarana
dan prasarana yang dibutuhkan untuk menyukseskan program ini.

6
BAB III
PENUTUP

Indonesia memiliki salah satu tugas penting, yaitu memajukan ketahanan


nasional di bidang kesehatan dengan menyukseskan Millenium Development Goals
ke-6 (MDGs-6) yaitu memberantas HIV/ AIDS, malaria, dan penyakit menular lain.
Namun program-program yang selama ini dilaksanakan hanya berfokus pada
pencegahan penyakit saja. Inovasi baru yang ditawarkan untuk menuntaskan
masalah tersebut adalah adalah “Aidsolution Centre : Sarana Edukasi dan
Kesehatan bagi Masyarakat dalam Rangka Peningkatan Pengetahuan Mengenai
HIV/AIDS Sebagai Upaya Promotif dan Preventif Penularan HIV”, yaitu sebuah
lembaga pusat edukasi yang memiliki sarana yang menjelaskan secara umum
maupun spesifik mengenai HIV/AIDS.
Harapan yang dapat disampaikan oleh penulis adalah Dapat menekan
jumlah prevalensi HIV dengan fasiltas tes HIV yang diterapkan di “Aidsolution
Centre”, meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV/AIDS dengan system
konseling yang diterapkan, serta menghasilkan generasi-generasi muda yang aware
terhadap HIV/ AIDS sehingga dapat membantu pemerintah menanggulangi HIV/
AIDS. Menghasilkan generasi-generasi muda yang aware terhadap HIV/ AIDS
sehingga dapat membantu pemerintah menanggulangi HIV/ AIDS. Adapun saran
yang dapat disampaikan penulis adalah semua pihak yang berkaitan dalam hal
memajukan ketahanan nasional di bidang kesehatan terus berkoordinasi,
berinovasi, dan memberi solusi atas segala permasalahan yang terjadi saat ini, agar
Indonesia dapat menyukseskan Millenium Development Goals (MDGs).

7
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2014. Inilah Terobosan Selama 8 Tahun Pengendalian HIV/AIDS di


Indonesia. Tersedia di
http://www.depkes.go.id/article/view/201408140002/inilah-terobosan-
selama-8-tahun-pengendalian-hiv-aids-di-
indonesia.html#sthash.nhjt8CiG.dpuf. Diakses pada 16 Mei 2016.

Depkes RI. Permenkes RI No. 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV/AIDS.


Jakarta: Depkes RI.

Gelderblom, H. R. 1997. Fine structure of HIV and SIV. In: Los Alamos National
Laboratory (Ed) HIV Sequence Compendium, 31-44.

Iradat, Damar. 2015. Jumlah Kasus HIV & AIDS di Indonesia Meningkat. Tersedia
di http://news.metrotvnews.com/read/2015/11/30/196222/jumlah-
kasus-hiv-aids-di-indonesia-meningkat. Diakses pada 16 Mei 2016.

Kahn, J. O. dan Walker, B. D. 1998. Acute Human Immunodeficiency Virus type 1


infection. N Engl J Med 331, 33-39 PMID 9647878.

Mandal, dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series.

Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, Penularan, Pencegahan, dan


Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga Medical Series.