Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH BANTUAN HUKUM

PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM DI INDONESIA SEBELUM DAN

SESUDAH UU NO. 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM

Disususun Oleh:

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO

2017

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai negara yang berlandaskan hukum sudah seharusnya negara mengakui dan
melindungi hak asasi manusia bagi setiap individu termasuk hak atas bantuan hukum. Sejalan
dengan Pasal 27 ayat (1) UUD NRI 1945 penyelenggaraan pemberian bantuan hukum kepada
warga negara merupakan upaya untuk memenuhi dan sekaligus sebagai implementasi negara
hukum yang mengakui dan melindungi serta menjamin hak asasi warga negara akan kebutuhan
akses terhadap keadilan (access to justice) dan kesamaan di hadapan hukum (equality before the
law). Hubungan keduanya yaitu antara akses terhadap keadilan dan kesamaan di hadapan hukum
adalah bahwa persamaan di hadapan hukum tersebut dapat terealisasi dan dapat dinikmati oleh
masyarakat apabila ada kesempatan yang sama untuk mendapatkan keadilan. Dalam hal ini
persamaan dihadapan hukum harus diiringi pula dengan berbagai kemudahan untuk
mendapatkan keadilan, termasuk di dalamnya pemenuhan hak atas bantuan hukum.

Hak atas bantuan hukum sebenarnya telah diterima secara universal yang sudah dijamin
oleh Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil
and Political Rights (ICCPR)). Pada Pasal 16 dan Pasal 26 ICCPR menyatakan bahwa menjamin
semua orang berhak memperoleh perlindungan hukum serta harus dihindarkan dari segala bentuk
diskriminasi. Sedangkan Pasal 14 ayat (3) ICCPR, memberikan syarat terkait Bantuan Hukum
yaitu: 1) kepentingan-kepentingan keadilan dan 2) tidak mampu membayar Advokat.

Walapun sudah ada instrumen internasional serta dasar hukum nasional terkait bantuan
hukum, namun demikian, jaminan atas hak konstitusional tersebut belum mendapatkan perhatian
secara memadai, pemberian bantuan hukum yang dilakukan belum banyak menyentuh orang atau
kelompok orang miskin, sehingga mereka kesulitan untuk mengakses keadilan karena terhambat
oleh ketidakmampuan mereka untuk mewujudkan hak-hak konstitusional mereka. Untuk itulah
pada tanggal 31 Oktober 2011 setelah disetujui bersama antara DPR dengan Presiden, UU
Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum disahkan. UU tersebut disahkan dalam rangka
menjamin hak konstitusional bagi setiap warga negara yang mencakup perlindungan hukum,
kepastian hukum, persamaan di depan hukum dan perlindungan hak asasi manusia.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah penyelenggaraan bantuan hukum di Indonesia sebelum UU No. 16 Tahun


2011 disahkan?

2. Bagaimanakah penyelenggaraan Bantuan Hukum di Indonesia setelah ditetapkannya UU


No. 16 Tahun 2011?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Penyelenggaraan bantuan hokum di Indonesia sebelum UU NO. 16 Tahun 2011 Tentang


Bantuan Hukum Ditetapkan
Sebelum ditetapkannya UU Nomor 16 Tahun 2011, terdapat beberapa peraturan
terkait dengan bantuan hukum, yaitu1:

1. Reglement Tot Regeling Van Het Rechtswezen In De Gewesten Buiten Java En Madura
(Staatsblad Tahun 1927 Nomor 227);

2. Het Herziene Inlandsch Reglement (Staatsblad Tahun 1941 Nomor 44);

3. Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP);

4. Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat;

5. Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;

6. Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang


Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum;

7. Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang


Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama;

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan
Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma.

9. SEMA 10 Tahun 2010 tentang tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan Hukum di


lingkungan peradilan.

Bantuan Hukum menurut UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP

Menurut Pasal 1 angka 13 KUHAP, Penasihat Hukum adalah seorang yang memenuhi
syarat yang ditentukan oleh atau berdasar undang-undang untuk memberi bantuan hukum.
Bantuan tersebut adalah guna untuk kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa selama
dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan menurut tatacara yang ada dalam
KUHAP. Dari ketentuan ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa tersangka atau terdakwa guna
mendapatkan pembelaan berhak mendapat bantuan hukum dari penasihat hukum. Bantuan
hukum disini bukan merupakan bantuan hukum yang hanya terbatas pada bantuan hukum

1
Harlen Sinaga, dasar-dasar profesi advokat, Erlangga, Jakarta, 2011.
cuma-cuma, melainkan bantuan hukum tersebut adalah tindakan yang diambil oleh penasihat
hukum untuk kepentingan pembelaan tersangka atau terdakwa (lebih luas)2.

Bantuan Hukum menurut UU 18 Tahun 2003 tentang Advokat

Bantuan hukum dalam UU ini merupakan salah satu bentuk dari jasa hukum yang
diberikan oleh advokat selain jasa lainnya seperti konsultasi hukum, menjalankan kuasa,
mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan
hukum klien. Sedangkan maksud dari bantuan hukum sendiri dalam pasal 1 angka 9 adalah
jasa hukum yang diberikan advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu 3. Dari
sini dapat ditarik kesimpulan bahwa, maksud dari bantuan hukum di UU Advokat dengan
maksud dari bantuan hukum yang dijelaskan pada KUHAP sebelumnya berbeda satu dengan
lainnya walaupun pada KUHAP dengan syarat tertentu bantuan hukum juga dapat diberikan
secara cuma-cuma.

Bantuan Hukum menurut UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

Pengertian mengenai bantuan hukum dalam UU ini terdapat pada penjelasan Pasal 56
ayat (1) yang menyatakan, bantuanhukum adalah pemberian jasa hukum (secara cuma-cuma)
yang meliputi pemberian konsultasi hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi,
membela, melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan pencari keadilan (yang tidak
mampu). Bantuan hukum tersebut merupakan hak bagi setiap orang. Pada pelaksanaannya,
setiap pengadilan negeri dibentuk pos bantuan hukum kepada pencari keadilan yang tidak
mampu dalam memperoleh bantuan hukum. Bantuan hukum tersebut diberikan secara cuma-
cuma pada semua tingkat peradilan sampai putusan terhadap perkara tersebut telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.

B. Penyelenggaraan bantuan hokum di Indonesia UU NO. 16 Tahun 2011 Tentang


Bantuan Hukum Ditetapkan

2
Lasdin Wlas, Cakrawala Advokat Indonesia, Yogyakarta, liberty, 1989.
3
Binziad kadafi,et al.., advokat indonesia mencari legitimasi, Jakarta: Pusat Study Hukum dan Kebijakan
Indonesia, Bekerja Sama dengan The Asia Foundation, 2001.
Menurut UU ini, bantuan hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi
Bantuan Hukum secara cuma-cuma kepada penerima bantuan. Penerima bantuan disini
adalah orang atau kelompok miskin. Sedangkan pemberi bantuan adalah lembaga bantuan
hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan Bantuan Hukum berdasarkan
Undang-Undang ini.
Asas-asas pelaksanaan bantuan hukum adalah:
1) keadilan;
2) persamaan kedudukan di dalam hukum;
3) keterbukaan;
4) efisiensi;
5) efektivitas; dan
6) akuntabilitas4.

Adapun tujuannya adalah untuk menjamin dan memenuhi hak bagi penerima bantuan
hukum untuk mendapatkan akses keadilan; mewujudkan hak konstitusional segala warga
negara sesuai dengan prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum; menjamin kepastian
penyelenggaraan Bantuan Hukum dilaksanakan secara merata di seluruh wilayah Negara
Republik Indonesia; dan mewujudkan peradilan yang efektif, efisien, dan dapat
dipertanggungjawabkan5.

Bantuan hukum diberikan kepada Penerima Bantuan Hukum yang menghadapi


masalah hukum keperdataan, pidana, dan tata usaha negara baik litigasi maupun nonlitigasi.
Pemberian bantuan hukum tersebut meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili,
membela, dan/atau melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum Penerima
Bantuan Hukum.

Pemberian Bantuan Hukum kepada Penerima Bantuan Hukum diselenggarakan oleh


Kementerian Hukum dan HAM dan dilaksanakan oleh Pemberi Bantuan Hukum. Pemberi
Bantuan Hukum yang dimaksud di atas harus memenuhi syarat-syarat untuk dapat
melaksanakan Bantuan Hukum. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa pemberi bantuan
hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi
layanan Bantuan Hukum berdasarkan UU ini, sehubungan dengan hal tersebut, yang
berwenang untuk melakukan verifikasi dan akreditasi terhadap lembaga atau organisasi

4
Abdurrahman, 1983. Aspek-Aspek Bantuan Hukum di Indonesia, Penerbit: Cendana Press, Jakarta.
5
Ishaq, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta.
dimaksud adalah Kementerian Hukum dan HAM. Ketentuan mengenai tata cara verifikasi
dan akreditasi sebagaimana dimaksud akan diatur kemudian dalam Peraturan Menteri dalam
hal ini Peraturan Menteri Hukum dan HAM.

Pemberi Bantuan Hukum tidak dapat dituntut secara perdata maupun pidana dalam
memberikan Bantuan Hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang dilakukan dengan
iktikad baik di dalam maupun di luar sidang pengadilan sesuai Standar Bantuan Hukum
berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau Kode Etik Advokat.

Sebagai informasi dari perkembangan pelaksanaan Bantuan Hukum pasca


ditetapkannya UU No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, Pemerintah sudah
melakukan beberapa kali rapat koordinasi, salah satunya adalah membahas penyaluran dana
dari APBN melalui Kemenkumham. Ternyata pada tahun 2013, walaupun UU sudah
mengamanatkan penganggaran bantuan hukum di Kemenkumham, faktanya anggaran
bantuan hukum tidak teralokasikan dalam APBN. Alokasi bantuan hukum pada pagu
indikatif tahun 2013 sampai dengan pagu definitif tahun 2013 tidak teralokasikan, meskipun
dalam perkembangan pagu sementera ke pagu definitif pihak pemerintah (melalui
Kemenkumham, Bappenas dan Kementerian Keuangan) mengusulkan penambahan
anggaran, dan ternyata DPR hanya menyetujui penambahan anggaran di pagu definitif untuk
kegiatan pembangunan sarana prasarana untuk mengatasi masalah over kapasitas (bukan
bantuan hukum)6.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kemenkumham telah mengajukan Anggaran


Belanja Tambahan sebesar 53 Milyar. Informasi sampai tulisan ini dibuat, saat ini sedang
dalam tahap pembahasan dengan Kementerian Keuangan agar dapat direalisasikan. Selain
itu, Kemenkumham telah mengirim surat kepada Mahkamah Agung meminta agar
Mahkamah Agung tetap mendukung pelaksanaan dari Pos Layanan Hukum (pengganti dari
Posbakum). Menindaklanjuti hal tersebut MA sedang melakukan optimalisasi kegiatan 2013
untuk mendukung pos layanan di pengadilan pengganti pobakum.

BAB III

PENUTUP

6
Binziad kadafi,et al.., advokat indonesia mencari legitimasi, Jakarta: Pusat Study Hukum dan Kebijakan
Indonesia, Bekerja Sama dengan The Asia Foundation, 2001.
Kesimpulan
Sebelum ditetapkannya UU No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, pada
dasarnya penyelenggaraan bantuan hukum didasarkan oleh beberapa ketentuan peraturan
perundang-undangan yaitu: 1) UU no. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP; 2) UU No. 18 Tahun
2003 tentang Advokat; dan 3) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam
KUHAP mensyaratkan bantuan hukum secara cuma-cuma dapat diberikan kepada mereka
melakukan pidana yang diancam pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau
lebih serta mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih
yang tidak punya penasihat hukum sendiri. Selanjutnya UU No. 18 Tahun 2003 serta
turunannya yaitu PP No. 83 Tahun 2008 juga telah mengatur bantuan hukum cuma-cuma
yang diberikan oleh advokat. Namun demikian, ketentuan di dalamnya tidak mengatur
mengenai peran negara dalam penyelenggaraan bantuan hukum tersebut, sehingga terkesan
negara lepas tangan dalam melaksanakan bantuan hukum yang sebenarnya sudah merupakan
amanah dari UUD NRI 1945. Sedangkan jika melihat UU No. 48 Tahun 2009, maka UU ini
telah mengatur peranan negara dalam pelaksanaan bantuan hukum, sehingga tidak
sepenuhnya membebankan biaya kepada pemberi bantuan hukum;

Pasca ditetapkannya UU No. 16 Tahun 2013, Pelaksanaan Bantuan Hukum tidak lagi
parsial berada di bawah MA, Kejaksaan ataupun Polri, melainkan menjadi tanggungjawab
dari Kementerian Hukum dan HAM. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan
daerah juga dapat membantu pengalokasian anggaran penyelenggaraan bantuan hukum di
APBD. Kemudian, setidaknya ada 2 (dua) Peraturan Pemerintah, 1 (satu) Peraturan Menteri
serta Perda yang semestinya disusun agar UU ini dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Adapun, Peraturan Pelaksana yang sudah mulai disusun adalah Rancangan Peraturan
Pemerintah tentang Tata Cara Penyaluran Bantuan Hukum, yang saat ini draftnya sudah ada
di Setneg dan sudah dilakukan pembahasan dengan mengundang beberapa
Kementerian/Lembaga.

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Makalah


- Abdurrahman, 1983. Aspek-Aspek Bantuan Hukum di Indonesia, Penerbit: Cendana
Press, Jakarta.

- Ishaq, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta.

- Harlen Sinaga, dasar-dasar profesi advokat, Erlangga, Jakarta, 2011.


- Binziad kadafi,et al.., advokat indonesia mencari legitimasi, Jakarta: Pusat Study Hukum
dan Kebijakan Indonesia, Bekerja Sama dengan The Asia Foundation, 2001.

- Lasdin Wlas, Cakrawala Advokat Indonesia, Yogyakarta, liberty, 1989.