Anda di halaman 1dari 12

Isu Kontemporer: Akuntansi Transaksi Kafalah, Qardhul Hasan, dan Hawalah.

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Matakuliah Akuntansi Keuangan


Syariah

Yang dibina oleh:

Virginia Nur Rahmanti, MSA., Ak.

Oleh:

1. Lia Widayanti Dwi Agustin (155020300111002)


2. Kristanti Kusworo (155020300111005)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
A. AKAD AL – KAFALAH (JAMINAN)
1) Definisi Akad Kafalah
Akad Kafalah merupakan perjanjian pemberian jaminan yang diberikan oleh
penanggung (kafi’il) kepada pihak ketiga (makful lahu) untuk memenuhi
kewajiban pihak kedua atau pihak yang ditanggung (makful anhu/ashil).
Secara teknis akad kafalah merupakan perjanjian antara seseorang yang
memberikan penjaminan kepada seorang kreditur yang memberika utang kepada
seorang debitur, di mana utang debitur akan dilunasi oleh penjamin apabila debitur
tidak membayar utangnya. Pada dasarnya kafalah merupakan jenis akad tabarru’
yang bertujuan untuk saling tolong – menolong. Namun, penjamin dapat menerima
imbalan sepanjang tidak memberatkan. Apabila ada imbalan, maka akad kafalah
bersifat mengikat dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak.

Skema Kafalah

(2) Makful/ Pihak ke-3


Kaafil/ Penanggung

(1)

Makful ‘alaih/ Pihak yang ditanggung

Keterangan:

(1) Penanggung bersedia menerima tanggungan dari pihak yang ditanggung.


(2) Penanggung menyepakati akad kafalah dengan pihak ketiga.
2) Rukun dan Ketentuan Syariah
Berikut merupakan 3 rukun dalam akad kafalah, yaitu:
a. Pelaku, yang terdiri atas pihak penjamin, pihak yang berutang, dan pihak
yang berpiutang.
b. Objek akad berupa tanggungan pihak yang berutang, baik berupa barang,
jasa, maupun pekerjaan.
c. Ijab Kabul atau serah terima.
Berikut ketentuan syariah dalam akad kafalah, yaitu:
1. Pelaku
a. Pihak Penjamin (Kafiil)
1) Baligh (dewasa) dan berakal sehat.
2) Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan
hartanya dan rela (rida) dengan tanggungan kafalah tersebut.
b. Pihak Orang yang Berutang (Ashiil, Makful ‘anhu)
1) Sanggup menyerahkan tanggungannya (utang) kepada penjamin.
2) Dikenal oleh penjamin.
c. Pihak Orang yang Berpiutang (Makful Lahu)
1) Diketahui identitasnya.
2) Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kasus.
3) Berakal sehat.
2. Objek Penjamin (Makful Bihi)
a. Merupakan tanggungan pihak yang berutang, baik berupa uang, benda,
maupun pekerjaan.
b. Bisa dilaksanakan oleh penjamin.
c. Harus merupakan utang mengikat.
d. Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya.
e. Tidak bertentangan dengan syariah.
3. Ijab kabul yang merupakan pernyataan dan ekspresi saling rida/ rela di
antara pihak – pihak pelaku akad baik secara verbal, tertulis, dan lain
sebagainya.

3) Berakhirnya Akad

Akad Kafalah berkahir ketika:


a. Utang telah diselesaikan, baik oleh orang yang berutang atau oleh penjamin.
b. Kreditur melepaskan utangnya kepada orang yang berutang, tidak pada
penjamin.
c. Ketika utang tersebut telah dialihkan.
d. Ketika penjamin menyelesaikan ke pihak lain melalui proses arbitrase dengan
kreditur.
e. Kreditur dapat mengakhiri kontrak kafalah walaupun penjamin tidak
menyetujui.
4) Perlakuan Akuntansi Al – Kafalah
 Bagi Pihak Penjamin
1. Pada saar menerima imbalan tunai (tidak berkaitan dengan jangka waktu)
Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Kas xxx
Pendapatan Kafalah Xxx

2. Pada saat membayar beban


Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Beban Kafalah xxx
Kas Xxx

 Bagi Pihak yang Meminta Jaminan


1. Pada saat membayar beban
Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Beban Kafalah xxx
Kas Xxx

B. QARDHUL HASAN
1) Pengertian Qardhul Hasan
Qardhul Hasan merupakan pinjaman tanpa dikenakan biaya, debitur
hanya wajib membayar sebesar pokok pinjamannya. Pinjaman uang seperti
inilah yang sesuai dengan ketentuan syariah, di mana tidak diperbolehkan
adanya pengembalian yang lebih besar dari pinjaman yang diberikan (riba).
Namun, debitur diperbolehkan atas kehendaknya sendiri memberikan hadiah
atas pokok pinjamannya.
Pinjaman qardh bertujuan untuk diberikan kepada orang yang
membutuhkan, untuk tujuan sosial atau untuk kemanusiaan. Cara pelunasan
dan waktu pelunasan pinjaman ditetapkan bersama antara pemberi dan
penerima pinjaman. Biaya administrasi dalam jumlah yang terbatas
diperkenankan untuk dibebankan kepada peminjam. Jika peminjam mengalami
kerugian bukan karena kelalaiannya maka kerugian tersebut dapat mengurangi
jumlah pinjaman.
Sumber dana qardhul hasan dapat berasal dari eksternal atau internal.
Sumber dana ekstrenal meliputi dana qardh yang diterima entitas bisnis dari
pihak lain (sumbangan, infak, shadaqag, dsb). Sedangkan contoh sumber dana
qard yang disediakan para pemilik entitas bisnis, yaitu pendapatan non halal
dan denda.
Skema Qardhul Hasan

(2)
Pemberi (1) Peminjam
v
Pinjaman
(4) (2)

Bisnis

(2)
(3)
Hasil Usaha

Keterangan:

(1) Pemberi pinjaman menyepakati akad qardhul hasan dengan peminjaman


(2) Peminjam menerima dan menjalankan usaha dengan dana pinjaman
(3) Jika memperoleh laba maka akan diperoleh peminjam
(4) Dana pinjaman akan dikembalikan kepada pemberi pinjaman.
2) Rukun dan Ketentuan Qardhul Hasan
 Terdapat tiga rukun dalam akad Qardhul Hasan, yaitu:
a. Pelaku, yang terdiri dari pemberi dan penerima pinjaman.
b. Objek akad, berupa uang yang dipinjamkan.
c. Ijab Kabul.
 Berikut beberapa ketentuan syariah dalam akad Qardhul Hasan, yaitu:
1. Pelaku, harus cukup hukum dan baligh
2. Objek akad
a) Jelas waktu peminjamannya dan pelunasannya.
b) Peminjam diwajibkan membayar pokok pinjaman pada waktu yang
telah disepakati, tidak boleh diperjanjikan mengenai penambahan
atas pokok pinjaman. Namun peminjam diperbolehkan untuk
memberikan sumbangan secara sukarela
c) Apabila peminjam mengalami kesulitan keuangan, maka waktu
peminjaman dapat diperpanjang atau dilakukan penghapusan
sebagian jumlah pinjaman. Namun, apabila peminjam melakukan
kelalaian maka akan dikenakan denda.
3. Ijab kabul yang merupakan pernyataan dan ekspresi saling rida/ rela di
antara pihak – pihak pelaku akad baik secara verbal, tertulis, dan lain
sebagainya
3) Perlakuan Akuntansi Qardhul Hasan
Pelaporan qardhul hasan disajikan tersendiri dalam laporan sumber dan
penggunaan dana qardhul hasan karena dana tersebut bukan aset perusahaan.
Berikut beberapa jurnal berkaitan dengan akad qardhul hasan.
 Bagi Kreditur
a) Saat menerima dana sumbangan dari pihak eksternal.
Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Dana Kebajikan - Kas xxx
Dana Kebajikan – infak/ xxx
sedekah/hasil wakaf

b) Saat menerima dana yang berasal dari pendapatan nonhalal dan denda.
Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Dana Kebajikan - Kas xxx
Dana Kebajikan – xxx
Pendapatan non halal

c) Saat melakukan pengeluaran dalam rangka pengalokasian dana qard


hasan.
Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Dana Kebajikan – Dana kebajikan xxx
produktif
Dana Kebajikan – Kas xxx

d) Saat menerima pengembalian dari pinjaman qard hasan.


Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Dana Kebajikan - Kas xxx
Dana Kebajikan – Dana xxx
Kebajikan Produktif

 Bagi Pihak Debitur


a) Saat menerima uang pinjaman
Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Kas xxx
Utang xxx

b) Saat pelunasan
Tgl Keterangan Ref Debit Kredit
Utang xxx
Kas xxx
C. AKAD HAWALAH (PENGALIHAN)
1) Pengertian Akad Hiwalah
Secara harfiah hawalah berarti pengalihan, pemindahan, perubahan
warna kulit atau memikul sesuatu di atas pundak. Objek yang dialihkan
dapat berupa utang atau piutang. Akad hawalah pada dasarnya merupakan
akad tabarru’ yang ditujukan untuk saling tolong – menolong.
Jika objek yang dialihkan merupakan utang, maka akad hawalah
merupakan akad pengalihan utang dari satu pihak yang berutang ke pihak
lain yang wajib menanggung utangnya. Secara teknis, pihak yang
berutang (muhil) meminta pihak lain untuk membayarkan terlebih dahulu
utangnya kepada pihak lain (muhal). Setelah akad hawalah dilakukan,
maka pihak yang berutang akan membayar kepada pihak yang telah
menanggung utangnya. Dalam hal ini, pihak yang mengambil alih utang
harus yakin pihak yang diambil alih utangnya dapat memenuhi
kewajibannya.
Jika yang dialihkan piutang maka akad hawalah merupakan akad
pengalihan piutang dari satu pihak yang berpiutang kepada pihak lain
yang berkewajiban menagih piutangnya. Dalam hal ini pihak yang
berpiutang meminta pihak lain untuk mengambil alih piutang yang
dimilikinya, dengan pengambilalihan ini pihak yang berpiutang akan
menerima uang dari pihak yang mengambil alih piutang, sementara pihak
yang berutang akan membayar pada pihak yang telah mengambil alih
piutang.
Pihak yang menerima pengalihan utang atau piutang dapat
memperoleh fee atau ujrah dan besarnya ujrah harus ditetapkan pada saat
akad secara jelas, tetap dan pasti.
2) Jenis Akad Hawalah
a. Ditinjau dari segi objek akad, akad hawalah dibagi menjadi dua, yaitu:
(1) Hiwalah Al Haqq, apabila yang dipindahkan merupakan hak
menagih piutang.
(2) Hiwalah ad-dain, apabila yang dipindahkan merupakan kewajiban
untuk membayar utang.

Skema Hiwalah (Anjak Piutang)

(2)

(1)
Penyuplai Pembeli

(3) (5)
(4)

(6)
Pengambil Alih

Keterangan:
(1) Pembeli dan penjual melakukan transaksi jual beli.
(2) Penjual menyerahkan barang dan berhak menerima uang/mengakui
piutang.
(3) Penjual mengalihkan hak tagih kepada pihak pengambil alih.
(4) Pengambil alih membayar kepada penjual.
(5) Pengambil alih menagih kepada pembeli.
(6) Pembeli membayar kepada pengambil alih.
b. Ditinjau dari sisi persyaratan, akad hawalah dibagi menjadi dua, yaitu:
(1) Hawalah al-muqayyadah, akad hawalah, dimana muhil adalah pihak
yang berutang sekaligus berpiutang kepada muhal’alaih.
(2) Hawalah al-muthlaqah, akad hawalah dimana muhil adalah pihak
yang berutang, tetapi tidak berpiutang kepada muhal’alaih.
3) Rukun dan Ketentuan Syariah
 Berikut rukun dalam akad hawalah, yaitu:
1. Pelaku, terdiri atas pihak yang berutang/berpiutang (muhil), pihak
yang berpiutang/berutang (muhal), dan pihak pengambil alih utang
atau piutang (muhal ‘alaih)
2. Objek akad, berupa utang dan/atau piutang.
3. Ijab Kabul.
 Berikut beberapa ketentuan syariah dalam akad hawalah, yaitu:
1. Pelaku, haruslah baligh dan berakal sehat, berhak penuh untuk
melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya, dan diketahui
identitasnya.
2. Objek penjaminan
a. Bisa dilaksanakan oleh pihak yang mengambil alih utang atau
piutang.
b. Harus merupakan utang atau piutang yang mengikat.
c. Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya.
d. Tidak bertentangan dengan ketentuan syariah.
3. Ijab kabul yang merupakan pernyataan dan ekspresi saling rida/ rela
di antara pihak – pihak pelaku akad baik secara verbal, tertulis, dan
lain sebagainya
4) Alternatif dalam Akad Hawalah
Untuk membantu masyarakat yang ingin menghindari riba dalam
pengalihan utang yang timbul dari transaksi nonsyariah yang telah
berjalan menjadi transaksi sesuai syariah. Berikut beberapa alternatif yang
dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional, yaitu:
a. Alternatif 1
1. LKS memberikan qard kepada nasabah. Dengan qardh tersebut
nasabah melunasi kreditnya. Dengan demikian, aset yang dibeli
dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh.
2. Nasabah menjual aset kepada LKS, dan hasil atas penjualan
tersebut digunakan untuk melunasi utang nasabah kepada LKS.
3. LKS menjual secara murabahah, aset yang telah menjadi milik
LKS tersebut kepada nasabah dengan cara pembayaran cicilan.
b. Alternatif 2
1. LKS memberikan qard kepada nasabah. Dengan qardh tersebut
nasabah melunasi kreditnya. Dengan demikian, aset yang dibeli
dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh.
2. Nasabah menjual aset kepada LKS, dan hasil atas penjualan
tersebut digunakan untuk melunasi utang nasabah kepada LKS.
3. LKS menyewakan aset yang telah menjadi miliknya kepada
nasabah, dengan akad al ijarah al muntahiya bit tamlik.
c. Alternatif 3
1. LKS membeli sebagian aset nasabah, dengan seizing Lembaga
Keuangan Konvensional, sehingga dengan demikian terjadilah
syirkah al-milk antara LKS dengan nasabah terhadap aset tersebut.
2. Bagian aset yang dibeli olek LKS adalah bagian aset yang senilai
dengan utang nasabah kepada LKK.
3. LKS menjual secara murabahah, aset yang telah menjadi milik
LKS tersebut kepada nasabah dengan cara pembayaran cicilan.
d. Alternatif 4
1. Dalam pengurusan untuk memperoleh kepemilikan penuh atas
aset, nasabah dapat melakukan akad ijarah dengan LKS.
2. Apabila diperlukan, LKS dapat membantu menalangi kewajiban
nasabah dengan menggunakan prinsip al-qardh.
3. Akad ijarah tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian
talangan.
4. Besar imbalan jasa ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah
talangan yang diberikan oleh LKS kepada nasabah.
DAFTAR PUSTAKA
Nurhayati, Sri. 2015. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.