Anda di halaman 1dari 11

“KOEFISIEN RESTITUSI TUMBUKAN”

(Laporan Praktikum Fisika Dasar Pertanian)

Oleh :
Afif Fahza Nurmalik (1754221004)
Arsita Tsania Maulinda (1714221019)
Aslam Muamar (1754221005)
Anggun Novika Putri (1714221022)
Aji Bagus Satria (1714221007)
Bagus Darmawan (1714221001)
Efri Wahyuni (1714221010)
Lige Sibil Dioctana (1754221010)
Rifqa Atamaii Putri (1714221014)
Zelang Pasa (1754221009)

LABORATORIUM FISIKA
JURUSAN PRIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam ilmu fisika banyak persoalan mendasar yang dapat diselesaikan dengan bantuan
konsep momentum bagian koefisiensi restitusi tumbukan. Salah satu contohnya adalah
penggunaan konsep koefisiensi yaitu :
1. Tumbukan lenting sempurna, e =1
2. Tumbukan lenting sebagian, e = 1>e>0
3. Tumbukan lenting tidak sama sekali, e = 0
Kebanyakkan tumbukan yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari yaitu tumbukan antara
kelereng, tabrakan antara kedua kendaraan, bola yang di pantulkan ke lantai dan lenting ke
udara dan sebagian. Restitusi tumbukana. Pada pembahasan ini, akan ditinjau perhitungan
dari percobaan menjatuhkan kelereng, bola voli, dan bola pingpong. Koefisien restitusi
merupakan nilai perbandingan suatu percepatan sesudah dan sebelum tumbukan.
Tumbukan merupakan peristiwa bersentuhan benda dengan benda yang lain yang sedang
bergerak atau dalam keadaan diam. Pada praktikum fisika dasar kali ini dikaji ilmu fisika
tentang momentum bagian koefisiensi restitusi tumbukan. Yang dihitung dalam praktikum
kali ini adalah koefisiensi restitusi tumbukan dan rata-ratanya, standar deviasi dan kesalahan
relative. Untuk menghitung koefisien restitusi tumbukan, pertama harus sudah ada data
ketinggian awal yang telah ditentukan dan hasil ketinggian setelah bola dipantulkan. Setelah
itu hasil ketinggian dari pantulan bola dibagi dengan ketinggian awal, lalu diakarkan. Rumus
persamaannya:
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tumbukan


Tumbukan yang paling sederhana adalah tumbukan sentral. Tumbukan sentral adalah
tumbukan yang terjadi bila titik pusat benda yang satu menuju ke titik pusat benda yang lain.
Banyak kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dijelaskan dengan konsep
momentum dan impuls. Di antaranya peristiwa tumbukan antara dua kendaraan. Salah satu
penggunaan konsep momentum yang penting adalah pada persoalan yang menyangkut
tumbukan. Misalnya tumbukan antara partikel-partikel gas dengan dinding tempat gas berada.
Hal ini dapat digunakan untuk menjelaskan sifat-sifat gas dengan menggunakan analisis
mekanika.

2.2 Tumbukan Lenting Sempurna


Tumbukan lenting sempurna (elastik) terjadi di antara atom-atom, inti atom, dan partikel-
partikel lain yang seukuran dengan atom atau lebih kecil lagi. Dua buah benda dikatakan
mengalami tumbukan lenting sempurna jika pada tumbukan itu tidak terjadi kehilangan
energi kinetik. Jadi, energi kinetik total kedua benda sebelum dan sesudah tumbukan adalah
tetap. Oleh karena itu, pada tumbukan lenting sempurna berlaku hukum kekekalan
momentum dan hukum kekekalan energi kinetik. Tumbukan lenting sempurna hanya terjadi
pada benda yang bergerak saja.

Tumbukan lenting sempurna antara dua benda Dua buah benda memiliki massa masing-
masing m1 dan m2 bergerak saling mendekati dengan kecepatan sebesar v1 dan v2 sepanjang
lintasan yang lurus. Setelah keduanya bertumbukan masing-masing bergerak dengan
kecepatan sebesar v’1 dan v’2 dengan arah saling berlawanan. Berdasarkan hukum kekekalan
momentum dapat ditulis sebagai berikut.

m1v1 + m2v2 = m1v’1 + m2v’2

m1v1 – m1v’1 = m2v’2 – m2v2

m1(v1 – v’1) = m (v’2 – v2)


Sedangkan berdasarkan hukum kekekalan energi kinetik, diperoleh persamaan sebagai
berikut.

Ek1 + Ek2 = E’k1 + E’k2

½ m1v12 + ½ m2v22 = ½ m1(v1)2 + ½ m2(v2)2

m1((v’1)2 – (v1)2) = m2((v’2)2 – (v2)2)

m1(v1 + v’1)(v1 – v’1) = m (v’2 + v2)(v’2 – v2)

Jika persamaan di atas saling disubtitusikan, maka diperoleh persamaan sebagai berikut.

m1(v1 + v’1)(v1 – v’1) = m1(v’2 + v2)(v1 – v’1)

v1 + v’1 = v’2 + v2

v1 – v2 = v’2 – v’1

-(v2 – v1) = v’2 – v’1

Persamaan di atas menunjukan bahwa pada tumbukan lenting sempurna kecepatan relatif
benda sebelum dan sesudah tumbukan besarnya tetap tetapi arahnya berlawanan.

2.3 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali

Etik sehingga hukum kekekalan energi mekanik tidak berlaku. Pada tumbukan jenis ini,
kecepatan benda-benda sesudah tumbukan sama besar (benda yang bertumbukan saling
melekat). Misalnya, tumbukan antara peluru dengan sebuah target di mana setelah tumbukan
peluru mengeram dalam target. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.

m1v1 + m2v2 = m1v’1 + m2v’2

Jika v’1 = v’2 = v’, maka m1v1 + m2v2 = (m1 + m2) v’

Tumbukan tidak lenting sama sekali yang terjadi antara dua benda
Contoh tumbukan tidak lenting sama sekali adalah ayunan balistik. Ayunan balistik
merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk mengukur benda yang bergerak dengan
keceptan cukup besar, misalnya kecepatan peluru. Prinsip kerja ayunan balistik berdasarkan
hal-hal berikut.
a. Penerapan sifat tumbukan tidak lenting.

m1v1 + m2v2 = (m1 + m2) v’

m1v1 + 0 = (m1 + m2) v’

b. Hukum kekekalan energi mekanik

½ (m1 + m2)(v’)2 = (m1 + m2)gh

Jika persamaan pertama disubtitusikan ke dalam persamaan kedua, maka diketahui kecepatan
peluru sebelum bersarang dalam balok.

Skema ayunan balistik

2.4 Tumbukan Lenting Sebagian

Kebanyakan benda-benda yang ada di alam mengalami tumbukan lenting sebagian, di mana
energi kinetik berkurang selama tumbukan. Oleh karena itu, hukum kekekalan energi
mekanik tidak berlaku. Besarnya kecepatan relatif juga berkurang dengan suatu faktor
tertentu yang disebut koefisien restitusi. Bila koefisien restitusi dinyatakan dengan huruf e,
maka derajat berkurangnya kecepatan relatif benda setelah tumbukan dirumuskan sebagai
berikut.

Nilai restitusi berkisar antara 0 dan 1 (0 ≤ e ≤ 1 ). Untuk tumbukan lenting sempurna, nilai
e = 1. Untuk tumbukan tidak lenting nilai e = 0. Sedangkan untuk tumbukan lenting sebagian
mempunyai nilai e antara 0 dan 1 (0 < e < 1). Misalnya, sebuah bola tenis dilepas dari
ketinggian h1 di atas lantai. Setelah menumbuk lantai bola akan terpental setinggi h2, nilai h2
selalu lebih kecil dari h1.

Skema tumbukan lenting sebagian

Coba kita perhatikan gamabr diatas. Kecepatan bola sesaat sebelum tumbukan adalah v1 dan
sesaat setelah tumbukan v1 . Berdasarkan persamaan gerak jatuh bebas, besar kecepatan bola
memenuhi persamaan :

Untuk kecepatan lantai sebelum dan sesudah tumbukan sama dengan nol (v2 = v’2 = 0). Jika
arah ke benda diberi harga negatif, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut.

Persamaan diatas digunakan untuk tumbukan lenting sebagian.


BAB III. METODELOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Fisika Koefisien Restitusi Tumbukan dilakukan pada hari Senin, tanggal
25 September 2017 di Laboratorium Ex PTK, Universitas Lampung.
3.2 Alat dan Bahan
1. Kelereng
2. Bola pingpong
3. Bola voli
4. Rol meter
5. Kalkulator
6. Alat tulis
7. Kertas panduan praktikum

3.3 Prosedur Kerja

Disiapkan alat dan bahan berupa kelereng, bola pingpong,


bola voli, rol meter, kertas panduan praktikum, alat tulis
dan kalkulator.

Ditempelkan rol meter terhadap dinding keramik.

Dipantulkan kelereng terhadap lantai, lalu dilihat hasil


ketinggian dari pantulan kelereng tersebut, dilakukan
sebanyak 5 kali percobaan, kemudian dicatat hasil
ketinggian dari pantulan kelereng dari setiap percobaan.

Dipantulkan bola voli terhadap lantai, lalu dilihat hasil


ketinggian dari pantulan bola voli tersebut, dilakukan
sebanyak 5 kali percobaan, kemudian dicatat hasil
ketinggian dari pantulan kelereng dari setiap percobaan.
Dipantulkan bola pingpong terhadap lantai, lalu dilihat
hasil ketinggian dari pantulan bola pingpong tersebut,
dilakukan sebanyak 5 kali percobaan, kemudian dicatat
hasil ketinggian dari pantulan bola pingpong dari setiap
percobaan.

Dilakukan perhitungan koefisien restitusi tumbukan (e)


dan rata-ratanya dari setiap percobaan dari masing-masing
bola. Rumus persaman koefisien restitusi tumbukan: e =
ℎ′
√ ℎ . Dengan h’ sebagai hasil ketinggian dari pantulan bola
dan h sebagai tinggi awal.

Dilakukan perhitungan standar deviasi dari setiap


percobaan dari masing-masing bola dengan cara koefisien
restitusi tumbukan dikurangi dengan rata-ratanya, lalu
dipangkatkan. Setelah itu semua ditotalkan, totalnya dibagi
empat, lalu diakarkan. Rumus persamaan standar deviasi:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑟𝑖(e − x )2
∆E= √ 4

Dilakukan perhitungan kesalahan relative dari setiap percobaan


dari masing-masing bola dengan cara rata-rata dari koefisien
restitusi tumbukan ditambah dan dikurang (dua kali
perhitungan) dengan standar deviasi. Rumus persamaan
kesalahan relative:

E ± ∆E

Catat semua hasil, kemudian selesai.


BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Setelah melakukan percobaan dengan tiga bola yang ukurannya berbeda, dan masing-
masing bola telah dilakukan sebanyak 5 kali percobaan, maka telah didapatkan hasil berupa
ketinggian setelah bola dipantulkan. Setelah itu dihitung koefisien restitusi tumbukan, standar
deviasi dan kesalahan relative dari masing-masing percobaan pada 3 bola dengan hasil
tersebut:
4.1.1 Perhitungan koefisiensi restitusi tumbukan pada kelereng
No h (cm) h’ (cm) e (cm) e- x (e - x )2
1. 100 47 0,685 0,019 0,0000361
2. 100 33 0,574 -0,092 0,0008464
3. 100 35 0,591 -0,075 0,0005625
4. 100 56 0,748 0,082 0,0006724
5. 100 54 0,734 0,068 0,0004624
Rata-rata 0,666 0,0004 0,000051596
Kesalahan relative 3,206 x 10-4 V -1, 874 x 10-4
Standar deviasi 2,540 x 10-4

4.1.2 Perhitungan koefisiensi restitusi tumbukan pada bola pingpong


No h (cm) h’ (cm) e (cm) e- x (e - x )2
1. 100 58 0,761 -0,039 0,001
2. 100 65 0,806 0,006 0,000036
3. 100 66 0,812 0,012 0,000144
4. 100 66 0,812 0,012 0,000144
5. 100 66 0,812 0,012 0,000144
Rata-rata 0,800 0,0002 0,00002936
Kesalahan relative 2,715 x 10-4 V -1,115 x 10-4
Standar deviasi 1,915 x 10-4

4.1.3 Perhitungan koefisiensi restitusi tumbukan pada bola voli


No h (cm) h’ (cm) e (cm) e- x (e - x )2
1. 100 66 0,812 -0,002 0,00004
2. 100 70 0,836 0,022 0,000484
3. 100 63 0,793 -0,021 0,000441
4. 100 65 0,806 -0,008 0,000064
5. 100 68 0,824 0,010 0,0001
Rata-rata 0,814 0,001 0,00002258
Kesalahan relative 2,494 x 10-4 V -0,866 x 10-4
Standar deviasi 1,680 x 10-4

4.2 Pembahasan
Pada praktikum fisika dasar kali ini dikaji ilmu fisika tentang momentum bagian
koefisiensi restitusi tumbukan.
Yang dihitung dalam praktikum kali ini adalah koefisiensi restitusi tumbukan dan rata-
ratanya, standar deviasi dan kesalahan relative.
Untuk menghitung koefisien restitusi tumbukan, pertama harus sudah ada data ketinggian
awal yang telah ditentukan dan hasil ketinggian setelah bola dipantulkan. Setelah itu hasil
ketinggian dari pantulan bola dibagi dengan ketinggian awal, lalu diakarkan. Rumus
persamaannya:
ℎ′
e=√ ℎ .
Dengan h’ sebagai hasil ketinggian dari pantulan bola terhadap lantai.
Setelah itu, dihitung rata-rata dari koefisien restitusi tumbukannya. Lalu, koefisiensirestitusi
tumbukan dikurangi oleh rata-ratanya dan dipangkatkan. Seluruh hasil dari perhitungan tadi
di total (ditambahkan), lalu di bagi 4 dan diakarkan untuk mendapat standar deviasinya.
Rumus persamaannya:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑟𝑖(e − x )2
1. e- x -> 2. (e - x )2 -> 3. ∆E= √ 4
Setelah dapat standar deviasinya, kita dapat menghitung kesalahan relativenya dengan cara
rata-rata koefisien restitusi tumbukan ditambah atau dikurang (dua kali perhitungan) dengan
standar deviasi. Rumus persamaannya:
E ± ∆E
BAB V. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang sudah dilakukan, didapatkan bahwa pada beberapa kali
percobaan, meskipun ketinggian awalnya sama, yaitu setinggi 100 sentimeter / 1 meter, tetapi
jika dipantulkan dengan gaya dorong yang berbeda, maka hasil dari ketinggian dari pantulan
dari bola berbeda dari percobaan pertama hingga percobaan akhir. Hal itu juga membuat,
setiap dari percobaan, memiliki koefisiensi restitusi tumbukan yang berbeda, standar deviasi
yang berbeda dan kesalahan relative yang berbeda.
Perbedaan hasil dari tinggi benda dipengaruhi oleh perbedaan massa benda dan gaya
setelah terjadinya pantulan.

Dalam praktikum kali ini kami menyarankan bahwa para pratikan harus mentaati peraturan
yang ada di laboratorium agar praktikum berjalan dengan lancar dan mendaptkan hasil yang
memuaskan dan tidak terjadi kerusakan pada alat-alat laboratorium.