Anda di halaman 1dari 11

ialah dengan menegakkan tauhidullah, menjadikannya sebagai pilar utama sehingga mempengaruhi

unsur-unsur lain dalam jiwa. Apabila tauhid seseorang baik, maka baik pula unsur lainnya. Demikian
sebaliknya, apabila tauhid seseorang buruk, hal itupun akan sangat berpengaruh dalam setiap gerak
langkah kehidupannya. Dan kita berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan
taufik dan petunjuk-Nya.

Dalam mempelajari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissallam, kita akan mendapatkan diri beliau
sebagai insan yang sangat teguh dan gigih dalam menegakkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
agung, yakni tauhid. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa moment, di antaranya:

1. Dakwah Tuhid Kepada Ayah Beliau ‘Alaihissallan Dengan Sabar Dan Penuh Santun.

Al-Hafihz Ibnu Katsiir rahimahullah berkata, “Penduduk negeri Harran adalah kaum musyrikin
penyembah bintang dan berhala. Seluruh penduduk bumi adalah orang-orang kafir kecuali Ibrahim
‘alaihissallam, isterinya, dan kemenakannya, yaitu Nabi Luth ‘alaihissallam. Ibrahim ‘alaihissallam
terpilih menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghapus kesyirikan tersebut dan
menghilangkan kebatilan-kabatilan yang sesat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan
kepadanya kegigihan sejak masa kecilnya. Beliau diangkat menjadi Rasul, dan Allah Subhanahu wa
Ta’ala memilihnya sebagai kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala pada masa berikutnya.

Awal dakwah tauhid yang beliau ‘alaihissallam tegakkan, ialah diarahkan kepada ayahnya, karena ia
seorang penyembah berhala dan yang paling berhak untuk diberi nasihat (Al-Bidayah wan-Nihayah,
juz 1, hal: 326).

Syaikh as-Sa`di rahimahullah berkata,”Ibrahim ‘alaihissallam adalah sebaik-baik para nabi setelah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, … yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan
kenabian pada anak keturunnya. Dan kepada mereka diturunkan kitab-kitab suci. Dia telah mengajak
manusia menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersabar terhadap siksa yang ia dapatkan (dalam
perjalanan dakwahnya), ia mengajak orang-orang yang dekat (dengannya) dan orang-orang yang
jauh, ia bersungguh-sungguh dalam berdakwah terhadap ayahnya bagaimanapun caranya…” (Tafsir
as-Sa`di, hal: 443.)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ْ‫ل ِإذ‬ ِْ ‫ل َما ت َعبُ ُْد ل َِْم أ َ َب‬


َْ ‫ت َيا ِِل َ ِبي ِْه قَا‬ َْ ‫ل َيس َم ُْع‬
َْ ‫ص ُْر َو‬ َ ‫شَيئًا‬
َْ ‫عنكَْ يُغنِي َو‬
ِ ‫ل يُب‬

“Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya; “Wahai Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu
yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong engkau sedikitpun?”. (QS.
Maryam:42).
Lihatlah, bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mendakwahkan tauhid kepada ayahnya dengan
ungkapan sangat lembut dan ucapan yang baik untuk menjelaskan kebatilan dalam perbuatan syirik
yang dilakukannya?! (Tafsir as-Sa`di, hal: 444). Penolakan ayahnya terhadap dakwah itu tidak
menyurutkan semangat serta sikap sayang terhadap ayahnya dengan tetap akan memintakan
ampunan, sekalipun permohonan ampun itu tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Disebutkan dalam firman-Nya,

‫َار كَانَْ َو َما‬ َْ ‫ِل َبِي ِْه إِب َراه‬


ُْ ‫ِيم استِغف‬ َْ ِ‫عنْ إ‬
ِْ ‫ل‬ َ ‫عدُوْ أَنَ ْهُ لَ ْهُ تَبَيَنَْ فَلَ َما إِيَاْهُ َو‬
َ ْ‫ع َدهَا َمو ِع َدة‬ َِْ ِ َ ‫ن ۚ مِ ن ْهُ تَبَ َرْأ‬
َ ‫لِل‬ َْ ‫َحلِيمْ َِل َ َواهْ إِب َراه‬
َْ ِ‫ِيم إ‬

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya tidak lain hanyalah karena suatu
janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya
adalah musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 114).

Dalam usaha yang lain, Ibrahim berdialog dengan ayahnya:

َْ ‫ض ََللْ فِي َوقَو َمكَْ أ َ َراكَْ إِنِي ۚ آ ِل َه ْةً أَصنَا ًما أَتَتَخِ ْذُ آزَ َْر ِِلَبِي ِْه إِب َراهِي ُْم قَا‬
ْ‫ل َوإِذ‬ َ ْ‫ُمبِين‬

“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar. ‘Layakkah engkau menjadikan
berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam
kekeliruan yang nyata’.” (QS. Al-An’am: 74).

Syaikh as-Sa’di berkata,”Dan ingatlah (terhadap) kisah Ibrahim ‘alaihissallam manakala Allah
Subhanahu wa Ta’ala memuji dan memuliakannya saat ia berdakwah mengajak kepada tauhid dan
melarang dari berbuat syirik.” (Tafsir as-Sa`di, hal: 224).

Demikian, perjuangan dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam kepada
kaumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai bagian dari ayat-ayat Alquran yang
akan selalu dibaca dan dipelajari secara seksama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ْ‫ِيم‬
َ ‫ل ِإذْ َو ِإب َراه‬ ََْ ُ‫ت َعلَ ُمونَْ ُكنتُمْ ِإنْ لَْ ُكمْ خَيرْ َٰذَ ِل ُكمْ ۚ َواتَقُوْه‬
َْ ‫ّللا اعبُدُوا ِلقَومِ ِْه قَا‬
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah
kepada-Nya, yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui’.” (QS. Al-Ankabut: 16).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengkabarkan tentang hamba-Nya, Rasul dan kekasih-Nya, yaitu Ibrahim ‘alaihissallam sang imam
para hunafa`, bahwa ia ‘alaihissallam berdakwah mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, mengikhlaskan-Nya dalam ketakwaan,
memohon rezeki hanya kepada-Nya, dan mengesakan-Nya dalam bersyukur.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz
3, hal: 536).

Keteguhan dakwah tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam juga termaktub dalam
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat al-Anbiya` ayat 51-56. Dan dalam beberapa ayat disebutkan,
bahwa dakwah tauhid kepada ayah dan kaumnya dilakukan secara bersamaan, seperti tersebut
dalam surat asy-Syu`ara ayat 69, dan ash-Shaffat ayat 84.

2. Nabi Ibrahim ‘alaihissallam Tegar Dan Tabah Menghadapi Ujian Dan Siksaan.

Sikap ini tercermin dalam kisah beliau ‘alaihissallam saat berdakwah mengajak manusia untuk
bertauhid dan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun kebanyakan menolaknya dengan
penuh kenistaan. Ketabahan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ini menjadi teladan bagi setiap dai dalam
mengajak manusia menuju jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kisah ketabahan Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam diabadikan dalam Alquran melalui firman-firman-Nya. Meskipun kaumnya
dengan kuatnya untuk membakar dirinya, namun Nabi Ibrahim ‘alaihissallam tetap tabah dan
menyerahkan segala perkara kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ْ‫ت َنحِ ْت ُونَْ َما أَت َعبُدُونَْ قَا َل‬. ُ‫ّللا‬


َْ ‫ت َع َملُونَْ َو َما َخلَقَ ُكمْ َو‬. ‫يم فِي فَأَلقُوْهُ بُنيَانًا لَ ْهُ ابنُوا قَالُوا‬
ِْ ِ‫ال َجح‬. ‫اِلَسفَلِينَْ فَ َج َعلنَا ُه ُْم كَيدًا بِ ِْه فَأ َ َرادُوا‬

Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah
yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. Mereka berkata: “Dirikanlah suatu
bangunan untuk (membakar) Ibrahim;lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang
hina. (QS. Ash-Shaffat: 95-98).

As-Suddi rahimahullah berkata: “Mereka menahannya dalam sebuah rumah. Mereka


mengumpulkan kayu bakar, bahkan hingga seorang wanita yang sedang sakit bernadzar dengan
mengatakan ‘sungguh jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan bagiku kesembuhan, maka
aku akan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim’. Setelah kayu bakar terkumpul
menjulang tinggi, mereka mulai membakar setiap ujung tepian dari tumpukkan itu, sehingga apabila
ada seekor burung yang terbang di atasnya niscaya ia akan hangus terbakar. Mereka mendatangi
Nabi Ibrahim ‘alaihissallam kemudian mengusungnya sampai di puncak tumpukan tinggi kayu bakar
tersebut”. Riwayat lain menyebutkan, ia diletakkan dalam ujung manjaniq.

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mengangkat kepalanya menghadap langit, maka langit, bumi, gunung-
gunung dan para malaikat berkata: “Wahai, Rabb! Sesungguhnya Ibrahim akan dibakar karena
(memperjuangkan hak-Mu)”

Nabi Ibrahim berkata, “Ya, Allah, Engkau Maha Esa di atas langit, dan aku sendiri di bumi ini. Tiada
seorang pun yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini selainku. Cukuplah bagiku Engkau sebaik-
baik Penolong.” (Fathul-Bari, Juz 6, hal: 483).

Mereka lantas melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke dalam tumpukan kayu bakar yang tinggi,
kemudian diserukanlah (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala): “Wahai api, jadilah dingin dan selamat
bagi Ibrahim.” (Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hal: 43).

Ibnu Abbas dan Abu al-Aliyah, keduanya berkata: “Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan
‘dan selamat bagi Ibrahim,’ niscaya api itu akan membinasakan Ibrahim ‘alaihissallam dengan
dinginnya.” (Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hal: 43).

3. Yakin Terhadap Kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla

Pada saat Nabi Ibrahim diletakkan di ujung manjaniq, ia dalam keadaan terbelenggu dengan tangan
di belakang. Kemudian kaumnya melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke dalam api, dan ia pun
berkata: “Cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi kami, dan Dia sebaik-baik Penolong”.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia
berkata:

‫للاُ َحسبُنَا‬ ُْ ‫ال َوكِي‬


ْ ‫ل َونِع َْم‬

(cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi kami dan Dia sebaik-baik penolong)” telah diucapkan Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam tatkala ia dilemparkan ke dalam api (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 8, hal:
288, no. 4563).

Demikianlah, Nabi Ibrahim ‘alaihissallam sangat yakin dengan kebesaran, pertolongan dan
perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla , karena beliau sedang memperjuangkan hak Allah ‘Azza wa Jalla
yang terbesar, yakni tauhid dalam beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala Berada Di Atas Segalanya

1. Kisah dalam hijrah bersama Hajar dan Ismail (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 6, hal: 478, no.
3364).

Ketika Ismail baru saja dilahirkan dan dalam penyusuan ibunya (Hajar), Nabi Ibrahim ‘alaihissallam
membawa keduanya menuju Baitullah pada dauhah (sebuah pohon rindang) di atas zam-zam. Saat
itu, tidak ada seorangpun di Makkah, dan juga tidak ada sumber air.

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam meninggalkan jirab, yaitu kantung yang biasa dipakai untuk menyimpan
makanan. Kantung itu berisi kurma untuk keduanya. Juga meninggalkan siqa` (wadah air) yang berisi
air minum. Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissallam berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya sembari
berkata: “Wahai, Ibrahim! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang sunyi dan
tak berpenghuni ini?” Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh,
tak pula menghiraukannya. Kemudian Hajar pun bertanya: “Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
telah memerintahkan engkau dengan ini?”

Ibrahim menjawab,“Ya.”

Mendengar jawaban itu, maka Hajar berkata: “Jika demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan
meninggalkan kami”. Lantas Hajar kembali menuju tempatnya semula. Adapun Ibrahim, ia terus
berjalan meninggalkan mereka, sehingga sampai di sebuah tempat yang ia tak dapat lagi melihat
isteri dan anaknya. Ibrahim pun menghadapkan wajah ke arah Baitullah seraya menengadahkan
tangan dan berdoa: Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku
di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati,
ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian
manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan
mereka bersyukur. [QS. Ibrahim ayat 37).

2. Kisah Penyembelihan Ismail.

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam berdoa: “Wahai Rabb-ku, karuniakanlah untukku anak yang shalih,” maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kabar gembira kepadanya dengan kehadiran seorang anak
yang mulia lagi penyabar. Dan tatkala anak itu saat mulai beranjak dewasa berusaha bersama-sama
Ibrahim, Ibrahim berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”
Isma’il menjawab: “Wahai Ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar”.

Saat keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah
kesabaran keduanya). Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya: “Wahai Ibrahim,
sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan
kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian
yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) ‘Kesejahteraan yang dilimpahkan
kepada Ibrahim’. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi balasan kepada orang-orang
yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mukminin.
Kisah ini dijelaskan di dalam Alquran dalam surat ash-Shaffat ayat 99-111.

Dalam Tafsir al-Qurthubi, Juz 18, hal: 69 dan Tafsir al-Baghawi, Juz 4, hal: 33, Ibnu Abbas berkata:

Ibrahim dan Isma’il … keduanya taat, tunduk patuh terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ingatlah, renungkanlah kisah itu … ketika keduanya akan melaksanakan perintah Allah Subhanahu
wa Ta’ala, dengan tulus dan tabah sang anak berkata:

ِْ َ‫لَ َحتَى ِربَاطِ يْ اشدُدْ أَب‬


‫ت يَا‬ ْ ‫ب‬ َ ‫…أَض‬.
َْ ‫ط ِر‬

“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”

ْ‫عنِي َواكفُف‬
َ َْ‫لَ َحتَى ثِ َيا َبك‬
ْ ‫ح‬ ِ ‫علَي َها َينت‬
َْ ‫َض‬ َْ ُ‫…فَت َحزَ نُْ أُمِ يْ َوت ََراْهُ أَج ِريْ فَ َينق‬.
َ ْ‫ص شَيءْ دَمِ يْ مِ ن‬

“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu, maka akan
berkurang pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”

ِْ ‫ن َم َْر َوأَس ِرعْ شَف َرت َكَْ استَحِ َْد أ َ َب‬


‫ت َو َيا‬ َ ْ‫ي أَه َونُْ ِل َي ُكونَْ َحلقِي‬
ِْ ‫علَى ال ِس ِكي‬ َْ َ‫عل‬ َ ….
َْ ِ ‫شدِيدْ ال َموتَْ فَإ‬
َ ‫ن‬

“Dan tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan
bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”

‫علَي َها فَاق َرأْ أُمِ يْ أَت َيتَْ َوإِذَا‬ َ ‫…مِ نِيْ ال‬. ْ‫صيْ ت َُر َْد أَنْ َرأَيتَْ َوإِن‬
َ ‫سَلَ َْم‬ َ ْ‫…فَافعَلْ أُمِ ي‬.
ِ ‫علَى قَمِ ي‬
“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan
apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah.”

ُْ ‫ي يَا أَنتَْ العَو‬


ْ‫ إِب َراهِي ُْم لَ ْهُ فَقَا َل‬: ‫ن نِع َْم‬ َ ‫…تَعَالَى للاِْ أَم ِْر‬.
َْ َ‫علَى بُن‬

(Saat itu, dengan penuh haru) Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang
sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.

Dalam Shahih Qashashil-Anbiya Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah ujian Allah Subhanahu
wa Ta’ala atas kekasih-Nya (yakni Ibrahim ‘alaihissallam) untuk menyembelih putranya yang mulia
dan baru terlahir setelah beliau berumur senja. (Ujian ini terjadi) setelah Allah memerintahkannya
untuk meninggalkan Hajar saat Ismail masih menyusui di tempat yang gersang, sunyi tanpa
tumbuhan (yang dimakan buahnya), tanpa air dan tanpa penghuni. Ia taati perintah Allah Subhanahu
wa Ta’ala itu, meninggalkan isteri dan putranya yang masih kecil dengan keyakinan yang tinggi dan
tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada
mereka kemudahan, jalan keluar, serta limpahan rezeki dari arah yang tiada disangka. Setelah semua
ujian itu terlampaui, Allah menguji lagi dengan perintah-Nya untuk menyembelih putranya sendiri,
yaitu Ismail ‘alaihissallam. Dan tanpa ragu, Ibrahim menyambut perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala
itu dan segera mentaatinya. Beliau ‘alaihissallam menyampaikan terlebih dahulu ujian Allah
Subhanahu wa Ta’ala tersebut kepada putranya, agar hati Ismail menjadi lapang serta dapat
menerimanya, sehingga ujian itu tidak harus dijalankan dengan cara paksa dan menyakitkan.
Subhanallah…

3. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim untuk Berkhitan.

Pada saat Ibrahim ‘alaihissallam telah mencapai umur senja (delapan puluh tahun), ia diuji oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala dengan beberapa perintah, di antaranya agar beliau berkhitan. Sebagaimana
hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َ ‫سنَ ْةً ث َ َمانِينَْ ابنُْ َوه َُْو الس َََلم‬


َْ‫علَي ِْه إِب َراهِي ُْم اختَت َن‬ َ

“Ibrahim ‘alaihissallam berkhitan di usia beliau delapan puluh tahun.” (Shahih Bukhari dan Fathul-
Bari (Juz 6, hal: 468, no. 3356)).

Beliau ‘alaihissallam berkhitan dengan pisau besar (semisal kampak). Meskipun terasa sangat berat
bagi diri beliau ‘alaihissallam, namun hal itu tidak pernah membuatnya merasa ragu terhadap segala
kebaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ali bin Rabah
radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa : “Beliau (Ibrahim ‘alaihissallam) diperintah untuk
berkhitan, kemudian beliau melakukannya dengan qadum. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala
mewahyukan ‘Engkau terburu-buru sebelum Kami tentukan alatnya’. Beliau mengatakan: ‘Wahai
Rabb, sungguh aku tidak suka jika harus menunda perintah-Mu’.” (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari,
Juz 6, hal: 472)

4. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala Untuk Membangun Ka`bah.

‫ِيم بَ َوأنَا َوإِ ْذ‬ ِْ ‫ل أَنْ البَي‬


َْ ‫ت َمكَانَْ ِ ِِلب َراه‬ َ ‫ِي َو‬
َْ ْ‫ط ِهرْ شَيئًا بِي تُش ِرك‬ َ ‫الر َك ْع َوالقَائِمِ ينَْ ل‬
َْ ‫ِلطائِفِينَْ بَيت‬ ُّ ‫اس فِي َوأَذِنْ ال‬
ْ ِ َ‫يَأتُوكَْ بِال َحجِْ الن‬
ِ ُّ ‫س ُجو ِْد َو‬
ًْ ‫ى ِر َج‬
‫ال‬ َْٰ َ‫عل‬ ِْ ‫ضامِ رْ ُك‬
َ ‫ل َو‬ ِْ ‫عمِ يقْ فَجْ ُك‬
َ َْ‫ل مِ نْ يَأتِين‬ َ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan
mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-
Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’
dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap
penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj: 26-27).

Dalam Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Ibrahim ‘alaihissallam berkata: “Wahai anakku,
sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan aku sesuatu”.

Ismail ‘alaihissallam menjawab: “Lakukanlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada engkau”.

Ibrahim ‘alaihissallam bertanya: “Apakah engkau (akan) membantuku?”

Ismail ‘alaihissallam menjawab: “Ya, aku akan membantu engkau”.

Ibrahim ‘alaihissallam berkata lagi: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan
aku untuk membangun disini sebuah rumah”. (Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mengisyaratkan tanah
yang sedikit tinggi dibandingkan dengan yang ada di sekelilingnya). Saat itulah keduanya
membangun pondasi-pondasi. Dan Ismail ‘alaihissallam membawa kepada ayahnya batu-batu dan
Ibrahim ‘alaihissallammenyusunnya. Sehingga, ketika telah mulai tinggi, ia mengambil batu dan
diletakkan agar Ibrahim ‘alaihissallamdapat naik di atasnya. Demikian, dilakukan oleh keduanya, dan
mereka berkata:

‫العَلِي ُْم السَمِ ي ُْع أَنتَْ إِنَكَْ ۚ مِ نَا تَقَبَلْ َربَنَا‬


“Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127).

Dari pemaparan kisah-kisah di atas, banyak pelajaran penting dan berharga yang dapat dipetik, di
antaranya:

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu
wa Ta’ala yang amat taat kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjadikannya sebagai hamba yang sangat disayangi.

Pilar utama upaya tazkiyyatun-nufus adalah dalam hal tauhid. Dan berdakwah menyeru kepada
tauhid merupakan amanat yang dipikul para nabi, dan sekaligus menjadi panutan bagi setiap dai.

Kesabaran dalam mendakwahkan tauhid dan ketabahan dalam menghadapi ujian di jalan itu,
harus dilakukan sesuai dengan cara yang dicontohkan oleh para rasul ‘alaihissallam.

Yakin terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam
mengarungi kehidupan.

Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal terpenting di atas segalanya. Ketulusan hati
dalam melaksanakan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kebahagiaan. Maka
selayaknya kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakannya diiringi doa memohon taufik
serta kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala contoh kebaikan telah ada pada diri para Rasul ‘alaihissallam yang harus selalu menjadi suri
tauladan bagi kita dalam setiap hal. Wallahul Musta`an..

[Disalin dari tulisan Ustadz Rizal Yuliar di majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XII/1429/2008M]

Related

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (bag. 1)July 6, 2012In "Kisah Nabi dan Rasul"

Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (bag. 2)July 9, 2012In "Kisah Nabi dan Rasul"

Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (bag. 3)July 10, 2012In "Kisah Nyata"

Previous post

Sejarah Islam di Prancis

Next post

Akhlak Nabi Dalam Peperangan


The Author

admin

Related Posts

Kisah Nabi dan Rasul

Kemenangan Nabi Musa dan Kebinasaan Firaun di Hari Asyura

Kisah Nabi dan Rasul

Lahirnya Rasulullah Isa bin Maryam

Kisah Nabi dan Rasul

Mereka Yang Mati Kemudian Hidup Kembali: Nabi Ibrahim dan Burung (5/5)

Kisah Nabi dan Rasul

Mereka Yang Mati Kemudian Hidup Kembali: Kota Mati Makmur Kembali (4/5)

Kisah Nabi dan Rasul

Mereka Yang Mati Kemudian Hidup Kembali: Puluhan Ribu bani Israil Hidup Kembali (3/5)

Kisah Nabi dan Rasul

Mereka Yang Mati Kemudian Hidup Kembali: Bani Israil dan Sapi Betina (2/5)

6 Comments

ummu muhammad

January 26, 2015 at 11:02 pm — Log in to Reply

bismillah.ana ijin untuk menyebarkan tulisan2 dikisah muslim ini melalui buletin, insyaa Allah…

jazaakumullahu khayr wa baarakallahu fiik.

admin

January 27, 2015 at 7:40 pm — Log in to Reply

Silahkan..

nurul tawaf movement

February 23, 2015 at 9:36 am — Log in to Reply


Assalamualaikum. MasyaAllah Tabarakallah! :) kisah Nabi Ibrahim A.S yang bagus buat kita
pelajari. sifat2 nya yang taat dengan perintah Allah SWT, kesabaran yang tinggi.

Shinta Aulia

April 21, 2015 at 5:56 am — Log in to Reply

assalamualaikum…ceritanya sungguh bagus sekali untuk di baca dan di pelajari…

Shinta Aulia

April 21, 2015 at 5:59 am — Log in to Reply

Tulisan arabnya tapi kurang kebaca…lain kali tulisan arabnya harus kebaca…supaya orang tahu
tanda baca nya

GudangIlmu

May 14, 2015 at 5:14 am — Log in to Reply

Nabi Ibrahim memang merupakan salah satu nabi yang paling baik kita contoh, karena dialah ayah
dari para Nabi. Masya Allah