Anda di halaman 1dari 9

1

1. Judul.
Optimalisasi Peran Kepemimpinan yang berkarakter, Guna Mendukung Pemimpin yang
Global, Strategis dan Visioner Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pokok TNI.
2. Pokok Masalah. Kepemimpinan Suatu Organisasi yang masih rendah sehingga
belum Dapat mengatasi Krisis Permasalahan yang dihadapi.
3. Permasalahan.
a. Karakter Pemimpin Yang belum Maksimal.
b. Pengaruh Psikologi yang dihadapi.
c. Kurangnya pemimpin yang strategis.
4. Pemecahan Permasalahan.
a. Umum.
Kepemimpinan adalah merupakan masalah sentral dalam pengurusan suatu
organisasi. Maju mundurnya suatu organisasi, mati hidupnya organisasi, tumbuh
kembangnya organisasi, senang tidaknya bekerja dalam suatu organisasi serta
tercapainya tidaknya tujuan organisasi sebagian di tentukan oleh tepat tidaknya
kepemimpinan yang di terapkan dalam oraganisasi yang bersangkutan.
Kepemimpinan Abad 21 ini beranjak dari pandangan bahwa pemimpin publik
harus mengenali secara tepat dan utuh baik mengenai dirinya mau pun mengenai
kondisi dan aspirasi masyarakat atau orang-orang yang dipimpinnya, perkembangan
dan permasalahan lingkungan strategis yang dihadapi dalam berbagai bidang
kehidupan, serta paradigma dan sistemorganisasi dan manajemen di mana ia berperan.
Tanggung jawab pemimpin adalah memberikan jawaban secara arif, efektif, dan
produktif atas berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi yang dilakukan
bersama dengan orang-orang yang dipimpinnya. untuk itu setiap pemimpin perlu
memenuhi kompetensi dan kualifikasi tertentu1.
Bangsa Indonesia dalam menyongsong tantangan peradaban global telah
mengalami masa yang sulit sebab pada tahun 1998 mengakibatkan krisis secara
universal yang merusak prestasi dan segala pencapaian pada masa orde baru dalam
berbagai aspek dimensi. Prosesnya dimulai dari krisis mata uang, krisis moneter, krisis
kepercayaan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik dan krisis kepemimpinan,
Adapun beberapa faktor tersebut, yakni :
1) Sikap mempertahankan Hegemoni Kenegaraan dan Pemerintahan.

1 http://www.academia.edu/11770011/KEPEMIMPINAN_ABAD_21
2

2) Sikap Paternalis-Feodalis para pemimpin ormas, pimpinan parpol,


maupun pimpinan birokrasi pemerintahan.
3) Pertumbuhan sektor swasta bersifat semu karena hasil mark-up,
fasilitas dan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme2.
Akhirnya di era sekarang, masyarakat mengalami kesulitan dalam menemukan
pemimpin adil, kuat, visioner, nasionalisme yang dalam nafasnya terkandung ruh-ruh
tiap butir perjanjian eksperimental para “Founding Father” dengan penghayatan penuh
hikmat kebijaksanaan.
1) Pemimpin yang adil, hanya akan memihak kepada kebenaran dan dia
selalu bersikap proporsional, tidak membedakan orang berdasarkan
keturunan, suku dan golongannya. Pemimpin yang melandaskan pada
pemahaman kepemimpinan demokrasi Indonesia adalah yang mampu
bersikap adil dan tidak mengutamakan satu kepentingan di atas
kepentingan lain.
2) Pemimpin yang berkarakter kuat, cerdas, displin, tegas, terbuka dan jujur
adalah impian masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki banyak calon
pemimpin yang berkarakter kuat. Hanya saja, kadang kala karakter yang
dimilikinya bisa menjadi lenyap ketika dihadapkan pada kehidupan nyata di dunia
pemerintahan (eksekutif, legislatif dan yudikatif) bilamana kedudukan dan
kekuasaan menjadi tujuan utama3.
3) Menurut Max Weber, pemimpin yang nasionalis,
a) Pertama, mereka harus memiliki komitmen memelihara
berlangsungannya aspirasi kebangsaan dan membangun budaya
kebangsaan yang berkualitas tinggi.
b) Kedua, mereka sudah selayaknya wajib berdedikasi atau
mengabdi kepada “kepentingan nasional” serta lebih mementingkan
kepentingan nasional daripada kepentingan pribadi, yaitu kelompok
maupun internasional yang merugikan.
c) Ketiga, lebih mementingkan terwujudnya idealisme kebangsaan
yang telah menjadi kesepakatan nasional sebagaimana yang

2 https://konfederasimahasiswanusantara.wordpress.com/2017/04/27/formulasi-dalam-menjawab-krisis-
kepemimpinan-bangsa-pasca-19-tahun-reformasi
3 https://hariyatnadeny.wordpress.com/2011/04/10/kepemimpinan-yang-berkarakter
3

tercantum dalam dasar negara demi terbangunnya integritas nasional


dan kesejahteraan bangsa4.
Kepemimpinan yang efektif tidak hanya mencalonkan dirinya dalam kedekatan
hubungan personal dan hubungan sosial di antara mereka, tetapi juga mencalonkan
dalam kemampuannya untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan bakat, keterampilan
dan potensi bawahannya. Tanggung jawab pemimpin menurut Belasco (2003) adalah
menciptakan kreasi visi dan budaya organisasi, sehingga para pekerja dapat berhasil
melalui usaha mereka sendiri bukan dengan usaha atasan saja. Menurut Kotter (1990)
menyebutkan tugas kepemimpinan, antara lain memberi arahan, menyelaraskan
wawasan, memotivasi dan menginspirasi pengikut, mendorong perubahan menuju visi
yang ingin dicapai5.
Karakter pemimpin yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Mampu menilai diri Anda secara realistis Seorang pemimpin yang
memiliki karakter dia mampu menilai dirinya sendiri, kelebihan dan
kekurangannya, baik secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
Dia menyadari bahwa untuk menjadi pemimpin mengambil karakter mulia yang
mengarah pada hati nurani yang memungkinkannya bertindak jujur, berani,
teguh dan berintegritas.
2) Mampu menilai situasi dan kondisi secara realistis Seorang pemimpin
yang memiliki karakter mampu menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang
ia alami secara realistis. Dia ingin menerima secara adil apa yang terjadi dalam
hidupnya, tidak mengharapkan kondisi kehidupan menjadi sempurna. Artinya dia
tidak tergila-gila dengan uang atau jabatan.
3) Mampu menilai prestasi realistis yang menjadi ciri khas dia bisa
menilai keberhasilan yang dia dapatkan dan bereaksi secara rasional. Dia tidak
sombong atau mengalami keunggulan yang kompleks, jika mencapai
prestasi tinggi atau kesuksesan hidup jika tidak gagal, dia tidak bereaksi
dengan frustrasi, tetap bersikap sikap optimis.
4) Menerima tanggung jawab dengan tulus Dia memiliki kepercayaan diri
dalam kemampuannya mengatasi masalah kehidupan dan pekerjaan yang

4 https://www.bernas.id/17964-bagaimana-nasionalisme-seorang-pemimpin.html
5 Penulis buku Amirullah, SE. MM penerbit Mitra Wacana Media 2015
4

dihadapinya. Dia pro aktif menerima tanggung jawab yang diberikan oleh atasan
dengan ketulusan dan ketulusan.
5) Merdeka dia memiliki sikap mandiri dalam berpikir dan bertindak dia
mampu mengambil dan mengembangkan diri.
6) Menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya. Mampu
mengendalikan emosinya Dia mampu mengendalikan emosinya dan ini terbukti
saat dia menghadapi situasi frustasi, depresi atau stres, tapi dia melakukan
tindakan positif atau konstruktif.
7) Orientasi objektif Pemimpin karakter mampu merumuskan tujuan dalam
setiap aktivitas dan kehidupan. Dengan pertimbangan hati-hati (rasional, bukan
atas dasar dari luar) Dia berusaha mencapai tujuan dengan mengembangkan
kepribadian, pengetahuan dan keterampilan.
8) Karakteristik eksternal yang berorientasi (pemimpin) Karakteristik-
karakteristik untuk menghormati orang lain. atau masalah lainnya dan
memiliki kepedulian terhadap situasi di lingkungan selain itu dia fleksibel. Ia
merasa menghargai dan menghargai orang lain seperti dirinya dan nyaman
dan terhadap orang lain. Dia bukan dirinya sendiri dulu adalah korban lain karena
kekecewaan dirinya.
9) Pemimpin yang Bertanggung Jawab Secara Sosial yang karakternya dia
ikuti secara aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap ramah dalam
berurusan dengan orang lain.
10) Miliki keyakinan atau harapan hidup yang lebih baik Pemimpin karakter
menjalani hidup mereka berdasarkan keyakinan, pengalaman, dan nilai hidup
religius mereka. Ia meyakini bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik, jika
disertai kerja keras dan optimisme.
11) Orientasi kebahagiaan Pemimpin yang hidupnya ditandai dengan
kebahagiaan, didukung oleh faktor prestasi, penerimaan, dan kasih sayang. Dia
lebih menyukai kebahagiaan (kesejahteraan) orang lain daripada dirinya sendiri.

b. Karakter Pemimpin Yang belum Maksimal.


Pemimpin memiliki karakter berusaha menciptakan sesuatu yang baru (selalu
berinovasi). Gagasan yang dimiliki pemimpin itu sendiri tidak meniru atau menjiplak.
Pemimpin selalu berusaha untuk mengembangkan apa yang dia lakukan. Setiap
pemimpin memiliki gaya kepemimpinan, terkadang ketika sang pemimpin tidak memberi
5

bawahannya kesempatan untuk bertanya kepada Fairy atau meminta penjelasan


(Otoriter), Analisis analisis dalam kaitannya dengan penelitian yang dilakukan oleh
Stogdill (1974) mengungkapkan sejumlah karakter yang secara konsisten
mendemonstrasikan karakteristik pemimpin Karakter yang efektif. Karakter-Karakter
tersebut adalah:
1). Rasa tanggung jawab
2) Semangat
3) Kemauan
4) Mengambil risiko
5) Orisinalitas
6) Kapasitas untuk menangani tekanan oleh
7) Kapasitas untuk mempengaruhi plakat
8) Kapasitas untuk mengkoordinasikan upaya orang lain dalam mencapai
tujuan Kepemimpinan dalam organisasi, masyarakat, Nasional, berdasark
moralitas, Moral yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan para pemimpin
adalah keuntungan bersama.

c. Pengaruh Psikologi yang dihadapi.


Aspek psikologis dalam kepemimpinan (Leadership) lebih mengarah pada
bagaimana seorang pemimpin mampu menjadi teladan bagi bawahannya, sehingga
apa yang dia inginkan (dalam konteks organisasi) diikuti, segala yang diperintahkan
dilakukan sebaik mungkin, dan apa-apa yang dia larang dipatuhi untuk dijauhi.
Keteladanan terwujud karena ia memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang jarang
(bahkan tidak) dimiliki oleh bawahannya. Dan tambahan lagi bahwa kelebihan tersebut
menduduki posisi dominan dalam kelompoknya. Diantara kelebihan yang dapat
mengantarkan seorang pemimpin menjadi teladan bagi bawahannya adalah
keunggulannya dalam hal integritas pribadi, penguasaan IPTEK, aspiratif, apresiasif,
cepat mengambil keputusan dan melakukan tindakan, dan sejenisnya. Gambaran
aspek psikologis demikian berlaku umum pada organisasi yang solid.
Untuk itu seorang pemimpin harus mempunyai modal dasar sehingga mampu
melaksanakan fungsi-fungsi manajerial. Kaitannya dengan leadership, fungsi manajerial
yang terutama dan mendasar harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah: Actuating,
yaitu kemampuan pemimpin dalam mempengaruhi dan mengarahkan tindakan
seseorang atau kelompok pada suatu organisasi dalam upaya memanfaatkan
6

sumberdaya manusia, material, teknologi dan finansial untuk mencapai tujuan secara
efektif6. Untuk dapat bertahan dan berkembang, seorang pemimpin harus memiliki dan
menyadari kebutuhan akan kompetensi kepemimpinan Berikut adalah lima kompetensi
inti yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang ingin sukses berdasarkan penelitian
psikologis:
1) Pengambilan Keputusan, yang menentukan Pemimpin yang sukses
membuat banyak keputusan dan tidak plin dan Seorang pemimpin harus
waspada dalam memilih keputusan yang bertanggung jawab dalam pilihannya.
Pemimpin membutuhkan kepastian dan ketegasan dalam membuat keputusan
provisi.
2) Resiko integritas tinggi, Pemimpin yang jujur dan kredibel akan
meningkatkan dan semangat dan kinerja pengikut yang dipimpinnya secara
keseluruhan, orang-orang yang dipimpin akan berkomitmen, setia, kepada
pemimpin yang terpercaya.
3) Visioner, adalah salah satu kualitas terpenting yang membedakan
seorang pemimpin dari pengikut. Pemimpin harus bisa memproyeksikan ke
depan, memberikan motivasi dan tujuan untuk maju bersama dan menunjukkan
jalan visinya sehingga pengikutnya tidak tersesat.
4) Gigih, Pemimpin yang gigih yang berhasil membawa perubahan dan
kemajuan adalah mereka yang tidak pernah menyerah. Meski demikian,
pemimpin yang baik juga tetap fleksibel dan tidak kaku dalam mengejar
pencapaian tujuan dengan ketekunan.
5) Ahli, seorang pemimpin adalah orang yang unggul, mampu bernegosiasi
dan komunikatif, dapat mempengaruhi orang lain dan ahli persuasi. Keahlian
seorang pemimpin terutama untuk mensinergikan berbagai kemampuan
anggotanya dan mengolah berbagai sumber yang tersedia. Tutupi kekurangan
dan maksimalkan keuntungan dari kelompok sehingga bisa membawa
kesuksesan bersama. Untuk mengolah sumber daya ini dan mengoptimalkan
modal yang dikelola untuk kepentingan semua. Dengan inti ini, seorang
pemimpin akan memiliki modal untuk memberikan kesuksesan pada organisasi
yang dipimpinnya. Namun, satu hal yang perlu diingat oleh pemimpin yang

6 https://ekyekong.wordpress.com/2012/12/25/psikologi-dalam-kepimpinan/
7

kompeten adalah kecenderungan manajer membuat keputusan sendiri dan


hanya ada satu fokus. Ini membawa risiko tidak ada manajemen dinamis, atau
peluang bisnis yang tidak menguntungkan, dan keputusan diambil setelah
terlambat. Demikian juga sebuah organisasi yang disesuaikan dengan
kepribadian individu per orang daripada kebutuhan lingkungan bisnis yang akan
dicapai, akan menjadikan organisasi itu sarana untuk kepentingan kepribadian,
dan bukan untuk mencapai tujuannya.

d. Kurangnya pemimpin yang strategis.


Memimpin Dengan Strategi Jadi seorang pemimpin harus bisa menyusun
strategi sebelum melakukan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan. Janganlah
pemimpin bekerja dengan cara atau merasakan bagaimana mantan pemimpin
memimpin kepemimpinan. Dalam pelaksanaan strategi untuk mencapai tujuan itu harus
mengacu pada manajemen administrasi (manajemen), dan aturan kepemimpinan
sebagaimana tercantum dalam kerangka kerja (working frame) yang meliputi staf
pelaksana (sumber daya), keterampilan (skill), nilai sistem pelaksana, dan gaya
kepemimpinan7. Selain itu perlu dipikirkan evaluasi, siapa tahu ada kendala yang
menghambat tercapainya tujuan. Dan jika ada kendala, hadapilah, meningkatkan
semangat memenuhi komitmen, dan pastinya menyerah kepada Tuhan yang akan
memberikan hikmat dan kekuatan yang bisa mengatasi hambatan yang melekat pada
salah satu tujuan pemimpin untuk membangun semangat. Pemimpin juga mampu
mendorong orang-orang yang dipimpin dan diikutsertakan. Minta buah pikiran untuk
berperan. John F. Kenndedy yang pernah menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat
menyampaikan kepada rakyatnya “Jangan bertanya kepada negerimu apa yang Bisa
dilakukannya untukmu, Sebaliknya tanyakan apa yang bisa kau lakukan untuk
negerimu”.
Memimpin Dengan Strategi Menjadi pemimpin harus bisa memimpin. Salah satu
kepemimpinan yang efektif adalah kemampuan untuk membuat strategi dalam
mencapai tujuan. Dalam hal ini, para pemimpin harus mengembangkan rencana strategi
tertulis yang mencakup tujuan jangka pendek, menengah dan panjang, dengan nama
pelaksana, kegiatan, pendanaan, dan bagaimana mendapatkan dana. Seorang calon
pemimpin harus tahu bagaimana membuat strategi ini dan memasukkannya ke dalam

7
Penulis buku Emil H. Tambunan, Ma, Phd, penerbit Avrico Jakarta, Oktober 2011
8

Rencana Induk. Jangan biarkan pemimpin hanya duduk di kantornya, membaca laporan
dan kemudian mengeluarkan instruksi. Atau memimpin cara lama, ikuti atau lanjutkan
mantan pimpinan tanpa ada niat melakukan perubahan. Memang banyak pemimpin
yang menempati kursi kepemimpinan tanpa pengetahuan bekerja dengan strategi
visioner ke depan.

5. Penutup.

a. Kesimpulan.

Banyaknya permasalahan yang tengah melanda bangsa Indonesia merupakan


dampak dari rendahnya kualitas dan moral pemimpin bangsa yang tidak bisa menjadi
contoh dan teladan. Sehingga menimbulkan krisis kepemimpinan pada semua aspek
kehidupan yang akhirnya menghambat pada terwujudnya tujuan nasional seperti yang
termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
Untuk meningkatkan kualitas dan moral pemimpin bangsa maka diperlukan
pembangunan intelektual yang berkarakter dengan dilandasi semangat nasionalisme
yang tinggi. Hal tersebut tentunya membutuhkan peran serta seluruh elemen bangsa
yang dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah/lembaga pendidikan,
pemerintah, LSM maupun media sosial yang bersinergi guna mencetak kader
bangsa/pemimpin nasional yang dapat memperjuangkan cita-cita luhur proklamasi
kemerdekaan.

b. Saran.
1) Pembentukan karakter perlu adanya penanaman nilai-nilai kepemimpinan
TNI ke setiap pemimpin maupun calon pemimpin TNI baik melalui kurikulum
pendidikan TNI maupun dalam seminar-seminar atau kursus-kursus yang
berkaitan dengan pengaplikasian nilai-nilai kepemimpinan TNI dalam kehidupan
setiap pemimpin TNI.
2) Perlunya dikembangkan terus profesionalisme dan kompetensi Pemimpin
(perwira), sehingga muncul suatu keberanian, keyakinan, dan kepercayaan diri
yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan.
3) Didalam tubuh TNI tetap berpedoman berdasarkan sumpah prajurit dan 8
wajib TNI.
9

4) Perlunya ketegasan pemerintah terutama aparat penegak hukum


(Kejaksaan, Polri maupun KPK) untuk menegakkan hukum sesuai aturan yang
berlaku terhadap tindakan kejahatan yang merugikan bangsa dan negara
terutama yang dilakukan oleh pemimpin bangsa.
5) Media sosial diharapkan mampu menjadi penyaring informasi, penengah
serta selalu tetap menjaga reputasi dan kredibilitasnya dalam tubuh TNI.

Jakarta, Februari, 2018


Perwira Siswa

Franky H.K
Mayor Mar NRP 16146/P