Anda di halaman 1dari 23

Soal tgl 6 Desember 2016

SOAL I : Internal Control & Risk


A. Jelaskan singkat komponen dari pengendalian internal menurut kerangka COSO
Komponen pengendalian internal menurut COSO adalah :
1. Lingkungan pengendalian (control environment). Faktor-faktor lingkungan
pengendalian mencakup integritas, nilai etis, dan kompetensi dari orang dan
entitas, filosofi manajemen dan gaya operasi, cara manajemen memberikan
otoritas dan tanggung jawab serta mengorganisasikan dan mengembangkan
orangnya, perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh board.
2. Penaksiran risiko (risk assessment). Mekanisme yang ditetapkan untuk
mengindentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko-risiko yang berkaitan
dengan berbagai aktivitas di mana organisasi beroperasi.
3. Aktivitas pengendalian (control activities). Pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan
dan prosedur-prosedur yang ditetapkan oleh manajemen untuk membantu
memastikan bahwa tujuan dapat tercapai.
4. Informasi dan komunikasi (informasi and communication). Sistem yang
memungkinkan orang atau entitas, memperoleh dan menukar informasi yang
diperlukan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan operasinya.
5. Pemantauan (monitoring). Dijalankan melalui aktivitas pemantauan yang terus-
menerus, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya.

B. Jelaskan respon Auditor terhadap resiko yang telah diidentifikasi baik secara umum
maupun tindakan melalui prosedur audit lanjutan.
Respon auditor terhadap resiko yang telah diidentifikasi secara umum adalah Jika
auditor sudah menentukan bahwa salah saji material yang dinilai, pada tingkat asersi
merupakan risiko signifikan, auditor wajib melaksanakan prosedur substantif yang
khusus menanggapi risiko tersebut. Dalam hal pendekatan terhadap risiko signifikan
itu hanya terdiri atas prosedur substantif, prosedur wajib uji rincian (SA 330.21).
Tindakan prosedur audit lanjutan:
1. Prosedur Substantif
Prosedur substantif dapat dilaksanakan auditor untuk :
a. Mengumpulkan bukti tentang asersi yang menjadi dasar dan merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dalam saldo akun dan jenis transaksi
b. Mendeteksi salah saji yang material
Ada dua jenis prosedur substantif, adalah sebagai berikut:
a. Test of details (uji rinci)—sebagai prosedur substantif, test of details ini
melihat substansi (misalnya dari satu akun) dengan menganalisis rincian atau
detailnya.
b. Substantive analytical procedures (prosedur analitikal substansi) — sama
seperti test of details, sebagai prosedur substantif ia melihat substansi angka
dalam laporan keuangan.

2. Uji Pengendalian (Test Of Controls)


Uji pengendalian dilakukan auditor untuk mengumpulkan bukti mengenai
berfungsinya secara efektif pengendalian internal
a. Menangani asersi-asersi tertentu
b. Mencegah atau menemukan dan mengoreksi kesalahan dan kecurangan yang
material.

Soal II: Prosedur Penerimaan atau Pemberlanjutan Hubungan dengan Klien


A. Jelaskan secara singkat prosedur penerimaan atau pemberlanjutan hubungan dengan
Klien.
Prosedur dari penerimaan klien adalah:
1. Mengevaluasi latar belakang dan alasan klien melakukan audit
2. Menentukan apakah auditor mampu memenuhi persyaratan etika mengenai klien
3. Menentukan apakah membutuhkan auditor lain yang professional atau tidak
4. Berkomunikasi dengan auditor pendahulu
5. Menyiapkan proposal klien
6. Memilih staf untuk melakukan audit
7. Mendapatkan surat perikatan audit

B. Jelaskan secara garis besar apa saja yang harus dicakup dalam suatu Surat Perikatan
Audit (Engagement Letter)
Bentuk dan isi surat perikatan audit dapat bervariasi di antara klien, namun surat
tersebut umumnya berisi:
 Tujuan audit atas laporan keuangan.
 Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan.
 Lingkup audit, termasuk penyebutan undang-undang, peraturan, pernyataan dari
badan profesional yang harus dianut oleh auditor.
 Bentuk laporan atau bentuk komunikasi lain yang akan digunakan oleh auditor
untuk menyampaikan hasil perikatan.
 Fakta bahwa karena sifat pengujian dan keterbatasan bawaan lain suatu audit, dan
dengan keterbatasan bawaan pengendalian intern, terdapat risiko yang tidak dapat
dihindari tentang kemungkinan beberapa salah saji material tidak dapat terdeteksi.
 Akses yang tidak dibatasi terhadap catatan, dokumentasi, dan informasi lain apa
pun yang diminta oleh auditor dalam hubungannya dengan audit.
 Pembatasan atas tanggung jawab auditor.
 Komunikasi melalui e-mail.
SOAL III: Risk Assessment & Planning Materiality
A. Jika anda diminta untuk melakukan penilaian risiko dari suatu klien audit, bagaimana
prosedur yang harus dilakukan? Jelaskan secara singkat namun tepat.
1. Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri klien
Agar dapat membuat perencanaan audit secara memadai, auditor harus memiliki
pengetahuan tentang bisnis kliennya agar memahami kejadian, transaksi, dan
praktik yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan.
2. Melaksanakan prosedur analitis
3. Evaluasi atas informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan
logis antara data keuangan dan non-keuangan.
4. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal
Tingkat laporan keuangan dan tingkat saldo akun material awal perlu ditetapkan
karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada
laporan keuangan sebagai keseluruhan.
5. Mempertimbangkan risiko bawaan
Suatu risiko salah saji yang melekat dalam saldo akun atau asersi tentang suatu
saldo akun.
6. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan
Tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit yang dilakukan auditor adalah
untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang rendah, untuk mendukung
pendapat, dalam semua hal yang material laporan keuangan disajikan secara
wajar.
7. Memahami pengendalian internal klien
Penyajian laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi
berterima umum di Indonesia mewajibkan klien untuk melaksanakan peraturan-
peraturan pemerintah dan perjanjian-perjanjian legal yang lain. Jika material,
informasi mengenai kewajiban legal klien, harus dijelaskan dalam laporan
keuangan.

B. Jelaskan bagaimana anda melakukan perencanaan materialitas, dan jenis materialitas


yang anda ketahui.
Penentuan materialitas membutuhkan penggunaan pertimbangan profesional. Sebagai
langkah awal dalam menentukan materialitas untuk laporan keuangan secara
keseluruhan, persentase tertentu sering kali diterapkan pada suatu tolak ukur yang
telah dipilih.
Faktor-faktor yang dapat memengaruhi proses identifikasi suatu tolak ukur yang tepat
mencakup:
1. Struktur kepemilikan dan pendanaan entitas
2. Unsur-unsur laporan keuangan (aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan, dan beban)
3. Sifat entitas, posisi entitas dlm siklus hidupnya, industri serta lingkungan
ekonominya
4. Fluktuasi relatif tolak ukur tersebut ( pendapatan, laba bruto, beban periode
sebelumnya)
5. Unsur yang menjadi perhatian khusus auditor (tujuan evaluasi kinerja keuangan,
pengguna fokus laba)
Jenis materialitas :
1. Materialitas keseluruhan adalah kesalahan penyajian, termasuk penghilangan,
dianggap material bila kesalahan penyajian tersebut, secara individual atau
agregat, diperkirakan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi yang diambil
berdasarkan laporan keuangan oleh pengguna laporan keuangan tersebut.
2. Materialitas pelaksanaan, yaitu suatu jumlah yang ditetapkan oleh auditor pada
tingkat yang lebih rendah daripada materialitas untuk laporan keuangan secara
keseluruhan, untuk mengurangi ke tingkat rendah yang semestinya
kemungkinan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi dan yang tidak
terdeteksi yang secara agregat melebihi materialitas untuk laporan keuangan
secara keseluruhan. Jika berlaku, materialitas pelaksaan dapat ditetapkan oleh
auditor pada jumlah yang lebih rendah daripada materialitas golongan
transaksi, saldo akun atau pengungkapan tertentu.

SOAL IV: Auditors Report


A. Jelaskan pertimbangan pemberian opini akuntan publik dalam suatu audit atas laporan
keuangan dan apa yang dimaksud risiko audit?
Opini audit adalah pernyataan auditor terhadap kewajaran laporan keuangan dari
entitas yang telah diaudit. Kewajaran ini menyangkut materialitas, posisi keuangan,
dan arus kas. Menurut SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik), opini audit ada 5
macam, yaitu :
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian
Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia. Ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam laporan auditor
bentuk baku. Kriteria pendapat wajar tanpa pengecualian antara lain.
- Laporan keuangan lengkap
- Tiga standar umum telah dipenuhi
- Bukti yang cukup telah diakumulasi untuk menyimpulkan bahwa tiga standar
lapangan telah dipatuhi
- Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP (Generally Accepted
Accounting Principles)
- Tidak ada keadaan yang memungkinkan auditor untuk menambahkan paragraf
penjelas atau modifikasi laporan
2. Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku
Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf
penjelasan (atau bahasa penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya. Auditor
menyampaikan pendapat ini jika:
- Kurang konsistennya suatu entitas dalam menerapkan GAAP
- Keraguan besar akan konsep going concern
- Auditor ingin menekankan suatu hal
3. Pendapat wajar dengan pengecualian
Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan
yang dikecualikan.
4. Pendapat tidak wajar
Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan
secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat
Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak
menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Opini ini dikeluarkan ketika auditor
tidak puas akan seluruh laporan keuangan yang disajikan.

Resiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak
memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang
mengandung salah saji material. Semakin pasti auditor dalam menyatakan
pendapatnya, semakin rendah risiko audit yang auditor bersedia menanggungnya. Jika
diinginkan tingkat kepastian 99 %, risiko audit yang auditor bersedia menanggungnya
adalah 1 %,
B. Jelaskan apa yang dimaksud paragraf “penekanan suatu hal” (emphasis of matter) dan
“paragraf hal lain” (other matter) dan masing masing penggunaanya?
 Paragraf Penekanan Suatu Hal
Jika menurut auditor perlu untuk menarik perhatian pengguna laporan
keuangan atas suatu hal yang disajikan atau diungkapkan dalam laporan keuangan
yang, menurut pertimbangan auditor,sedemikian penting bahwa hal tersebut
adalah fundamental bagi pemahaman pengguna laporan keuangan atas laporan
keuangan,,maka auditor harus mencantumkan paragraph penekanan suatu hal
dalam laporan auditor selama auditor telah memperoleh bukti audit yang cukup
dan tepat bahwa tidak terdapat kesalahan penyajian material atas hal tersebut
dalam laporan keuangan. Paragraf tersebut harus mengacu hanya pada informasi
yang disajikan atau diungkapkan dalam laporan keuangan.

 Paragraf Hal Lain


Jika menurut auditor perlu untuk menarik perhatian pengguna laporan
keuangan atas suatu hal yang disajikan atau diungkapkan dalam laporan keuangan
yang, menurut pertimbangan auditor,relevan bagi pemahaman pengguna laporan
keuangan atas audit,tanggungjawab auditor,atau laporan auditor,dan hal lain tidak
dilarang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku,maka auditor harus
mencantumkan suatu paragraf dalam laporan auditor dengan judul “hal lain” atau
judul lain yang tepat.auditor harus mencantumkan pargraf terrsebut segera setelah
paragraph opini dan paragrapf penekanan suatu hal atau di tempat lain dalam
laporan auditor jika isi paragraph hal lain tersebut relevan dengan paragraf
tanggungjawab pelaporan lain.

Soal tgl 7 Juni 2016


SOAL I: Internal Control, Control Risk And Fraud Risk
A. Jelaskan singkat komponen dari Pengendalian Internal sesuai COSO Framework
Komponen pengendalian internal menurut COSO adalah :
1. Lingkungan pengendalian (control environment). Faktor-faktor lingkungan
pengendalian mencakup integritas, nilai etis, dan kompetensi dari orang dan
entitas, filosofi manajemen dan gaya operasi, cara manajemen memberikan
otoritas dan tanggung jawab serta mengorganisasikan dan mengembangkan
orangnya, perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh board.
2. Penaksiran risiko (risk assessment). Mekanisme yang ditetapkan untuk
mengindentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko-risiko yang berkaitan
dengan berbagai aktivitas di mana organisasi beroperasi.
3. Aktivitas pengendalian (control activities). Pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan
dan prosedur-prosedur yang ditetapkan oleh manajemen untuk membantu
memastikan bahwa tujuan dapat tercapai.
4. Informasi dan komunikasi (information and communication). Sistem yang
memungkinkan orang atau entitas, memperoleh dan menukar informasi yang
diperlukan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan operasinya.
5. Pemantauan (monitoring). Dijalankan melalui aktivitas pemantauan yang terus-
menerus, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya.

B. Jelaskan tujuan entitas merancang dan melaksanakan pengendalian internal


Tujuan pengendalian intern adalah menjamin manajemen
perusahaan/organisasi/entitas agar:
1. Tujuan perusahaan yang ditetapkan akan dapat dicapai.
2. Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan dapat dipercaya
3. Kegiatan perusahaan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Pengendalian intern dapat mencegah kerugian atau pemborosan pengolahan sumber
daya perusahaan. Pengendalian intern dapat menyediakan informasi tentang
bagaimana menilai kinerja perusahaan dan manajemen perusahaan serta menyediakan
informasi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan.

C. Jelaskan bagaimana dokumentasi auditor terkait dengan pemahamannya atas


pengendalian internal klien?
Pendokumentasian pemahaman tentang komponen-komponen pengendalian internal
harus dilakukan pada setiap audit yg dilakukan. Pendokumentasian kertas kerja bisa
dilakukan dalam bentuk daftar pertanyaan yg lengkap, bagan alir, tabel keputusan
(decision tables), dan uraian tertulis. Daftar pertanyaan adalah serangkaian pertanyaan
tentang kebijakan dan prosedur pengendalian internal yg dipandang perlu oleh auditor
untuk mencegah terjadinya salah saji dalam laporan keuangan. Bagan alir (flow chart)
adalah diagram skematik dengan menggunakan simbol-simbol standar,
menghubungkan garis alir, disertai anotasi, yang menggambarkan tahapan-tahapan yg
dilalui dalam pengolahan informasi melalui sistem akuntansi.

SOAL II: Audit Planning, Substantive Procedures and Test of Control


A. Jelaskan perbedaan penting antara “management risk assessment” dan “auditor’s risk
assessment”
Bagi COSO, pengukuran-penetapan risiko adalah kegiatan penting bagi manajemen
dan auditor internal korporasi, sehingga auditor internal harus paham proses dan
sarana untuk identifikasi, penilaian, pengukuran dan penetapan tingkat risiko (risk
assessment) sebagai dasar menyusun prosedur audit internal.
Manajemen Resiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen,
prosedur dan aktifitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian,
penanganan dan pemantauan serta review resiko.
Sedangkan audit berbasis risiko mencakupi kegiatan identifikasi, pengukuran dan
analisis risiko, lalu memilih aktivitas strategis terkait manajemen risiko sbb:
1. Mengendalikan risiko, aktivitas pengurangan risiko, besar risiko, jumlah risiko
atau frekuensi terjadinya risiko
2. Menerima risiko dan/atau risiko residual (setelah segala upaya mitigasi risiko
dilakukan)
3. Menghindari risiko, merancang ulang proses bisnis yang tak berkonsekuensi
risiko tertentu
4. Pembagian risiko, pembelahan risiko, memikul risiko beramai-ramai (risk
sharing) atau transfer risiko ke unit organisasi lain (bagian lain) atau pihak ketiga
(di luar korporasi) yang lebih mampu mengelola-mengendalikan risiko tersebut

B. Jelaskan pandangan ada mengenai keterkaitan antar substantive test dan test of
control.
Hubungan antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif
 Pengecualian dalam pengujian pengendalian, merupakan suatu indikasi
kemungkinan salah saji yang mempengaruhi nilai dolar dari laporan keuangan.
 Pengecualian dalam pengujian substantif dari transaksi atau pengujian rincian
saldo, merupakan deviasipengujian pengendalian.
 Pengujian substantif transaksi atau pengujian rincian saldo, harus dilakukan untuk
menentukan apakah salah saji dolar sudah benar-benar terjadi.

C. Jelaskan singkat maksud dan isi dari suatu “Audit Planning Memorandum”
Audit Planning Memorandum berkontribusi pada efektivitas audit dan berkontribusi
pada efisiensi audit. Memorandum ini harus dilengkapi dan disetujui sebagai bagian
dari perencanaan audit awal. Dalam menyelesaikan dokumen ini, mungkin ada saat-
saat ketika hal-hal yang telah didokumentasikan dalam makalah pekerjaan lain
relevan. Tidak perlu menulis ulang materi semacam itu jika referensi tertentu bisa
dibuat. Memorandum ini disusun sedemikian rupa sehingga dokumentasi perencanaan
umum untuk semua pertunangan disajikan. Semua item harus dibaca dan
dipertimbangkan pada setiap keterlibatan. Jika sebuah bagian tidak berlaku maka
jabarkan dengan sebuah rencana singkat mengapa tidak berlaku.
Memorandum perencanaan dibagi menjadi tiga bagian:
 Administrasi dan penentuan tugas
 Penilaian risiko
 Pendekatan
Pengetahuan tentang Bisnis Entitas harus digunakan sebagai titik awal untuk
perencanaan keterlibatan.

SOAL III: Client Acceptance & Continuance


Sesuai dengan Kode Etik Profesi, dan juga Sistem Pengendalian Mutu (SPM), akuntan public
diharuskan melaksanakan prosedur penerimaan dan pemberlanjutan klien.
A. Jelaskan langkah-langkah penting dalam prosedur tersebut.
1. Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri klien
- Agar dapat membuat perencanaan audit secara memadai, auditor harus
memiliki pengetahuan tentang bisnis kliennya.
- Penting bagi auditor untuk memahami aspek-aspek kunci dari siklus bisnis
klien.
2. Melaksanakan prosedur analitik
Prosedur analitis digunakan dalam audit untuk tujuan berikut :
- Dalam tahap perencanaan audit, untuk membantu auditor dalam
merencanakan sifat, waktu dan luasnya prosedur audit
- Dalam tahap pengujian, sebagai pengujian subtantif
Langkah-langkah yang terlibat dalam melaksanakan prosedur analitis yaitu :
1. Mengidentifikasi perhitungan atau perbandingan yan akan dilakukan
2. Mengembangkan ekspektasi
3. Melakukan perhitungan dan perbandingan
4. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
5. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi
perbedaan tersebut
6. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencaan audit
3. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal
4. Mempertimbangkan resiko bawaan
Risiko bawaan suatu risiko salah saji yang melekat dalam saldo akun atau asersi
tentang suatu saldo akun
5. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan
Tujuan akhir perencanaan dalam pelaksanaan audit yang dilakukan adalah untuk
mengurangi risiko audit ke dalam semua hal yang material
6. Memahami pengendalian intern klien

B. Mengapa auditor perlu melakukan perikatan dengan klien ? Jelaskan singkat.


Perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang berfungsi untuk
mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas penunjukan oleh klien,
tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggung jawab yang dipikul oleh auditor bagi
kliennya, kesepakatan tentang reproduksi laporan keuangan auditan, serta bentuk
laporan yang akan diterbitkan oleh auditor.

SOAL IV: Auditors Report


A. Jelaskan klasifikasi dan modifikasi pemberian opini dalam penugasan audit sesuai
Standar Audit SA 700
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia. Ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam laporan auditor
bentuk baku. Kriteria pendapat wajar tanpa pengecualian antara lain.
- Laporan keuangan lengkap
- Tiga standar umum telah dipenuhi
- Bukti yang cukup telah diakumulasi untuk menyimpulkan bahwa tiga standar
lapangan telah dipatuhi
- Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP (Generally Accepted
Accounting Principles)
- Tidak ada keadaan yang memungkinkan auditor untuk menambahkan
paragraf penjelas atau modifikasi laporan
2. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified
Unqualified Opinion)
Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf
penjelasan (atau bahasa penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya. Auditor
menyampaikan pendapat ini jika:
- Kurang konsistennya suatu entitas dalam menerapkan GAAP
- Keraguan besar akan konsep going concern
- Auditor ingin menekankan suatu hal
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan
yang dikecualikan.
4. Pendapat tidak wajar (Adverse Opinion)
Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan
secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer of Opinion)
Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak
menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Opini ini dikeluarkan ketika auditor
tidak puas akan seluruh laporan keuangan yang disajikan.

B. Jelaskan manfaat dan perbedaan penggunaan paragraf “Penekanan Suatu Hal” dan
paragraf “Hal Lain” bagi Auditor
Paragraf “Penekanan Suatu Hal” terletak sebelum paragraf opini, paragraf penekanan
suatu hal dapat mempengaruhi opini. Sedangkan, paragraf “Hal Lain” terletak setelah
paragraf opini dan tidak mempengaruhi opini. Paragraf ini mempengaruhi pengguna
laporan audit, tapi harus ada penjelasan.

C. Apa saja elemen dari Laporan Auditor Independen?


1. Judul laporan
Standar audit mengharuskan laporan audit untuk diberi judul dan juga disertai
dengan kata “independen”. Laporan auditor harus memiliki sebuah judul yang
mengindikasikan secara jelas bahwa laporan tersebut adalah laporan auditor
independen.
2. Pihak yang dituju
Laporan auditor harus ditujukan kepada pihak sebagaimana yang diharuskan
menurut ketentuan perikatan. Laporan audit biasanya ditujukan pada para
pemegang saham dan dewan direksi.
3. Paragraf pengantar/ pendahuluan
Menjelaskan tipe jasa yang diberikan oleh auditor, objek yang diaudit, dan
pengungkapan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan tanggung
jawab auditor atas pendapat yang diberikan.
4. Paragraf lingkup audit
Berisi pernyataan ringkas mengenai lingkup audit yang dilaksanakan oleh auditor.
5. Paragraf pendapat
Laporan auditor harus mencakup suatu bagian dengan judul
“Opini”.Paragraf ini berisi pendapat yang diberikan oleh auditor berdasarkan
prosedur audit yang telah dilakukan.
6. Nama KAP yang melakukan audit
Berisi nama KAP yang telah melakukan prosedur audit.
7. Tanda tangan Akuntan Publik
8. Nama Akuntan Publik
9. Nomor registrasi Akuntan Publik
10. Nomor registrasi KAP (jika tidak tercantum dalam kop surat KAP)
11. Tanggal laporan audit
Merupakan tanggal yang tertera pada laporan audit. tanggal yang paling tepat
adalah tanggal dimana auditor telah selesai melakukan pekerjaan lapangan.
12. Alamat KAP (jika tidak tercantum dalam kop surat KAP)
Laporan auditor harus menyebutkan lokasi auditor berpraktik.

Soal tgl 9 Juni 2015


AUDIT REPORT
Pembentukan pendapat (opini) dalam Laporan Keuangan yang diaudit, auditor akan
menyimpulkan apakah telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat.
A. Sebutkan jenis-jenis pendapat auditor dan sertakan kondisi masing-masing!
1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)

Opini jenis ini menyatakan bahwa laporan audit dan keuangan telah menyajikan
data secara wajar. Semua hal yang berhubungan dengan material, posisi
keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sudah sesuai dengan prinsip
akuntansi yang diberlakukan di Indonesia. Agar bisa mendapatkan opini seperti
ini, bukti audit yang dibutuhkan telah terkumpul secara lengkap ataupun
mencukupi dan auditor sudah melakukan tugasnya sedemikian rupa, sehingga ia
dapat memastikan kerja lapangan telah ditaati serta tidak adanya keadaan yang
membuat auditor menambahkan paragraf penjelas atau memodifikasi laporan

2. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified


Unqualified Opinion)
Opini jenis ini muncul ketika pada suatu keadaan tertentu, auditor harus
menambahkan suatu paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain) dalam
laporan auditnya.
3. Opini Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Dalam opini ini, auditor akan memberikan pendapat bahwa secara umum, laporan
audit dan keuangan yang disajikan sudah wajar. Namun, dari semua hal yang
material, terdapat suatu penyimpangan atau kekurangan pada pos tertentu sehingga
harus dikecualikan. Hal tersebut terjadi jika:
 Bukti kurang cukup
 Adanya pembatasan ruang lingkip
 Terdapat penyimpangan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum
(SAK).
4. Opini Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Dalam opini tidak wajar, pendapat yang diberikan oleh auditor ketika laporan
keuangan yang diterima secara keseluruhan tidak menyajikan posisi keuangan,
hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu secara wajar dan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku secara umum di Indonesia.
5. Opini tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion)
Dalam jenis opini ini, auditor merasa bahwa ruang lingkup pemeriksaannya
dibatasi sehingga auditor tidak melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar
audit yang ditetapkan IAI. Dalam pembuatan laporannya, auditor harus memberi
penjelasan tentang pembatasan ruang lingkup oleh klien yang mengakibatkan
auditor tidak dapat memberikan pendapat.
B. Sebutkan format yang umum dalam menyusun laporan audit sertakan penjelasan!
Secara umum, laporan audit terbagi atas 7 bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Judul laporan
Standar audit mengharuskan laporan audit untuk diberi judul dan juga disertai
dengan kata “independen”.
2. Penerima laporan
Laporan audit biasanya ditujukan pada para pemegang saham dan dewan direksi.
3. Paragraf pengantar
Menjelaskan tipe jasa yang diberikan oleh auditor, objek yang diaudit, dan
pengungkapan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan tanggung
jawab auditor atas pendapat yang diberikan.
4. Paragraf lingkup audit
Berisi pernyataan ringkas mengenai lingkup audit yang dilaksanakan oleh auditor.
5. Paragraf pendapat
Berisi pendapat yang diberikan oleh auditor berdasarkan prosedur audit yang
telah dilakukan.
6. Nama KAP yang melakukan audit
Berisi nama KAP yang telah melakukan prosedur audit.
7. Tanggal laporan audit
Merupakan tanggal yang tertera pada laporan audit. tanggal yang paling tepat
adalah tanggal dimana auditor telah selesai melakukan pekerjaan lapangan.

PRE PLANNING ACTIVITIES- CLIENT ACCEPTANCE


A. Sebutkan langkah-langkah dalam perencanaan audit dan sertakan penjelasannya!
1. Menerima penugasan klien dan melaksanakan perencanaan audit awal
Menerima klien baru dan melanjutkan klien lama
Menerima klien baru
Sebelum menerima klien baru, sebagian besar kantor akuntan publik menyelidiki
perusahaan untuk memutuskan apakah klien dapat diterima. Selain itu juga harus
dilakukan evaluasi prospektif klien dalam lingkungan usaha, stabilitas keuangan,
dan hubungan dengan kantor akuntan publik. Untuk calon klien yang sebelumnya
diaudit oleh akntor akuntan publik lain, auditor pengganti diwajibkan oleh PSA
16 (SA 315) untuk berhubungan dengan auditor sebelumnya, agar dapat
membantu auditor pengganti dalam mengevaluasi apakah akan menerima
penugasan tersebut. Apabila calon klien belum pernah diaudit oleh kantor akuntan
public, perlu diadakan penyelidikan. Sumber nformasi bisa berasal dari pengacara
local, kantor akuntan public lain, bank dan perusahaan lain.
Melanjutkan klien lama.
Banyak kantor akuntan publik mengevaluasi klien yang sudah ada setiap tahun
untuk memutuskan apakah ada alasan untuk tidak melanjutkan audit. Perselisihan
sebelumnya seperti kelayakan ruang lingkup audit, jenis pendpat yang diberikan,
atau honorarium dapat menyebabkan auditor tidak melanjutkan hubungan.
Auditor dapat juga memutuskan bahwa klien kurang mempunyai integritas dan
karena itu tidak layak lagi untuk menjadi kliennya.
2. Memahami bidang usaha dan industri klien
Ada tiga alasan mengapa diperlukan pemahaman yang baik atas industry klien.
a. Pertama, Memahami aturan-aturan akuntansi yang khas dari industri tersebut
untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan klien sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
b. Kedua, Mengidentifikasi risiko dalam industri yang akan mempengaruhi risiko
audit yang dapat diterima.
c. Ketiga, agar dapat mengidentifikasi risiko bawaan.
3. Menilai resiko bisnis klien
4. Melaksanakan prosedur analitik awal
Evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang
masuk antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya, atau antara
data keuangan dengan data non keuangan. Prosedur analitik mencakup
perbandingan yang paling sederhana hingga model yang rumit yang mematikan
berbagai hubungan dan unsur data.
Tujuan prosedur analisis dalam perencanaan audit adalah membantu perencanaan
sifat, saat, dan luas prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti
tentang saldo akun atau jenis transaksi tertentu.
Tahap-tahap dalam prosedur analisis:
a. Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat
b. Mengembangkan harapan
c. Melaksanakan perhitungan/perbandingan
d. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
e. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi
perbedaan tersebut.
f. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit.
5. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal dan menilai resiko audit yang dapat
diterima dan resiko bawaan
Materialitasi merupakan satu diantara berbagai faktor yang mempengaruhi
pertimbangan auditor tentang kecukupan (kuantitas) bukti audit. Semakin rendah
tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan (hubungan
terbalik). Semakin besar atau semakin signifikan suatu saldo akun, semakin
banyak jumlah bukti yang diperlukan (hubungan langsung).
Risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tidak memodifikasi
pendapatnya sebagainya mestinya, atas suatu laporan keuangan yang
mengandung salah saji material. Semakin pasti auditor dalam menyatakan
pendapatnya, semakin rendah risiko audit yang auditor bersedia untuk
menanggungnya. Jika diinginkan tingkat kepastian 99%, risiko audit yang auditor
bersedia untuk menanggungnya adalah 1%.
Terdapat tiga unsur risiko audit:
a. Risiko bawaan
b. Risiko pengendalian
c. Risiko deteksi
6. Memahami struktur pengendalian intern klien dan menilai resiko audit yang dapat
diterima dan resiko bawaan
Struktur pengendalian intern adalah kebijakan dan prosedur yang di tetapkan
untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa tujuan satuan usaha yang
spesifik akan dapat di capai. Struktur Pengendalian intern satuan usaha terdiri dari
tiga unsur: 1)Lingkungan pengendalian, 2) Sistem akuntansi, 3) Prosedur
pengendalian.
7. Mencari informasi untuk menilai resiko kecurangan
8. Mengembangkan strategi audit awal dan membuat program audit
Dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi,
auditor dapat memilih strategi audit awal:
a. Primarily subtantive approach
b. Lower assessed level of control risk approach
B. Sebutkan tahap-tahap penerimaan perikatan audit dan sertakan penjelasannya!
1. Apakah perusahaan memiliki sumber daya, waktu & kompetensi?
2. Apakah perusahaan itu independen dan terbebas dari konflik?
3. Apakah resiko itu bisa diterima?
4. Apakah kita harus menerima atau berhenti? Jika bertenti, cukup sampai disini
5. Jika diterima, apa prasyarat audit yang akan dating?
6. Apakah terdapat batasan ruang lingkup?
7. Setuju dengan perjanjian keterlibatan
8. Mempersiapkan atau menandatangani surat keterlibatan.

C. Jelaskan mengapa auditor membutuhkan pemahaman atas bisnis dan industri klien?
Apa manfaatnya!
Ada tiga alasan mengapa diperlukan pemahaman yang baik atas industry klien.
1. Pertama, Memahami aturan-aturan akuntansi yang khas dari industri tersebut
untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan klien sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
2. Kedua, Mengidentifikasi risiko dalam industri yang akan mempengaruhi risiko
audit yang dapat diterima.
3. Ketiga, agar dapat mengidentifikasi risiko bawaan.

MATERIALITY AND AUDIT RISK


SA seksi 312 Risiko Audit dan Materialitas Audit dalam pelaksanaan Audit mengharuskan
auditor untuk mempertimbangkan materialitas dalam (1) perencanaan audit dan (2) penilaian
terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan standar akuntansi
keuangan.
A. Apa yang dimaksud dengan Materialitas? Berikan penjelasannya!
Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi
akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupnya, dapat mengakibatkan
perubahan atas suatu pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan
kepercayaan terhadap informasi itu, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.
Hal itu mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan keadaan yang berkaitan
dengan entitas dan kebutuhan informasi pihak yang akan meletakkan kepercayaan atas
laporan keuangan auditan.
Contohnya, jumlah yang material dalam laporan keuangan entitas tertentu mungkin
tidak material dalam laporan keuangan entitas lain yang memiliki ukuran dan sifat
yang berbeda. Maka, auditor dapat menyimpulkan bahwa tingkat materialitas akun
modal kerja lebih rendah bagi perusahaan yang berada dalam situasi bangkrut bila
dibandingkan dengan suatu perusahaan yang memiliki current ratio 4 : 1.

B. Jelaskan hubungan kepentingan konsep materialitas dalam audit atas laporan


keuangan!
Konsep materialitas menunjukkan seberapa besar salah saji yang dapat diterima oleh
auditor agar pmekai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh salah saji tersebut.

C. Jelaskan hubungan antara Materialitas, Risiko Audit, dan Bukti Audit!


Berbagai kemungkinan hubungan antara materilaitas, risiko audit, dan bukti Audit
digambarkan sebagai berikut.
 Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas
dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
 Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah
bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
 Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat
menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini:
- Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah bukti
audit yang dikumpulkan.
- Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat
materialitas dapat dipertahankan.
- Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat
materialitas secara bersama-sama.

INTERNAL CONTROL AND CONTROL RISK


A. Jelaskan tanggung jawab manajemen dan auditor atas Pengendalian Internal!
Tanggung jawab manajemen terhadap pengendalian internal adalah menegakkan dan
menjaga pengendalian internal entitasnya, sedangkan tanggung jawab auditor
terhadap pengendalian internal adalah memahami dan menguji pengendalian internal
atas laporan keuangan.

B. Sebutkan prosedur yang dilakukan auditor untuk menguji pengendalian internal klien.
Pemahaman auditor terhadap pengendalian internal digunakan untuk mengukur resiko
pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait transaksi. Tingkat resiko pengendalian
yang ditetapkan harus dibatasi sampai tingkat yang didukung oleh bahan bukti yang
diperoleh. Contohnya adalah hasil pengukuran atas tujuan akurasi untuk transaksi
penjualan adalah rendah sedangkan untuk tujuan keterjadian adalah sedang. Pengujian
pengendalian mencakup jenis-jenis bukti berikut.
 Meminta keterangan dari personil klien yang tepat.
 Memeriksa dokumen, catatan, dan laporan.
 Mengamati aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian.
 Melaksanakan kembali prosedur klien.

INTERNAL CONTROL AND FRAUD RISK


A. Jelaskan yang dimaksud dengan Error dan Fraud! Sertakan contohnya!
 Fraud adalah kesengajaan atas salah pernyataan terhadap suatu kebenaran atau
keadaan yang disembunyikan dari sebuah fakta material yang dapat
mempengaruhi orang lain untuk melakukan prbuatan atau tindakan yang
merugikannya, biasanya merupakan kesalahan, namun dalam beberapa kasus
(khususnya dilakukian secara sengaja) memungkinkan merupakan suatu
kejahatan.
 Error dapat dideskripsikan sebagai unintentional mistakes.kesalah dapat terjadi
pada setiap tahap dalam pengelolaan transaksi yaitu, terjadinya transaksi,
dokumentasi, pencatatan dari ayat-ayat jurnal, pencatatan debet kredit,
pengikhtisaran proses dan hasil laporan keuangan. Kesalahan dapat dalam banyak
bentuk yaitu matematis, kritikal, atau dalam aplikasi prinsip-prinsip akuntansi.

B. Sebutkan kondisi terjadinya Fraud ! Sertakan penjelasannya !


Tekanan adalah situasi dimana seorang menyakini bahwa mereka merasa perlu untuk
melakukan fraud. Tekanan ini misalnya karena kondisi kesulitan ekonomi seorang
karyawan yang mendorong karyawan melakukan fraud. Faktor kesejahteraan
karyawan harus menjadi perhatian penting dari manajemen untuk mengikis dorongan
atau motivasi karyawan untuk melakukan fraud.
 Peluang
Peluang adalah situasi dimana seseorang menyakini bahwa adanya kesempatan
atau kondisi yang menjanjikan keuntungan jika melakukan fraud dan tidak
terdeteksi. Peluang dapat mendorong kemungkinan seorang karyawan untuk
melakukan fraud, bahkan disaat karyawan tersebut tidak memiliki tekanan untuk
melakukan fraud. Jadi teringat dengan ucapan bang napi, seorang tokoh rekaan
dalam salah satu acara televisi swasta beberapa waktu lalu :
 Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah suatu bentuk pemikiran yang menjadikan seseorang yang
melakukan fraud merasa bahwa sikap curang tersebut dapat diterima. Hal ini
dapat terjadi jika tidak adanya penegakan hukum yang tegas, atau terjadi
pembiaran dalam melakukan fraud. Atau barangkali jika karyawan mengetahui
bahwa rekan-rekannya melakukan fraud maka dia akan merasa sah-sah saja untuk
melakukan fraud.

C. Sebutkan jenis fraud yang dapat terjadi dalam lingkungan perusahaan!


Jenis fraud di lingkungan perusahaan:
 Employee Fraud  kecurangan yang dilakukan karyawan ditempat kerja.
 Management Fraud  kecurangan yang dilakukan pihak manajemen dengan
menggunakan laporan keuangan sebagai sarana fraud.
 Customer Fraud  kecurangan yang dilakukan konsumen
 E-commerce fraud  kecurangan akibat transaksi melalui internet

CONTROL RISK, AUDIT PLANNING AND TEST OF CONTROL


A. Sebutkan asersi manajemen laporan keuangan ! sertakan penjelasannya
Kategori asersi laporan keuangan yang pertama adalah :
1. Keberadaan dan Keterjadian
Asersi ini meliputi aktiva yang memiliki bentuk fisik dan juga aktiva yang tidak
memiliki bentuk fisik, aktiva yang memiliki bentuk fisik seperti persediaan,
sedangkan aktiva yang tidak memiliki bentuk fisik seperti piutang. Untuk lebih
jelasnya, saya ambil contoh diatas bahwa perusahaan memiliki hutang dagang
sebesar Rp. 100.000, nah dari hutang dagang yang diklaim oleh perusahaan
tersebut, asersi keberadaan dan keterjadian ini berkaitan dengan apakah hutang
tersebut memang ada pada tanggal tertentu dan apakah pencatatan atas hutang
terjadi selama periode tertentu.
2. Kelengkapan
Untuk menjelaskan asersi ini, saya ambil lagi contoh sebelumnya bahwa
perusahaan memiliki hutang dagang sebesar Rp. 100.000, asersi ini berkaitan
dengan apakah hutang dagang tersebut sudah meliputi semua hutang dagang yang
seharusnya disajikan dalam laporan keuangan.
3. Hak dan Kewajiban
Saya ambil lagi contoh diatas bahwa perusahaan memiliki hutang dagang sebesar
Rp. 100.000. Menurut analisis saya, dengan adanya hutang tersebut maka
perusahaan memiliki hak penggunaan hutang dan memiliki kewajiban untuk
membayar hutang dagang tersebut sebesar Rp.100.000.
4. Penilaian atau Alokasi
Dari contoh diatas, bahwa perusahaan memiliki hutang dagang sebesar
Rp.100.000, asersi ini berkaitan dengan apakah hutang dagang sebesar Rp.
100.000 tersebut telah dicantumkan dengan jumlah yang benar atau tepat dadalam
laporan keuangan.
5. Penyajian dan Pengungkapan
Untuk menjelaskan asersi ini, sekali lagi saya ambil contoh diatas bahwa
perusahaan memiliki hutang dagang sebesar Rp. 100.000, asersi penyajian dan
pengungkapan ini berkaitan dengan penggolongan, pengungkapan, dan
penguraian, oleh karena itu, ketika perusahaan mengklaim memiliki hutang
dagang seperti yang dicontohkan, maka dalam laporan keuanganpun harus
digolongkan sebagai hutang jangka pendek, berbeda jika dhutang dagang tersebut
digolongkan sebagai hutang jangka panjang, maka akan terjadi salah saji.

B. Memahami bisnis klien dan mendeteksi risiko bisnis klien auditor perlu
mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi bisnis
klien. Tolong anda sebutkan faktor tersebut !
Faktor-faktor yang mempengaruhi bisnis klien:
- Teknologi informasi yang menghubungkan perusahaan klien dengan pelanggan
dan pemasok utama.
- Klien telah memperluas operasinya secara global
- Teknologi informasi mempengaruhi proses internal klien yang meningkatkan
mutu dan ketepatan waktu informasi akuntansi.
- Semakin pentingnya modal dan aktiva tidak berwujud lainnya telah
meningkatkan kerumitan akuntansi serta pentingnya penilaian dan sistemasi
manajemen.
- Auditor membutuhkan pemahaman yang lebih baik atas bisnis dan industri klien
untuk memberikan jasa bernilai tambah kepada klien.
Tugas Audit 1

Soal dan Jawaban 3 Semester

disusun oleh:
Nama: Vania
NIM : 125150084
Kelas : MY

Universitas Tarumanagara
Jl. Tanjung Duren Utara No. 1
2017