Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

ENERGI DAN LISTRIK PERTANIAN

BIOETHANOL

Dosen Pengampu : Lisani, S.TP., M.P.

Kelompok 5:

Nimrot Munte J1B115004


Diah Puji Lestari J1B115019
Desy Mayang Sary J1B115026
Ratih Octavini J1B115030
Masitah J1B115038

TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
OKTOBER 2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, puji syukur kami haturkan atas kemurahan Allah SWT


yang telah memberi rahmat dan karunia yang tiada terputus serta yang telah
memberi kesehatan kepada kami, sehingga makalah yang berjudul “Bioethanol”
dapat terselesaikan. Shalawat dan salam tak lupa kami sampaikan kepada
junjungan Nabi Muhammad SAW. Adapun tujuan penyusunan makalah ini untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah TEP312 Energi dan Listrik Pertanian.
Dalam kesempatan ini, kami menghanturkan rasa terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu memberi dukungan yang sangat berharga pada
penyusunan makalah ini, khususnya kepada :
1. Ibu Lisani, S.TP., M.P. sebagai Dosen Pengampu Mata Kuliah Energi dan
Listrik Pertanian
2. Orang tua dan keluarga atas doa nya, serta
3. Teman-teman atas dukungan dan kerjasamanya dalam penyusunan makalah
ini.
Kami memohon maaf jika di dalam penulisan makalah masih banyak
kesalahan maupun kekeliruan, baik dalam penulisan kata ataupun kalimat yang
masih rancu dan kurang dimengerti. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan
agar dalam pembuatan makalah berikutnya bisa lebih baik.
Wassalamualaikum Salam Wr.Wb.

Jambi, Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................2
C. Tujuan...............................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................3
A. Pengertian Bioethanol ....................................................................3
B. Bahan Baku Bioethanol ...................................................................4
C. Jenis-Jenis Mikroba yang Berperan dalam Bioethanol ................10
D. Proses Pembuatan Bioethanol ......................................................11
E. Manfaat dari Bioethanol ...............................................................17
F. Dampak Pembuatan Bioethanol ....................................................18
BAB III PENUTUP.....................................................................................19
A. Kesimpulan ....................................................................................19
B. Saran...............................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................20
LAMPIRAN................................................................................................21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Energi merupakan kebutuhan dasar manusia, yang terus meningkat
sejalan dengan tingkat kehidupannya. Suatu kenyataan yang tidak dapat
dipungkiri bahwa produksi minyak bumi Indonesia mengalami penurunan
akibat adanya penurunan secara alamiah dan semakin menipisnya
cadangan.Seiring meningkatnya kemajuan peradaban dunia, dimana
ketergantungan akan energi semakin meningkat.
Permasalahan krisis energi yang dihadapi negara-negara dunia tak
terkecuali Indonesia, menunggu untuk dapat segera diselesaikan. Seperti
yang kita ketahui, hampir seluruh pemakaian energi (mencapai 90%)
menggunakan energi yang tak terbaharukan (dipasok dari bahan bakar
fosil), padahal jika terus menggunakan sumber energi yang tak
terbaharukan ini, dapat diprediksi, dunia akan mengalami krisis energi
dalam jangka setengah abad ini. Oleh karena itu diperlukannya
pengembangan sumber energi terbaharukan agar mampu menjamin
keberlangsungan energi dunia.
Saat ini, penggunaan bioethanol sebagai bahan bakar menjadi
sangat penting. Semakin sedikitnya sumber energi fosil yang ada di bumi
dan semakin tingginya pencemaran lingkungan menjadi faktor utama
dibutuhkannya energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan
bioetanol menjadi bahan bakar kendaraan dapat menjadi sebuah alternatif
yang aman, karena sumbernya berasal dari tumbuhan dan dapat
mengurangi pencemaran lingkungan.
Pengembangan biofuel khususnya etanol, dimana etanol
merupakan bahan kimia yang diproduksi dari bahan baku tanaman yang
mengandung karbohidrat (pati) seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, sorgum,
beras, ganyong dan sagu. Bahan baku lain-nya adalah tanaman atau buah
yang mengandung gula seperti tebu, nira, buah mangga, nenas, pepaya,
anggur, lengkeng, dll. Meskipun memiliki berbagai keuntungan, produksi

1
bioetanol juga dapat menimbulkan masalah. Bahan baku pembuatan
bioetanol seperti tebu, jagung, dan singkong merupakan tanaman pangan
yang banyak dikonsumsi masyarakat. Jika lahan tanaman pangan tersebut
dialihkan menjadi lahan produksi bioethanol, maka produksi pangan akan
menurun sehingga harganya menjadi naik.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan bioethanol?
2. Sebutkan dan jelaskan bahan baku pembuatan bioethanol?
3. Apa saja jenis-jenis mikroba yang berperan dalam pembuatan
bioethanol?
4. Bagaimana proses pembuatan bioethanol?
5. Apa manfaat dari penggunaan bioethanol?
6. Sebutkan dampak pembuatan bioethanol?

C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
definisi biethanol, proses pembuatan ethanol, bahan baku pembuatan
bioethanol, dan manfaat dari penggunaan bioethanol.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
A. Pengertian Bioethanol
Bioethanol (C2H5OH) adalah etanol yang di produksi dari bahan
baku nabati. Bioethanol merupakan cairan biokimia pada proses
fermentasi gula dari sumber karbohidrat yang menggunakan bantuan
mikroorganisme. Bioethanol berasal dari bahan bakar minyak nabati yang
memiliki sifat menyerupai minyak premium. Untuk pengganti premium,
terdapat alternatif gasohol yang merupakan campuran antara bensin dan
Bioethanol ( Dahlan, dkk., 2009).
Bioehtanol tidak saja menjadi alternatif yang sangat menarik untuk
substitusi bensin, namun juga mampu menurunkan emisi CO2. Dalam hal
prestasi mobil, bioethanol dan gasohol (kombinasi bioethanol dan bensin)
tidak kalah dengan bensin. Pada dasarnya pembakaran bioethanol tidak
menciptakan CO2 netto ke lingkungan karena zat yang sama diperlukan
untuk pertumbuhan tanaman sabagai bahan baku bioethanol. Bioethanol
bisa didapat dari tanaman seperti tebu, jagung, gandum, singkong, padi,
lobak dan gandum hitam.
Adapun sifat fisika dan kimia dari bioethanol:
1. Sifat Fisika Bioethanol
 Berbentuk cair
 Tidak berwarna
 Mudah terbakar
 Larut dalam air dan pelarut organik lainnya (meliputi asam asetat,
aseton, benzena, karbon tetraklorida, dietil eter, etilena glikol,
gliserol, nitrometana, piridina, dan toluena).
 Larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan, seperti pentana dan
heksana.
 Larut dalam senyawa klorida alifatik seperti trikloroetana dan
tetrakloroetilena.

2. Sifat Kimia Bioethanol



Memiliki titik didih 78,40c dan titik leleh -114,30C

Densitasnya 0,789 g/cm3

Memiliki tingkat keasaman 15,9

B. Bahan Baku Bioethanol

3
Bioethanol terdari dari beberapa bahan baku yaitu sebagai berikut:
1. Pati
Pati merupakan salah satu jenis polisakarida terpenting dan
tersebar luas di alam. Pati disimpan sebagai cadangan makanan bagi
tumbuh-tumbuhan antara lain di dalam biji buah (padi, jagung, gandum,
jemawut, sorghum), di dalam umbi (ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong,
kentang) dan pada batang (aren dan sagu). Bentuk pati digunakan untuk
menyimpan glukosa dalam proses metabolisme. Berat molekul pati
bervariasi tergantung pada kelarutan dan sumber patinya (Hart dan
Schmetz, 1972).
Berdasarkan struktur kimianya, pati dapat digolongkan menjadi
dua jenis, yakni amilosa, dengan ciri utama memiliki rantai lurus. Serta
amilopektin, dengan ciri utama memiliki struktur bercabang. Kedua
jenis pati memiliki ikatan α-(1,4)-D-glikosidik, namun pada
amilopektin terdapat percabangan pada posisi α-(1,6)-D-glikosidik
(Jane dan Chen, 1992).

Gambar 1. Struktur Amilosa

Gambar 2. Struktur Amilopektin


Pati alami biasanya mengandung amilopektin lebih banyak
daripada amilosa. Butiran pati mengandung amilosa berkisar antara 15-
30%, sedangkan amilopektin berkisar antara 70-85%. Perbandingan
antara amilosa dan amilopektin akan berpengaruh terhadap sifat
kelarutan dan derajat gelatinisasi pati. Adanya perbedaan struktur

4
mengakibatkan perbedaan kelarutan pati dalam air. Amilosa dapat larut
dalam air, sedangkan amilopektin tidak dapat larut dalam air, sehingga
amilosa lebih mudah dihidrolisis daripada amilopektin (Aiyer, 2005).
2. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
TKKS merupakan limbah padat dari industri pengolahan kelapa
sawit. Komponen utama TKKS terdiri dari selulosa (41-46 persen),
hemiselulosa (25-33 persen), dan lignin (25-32 persen). Tingginya
kadar selulosa pada polisakarida itu dapat dihidrolisis menjadi gula
sederhana dan selanjutnya difermentasi menjadi etanol. Limbah kelapa
sawit jumlahnya melimpah. Sebuah pabrik kelapa sawit (PKS)
berkapasitas 60 ton tandan/jam dapat menghasilkan limbah 100
ton/hari. Di Indonesia terdapat 470 pabrik pengolahan kelapa sawit.
Limbahnya mencapai 28,7 juta ton dalam bentuk cair dan 15,2 juta ton
limbah padat per tahun. Dalam proses produksi Crude Palm Oil (CPO),
1 ton Tandan Buah Segar Kelapa Sawit(TBS) menghasilkan 200 kg
CPO dan limbah padat Tandan Kosong Kelapa sawit (TKKS) 250 kg.
Diperkirakan jumlah TKKS pada tahun 2006 adalah sebanyak 20.75
juta ton. Misalkan kadar air TKKS ini adalah 50%, maka jumlah TKKS
kering kira-kira 10.375 juta ton (Milatul Ulya,2011).

Gambar 3. Tandan Kosong Kelapa Sawit

3. Talas
Selain tanaman yang sudah umum digunakan sebagai sumber pati
untuk industri bioetanol, di Indonesia sebenarnya terdapat tanaman lain

5
yang sangat berpotensi karena memiliki kandungan pati yang cukup
tinggi, yakni talas. Talas merupakan tanaman sekulen yaitu tanaman
yang umbinya banyak mengandung air (Rukmana, 1998).
Sifat fisik dari tanaman talas adalah talas banyak mengandung
asam perusai (asam biru atau HCN), sistem perakaran serabut, liar dan
pendek, umbi dapat mencapai 4 kg atau lebih, berbentuk silinder atau
bulat, berukuran 30 cm x 15 cm, berwarna coklat, daunnya berbentuk
perisai atau hati, lembaran daunnya 20-50 cm panjangnya, dengan
tangkai mencapai 1 meter panjangnya, warna pelepah bermacam-
macam (Rukmana, 1998).
Talas mengandung banyak senyawa kimia yang dihasilkan dari
metabolisme sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, minyak
essensial, resin, gula dan asam-asam organik. Keuntungan dari umbi
talas adalah kemudahan patinya untuk dicerna. Umbi talas mengandung
pati yang mudah dicerna kira-kira sebanyak 18,2%, sukrosa serta gula
preduksinya 1,42% dan karbohidrat sebesar 23,7%. Kadar karbohidrat
dari talas menunjukkkan potensinya sebagai bahan baku bioetanol.
Keuntungan lain adalah talas tidak mengandung selulosa maupun
lignin, sehingga secara prinsip akan lebih mudah dihidrolisis
menghasilkan gula reduksi (Rukmana, 1998).

Gambar 4. Talas
Berbagai macam tanaman talas mudah ditemukan di Indonesia
seperti talas sutrera, talas taro, talas bogor, talas semir, talas ketan
hitam, talas timpul, talas balitung, talas sente dan talas banten.
4. Singkong

6
Singkong adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari
keluarga Euphobiaceae dengan nama latin yaitu manihot utilissima.
Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat
namun miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada
daun singkong karena mengandung asam aminometionin. Singkong
memiliki umbi atau akar pohon yang panjang, dengan fisik rata-rata
bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis
singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau
kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan walaupun
ditempatkan di lemari pendingin. Kerusakan umbi ini ditandai dengan
keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianaida yang
bersifat racun bagi manusia.
Di Indonesia, singkong memiliki arti ekonomi terpenting
dibandingkan dengan jenis umbi-umbian yang lain. Selain itu,
kandungan pati dalam singkong yang tinggi sekitar 25-300/0 sangat
cocok untuk pembuatan energi alternatif. Dengan demikian, singkong
adalah jenis umbi-umbian daerah tropis yang merupakan sumber energi
paling murah sedunia. Potensi singkong di Indonesia sangat besar, maka
dipilihlah singkong sebagai bahan baku utama dalam pembuatan
bioetanol.
Singkong karet merupakan salah satu jenis singkong pohon yang
mengandung senyawa beracun, yaitu asam sianida (HCN), sehingga
tidak diperdagangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Singkong
karet (singkong gajah) kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh
masyarakat karena beracun, oleh karena itu sangat tepat sekali jenis
singkong ini digunakan sebagai bahan baku bioetanol.

7
Gambar 5. Singkong
5. Nanas
Nanas merupakan salah satu jenis buah-buahan yang banyak
dihasilkan di Indonesia. Dari data statistik, produksi nanas di Indonesia
untuk tahun 1997 adalah sebesar 542.856 ton dengan nilai konsumsi
16,31 kg/kapita/tahun. Dengan semakin meningkatnya produksi nanas,
maka limbah yang dihasilkan akan semakin meningkat pula
(Anonymous, 2001).
Limbah nanas berupa kulit, ati/ bonggol buah atau cairan buah/
gula dapat diolah menjadi produk lain seperti sari buah atau sirup
(Suprapti, 2001). Secara ekonomi kulit nanas masih bermanfaat untuk
diolah menjadi pupuk dan pakan ternak (Kumalamingsih1993)

Gambar 6. Nanas
6. Jerami padi
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang mengandung
polisakarida dalam bentuk selulosa, hemiselulosa, pektin dan lignin dan
belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini jerami padi digunakan
untuk pakan ternak dan media tumbuh jamur. Meskipun demikian
jerami masih berlimpah dan terkadang harus dibakar.
Jerami merupakan golongan kayu lunak yang mempunyai
komponen utama selulosa. Selulosa adalah serat polisakarida yang
berwarna putih yang merupakan hasil dari fotosintesa tumbuh-
tumbuhan. Jumlah kandungan selulosa dalam jerami antara 35-40 %.

8
Kandungan lain pada jerami adalah lignin dan komponen lain yang
terdapat pada kayu dalam jumlah sedikit. (Milatul Ulya,2011).

Gambar 7. Jerami Padi


7. Tongkol Jagung
Tongkol jagung merupakan salah satu limbah pertanian yang
mengandung bahan lignoselulosa yang potensial untuk dikembangkan
menjadi bioetanol. Keberadaan limbah tongkol jagung ini melimpah
dan kontinyu setelah pasca panen. Di Indonesia limbah tongkol jagung
dihasilkan sekitar 2,29 juta ton/tahun (Suciyanto et al., 2006) dengan
kadar air 9,60% (Lorenz dan Kulp, 1991).
Komponen utama limbah tongkol jagung yaitu selulosa (32,3-
45,6%), hemiselulosa (39,8%), dan lignin (6,7-13,9%) (Menon dan
Rao, 2012). Pemanfaatan tongkol jagung sebagai alternatif energi
terbarukan berupa bioetanol dapat diolah melalui proses Pretreatment,
hidrolisis, fermentasi dan destilasi. Setelah melalui proses destilasi,
maka akan didapatkan etanol dan residu tongkol jagung. Residu
tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan konsentrat pakan ruminansia
karena kandungan serat kasarnya telah turun dan telah terbentuk asam-
asam organik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ruminansia. Oleh
karena itu, pengolahan tongkol jagung sebagai bahan baku pembuatan
bioetanol dianggap lebih efektif karena selain diperoleh etanol juga
dihasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak
(Prastyawan et al., 2012).

9
Gambar 8. Tongkol Jagung

C. Jenis-Jenis Mikroba yang Berperan dalam Pembuatan Bioethanol


Bakteri pada pembuatan bioethanol terbentuk pada proses
fermentasi dengan menggunakan yeast. Yeast merupakan fungsi uniseluler
yang melakukan reproduksi secara pertunasan (budding) atau pembelahan
(fission). Yeast tidak berklorofil tidak berflagella, berukuran lebih besar
dari bakteri. Yeast memilik bentuk bulat telur dan batang silinder seperti
buah jeruk. Yeast bersifat saprofit, namun ada beberapa yang bersifat
parasit yaitu saccharomyces cerevisiae yang termaksud dalam kelas
Hemiascomycetes, ordo Endomycetales, family saccharoycoideae dan
genus saccharomyces.
Jenis mikroba yang dapat digunakan dalam pembuatan bioethanol
adalah sebagai berikut:
1. Saccharomyces cerevisiae
Saccharomyces cerevisiae merupakan organisme uniseluler yang
bersifat makhluk mikroskopis dan disebut sebagai jasad sakarolitik,
yaitu menggunakan gula sebagai sumber karbon untuk metabolisme.
Saccharomyces cerevisiae juga merupakan mikroba yang paling banyak
digunakan pada fermentasi alcohol karena dapat berproduksi tinggi,
tahan terhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan terhadap kadar gula
yang tinggi dan tetap aktif melakukan aktivitasnya pada suhu 4-32 0C.
Saccharomyces cerevisiae mampu menggunakan sejumlah gula
diantaranya sukrosa, glukosa, fruktosa, galaktosa, mannose, maltose
dan maltotriosa.
2. Clostridium thermocellum

10
Clostridium thermocellum adalah bakteri termofilik yang anaerobik
memiliki kemampuan mendegradasi selulosa kompleks ke bentuk
etanol. Selain Clostridium thermocellum, bakteri termofilik anaerob lain
yaitu Clostridium stercorarium.
Bakteri Clostridium thermocellum tersebar luas di alam, habitatnya
adalah bahan organik yang di dekomposisi. Clostridium thermocellum
dapat pula ditemukan di pengolahan limbah pertanian, saluran
pencernaan, lumpur, tanah, dan mata air panas. Clostridium
thermocellum dapat tumbuh di lingkungan anaerobiosis dan temperatur
termofilik. Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah 60-64 °C dan pH
optimum berkisar 6,1-7,5. (Viljoen, et al. 1980).
3. Zymomonas mobilis
Zymomonas mobilis adalah bakteri yang dapat mengubah gula
menjadi etanol melalui fermentasi lebih cepat dari ragi dan tahan
terhadap konsentrasi etanol yang tinggi. Jadi, akan lebih
menguntungkan jika enzim-enzim yang digunakan untuk reaksi
hidrolisis pati dan selulosa dapat dimasukkan ke dalam bakteri
Zymomonas mobilis, sehinggal gula yang dihasilkan dapat langsung
difermentasi menjadi etanol.

D. Proses Pembuatan Bioethanol


1. Hidrolisis Pati
Hidrolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan
air untuk memisahkan ikatan kimia dari substansinya. Hidrolisis
merupakan tahap awal dalam proses pembuatan bioetanol. Hidrolisis
pati merupakan proses pemecahan molekul amilum menjadi bagian-
bagian penyusunnya yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa,
maltosa dan glukosa. Hidrolisis dibagi menjadi dua macam, yaitu
hidrolisis asam dan hidrolisis enzimatis (Purba, 2009).
Proses hidrolisis pati menjadi glukosa dapat menggunakan katalis
enzim, asam atau gabungan keduanya. Hidrolisis secara enzimatis
memiliki perbedaan mendasar dengan hidrolisis secara asam.
Hidrolisis secara asam memutus rantai pati secara acak, sedangkan

11
hidrolisis secara enzimatis memutus rantai pati secara spesifik pada
percabangan tertentu.
Secara garis besar, tahap hidrolisis pati adalah gelatinisasi,
liquifikasi dan sakarifikasi. Proses hidrolisis enzimatik dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu jenis enzim, ukuran partikel, suhu, pH,
waktu hidrolisis, perbandingan cairan terhadap bahan baku (volume
substrat), dan pengadukan. Enzim yang dapat digunakan adalah α-
amilase, β-amilase, amiloglukosidase, glukosa isomerase, dan
isoamilase (Purba 2009).
Enzim yang biasa digunakan untuk proses pembuatan sirup
glukosa secara sinergis adalah enzim α-amylase dan enzim
glukoamilase. Enzim α-amilase akan memotong ikatan amilosa dengan
cepat pada pati kental yang telah mengalami gelatinisasi. Kemudian
enzim glukoamilase akan menguraikan pati secara sempurna menjadi
glukosa pada tahap sakarifikasi. Proses hidrolisis ini akan mengubah
pati menjadi glukosa, seperti disajikan dalam reaksi di bawah ini:

Pati → Dekstrin → Maltosa → Glukosa

2. Gula Reduksi
Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk
mereduksi. Hal ini dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas
(Lehninger, 1993), seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

12
Gambar 9. Gugus Gula Reduksi
Monosakarida yang mengandung gugus aldehid dapat mereduksi
senyawa-senyawa pengoksidasi seperti, ferisianida, hidrogen
peroksida dan ion kupro. Pada reaksi ini gula direduksi pada gugus
karbonilnya oleh senyawa pengoksidasi. Aldosa mudah teroksidasi
menjadi asam aldonat, sedangkan ketosa hanya dapat bereaksi dalam
suasana basa (Fennema, 1996).
3. Analisis Gula Reduksi
Gula reduksi yang dihasilkan dari proses hidrolisis dianalisis dua
cara, yaitu analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis gula
reduksi secara kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi apakah
sampel mengandung gula reduksi atau tidak, sedangkan analisis gula
reduksi secara kuantitatif digunakan untuk menentukan kadar gula
reduksi. Adapun metode analisis gula reduksi secara kualitatif yang
banyak digunakan adalah uji Benedict, uji Fehling, uji Barfoed, uji

13
Tollens, dan uji Molisch. Sedangkan metode yang digunakan untuk
analisis gula reduksi secara kualitatif adalah uji Fehling.
Pada uji Fehling digunakan reagen Fehling yang merupakan
oksidator lemah dan terdiri dari Fehling A dan Fehling B. Larutan
Fehling A mengandung CuSO4, sedangkan Fehling B mengandung
campuran alkali NaOH dan Na-K-tartrat. Gula reduksi akan bereaksi
dengan Fehling B membentuk enediol, kemudian enediol ini bereaksi
dengan Fehling A membentuk ion Cu2+ dan campuran asam-asam.
Selanjutnya ion Cu2+ dalam suasana basa akan mengendap menjadi
endapan Cu2O berwarna hijau, kuning-orange, atau merah bergantung
dari jenis gula reduksinya (Mathews, 2000).
Berikut mekanisme reaksi gula reduksi dan dehling :

Analisis gula reduksi secara kuantitatif dapat dilakukan dengan


berbagai cara, antara lain dengan metode Luff Schoorl (Kowalski et
al., 2013), Nelson-Somogyi (Woiciechowski et al., 2002), dan DNS
(Lone et al., 2012). Metode DNS merupakan metode yang paling
banyak digunakan untuk menentukan kadar gula reduksi, dalam
metode DNS digunakan reagen dinitro salisilat (DNS). Bahan-bahan
kimia yang diperlukan untuk membuat DNS adalah asam 3,5-
dinitrosalisilat, NaOH, Na2SO3, Na-K-tartarat, fenol, dan akuades.
DNS merupakan senyawa aromatis yang dapat bereaksi dengan gula
reduksi membentuk asam 3-amino-5-nitrosalisilat, suatu senyawa yang
mampu menyerap radiasi gelombang elektromagnetik pada panjang
gelombang maksimum 550 nm (Kusmiati dan Agustini, 2010).
4. Fermentasi
Fermentasi alkohol merupakan proses pengubahan gula reduksi
menjadi bioetanol dengan bantuan mikroorganisme seperti bakteri atau

14
jamur. Reaksi pembentukan etanol secara umum dapat dituliskan
sebagai berikut :

Proses fermentasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang harus


dikontrol agar proses berlangsung optimal, antara lain suhu, pH,
oksigen, dan substrat. Dalam proses fermentasi, suhu perlu dikontrol
karena sangat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yang
berperan dalam proses fermentasi. Secara umum suhu optimal untuk
proses fermentasi adalah 30-400C (Subekti, 2006).
Di samping suhu, pH juga merupakan variabel pertumbuhan
mikroorganisme yang sangat penting, karena mikroorganisme hanya
dapat tumbuh pada kisaran pH tertentu. Untuk Saccharomyces
cerevisiae, pertumbuhan yang optimal berlangsung dalam media
dengan pH 4,0-5,0.
Proses fermentasi ini terdiri atas 2 tahap yaitu (Fardiaz 1989):
 Pemecahan rantai karbon dari glukosa dan pelepasan paling sedikit
2 pasang atom hidrogen menghasilkan senyawa karbon lainnya
yang lebih mudah teroksidasi dibandingakan glukosa.
 Senyawa yang teroksidasi akan direduksi oleh hidrogen yang
terlepas pada tahap pertama dengan membentuk senyawa yang
merupakan hasil fermentasi.
Bahan pangan yang difermentasi, prosesnya dikontrol oleh
aktivitas dari mikroorganisme yang digunakan untuk mengubah bahan
pangan tersebut. Mengawetkan bahan pangan dengan memproduksi
asam atau alkohol, atau memproduksi aroma yang dapat
meningkatkan kualitas bahan pangan tersebut (Fellows, 2000).
Dalam bidang bioetanol, ada beberapa jenis mikroorganisme yang
umum digunakan, antara lain Zymomonas mobilis (Zhang and Feng,
2010), Aspergillus niger (Ado et al., 2009), dan Saccharomyces
cerevisiae (Hong et al., 2013). Dewasa ini, Saccharomyces cerevisiae
merupakan jenis mikroorganisme yang paling banyak digunakan
untuk fermentasi alkohol karena mampu menghasilkan etanol dengan

15
rendemen yang lebih tinggi dibandingkan jenis mikroorganisme
lainnya. Selain itu, mikroorganisme ini mudah ditumbuhkan,
membutuhkan nutrisi yang sederhana, laju pertumbuhan yang cepat,
dan sangat stabil (Walker, 2011).
Fermentasi etanol memakan waktu 30-72 jam, sedangkan suhu
optimum untuk fermentasi antara 25- 300C dan kadar gula antara 10-
18 persen. Jika konsentrasi gula terlalu tinggi, aktivitas khamir dapat
terhambat dan waktu fermentasi menjadi lebih lama serta tidak semua
gula dapat difermentasi (Paturau 1969).
Pada kondisi anaerobik, khamir metabolisme glukosa menjadi
etanol sebagian besar melalui jalur Embden Meyerhof-Parnas. Secara
ringkas pembentukan etanol dari glukosa sebagai berikut :

Setiap mol glukosa terfermentasi menghasilkan dua mol etanol,


CO2 dan ATP. Oleh karena itu, secara teoritis setiap g glukosa
memberikan 0,51 g etanol. Pada kenyataannya etanol biasanya tidak
melebihi 90-95 persen dari hasil teoritis. Hal ini dikarenakan sebagian
nutrisi digunakan untuk sintesa biomassa dan memelihara reaksi.
Reaksi samping juga dapat terjadi, yaitu terbentuknya gliserol dan
suksinat yang dapat mengkonsumsi 4-5 persen substrat (Oura, 1983).
5. Distilasi
Distilasi atau lebih umum dikenal dengan istilah penyulingan
dilakukan untuk memisahkan alkohol dari cairan beer hasil fermentasi.
Dalam proses distilasi, pada suhu 78 derajat celcius (setara dengan titik
didih alkohol) ethanol akan menguap lebih dulu ketimbang air yang
bertitik didih 100 derajat celcius. Uap ethanol didalam distillator akan
dialirkan kebagian kondensor sehingga terkondensasi menjadi cairan
ethanol. Kegiatan penyulingan ethanol merupakan bagian terpenting
dari keseluruhan proses produksi bioethanol. Dalam pelaksanaannya
dibutuhkan tenaga operator yang sudah menguasai teknik penyulingan
ethanol. Selain operator, untuk mendapatkan hasil penyulingan ethanol

16
yang optimal dibutuhkan pemahaman tentang teknik fermentasi dan
peralatan distillator yang berkualitas.
Penyulingan ethanol dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
 Penyulingan menggunakan teknik dan distillator tradisional
(konvensional). Dengan cara ini kadar ethanol yang dihasilkan
hanya berkisar antara antara 20 s/d 30 %.
 Penyulingan menggunakan teknik dan distillator model kolom
reflux (bertingkat). Dengan cara dan distillator ini kadar ethanol
yang dihasilkan mampu mencapai 60-90 % melalui 2 (dua) tahapan
penyulingan.
6. Dehidrasi
Hasil penyulingan berupa ethanol berkadar 95 % belum dapat larut
dalam bahan bakar bensin. Untuk substitusi BBM diperlukan ethanol
berkadar 99,6-99,8 % atau disebut ethanol kering. Untuk pemurnian
ethanol 95 % diperlukan proses dehidrasi (distilasi absorbent)
menggunakan beberapa cara, antara lain :
 Cara Kimia dengan menggunakan batu gamping
 Cara Fisika ditempuh melalui proses penyerapan menggunakan
Zeolit Sintetis.
Hasil dehidrasi berupa ethanol berkadar 99,6-99,8 % dikatagorikan
sebagai Full Grade Ethanol (FGE),barulah layak digunakan sebagai
bahan bakar motor.

E. Manfaat dari Bioethanol


Manfaat bioethanol sendiri dalam kehidupan sehari-hari adalah
sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan karena memiliki
bilangan oktan yang cukup tinggi, selain itu juga bioethanol dijadikan
sebagai bahan baku beralkohol.
Adapun manfaat bioethanol yang lainnya adalah :
 Sebagai bahan bakar kendaraan
 Sebagai bahan dasar minuman beralkohol
 Sebagai bahan kimia dasar senyawa organik
 Sebagai bahan bakar roket
 Digunakan untuk pembuatan beberapa deodorant

17
 Sebagai antiseptikserta pengobatan untuk mengobati depresi dan obat
bius
 Sebagai antidote beberapa racun
 Sebagai pelarut untuk parfum, cat dan larutan obat

Manfaat bioethanol secara umum :


 Mengurangi kebutuhan BBM, khususnya Premium
 Mengurangi efek rumah kaca
 Bebas zat berbahaya seperti Co, Nox dan UHC
 Diversifikasi Energi
 Menciptakan Teknologi berwawasan Lingkungan
 Diversifikasi Industri, yang berujung pada penciptaan lapangan kerja

F. Dampak Pembuatan Dari Bioethanol


Dampak positif-negatif dari pembuatan bioethanol terhadap
lingkungan produksi bioehtanol dari tanaman dan penggunaannya pada
mesin mobil akan menciptakan siklus karbondioksida yang berarti akan
mengurangi laju pemanasan global dan pembakaran yang lebih sempurna
ketika dicampur etanol 10% saja akan memperbaiki kualitas udara di kota-
kota padat lalu lintas bioethanol menjadi pilihan yang paling murah.
Sisi negatifnya produksi bioethanol secara besar-besaran
berpotensi menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati melalui
monokultur bahan baku.

BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bioethanol (C2H5OH) adalah etanol yang di produksi dari bahan
baku nabati. Bioethanol merupakan cairan biokimia pada proses

18
fermentasi gula dari sumber karbohidrat yang menggunakan bantuan
mikroorganisme.
Bakteri pada pembuatan bioetanol terbentuk pada proses
fermentasi dengan menggunakan yeast. Jenis mikroba yang dapat
digunakan dalam pembuatan bioetanol adalah sebagai berikut: dalam kelas
Hemiascomycetes, ordo Endomycetales, family saccharoycoideae dan
genus saccharomyces.
Adapun bahan baku pembuatan etanol diataranya; pati, tandan
kosong kelapa sawit, talas, nanas, jerami padi, dan tongkol jagung. Dalam
pembuatan bioetanol terdiri dari beberapa proses, yaitu hidrolisis pati, gula
reduksi, analisis gula reduksi, fermentasi, distilasi dan dehidrasi.

B. Saran
Kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam
penulisan makalah ini, maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik
serta saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan penulis
kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

https:// chemenguad. files. Wordpress . com/2016/09/ presentasi - bioethanol


kelompok-17-18-19-kelas-a.pdf diakses melalui www.google.com pada
tanggal 19 oktober pukul 19.30 wib

19
https://www.bioethanol.vogelbusch.com/downloads/vbc_bioethanoltechnolgy_en.
pdf diakses melalui www.google.com pada tanggal 19 oktober pukul 19.30
wib
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahanbakaretanol diakses melalui www.google.com
pada tanggal 19 oktober pukul 19.30 wib
Ulya Millatul. 2011. Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian Sebagai Sumber
Bioethanol. Prosiding Konferensi Nasional. ISSN:2089-1121
Muslihah Siti, Dan Yulina Trihadiningrum. 2013. Produksi Bioetahanol Dari
Limah Tongkol Jagung Sebagai Alternatif Terbarukan. Prosiding Seminar
Nasional Manajemen Teknologi XVIII. ISBN: 978-602-97491-7-5

LAMPIRAN

Dokumentasi Keterangan

20
Struktur Amilosa

Struktur Amilopektin

Tandan Kosong Kelapa Sawit

Talas

Singkong

Keterangan
Dokumentasi

Nanas

21
Jerami Padi

Tongkol Jagung

Gugus Gula Reduksi

22
23