Anda di halaman 1dari 13

1

MARKAS BESAR TNI ANGKATAN LAUT


SEKOLAH STAF DAN KOMANDO

1. Topik

Studi Kasus Kejahatan Perang Jean-Pierre Bemba Terhadap Rakyat Republik


Afrika Tengah Ditinjau Dari Hukum Humaniter Serta Manfaatnya Bagi TNI Angkatan Laut.

2. Latar Belakang

a. Umum

Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court / ICC)1


menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara terhadap mantan Wakil Presiden Kongo,
Jean-Pierre Bemba Gambo. Yang bersangkutan dinyatakan terbukti dan bersalah
dalam keterlibatan kejahatan perang terhadap kemanusiaan di Republik Afrika
Tengah (CAR) pada periode Oktober 2002 hingga Maret 2003. Dalam putusan
yang dikeluarkan pada bulan Maret, ICC yang didukung PBB menyatakan bahwa
Bemba bersalah ketika menjabat sebagai komandan militer dan bertanggung jawab
atas dua tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan (pembunuhan dan
pemerkosaan). Dia juga terbukti atas dan tiga tuduhan kejahatan perang
(pembunuhan, pemerkosaan dan penjarahan) yang dilakukan di CAR periode
tahun 2002 sampai dengan 2003.
Jean-Pierre Bemba Gambo adalah komandan kelompok pemberontak
Kongo (Gerakan untuk Pembebasan Kongo) serta Wakil Presiden terpilih Republik
Demokratik Kongo pada periode transisi (2003-2006). Majelis hakim ICC
menyampaikan dalam keputusannya dalam sidang terbuka oleh Hakim Ketua
Sylvia Steiner2, membaca ringkasan keputusan. Steiner menunjukkan bahwa
hakim menemukan kejahatan pembunuhan, pemerkosaan, dan penjarahan
sebagai hal yang "serius," kata ICC dalam siaran pers, seperti dikutip dalam situs
PBB. Hakim menemukan dua keadaan yang memberatkan dalam kejahatan
perkosaan, yaitu dilakukan terhadap korban yang tak berdaya dan dengan
kekejaman. Hal yang memberatkan dalam kejahatan penjarahan adalah hakim
menganggap sebagai kekejaman dalam kejahatan yang dilakukan.
Bemba dijatuhi hukuman penjara 16 tahun untuk pembunuhan sebagai
kejahatan perang, 16 tahun penjara untuk pembunuhan dalam kejahatan terhadap

1 Adalah sebuah pengadilan independen permanen yang bertujuan untuk menuntut individu yang
melakukan kejahatan paling serius yang menjadi perhatian internasional, yaitu seperti genosida, kejahatan
terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang (wikipedia)
2 Hakim Pengadilan Kriminal Internasional lulusan sarjana hukum dari San Paulo Brazilia yang memutuskan

hukuman kepada Bemba atas kejahatan perang dan kemanusian Internasional(wikipedia)


2

kemanusiaan, dan 18 tahun penjara karena pemerkosaan sebagai kejahatan


perang. Dia juga dijatuhi hukuman 18 tahun penjara untuk pemerkosaan sebagai
kejahatan terhadap kemanusiaan, dan 16 tahun penjara untuk merampok sebagai
kejahatan perang. Hakim menganggap hukuman tertinggi 18 tahun penjara untuk
pemerkosaan dan mencerminkan totalitas kesalahan Bemba, dan memutuskan
bahwa hukuman yang dikenakan harus berjalan bersamaan. Bemba berada dalam
tahanan sejak 24 Mei 2008, dan hukuman akan dipotong dengan masa tahanan.
Dan dia bisa mengajukan banding. Sementara masalah pemulihan bagi korban,
berdasarkan Pasal 75 Statuta Roma3, akan dibahas pada waktu yang lain. Majelis
hakim pengadilan itu terdiri dari Steiner (Brazil), Joyce Aluoch (Kenya) dan Kuniko
Ozaki (Jepang).

b. Kronologis Kejadian.
Republik Demokratik Kongo, (sebelumnya bernama Zaire antara tahun 1971
dan 1997), adalah sebuah Negara di Afrika bagian Tengah. Negara ini berbatasan
dengan Republik Afrika Tengah dan Sudan di sebelah utara; Uganda, Rwanda,
Burundi, dan Tanzania di timur; Zambia dan Angola di selatan; dan Republik Kongo
di Barat. Konflik Kongo terjadi pada tahun 1998-2003 ketika masa transisi
pemerintahan yang mana terdapat kekerasan di daerah Utara dan Selatan. Konflik
tersebut menjatuhkan korban dari suku Hutu-Tutsi sekitar 4 juta jiwa. Hal yang
melatarbelakang konflik di Kongo adalah berkaitan dengan Genosida. Menurut
Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM,
genosida ialah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan
atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis,
kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan
penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan
kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian
atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok;
memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain. Namun
terkadang perselisihan semacam ini bisa berkembang terlalu jauh dan
menyimpang dari apa yang biasanya terjadi. Perselisihan antar etnis atau budaya
ternyata mampu berkembang menjadi suatu tindakan agresif yang membuat
pelakunya bertindak diluar batas bahkan dikategorikan kriminal berat. Kategori

3Makamah Pidana Internasional yang disahkan oleh Konferensi Diplomatik PBB pada tanggal 17 Juni 1998
(wikipedia)
3

criminal tertinggi dari perselisihan macam ini adalah pembantaian besar-besaran


terhadap suatu etnis tertentu.

Penyebab lain adalah terjadinya eskalasi konflik. Tidak adanya komunikasi


yang baik, diskriminasi pekerjaan, kecemburuan sosial, menyebabkan kesenjangan
yang terjadi antar berbagai kelompok tersebut mengakar dan menimbulkan konflik
yang sejak dulu ada kembali muncul ke permukaan. Eskalasi konflik terjadi ketika
antar kelompok maupun suku di Kongo sengaja melakukan pembunuhan
berencana terhadap pemerintahan yang berlaku. Hal tersebut dilakukan untuk
memancing kemarahan massa suku tertentu terhadap dendam yang selama ini
terpendam. Mereka dengan sengaja menyebarkan berita palsu bahwa terjadi
kerusuhan yang di lakukan oleh suku – suku yang lain.
Penyebab berikutnya adalah pasca pemilu yang dimenangkan Bemba.
Bahkan menurut laporan radio Afrika Selatan, bandar udara di ibukota Kinshasa
dikuasai oleh tentara pemerintah. Sementara saksi mata melaporkan terjadi
bentrokan senjata hebat yang memaksa pasukan perdamaian PBB dan Uni Eropa
bertindak untuk mengamankan para diplomat. Anggota pengawal Presiden Joseph
Kabila dan pendukung bersenjata saingannya, Jean-Pierre Bemba, terlibat
bentrokan senjata. Pendukung Kabila menyerang rumah kediaman Bemba di
ibukota Kinshasa, saat ia sedang mengadakan pertemuan dengan para diplomat
asing. 150 tentara PBB turun tangan dan mengamankan para diplomat. Kerusuhan
juga pecah di kawasan miskin Kinshasa. Hampir 300 tentara Jerman yang
bertugas di Kongo berada dalam keadaan siaga. Juru bicara pasukan Uni Eropa di
Kongo, Letnan Kolonel Peter Fuss, mengatakan situasi di Kongo sekarang terus
dipantau dan jika diperlukan akan bertindak bersama dengan pasukan perdamaian
PBB.
Setelah menunda pengumuman hasil pemilihan umum akibat kerusuhan
yang terjadi, hari Minggu malam waktu Kinshasa, ketua Komisi Pemilu
mengumumkan hasil pemilu lewat stasiun televisi nasional. Dipastikan akan terjadi
pemilihan suara babak penentuan antara Kabila lawan Bemba. Kabila memperolah
sekitar 45 persen suara dan dengan demikian gagal mencapai suara mayoritas.
Sementara Bemba meraih 20 persen suara. Yang mencolok adalah perbedaan
hasil yang jelas antara kawasan Kongo Timur dan Barat. Jika di Timur Kabila
terpilih dengan suara mayoritas, maka di Barat dan di ibukota Kinshasa hasil suara
yang diraih Bemba lebih baik. Dalam putaran pemilu penentuan yang dijadwalkan
tanggal 29 Oktober mendatang, akan ditentukan siapa yang dapat membentuk
pemerintahan koalisi.
4

Utusan politik PBB di Kongo mengatakan, sudah sejak beberapa pekan


dimulai persaingan untuk jabatan menteri di pemerintahan yang mungkin akan
terbentuk. Baik Kabila maupun Bemba berupaya menarik kandidat presiden lain ke
pihaknya, untuk mendukung dan mengamankan pengikutnya. Pemilu di negara di
Afrika Tengah tersebut, diharapkan menjadi garis penutup dari perang saudara
yang telah berlangsung 5 tahun, yang menyebabkan sekitar 4 juta orang tewas.
Baru tiga tahun lalu, enam negara dan sejumlah kelompok pemberontak di Kongo,
menandatangani sebuah perjanjian perdamaian. Sejak itu berlangsung pemerintah
transisi di bawah Presiden Kabila. Sebuah referendum konstitusi akhir tahun lalu
membuka jalan resmi bagi berlangsungnya pemilihan umum.
Hal diatas pada intinya menjadi sebuah tujuan akhir dimasing-masing
kelompok untuk mengangkat kekuasaan serta pengakuan antar suku dan
kelompok di Kongo. Sehingga terdapat sebuah strategi balas dendam dengan
sebuah kekerasan dengan mengatas namakan organisasi sebagai akibat sejarah
pelik yang sudah lama berlangsung. Bemba adalah orang pertama yang ditahan
terkait peristiwa yang terjadi di Repulik Afrika Tengah. Mahkamah Agung Republik
Afrika Tengah dinyatakan tidak mampu untuk melakukan penuntutan terhdap
Bemba dan Mantan Presiden Afrika Tengah Ange-Felix Patasse.
Pada tahun 2007 tepatnya di bulan Maret 2007 , pertempuran terjadi di
dekat kediaman Bemba. Sejumlah orang, termasuk tentara dan warga sipil,
dilaporkan terbunuh. Bemba meminta gencatan senjata dan negosiasi dan
berlindung di kedutaan besar Afrika Selatan. Duta Besar Portugal kemudian
mengatakan pada tanggal 30 Maret bahwa Bemba diperkirakan akan pergi ke
Portugal untuk perawatan, namun tidak pergi ke pengasingan di sana. Pada
tanggal 9 April, Senat menyetujui perjalanan tersebut, untuk jangka waktu 60 hari.
Di akhir bulan Maret 2007 Bemba merencanakan untuk melakukan perjalanan ke
Portugal untuk perawatan kakinya yang rusak. Pada tanggal 15 Juni, Senat
memperpanjang masa perjalanan Bemba sampai 31 Juli, memenuhi permintaan
Bemba dalam suratnya tanggal 12 Juni di mana dia meminta lebih banyak waktu.
Dengan alasan sudah melaksanakan perawatan untuk kakinya di Portugal pada
bulan-bulan sebelumnya. Menurut sekretaris eksekutif MLC, Thomas Luhaka,
Bemba secara medis dalam kondisi sehat dan siap untuk kembali ke DRC serta
mengambil bagian dalam politik lagi, Luhaka meminta solusi politik yang akan
memudahkan kepulangannya. Dalam surat ini dia menyatakan kesiapan untuk
kembali dan ambil bagian dalam politik, namun juga mengungkapkan kekhawatiran
tentang keselamatannya. Pada tanggal 11 April, Bemba meninggalkan kedutaan
5

besar Afrika Selatan dan dibawa ke bandara oleh pasukan PBB MONUC,
kemudian terbang ke Portugal, bersama dengan istri dan anak-anaknya. Pada
tanggal 12 April, Jaksa Agung DRC, Tshimanga Mukeba, mengatakan bahwa dia
telah meminta Senat untuk menghapus kekebalan Bemba. Pada minggu pertama
bulan Juni, meskipun sudah berakhir 60 hari seperti yang sudah ditentukan oleh
Senat, Bemba tidak kembali ke DRC karena masalah keamanan.
Milisi yang dipimpinnya, Movement for the Liberation of Congo (MLC),
dengan sengaja menarget warga sipil sebagai modus operandi guna mencegah
kudeta atas presiden Republik Afrika Tengah ketika itu Ange-Felix Patase. Dalam
putusannya majelis hakim mengatakan mantan komandan milisi itu gagal
mengontrol tentara bayaran yang menjadi anak buahnya yang dikirim ke CAR pada
akhir Oktober 2002, di mana mereka melakukan pemerkosaan sadis, pembunuhan,
serta perampokan dengan kekerasan. Pengadilan Kriminal Internasional (ICC)
pada hari selasa 21 Juni 2016 mengumunkan keputusannya menghukum mantan
wakil presiden Kongo Jean-Pierre Bemba 18 tahun penjara untuk pembunuhan,
pemerkosaan, perampokan oleh pasukannya pada masa perang di Republik Afrika
Tengah (CAR). Pria, wanita dan anak-anak yang menjadi targetnya semua
diperkosa oleh anggota MLC, bahkan ada kasus di mana tiga generasi keluarga
yang sama diperkosa beramai-ramai oleh militan MLC dengan todongan senjata
dan sanak kerabat mereka dipaksa menyaksikan pemerkosaan itu. Atas tudahan
tersebut tim penuntut di ICC sebenarnya meminta agar Jean-Pierre Bemba divonis
minimal 25 tahun penjara atas kejahatannya terhadap Humaniter Internasional.

Dia satu-satunya orang yang ditangkap sehubungan dengan penyelidikan


ICC di Republik Afrika Tengah. Bemba ditangkap di Brussels dan diserahkan ke
ICC dan dipindahkan ke pusat penahanan di Den Haag. Proses Hearing dan
konfirmasi hukuman yang akan dijatuhkan diselenggarakan di ICC pada tanggal 4
Juli 2008, dengan kehadiran Bemba dalam majelis ICC.Dengan adanya putusan
Pengadilan Belgia atas penolakan keberatan Bemba untuk ditahan di ICC, Bemba
dipindahkan ke ICC di Den Haag pada tanggal 3 Juli 2008. Mahkamah Agung
Republik Afrika Tengah menemukan bahwa tidak ada dasar untuk mengajukan
kasus melawan Bemba dan mantan Presiden CAR Ange-Félix Patassé. MLC
mengecam penangkapan tersebut dan meminta Parlemen DRC agar pemerintah
Belgia untuk menghormati kekebalan Bemba sebagai Senator di bawah hukum
Kongo.
6

Berdasarkan kejadian diatas fakta menyebutkan bahwa di Kongo, berita


terbaru menyingkapkan, sebanyak 248 perempuan mengaku telah diperkosa
tentara di Provinsi Sud-Kivu di Republik Demokratik Kongo, sebuah kawasan yang
jadi pusat pemerkosaan paling jahat di dunia. Dengan bukti – bukti yang ada,
pemerintahan Bemba adalah pihak yang paling bertanggung jawab akan hal
tersebut.

3. Analisa Kejadian.

Mahkamah Kejahatan Internasional (International Criminal Court / ICC) di Den


Haag, Belanda, menyatakan bekas Wakil Presiden Kongo, Jean Pierre Bemba,
melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Republik Afrika
Tengah (CAR) selama lebih-kurang satu dekade. Keputusan yang diumumkan pada
Senin, 21 maret 2016 lalu menyebutkan bahwa Bemba dinyatakan bertanggung jawab
atas perintah terhadap pasukannya. Bemba juga dianggap bertanggung jawab atas 1.500
angkatan bersenjata swasta yang melakukan pembunuhan, perkosaan, dan penjarahan.
Tuduhan terhadap Bemba adalah dua kejahatan kemanusiaan dan tiga kejahatan perang.
Sesuai perintah penahanan, Jean-Pierre Bemba dinyatakan secara kriminal
bertanggung jawab bersama dengan orang-orang lainnya sebagaimana dimaksud pasal
25 ayat 3 huruf a Statuta Roma mengenai ICC dengan tuduhan sebagai berikut:

a. Dua (2) tuduhan Kejahatan terhadap Kemanusiaan yaitu :


1) Pemerkosaan : Pasal 4 ayat 1 huruf G.
2) Penyiksaan : Pasal 4 ayat 1 huruf F
b. Empat (4) tuduhan Kejahatan Perang yaitu :
1) Pemerkosaan : Pasal 8 ayat 2 huruf E bagian VI
2) Penyiksaan dan Penganiayaan:Pasal 8 ayat 2 huruf C bagian I.
3) Pelanggaran terhadap kehormatan seseorang dalam kaitan dengan
perlakuan tawanan : Pasal 8 ayat 2 huruf C bagian II.
4) Penjarahan terhadap lokasi,Pasal 8 ayat 2 huruf E bagian V.

Atas tuduhan kejahatan tersebut maka dibawah ini adalah pembahan analisa
berkaitan dengan kekerasan kejahatan perang yang masuk dalam kategori kejahatan
berat Internasional, yaitu;

a. Pemerkosaan.
Seperti terdapat peraturan tak tertulis dalam konflik bahwa pihak yang
memenangkan perang akan menguasai tanah, sekaligus perempuan daerah
takhlukkan. Di wilayah di mana hukum setempat sudah tidak berlaku dan belum
7

tergantikan maka laki-laki pasukan yang menyerang melakukan perkosaan tidak


hanya sebagai aksi seksual tapi juga untuk menunjukkan kekuasannya. Perkosaan
untuk menghancurkan moral individu, keluarga dan komunitas di mana perempuan
itu berasal merupakan fungsi yang umum terjadi di setiap konflik. Perkosaan akan
menimbulkan trauma dan rasa malu seorang individu, keluarganya dan juga
komunitas tempat ia berada. Perasaan malu dan tertekan ini dapat dihadapi
bersama ataupun juga membuat sang korban ditolak oleh keluarga maupun
komunitasnya karena dianggap memberi aib. Salah satu kasus terjadi di Kongo
yang diserang milisi Congolese Rally for Democracy (CRD).
Tindakan perkosaan dengan motif ini umum terjadi pada konflik etnis
sebagai bagian dari ethnic cleansing (penghancuran etnis tertentu). Perempuan
menempati posisi korban perkosaan karena fungsi tubuh mereka yang
mampu melahirkan generasi selanjutnya. Sehingga pada kasus ini identitas
perempuan merupakan gabungan dari jenis kelamin, etnisitas, agama maupun
aliran politiknya.

b. Perlakuan Tawanan Perang.


Ada berbagai macam bentuk tindakan yang sangat dilarang untuk dilakukan
terhadap tiap-tiap orang yang menjadi korban selama masa peperangan. Baik itu
yang berasal dari hors de combat4 dan penduduk sipil nya. Bentuk-bentuk tindakan
yang dilarang tersebut adalah sebagai berikut:
1) Perbuatan kekerasan yang dilakukan terhadap jiwa dan raga
seseorang, baik itu dalam bentuk pembunuhan, pengurungan dan
penganiayaan;
2) Penyanderaan;
3) Pemerkosaan serta perlakuan yang mencemarkan harkat dan
martabat seseorang;
4) Melaksanakan hukuman dan menjalankan hukuman mati tanpa
adanya putusan yang diberikan oleh pengadilan yang dibentuk secara sah di
mata hukum yang member segala jaminan peradilan yang diakui oleh segala
bangsa yang beradab.
Dengan melihat kejadian yang dialami korban konflik di Kongo, hak – hak
akan tawanan perang atau pihak yang tidak berdaya, sama sekali diabaikan

4Menurut General Participation Clause adalah kombatan yang tidak mampu (tidak berdaya) untuk
melakukan serangan kepada pihak musuh, baik karena sakit, luka-luka atau memang telah menyerah
8

dengan bukti – bukti nyata baik jumlah korban maupun pengakuan verbal dan
dampak psikologis para korban tersebut.

4. Hal – Hal Positif dan Negatif.


a. Hal Positif.
Hal positif pada hakekatnya tidak ada sama sekali baik dari segi korban
maupun terdakwa. Namun hal positif dari segi hukum bahwa kejadian dan peristiwa
tersebut menjadikan tanggung jawab bersama masyarakat dunia pada masa
sekarang dan mendatang dalam menjaga perdamaian dunia. Selain itu menjadi
sebuah landasan teori bagi badan Internasional untuk menciptakan sebuah payung
hukum yang lebih konpherensif khususnya bagi pelanggar HAM Internasional.
Dengan demikian secara langsung akan berimplikasi terhadap segala bentuk
potensi – potensi kejahatan perang untuk tidak terulang kembali.

b. Hal Negatif.
Dari aspek peristiwa baik korban maupun pelanggar HAM banyak
mengadung nilai negatif yang seharusnya tidak terjadi dimasa situasi dunia yang
tidak sedang mengalami Perang Dunia. Menjadikan sebuah nilai negatif dikala masih
terdapat pihak – pihak dibalik layar yang memanfaatkan kondisi konflik tersebut
sebagai tujuan politik negara pihak ke tiga dalam rangka kepentingan ekonomi.
Selain itu dampak psikologis terhadap masyarakat korban akan berimplikasi cukup
panjang bagi kelangsungan masyarakat korban dengan kerugian yang cukup larut.

5. Manfaat Yang Dapat Diambil Bagi TNI AL

a. Aspek Edukatif

1) Dalam kasus pengadilan Jean-Pierre Bemba dapat diambil pelajaran


bahwa perlu penekanan khusus dalam kepemimpinan dunia militer dengan
mengedepankan nilai kemanusian dan sebagai makhluk sosial. Dengan
sering menganalisa akan berbagai peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi
baik sipil maupun militer, diharapkan nilai edukatif akan didapat sebagai
bekal dalam kepemimpinan sebuah organisasi.

2) Pengetahuan akan hukum Humaniter banyak mengalami dinamika


dihadapkan dengan konflik sosial yang kerap terjadi. Dengan demikian
aspek edukatif yang lain untuk dipahami adalah masalah menghormati antar
9

hak masing – masing golongan bila dihadapkan dengan suatu persoalan


konflik sosial.

b. Aspek Inspiratif

1) Pentingnya perlindungan terhadap orang-orang yang seharusnya


mendapatkan perlindungan sesuai dengan Hukum Humaniter untuk
menghindari jatuhnya korban dari orang orang yang tidak bersalah. Hukum
humaniter dipandang menjadi inspiratif dengan melihat rambu – rambu yang
telah disepakati, mengispiratif dunia militer untuk lebih berhati hati dan lebih
proaktif dalam keterlibatan menegakkan perdamaian dunia.

2) Pasal-pasal yang tertuang dalam Hukum Humaniter, mengispiratif


ranah praktisi hukum TNI AL dalam hal ini diskumal untuk mengemas lebih
konpherhensif akan transfer Ilmu hukum kepada personel TNI AL. Hal ini
penting sebagai kegiatan pencegahan sekaligus meningkatkan wawasan
akan hukum Humaniter.

c. Aspek Instruktif

1) Hukum Humaniter dan HAM tidak bisa dipisahkan dan saling


berkaitan. Begitu juga bagi personel TNI AL merupakan suatu kewajiban
untuk dijadikan instruksi agar memahami tentang kandungan yang ada
dalam Hukum Humaniter dan HAM. Sehingga personel TNI AL ditingkat
strata apapun dapat mengormati dan melaksnakan hal-hal yang harus
dipatuhi.

2) Nilai instruktif selanjutnya adalah dengan melihat peristiwa konflik


yang serta merta menjadikan latar belakang adanya hukum Humaniter ini,
menunjukkan suatu perjalan yang penjang demi kejadian serupa tidak
terulang kembali baik dimasa sekarang maupun dimasa mendatang. Dengan
demikian sebagai intruksi setiap Komandan di lapangan selalu menekankan
dan emastikan tingkat kesepahaman visi dan misi agar tetap pada koridor
hukum dalam melaksanakan tugas di lapangan.
10

6. Penutup.

a. Kesimpulan.

1) Bemba gagal mengontrol milisi pribadi yang dikirim ke CAR, sehingga


mereka melakukan pemerkosaan 'sadis', pembunuhan dan penjarahan yang
'sangat kejam'. Hal ini atas dasar kemanusiaan tidak pernah dibenarkan
sama sekali meskipun di dalamnya terdapat kepentingan etinis dan politik
yang melatar belakangi hal tersebut. Implikasi dari konflik tersebut sama
sekali tidak membawa kebaikan dan manfaat umum kawasan Kongo yang
cukup lama mengalami pergolakan di masa damai dunia saat ini.
2) Hukum Humaniter berbicara akan banyak pelanggaran Hak Asasi
Manusia yang tingkatannya berskala internasional dalam kasus Bemba ini.
Kaum wanita adalah korban yang paling banyak mengalami penderitaaan
terlarut. Menjadi sebuah evaluasi dan kajian bagi dewan keamanan PBB
dalam keterlibatannya menangani kasus ini agar tidak terulang kembali di
kawasan dan negara yang sama.
b. Saran
1) Agar menjadikan sebuah pelajaran berharga akan pentingnya
penerapan hukum Humaniter disetiap negara manapun. Pelajaran ini juga
membuktikan bahwa dengan keputusan mahkamah Internasional agar
setiap komponen bangsa tidak ragu – raguakan kepastian hukum untuk
menerapkan hukum Humaniter.
2) Agar lebih memperhatikan hak dan kepentingan martabat wanita
khususnya didaerah konflik dengan adanya keterlibatan lembaga hukum
internasional dibawah bendera PBB khusus menangani pelanggaran
Humaniter yang menyangkut keberadaan kaum wanita.

7. Alur Pikir (lihat lampiran A) dan Daftar Pustaka (lihat lampiran B)

Jakarta, 17 Juli 2017


Perwira Siswa

Roni, S.T.
Mayor Laut (P) NRP 16012/P
11

MARKAS BESAR TNI ANGKATAN LAUT LAMPIRAN B (DAFTAR PUSTAKA)


SEKOLAH STAF DAN KOMANDO

DAFTAR PUSTAKA
Jurnal:

Droege, Cordula. 2008. Afinitas efektif? Hak asasi manusia dan hukum humaniter.
International Review of the Red Cross. 90(871): 1-50

Durham, Helen dan O’Byrne, Katie. 2010. Dialog perbedaan:perspektif gender pada
hukum humaniter internasional. International Review of the Red Cross.92 (877): 1-22

Human Rights Watch. 2005. The Prosecution of Sexual Violence in the Congo War.
Seeking Justice. 17(1A) : 1-53

United Nations Commission on Human Rights. 2010. Democratic Republic of the


Congo, 1993-2001. Jenewa: UNCHR

Internet:

BBC. 2012. Democratic Republic of Congo profile. http://www.bbc.co.uk/news/world-


africa-13286306. (diakses pada 16 Juli 2017)

BBC. 2012. Panglima Perang Kongo dipenjara karena pakai tentara anak.
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/07/120710_congosentence.shtml. (diakses
pada ( November 2012)

CNN. 2003. Chronology: Conflict in the Congo. http://articles.cnn.com/2003-04-


07/world/congo.chronology.reut_1_jean-pierre-bemba-rwandan-backed-rebels-congolese-
president-laurent-kabila?_s=PM:WORLD. (diakses pada 16 Juli 2017)

Jones, Mother. 2011. Kongo, Lebih Menakutkan Menjadi Perempuan Ketimbang


Tentara dalam Perang Sipil. http://www.republika.co.id/berita/internasional/
global/11/10/27/ltp012-kongo-lebih-menakutkan-menjadi-perempuan-ketimbang-tentara-
dalam-perang-sipil. (diakses pada 16 Juli 2017)

Kirchner, Stefan. 2007. Hell on Earth – Systematic Rape in Eastern Congo.


http://sites.tufts.edu/jha/archives/50. (diakses pada 16 Juli 2017)
12

Kirchning, Ulrike Mast. 2011. Kekerasan Terhadap Perempuan Ancam Perdamaian.


http://www.dw.de/kekerasan-terhadap-perempuan-ancam-perdamaian/a-15555201.
(diakses pada 16 Juli 2017)

Lajollaplayhouse. n.d. Timeline: The Congo in Conflict.


http://www.lajollaplayhouse.org/KBYG/Ruined/pg6.html. (diakses pada 16 Juli 2017)

Waspada. 2010. PBB: Kongo, ibukota pemerkosaan dunia. http://www.waspada.


co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=150450:pbb-kongo-ibukota-
pemerkosaan-dunia&catid=16:internasional&Itemid=29. (diakses pada 16 Juli 2017)

Wibowo, Ari. 2011. 300 Ribu Anak Korban Konflik Kongo. http://www.antara
news.com/berita/1310871148/pbb-300-ribu-anak-korban-konflik-kongo. (diakses pada 16
Juli 2017)
13

MARKAS BESAR TNI ANGKATAN LAUT LAMPIRAN A(ALUR PIKIR)


SEKOLAH STAF DAN KOMANDO

STUDI KASUS KEJAHATAN PERANG JEAN-PIERRE BEMBA TERHADAP RAKYAT REPUBLIK AFRIKA TENGAH DITINJAU
DARI HUKUM HUMANITER SERTA MANFAATNYA BAGI TNI ANGKATAN LAUT

LANDASAN PEMIKIRAN
ALUR PIKIR
 Hukum Humaniter
 Konvensi Jenewa
Hal-Hal Positif
Genosida

`
Kejahatan ANALISIS
KEJADIAN Mamfaat Bagi
Perang
Jean-Pierre TNI AL
Hukum Humaniter
Bemba

Kepentingan
Ras dan Jakarta, 17 Juli 2017
Kelompok Hal-Hal Negatif Perwira Siswa

Roni, S.T.
Mayor Laut (P) NRP 16012/P