Anda di halaman 1dari 8

JURNAL PENELITIAN

“Gambaran Praktik Komunikasi Terapeutik Dan Komunikasi Sosial Perawat Dalam


Pemberian Pelayanan Keperawatan”

1. Profil Penelitian
a. Judul Penelitian
Gambaran Praktik Komunikasi Terapeutik Dan Komunikasi Sosial Perawat
Dalam Pemberian Pelayanan Keperawatan

b. Pengarang
1. Asrin
2. Ridlwan Kamaluddin
3. Wahyu Ekowati

c. Sumber
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing).

d. Major/ Minor subject (Key Words)


Komunikasi terapeutik; komunikasi sosial; dan asuhan keperawatan
(Therapeutic communication; social communication; and nursing care).

e. Abstract

1. Latar Belakang
Latar belakang penelitian ini adalah dari proses asuhan keperawatan, dimana
komunikasi itu sangat penting karena dapat mempengaruhi tingkat kepuasan
pasien terhadap layanan perawatan kesehatan, peningkatan adaptasi selama
rawat inap, peningkatan adaptasi untuk melakukan tugas yang dapat

1
menyebabkan stres, penurunan rasa sakit, dan akselerasi pemulihan. Di sisi
lain, miskinnya komunikasi merupakan sumber utama ketidakpuasan pasien.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran praktik komunikasi
terapeutik dan praktik komunikasi sosial oleh perawat di Rumah Sakit Prof.
Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
2. Metode
Metode penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif dengan
pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat di
Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarja Purwokerto. Respondennya adalah
perawat yang melakukan komunikasi dengan pasien di bangsal medis dan
bedah di Prof Dr Margono Rumah Sakit Soekarjo Purwokerto. Metode
pengambilan sampel dilakukan dengan quota sampling. Analisis data
dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif.
3. Hasil
Hasil penelitian jurnal yaitu menunjukkan bahwa semua teknik komunikasi
terapeutik keperawatan dimanfaatkan oleh perawat dalam merawat pasien.
Teknik komunikasi terapeutik yang paling sering digunakan oleh perawat
adalah teknik diam dengan frekuensi 150 (22,6%). Sedangkan teknik
komunikasi terapeutik yang paling sedikit digunakan oleh perawat adalah
refleksi dengan frekuensi 12 (1,8%). Selanjutnya, untuk frekuensi
komunikasi yang dapat dilihat menurut shift kerja perawat dapat
disimpulkan bahwa shift pagi menunjukkan frekuensi komunikasi terbesar
yaitu 243 kali (36,4%).
Kesimpulan penelitian dapat dideskripsikan bahwa semua teknik
komunikasi terapeutik digunakan oleh perawat dalam merawat pasien dan
teknik komunikasi terapeutik yang paling sering digunakan oleh perawat
adalah teknik diam dan juga teknik paling sedikit yang digunakan oleh
perawat adalah teknik refleksi. Berdasarkan pergeseran perawat kerja
komunikasi terapeutik paling banyak dilakukan pada pagi hari. Sedangkan

2
untuk teknik komunikasi sosial yang paling banyak digunakan adalah
memberi saran dan juga yang paling langka yang digunakan adalah diskusi
pribadi dengan yang terbesar Jumlah komunikasi dilakukan pada pagi hari
4. Diskusi
Tertangkap shift siang hari sebanyak 234 kali (35%), dan setidaknya untuk
shift malam sebesar 191 kali (28,6%). Sisi lain, komunikasi sosial yang
digunakan oleh perawat dalam merawat pasien terdiri diskusi sosial, diskusi
keluarga, diskusi kepedulian anak, diskusi liburan, diskusi tentang
kebahagiaan / kegembiraan dan memberi nasehat. Keseluruhan komunikasi
sosial paling banyak dimanfaatkan oleh perawat dalam merawat pasien
memberi nasehat dengan jumlah 114 (37,9%). Sedangkan komunikasi sosial
paling sedikit yang digunakan perawat dalam merawat pasien adalah diskusi
pribadi dengan jumlah 1 (0,3%). Menurut shift kerja perawat, frekuensi
komunikasi paling sosial yang digunakan pada shift pagi itu jumlah 111
(36,9%) dan yang paling sedikit pada shift siang hari dihitung 90 (29,9%).

f. Tanggal Publikasi
November 2006

2. Deskripsi penelitian berdasarkan metode PICO:


a. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah agar gambaran praktik komunikasi terapeutik
dan komunikasi sosial perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan perlu
dilakukan guna mengetahui perbandingan frekuensi dari keduanya.
b. Desain penelitian
Perencanaan penelitian dari jurnal ini dengan metode yang akan digunakan
adalah penelitian observasional dengan pendekatan kuantitatif.

3
c. Analisis PICO dan Critical Thingking

Analisis PICO Critical Thinking

Populasi :

Populasi dan sampel penelitian ini adalah Teknik kuota sampling yang digunakan pada
semua perawat di Rumah Sakit Prof. Dr. penelitian adalah teknik pengambilan sampel
Margono Soekarjo Purwokerto. dengan cara menetapkan jumlah tertentu
Sampel penelitian adalah perawat yang sebagai target yang harus dipenuhi dalam
melakukan komunikasi pada pasien di ruang pengambilan sampel dari populasi yang
rawat inap penyakit bedah dan penyakit kemudian dengan jumlah yang telah ditentukan
dalam. Sampel penelitian akan diambil tersebut peneliti mengambil sampel secara acak
secara kuota sampling dengan pertimbangan asal memenuhi persyaratan sebagai sampel dari
besarnya jumlah kamar perawatan pada populasi tersebut.
masing-masing ruangan dan jumlah pasien
(Eriyanto, 2007)
yang dirawat pada masing-masing kamar.
Jalannya penelitian akan dimulai dengan
mengamati semua perilaku responden yang
sedang melakukan komunikasi kepada
pasien pada saat memberikan pelayanan
keperawatan dalam waktu satu shift tugas
(shift pagi, siang, dan malam).
Intervensi :

Intervensi keperawatan diberikan Penelitian ini membuktikan bahwa intervensi


yang
berupa observasi dilakukan di dua bangsal keperawatan berupa observasional dengan
yaitu bangsal asoka yang mewakili bangsal pendekatan pada pasien dapat meningkatkan
penyakit dalam dan bangsal kenanga yang frekuensi dari komunikasi terapeutik sehingga
mewakili bangsal penyakit bedah dengan dapat meningkatkan kinerja dari perawat dan
melakukan observasional dengan kepuasan dari pasien karena adanya evaluasi

4
pendekatan kuantitatif. dan tindak lanjut kepada perawat selama proses
perawatan untuk menilai kepuasan dari pasien
untuk perawat. Dari pengolahan data hasil
observasi didapatkan gambaran praktik
komunikasi terapeutik perawat dalam
pemberian pelayanan keperawatan.
(Asrin dkk, 2006).

Compare :
Jurnal 1 : Gambaran Praktik Komunikasi Kepuasaan pasien adalah suatu tingkat
Terapeutik Dan Komunikasi Sosial perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari
Perawat Dalam Pemberian Pelayanan kinerja dari layanan kesahatan yang diperoleh
Keperawatan setelah pasien membandingkannya dengan apa
yang diharapkan (Imbalo SP, 2007).
Jurnal 2 : Komunikasi Terapeutik
Perawat Berhubungan dengan Kepuasan Dalam penelitian ini variabel dependen
Pasien (terikat) adalah kepuasan pasien. Perolehan
data menggunakan data primer yaitu dengan
Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi
dikumpulkan menggunakan kuesioner, dan data
dengan pendekatan cross sectional yang
sekunder yaitu dengan melihat catatan-catatan
dilakukan di Rumah Sakit Rajawali Citra
medical Record. Perawat tidak melakukan
Bantul, Yogyakarta. Pada bulan Juni 2015.
observasional atau pendekatan terhadap pasien
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
sehingga tidak mengetahui frekuensi dari
pasien di ruang rawat inap Bangsal
komunikasi terapeutik dari perawat.
Pringgodani RS Rajawali Citra Bantul,
Yogyakarta. Pengambilan sampelo
menggunakan teknik accidental sampling
berjumlah 57 pasien yang di ruang rawat
inap Pringgodani, bersedia menjadi
responden, >24 jam dirawat, bisa membaca

5
dan bisa menulis. Variabel independen
(bebas) dalam penelitian ini adalah
komunikasi terapeutik perawat. Variabel
dependen (terikat) adalah kepuasan pasien.
Hasil penelitian ini dapat dijelaskan, bahwa
sebagian besar responden menyatakan
bahwa perawat telah menerapkan
komunikasi terapeutik dengan baik dan
sebagian besar pasien menyatakan telah
puas dengan komunikasi yang diberikan
oleh perawat. Semakin baik komunikasi
terapeutik yang dilaksanakan maka semakin
puas pasien dalam menerima. Sehingga
dapat disimpulkan, bahwa komunikasi
terapeutik berhubungan dengan kepuasan
pasien.
Outcome :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan Penelitian ini menunjukkan bahwa secara


dengan observasi dilakukan di dua bangsal keseluruhan rata-rata komunikasi terapeutik
yaitu bangsal asoka yang mewakili bangsal yang paling sering dilakukan oleh perawat
penyakit dalam dan bangsal kenanga yang dalam pemberian pelayanan keperawatan
mewakili bangsal penyakit bedah. adalah teknik komunikasi diam dengan
Bahwa jumlah frekuensi komunikasi frekuensi 150 (22,6%).
terapeutik perawat pada shift pagi adalah
243 kali (36,4%), shift siang 234 kali (35%), Teknik diam digunakan untuk memberikan
dan shift malam 191 kali (28,6%). Secara kesempatan pada pasien sebelum menjawab
keseluruhan rata-rata komunikasi terapeutik pertanyaan dari perawat. Diam akan
yang paling sering dilakukan oleh perawat memberikan kesempatan kepada perawat dan

6
dalam pemberian pelayanan keperawatan pasien untuk mengorganisasi pikiran masing-
adalah teknik komunikasi diam dengan masing. Oleh karena itu, teknik diam yang
frekuensi 150 (22,6%). Sedangkan teknik digunakan oleh perawat dapat diartikan bahwa
komunikasi terapeutik yang paling sedikit perawat mendengarkan yang disampaikan oleh
dilakukan adalah refleksi dengan frekuensi pasien maka akan menimbulkan kepuasan dari
12 (1,8%). pasien dan meningkatkan kualitas kinerja dari
perawat.

(Sundeen, dalam Suryani, 2005).

3. Kelebihan - Kelemahan penelitian


a. Kelebihan

1. Populasi penelitian ini diambil tidak hanya dari satu ruangan rumah
sakit.
2. Jurnal ini menjelaskan dengan rinci hasil dari observasi frekuensi
komunikasi terapeutik perawat dan secara keseluruhan rata-rata
komunikasi terapeutik yang paling sering dilakukan oleh perawat.
3. Hasil dan metode dari penelitian sangat menguntungkan untuk
mengetahui tingkat kepuasan dari pasien terhadap komunikasi dari
perawat.
4. Hasil penelitian sangat menguntungkan untuk profesi perawat,karena
bisa mengetahui tingkat komunikasi terapeutik yang diberikan ke
pasiennya.
5. Pada penelitian mendiskripsikan secara lengkap yang disertai dengan
table dan respon dari pasien tentang hasil penelitian yang
menggunakan presentase.
6. Jurnal penelitian ini menggunakan bahasa dan kata-kata yang mudah
dipahami dan kata-kata yang digunakan jelas tidak berbelit-belit.
7. Jurnal ini dilengkapi dengan data dari jurnal lainnya.

7
b. Kelemahan

1. Waktu penelitian tidak dijelaskan dengan secara rinci.


2. Tidak disebutkan berapa perawat dan pasien yang dilakukan untuk
kegiatan penelitian.

4. Manfaat Hasil Penelitian bagi Keperawatan

Manfaat dari penelitian ini adalah perawat dapat memahami perannya


dalam melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien, dimana komunikasi
terapeutik bertujuan untuk penyembuhan pasien tidak hanya sembuh fisiknya
saja, tapi yang diharapkan dapat sembuh psikologisnya dari pasien. Dan
peningkatan perkembangan kesehatan pasien, pemahaman permasalahan
kesehatan pasien, dan membantu dalam mencapai kesehatan yang optimum.
Perawat juga dapat meningkatkan caring nya terhadap pasien. Sedangkan
komunikasi sosial dalam pemberian pelayanan keperawatan juga tidak bisa
diabaikan karena bisa dijadikan sebagai jembatan untuk mencapai suksesnya
komunikasi terapeutik.

5. Analisa Penggunaan Jurnal sebagai Dasar dalam Intervensi Keperawatan

Penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan teknik komunikasi terapeutik


yang meliputi teknik : mendengarkan aktif, pembukaan luas/memberi
pertanyaan terbuka, mengulang pertanyaan digunakan, klarifikasi, refeksi,
fokusing, berbagi persepsi, pengidentifikasian tema, diam, dan humor
digunakan oleh perawat selama memberikan pelayanan keperawatan sehingga
memudahkan perawat dalam melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien
yang dimana komunikasi ini lebih focus pada proses peningkatan
perkembangan kesehatan pasien, pemahaman permasalahan kesehatan pasien,
dan membantu dalam mencapai kesehatan yang optimum.