Anda di halaman 1dari 8

MENGALAHKAN JARAK

Oleh:
Gerda Ghoniyah Nur (14)
XI IPA 2
SMA IPIEMS SURABAYA
2017
Namaku Andre, aku anak kelima dari lima bersaudara, ya benar aku adalah anak
terakhir atau yang sering dibilang anak bungsu. Sebagai anak bungsu, aku sering
kali minta apapun semauku tanpa berpikir terlebih dahulu. Untung saja kedua
orang tuaku orang yang kaya jadi mereka tidak terlalu kesusahan untuk menuruti
kemauanku. Aku tinggal di perumahan yang elit aku pun tidak mempunya banyak
teman, tetapi aku tetap bersyukur karena tuhan telah mengkaruniai aku dua orang
sahabat yang super setia kepada ku. Walaupun kita hanya bertiga tapi kita sangat
solid, akur, kompak dan kerja sama yang baik. Yang pertama ada Josaphat, dia
anak seorang dokter yang terkenal dan sudah mempunya nama yang besar.
Anaknya keren, tinggi, ganteng serta suka memasak. Yang kedua ada Ian,
anaknya kreativ, rajin, tapi agak cengeng.

Pagi yang cerah, aku mulai memainkan playstation-ku sendirian. Sahabat-


sahabatku masih belum datang kerumahku, ya mungkin mereka masih terlelap
nyenyak terhanyut dalam miimpi mereka masing-masing. Di hari minggu seperti
sekarang ini biasa kita menghabiskan waktu seharaian hanya untuk bermain.
Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi tetapi mereka belum juga menampakan
batang hidungnya. Dengan perasaan sedikit kesal, aku beranjak dari tempat
duudkku dan langsung mendatangi rumah kedua sahabatku.

Sampailah aku di depan rumah Josaphat. “Josaphat… Josaphat… main yuukk…”


Panggilku. Dan belum ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah Josaphat.
Mikirku seisi rumah itu masih tertidur lelap. Sekali lagi ku kumandangkan
“Josaphat… Josaphat… main yuukk…” Akhirnya pembantu Josaphat pun keluar
dari rumah yang lumayan megah itu. Beliau pun menyuruhku menunggu sebentar.
Tak lama kemudian Josaphat pun menampakan wajahnya yang masih bau bantal
itu. Aku pun diajak masuk kerumahnya sembari menunggu dia selesai mandi.

Lima belas menit pun telah berlalu, aku dan Joshapat langsung bergegas menuju
kandang kebesaran Ian. ”Ian… Ian… main yuukk…” suara gabunganku dan
Josaphat. Tak perlu menunggu waktu lama ayah Ian pun menongol. Dan beliau
mengatakan bahwa Ian pergi ikut bersama ibunya ke rumah sepupunya. Dengan
perasaan sedikit kesal kami pun beranjak dari rumah Ian.

Sembari melangkahkan kaki kami memikirkan apa yang akan kami lakukan di
hari minggu ini tanpa kehadiran satu dari sahabat kami. Setelah melakukan
berbagai pertimbangan akhirnya kita memutuskan untuk bermain Playstation dulu
di rumahku.
Seperti biasa, permainan yang pertama kali kita pilih adalah permainan sepak
bola. Dalam permainan ini kekuatan kita selalu imbang. Tetapi Josaphat lebih
sering memperoleh kemenangan walaupun dengan sekor yang tipis. Beberapa
menit pun telah berlalu, dan kami memutuskan untuk mengganti permainan. Tak
terasa sudah berjam-jam kita menghabiskan waktu di depan layar kaca ini.
Permainan demi permainan pun telah kami mainkan. Perasaan jenuh pun mulai
menyelimuti kami. Dan Josaphat pun mengajakku bermain computer di
rumahnya. Tak perlu berpikir panjang kami pun langsung bergegas menuju rumah
megah Josaphat.

Sesampainya kami di rumah Josaphat, ibu Josaphat pun langsung menyambut


kami dengan makan siang. Kami pun menyantap terlebih dahulu makanan yang
telah dihidangkan di hadapan kami. Setelah selesai makan, Josaphat langsung
disuruh untuk menunaikan ibadah sholat wajib, lalu Josaphatpun menyuruhku
untuk bermain komputer terlebih dahulu. Hanya berselang waktu lima menit,
Josaphat pun kembali ke hadapan komputer bersamaku. Kita pun bermain
komputer lagi bersama.

Tanpa sadar adzan ashar berkumandang, manandakan bahwa saat ini pukul tiga
sore. Kami pun mulai merasa jenuh dan bosan berhadapan dengan layar kaca
komputer Josaphat. Lalu kakak Josaphat pun mengusulkan agar kita bermain bola
agar tidak terlarut larut dalam kebosanan ini. Kami pun bergegas menuju ke
lapangan sebelah rumah Josaphat. Tepat di daun pintu rumah Josaphat berdiri
seorang wanita yang berdiri menantang. Setalah kami dekati ternyata wanita itu
tidak lain adalah ibu Josaphat sendiri. Ternyata ibunya mengingatkan Josaphat
untuk menunaikan ibadah sholat wajib terlebih dahulu.

Setelah Josaphat menunaikan ibadah sholat wajib kami langsung bergegas ke


lapangan guna bermain bola. Kesepian, itulah yang saat ini kami rasakan. Ya,
ketidak adaanya Ian membuat kami kesepian. Ketika aku menendang bola ke arah
gawang yang dijaga oleh Josaphat, bola itu menabrak mistar gawang dan
terlempar jauh. Dan dengan kaget sekaligus heran, kami melihat kaki yang
menahan bola itu. Ternyata tidak salah lagi, itu adalah sapasang kaki Ian. Kami
langsung kaget sembari kegirangan menyadari kehadiran Ian.

Kami langsung melanjutkan bermain bola, dan tidak berdua lagi tapi bertiga
karena kehadiran Ian. Tendangan demi tendangan kami lesatkan ke gawang yang
dijaga oleh Ian. Dan juga tepisan demi tepisan, tangkisan demi tangkisan, maupun
tangkapan demi tangkapan yang dilakukan Ian membuat aku dan josaphat tak
habis pikir.

Tak terasa kami didengarkan oleh kumandang adzan maghrib yang memaksa
kami menyudahi kegiatan kami di hari minggu ini. Dengan berbarengan kami
menuju ke kediaman kami masing-masing. Sembari bercanda gurai, tertawa
bersama-sama yang menutup hari minggu ini.

Sesampainya aku di rumah aku melihat kue pia buatan ibuku terpampang nyata di
atas meja di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku langsung meluncurkan tanganku
ke kue pia terlezat yang pernah ku rasakan di planet ini. Belum mampu
menggapai kue pia tersebut tanganku langsung dihantam oleh tangan ibuku. Ya
aku sadar beliau melakukan itu karena kondisiku yang belum mandi. Dilemparlah
aku ke kamar mandi berserta dengan handuk orange-ku.

Selesai mandi aku langsung menyantap kue pia yang sudah lama ku tahan
hasratku untuk memakannya. Dan dilanjutkan dengan makan bersama keluarga
kecilku. Sambil makan sambil pula kami bercerita tentang kegiatang kami di hari
ini. Kami bercerita dengan sangat riang dan bahagia.

Setelah selesai menyantap hidangan makan malam, aku langsung menuju kamar
tidurku guna menyiapkan buku-buku ku untuk sekolahku besok. Ya aku sudah
duduk di bangku kelas 6, sama seperti Josaphat dan Ian. Aku juga belajar, aku
sadar aku sudah duduk di kelas 6 dan sebentar lagi akan beranjak ke jenjang yang
lebih tinggi. Sudah habis waktu satu jam aku gunakan untuk belajar. Aku pun
mulai lelah dan mencoba memejapkan kedua mataku.

“Andre… Andre… ayooo banguunnn nakk…” Setengah sadar aku mendengar


suara lirih itu. Sadar bahwa waktu telah menunjukan pukul lima pagi. Aku pun
segera beranjak dari tempat tidurku yang nyaman ini. Aku pun langsung menuju
ke kamar mandi. Seusai mandi langsunglah aku berpakaian seragam putih
merahku. Yaappp aku sudah siap untuk menerima ilmu baru dari ibu bapak
guruku.

Sesampainya di sekolahku, segeralah aku meletakan tas merahku di bangku


biasanya tempat aku duduk. “kkrriinggg…. Kkriingg….” Bel sudah berbunyi,
tanda akan di mulainya kegiatan belajar mengajar hari ini. Guruku datang dengan
membawa tumpukan kertas yang membuat seisi ruang kelas ini menjadi bingung.
Yapp hari ini ulangan harian matematika. Seisi ruang kelas pun yang tadinya
bingun menjadi kaget dan panik, termaksud aku. Walaupun sudah belajar aku
tetap saja panik jika disuruh mengerjakan soal matematika. Dengan sedikit
percaya diri ku goreskan pensilku, menjawab satu per satu soal yang diberikan
oleh bapak guru. Dan waktu ulangan pun habis, syukurnya aku telah menjawab
semua soal yang dirikan. Pelajaran demi pelajaran ku lewati hari ini. Dan tanpa
sadar waktu pulang pun telah menjemput.

Sesampainya di rumah aku langsung mengganti pakaianku setelah itu aku turun ke
bawah untuk menyantap makan siangku. Belum habis makananku, Josaphat
memanggilku dari luar rumah yang pasti itu adalah ajakan untuk bermain. Segera
ku suruh masuk terlebih dahulu Josaphat baru ku lanjutkan makanku. Sembari
merancang jadwal untuk hari ini, aku mempercepat makanku karna tidak sabar
untuk segera bermain. Seusai makan kami langsung menuju ke rumah ian, dan
ternyata ian sudah menunggu kehadiran kami di sofa ruang tamunya.

Karna saat itu masih panas kami memutuskan untuk bermain di rumah ian terlebih
dahulu. Banyak permainan yang kita bisa mainkan di sini. Karena Ian anaknya
agak cengeng, jadi dia sering sekali dibelikan mainan baru oleh ibunya. Setelah
sore telah tiba Josaphat pulang terlebih dahulu untuk menunaikan ibadah sholat
wajib dan aku memutuskan untuk tetap berada di sini, di rumah Ian.

Setelah Josaphat telah selesai menunaikan ibadah sholat wajibnya, kita langsung
melanjutkan kegiatan kita dengan bermain sepeda. Bersepeda dengan santai
mengililingi perumahan sambil bercanda gurau. Terkadang kita juga balapan
saling mengadu gengsi. Tak satupun dari kami yang bisa juara berturut-turut saat
lomba bersepeda, karna kemampuan kami untung bersepeda bisa dikatakan
imbang.

Tak terasa maghrib telah tiba, saatnya untuk menyudai kegiatan bermain pada hari
ini. Kami pun pulang kerumah masing-masing dengan menggunakan sepeda
kami. Sesampainya di rumah, aku langsung disuruh ibuku mandi, makan
kemudian berangkat les. Mengingat bahwa sekarang aku sudah kelas 6 SD, aku
tidak boleh berlarut-larut dalam kesenangan saja. Aku juga harus
mengimbanginya dengan belajar, sesuai dengan kewajibanku sebagai pelajar.
Ke-esokan harinya kami kembali bermain bersama, akan tetapi kami mulai
mempersingkat waktu bermain kami, mengingat waktu ujian nasional sebentar
lagi akan datang. Kami lebih disibukan untuk belajar, yha, karna kami adalah
pelajar. Matematika, Bahasa Indonesia, Ipa, itulah yang setiap hari kami santap.
Terkadang juga kami luangkan waktu untuk bermain belajar bersama.

Namun ketiga waktu tunggal satu bulan lagi. Kami sama sekali tidak pernah
bertemu ataupun bermain. Kami sepakat untuk mengurung diri di rumah kami
masing-masing. Itu semua kami lakukan agar mendapatkan hasil yang maksimal
saat ujian nasiona tiba nanti.

Tetapi, ketiak sepekan sebelum ujian nasional tiba kami memutuskan untuk
bertemu di lapangan tempak kami bermain. Itu kami lakukan untuk melakukan
doa bersama dan saling menyemangati satu sama lain. Kami melakukan itu karena
kami adalah sahabat, iya kami adalah sebuah sahabat.

Tak terasa besok ujian nasional akan dimulai, dengan rasa tenang aku melawan
rasa gugup serta rasa tegangku. Tapi tetap, aku tidak boleh berperilaku
meremehkan dan somboong. Aku harus tetap fokus untuk mengerjakan soal ujian
nasional nanti. Tetapi tak jarang pula aku memikirkan kedua sahabatkku. Semoga
saja mereka bisa mendapatkan hasil yang baik nan memuaskan.

Aku telah menyelesaikan tiga hari ujian nasionalku. Tetapi aku tidak boleh
besantai-santai, karena aku belum bisa dipastikan bisa masuk ke SMP Negeri. Dan
tetap saja, kami juga belum bisa bermain bersama kembali, karena sekarang kami
disibukan oleh jadwal les untuk mempersiapkan diri agar bisa masuk ke SMP
Negeri.

Hari keluarnya danem telah tiba aku segera berangkat ke sekolahku untuk melihat
berapa kah danemku. Syukur aku mendapatkan danem yang tinggi, yaitu 29,21.
Dan kami bertiga pun berkumpul di rumah Josaphat untuk memamerkan danem
kami masing-masing. Alhasil Josaphat mendapatkan danem tertinggi yaitu 29,89
sebuah hasil yang fantastis, tetap itu wajar mengingat dia adalah anak seorang
dokter. Dan malangnya Ian berada pada posisi ke terakhir, yaitu 28,91. Walaupun
begitu kami semua sangat senang dengan hasil yang masing-masing kami
dapatkan.
Setelah itu kami kembali disibukan untuk mendaftarkan diri di SMP. Kami
kembali tidak mempunya waktu untuk bermain. Karena kami juga disibukan
untuk mengurus beberap administrasi yang diperlukan untuk mendaftar di SMP.
Setelah waktu pendaftaran ditutup aku setiap hari berangkat ke SMP yang telah
aku daftarkan unutk melihat posisiku tergusur atau tidak. Aku juga sempat
mellihat nama sahabatku di daftar nama-nama tersebut. Betapa bahagia aku jika
memang kami dipersatukan dalam SMP yang sama.

Akhirnya pengumungman akhir pun telah diumumkan. Aku tetap diterima di tiga
SMP yang aku daftarkan. Dan tinggal melakukan daftar ulang. Aku pun segera
bergegas menuju rumah Joshapat unutk menanyakan kemana dia akan
melanjutkan sekolahnya. Ternyata Josaphat memutuskan bahwa ia akan
melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 9, tempat kedua kakaknya manimba ilmu.
Ya itu adalah salah satu SMP terbaik di sini. Aku dan Josaphat pun pergi ke
rumah Ian untuk menanyakan hal yang sama. Dan Ian pun memutuskan untuk
melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 1. Kami semua memiliki sekolah favorit
yang berbeda-beda. Aku SMPN 4, Josaphat SMPN 9 dan Ian SMPN 1.

Dan akhirnya kami memiliki waktu untuk bermain bersama lagi, sambil
menunggu waktu hari pertama sekolah telah tiba. Di saat kami bermain bersama,
ada kabar yang membuat kita semua sedih, yaitu Ian akan segera pindah ke
rumah. Kami pun sangat sedih tetapi kami tetap melanjutkan hari ini untuk
bermain. Setelah kami menghabiskan waktu unutk bermain, kami pulang ke
rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, aku kembali memikirkan tentang
Ian yang akan segera pindah ruamh. Dan ada ide yang melintas di benakku, yaitu
unutk mengadakan pesta kecil-kecilan di hari minggu besok, yang merupakan hari
minggu terakhir kami.

Setelah aku mengajakan mereka tentang pesta di hari minggu itu, mereka semua
setuju. Kami pun mulai memikirkan apa saja yang kami perlukan di hari minggu
itu. Butuh waktu tiga hari untuk menyiapkan semua itu. Dan pula tiga hari lagi
kami akan mengadakan pesta itu. Sambil menunggu hari mminggu tiba, kami
tetap malakukan aktivitas rutin kami. Bermain menghabiskan sisa hari ini.

Dan hari minggu pun telah tiba, aku tidak sabar menunggu pesta yang akan kami
laksanakan hari ini. Ian pun menjemputku terlebih dahulu. Aku pun segera
bergegas mandatangi Ian. Aku dan Ian pun berjalan bersama menuju ke rumah
Josaphat. Setelah kami memanggil-manggil Josaphat yang keluar bukanlah
Josaphat, melainkan itu adalah kakak perempuannya. Kakak Josaphat mengatakan
bahwa Josaphat telah berangkat ke Surabaya tadi malam untuk menyusul kedua
orang tuanya. Lalu dia akan melanjutkan sekolahnya di sana. Dan seluruh
keluarga Josaphat juga sama. Dengan hati menggebuh-gebuh, kecewa, patah hati
itu semua pun menjadi satu. Kami tidak jadi melakukan pesta yang telah kami
rencanakan. Bukan hanya itu, kami juga tidak dapat berkumpul kembali.

Akhirnya hari demi hari ku lewati dengan tanpa semangat. Nafsu makanku
menurun, minat belajarku mengurang. Aku merasa sangat kehilangan harta
berhargaku yang selama bertahun-tahun ku miliki. Lalu tak tau mengapa ibuku
memanggilku. Dengan tidak semangat aku memenuhi panggilannya, dan ia
mengatakan bahwa ia menerima telfon dari temanku. Setelah ku terima, aku
mendengar suara yang taka sing dari telingaku.

Yaa itu adalah Josaphat. Seperti mimpi rasanyan, akhirnya aku bisa mendengar
kembali suara yang selalu menghiasi hari-hariku. Josaphat meminta maaf
kepadaku karena dia belum sempat pamit kepadaku dan kepada Ian. Ia mendapat
kabar mendadak bahwa ia telah didaftarkan di SMP di Surabaya. Ia pun
mengatakan sesuatu yang penting kepadaku, meskipun kami jauh tapi jarak tak
akan bisa mengalahkan persahabatan kita yang sudah sangat erat ini. Ia
mengatakan bahwa kami bertiga harus terus berkomunikasi agar jalinan
persahabat ini tetap erat. Dengan hati haru bercampur senang aku menutup telfon
dari Josaphat.

Josaphat benar, persahabat kami terlalu kuat dan tidak akan dapat dikalahkan oleh
waktu. Kami percaya bahwa kami akan tetap dapat bershabat walaupun jarak
memisahkan kami. Aku sangat bangga dengan sahabat-sahabatku. Aku sangat
cinta dengan sahabat-sahabatku. Dan aku yakin, kelak kami akan dapat bertemu
kembali. Ya, kami adalah SAHABAT SEHIDUP SEMATI!!!

TAMAT…!!!