Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KIMIA MEDISINAL

NAMA : SITTI JUMRIAH MAURANA

STAMBUK : G70115116

KELAS :D

BETAXOLOL

DESKRIPSI Betaxolol adalah senyawa beta blocker kardioselektif


turunan propanolamin. Betaxolol digunakan pada kasus
hipertensi, angina pectoris, dan glaucoma (Moffat,
2005). Pada kasus hipertensi, betaxolol selektif
memblok stimulasi katekolamin dari reseptor β1-
adrenergik di jantung dan otot polos vascular. Hal ini
menghasilkan pengurangan denyut jantung, curah
jantung, tekanan darah sistolik dan diastolic, serta
kemungkinan reflex hipotensi ortostatik.Betaxolol juga
dapat secara kompetitif memblok respon β2-adrenergik
pada bronkus dan otot polos vascular yang
menyebabkan broncospasme (DrugBank, 2012).
Rumus Molekul C18H29NO3
Struktur Kimia

Kelarutan sangat larut dalam air; mudah larut dalam


kloroform, etanol dan methanol; larut dalam
diklorometana; praktis tidak larut dalam eter.
pKa 9,4
Bioavailabilitas 89%
Log P 2,81
t½ 14-22 jam
Vd 8 L/kg
Klirens 0,28 L/jam/kg
Ikatan Protein 55%
Dosis 5 – 20 mg perhari
1. Hubungan struktur dan aktivitas biologis

Jika dilihat dari atom C, betaxolol merupakan senyawa nonpolar dimana


semakin banyak atom C pada struktur kimia suatu senyawa, maka senyawa
tersebut akan bersifat lebih nonpolar. Obat yang bersifat polar akan mengalami
kesulitan untuk dapat menembus membran biologis sehingga harus membentuk
ikatan dengan protein plasma agar dapat melewati membran bilayer, tetapi ketika
telah mencapai cairan sistemik, ikatan obat-protein ini akan menghalangi obat
untuk langsung berikatan dengan reseptor, sedangkan obat yang bersifat semipolar
dan non polar dapat menembus membran biologis dan mencapai sistem sistemik
dalam bentuk bebas sehingga dapat segera berikatan dengan reseptor. Sehingga
melihat dari toksisitas yang dihasilkan, obat-obat yang bersifat semipolar akan
lebih besar menimbulkan toksik daripada obat dengan sifat polar dan nonpolar.
Obat yang bersifat terlalu nonpolar, akan sulit untuk menembus cairan biologis
yang bersifat polar sehingga obat akan tertahan pada membran dan sulit untuk
dapat berikatan dengan reseptor sehingga efek toksik yang dihasilkan akan lebih
kecil daripada obat yang bersifat polar atau semipolar.

2. Farmakokinetik

a. Fase Absorbsi

Konstanta disosiasi (pKa) adalah sifat fisika kimia yang menjadi parameter
penentu dalam proses absorpsi suatu obat, terutama absorpsi yang melalui
saluran cerna. Hal ini dikarenakan dari pKa dapat diketahui obat tersebut akan
banyak terabsorpsi di pH lambung atau pH usus. Berdasarkan persamaan
Henderson-Hasselbach, derajat ionisasi tergantung pada dua faktor, yaitu:

- Tetapan ionisasi dari suatu senyawa atau pKa

- pH cairan dimana molekul zat aktif terdapat


(Siswandono dan Soekardjo, 2000)

Betaxolol memiliki nilai pKa yaitu 9,4 dari nilai tersebut dapat dilihat bahwa
betaxolol masuk kedalam golongan basa lemah, sehingga dapat diketahui obat
tersebut akan lebih banyak terabsorbsi didalam usus, kemudian dalam proses
absorbsinya yaitu kecepatan absorbsi obat yang tergantung pada koefisien partisi
(log P) yang memiliki nilai 2,81, jika dilihat dari nilai log P maka betaxolol
merupkan senyawa bersifat nonpolar. Hal ini didasarkan pada teori bahwa semakin
tinggi koefisien partisi suatu zat, maka semakin nonpolar zat tersebut. Jumlah atom
karbon dan substituen juga mempengaruhi sifat kepolaran suatu senyawa, di mana
semakin panjang rantai karbon suatu senyawa, semakin nonpolar senyawa tersebut.
Dilihat dari strukturnya, betaxolol lebih nonpolar karena terdapat
siklopropilmetoksi pada rantai sampingnya, sehingga betaxolol merupakan senyawa
yang mudah ntuk di absorbsi.

b. Fase Distribusi

Ketika obat berhasil terabsorpsi dan masuk ke dalam peredaran sistemik,


proses selanjutnya adalah proses distribusi. Proses ini bergantung pada sifat
kimia obat terutama kelarutan dalam lemak yang menentukan kepolaran suatu
senyawa obat. Dari segi struktur dan sifat fisiko kimia, betaxolol merupakan
senyawa nonpolar dengan log P 2,81 dan pKa bernnilai 9,4. Betaxolol
didistribusikan dengan volume distribusi 8 L/kg dan ikatan protein plasma
sebesar 55% (Moffat, 2005). Betaxolol memiliki ikatan protein plasma yang
paling besar, yaitu sekitar 55%, sehingga kadar obat bebasnya dalam darah
lebih rendah. Akibatnya betaxolol tidak dapat didistribusikan dengan optimum
pada jaringan target, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
menimbulkan efek farmakologis. Semakin non polar suatu senyawa maka
volume distribusinya akan semakin besar sebab obat akan lebih mudah
terdistribusi ke dalam jaringan dan konsentrasi obat dalam plasma akan lebih
kecil. Hal ini terjadi karena senyawa nonpolar akan lebih mudah menjalani
transport transmembran daripada senyawa polar. Akibat sifatnya yang lipofilik,
senyawa nonpolar akan mudah masuk ke lapisan lipid bilayer membran
(berhubungan dengan transportasi membran), dan akhirnya akan mudah masuk
ke dalam jaringan target untuk berikatan dengan reseptor dan akhirnya
menimbulkan efek farmakologis. Semakin cepat suatu obat didistribusikan,
maka semakin cepat obat tersebut dapat menimbulkan aktivitas biologis karena
akan lebih cepat membentuk kompleks obat-reseptor.

c. Metabolisme

Proses metabolisme suatu senyawa obat tergantung dari kepolarannya


karena pada dasarnya proses metabolisme adalah proses mengubah suatu
senyawa menjadi lebih polar sehingga lebih mudah dieliminasi dari dalam
tubuh. Obat-obat yang bersifat non polar seperti betaxolol akan lebih banyak
termetabolisme oleh hati dibandingkan atenolol. Metabolisme obat-obatan
tersebut di hati dilakukan oleh enzim sitokrom P450 (Moffat, 2005).

d. Eksresi

Proses eliminasi obat-obatan yang sebagian besar terjadi melalui ginjal


tergantung pada koefisien partisi lemak/air dari obat-obatan tersebut. Betaxolol
merupakan senyawa non polar sehingga obat tersebut akan berada dalam
bentuk bebasnya sehingga dapat diabsorpsi kembali oleh membran tubulus,
Untuk obat yang bersifat non polar dalam proses eliminasi dapat menimbulkan
toksisitas, karena obat tersebut akan terus direabsorpsi oleh membran tubulus
sehingga susah untuk diekskresi dari tubuh. Pada betaxolol, sekitar 15% dari
dosis diekskresikan bentuk tidak berubah melalui urin selama 24 jam.

DAFTAR PUSTAKA
Drug Bank. 2012. Open Data Drug and Drug Target Database.

Moffat C., D. Osselton, B. Widdop. 2005. Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons 3rd
Edition. Pharmaceutical Press.

Siswandono dan Bambang Soekardjo. 2000. Kimia Medisinal I. Surabaya: Airlangga


University Press.