Anda di halaman 1dari 23

FUNGSI TAMAN KOTA SEBAGAI RUANG PUBLIK UNTUK

INTERAKSI SOSIAL

(STUDI DI TAMAN KOTA CIBINONG)

Disusun Oleh:

Elsa Pratiwi

4915133434

PENDIDIKAN IPS

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

201
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ruang publik sebagai bagian dari ruang kota tidak dapat dipisahkan

keberadaannya dari suatu kota. Menurut Sunaryo (2004), sistem kota merupakan

pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat yang meliputi tempat tinggal,

bekerja, dan rekreasi. Ruang publik memiliki arti penting untuk wilayah atau

kawasan perkotaan, sebab peranan utama ruang publik adalah menyelaraskan pola

kehidupan masyarakat suatu kota (Kustianingrum, 2013).

Masyarakat kota yang memiliki aktivitas, mulai dari pagi hingga sore

bahkan dari awal pekan hingga akhir pekan telah menunggu untuk selesai.

Melakukan aktivitas yang sama setiap harinya tentu akan menimbulkan suatu

kejenuhan. Maka dari itu masyarakat kota membutuhkan suatu lokasi yang

berbeda dengan lingkungan tempat mereka bekerja untuk melakukan aktivitas di

luar rutinitasnya. Keberadaan ruang publik di suatu kota bertujuan untuk

menyediakan lokasi yang dapat digunakan oleh masyarakat kota untuk melakukan

aktivitas sosial dengan nyaman (Kustianingrum, 2013).

Daerah perkotaan akan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke

waktu yang mencakup berbagai dimensi antara lain dimensi politik, sosial,

ekonomi, budaya, dan teknologi dan fisik. Salah satu kebutuhan fisik masyarakat

perkotaan adalah tersedianya areal ruang publik (public space). Setiap kota
diharapkan melakukan penataan terhadap kawasan ruang publik, dan disusun

dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. Selama ini pembangunan kota

dicerminkan oleh perkembangan kota secara fisik melalui pertumbuhan sarana

dan prasarana pendukung kehidupan masyarakat perkotaan.

Pembangunan kota yang cenderung kearah fisikal tanpa diiringi dengan

kesadaran pembangunan lingkungan telah menyebabkan dilema sangat minimnya

ruang terbuka publik di daerah perkotaan. Padahal jika ditelaah lebih lanjut,

keseimbangan lingkungan perkotaan sama pentingnya dengan pertumbuhan fisik

dan ekonomi kota. Dalam menyusun rencana tata ruang wilayah kota, suatu kota

diharapkan menyediakan dan memanfaatkan ruang terbuka hijau dan ruang- ruang

terbuka publik.

Kehadiran ruang publik di suatu kota menjadi salah satu pilihan tempat

bagi masyarakat untuk menghilangkan penat yang dirasa. Ruang publik sebagai

ruang terbuka terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka non hijau

publik. Ruang terbuka hijau publik adalah area memanjang/jalur dan atau

mengelompok, yang penggunaanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh

tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja

ditanam yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang

digunakan untuk kepentingan masyarakat. Sedangkan ruang terbuka non hijau

publik merupakan ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk

kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air yang

dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan


untuk kepentingan masyarakat (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5

Tahun 2008).

Dalam undang-undang RI No.26 tahun 2007, tentang Penataan Ruang,

pasal 29 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa proporsi ruang terbuka hijau pada

wilayah kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota, dan proporsi ruang

terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20% dari luas wilayah

kota. Setelah kita mengetahui apa yang ada didalam undang-undang kita tahu

bahwa RTH keberadaannya sangat penting sekali peranannya. Karena keberadaan

RTH memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam dan

lingkugan buatan. Serta untuk menjaga kualitas udara yang ada.

Dari informasi yang didapat dari data Statistika Kabupaten Bogor luas

hutan di kecamatan cibinong 9 HA, luas wilayah 44,39 km2, kepadatan jiwa 6,993

km2, jumlah 310, 415 jiwa, jumlah rumah tangga 81, 789. Dari jumlah tersebut

yang dimanfaatkan oleh masyarakat kecamatan Cibinong yang menjadi satu-

satunya ruang terbuka publik yang dimanfaatkan adalah Taman kota Cibinong

atau yang biasa disebut Danau Dora. Ruang terbuka hijau(RTH) memiliki

beragam fungsi yang dapat ditinjau dari beberapa aspek. Dari aspek fungsi

ekologis, sosial/budaya, arsitektural, dan ekonomi. Secara ekologis RTH dapat

meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara, dan

menurunkan suhu kota tropis yang panas terik. Bentuk-bentuk RTH perkotaan

yang berfungsi ekologis antara lain seperti sabuk hijau kota, taman hutan kota,

taman botani, jalur sempadan sungai dan lain-lain.


Taman kota merupakan salah satu jenis ruang terbuka hijau publik yang

biasanya dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu libur atau sekedar waktu

luang ditengah rutinitas. Taman kota yang berfungsi sebagai ruang publik tentu

akan menjadikan lokasi ini ramai dikunjungi banyak orang. Mereka datang

melakukan aktivitas yang berbeda- beda, misal ada yang sekedar membaca buku

sambil duduk di bawah pohon, jogging, dan mungkin ada yang datang ke taman

kota dalam misi untuk berdagang. Taman kota sebagai ruang publik ibarat suatu

wadah dimana di dalamnya terjadi interaksi sosial.

Interaksi yang terjadi secara berkelanjutan akan membawa suatu

perkembangan, baik dari segi fungsi, penyediaan fasilitas, dan aktivitas yang

terjadi di taman kota. Sejatinya tidak ada yang statis, begitu halnya dengan taman

kota sebagai ruang publik, seiring berjalannya waktu pasti ada perubahan yang

terjadi. Fungsi taman pada tahap perencanaan mungkin saja akan berubah ketika

sudah dihadapkan pada realita yang ada. Penyediaan fasilitas taman tentu akan

berubah, baik dari segi jumlah yang akan bertambah maupun berkurang.

Kemudian aktivitas yang dilakukan oleh orang- orang yang berada di kawasan

taman kota juga akan mengalami suatu perkembangan.

Maka berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang interaksi yang terjadi di taman kota.. Adapun judul yang dapat

diajukan adalah:

“FUNGSI TAMAN KOTA SEBAGAI RUANG PUBLIK UNTUK INTERAKSI

SOSIAL
(STUDI DI TAMAN KOTA CIBINONG)”

B. Masalah Penelitian

Daerah perkotaan akan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu

yang mencakup berbagai dimensi antara lain dimensi politik, sosial, ekonomi,

budaya, dan teknologi dan fisik. Salah satu kebutuhan fisik masyarakat perkotaan

adalah tersedianya areal ruang publik (public space). Setiap kota diharapkan

melakukan penataan terhadap kawasan ruang publik, dan disusun dalam Rencana

Tata Ruang Wilayah Kota. Selama ini pembangunan kota dicerminkan oleh

perkembangan kota secara fisik melalui pertumbuhan sarana dan prasarana

pendukung kehidupan masyarakat perkotaan.

Pembangunan kota yang cenderung kearah fisikal tanpa diiringi dengan

kesadaran pembangunan lingkungan telah menyebabkan dilema sangat minimnya

ruang terbuka publik di daerah perkotaan. Padahal jika ditelaah lebih lanjut,

keseimbangan lingkungan perkotaan sama pentingnya dengan pertumbuhan fisik

dan ekonomi kota. Dalam menyusun rencana tata ruang wilayah kota, suatu kota

diharapkan menyediakan dan memanfaatkan ruang terbuka hijau dan ruang- ruang

terbuka publik.

Taman kota merupakan salah satu jenis ruang terbuka hijau public yang

biasanya dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu libur atau sekedar waktu

luang ditengah rutinitas. Taman kota yang berfungsi sebagai ruang public tentu

akan menjadikan lokasi ini ramai dikunjungi banyak orang. Mereka datang
melakukan aktivitas yang berbeda- beda, misal ada yang sekedar membaca buku

sambil duduk di bawah pohon, jogging, dan mungkin ada yang datang ke taman

kota dalam misi untuk berdagang. Taman kota sebagai ruang publik ibarat suatu

wadah dimana di dalamnya terjadi interaksi social.

Interaksi yang terjadi secara berkelanjutan akan membawa suatu

perkembangan, baik dari segi fungsi, penyediaan fasilitas, dan aktivitas yang

terjadi di taman kota. Sejatinya tidak ada yang statis, begitu halnya dengan taman

kota sebagai ruang publik, seiring berjalannya waktu pasti ada perubahan yang

terjadi. Fungsi taman pada tahap perencanaan mungkin saja akan berubah ketika

sudah dihadapkan pada realita yang ada. Penyediaan fasilitas taman tentu akan

berubah, baik dari segi jumlah yang akan bertambah maupun berkurang.

Kemudian aktivitas yang dilakukan oleh orang- orang yang berada di kawasan

taman kota juga akan mengalami suatu perkembangan.

Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah yang terkait antara lain:

1. Bagaimana fungsi taman kota sebagai ruang publik untuk tempat interaksi

sosial bisa berjalan?

2. Apa manfaat yang didapat jika interaksi sosial ini bisa berjalan?

C. Fokus Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka peneliti

mengambil fokus penelitian berupa “FUNGSI TAMAN KOTA SEBAGAI

RUANG PUBLIK UNTUK INTERAKSI SOSIAL (STUDI DI TAMAN KOTA

CIBINONG)”

D. Tujuan dan kegunaan Penelitian

1. Secara teoritis, penelitian ini memberikan gambaran secara komprehensif

tentang fungsi taman kota sebagai ruang publik di kawasan perkotaan

sehingga dapat menambah wawasan.

2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi

pemerintah Kota Cibinong yang berkaitan dengan perencanaan dan

pembangunan daerah dalam hal ini tentang taman kota sebagai ruang

publik untuk tempat interaksi sosial.

3. Menambah wawasan pembaca tentang ruang publik untuk tempat interaksi

sosial di kawasan perkotaan.

E. Kerangka Konseptual

a. Ruang publik

Menurut Walzer dalam Madanipour (1996), ruang publik adalah ruang di

mana kita berbagi dengan orang asing, yaitu orang-orang yang bukan saudara-

saudara, teman-teman atau rekan kerja kita. Ruang publik adalah ruang untuk

politik, agama, perdagangan, olahraga atau ruang untuk hidup berdampingan


secara damai dan untuk pertemuan yang tidak bersifat pribadi. Kemudian Carr

dalam Madanipour (1996), mendefinisikan ruang publik sebagai landasan

bersama dimana orang-orang melaksanakan kegiatan fungsional dan ritual

yang mengikat masyarakat baik dalam rutinitas normal kehidupan sehari-hari

atau dalam perayaan periodik.

Carr dalam Madanipour (1996) mengatakan bahwa ruang publik adalah

panggung berlangsungnya drama kehidupan masyarakat, sebab menurut

Francis Tibbalds ruang publik menggambarkan kondisi masyarakat, budaya

masyarakat, dan wacana sehari-hari. Ruang publik menekankan pada akses

yang terbuka dan keberagaman kegiatan. Akses terbuka artinya siapa saja

boleh memasuki ruang ini dan keberagaman kegiatan yaitu aktivitas yang

dilakukan oleh orang-orang yang berada di ruang publik adalah berbeda-beda.

Akibat dari akses yang terbuka maka banyak orang yang datang sehingga akan

terjadi interaksi sosial.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat kita simpulkan bahwa ruang publik

adalah tempat di mana kita berinteraksi dan berbagi dengan orang lain atau

orang yang tidak kita kenal. Akses ruang publik adalah terbuka yaitu setiap

orang memiliki hak untuk memasukinya tanpa harus membayar biaya masuk

terlebih dahulu. Ruang publik merupakan ruang milik bersama yang

digunakan untuk kepentingan bersama.


b. Interaksi Sosial

Astrid S. Susanto (1985) mendefisinikan interaksi sosial sebagai

hubungan antarmanusia yang menghasilkan hubungan tetap yang

memungkinkan pembentukan struktur sosial. Hasil interaksi sangat ditentukan

oleh nilai dan arti serta interpretasi yang diberikan oleh pihak- pihak yang

terlibat Dlam interaksi ini.

Soerjoni Soekanto memandang interaksi social merupakan dasar

proses sosial yang terjadi karena adanya hubungan sosial yang dinamis

mencakup mencakup hubungan antarindividu, antarkelompok, atau antara

individu dan kelompok.

Murdiyatmoko dan Handayani (2004) mendefinisikan bahwa interaksi

sosial adalah hubungan yang menghasilkan proses saling mempengaruhi yang

menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan

pembentukan struktur sosial.

Berdasarkan semua definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa

interaksi sosial merupakan kebutuhan dalam kehidupan bermasyarakat, yang

dapat berpengaruh terhadap kelompok masyarakat tempat seorang individu

hidup dengan lingkungan sekitar.


BAB II

METODE PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

Ekologi Park atau yang lebih dikenal dengan nama Danau Dora ini sudah

dibangun sejak tahun 2002. Danau seluas 23 hektar ini berfungsi sebagai taman

konservasi dan juga ruang terbuka hijau, seiring berjalannya waktu taman yang

dibangun tahun 2002 ini menjadi tujuan wisata murah di Bogor. Meskipun para

wisatawan baru sekitar Jabodetabek saja namu danau Dora di Cibinong hamper

setiap akhir pekan selalu ramai. Untuk harga masuk danau Dora Bakos alias gratis

tidak dipungut bayaran hanya diminta uang Rp. 3000 untuk parkir. Lokasinya

yang tidak begitu jauh dari pusat Pemerintahan Daerah Bogor (Pemda), membuat

tempat ini mudah sekali untuk didatangi. Hanya berjarak kurang lebih sekitar 500

meter dari pintu gerbang Pemda atau Cibinong City Mall, ke arah Bogor.

Tepatnya ada di kawasan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) atau

sering disebut Bakosurtanal. Berada di Jl. Raya Bogor Km. 46, jika dari arah

Bogor adanya disebelah kiri. Danau ini merupakan taman konservasi alam yang

menjadi bagian perluasan Kebun Raya Bogor, dan menjadi tujuan tempat wisata

murah di Bogor. Sering dijadikan tempat olah raga dipagi atau sore hari. Danau

yang dihiasi teratai serta jembatan kayu yang terawatt untuk menghubungkan

daratan disebrangnya membuat danau Dora Cibinong pantas dikunjungi.


Pada bagian daratan lain ada gazebo yang bisa digunakan untuk gathering.

Danau ini menjadi surga bagi lokasi banyak sekali tempat yang bagus untk berfoto

ria .Selain untuk berfoto bersama keluaraga atau teman, danau Dora ini juga

sering menjadi pilihan foto prewedding dikarenakan tempatnya yang indah.

Biasanya banyak juga yang berkunjung ke danau Dora ini untuk berlari pagi. Dan

juga banyak pepohonan yang rindang membuat udara semakin sejuk. Tetapi

semakin lama danau Dora tidak menjadi tempat yang seharusnya. Sering kali

disalah gunakan sebagai tempat berpacaran. Tidak jarang juga sampah berserakan

karena pengunjung yang datang.

B. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini berupa tulisan, uraian, dan gambar. Data

diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumen. Pada penelitian

kualitatif tidak ada sampel acak, tapi purposive sampling (sampel bertujuan) yaitu

tidak menggunakan sampel yang banyak tetapi memilih secara purposif dengan

suatu alasan.

Metode penelitian kualitatif pada penelitian ini menggunakan strategi

studi kasus. Dalam buku Nusa Putra yang berjudul Metode Penelitian

Kualitatif Pendidikan, Cresswell mengutip Stake, diuraikan bahwa:

“Studi kasus merupakan strategi penelitian dimana di dalamnya

peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas,


proses, atau sekelompok individu. Kasus-kasus dibatasi oleh waktu

dan aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap

dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data

berdasarkan waktu yang telah ditentukan”

Penggunaan strategi studi kasus sangat tepat dilakukan untuk melakukan

penelitian secara mendalam mengenai fokus penelitian, sehingga data yang

didapatkan dari lapangan lebih akurat. Dengan strategi studi kasus, data yang

diperoleh dapat dibatasi sesuai dengan fokus penelitian yaitu program pendidikan

kecakapan hidup dengan fokus kegiatan pendidikan seni budaya rakyat.

Pembagian sumber data yang akan dilakukan peneliti terdiri dari data

primer dan data sekunder yaitu sebagai berikut:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara dan

observasi oleh peneliti langsung di lapangan. Sumber primer adalah sumber

pokok dalam penelitian ini dimana peneliti langsung terlibat dengan

informan yang diteliti. Penelit mendapatkan data dari hasil wawancara

dengan informan yang mengetahui bagaimana FUNGSI TAMAN KOTA

SEBAGAI RUANG PUBLIK UNTUK INTERAKSI SOSIAL (STUDI DI

TAMAN KOTA CIBINONG) yaitu:


a) Informan kunci

Informan kunci adalah orang atau sekelompok orang yang bukan

saja memiliki akses dengan orang-orang di dalam komunitas, tetapi juga

memiliki akses informasi dari komunitas yan akan dimasuki. Biasanya

mereka adalah orang dalam, bagian dari komunitas atau penduduk asli atau

pribumi, namun memiliki akses dan jaringan yang sangat dibutuihkan

dalam penelitian.1

b) Informan inti

Untuk melengkapi data yang diperoleh dari informan kunci, maka

sumber data ini juga diperoleh dari informan inti. Informan inti dalam

penelitian ini adalah pengunjung taman, petugas taman, warga sekitar

Taman.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak yang tidak

berhubungan langsung dengan masalah yang diteliti. Data sekunder dalam

penelitian ini berupa laporan penelitian (buku, jurnal ilmiah, skripsi), internet

(website), dokumen-dokumen yang terkait, peserta didik, hasil karya peserta

didik, dan hal lain yang ditemukan peneliti saat di lapangan. Dalam sumber

lain penggunaan beberapa dokumen dalam penelitian juga sering disebut

1
Nusa Putra, Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi, (Jakarta: Indeks, 2011), H.89.
dengan studi pustaka. Semua data tersebut dikumpulkan untuk melengkapi

hasil temuan penelitian.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis

dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah memperoleh data.

Untuk memperoleh data yang lengkap, akurat, dan dapat

dipertanggungjawabkan kebenaran ilmiahnya, maka peneliti menggunakan

metode pengumpulan data sebagai berikut:

1. Metode Pengamatan

Metode pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dnegan

menggunakan panca indera mata dan dibantu dengan panca indera.

Mashall menyatakan bahwa, “Trough observatiom, the researcher lear

behavior and the meaning attached ti those behavior”. 2

2. Teknik Wawancara (Interview)

Metode wawancara/interview adalah proses memperoleh keterangan

untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil keterangan untuk

tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara

pewawancara dengan informan/ orang yang diwawancarai, dengan atau

tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.3

2
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung:
Alfabeta, 2005). H. 310.
3
Burhan Burgin, Penelitian Kualitatif. (Jakarta: PT. Fajar Interpratama.2009), H.133.
Wawancara dilaksanakan dengan tujuan memperoleh pendapat atau

pernyataan dari informan yang diberikan secara terbuka, mendalam, dan

mampu memberikan penjelasan yang tajam terhadap beragam

pertanyaan penelitian. Teknik wawancara yang digunakan dalam

penelitian ini adalah wawancara tak berstruktur yaitu salah satu jenis

teknik wawancara yang mengajukan beberapa pertanyaan secara tak

berstruktur dan tidak menggunakan pedoman wawancara secara

sistematis namun tetap berpusat pada satu pokok masalah tertentu.

Selain itu, peneliti menggunakan wawancara tak berstruktur sebab tipe

wawancara ini memberi peluang kepada penulis untuk mengembangkan

pertanyaan-pertanyaan penelitian. Oleh karena itu, sejak awal peneliti

harus memiliki fokus pembicaraan yang ingin ditanyakan sehingga

seluruh wawancara yang dilakukan dapat diarahkan pada fokus yang

telah ditentukan.

Ketika melakukan wawancara, peneliti dibantu menggunakan alat-alat

berikut:

1. Alat rekam pada handphone yang berfungsi sebagai alat rekam

percakapan dengan partisipan.

2. Buku catatan yang berfungsi sebagai pencatat percakapan antara

peneliti dengan partisipan. Dengan menggunakan pendekatan

kualitatif maka peneliti menggunakan catatan lapangan dan catatan


pribadi sebagai hasil dalam bentuk tertulis dari kegiatan pengamatan

dan wawancara.

3. Kamera yang berfungsi sebagai bukti visual bahwa peneliti sedang

melakukan wawancara dengan partisipan.

3. Metode Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2012), dokumen merupakan catatan peristiwa

yang sudah lalu, bisa berupa tulisan, gambar, atau karya-karya

monumental dari seseorang. Studi dokumen merupakan pelengkap dari

penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.

Dokumetasi dalam penelitian ini berupa dokumen dokumen yang

diperoleh dari hasil observasi dan wawancara berupa foto, catatan, buku,

agenda dan sebagainya. Kemudian, dokumen yang diperoleh dari dinas-

dinas terkait berupa arsip kedinasan yang berhubungan dengan penelitian

ini. Metode pengumpulan dokumentasi adalah metode pengumpulan data

yang digunakan untk menelusuri data historis. 4

D. Teknik Klibrasi Keabsahan Data

Pemeriksaan data dilakukan untuk menemukan kebenaran dan kepastian data

dengan menguji keabsahan data, meliputi uji kreadibilitas, transferabilitas,

dependabilitas dan konfirmabilitas.

1. Kreadibilitas

4
Ibid. p. 152
Peneliti melakukan kegiatan yang penekanannya pada pengamatan

(triangulasi teori), memanfaatkan sumber lain di luar data (triangulasi

sumber) sebagai bahan pembanding dan pengecekan data termasuk penafsiran

dan penyimpulan informan (triangulasi metode).

2. Transferbilitas

Peneliti memberikan uraian yang terinci, jelas, sistemastis dan dapat

dipercaya dalam membuat laporan, hal ini bertujuan supaya orang lain dapat

memahami hasil penelitian ini. Dengan demikian pembaca menjadi jelas atas

hasil penelitian ini. Sehingga dapat memutuskan atau tidaknya untuk

mengaplikasikan di tempat lain.

3. Derpendabilitas

Untuk mengukur tingkay kesesuain antar data yang satu dengan data yang

lain dilakukan kegiatan penetapan langkah penelitian secara sistematis, seperti

menuliskan dengan lengkap termasuk kutipan langsung wawancara dengan

instrument, mengkategorikan data sesuai dengan maslaah, menyusun laporan

sementara berisi kejadian yang berkaitan dengan tujuan penelitian.

4. Konfirmabilitas

Dilakukan untuk mempoleh data secara objektif agar dapat dipercaya,

factual, dan pasti. Untuk itu dilaksanakan dengan melakukan pengontrolan,

pengevaluasian terhadap isi penelitianmpada responden yang terkait.


E. Teknik Analisis Data

Analisis data dapat dilakukan sejak pertama kali peneliti melakukan penelitian

sampai berakhirnya peneliti tersebut. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya

dianalisis secara kualitatif. Analisis data menurut Sugiono “proses mencari dan

menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan

lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengaplikasikan data ke dalam kategori,

menjabarkan ke dalam unit-unit, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang

penting dan yang mana akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah

dipahami oleh diri sendiri dan orang lain. 5

Hasil analisis data selanjutnya dideskripsikan dan diinterprestasikan.

Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut:

1. Reduksi data

Data yang dipat di lapangan cukup banyak sehingga perlu dicatat

secara teliti dan rinci, untyk itu harus dianalisis melalui reduksi data.

Peneliti merangkum, memilih hal-hal pokok, dan memfokuskan pada hal-

hal penting. Sehingga didapat gambaran yang jelas dan memudahkan

melakukan pengumpulan data selanjutnya.

2. Display data

5
Sugiono. Memahami penelitian Kualitatif. (Bandung: CV. Alfabeta, 2005). H. 89.
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah

menyajikan data. Penyajian data dilakukan dalam bentuk bagan, table,

uraian singkat atau teks yang bersifat naratif.

3. Kesimpulan dan verifikasi

Peneliti melakukan upaya mencari makna terhadap data yang

dikumpulkan dengan mencari pola, hubungan, persamaan, hal-hal yang

sering timbul dan sebagainya. Keismpulan yang dibuat merupakan

jawaban atas pertanyaan penelitian.


Pedoman Observasi

No. Tempat Key Informan dan Hal yang diamati


Informan Inti

1 Lingkungan Pengunjung Taman Melihat aktivitas dan


Taman Kota Pengunjung Taman yang interaksi antar pengunjung
lain dengan pengunjunga
Taman lainnya.
2 Lingkungan Petugas Taman Kota Mengetahui interaksi
Taman Kota perilaku Pengunjung
Taman dengan lingkungan
sekitar Taman.
3 Lingkungan Warga sekitar Taman Mengetahui Interaksi
sekitar Taman Kota Pengunjunga Taman
atau Warga dengan Lingkungan
sekitar Taman sekitar Taman.
Kota

Pedoman wawancara bagi Pengunjung Taman

No. Pertanyaan
1 Siapa nama anda?
2 Berapa usia anda?
3 Apa pekerjaan anda?
4 Sejak kapan anda mengunjungi Taman Kota ini?
5 Dimana anda tinggal?
6 Apa yang anda rasakan dengan adanya Taman Kota ini?
7 Apakah adanya Tman Kota ini membantu anda dalam berinteraksi sosial?
DAFTAR PUSTAKA

Nusa Putra, Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi, (Jakarta:

Indeks, 2011)

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2005)

Burhan Burgin, Penelitian Kualitatif. (Jakarta: PT. Fajar Interpratama,

2009)

Sugiono. Memahami penelitian Kualitatif. (Bandung: CV. Alfabeta,

2005)