Anda di halaman 1dari 9

TUGAS 1

Nama : Maulana Syah Putra M


NPM : 12.2015.1.00272
MK : Geologi Indonesia

GEOLOGI INDONESIA

Banyak teori dan penelitian terkait dengan keadaan geologi indonesia secara
regional. Teori teori tersebutlah yang mencetuskan bagaimana seharusnya kita
berfikir dalam menganalisa keadaan geologi indonesia saat ini serta fenomena-
fenomena yang berlangsung agar apa yang kita amati ataupun analisa mendekati
kebenaran.

1. Hipotesa tekukan (Buckling Methods oleh Vening-Meinesz and Koenen )

Vening-Meinesz , melalui penelitiannya mengenai anomaly gravitasi (gaya


tarik bumi) ia mengarungi perairan Hindi-Belanda dengan menggunakan kapal
selam untuk mengukur gravitasi di perairan Hindi-Belanda ( Nusantara ). Dari
sekian banyak pengalamannya, temuannya di Nusantara memberikan kontribusi
paling penting dan bersejarah dalam perkembangan ilmu pengetahuan kebumian.
Bermula dari pengukuran gravitasinya di Samudra Hindia di sebelah selatan Jawa,
yang di dasar lautnya terdapat Palung Jawa (Java Trench) dengan kedalaman
maksimum sekitar 7.000 m. Disini Meinesz menemukan anomali gravitasi negatif
yang maksimum. Ternyata kemudian anomali gravitasi negatif ini ditemukan juga
pada jalur yang memanjang yang terbentang mulai dari sebelah barat Sumatra,
melengkung ke sebelah selatan Jawa dan Nusa Tenggara, kemudian membelok ke
utara ke Laut Banda, selanjutnya ke Laut Maluku sampai ke Filipina, sepanjang
kurang lebih 8.000 km (Gambar 3). Jalur dengan anomali gravitasi negatif ini
kemudian dikenal sebagai Meinesz Belt (Sabuk Meinesz).
Gambar 1. Sabuk Meninesz (Meinesz Belt) menunjukkan perairan dengan anomali gravitasi negatif yang
melengkung mulai dari sebelah barat Sumatra , Selatan Jawa dan Nusa Tenggara membelok ke Laut Banda,
Maluku Utara sampai ke Filipina dengan jarak sekitar 8.000 km (Sumber: Vening Meinesz, 1934; Katili, 1989)

Pertanyaanya adalah: mengapa di jalur ini terdapat anomali gravitasi


negatif? Besarnya gravitasi sejalan dengan massa kerak bumi yang ada di
bawahnya. Defisiensi atau ekses massa pada porsi manapun kerak bumi ini
dimanifestasikan dengan adanya anomali, bisa positif atau pun negatif. Terdapatnya
palung laut-dalam ternyata menghasilkan anomali gravitasi yang negatif, jadi
seolah-olah ada gaya maha besar misterius yang menarik dasar laut di palung itu ke
dalam perut bumi, dan bersama dengan itu ikut menyeret pula gravitasi hingga
menimbulkann anomali negatif. Meinesz pun berteori bahwa ini hanya mungkin
terjadi bila kerak bumi ini bersifat plastis atau lentur yang mengambang di atas
mantel bumi, dan karena pemanasan dari dalam inti bumi akan terjadilah arus
konveksi (convection current) yang berputar vertikal (Gambar 4). Di tempat dua
arus konveksi itu bertemu di permukaan maka keduanya akan tenggelam ke bawah.
Inilah yang menyeret dasar laut ke bawah yang akan membentuk jalur

Gambar 2. Ilustrasi konseptual Vening Meinesz yang menggambarkan sebagian dari penampang bumi yang
menunjukkan terjadinya arus konveksi di mantel bumi,
2. Teori Undasi ( Van Bemmelen (1939, 1949): Undation Theory)

Teori Undasi adalah teori yang disusun oleh Van Bemmelen untuk
menjelaskan proses terbentuknya busur-busur pegunungan yang menjadi kerangka
pokok pulau-pulau diIndonesia dan sekitarnya. Teori ini sudah lama, dan sejak
munculnya Teori Tektonik Lempeng Sekitar 1967, kurang menarik lagi bagi
ahli geologi. Dengan kata lain, teori Undasi sudah ditinggalkan orang, digantikan
oleh teori Tektonik Lempeng yang lebih banyak menjawab permasalahan yang berkaitan
dengan gejala alam seperti gempa bumi danvulkanisme. Teori Undasi hanya sebatas
pembanding saja dewasa ini.Undasi adalah penggelombangan, sperti gelombang air
yang terjadi apabila kita melemparkan batu ke kolam. Ada dua
macam penggelombangan yaitu Undasi dan Oscillasi .

Undasi Merupakan penggelombangan yang agak teratur tetapi


periodik/terputus-putus,artinya selang beberapa waktu lamanya muncul baru
muncul penggelombangan berikutnya. Istilah ini digunakan oleh Van Bemmelen
dan Stille. Oscillasi adalah pengelombangan yang teratur seperti getaran senar. Istilah
ini digunakan oleh Haarmann dan Bailys.Secara ringkas Van Bemmelen
berpendapat bahwa terbentuknya rangkaian busu rpegunungan di Indonesia seperti
terbentuknya gelombang air pada saat kita melemparkan batu ke air, menyebar dari
suatu pusat undasi (tempat batu jatuh di kolam) di mana selang beberapa saat
kemudian akan terbentuk busur gelombang yang melingkari pusat undasi
danselanjutnya makin menyebar ke luar sampai akhirnya tidak nampak
lagi penggelombangan ditempat yang jauh dari pusat penggelombangan tadi. Dua
busur gelombang yang terbentuk paling luar disebut busur luar dan busur dalam.
Untuk memahami teori undasi sebagaimana telah dikemukaan secara ringkas, maka
secara berturut-turut akan dibicarakan: Prinsip Umum Teori Undasi, Beberapa
istilah Tektogenesis. Lapisan-lapisan Silikat, dan Proses Hypodifferensiasi.

Prinsip Umum Teori Undasi


Prinsip umum proses pembentukan pegunungan di Indonesia menurut teori undasi
sebagai berikut:
a. Siklus pembentukan pegunungan dimulai dari pusat diastropisme di sumbu
geosinkli nutama yang terbentuk pada era Paleozoikum muda
b. Dari sumbu geosinklin ini terjadi pelengkungan ke atas membentuk
geoantiklin yang mungkin bersifat vulkanik. Pengangkatan
geoantiklin tersebut dikompensasikan oleh adanya pelengkungan ke bawah di
kedua sisi geantiklin tadi yang disebut side deep (palungsamping).
c. Setelah 20-30 juta tahun kemudian, dari palung samping tadi muncul
genatiklin baru yang mula-mula bersifat non vulkanik. Palung kompensasi
terbentuk lagi di sisi luar yang disebut palung depan ( foredeep). Geoantiklin
I menurun kembali menjadi basin sentral
d. Geoantiklin yang terangkat dari foredeep sperti itu akan menghasilkan
serangkaian penggelombangan di mana pengangkatan I bersifat non
vulkanik, pengangkatan II bersifat vulkanik, dan pengangkatan III aktivitas
vulaknisme telah padam (post vulkanik). Sifat ini khususnya berlaku untuk
penggelombangan di daerah antara Asia dan Australia yaitu Maluku,
Sulawesi dan Kalimantan. Di Filipina, Sumatera dan Jawa yang berbatasan
dengan dasar laut dalam, pengangkatan III masih bersifat vulkanik karena
teradi pengaktifan kembali vulkanisme. Lain lagi di daerah Birma, di mana
busur dalamnya telah padam karena diapitoleh Semenanjung India dan
massif Thailand-Kamboja.
e. Setelah puluhan juta tahun kemudian, dari foredeep muncul lagi geantiklin
baru dengan kompensasi berupa foredeep baru dari sisi luar, yang dalam
melewati waktu mengalami pula serangkaian pengangkatan dan penurunan
dengan ciri umum pengangkatan I nonvulkanik, pengangkatan II vulkanik
dan pengangkatan III post vulkanik. Demikianlah selanjutnya,
pengangkatan geantiklin baru terjadi di foredeep sehingga semakin jauh
dari pusat penggelombangan
f. Gaya endogen di daerah bagian tengah (daerah yang disebutkan dalam
point b dan c) pada masa ini kurang lebih telah padam, Basin sentral yang
luas ini berkembang menjadi patahan blok antar pegunungan dengan ciri-
ciri benua (sudah stabil).Demikianlah serangkaian busur pegunungan
terbentuk main menyebar ke arah luar daripusat undasi di sumbu geosinklin,
yang pada akhirnya akan berhenti bila telah mencapai tepi benua.

3. Plastic Deformation Hypotesis (Bijlaard , 1935)


4. Pulse of Earth (Umbgrove,1949)

Paparan Sahul-Arafura merupakan bagian dari lempeng benua Samudera


India-Australia, yang membentang mulai dari bagian barat Papua, melewati Laut
Arafura, bagian selatan Laut Timor berlanjut ke arah selatan hingga mendekati
daratan Australia sekarang. Ke arah selatan dari paparan Arafura ini, terhampar
Paparan Australia yang meliputi runtunan batuan malihan berumur mulai dari
Paleozoikum hingga endapan sekarang.

Wilayah lain di Indonesia yang terletak diantara Paparan Sunda dan Paparan
Sahul-Arafura merupakan daerah yang paling aktif secara tektonik pada saat ini.
Zona aktif secara tektonik tersebut dicerminkan dengan berkembangnya gugusan
pulau berupa busur-dalam bergunungapi dan sederet pulau non-volkanik dengan
intensitas struktur (deformasi) yang tinggi.

Rangkaian (busur) gunungapi di Indonesia itu mencakup Sumatera, Jawa,


Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan pulau kecil-kecil di seputar Laut Banda.
Sedangkan untuk busur luar non-volkanik membentuk deretan pulau kecil di barat
Sumatera, seperti Pulau Simeulue, Nias, Kepulauan Mentawai, Enggano dan pulau
kecil lainnya. Jalur busur luar non-volkanik ini terus berlanjut ke punggung bawah
laut di selatan Jawa (tinggiannya tidak / belum membentuk kepulauan), dan terus
berlanjut ke timur melewati deretan pulau tak bergunungapi seperti Pulau Timor,
Tanimbar, Kei dan kemudian Seram yang dianggap masih tercakup didalamnya
(Umbgrove, 1949).

5. Jalur Metalogini (Westerveld (1952): Orogens and Mineral Provinces)

Jalur metalogeni adalah jalur-jalur wilayah tempat terbentuknya mineral


logam. Adapun yang pertama kali memperkenalkan jalur metalogeni Indonesia
adalah Jan Westerveld. Orang Belanda ini menulis “Phases of mountain building
and mineral provinces in the East Indies” (1952) yang dimuat dalam International
Geological Congress “Report of the Eighteenth Session Great Britain 1948”, part
13.

Dalam tulisannya, Westerveld menunjukkan bahwa jalur metalogeni


berkaitan dengan setiap orogen (pembentukan pegunungan) yang terjadi. Di
Indonesia sendiri dikenal empat orogen, yaitu Malaya, Sumatra, Sunda, dan
Maluku. Westerveld-lah yang menerbitkan peta jalur magmatisme Indonesia dalam
kaitannya dengan keterdapatan mineral logam. Provinsi mineral di indonesia
sebagaimana yang di maksudkna Westerveld (1952), telah digunakan sebagai
landasan prospeksi mineral oleh Badan Survey Geologi Indonesia. Konsep
Westerveld (1962) dicirikan oleh kesederhanaan dan dapat di praktikkan dengan
mudah. Secara teori, teori tersebut menyiratkan hubungan genetik yang intim antara
fase pembentukan gunung api dengan evolusi magmatiknya, dan formasi mineral
cebakan. alasan ini tampaknya menjadi prinsip yang terbaik dan dapat dipraktikkan
dalam mendirikan provinsi mineral di Indonesia, karena aspek geologi yang paling
istimewa dari pulau-pulau tersebut adalah adanya berbagai orogena, dapat
dibedakan antara satu dengan yang lainnya.

Sebagai hasil dari pembentukan gunung yang di bentuk dari sabuk


orogenesa (pembentukan gunung api), provinsi mineral harus ditentukan oleh
orogenesa itu sendiri. efeknya, beberapa jenis cebakan, tergantung oleh beberapa
faktor yang terkandung di dalam sabuk orogenesa, yang mungkin muncul
berdampingan didalam satu provinsi. disamping itu , karakteristik tertentu
umumnya menjadi beberapa kenampakan cebakan, karena kesamaan fitur sabuk.

Indonesia merupakan bagian dari jalur Metalogeni Asia (Jalur Timah Asia)
dan Jalur Metalogeni New Guinea (Tembagapura Porfiri). Jalur-jalur yang
termasuk wilayah Sundaland itu terbentuk pada puluhan juta tahun yang lalu (tyl),
yaitu Mesozoikum (250 – 65 juta tyl) dan pascamesozoikum pada pinggiran Benua
Eurasia. Sementara Jalur Timah Bangka terbentuk pada Triass- Kapur
(Mesozoikum) dan Jalur Au-Cu Papua pada Pliosen-Pleistosen (kl. 5,5 juta –
55.000 tyl).

Keberadaan jalur metalogeni ini memang berkaitan dengan evolusi tektonik


regional Indonesia. Evolusi ini terpaut erat dengan sejarah tumbukan tiga lempeng
(Eurasia, Pasific, Hindia-Australia), yang bercirikan pemekaran, perkembangan
busur kepulauan dan lempeng mikro, penyatuan lempeng mikro dengan Eurasia,
subduksi kerak samudera, dan juga benturan (collision atau kolisi) antara lempeng
benua, kolisi benua busur kepulauan dan underthrusting kerak benua.

Setelah Westerveld, beberapa pakar mengembangkan jalur dengan versi lain


seperti Katili (1973, 1979), Hutchinson (1978), Hamilton (1979), Djumhani (1986),
Yaya Sunarya (1990), Sukirno (1995), Carlile & Mitchell (1994), van Leeuwen dkk
(1994), Sukamto dkk (2003), Harahap dkk (2011), dan Harahap dkk (2013).

Untuk menyediakan data mineral logam atau metal, mutlak diperlukan


adanya Peta Metalogeni. Peta ini menggambarkan sebaran dan genesis mineral
logam terkait dengan kondisi geologi (litologi, struktur, tektonik, umur, serta jalur
magmatik) berskala regional. Di dalam peta tersebut, ada istilah provinsi
metalogeni, yaitu daerah yang dicirikan oleh himpunan cebakan mineral tertentu
atau oleh lebih dari satu jenis cebakan. Provinsi metalogeni mungkin mengandung
lebih dari satu episode cebakan metalogeni.
6. Teori Tektonik Lempeng

Teori tektonik lempeng mampu menerangkan asal usul keberadaan


magmatisma, tektonik aktif baik di darat maupun di laut secara sistimatis dan
teratur. Hamilton (1989) mengungkapan, berdasarkan integrasi data geofisika dan
geologi permukaan maupun bawah laut seperti: peta batimetri (Mammerickx et al.,
1976), sifat thermal (Anderson et al., 1978), gempa, dan peta tektonik skematik
(Hayes & Taylor, 1978), struktur kerak (Hayes et al., 1978), isopach sedimen
(Mrozowski & Hayes, 1978), free-air gravity (Watts et al., 1978), anomali-anomali
magnetik (Weissel & Hayes, 1978), dan pergerakan lempeng-lempeng regional
(Hamilton, 1978; Tapponnier et al., 1982) dari berbagai sistem di wilayah Indonesia
yang merekam interaksi antara tiga lempeng besar dan lempeng-lempeng yang
lebih kecil, maka tektonik di Indonesia menyediakan data dan berbagai contoh dari
produk dan pro-ses pertemuan lempeng jenis kon-vergen.
Gambar 3. Rekonstruksi lempeng tektonik di Indonesia (Hall, 1995)

Gugusan kepulauan Indonesia merupakan pertemuan lempeng Pasifik dan


lempeng Australia (di bagian timur), serta Lempeng Eurasia dan Lempeng Hindia
(di bagian barat). Hadirnya lempeng besar beserta lempeng yang lebih kecil
(Lempeng Caroline dan Lempeng Laut Filipina) menyebabkan tatanan tektonik
kepulauan Indonesia menjadi rumit, (Gambar 3).

Menurut Katili (1980), konsep Tektonik Lempeng yang telah diterapkan di


busur kepulauan Indonesia oleh beberapa peneliti seperti Hatherton & Dickinson,
1969 ; Fitch, 1970 ; Fitch & Molnar, 1970 ; Hamilton. 1970, 1971, 1972, dan Katili,
1971, terbukti telah menjelaskan berbagai fenomena geologi dan geofisika serta
mempermudah dalam memahami Indonesia, dan juga digunakan untuk
memprediksi penyebaran dan umur batuan
Katili (1980), berdasarkan peneliti terdahulu (Hamilton, 1970; dan Dickinson,
1971), memaparkan bahwa model tektonik lempeng pada busur kepulauan
Indonesia telah di-rekonstruksi, menghasilkan sistem 2 busur kepulauan. Model
tektonik lempeng di timur Indonesia memperlihatkan kesamaan dengan yang ada
di barat, kecuali tidak adanya foreland basin di belakang busur kepulauan. Model
di timur Indonesia menunjukkan struktur yang lebih kompleks, dapat dilihat dari
bentuk inter-arc basin, busur ketiga, dan cekungan laut dalam. Model seperti ini
telah dipaparkan oleh Karig (1971, dalam Katili, 1980) yang menunjukkan bahwa
batas cekungan, disebut inter-arc basin, di-hasilkan dari mekanisme pull-apart.

Menurut Matsuda dan Uyeda (1971, dalam Katili, 1980), perubahan batas
lautan akibat intrusi magma dari Benioff Zone di belakang busur volkanik
menghasilkan lempeng samudera berukuran kecil.

Asosiasi batuan pada penampang skematik struktur tektonik, seperti yang


diperlihatkan pada gambar 3, mempermudah perkiraan letak sumber daya mineral
maupun bahan galian tambang lainnya, seperti nikel dan krom (di sekitar trench
slope break); emas, mangan, tembaga (di sekitar busur magmatik); endapan timah
dan seng (di sekitar fore arc basin).

Gambar 4. Hubungan antara keterdapatan mineral dengan posisi struktur tektonik (Alzwar et al., 1987,
dimodifikasi)

Cekungan belakang busur (back arc basin) terletak di belakang busur vulkanik,
merupakan tempat diendapkannya sedimen, terutama yang berasal dari busur
vulkanik dan benua.
Untuk wilayah Asia Tenggara dan khususnya untuk Indonesia, pada akhir
Kenozoikum, strukture style dipengaruhi oleh interaksi tiga buah lempeng kerak
bumi (Gambar 1.6), masing-masing adalah Lempeng Eurasia di bagian utara,
Lempeng Samudera Pasifik di bagian timur dan Lempeng Samudera India-
Australia di bagian selatan (Katili, 1973 dan Hamilton, 1979).

Paparan Sunda adalah bagian dari Lempeng Eurasia (yang untuk sebagian
besar terbenam di bawah lautan) yang meliputi Semenanjung Malaya, bagian
terbesar Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa dan sebagian besar Laut
Jawa serta bagian selatan Laut Cina Selatan. Paparan ini terdiri atas batuan sedimen,
batuan beku dan batuan metamorf berumur pratersier yang telah terdeformasi kuat
dibawah pengaruh gerakan tektonik dan penujaman selama Zaman Tersier. Batas
antara lempeng Hindia-Australia dan lempeng Eurasia di barat Sumatera dan di
selatan Jawa serta Nusa Tenggara, dicirikan oleh sistem palung-busur (arc trench
system) yang dinamakan sebagai Palung Sunda (Sunda trench) yang membentang
sepanjang kurang lebih 5000 km (Hamilton, 1979).

Pustaka
Antariksa, Katon. 2012. Teori Undasi. https://id.scribd.com/doc/85335407/Teori-
Undasi (diakses 06.35 05/03/2018)

Gorsel, J..T.. Van. 2006. Biibliiography Of The Geology Of Iindonesiia And


Surroundiing Areas.

Guild, P.W.,. 1974. Metallogenic provinces and mineral deposits in the


Southwestern Pacific.

Nontji , Anugerah. 2017. Veining-Meinesz: Penelitian Gravitasi di Nusantara


Dengan Kapal Selam .
Proccedings Royal Acad. Amsterdam. Vol. XXXV. 1932.

Satyana, Awang. 2000. Tektonik Lempeng dan Geotektonik Indonesia


Kemajuannya Kini
https://www.academia.edu/12104632/tektonik_lempeng_dan_geotektonik
_indonesia_kemajuannya_kini (diakses 06.00 05/03/2018)

Zakaria, Zufialdi. 2007. Aplikasi Tektonik Lempeng Dalam Sumber Daya


Mineral, Energi Dan Kewilayahan. Laboratorium Geologi Teknik, Jurusan
Geologi, FMIPA, UNPAD.