Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM ZAT PENGATUR TUMBUH

PENGARUH GIBERELIN TERHADAP PERTUMBUHAN


TANAMAN

OLEH:

1. MARWAN
2. MUHAMMAD DAURI
3. SELPI SARI
4. IZ DAMAITA

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perbanyakan tanaman merupakan serangkaian kegiatan yang diperlukan
untuk menyediakan materi tanaman baik untuk kegiatan penelitian maupun
program penanaman secara luas. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara
vegetatif. Dengan penerapan teknik pembiakan vegetatif akan diperoleh bibit yang
memiliki struktur genetik yang sama dengan induknya. Sehingga penggunaan
materi genetik yang unggul sebagai bahan untuk perbanyakan merupakan kunci
untuk menghasilkan anakan yang berkualitas. Prinsipnya adalah merangsang
tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi
tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus. Perbanyakan
vegetatif dapat dilakukan dengan cara mencangkok, setek, rundukan, dan kultur
jaringan (Nugroho 1992).
Giberelin adalah zat tumbuh yang sifatnya sama atau menyerupai hormon
auksin, tetapi fungsi giberelin sedikit berbeda dengan auksin. Fungsi giberelin
adalah membantu pembentukan tunas/ embrio, Jika embrio terkena air, embrio
menjadi aktif dan melepaskan hormon giberelin (GA). Hormon ini memacu
aleuron untuk membuat (mensintesis) dan mengeluarkan enzim. Enzim yang
dikeluarkan antara lain: enzim α-amilase, maltase, dan enzim pemecah protein
Enzim tersebut berperan memecah senyawa amilum yang terdapat pada
endosperm (cadangan makanan) menjadi senyawa glukosa. Glukosa merupakan
sumber energy pertumbuhan. Apabila giberelin diberikan pada tumbuhan kerdil,
tumbuhan akan tumbuh normal kembali. Produksi giberalin yang paling besar
berada pada akar dan daun muda. Meskipun demikian pangaruh giberelin hanya
pada batang dan daun. Pada batang giberelin bersama auksin merangsang
pemanjangan dan pembelahan sel batang. Giberelin juga berpengaruh pada
perkembangan buah. Namun kinerja giberelin harus dibarengi dengan control
auksin. Salah satu contoh pengaplikasian giberelin adalah pada buah anggur
Thompson yang tumbuh besar dan terpisah jauh antara buah yang lain.
Perkecambahan biji juga dipengaruhi oleh giberelin, karena setelah sebuah biji
mengimbibisi air,giberekin akan dibebaskan dan mengakhiri dormansi biji.
Berdasarkan pernyataan diatas maka perlu dilakukannya praktikum
mengenai pengaruh giberelin terhadap pertumbuhan tanaman untuk melihat
pengaruh giberelin terhadap percepatan pertumbuhan tunas tanaman budidaya.

1.2 Tujuan
Mempelajari pengaruh GA eksogen pada pertumbuhan bibit tanaman lada,
buah naga, lidah mertua, dan mawar.
.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Sebagian besar tumbuhan dikotil dan sebagian kecil tumbuhan monokotil


akan tumbuh cepat jika diberi GA, tetapi tidak demikian halnya pada tumbuhan
konifer misalnya pinus. Jika GA diberikan pada tanaman kubis tinggi tanamannya
bisa mencapai 2 m.Banyak tanaman yang secara genetik kerdil akan tumbuh
normal setelah diberi GA. Efek giberelin tidak hanya mendorong perpanjangan
batang, tetapi juga terlibat dalam proses regulasi perkembangan tumbuhan seperti
halnya auksin. Giberelin mempercepat munculnya tunas di permukaan tanah. Hal
ini disebabkan karena GA3 memacu aktivitas enzim–enzim hidrolitik khususnya α
amilase yang menghidrolisis cadangan pati sehingga tersedia nutrisi yang cukup
untuk tunas supaya bisa tumbuh lebih cepat. Tinggi tanaman tidak dipengaruhi
oleh giberelin. Hal ini karena giberelin diberikan pada umbi bibit sebelum
ditanam sehingga pengaruhnya hanya pada fase awal pertumbuhan yaitu berupa
pemacuan pertumbuhan tunas lateral. Pengaruh tersebut tidak terbawa ke fase
pertumbuhan selanjutnya sehingga tinggi tanaman tidak terpengaruh.Penggunaan
giberelin juga bisa terjadi menghambat perkecambahan dan pembentukan biji. Hal
ini terjadi apabila giberelin diberikan pada bunga maka buah yang terbentuk
menjadi buah tanpa biji dan sangat nyata mempengaruhi pemanjangan dan
pembelahan sel (Heddy 1989).
Waktu pemberian gibereli pada tanaman pada saat Pembungaan, Peranan
giberelin terhadap pembungaan telah dibuktikan oleh banyak penelitian. Misalnya
penelitian yang dilakukan oleh Henny (1981), pemberian GA3 pada tanaman
Spathiphyllum mauna. Ternyata pemberian GA3 meningkatkan pembungaan
setelah beberapa minggu perlakuan (Wattimena 1988).
Fungsi giberelin pada tanaman sangat banyak dan tergantung pada jenis
giberelin yang ada di dalam tanaman tersebut. Beberapa proses fisiologi yang
dirangsang oleh giberelin antara lain adalah seperti di bawah ini: (Salisbury dan
Ross 1992)
1. Mengatasi Kekerdilan Akibat Mutasi (Gnetic Dwafism)
Giberelin merupakan hormon yang mampu merangsang pertumbuhan
secara sinergi, baik bagian batang, akar, maupun daun. Di dunia pertanian,
manfaat giberelin yang penting adalah mengatasi masalah genetic dwafism atau
kekerdilan pada tanaman. Genetic dwafism adalah suatu gejala yang di sebabkan
adanya mutasi. Dengan pemberian giberelin, tanaman yang tadinya tumbuh kerdil
dapat kembali tumbuh normal. Hasil penelitian menunjukan pemberian giberelic
acid pada tanaman kacang menyebabkan tanaman yang kerdil menjadi tinggi.
2. Membuat Buah Tanpa Biji (Seedless)
Pemberian giberelin bermanfaat dalam proses parhenocarpy dan fruit set.
Parthenocsrpy adalah proses tidak terbentuknya biji dalam buah. Karena itu ,
pemberian giberelin bermanfaat dalam proses rekayasa untuk menghasilkan buah
yang tak berbiji. Pemberian giberelin juga bermanfaat dalam meningkatkan
jumlah tandah buah (fruit set) dan meningkatkan hasil buah. Pemberian giberelin
juga dapat menyebabkan buah yang telah di panen tidak cepat busuk, sehingga
lebih tahan lama.
3. Mempercepat Proses Pertumbuhan
Pemberian giberelin pada fase perkecambahan (Germination) sangat
menguntungkan . Giberelin membantu proses anzimatik untuk mengubah pati
menjadi gula yang selanjutnya di translokasi ke embrio. Gula akan di gunakan
sebagai sumber energi untuk pertumbuhan, sehingga pertumbuhan embrio
berlangsung cepat. Pemberian GA3 dapat meningkatkan aktivitas kambium dan
perkembangan xilem sehingga aktivitas pertumbuhan berjalan lancar dan cepat.
Pemberian Giberelin pada tanaman kacang-kacangan akan memacu pertumbuhan
dan mempercepat perambatan. Begitu juga pada tanaman semangka, mentimun
air, dan mentimun yang di semprot giberelin mengalami perpanjangan batang
yang sangat cepat.
4. Mempercepat Proses Pembungaan
Giberelin berfungsi untuk mempercepat proses pembungaan. Giberelin
dapat memenuhi kebutuhan bunga beberapa jenis tanaman pada musim dingin
ketika potosintesis kurang dan memacu taanaman agar berbunga lebih awal.
5. Meningkatkan Produktivitas
Di Amerika serikat, Perkebunan anggur telah menggunakan giberelin untuk
meningkatkan kerenyahan dan ukuran anggur. Di Hawai, giberelin digunakan
untuk meningkatkan produksi tebu. Selain itu, giberelin yang disemprotkan ke
tanaman seledri menyebebkan tanaman bertambah panjang, bertambah renyah,
produksi meningkat. Penggunaan giberelin pada tanaman anggur tahan terhadap
infeksi cendawan. Penyemprotan giberelin dilakukan sejak tanaman berbunga dan
pada fase pembentukan rangkaian buah. Penyemprotan giberelin pada buah dan
daun jeruk nevel bisa mencegah timbulnya gangguan pada kulit buah dan menjaga
agar kulit tetap kencang selama penyimpanan.
III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum Zat Pengatur Tumbuh mengenai pengaruh Giberelin
Terhadap Pertumbuhan Tanaman ini dilaksanakan pada bulan akhir maret
hingga selesai di Kebun Percobaan 2 Jurusan Agroteknologi Fakultas
Pertanian Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung.

3.2. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah bibit
lada 2 polybag, bibit buah naga 2 polybag, lada 2 polybag, mawar 2
polybag, rebung bamboo betung, hand sprayer, penggaris, dan kertas label

3.3. Prosedur Kerja

Pembuatan ekstrak bamboo betung :


1. 1 kg rebung bamboo di cacah dan direbus hingga matang dengan air
sebanyak 1 liter
2. rebung dan air rebung kemudian diblender dan ditambahkan air sebanyak
1 liter
3. peras dan saring untuk memisahkan ekstrak rebung dan ampas
4. larutan air ekstrak rebung diperoleh sebanyak 2,2 liter yang kemudian
digunakan sebagai bahan dasar untuk penyiraman sesuai dengan dosis
perlakuan

Aplikasi :
1. Larutan rebung bamboo dibuat dengan dosis 20 ml/l
2. Pemberian larutan ekstrak rebung bamboo sebanyak 10 ml/l bibit tiap kali
aplikasi
3. Aplikasi dilakukan setiap minggu pada pagi hari. Aplikasi dilakukan
masing-masing pada 1 bibit, bibit yang lainnya dibiarkan sebagai control
4. Bibit buah naga disisakan satu tunas
5. Diamati setiap hari dan disiram secukupnya bila kelihatan kering, dan
setelah 4 minggu setelah aplikasi (MSA)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berikut merupakan data hasil praktikum yang telah dilakukan
Tabel hasil 1. Data pengamatan akhir

Hari Lada Buah Lidah Mertua Mawar


(MSA) Naga
PT PD PT PT T PT PD
1 11 1 19 24 4 0 0
2 9,4 2 18 26 10 41 16

Keterangan: MSA = minggu setelah aplikasi


PT = pertumbuhan tinggi
PD = pertambahan jumlah daun
T = panjang tunas

4.2. Pembahasan
Giberelin adalah zat tumbuh yang sifatnya membantu pembentukan
tunas atau embrio, jika embrio terkena air embrio menjadi aktif dan
melepaskan hormon giberelin ( Salisbury dan Ross 1992). Praktikum ini
dilakukan dengan penggunaan giberelin alami yaitu rebung bamboo petung,
rebung tersebut sebelum diaplikasikan dihaluskan terlebih dahulu kemudian
dipanaskan baru disemprotkan pada stek tanaman tersebut.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa
pemberian giberelin pada stek tanaman lada, buah naga, dan lidah mertua
tidak terlihat nyata atau tidak terlalu berpengaruh hal ini dikarenakan
pengambilan data hanya dilakukan pada saat awal dan akhir saja dan
pengambilan sampel tidak menggunakan sampel yang sama sehingga tidak
terlihat berapa jumlah rata-rata pertumbuhan dari setiap stek tersebut baik itu
jumlah pertumbuhan tingggi, jumlah daun daun dan jumlah tunas pada stek
tanaman buah naga, lidah mertua, dan mawar. Pemberian giberelin pada fase
awal stek (Germination) sangat menguntungkan . Giberelin membantu proses
anzimatik untuk mengubah pati menjadi gula yang selanjutnya di translokasi
ke embrio. Gula akan di gunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan,
sehingga pertumbuhan dari tanaman berlangsung cepat. Pemberian GA3
dapat meningkatkan aktivitas kambium dan perkembangan xilem sehingga
aktivitas pertumbuhan berjalan lancar dan cepat. Pemberian Giberelin pada
tanaman kacang-kacangan akan memacu pertumbuhan dan mempercepat
perambatan. Begitu juga pada tanaman semangka, mentimun air, dan
mentimun yang di semprot giberelin mengalami perpanjangan batang yang
sangat cepat (Nugroho 2013).
Stek tanaman yan g menghasilkan pertumbuhan terbaik adalah stek
tanaman lidah mertua hal ini ditunjukkan dengan hasil sampel pada minggu
pertama pertumbuhan tinggi dan pertambahan tunas adalah 24 dan 4
sedangkan pada minggu ke keempat 26 dan 10 jika dibandingkan dengan
sampel pada stek lainnya dikarenakan stek lainnya menunjukkan
pertumbuhan tanaman yang hasilnya lebih kecil. Hal ini dikarenakan
komposisi pada pengaplikasian rebung bamboo, karena pada dasarnya setiap
tanaman memiliki jumlah atau komposisi zat pengatur tumbuh yang berbeda-
beda tergantung dari jenis tanaman dan umur dari tanaman tersebut.
Pernyataa ini sejalan lurus dengan literatur Zulfita et al (2013) fungsi rebung
bambu yang diaplikasikan ke tanaman adalah sebagai pertambahan diameter
batang, pertumbuhan tinggi, dan berat basah hal ini jika sesuai dengan
konsentrasi dan air yang dilarutkan ideal dan jenis dari tanaman tesebut.
Sedagkan menurut Purwasasmita (2009) konsentrasi yang terbaik pada
tanaman yaitu 50 ml/l yang dapat meningkatkan tinggi tanaman, luas daun
bobot kering, bobot basah pada tanaman kelapa sawit.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan Pengaruh


GA eksogen pada pertumbuhan bibit tanaman lada, mawar, dan lidah mertua
dapat memacu pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan tunas
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro D. 1992.Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama.
Heddy S. 1989. Hormon Tumbuhan. Jakarta : Rajawali.

Heddy S. 1990. Biologi Pertanian. Jakarta : Rajawali

Nugroho H. 1992. Perbanyakan, dan Perawatan Tanaman. Bogor : PT Gramedia.

Nugroho A.2013. meraup ntung budidaya rebung. Yogyakarta : Pustaka Baru


Press

Purwasasmita M. 2009. Pemanfaatan larutan MOL. Yogyakarta : UGM Press

Salisbury, Frank B. dan Cleon W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Bandung :


ITB.

Wattimena G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tumbuhan. Bogor : Pusat Antar
Universitas IPB.

Zainal Abidin. 1982. Dasar-Dasar Pengetahuan tentang Zat Pengatur Tumbuh.


Bandung : Angkasa.
Zulfita F S.2013. Pengaruh Konsentrasi Mikroorganisme (MOL) rebung bambu
terhadap pertumbuhan hasil tanaman kailan padat tanah gambut. Jurnal
Lembaga penelitian Universitas Tanjung Pura Pontianak.