Anda di halaman 1dari 11

Terganggunya Sistem Gerak pada Leher

Priscilla Sari (102016252)

A1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

Email : priscilla.2016fk252@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak

Artikulasio atau sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligament, tendon,
fasia, atau otot. . Bagian luar kapsul diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat pada tulang,
menahannya kuat-kuat di tempatnya dan membatasi gerakan yang dapat dilakukan. Jaringan
otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja mekanik dengan jalan kontraksi
dan relaksasi sel atau serabutnya. Sel otot memiliki struktur filamen dalam sitoplasma, bentuk
selnya memanjang agar dapat melangsungkan perubahan sel menjadi pendek. Jaringan otot
merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja mekanik dengan jalan kontraksi dan
relaksasi sel atau serabutnya.

Kata kunci : sendi, ligamen, kontraksi dan relaksasi, otot.

Abstract

Articulatio or joints is where the meeting of two or more bone.These bones integrated in
various ways, for example by the capsule of a joint, fibrous tape, ligament, tendons, fascia, or
muscles. The outside capsule supported by ligaments fibrous attached to the, hold it strong in
its place and limiting movement that can be done.Muscle tissue is tissue which is capable of
conducted mechanical work with the road contractions and relaxations cells or
serabutnya.Muscle cells having the structure filaments in the cytoplasm of, the form of his cell
elongated in order to undertake ongoing change cell into short.Muscle tissue is tissue which is
capable of conducted mechanical work with the road contractions and relaxations cells.

Key words: joint, articulatio, ligament, contractions and relaxations, muscle.

1
Pendahuluan

Artikulasio atau sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligament, tendon,
fasia, atau otot. Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial. Permukaan tulang yang
bersendi diselubungi oleh tulang rawan yang lunak dan licin. Keseluruhan daerah sendi
dikelilingi sejenis kantong, terbentuk dari jaringan berserat yang disebut kapsul. Jaringan ini
dilapisi membran sinovial yang menghasilkan cairan sinovial untuk meminyaki sendi. Bagian
luar kapsul diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat pada tulang, menahannya kuat-kuat
di tempatnya dan membatasi gerakan yang dapat dilakukan. Jaringan otot merupakan jaringan
yang mampu melangsungkan kerja mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau
serabutnya. Sel otot memiliki struktur filamen dalam sitoplasma, bentuk selnya memanjang
agar dapat melangsungkan perubahan sel menjadi pendek. Di balik mekanisme otot yang secara
eksplisit hanya merupakan gerak mekanik itu, terjadilah beberapa proses kimiawi dasar yang
berseri demi kelangsungan kontraksi otot. Relaksasi otot bertujuan agar badan dapat menjadi
relaks. Relaksasi ini dilakukan dengan mencoba merasakan otot-otot saat tegang dan kaku,
dengan cara mengencangkan otot-otot badan; serta mencoba merasakan otot kendor dengan
cara mengendorkan otot-otot. Jaringan ikat atau jaringan penyambung merupakan jaringan
yang menghubungkan jaringan atau organ yang satu dengan jaringan atau organ yang lain.
Fungsi jaringan ikat adalah melekatkan suatu jaringan ke jaringan lain, menyokong atau
menunjang organ, melindungi dan member struktur pada organ-organ, membentuk darah dan
limfa, menyimpan lemak, serta mengisi rongga di antara organ-organ.1

Pembahasan

Makroskopis Leher

Otot

Pada leher terdapat dua otot leher yang dibagi menjadi, pertama Muskulus Platisma yang
terdapat disamping leher menutupi sampai bagian dada. Otot ini berfungsi menekan mandibula,
menarik bibir ke bawah dan mengerutkan kulit bibir. Muskulus sternokleidomastoid di
samping kiri kanan leher ada suatu tendo sangat kuat yang berfungsi menarik kepala kesamping
kiri ke kanan, memutar kepala dan kalau keduanya bekerja sama merupakan fleksi kepala ke
depan disamping itu sebagai alat pembantu pernafasan.

2
Persendian

Sendi adalah semua persambungan tulang, baik yang memungkinkan tulang tersebut dapat
bergerak satu sama lain maupun tidak. Hubungan antar tulang (artikulasi), berdasarkan sifat
geraknya artikulasi atau sendi dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama, Sinartrosis (sendi
mati)/tidak memungkinkan adanya gerakan yang merupakan hubungan antara kedua ujung
tulang yang direkatkan oleh suatu jaringan ikat yang mengalami osifikasi dan tidak
memungkinkan adanya gerakan atau persendian yang tidak dapat digerakkan. Permukaan
tulang hampir kontak langsung, hanya dikaitkan oleh jaringan ikat atau kartilago hialin,
contohnya hubungan antara tulang-tulang tengkorak. Kedua, amfiartrosis(sendi
kaku)/memungkinkan adanya sedikit gerak yang merupakan bentuk hubungan antara kedua
ujung tulang yang dihubungkan oleh jaringan kartilago, sehingga memungkinkan tetap adanya
sedikit gerakan atai pada persendian ini dapat bergerak sedikit. Tulang dihubungkan dengan
serat kolagen atau kartilago, contohnya tulang simphisis pubis, persendian vertebra. Ketiga,
diartrosis (sendi gerak)/memungkinkan adanya gerak bebas yang merupakan hubungan antara
tulang yang satu dengan yang lain, tidak dihubungkan oleh jaringan sehingga memungkinkan
terjadinya gerakan tulang secara bebas. Adanya suatu susunan dibangun oleh ligament, kapsul,
cairan sinovial, membran sinovial, dan tulang rawan hialin. Disebut juga persendian sinovial,
pergerakan lebih luas dibanding persendian lain. Persendian ini dikelilingi kapsul persendian
fibrus dan membrana sinovial yang melapisi ruang persendian. Ruang persendian terisi cairan
sinovial. Sendi ini dapat melakukan gerakan protaksi (gerakan bagian tubuh ke arah
depan/maju seperti pergerakan mandibula), fleksi/ekstensi yang merupakan memiliki rongga
sendi dan permukaan sendi dilapisi tulang rawan hilain sinovium yang menghasilkan cairan
kental yang membasahi permukaan sendi, contohnya panggul, lutut, bahu, siku.2

Adapun pergerakan yang dapat dilakukan oleh sendi-sendi yang meliputi, Fleksi adalah gerak
menekuk atau membengkokkan. Ekstensi adalah gerakan untuk meluruskan. Contoh: gerakan
ayunan lutut pada kegiatan gerak jalan. Gerakan ayunan ke depan merupakan (ante)fleksi dan
ayunan ke belakang disebut (retro)fleksi/ekstensi. Ayunan ke belakang lebih lanjut disebut
hiperekstensi. Adduksi adalah gerakan mendekati tubuh. Abduksi adalah gerakan menjauhi
tubuh. Contoh: gerakan membuka tungkai kaki pada posisi istirahat di tempat merupakan
gerakan abduksi (menjauhi tubuh). Bila kaki digerakkan kembali ke posisi siap merupakan
gerakan adduksi (mendekati tubuh). Elevasi merupakan gerakan mengangkat, depresi adalah
gerakan menurunkan. Contohnya: Gerakan membuka mulut (elevasi) dan menutupnya
(depresi)juga gerakan pundak keatas (elevasi) dan kebawah (depresi). Inversi adalah gerak

3
memiringkan telapak kaki ke dalam tubuh. Eversi adalah gerakan memiringkan telapak kaki
ke luar. Juga perlu diketahui untuk istilah inversi dan eversi hanya untuk wilayah di
pergelangan kaki. Supinasi adalah gerakan menengadahkan tangan. Pronasi adalah gerakan
menelungkupkan. Juga perlu diketahui istilah supinasi dan pronasi hanya digunakan untuk
wilayah pergelangan tangan saja. Sirkumduksi adalah gabungan fleksi, abduksi, ektensi, dan
adduksi yang menciptakan gerakan melingkar

Ligamen

Ligamen adalah jaringan ikat yang menyambung tulang, membentuk sendi. Jaringan ini terdiri
atas jaringan fibrosa, yang memberi atau memiliki kemampuan untuk meregang. Jaringan ini
mengendalikan seberapa banyak pergerakan sendi serta menstabilkan sendi sehingga tulang
tidak bisa bergerak keluar terlalu jauh dari letak sejajarnya yang tepat.3

Jaringan Otot

Jaringan otot terdiri atas sel-sel otot yang bertanggung jawab terhadap pergerakan berbagai
bagian tubuh. Diperkirakan 40% dari berat badan mamalia tersusun dari jaringan otot. Jaringan
otot merupakan derivat dari mesoderm embrionik. Jaringan otot dapat berkontraksi karena di
dalamnya terdapat protein-protein kontraktil dan serat-serat otot yang disebut miofibril. Setiap
miofibril terdiri atas filamen-filamen protein yang disebut aktin dan miosin. Berdasarkan
bentuk morfologi dan fungsinya, jaringan otot diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu otot
rangka atau otot lurik, otot polos, dan otot jantung.4

Otot Rangka

Otot rangka terdiri atas berkas-berkas serat panjang berbentuk silinder dan memiliki banyak
inti yang terletak di pinggir sel. Pada penampang longitudinal miofibril terlihat adanya berkas
gelap dan berkas terang seperti lurik. Itulah sebabnya otot rangka disebut juga otot lurik.
Dikatakan otot rangka karena sebagian besar dari otot ini melekat pada bagian rangka. Otot
rangka merupakan otot yang bekerja di bawah kendali sistem saraf. Artinya, otot tersebut dapat
bekerja menurut kemauan kita. Otak atau sumsum tulang belakang mula-mula mengirim pesan
hingga sampai ke otot. Selanjutnya, otot berkontraksi atau berelaksasi untuk menggerakkan
kaki, jari-jari, dan bagian-bagian lain dari tubuh. Namun, tidak berarti bahwa semua gerakan
otot adalah hasil dari keputusan sadar yang berasal dari perintah otak. Beberapa pergerakan
dapat saja berasal dari hasil belajar, tetapi dapat juga menjadi otomatis sebagai hasil dari latihan
yang terus-menerus. Contohnya, berjalan, berenang atau naik sepeda, merupakan macam

4
gerakan yang pada mulanya memerlukan latihan-latihan. Otot rangka berkontraksi sangat
cepat, tetapi tidak dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Misalnya, untuk menggerakkan
lengan bawah ke atas, otot biseps akan berkontraksi (memendek) dan memberi kekuatan tulang
untuk bergerak ke atas pada engselnya. Meskipun dinamakan otot rangka, tidak berarti semua
otot tersebut hanya bekerja menggerakkan tulang. Beberapa aktivitas nonrangka, seperti
menutupnya pelupuk mata dan menutupnya saluran urine dan kantong kemih biasa dilakukan
oleh otot rangka.

Otot Polos

Otot polos, sesuai dengan namanya, adalah otot tanpa adanya serat-serat melintang seperti yang
terdapat pada otot rangka. Otot polos terdiri atas sel-sel berbentuk gelendong dengan ujung
meruncing. Masing-masing sel memiliki satu inti yang terletak pada bagian tengah sel. Otot
polos kebanyakan terdapat pada dinding organ-organ dalam tubuh. Oleh karena itu, otot polos
sering juga disebut otot visera (otot dalaman/jeroan). Misalnya, terdapat pada usus, lambung,
pembuluh darah. Namun otot polos ada juga yang ditemukan di lokasi nonvisera, misalnya di
sekitar pembuluh darah dan mata. Pada umumnya, kontraksi otot polos lebih lambat
dibandingkan otot rangka, tetapi kontraksinya dapat berlangsung lama. Otot polos bekerja
tanpa kesadaran kita sehingga gerakannya tidaknya menurut kehendak. Contohnya, pada saat
kantong kemih penuh berisi urine, secara otomatis otot-otot polos kantong kemih akan
berkontraksi sebagai respons adanya tekanan dari dalam yang mendorong dinding kantong
kemih. Untungnya, tubuh kita memiliki otot-otot rangka yang bekerja di bawah kendali
sehingga dapat menutup jalan keluarnya urine atau mencegah urine tidak keluar secara
sembarangan. Otot-otot yang bekerja menutup bermacam pembuluh di dalam tubuh disebut
otot sfingter. Beberapa di antara otot sfingter juga tersusun dari otot-otot polos.

Otot Jantung

Otot jantung hanya ditemukan pada dinding jantung. Otot jantung dapat berkontraksi seperti
otot rangka, tanpa rangsangan dari saraf. Rangsangan saraf hanya menyebabkan kontraksi
jantung menjadi cepat atau lambat. Otot jantung termasuk otot istimewa; memiliki bentuk
seperti otot rangka (berserat lurik), tetapi bekerja seperti otot polos (tanpa kesadaran). Tidak
seperti otot rangka yang berinti banyak, otot jantung hanya memiliki satu inti, terletak pada
bagian tengah. Otot jantung mampu bekerja lama tanpa lelah. Sel-sel otot jantung diperkirakan
memiliki diameter 15𝜇m dan panjang 85 hingga 100𝜇m. Sel-sel otot jantung sering kali

5
bercabang dua dan satu sel dengan sel lainnya dapat bersatu melalui diskus interkalar (cakram
sisipan)4,5

Jaringan Ikat

Sesuai dengan namanya, jaringan ikat berfungsi sebagai pengikat, penyokong, serta
penghubung satu jaringan dengan jaringan yang lainnya. Jaringan ikat tidak terdapat pada
permukaan luar tubuh. Jaringan ikat mengandung banyak pembuluh darah, kecuali pada tulang
rawan. Berbeda dengan sel epitel, populasi sel-sel jaringan ikat lebih jarang dan menyebar di
dalam matriks. Pada umumnya, matriks terdiri atas jaringan-jaringan serabut yang melekat
dalam bahan dasar berupa cairan gel, atau solid. Matriks pada jaringan ikat memiliki jalinan
yang bergantung pada serabut yang dimilikinya. Berikut ini beberapa serabut yang menyusun
jaringan ikat, yaitu serabut kolagen, serabut elastin, dan serabut retikuler. Serabut kolagen
memiliki daya regang sangat tinggi dengan elastisitas yang rendah. Serabut kolagen terbuat
dari protein kolagen. Serabut elastin memiliki elastisitas tinggi. Namun, serabut elastin daya
elastisitasnya akan semakin berkurang seiring dengan pertambahan usia seseorang. Serabut
retikuler mirip dengan serabut kolagen hanya ukuran serabutnya lebih pendek dibandingkan
dengan serabut kolagen.

Jaringan ikat dapat dikelompokkan dalam enam kelompok utama, yaitu jaringan ikat longgar,
jaringan lemak, jaringan ikat padat, jaringan tulang rawan, jaringan tulang, dan jaringan ikat
darah. Jaringan ikat longgar merupakan jaringan ikat yang paling banyak tersebar dalam tubuh
hewan vertebrata. Jaringan ini mengikat jaringan epitel dengan jaringan di bawahnya dan
menjaga organ-organ pada tempatnya. Selain itu, jaringan berfungsi juga sebagai tempat
penyimpanan air, glukosa, dan garam-garam untuk sementara waktu. Jaringan lemak tersusun
atas sel-sel lemak. Setiap sel lemak berisi tetes lemak (fat droplet). Jaringan lemak banyak
ditemukan di bagian bawah lapisan kulit. Jaringan ini berfungsi sebagai makanan cadangan
dan mencegah kehilangan panas berlebih dari tubuh. Jaringan ikat padat penyusun utamanya
adalah serabut kolagen. Oleh karena itu, sifat jaringan ini fleksibel dan tidak elastik.
Berdasarkan struktur serabutnya, jaringan ikat padat dapat dikelompokkan menjadi jaringan
ikat padat teratur dan jaringan ikat padat tidak teratur. Jaringan ikat padat teratur
menghubungkan antara otot dan tulang (tendon), serta menghubungkan tulang dengan tulang
(ligamen). Sementara itu, jaringan ikat padat tidak teratur terdapat di kulit. Jaringan tulang
rawan merupakan bentuk khusus dari jaringan ikat padat. Jaringan tulang rawan memiliki
matriks yang elastis dan tebal dengan sel-sel tulang rawan (kondrosit) terletak dalam kantung-

6
kantung (lakuna) di dalam matriks. Kelenturan dan kekuatan jaringan tulang rawan diperoleh
dari gabungan antara serabut kolagen dan matriksnya yang bercampur dengan kondrin (sejenis
protein). Berdasarkan susunan serabutnya, jaringan tulang rawan dapat digolongkan menjadi
tulang rawan hialin, tulang rawan elastik dan tulang rawan fibrosa. Tulang rawan hialin
serabutnya tersebar dalam anyaman yang halus dan rapat, contohnya ujung-ujung tulang rusuk
yang menempel ke tulang dada. Tulang rawan elastik susunan sel dan matriksnya mirip dengan
tulang rawan hialin. Namun, anyaman serabutnya tidak sehalus dan serapat tulang rawan hialin,
contohnya di cakram antartulang belakang dan simfisis pubis (pertautan tulang kemaluan).
Jaringan tulang termasuk jaringan ikat yang terdiri atas sel tulang (osteosit). Matriks
intraseluler dari osteosit mengalami mineralisasi sehingga permukaannya sangat keras.
Substansi mineral tersebut disimpan dalam suatu lapisan tipis yang disebut lamela. Beberapa
lamela mengelilingi suatu saluran berisi pembuluh darah yang disebut saluran Havers. Struktur
jaringan tulang yang keras sesuai dengan fungsi sebagai pemberi bentuk tubuh, penyusun
rangka tubuh, dan pelindung alat-alat vital tubuh. Jaringan darah merupakan jaraingan ikat
yang sangat khusus. Jaringan darah terdiri atas tiga komponen, yaitu eritrosit (sel darah merah),
leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keping darah). Jaringan ini berfungsi alat transportasi
yang menopang kelangsungan hidup manusia. Selain darah, tubuh juga mempunyai jaringan
yang mirip jaringan darah, yaitu peradaran limfatik. Peredaran limfatik, memiliki komponen
seluler berupa limfosit dan granulosit. Jaringan ini berfungsi untuk transpor lemak dan protein
dari satu jaringan ke jaringan yang lain.6,7

Mekanisme Kontraksi Relaksasi Otot

Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai ke ujungnya pada
serabut otot. Di setiap ujung, saraf mensekresikan substansi neurotransmitter, yaitu asetilkolin,
dalam jumlah sedikit. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut otot untuk
membuka banyak kanal “bergerbang asetilkolin” memungkinkan sejumlah besar ion natrium
untuk berdifusi ke bagian dalam membran serabut otot. Di sini, potensial aksi menyebabkan
retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah besar ion kalsium, yang telah tersimpan di dalam
retikulum ini. Ion- ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan
miosin, yang menyebabkan kedua filamen tersebut bergeser satu sama lain, dan menghasilkan
proses kontraksi. Setelah kurang dari satu detik, ion kalsium dipompa kembali ke dalam
reticulum sarkoplasma oleh pompa membran Ca dan ion-ion ini tetap disimpan dalam

7
retikulum sampai potensial aksi otot yang baru datang lagi, pengeluaran ion kalsium dan
miofibril akan menyebabkan kontraksi otot terhenti.

Kontraksi Otot

Interaksi aktin (filamen tipis) dan miosin (filamen tebal) menyebabkan kontraksi otot yang
disebabkan oleh terbentuknya jembatan silang, suatu akibat dari interaksi troponin dan ion Ca.
Sebuah filamen aktin murni tanpa adanya kompleks troponin-tropomiosin akan berikatan
secara cepat dan kuat dengan kepala molekul miosin. Lalu jika kompleks troponin-tropomiosin
ditambahkan pada filamen aktin, ikatan antara aktin dan miosin ini tidak akan terbentuk. Oleh
karena itu, diduga bahwa bagian aktif pada filamen aktin normal dari otot yang sedang relaksasi
akan dihambat atausecara fisik akan ditutupi oleh kompleks troponin-tropomiosin. Akibatnya
tempat ini tidak dapat melekat pada kepala filamen miosin untuk menimbulkan kontraksi.
Sebelum terjadinya kontraksi, efek penghambatan kompleks troponin-tropomiosin itu sendiri
harus dihambat. Keadaan tersebut membawa kita kepada peran ion Ca2+. Dengan adanya ion-
ion kalsium dalam jumlah besar, efek penghambatan kompleks troponin-tropomiosin terhadap
filamen aktin itu sendiri dihambat. Mekanisme penghambatan ini tidak diketahui, tetapi salah
satu dugaan sebagai berikut: Bila ion-ion kalsium bergabung dengan troponin C, dan setiap
molekul troponin C dapat berikatan secara kuat dengan 4 ion kalsium, kompleks troponin ini
diduga akan mengalami perubahan bentuk yang menarik molekul tropomiosin dan
memindahkannya lebih dalam ke lekukan antara dua untai aktin, sehingga memungkinkan
kompleks ini menarik kepala jembatan silang miosin dan menyebabkan terjadinya kontraksi.
Jembatan silang miosin memiliki dua tempat khusus, tempat pengikatan aktin dan ATPase.
Yang terakhir adalah suatu tempat enzimatik yang dapat mengikat molekul pembawa energi,
ATP, dan mengurainya menjadi ADP dan Pi, dalam prosesnya menghasilkan energi. Di otot
rangka, magnesium (Mg2+) harus terlebih dahulu melekat ke ATP sebelum ATPase miosin
dapat menguraikan ATP. Penguraian ATP terjadi di jembatan silang miosin sebelum jembatan
berikatan dengan molekul aktin. ADP dan Pi tetap berikatan dengan miosin, dan energi yang
dibebaskan disimpan di dalam jembatan silang untuk menghasilkan bentuk miosin berenergi
tinggi. Ketika serat otot tereksitasi, Ca++ menarik kompleks troponin-tropomiosin keluar dari
posisi menghambatnya, sehingga jembatan silang miosin dan aktin ini “menarik pelatuk”.
Energi yang tersimpan di dalam jembatan silang miosin dibebaskan untuk menyebabkan
jembatan silang menekuk dan menghasilkan gaya ayunan yang kuat yang menarik filamen tipis
ke arah dalam. ADP dan Pi juga dibebaskan dengan cepat dari miosin ketika miosin berkontak
dengan aktin saat gerakan mengayun timbul. Hal ini membebaskan tempat ATPase miosin

8
untuk berikatan dengan molekul ATP lain. Aktin dan miosin tetap berikatan di jembatan silang
sampai ada molekul ATP segar melekat ke miosin di akhir gerakan mengayun. Perlekatan
molekul ATP baru memungkinkan terlepasnya jembatan silang yang kemudian kembali ke
konformasinya semula, siap untuk menjalani siklus baru. ATP yang baru melekat kemudian
diuraikan oleh ATPase, kembali memberikan energi bagi jembatan silang. Sewaktu berikatan
dengan molekul aktin yang lain, jembatan silang yang telah mendapatkan energi tersebut
kembali menekuk, demikian seterusnya, berturut-turut menarik filamen tipis ke arah dalam
untuk menyelesaikan kontraksi.

Relaksasi Otot

Seperti halnya potensial aksi di serat otot mengaktifkan proses kontraksi dengan memicu
perlepasan Ca2+ dari kantung lateral ke dalam sitosol, proses kontraksi dihentikan ketika Ca2+
dikembalikan ke kantung lateral saat aktivitas listrik lokal berhenti. Retikulum sarkoplasma
memiliki molekul pembawa, pompa Ca2+-ATPase, yang memerlukan energi dan secara aktif
mengangkut Ca2+ dari sitosol untuk memekatkannya di dalam kantung lateral. Ketika
asetilkolinesterase menyingkirkan Ach dari taut neuromuskular, potensial aksi serat otot
terhenti. Ketika potensial aksi lokal tidak lagi terdapat di tubulus T untuk memicu pelepasan
Ca2+, aktivitas pompa Ca2+ retikulum sarkoplasma mengembalikan Ca2+ yang dilepaskan ke
kantung lateral. Hilangnya Ca2+ dari sitosol memungkinkan kompleks troponin-tropomiosin
bergeser kembali ke posisinya yang menghambat, sehingga aktin dan miosin tidak lagi
berikatan di jembatan silang. Filamen tipis, setelah dibebaskan dari siklus perlekatan dan
penarikan jembatan silang, kembali secara pasif ke posisi istirahatnya. Serat otot kembali
melemas.

Impuls listrik menyebar ke seluruh sel otot, sampai ke miofibril melalui Tubulus T. Impuls di
Tubulus T menyebabkan ion Ca2+ keluar dari retikulum sarkoplasma. Ion Ca2+ yang sampai ke
miofibril berikatan dengan Troponin C. Ikatan Ca2+ - Troponin C menyebabkan tropomiosin
bergeser dan ‘binding site’ aktin untuk kepala miosin yang ditempati tropomiosin terbuka.
Aktin berikatan dengan kepala miosin yang juga mengandung ATP-ase yang memecah ATP
menjadi ADP sehingga menghasilkan energi untuk menggerakkan aktin ke arah garis M. Aktin
yang berikatan dengan kepala miosin akan membentuk aktomiosin. Lalu kontraksi pun terjadi.
Demikian seterusnya sampai impuls listrik berakhir dan ion Ca2+ dipompa kembali ke
retikulum sarkoplasma sehingga tidak terjadi ikatan ion Ca2+ - troponin C dan terbukanya

9
binding site untuk kepala miosin pada aktin karena tertutup oleh tropomiosin. Ketika aktin dan
miosin sudah tidak saling berikatan, relaksasi pun terjadi.8

Gangguan pada Kontraksi Otot

Gangguan karena Serangan Organisme

Pertama, Tetanus merupakan suatu kondisi ketegangan otot yang terus-menerus berkontraksi
yang disebabkan Clostridium tetani. Kedua, atrofi otot merupakan kondisi mengecilnya otot,
misalnya akibat virus polio

Gangguan karena aktifitas

Pertama kaku leher (stiff) yang terjadi karena salah gerak atau gerak yang menghentak,
sehingga menyebabkan otot trapesius meradang. Kedua, kram terjadi karena otot terus menerus
melakukan aktifitas, sehingga otot menjadi kejang dan tidak mampu lagi berkontraksi. Ketiga,
atrofi adalah kondisi mengecilnya atau turunnya fungsi otot, karena otot tidak pernah
digunakan untuk melakukan aktifitas.

Gangguan otot bawaan (distrofi otot) merupakan penyakit kronis otot sejak masa kanak-kanak.
Hernia abdominalis terjadi karena sobeknya dinding otot perut, sehingga usus melorot ke
bawah masuk dalam rongga perut. Miastenia gravis adalah melemahnya otot secara berangsur-
angsur dan menyebabkan kelumpuhan.9

Penutup

Terganggungnya sistem gerak pada leher manusia memiliki kemungkinan yang dapat
disebabkan oleh diskolasi pada tendo Muskulus Sternokleidomastoid dimana di samping kiri
kanan leher ada suatu tendo sangat kuat yang berfungsi menarik kepala kesamping kiri ke
kanan, memutar kepala dan kalau keduanya bekerja sama merupakan fleksi kepala ke depan.
Hal tersebut dapat membuat keterbatasan terhadap leher dimana leher hanya bisa digerakan ke
arah tertentu namun tidak ke semua arah.

Daftar Pustaka
(1) Hartono LA. Kesehatan masyarakat. Ed-. Yogyakarta: Kanisius; 2007. h. 31.
(2) Risnanto, Insani U. Asuhan keperawatan medikal bedah. Sistem muskuloskeletal. Ed-.
Yogyakarta: Deepublish; 2014. h. 14.
(3) Lau K. Skoliosis. 3rd ed. Amerika Serikat: ScolioTrack; 2011.h. 214.
(4) Sudjadi B, Laila S. Biologi. Ed-. Jakarta: Yudhistira; 2006.h. 57-8.

10
(5) Karmana O. Biologi. Ed-. Jakarta: Grafindo Media Pratama; 2008.h. 77.
(6) Ferdinand F, Ariebowo M. Biologi. Ed-. Jakarta: Visindo; 2010. h. 44-5.
(7) Sudjadi B, Laila S. Biologi. Ed-. Jakarta: Yudhistira; 2016. h. 60.
(8) Sunarti. Sistem saraf motorik. 2006. Diakses dari:
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/kuntarti/material/fisiologiotot.pdf pada 21 Maret
2017
(9) Karmana O. Biologi. Ed-. Jakarta: Yudhistira; 2006. h. 105-7.

11