Anda di halaman 1dari 72

Bab I Elektrostatika

Bila sebuah sisir digosok-gosokkan pada rambut, lalu didekatkan kepada serpihan kertas kecil-
kecil, maka serpihan kertas itu akan tertarik dan melekat pada sisir. Peristiwa ini menunjukkan adanya
gaya listrik yang termasuk gaya medan. Meskipun kedua obyeknya tidak saling bersentuhan namun
pengaruh gayanya dapat diobservasi. Peristiwa itu sekaligus menujukkan eksistensi muatan listrik.
Adanya loncatan api kecil ketika kulit kita secara tidak sengaja menyentuh meja juga menunjukkan
adanya muatan.

Dalam beberapa eksperimen sederhana dapat ditunjukkan bahwa bila dua batang karet yang
keras digosok-gosokkan pada bulu, lalu digantung dengan benang di tengahnya dan ujungnya saling
didekatkan satu terhadap yang lain, maka akan nampak bahwa keduanya saling menolak. Namun bila
batang yang sama didekatkan pada batang kaca yang sudah digogok-gosokkan pada sutera, maka antara
batang karet dengan batang kaca itu saling tarik menarik. Kenyataan tersebut menunjukkan adanya dua
jenis muatan yang berbeda. Muatan yang sama akan saling tolak menolak dan muatan yang berbeda
akan saling tarik menarik. Kedua jenis muatan itu oleh Benjamin Franklin (1706-1790) diberi nama
muatan positif dan muatan negatif. Muatan positif adalah muatan seperti yang dimiliki oleh proton
sedang muatan negatif adalah muatan seperti yang dimiliki oleh elektron.

Dalam berbagai penelitian selanjutnya Robert Millikan (1868-1953) menunjukkan bahwa besar
muatan itu terkuantisasi dan diberi nilai sebesar muatan elementer e yang besarnya sama dengan 1, 602
x 1019. Untuk electron besar muatannya -1, 602 x 1019 sedang untuk proton besar muatannya + 1, 602 x
1019. Untuk partikel lain muatannya dapat dinotasikan sebagai q = Ne dengan N merupakan bilangan
integer.

Fakta lain yang menarik tentang adanya muatan adalah kenyataan bahwa muatan tersebut tidak bisa
diciptakan. Ketika batang gelas digosok-gosokkan pada kain sutera, maka kain sutera tersebut menerima
muatan negatif dengan jumlah yang sama dengan muatan positif yang muncul pada gelas. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa jumlah muatan dalam sistem tertutup selalu tetap.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:


1. Di alam terdapat dua jenis muatan yang berbeda yakni positif dan negatif.
2. Muatan yang sejenis tolak menolak dan muatan yang berbeda jenis tarik menarik.
3. Jumlah muatan di dalam sistem terisolasi selalu tetap.
4. Muatan itu besarnya terkuantisasi.

Induksi Listrik

Bila sebuah batang karet keras yang bermuatan negatif didekatkan kepada sebuah bola yang bermuatan
netral (Gambar 1A), maka muatan negatif akan pindah ke sisi yang lain (Gambar 2B). Perpindahan
muatan ke sisi yang lain tersebut akan menyebabkan sisi bola yang dekat dengan batang karet
cenderung bermuatan positif. Bila bola tersebut dihubungkan dengan tanah (ground) dengan
menggunakan kawat maka muatan negatif akan mengalir ke bumi (Gambar 3C).

+ _ +
+ _ _ +_ A
+ + __ ga
n
se
ba
ra
+ + _ n
___ + _+ _ _ se
B
+ + __ m
ba
ra
ng
+ + _
___ + +_ _ C
+ + __

+ +
___ + +_ D
+ + _

+ _ +
+ _ + E
+ +

Gambar 1. Pemuatan melalui proses induksi

Sehingga bola yang netral tersebut berubah menjadi bermuatan positif karena kehilangan sebagian
muatan negatif yang mengalir ke bumi(Gambar 1D). Meskipun antara batang karet dan bola tidak saling
bersentuhan, tetapi bola dapat menjadi bermuatan karena mengalirnya sebagian muatan ke bumi
sehingga bola tersebut kekurangan muatan yang berbeda dengan yang mengalir ke bumi. Ketika batang
karet yangbermuatan negative tersebut dijauhkan kembali, maka muatan negatif akan tersebar secara
random kembali (Gambar 1E). Proses tersebut disebut sebagai induksi.

Selain melalui proses induksi arus listrik dapat mengalir melalui bahan penghantar. Peristiwa pengaliran
arus listrik melalui bahan penghantar listrik disebut sebagai konduksi. Sedang bahan-bahan yang
berfungsi sebagai penghantar disebut sebagai konduktor.

Konduktor dan Isolator

Berdasarkan kemampuannya menghantarkan arus listrik, bahan-bahan di alam semesta dapat dibagi
menjadi tiga kelompok yakni konduktor, isolator, dan semi-konduktor. Konduktor adalah bahan yang
masing-masing atom penyusunnya memiliki satu atau dua electron yang terikat secara lemah pada inti
atom. Ketika atom-atom tersebut berkumpul membentuk satu bahan konduktor maka pada bahan
tersebut akan terkumpul sejumlah electron bebas. Elektron-elektron bebas tersebut relatif mudah
bergerak dalam bahan konduktor tersebut menghantarkan arus listrik.

Isolator adalah bahan yang semua elektronnya terikat kuat pada atom dan tidak bisa bebas bergerak
dari satu atom ke atom yang lain. Bahan seperti ini tidak memiliki electron bebas yang mampu
dipergunakan untuk menghantarkan arus, karena arus listrik pada hakekatnya adalah aliran electron.

Semi-konduktor adalah bahan yang memiliki sifat antara isolator dan konduktor. Dalam keadaan biasa,
tanpa perlakukan, bahan tersebut bersifat sebagai isolator. Namun setelah dikotori dengan
menggunakan atom-atom tertentu, maka kemampuan menghantarkan arusnya meningkat tajam.
Contoh bahan semi-konduktor adalah Silikon, Si dan Germanium, Ge

Hukum Coulomb

Gaya elektrostatik antar muatan listrik berhasil diukur oleh Charles Coulomb (1736-1806). Dengan
menggunakan balance torsion Coulomb mengamati interaksi antara dua buah partikel bermuatan. Dari
hasil pengukurannya dia menyimpulkan bahwa gaya elektrostatik antara dua buah partikel yang muatan
yang tidak bergerak adalah:

1. Berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antar muatan (r-2)


2. Berbanding lurus dengan hasil kali kedua muatan yang berinteraksi (q1q2)
3. Bersifat tolak menolak bila muatannya sejenis dan tarik menarik bila muatannya berbeda jenis.
4. Bersifat konservatif

Kedau muatan yang saling berinteraksi tersebut dianggap sebagai muatan titik (point charge).
Maksudnya partikel tersebut bermuatan tetapi tidak bermasa. Kesimpulan hasil pengamatannya
dirumuskan dalam satu formula yang terkenal sebagai Hukum Coulomb:

q1q2
Fe  k e
r2
Dengan Fe adalah gaya Coulomb, q1 adalah besar muatan ke 1, q2 adalah besar muatan ke 2, r adalah
jarak antar muatan dan ke adalah konstanta Coulomb yang besarnya 8.9875 x 109 N'm2/C2. Konstanta
tersebut juga sering dinyatakan sebagai:

1
ke 
4 o

Dengan єo sebagai permitivitas ruang hampa yang besarnya 8.8542 x 10-12 C2/Nm2.

Contoh Soal:

Ada 3 buah muatan yang berada pada ujung-ujung segitiga sama kaki dengan panjang kaki a, seperti
terlihat dalam Gambar y dimana q1=q3=5µC, q2= -2 µC dan a=0,01m. Tentukan berapa gaya yang bekerja
pada q3?

y
F13
_ F23 3
q a 3 +
2 q
3

+ x
q
1
Gambar
2. Interaksi antara 3 buah muatan

Jawab:

Yang pertama yang perlu diperhatikan adalah arah gaya yang dikeluarkan oleh q1 dan q2 pada q3. Gaya
F23 oleh q2 pada q3 adalah gaya tarik karena q2 dan q3 memiliki muatan yang berbeda. Sedang gaya F13
oleh q1 pada q3 adalah gaya tolak karena keduanya sama-sama memiliki muatan negatif.

Besarnya Gaya F23 adalah:

6 6
q 2 q3 2 ( 2,0 x10 C )(5,0 x10 C
F23  k e  (8,99 x10 9
Nm 2
/ C )  9,0 N
a2 (0,01m) 2
Besarnya Gaya F13 adalah:

q1 q3 (5,0 x10 6 C )(5,0 x10 6 C


F23  k e  (8,99 x10 9 Nm 2 / C 2 )  11N
( 2a ) 2 2(0,01m) 2

Gaya tolak F13 membuat sudut 45o dengan sumbu x. Oleh karena itu komponen gaya F13 searah dengan
sumbu x dan y sama yakni sebesar F13 cos 45o= 7,9 N.

Dengan menjumlahkan F12 dan F23 dengan menggunakan aturan vektor maka diperoleh komponen
gaya yang bekerja pada q3 yang searah dengan sumbu x:

F3x = F13x + F23x = 7,9 N + (-9N) = -1,1 N

F3y = F13y + F23y = 7,9N + 0 = 7,9 N

Sehingga besarnya gaya total yang bekerja pada q3 adalah:

Fr = √[(7,9 N)2 + (-1,1 N)2] = √62,62 N = 7,91 N

Bab 2. Medan Listrik


2.1. Pengertian Medan Listrik
Medan Listrik

Sebagaimana halnya dengan materi bermasa m yang menimbulkan medan gravitasi di sekitarnya, maka
muatan q juga akan menimbulkan medan lsitrik di sekitar. Bumi yang bermasa m menimbulkan medan
gravitasi di sekitarnya yang kuat medan gravitasinya ditunjukkan oleh percepatan gravitasi yang
besarnya g=F/m. dengan F sebagai gaya gravitasi bumi. Begitu juga dengan muatan. Sebuah muatan q
akan menimbulkan medan listrik di dalam ruang di sekitarnya dengan kuat medan listrik sebesar E=Fe/q
dengan Fe sebagai gaya listrik dan sering disebut sebagai gaya elektrostatik atau juga dikenal sebagai
gaya Coulomb.

-
r
-
q qo

Gambar 3. Muatan test qo berada pada posisi r dari muatan sumber q.

Sebagai gambaran, bila kita memiliki sebuah muatan sumber q yang stasioner pada satu posisi, maka
untuk mengetahui bahwa di sekitar muatan itu ada medan listrik diperlukan muatan lain untuk
mengujinya. Muatan test tersebut berfungsi sebagai detektor. Bila muatan test, qo tersebut diletakkan
sejauh r dari muatan sumber (Lihat Gambar 3), maka gaya elektrostatik yang dirasakan oleh muatan test
adalah

q qo
Fe  k e
r2

Kuat medan listrik, E pada posisi muatan test tersebut adalah:

q
E  ke
r2

Bila medan listriknya ditimbulkan oleh kelompok muatan, dalam artian bukan muatan tunggal maka
kuat medan listriknya adalah jumlahan vektor kuat medan listrik yang ditimbulkan oleh masing-masing
muatannya.

q
E  ke 
i ri 2

Medan Listrik karena muatan dengan distribusi kontinu

Medan listrik yang disebabkan oleh muatan yang terdistribusi secara merata merupakan jumlahan
vektor dari medan listrik yang disebabkan oleh masing-masing muatan. Sebagai gambaran kuat medan
lsitrik di titik P (lihat Gambar 4) yang disebabkan oleh satu elemen muatan kecil ∆q dengan jarak ∆q ke P
sejauh r adalah

Paritkel A

∆q

P r

Gambar 4. Elemen muatan kecil ∆q yang merupakan bagian dari muatan yang terdistribusi secara
merata padapartikel A.

q 
E  k e r
r2

dengan r sebagai unit vektor. Bila total elemen muatannya adalah i, maka kuat medan listrik totalnya
adalah:

qi 
E  k e i r
ri 2
Dengan indeks i menyatakan elemen ke-i di dalam distribusi muatan tersebut. Karena seluruh muatan
terdistribusi secara kontinu, maka total kuat medan listrik di titik P dengan ∆qi mendekati nol adalah:

lim qi  dq 
E  ke
qi  0
i
ri 2
r  ke  2 r
r

Dengan integrasi mencakup seluruh distribusi muatan. Untuk memudahkan melakukan integrasi ke
seluruh daerah distribusi maka diperkenalkan beberapa besaran sebagai berikut:

1. Rapat muatan volum, ρ untuk muatan Q yang terdistribusi secara merata di seluruh bagian volum, V
tersebut. Besar rapat muatan valum adalah:

Q

V

Dengan besaran di atas maka elemen dq bisa dinyatakan sebagai dq= ρdV

2. Rapat muatan permukaan, σ untuk muatan Q yang terdistribusi secara merata pada sebuah
permukaan dengan luas A.

Q
 
A

Dengan besaran baru ini maka besar elemen dq dapat dinyatakan sebagai dq=σdA.

3. Rapat muatan linier,  untuk muatan Q yang tersistribusi secara merata pada sebuah garis dengan
panjang l.

Q

l

Dengan besaran tersebut maka besar elemen muatan dq dapat dinyatakan sebagai dq=dl

Muatan dengan masa m bergerak di dalam mudan lsitrik E

Bila sebuah partikel bermuatan q dengan massa m diletakkan di bawah pengaruh medan listrik E, maka
pada partikel tersebut bekerja gaya elektrostatik sebesar;

Fe  qE

Gaya elektrostatik Fe akan menyebabkan partikel bermuatan tersebut bergerak. Menurut Newton
partikel bermasa m tersebut mendapatkan gaya sebesar:

F  ma

Substitusi kedua persamaan di atas akan menghasilkan


ma  qE

Sehingga di dalam medan listri yang uniform sebesar E sebuah partikel bermasa m dan bermuatan
sebesar q akan mengalami percepatan, a sebesar:

qE
a
m

CONTOH SOAL:

Sebuah elektron masuk ke dalam medan listrik uniform seperti dalam Gambar 5 dengan kecepatan v i=
2,0 x 106 m/s. Bila kuat medan listriknya 100N/C dan panjang plat sejajarnya adalah 0,1m, maka:

A. Tentukan percepatan electron di dalam medan listrik tersebut.

Muatan elektron adalah e=1,60 x 10-19 C dan massa electron adalah me= 9,11 x 10-31 kg,maka besar
percepatan electron tersebut:

qE (1,60 x10 19 C )(100 N / C )


a  31
 1,75 x1013 m / s 2
m 9,11x10 kg

B. Bila electron memasuki medan listrik pada waktu t=0, tentukan waktu saat electron meninggalkan
medan listrik tersebut.

Jarak horizontal yang dilalui electron adalah l=0,1m, maka waktu yang diperlukan untuk melintasi jarak
sejauh 0,1m tersebut adalah

l 0,1m
t  6
 5,0 x10 8 s
vi 2,0 x10 m / s

2.2. Potensial Elektrostatika


Potensial Listrik merupakan besarnya energi potensial listrik pada setiap satu satuan muatan.
Potensial listrik juga merupakan besaran skalar yang berkaitan dengan kerja dan energi potensial
pada medan listrik. Potensial Listrik dapat dirumuskan sebagai berikut:
𝐸𝑝
𝑉=
𝑞

Karena potensial listrik adalah energi potensial elektrostatik per satuan muatan, maka
satuan SI untuk beda potensial adalah joule per coulomb atau volt (V).
1𝐽
1𝑉 =
𝐶
Karena diukur dalam volt maka beda potensial terkadang disebut voltase atau tegangan.
Jika diperhatikan dari persamaan beda potensial yang merupakan integral dari medan listrik E
terhadap perubahan jarak dl, maka dimensi E dapat juga disebut:
1𝑁 1 𝑉
=
𝐶 𝑚

Oleh karenanya maka Beda Potensial (V) = Medan Listrik (E) x Jarak (L)  Satuan V =
(V/m).(m)

1. Potensial Listrik Akibat satu muatan titik

Sebuah titik yang terletak di dalam medan listrik akan memiliki potensial listrik.
Potensial listrik yang dimiliki titik tersebut besarnya ditentukan oleh:

𝑄 𝑄
𝑉 = 𝑘 𝑟, karena 𝐸 = 𝑘 𝑟 2 , maka V= E x r.

Dari rumus di atas terlihat bahwa titik-titik di permukaan bola


berjari-jari r (lihat gambar), potensialnya sama. Dari sini dapat r
disimpulkan bahwa bidang ekuipotensial (bidang dimana titik-titik di
dalamnya mempunyai potensial sama) suatu muatan titik terletak
permukaan-permukaan bola konsentris dengan mutan titik sebagai pusat
bola.

Gambar di samping melukiskan bidang ekuipotensial


akibat sebuah muatan dan sebuah konduktor netral yang
diletakkan di dekatnya. Perhatikan bahwa muatan
konduktor hanya tersebar di permukaan saja. Di dalam
konduktor muatannya nol.
2. Potensial Listrik Akibat beberapa muatan

Apabila terdapat beberapa muatan listrik maka potensial listrik pada suatu titik
merupakan jumlah aljabar potensialnya terhadap tiap-tiap muatan. Misalnya jika kita
mempunyai tiga buah muatan yaitu q1, q2, q3, maka potensial listrik di titik yang berjarak
r1, r2, r3 dari ketiga muatan tersebut adalah :

𝑞 𝑞 𝑞
𝑉 = 𝑘 𝑟1 + 𝑘 𝑟2 + 𝑘 𝑟3………..Potensial listrik akibat beberapa muatan.
1 2 3

3. Potensial Listrik Pada Dua Keping Sejajar


Konduktor dua keping sejajar adalah dua
+ -
keping logam sejajar yang dihubungkan dengan
+ -
sebuah baterai sehingga kedua keping mendapatkan
+ -
muatan yang sama tetapi berlawanan tanda. Bentuk
+ -q
F’ +
F keping sejajar seperti ini disebut kapasitor. Di antara
+ -
dua keping akan dihasilkan medan listrik yang serba
+ B d
-A
r=0 sama dengan arah dari keping positif ke keping
r=d
negatif. Medan listrik yang serba sama seperti ini
V
disebut medan listrik homogen.
Gambar: Dua keping sejajar yang terpisah Pada muatan positif q bekerja gaya listrik F =
pada jarak d diberi muatan yang sama dan qE yang arahnya ke kanan. Untuk memindahkan
berlawanan tanda oleh baterai dengan beda
potensial V muatan positif q dari A ke B (ke kiri) kita harus
melakukan gaya F’ yang melawan gaya F, tetapi
besar gaya F’ sama dengan besar F (F’=F). Usaha luar yang dilakukan untuk
memindahkan muatan q dari A ke B adalah:

𝑊𝐴𝐵 = 𝐹 ′ 𝑑 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐹 ′ = 𝐹 = 𝑞𝐸
Usaha luar WAB haruslah sama dengan ∆𝐸𝑃𝐴𝐵,
𝑊𝐴𝐵 = ∆𝐸𝑃𝐴𝐵 = 𝑞∆𝑉𝐴𝐵 = 𝑞(𝑉𝐵 − 𝑉𝐴 ) 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑉𝐵 − 𝑉𝐴 = ∆𝑉𝐴𝐵 (𝑡𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑒𝑟𝑎𝑖)

𝑊𝐴𝐵 = 𝑞∆𝑉𝐴𝐵

Karena 𝑞∆𝑉𝐴𝐵 = 𝑞𝐸𝑑

𝑚𝑎𝑘𝑎 ∆𝑉𝐴𝐵 = 𝐸𝑑

∆𝑉𝐴𝐵
𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐸 =
𝑑

B. Formulasi Energi Potensial Listrik

Gambar disamping menunjukkan muatan uji qo yang mula-mula 2 + qo


berada di titik 1, dengan jarak r1 dari muatan sumber q, berpindah ke titik 2,

dr
F

1 qo
+
dengan jarak r2 dari muatan sumber q. Gaya Coulomb yang bekerja pada muatan uji qo
dirumuskan oleh:

𝑘𝑞𝑜 𝑞
𝐹=
𝑟2
Jika muatan qo dan q dipindahkan searah dengan arah gaya F yang bekerja pada qo dan
searah dengan arah perpindahan dr. Dengan demikian, usaha yang dilakukan oleh gaya Coulomb
F untuk perpindahan dr searah dari titik 1 ke titik 2 dapat dihitung dengan menggunakan integral.
𝑟 𝑟
𝑊12 = ∫𝑟 2 𝐹 𝑑𝑟 cos Ө = ∫𝑟 2 𝐹 𝑑𝑟 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 Ө = 0, 𝑚𝑎𝑘𝑎
1 1

𝑟2
𝑘q o q Gambar : Muatan uji qo
𝑊12 = ∫ 𝐹 = 𝑑𝑟
𝑟2 berpindah dari titik 1 ke titik 2
𝑟1

Karena k, q0, dan q tak bergantung pada variable integral r, maka dapat dikeluarkan dari
1
tanda integral; sedangkan = 𝑟 −2 , sehingga
𝑟2

𝑟2
𝑟 𝑟
−2
𝑟 −2+1 2 𝑟 −1 2 1 𝑟2
𝑊12 = 𝑘q o q ∫ 𝑟 𝑑𝑟 = 𝑘q o q ( ) = 𝑘q o q ( ) = −𝑘q o q ( )
−2 + 1 𝑟 −1 𝑟 𝑟 𝑟1
𝑟1 1 1

2
1 1
𝑊12 = −𝑘q o q ( − ) = − ∫ 𝐹. 𝑑𝑠
𝑟2 𝑟1 1

Sebagaimana halnya medan gaya gravitasi, medan gaya Coulomb juga merupakan medan
gaya konseravtif. Gerak partikel bermuatan q dalam ruang bermedan listrik dapat dianalogikan
dengan gerak partikel bermassa m dalam medan gravitasi dekat permukaan bumi. Karena gaya
Coulomb termasuk gaya konservatif, sehingga memenuhi persamaan:
∆𝐸𝑃12 = 𝐸𝑃2 − 𝐸𝑃1 = −𝑊12
Jika W12 pada ruas kanan kita substitusikan ke dalam persamaan ini, maka kita peroleh:

1 1
∆𝐸𝑃12 = 𝐸𝑃2 − 𝐸𝑃1 = 𝑘q o q ( − )
𝑟2 𝑟1

Persamaan di atas tidak mendefinisikan energi potensial listrik. Untuk mendapatkan


definisi potensial listrik, kita anggap r1 tak berhingga, dan kita definisikan EP1 =0. Dengan
menggunakan persamaan di atas kita peroleh definisi energi potensial sistem dua muatan ini.

1 1
𝐸𝑃2 − 𝐸𝑃1 = 𝑘q o q ( − )
𝑟2 𝑟1
1 1
𝐸𝑃2 − 0 = 𝑘q o q ( − )
𝑟2 ∞
qoq
𝐸𝑃2 = 𝑘
𝑟2

Atau rumus energi potensial secara umum yaitu:


qoq
𝐸𝑃 = 𝑘
𝑟
Rumus energi potensial di atas mendefinisikan energi potensial dari sistem dua muatan q
dan q0 yang berjarak r sebagai usaha yang diperlukan untuk memindahkan muatan penguji q0
dari titik tak berhingga ke titik yang berjarak r dari muatan q.

Dalam bentuk integral rumus energi potensial dapat ditulis,


𝑟2
2
𝐸𝑃 = −𝑞0 ∫ 𝐸. 𝑑𝑠 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 ∆𝐸𝑃 = − ∫ 𝐹. 𝑑𝑠
1

Contoh Soal:

1. Dua buah muatan q1=6µC dan q2=8µC berada pada titik A dan B yang berjarak 6 cm.
Jika jaraknya dibuat menjadi 12 cm, hitunglah energi potensialnya terhadap kedudukan
awal…?
Solusi:
Dik: q1=6µC dan q2=8µC
r1=6cm dan r2=12cm
Dit: Hitung perubahan energi potensial terhadap kedudukan awal….?

Awal Akhir
q1=6µC q2=8µC q2=8µC
rawal= 6 cm
Rakhir= 12 cm

1 1
∆𝐸𝑃12 = 𝐸𝑃2 − 𝐸𝑃1 = 𝑘q1 q 2 (𝑟 −𝑟 )
𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑎𝑤𝑎𝑙

1 1
∆𝐸𝑃12 = (9𝑥109 )(6𝑥10−6 )(8𝑥10−6 ) ( −2
− )
12𝑥10 8𝑥10−2
1 1
∆𝐸𝑃12 = (432𝑥10−3 ) ( − ) 𝑥102 = −1,35 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒
12 8
Tanda negatif menyatakan bahwa energi potensialnya berkurang.
1. Energi Potensial Dari Beberapa Muatan

Anggap ada tiga muatan yang diletakkan seperti


pada gambar. Energi potensial merupakan besaran B q2
scalar, sehingga energi potensial dari sistem 3
r12 r23
muatan merupakan penjumlahan skalar dari energi
potensial tiap dua muatan dalam sistem ini.
q1 r13 q3
𝑞1 𝑞2 𝑞1 𝑞3 𝑞2 𝑞3 A C
𝐸𝑝 = 𝑘 ( + + )
𝑟12 𝑟13 𝑟23

Rumus di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:


Untuk mudahnya anggap semua muatan positif. Anggap mula-mula diruang tempat titik
A, B dan C tidak ada muatan. Bawa muatan q1 dari titik tak terhingga ke titik A. Disini
tidak diperlukan usaha, karena tidak ada gaya yang bekerja. Bawa muatan q 2 dari titik tak
terhingga ke titik B. Selama perjalanan, muatan q1 akan menolak muatan q2 sehingga
harus melakukan usaha untuk memindahkan muatan q2 ini agar tiba di titik B. Usaha
yang dilakukan ini diterima oleh sistem dan diubah menjadi energi potensial sistem
𝑞 𝑞
sehingga energi potensial sistem naik menjadi 𝑘 𝑟1 2. Selanjutnya bawa muatan q3 dari
12
titik tak berhingga ke titik C. Selama perjalanan muatan q3 ini akan mengalami gaya tolak
dari muatan q1 dan q2 sehingga harus memberikan gaya yang lebih besar (usaha lebih
besar) untuk membawa muatan ini ke titik C. Usaha yang dilakukan ini kembali akan
diubah menjadi energi potensial sistem, dalam hal ini sistem menerima tambahan energi
𝑞 𝑞 𝑞 𝑞
potensial sebesar: 𝑘 𝑟1 3 dan 𝑘 𝑟3 2. Sehingga total energi potensial sistem adalah seperti
13 23
pada persamaan di atas.

C. Beda Potensial Listrik

Perbedaan potensial (beda potensial - tegangan listrik) adalah perbedaan


jumlah elektron yang berada dalam suatu materi. Di satu sisi materi terdapat elektron yang
bertumpuk sedangkan di sisi yang lain terdapat jumlah elektron yang sedikit. Hal ini terjadi
karena adanya gaya magnet yang memengaruhi materi tersebut. Dengan kata lain, materi tersebut
menjadi bertegangan listrik.
Jika materi tersebut disentuh oleh materi yang dapat menghantarkan listrik maka
aliran elektron tersebut akan mengalir melalui materi yang menyentuhnya. Jika manusia
menyentuh materi yang memiliki beda potensial tersebut maka manusia tersebut akan
teraliri listrik pada tubuhnya (tersetrum). Besarnya efek dari aliran listrik tersebut tergantung dari
besarnya perbedaan elektron yang terkumpul di suatu materi (beda potensial).

1. Beda Potensial Listrik Dalam Medan Uniform


Pada gambar disamping menunjukkan
titik A dan B dipengaruhi oleh medan listrik E
homogen. Dalam keadaan ini kita dapat
menentukan berapa beda potensial kedua titik rB
tersebut dengan menggunakan rumus rA
ds
(𝐸𝑝)𝐵 − (𝐸𝑝 )
𝐴
𝑉𝐵 − VA = A d B
𝑞0
rB rA
𝑉𝐵 − VA = − ∫ E. ds + ∫ E. ds Acuan
∞ ∞
rB
= − ∫ E. ds
rA
rB rB
o
𝑉𝐵 − VA = − ∫ E. dx cos 0 = −E ∫ dx = −E(rB − rA )
rA rA

𝑎𝑡𝑎𝑢 ∆𝑉 = −𝐸𝑑

Catatan : Disini beda potensial ∆V didefinisikan sebagai selisih potensial


akhir dengan potensial awal.
2.4. Dipole Listrik
Dipol Listrik di Dalam Medan Listrik

Walaupun atom-atom dan molekul-molekul bersifat netral secara listrik, namun atom-atom dan
molekul-molekul ini juga dipengaruhi oleh medan listrik, sebab atom-atom dan molekul-molekul
tersebut memiliki muatan positif dan muatan negatif. Kita bisa menganggap sebuah atom terdiri
dari inti atom yang bermuatan positif dan dikelilingi oleh awan elektron yang bermuatan negatif.
Karena jari-jari inti sekitar 100.000 kali lebih kecil dibandingkan awan elektron , kita dapat
menganggapnya sebagai muatan titik. Pada beberapa atom dan molekul, awan elektron
mempunyai simetri bola , sehingga pusat muatanya berada pada pusat atom atau molekul,
berimpit dengan muatan positif. Atom atau molekul yang demikian disebut nonpolar. Namun
demikian, dengan adanya medan listrik luar, pusat muatan positif tidak berimpit dengan pusat
muatan negatifnya. Medan listrik melakukan suatu gaya pada inti yang bermuatan positif yang
arahnya searah medan dan gaya pada awan elektron yang bermuatan negatif pada arah yang
berlawanan. Muatan positif dan negatif akan terpisah sehingga gaya tarik menarik muatan akan
menmgimbangi gaya luar pada masing-masing muatan akibat medan listrik luar. Distribusi
muatan yang demikian berperilaku sebagi suatu dipol listrik .

Momen dipol suatu atom atau molekul non polar didalam medan listrik luar disebut momen dipol
induksi. Momen dipol induksi ini mempunyai arah sama dengan arah medan listrik. Jika medan
listrik yang homogen, tidak ada gaya total dipol sebab gaya pada muatan positif maupun negatif
sama besar dan berlawanan arah. Namun demikian, bila medan listriknya tidak homogen, akan
ada gaya total yang bekerja pada dipol tersebut. Momen dipol induksi sejajar dengan E pada arah
radial dari muatan titik tersebut. Medan pada muatan negatif lebih kuat sebab letaknya lebih
dekat kepada muatan titik, jadi gaya total pada dipol akan menuju muatan titik dan dipol di tarik
menuju muatan titik jika titik muatan tersebut adalah negatif, dipol induksi akan mempunyai arah
yang berlawanan dari arah semula, dan dipol sekali lagi akan ditarik oleh muatan titik tersebut.
Gaya yang dihasilkan oleh medan listrik tidak homogen pada partikel netral merupakan
penyebab potongan atas ditarik oleh sisir yang bermuatan.hal ini juga merupakan penyebab
balon yang bermuatan menempel pada dinding atau langit-langit. Dalam hal ini, muatan pada
balon memberikan medan listrik tidak homogen yang mempolarisasi (yaitu, momen dipol
induksi) molekul dari dinding atau langit-langit dan kemudian menariknya.

Pada beberapa molekul, pusat muatan positif tidak berimpit dengan pusat muatan negatif,
walaupun tidak ada medan listrik luar. Molekul-molekul polar ini, mempunyai momen dipol
listrik permanen. Jika sebuah molekul polar diletakkan didalam suatu medan listrik homogen
akan ada gaya total padanya,tetapi alkan ada momen yang mengarahkan molekul untuk berputar
sehingga dipol mengarah sejajar medan.

Torka dapat ditulis sebagi perkalian silang dari momen dipol p dengan medan listrik E :
𝝉=𝒑𝒙𝑬

Jika dipol berputar melalui sudut 𝑑𝜃, medan listrik melakukan kerja

dw= -𝝉𝒅𝜽 = −𝒑 𝑬 𝒔𝒊𝒏𝜽 𝒅𝜽

tanda minus muncul akibat torka yang cenderung menurunkan q. Dengan membuat kerja ini
sama dengan penurunan energi potensial, akan kita peroleh :

du = -dw = + pE 𝒔𝒊𝒏𝜽 𝒅𝜽

dengan mengintegrasikan, kita peroleh :

U= -pE 𝒄𝒐𝒔𝜽 + 𝑼o

Biasanya kita pilih energi potensial menjadi nol pada saat dipol tegak lurus medan listrik, yaitu
ketika 𝜽 = 𝟗𝟎°. Kemudian Uo = 0 dan energi potensial menjadi :

U = -pE 𝒄𝒐𝒔𝜽 = −𝒑 . 𝑬

Didalam suatu medan listrik, yang tidak homogen, molekul polar mengalami gaya total karena
medan listrik yang bekerja pada pusat muatan positif dan negatif berbeda besarnya sebagai
contoh ,olekul polar adalah HCl, yang sesungguhnya merupakanion positif hidrogen dengan
muatan +e dan ion negatif clor dengan –e . contoh lain dari molekul poalr adalah air . adanya
momen dipol dari air merupakan penyebab utama adanya penyerapan energi dari makanan yang
ada diadalam pemanas gelombang mikro. Seperti halnya semua gelombang, microwave
mempunyai medan listrik bolak-balik yang dapat menyebabkan dipol listrik bergetar. Getaran
momen dipol listrik air beresonansi dengan osilasi medan listrik gelombang mikro dan ini
menhyebabkan penyerapan energi dari gelombang mikro diameter atom molekul mempunyai
orde 10-10 m= o,1nm. Satuan momen dipol listrik atom dan molekul adalah muatan dasar e diakli
jarak 1nm. Misalnya, momen dipol dari NaCl dalam satuan ini mempunyai besar sekitar 0,2 e.
nm.

2.5. Potensial Listrik statik oleh muatan kontinu

2.6. Fungsi Delta Dirac


2.7. soal Latihan
Bab 3 Metode Khusus Dalam Penentuan Potensial
3.1 Persamaan laplace
TRANSFORMASI LAPLACE

6.1 Transformasi Laplace


Definisi

Misalkan F (t ) suatu fungsi t dan t > 0, maka transformasi Laplace dari F(t) dinotasikan
dengan L{F(t)} yang didefinisikan oleh:

`
L{F (t )}   e st F (t )dt  f ( s)
0

Karena L{F (t )} adalah integral tidak wajar dengan batas atas di tak hingga (  ) maka
`
L{F (t )}   e  st F (t )dt  f ( s)
0

 Lim  e  st F (t )dt
p 
0

Transformasi Laplace dari F(t) dikatakan ada, jika integralnya konvergen untuk beberapa
nilai s, bila tidak demikian maka transformasi Laplace tidak ada.

Selanjutnya bila suatu fungsi dari t dinyatakan dengan huruf besar, misalnya W(t), G(t), Y(t)
dan seterusnya, maka transformasi Laplace dinyatakan dengan huruf kecil yang
bersangkutan sehingga L {W(t)} = w(s), L {G(t)} = g(s), L {Y(t)} = y(s) dan seterusnya.

Teorema

Jika F(t) adalah fungsi yang kontinu secara sebagian-sebagian dalam setiap interval 0  t  N
dan eksponensial berorde  untuk t > N, maka transformasi Laplace f(s) ada untuk setiap s
>
Berdasarkan definisi di atas, dapat ditentukan transformasi Laplace beberapa fungsi
sederhana.

No. F (t ) L{F (t )}
1. 1 1
,s  0
s
2. t 1
,s  0
s2
3. t
2
2
,s  0
s3
4. t
n
n!
,s  0
n = 0,1,2,3,…. s n 1
5.
1
e at ,s  0
sa
6. sin at a
,s  0
s  a2
2

7. cos at s
,s  0
s  a2
2

8. sinh at a
,s  a
s  a2
2

9. cosh at s
,s  a
s  a2
2

10. s2  a
t cos at
(s 2  a 2 ) 2
11. t sin at s
2a (s  a 2 ) 2
2

Sebagai pemahaman bagi pembaca, berikut ini diberikan beberapa contoh transformasi
Laplace suatu fungsi.

Tentukan transformasi Laplace fungsi berikut:


1. F (t )  1
`
L{F (t )}   e  st 1  f ( s)
0

 Lim  e st dt
p  0

p
 1 
 lim  e  st 
p 
 s 0

 1 1 
 lim    0 
p 
 se se 

1
 0
s

1

s

 f (s )

2. F (t )  t
`
L{F (t )}   e  st t dt
0

 
p
1
 lim  t.  d e  st
p  s
0

p
1
  lim te  st   e  st dt
s p 0

p
1  1 
  lim te st  e st 
s p 
 s 0
p
1  1   1 
  lim  pe  sp  e  sp   0e 0  e 0 
s p  s   s 0

1  1 
  0  0   0  
s  s 

1 1
  0  
s s

1

s2

3. F (t )  e at
`
L{F (t )}   e  st t e at dt
0

 lim  e ( s a )t dt
p 
0


1

lim e ( s  a )t
s  a p 

0
p

1  1 1 
 lim  
 ( s a ) 0 
 ( s  a) p  e ( s a ) e 

1

sa

4. F (t )  sin at

L{F (t )}   e st sin at dt
0
p
1
 Lim  e  st  d (cos at )
p  a
0

p
 1 
1 
 Lim  cos at.e  st   cos atd (e  st ) 
p   a 0
a 0

p
 1 
s 
 Lim  cos at.e  st    cos at.e  st dt 
p   
 a p
a 0

p
 1 s

1 
 Lim  cos at.e  st   e  st . d (sin at ) 
p 
 a a0 a 0

p
 1 s
p

 Lim  cos at.e  st  2 (e  st sin at   sin at.d (e  st ) 
p   
 a a 0 0

p
 1 s  st
p


 Lim  cos at.e  2 (e sin at   sin at.  se  st ) 
 st
p   
 a a 0 0

p
 1 s  st s2
p


 Lim  cos at.e  2 e sin at  2  sin at.se  st ) 
 st
p   
 a a a 0 0

p
a2  1  st s  st 
 Lim 2   cos at.e  2 sin at.e 
p  a  s
 a 0
2
a

a2  cos at s. sin at 
   2 st 
a2  s2  a.e
st
a .e 

a2   1 
  0  0     0  
a2  s2   a 

a2 1
  
a2  s2 a
a

a  s2
2

5. F (t )  cos at

L{F (t )}   e  st cos at dt
0

p
1
 Lim  e  st d (sin at )
p  a
0

p
1 
1 
 Lim sin at.e  st   sin atd (e  st ) 
p 
a 0
a 0

p
1 
s 
 Lim sin at.e  st   sin at.e  st dt 
p   a a 
 p 0

p
1 s

1 
 Lim sin at.e  st   e  st . d ( cos at ) 
p  a
 a0 a 0

p
1 s
p

 Lim sin at.e  st  2 (e  st ( cos at )    cos at.d (e  st ) 
p   a a 
 0 0

p
1 s
p

 Lim sin at.e  st  2 (e  st cos at )   cos at.  se  st dt ) 
p   a a 
 0 0

p
1 s  st s2
p


 Lim sin at.e  2 (e cos at )  2  cos at.e  st ) 
 st
p   a a a 0 
 0

p
a2 1  st s  st 
 Lim 2  sin at.e  2 cos at.e 
p  s  a 2
a a 0
a 2  sin at s. cos at 
   2 st 
s 2  a 2  a.e st a .e 

a2   s 
 2  0  0   0  2  
s  a2   a 

a2  s 
  
s2  a2  a2 

a

s  a2
2

Syarat Cukup Transformasi Laplace Ada

Jika F(t) adalah kontinu secara sebagian-sebagian dalam setiap selang berhingga 0
 t  N dan eksponensial berorde  untuk t > N, maka transformasi Laplacenya f(s) ada
untuk semua s >  .

Perlu ditekankan bahwa persyaratan-persyaratan yang dinyatakan adalah CUKUP untuk


menjamin bahwa transformasi Laplace-nya ada. Akan tetapi transformasi Laplace dapat ada
atau tidak walaupun persyaratan ini tidak dipenuhi.

6.2 Metode Transformasi Laplace


Untuk memudahkan bagi pengguna matematika, terdapat beberapa cara yang digunakan
untuk menentukan transformasi Laplace. Cara tersebut adalah:

a. Metode langsung, berkaitan dengan definisi.


Metode ini berkaitan langsung dengan definisi


L{F (t )}   e  st F (t )dt
0

 Lim  e  st F (t )dt
p 
0
Contoh


L{F (t )}   e  st F (t )dt
0

 lim  e  st tdt
p 
0

p
1
 lim  t.  d (e  st )
p  s
0

p
1
  lim te  st   e  st dt
s p 0

p
1  1 
  lim te st  e st 
s p 
 s 0

1 1
  0  
s s

1

s2

 f (s )

b. Metode Deret
Misal F(t) mempunyai uraian deret pangkat yang diberikan oleh

F (t )  a0  a1t  a 2 t 2  a3t 3  ...



  ant n
n 0

Maka transformasi Laplacenya dapat diperoleh dengan menjumlahkan transformasi


setiap sukunya dalam deret, sehingga:

L{F (t )}  L{a0 }  L{a1t}  L{a 2 t 2 }  L{a3t 3 }  ...

ao a1 2!a2
   3  ...
s s2 s


n! a n
 n 1
, syarat ini berlaku jika deretnya konvergen untuk s > 
n0 s

c. Metode Persamaan differensial


Metode ini menyangkut menemukan persaman differensial yang dipenuhi oleh F(t) dan
kemudian menggunakan teorema-teorema di atas.

d. Menurunkan terhadap parameter


e. Aneka ragam metode, misalnya dengan menggunakan teorema-teorema yang ada.
f. Menggunakan tabel-tabel, melalui penelusuran rumus yang sudah ditetapkan.

6.3 Sifat-sifat Transformasi Laplace


Transformasi Laplace suatu fungsi mempunyai beberapa sifat, sifat-sifat tersebut antara lain:

a) Sifat linear
Jika c 1 dan c 2 adalah sebarang konstanta, sedangkan F1 (t ) dan F2 (t ) adalah fungsi-

fungsi dengan transformasi-transformasi Laplace masing-masing f1 ( s) dan f 2 ( s) , maka:

L{c1 F1 (t )  c2 F2 (t )}  c1 f1 (s)  c2 f (s)

Bukti:

L{c1 F (t ) c 2 F2 (t )}   e st {c1 F1 (t )  c2 F2 (t )}dt
0

 
  e c1 F1 (t )dt   e st c1 F2 (t )dt
 st

0 0

p 
 c1  e  st F1 (t )dt  c2  e  st F2 (t )dt
0 0

 c1 f1 (s)  c2 f 2 (s)

1. L{5t  3}  L{5t  3a}  L{5t}  L{3}


 5L{t}  3L{1}

1 1
5 2
3
s s

5 3
 
s2 s

2. L{6 sin 2t  5 cos 2t}  L{6 sin 2t}  L{5 cos 2t}

 6 L{sin 2t}  5L{cos 2t}

2 s
6 5 2
s 4
2
s 4

12  5s

s2  4

3. L{( t 2  1) 2 }  L{t 4  2t 2  1}

 L{t 4 }  L{2t 2 }  L{1}


 L{t 4 }  2L{t 2 }  L{1}

4!  2!  1
 4 1
 2 21  
s s  s

24 4 1
  
s5 s3 s

4. L{4e 5t  6t 2  3 sin 4t  2 cos 2t}

 L{4e 5t }  L{6t 2 }  L{3 sin 4t}  L{2 cos 2t}

  
 4L e 5t  6L t 2  3Lsin 4t  2Lcos 2t

1 2 4 s
4 6 3 3 2 2 2
s 5 s s 4 s 4

4 12 12 2s
  3 2  2
s 5 s s  16 s  4

Dengan menggunakan sifat linear, tentukan transformasi Laplace fungsí berikut.

1. F (t )  2t 2  e t t

2. F (t )  6 sin 2t  cos 2t

3. F (t )  (sin t  cos t ) 2

1
4. F (t )  cosh 3t  sinh t
2
3
5. F (t )  2t  2

6. F (t )  (sin t  3) 2

b) Sifat translasi atau pergeseran pertama

Jika L{F (t )}  f ( s) maka L{e 2t F (t )}  f (s  a)


Bukti

`


 st
Karena L{F (t )}  e F (t )dt  f ( s) , maka
0

`
L{e at F (t )}   e  st e at F (t )dt
0


  e ( s a )t F (t )dt
0

 f (s  a)

Contoh:

1. Tentukan L{e 3t F (t )} jika L{F (t )}  f ( s)

Menurut sifat 2 di atas, L{e at F (t )}  f (s  a)

Maka L{e 3t F (t )}  f s  (3) 

 f ( s  3)

s
2. Tentukan L{e F (t )}, jika L{F (t )}  f  
2t

a
Menurut sifat 2 di atas, L{e at F (t )}  f ( s  a)

s  s 2
Karena L{F (t )}  f  , maka L{e F (t )}  f  
2t

a  a 

 s 2
 f  
a a

t s
3. Tentukan L{e F (t )} jika L{cos 2t} 
s 4
2

s
Karena L{cos 2t}  maka menurut sifat translasi pertama
s 4
2
L{e t F (t )}  f ( s  1)

s 1
L{e t F (t )} 
( s  1) 2  4

s 1

s  2s  5
2

4. Tentukan L{e 2t (3 cos 6t  5 sin 6t )}


Me6nurut sifat linear,

L{e 2t (3 cos 6t  5 sin 6t )}  L{e 2t (3 cos 6t )}  L{e 2t (5 sin 6t )}

 3L{2t cos 6t}  5L{e 2t sin 6t} }

s 6
Karena L{cos 6t}  dan L{sin 6t}  2
s  36
2
s  36

maka menurut sifat translasi

3L{2t cos 6t}  3 f (s  2)

( s  2)
3 ,
( s  2) 2  36

dan

6
5L{2t sin 6t}  5
(s  2

sehingga

( s  2) 6
L{e L{e  2t (3 cos 6t  5 sin 6t )}  3 5
( s  2)  36
2
( s  2) 2  36
3s  24

s  4s  40
2
Soal

Tentukan transformasi Laplace fungsi

1) F (t )  et sin 2 t

2) F (t )  (1  te t ) 3
t
3) F (t )  (3 sinh 2t  5 cosh 2t )
4) F (t )  (t  2) 2 e t

5) F (t )  e 2t sinh 2t  cosh 3t 

6) F (t )  e  t (1  2t )

c. Sifat translasi atau pergeseran kedua

F (t  a), untuk t  a
Jika L{F (t )}  f ( s ) dan G (t )  
0, untuk t  a

maka

L{G(t )}  e  as f ( s)

Bukti


L{(G(t )}   e st G(t )dt
0

a 
  e  st G(t )dt   e  st G(t )dt
0 a

a 
  e st (0)dt   e  st F (t  a)dt
0 a


  e st F (t  a)dt
a
Misal u = t-a maka t = u+a dan du = dt, sehingga

 

e F (t  a)dt   e  s (u  a ) F (u )du
 st

a 0


 e as  e  su F (u )du
0

 e  as f (s)

Contoh

 2 2
 cos( t  ), t 
3 3
Carilah L{F (t )} jika F (t )  
0, t  2
 3

Menurut definisi transformasi Laplace


L{F (t )}   e  st F (t )dt
0

2 / 3 

 e (0)dt  e cos(t  2 / 3)dt


 st  st

0 
2 /3


  e  s (u  2 / 3) cosudu
0


 e 2s / 3  e  su cos udu
0

se 2s / 3

s2 1
d. Sifat pengubahan skala
1 s
Jika L{F (t )}  f ( s ) maka L{F (at )}  f 
a a

Bukti

Karena


L{F (t )}   e  st F (t )dt
0

maka


L{F (at )}   e  st F (at )dt
0

du
Misal u  at maka du  adt sehingga dt 
a


Menurut definisi L{F (at )  e  st F (at )dt
0

 s
u   du
 e a
F (u )
0
a

s
1   u
  e  a  F (u )du
a

1 s
 f 
a a

Contoh:
6
1. Jika L{F (t )}   f ( s)
( s  2) 3

1 s
maka L{F (3t )}  f( )
3 3

6
 3
s 
3  2 
3 

6.9

( s  6) 3

Soal:

(t  1) 2 , t  1
1. Hitunglah L{F (t )} jika F (t )  
0,0  t  1

s2  s 1
2. Jika L{F (t )}  , carilah L{F ( 2t )}
(2s  1) 2 ( s  1)

e 1/ s
3. Jika L{F (t )}  , carilah L{e t F (3t )}
s

Jawab

e 1 / s
Karena L{F (t )}   f ( s), maka menurut sifat 4 diperoleh
s

1 s
L{F (3t )}  f 
3  3

3

s
1e
Sehingga L{F (3t )} 
3 s
3

3
1 
 e s
s
 f (s )

Berdasarkan sifat Jika L{F (t )}  f ( s )

maka L{e at F (t )}  f ( s  a) (sifat 2)

Maka L{e t F (3t )}  f ( s  1)

3
1 
 e ( S 1)
( s  1)

e. Transformasi Laplace dari turunan-turunan


Jika L{F (t )}  f ( s ) maka L{F ' (t )}  sf ( s )  F (0)


Karena Karena L{F (t )}  e  st F (t )dt  f ( s) , maka
0


L{F ' (t )}   e  st F ' (t )dt
0


  e  st dF (t )
0

p
  st 

  e F (t )   F (t )d (e  st ) 

 0 0


  F (0)  s  e st F (t )dt
0

 sf ( s)  F (0)

Jika L{F ' (t )}  sf ( s )  F (0) maka L{F ' ' (t )}  s 2 f ( s)  sF (0)  F ' ( s)
Bukti


L{F ' ' (t )}   e  st F " (t )dt
0


  e st d ( F ' (t ))
0

 

  e  st F ' (t )   F ' (t )d (e  st ) 
 0 

 

  e  st F ' (t )  s  F ' (t )e  st dt 
 0 


 e  st F ' (t )  s(sf (s)  F (0)) 
 s 2 f (s)  sF (0)  F ' (0)

Dengan cara yang sama diperoleh


L{F ' ' ' (t )}   e  st F ' ' ' (t )dt
0


  e  st d ( F ' ' (t ))
0

 

  e  st F ' ' (t )   F ' ' (t )d (e  st ) 
 0 

 

  e  st F ' ' (t )  s  e  st F ' ' (t )dt 
 0 

 

 e  st F ' ' (t )  s e  st F ' (t )   F ' (t )d (e  st ) 
 0 

 s 3 f (s)  s 2 F (0)  sF ' (0)  F ' ' (0)


Akhirnya dengan menggunakan induksi matematika dapat ditunjukkan bahwa, jika

L{F (t )}  f ( s)

maka

L{F ( n) (t )}  sf (s)  s n1 F (0)  s n2 F ' (0)  ...  sF ( n2) (0)  F ( n1) (0)

Contoh soal

Dengan menggunakan sifat transformasi Laplace dari turunan-turuan, tunjukkan bahwa

a
L{sin at}   f ( s)
s  a2
2

Misal F (t )  sin at diperoleh F ' (t )  a cos at , F ' ' (t )  a 2 sin at

1
sehingga L{sin at}   L{F ' ' (t )
a2

Dengan menggunakan sifat transformasi Laplace dari turunan-turunan diperoleh

 1 
L{sin at}    2 sf ( s )  sF (0)  F ' (0)  f
 a 

1  2 a 
 2 
s 2  s ( 0)  a 
a  s a 2

1  as 2 
  2  a 
a2 s a
2

1  as 2  as 2  a 3 
  
a2  s2  a2 

a

s  a2
2
f. Tansformasi Laplace dari integral-integral

t  f ( s)
0

Jika L{F (t )}  f ( s ) maka L  F (u )du  
  s

Bukti:


Misal G(t )  F (u )du maka G ' (t )  F (t ) dan G (0)  0
0

Dengan mentransformasikan Laplace pada kedua pihak, diperoleh:

L{G ' (t )}  L{F (t )}

 sL{G (t )}  G{0}  f ( s)

 sL{G (t )}  f ( s )

f ( s)
 L{G (t )} 
s

t  f ( s)

Jadi diperoleh L  F (u )du  
 0  s

Contoh

 t sin u 
1. Carilah L  du 
0 u 
sin t
Misal F (t ) 
t

1
Maka L{F (t )}  arctan
s

Sehingga menurut sifat transformasi di atas

 t sin u  f ( s ) 1 1
L  du    arctan
0 u  s s s
 t sin u  1 1
2. Buktikan L  
0 u
du   arctan
 s s

Bukti:

t
sin u
Misal F (t )  
0
u
du maka F (0)  0

sin t
F ' (t )  dan tF ' (t )  sin t
t

Dengan mengambil transformasi Laplace kedua bagian

1
L{tF ' (t )}  L{sin t} 
s 1
2

d 1
 sf ( s )   2
ds s 1

1
 sf ( s)    ds
s 1
2

 sf ( s )   arctan s  C

Menurut teorema harga awal, Lim sf ( s )  lim F (t )  F (0)  0


s  t 0


Sehingga diperoleh c  .
2

1 1
Jadi sf ( s )  arctan
s s

 cos u 
 ln s 2  1 
3. Buktikan L 

 t
u
du  
 2s
Bukti:


cos u cos t
Misal F (t )  
t
u
du maka F ' (t )  
t
atau t{F ' (t )}   cos t

L{tF ' (t )}  L{ cos t}

d 
 1 d sf ( s)  F (0)    s
atau   sf ( s )  2
s
ds s 1
2
 ds  s 1

s
sf ( s)   ds
s 1
2


1
2

ln s 2  1  c 

Menurut teorema harga akhir, lim sf ( s)  lim F (t )  0, sehingga c = 0.


s 0 t 0

ln( s 2  1)
1
 
Jadi sf ( s )  ln s  1  0 atau f ( s ) 
2
2

2s

g. Perkalian dengan t n

dn
Jika L{F (t )}  f ( s ) maka L{t n F (t )  (1) n n
f ( s)  (1) f ( n ) ( s)
ds

Bukti.


Karena f ( s)  e  st F (t )dt maka menurut aturan Leibnitz untuk menurunkan dibawah
0

tanda integral, diperoleh:

d   st 

df
 f ' ( s )    e F (t )dt 
ds ds  0 

  st
 e F (t )dt
0
s


   te  st F (t )dt
0


  e  st {tF (t )}dt
0

  L{tF (t )}

df
Jadi L{tF (t )}     f ' ( s)
ds

Contoh

1. Tentukan L{t sin at}


Jawab

a
L{sin at}  , maka menurut sifat perkalian dari pangkat t n diperoleh
s a
2 2

d n f ( s)
L{tF (t )}   1
n
, sehingga
ds n

d  a 
L{t sin at}  (1)  
ds  s 2  a 2 

2as

(s  a 2 ) 2
2

2. Tentukan L{t 2 cos at}

d2  s 
Menurut sifat di atas, L{t 2 cos at}  (1) 2  
ds 2  s 2  a 2 

d  a2  s2 
  2 
ds  ( s  a 2 ) 2 
2 s 3  6a 2 s

(s 2  a 2 ) 3

h. Sifat pembagian oleh t



 F (t ) 
Jika L{F (t )}  f ( s ) maka L    f (u )du
 t  0

Bukti:

F (t )
Misal G (t )  maka F (t )  tG(t )
t

Dengan menggunakan definisi transformasi Laplace untuk kedua bagian, maka


d dg
diperoleh bentuk L{F (t )}  L{tG(t )} atau f ( s )   L{G (t )} atau f ( s )  
ds ds

Selanjutnya dengan mengintegralkan diperoleh

dg
 f (s)    ds .
s
g ( s )    f (u )du


  f (u )du
s


 F (t ) 
Jadi L    f (u )du
 t  0

Soal-soal

1) Tentukan transformasi Laplace untuk fungsi yang diberikan


a. F (t )  t cos 2t
b. F (t )  t sin 3t
c. F (t )  t (3 sin 2t  2 cos 5t )
d. F (t )  t 2 sin t

e. F (t )  (t 2  3t  2) sin 3t

f. F (t )  t 3 cos t

g. F (t )  t sin 2 t

t 2 ,0  t  1
2) Jika F (t )  
0, t  1
Carilah L{F ' ' (t )}

2t ,0  t  1
3) Diketahui F (t )  
t , t  1
a. carilah L{F (t )}

b. carilah L{F ' (t )}

c. apakah L{F ' (t )}  sf ( s )  F (0) berlaku untuk kasus ini



3

4) Tunjukkan bahwa te 3t sin tdt 
0
50

5) Tunjukkan bahwa

t  1
L    (u 2  u  e u )du   L{t 2  t  e t }
0  s

6) Perlihatkan bahwa

 e  at  e bt  sb
a. L   ln
 t  sa

 cos at  cos bt  1 s  b
2 2
b. L     ln
  2 s a
2 2
t
7) Tunjukkan bahwa:

 1 1  u u  1 1
a. L    du   ln 1 
0 u  s s



t t1

 f ( s)
b. Jika L{F (t )}  f ( s ) maka L  dt1  F (u )du   2

0 0 
 s
6.4 Transformasi Laplace Invers

Definisi

Jika transformasi Laplace suatu fungsi F(t) adalah f(s), yaitu jika L{F (t )}  f ( s ) maka F(t)

disebut suatu transformasi Laplace Invers dari f(s). Secara simbolis ditulis F (t )  L1{ f ( s)} .

L1 disebut operator transformasi Laplace invers.

Contoh.

1. Karena L 
 1  1
  e maka L e 
2t 2t
 
1
s2
s  2

2. Karena L 
 s  1

  cos t 3e maka L cos t 3  2
s
s 3

 s  3
2

 1  sinh at  sinh at  1
3. Karena L  2 
 maka L1   2
s  a   a  s a
2 2
a

Ketunggalan Transformasi Laplace Invers

Misal N(t) adalah suatu fungsi dan L{N(t)} = 0 maka L{F(t)+N(t)} = L{F(t)} Dengan demikian
dapat diperoleh dua fungsi yang berbeda dengan transformasi Laplace yang sama.

Contoh

0 untuk t  1
F1 (t )  e 3t dan F2 (t )   3t
e untuk t  1

1
Mengakibatkan L1{F1 (t )}  L1{F2 (t )} 
s3

Jika kita menghitung fungsi-fungsi nol, maka terlihat bahwa transformasi Laplace invers
tidak tunggal. Akan tetapi apabila kita tidak dapat memperhitungkan fungsi-fungsi nol
(yang tidak muncul dalam kasus-kasus fisika) maka ia adalah tunggal. Hasilnya dinyatakan
oleh teorema berikut.
Teorema Lerch

Jika membatasi diri pada fungi-fungsi F(t) yang kontinu secara sebagian-sebagaian dalam
setiap selang berhingga 0  t  N dan eksponensial berorde untuk t > N, maka inversi

transformasi laplace dari f(s) yaitu L1  f ( s)  F (t ) , adalah tunggal. Jika tidak ada
pernyataan lainnya, maka kita selalu menganggap ketunggalan di atas.

Berdasarkan definisi di atas, dapat ditentukan transformasi Laplace invers beberapa fungsi
sederhana dibawah ini.

Nomor f(s) L1{ f ( x)}  F (t )


1. 1 1
s
2. 1 t
s2
3. 1 tn
n 1
, n  0,1,2,3,...
s n!
4. 1 e at
sa
5. 1
s  a2
2 sin at
a
6. s cos at
s  a2
2

7. 1 sinh at
s  a2
2
a
8. s cosh at
s  a2
2

9. s2  a2 t cos at
(s 2  a 2 ) 2

6.5 Sifat-sifat transformasi Laplace Invers

Beberapa sifat penting dari transformasi Laplace invers adalah:


1) Sifat Linear
Misal c1 dan c2 adalah sebarang bilangan konstanta, sedangkan f1 ( s) dan f 2 ( s)
berturut-turut adalah transformasi Laplace dari F1 (t ) dan F2 (t ) , maka:

L1{c1 F1 (t )  c2 F2 (t )}  L1{c1 F1 (t )}  L1{c2 F2 (t )}

 L1{c1 F1 (t )}  L1{c2 F2 (t )}

 c1 L1{F1 (t )}  c2 L1{F2 (t )}

 c1 f1 (s)  c2 f 2 (s)

Contoh

 3s  12  1  3s  1  12 
L1  2 L  2 L  2 
 s 9  s  9 s  9

 s  1  1 
 3L1  2   12 L  2 
s  9 s  9

sin 3t
 3 cos 3t  12
3

2) Sifat translasi atau pergeseran pertama


Jika L1{ f ( s)}  F (t ) maka L1{ f ( s  a)}  e at F (t )

Contoh

 1  sinh 3t  1  1  1  2t sinh 3t
L1  2  maka L1  2 L  e
s  9  ( s  2s  13   ( s  2)  9 
2
t 3

3) Sifat translasi atau pergeseran kedua

Jika L1{ f ( s)}  F (t ) maka

F (t  a), untuk t  a
L1{e as f ( s)}  
 0, untuk t  a
Contoh

 1 
L1  2   sin t maka
 s  1


  3s  sin( t  ), untuk t 

 e 
  3 3
L1  2 
 s  9  0, untuk t  
   3

4) Sifat pengubahan skala


1 t
Jika L1{ f ( s)}  F (t ) maka L1{ f (ks)}  F 
k k

Contoh

 s  1  3s  1  t 
Karena L1    cos t maka diperoleh L    cos 
 s  1  (3s)  1 3  3 
2 2

5) Transformasi Laplace invers dari turunan-turunan

d n 
Jika L1{ f ( s)}  F (t ) maka L1{ f ( n)
( s)}  L1  f (s)  (1) n t n F (t )
 ds 

Contoh

 2  d  2   4s
Karena L1  2   sin 2t dan  2  2 maka diperoleh
s  4 ds  s  4  ( s  4) 2

d  2  1   4s 
L1  2   L  2   (1) n t n sin 2t  t sin 2t
2 
ds  s  4   ( s  4) 

6) Transformasi Laplace invers dari antiturunan-antiturunan

  F (t )

Jika L1{ f ( s)}  F (t ) maka L1  f (u )du  
 s  t
Contoh

 1  1 1  1 1  1 1 t
Karena L1   L      e maka
 3s( s  1)  3  s s  1 3 3

 1 1  1  1  e t 
diperoleh L1    du   
 0 3u 3(u  1)  3  t
`

7) Sifat perkalian dengan s n

Jika L1{ f ( s)}  F (t ) maka L1{sf ( s)}  F ' (t )

Dengan demikian perkalian dengan s berakibat menurunkan F(t) Jika

f(t)  0 , sehingga

L1{sf (s)  F (0)}  F ' (t )

 L1{sf (s)}  F ' (t )  F (0) (t ) dengan  (t ) adalah fungsi delta Dirac atau fungsi impuls
satuan.

Contoh

 5 
arena L1    sin 5t dan sin 5t  0 maka
 s  25 
2

 5s  d
L1  2   (sin 5t )  5 cos 5t
 s  25  dt

8) Sifat pembagian dengan s

 f ( s) 
t
Jika maka L1     F (u )du
 s  0
Jadi pembagian dengan s berakibat mengakibatkan integral F(t) dari 0 sampai dengan t.

Contoh

 2 
Karena L1    sin 2t maka diperoleh
s  4
2

  t
t
1 
   sin 2u du   cos 2u   cos 2t  1
1 2 1
L  2
 s( s  4)  0 2 0 2

9) Sifat konvolusi
Jika L1{ f ( s)}  F (t ) dan L1{g ( s)}  G(t ) maka

t
L1{ f ( s) g ( s)}   F (u )G(t  u)du  F * G
0

F*G disebut konvolusi atau faltung dari F dan G, dan teoremanya dinamakan teorema
konvolusi atau sifat konvolusi.

Contoh

 1  1  1 
Karena L1   4t
  e dan L  e
2t

 s  4   s  2 

 1  t  4 u 2 ( t u )
maka diperoleh L1    e e du  e 2t  e 4t
 ( s  4)( s  2)  0

6.6 Metode Transformasi Laplace Invers

Menentukan transfomasi Laplace dapat dilakukan dengan beberapa cara, sehingga dalam
transformasi Laplace invers terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain:

1) Metode pecahan parsial


P( s )
Setiap fungsi rasional , dengan P(s) dan Q(s) fungsi pangkat banyak (polinom) dan
Q( s )
P( s )
derajat P(s) lebih kecil dari Q(s). Selanjutnya dapat ditulis jumlah dari fungsi
Q( s )
rasional yang mempunyai bentuk
A As  B
atau dan seterusnya, r  1,2,3,....
(as  b) r
(as  bs  c) r
2

Dengan memperoleh transformasi Laplace invers tiap pecahan parcial maka dapat

 P( s ) 
ditentukan L1  
 Q( s ) 

Konstanta A, B, C, …… dapat diperoleh dengan menyelesaikan pecahan-pecahan dan


menyamakan pangkat yang sama dari kedua ruas persamaan yang diperoleh atau
dengan menggunakan metode khusus.

Contoh

 3s  16 
1. Tentukan L1  
s  s  6
2

Jawab

 3s  16  1  3s  16 
L1  2 L  
s  s  6  ( s  2)( s  3) 

3s  16 A B
 
( s  2)( s  3) s  2 s  3

A( s  3)  B( s  2)

s2  s  6

( A  B) s  (2 B  3 A)

s2  s  6
atau A+B = 3 dan 2B-3A = 16 atau 2(3-A)–3A=16 sehingga didapat

A = -2 dan B = 5

 3s  16  1   2 5 
L1  L   
 ( s  2)( s  3)   s  2 s  3

 2  1  5 
 L1   L  
s  4  s  3

 2e 4t  5e 3t

 s 1 
2. Tentukan L1  
 ( s  3)( s  2s  2) 
2

Jawab

 s 1  1  A Bs  C 
L1  L   2 
 ( s  3)( s  2s  2)   s  3 ( s  2s  2) 
2

A Bs  C A( s 2  2s  2)  ( Bs  C )( s  3)
 
s  3 s 2  2s  2 ( s  3)( s 2  2s  2)

As 2  2 As  2 A  Bs 2  (3B  C ) s  3C
`
( s  3)( s 2  2s  2)

Sehingga

 s 1   ( A  B) s 2  (2 A  3B  C ) s  (2 A  3C ) 
  
 ( s  3)( s  2s  2)   ( s  3)( s 2  2s  2)
2

Diperoleh A+B = 0, 2A+3B+C=1, 2A+3C=-1

4 4 1
Atau A =  , B = , dan C =
5 5 5
 4 4 1 
  s

Akhirnya diperoleh L1 
s  1  1  5  5 5  
L  
 ( s  3)( s  2s  2)   s  3 ( s  2 s  2) 
2 2


 

 4 4 1 
  s

L1  5  25 5    4 L1  1   4  ( s  1) 
    
 s  3 ( s  2s  2)  5  s  3  5  ( s  1) 2  1
 

4 4
  e 3t  e t cos t
5 5

2) Metode Deret
Jika f(s) mempunyai statu uraian dari kebalikan pangkat dari s yang diberikan oleh

ao a1 a2 a3
f ( s)      ...
s s2 s3 s4

Maka dibawah persyaratan-persyaratan yang sesuai kita dapat menginversi suku demi
suku untuk memperoleh

a 2 t 2 a3 t
F (t )  ao  a1t    ...
2! 3!

Contoh

  1s 
e 
Tentukan L1  
 s 
 

Jawab

  1s 
e  1  1 1 1 
   1    3  ...
 s  s  s 2! s 
2
3! s
 

1 1 1 1 
=     ...
s 
2 3 4
s 2! s 3! s
  12 s 
e  1  1 1 1 1 
Sehingga L1  L   2    ...
s s 
3 4
 s  2! s 3! s
 

t2 t3
 1 t   + ...
12 2 2 12 2 2 32

3) Metode persamaan diferensial


4) Turunan terhadap statu parameter
5) Aneka ragam metode yang menggunakan teorema-teorema
6) Penggunaan tabel
7) Rumus inversi kompleks

8) Rumus Penguraian Heaviside


Andaikan P(s) dan Q(s) adalah fungsi pangkat banyak (polinom) dan derajat P(s) lebih
kecil dari Q(s). Misal Q(s) mempunyai n akar-akar yang berbeda yaitu  k , k= 1, 2, 3, 4,

..., n. Maka

 P( s)  n P( k )  k t
L1   e
 Q( s)  k 1 Q' ( k )

Bukti rumus di atas diuraikan sebagai berikut:

Karena Q(s) adalah polinomial dengan n akar berbeda  1 ,  2 ,  3 , ... ,  n maka menurut

metode pecahan-pecahan parsial diperoleh

P( s ) A1 A2 Ak An
   ...   .....(1)
Q( s ) s   1 s   2 s k s n

Dengan mengalikan kedua ruas dengan (s-  k ) dan mengambil s   k dengan

menggunakan aturan L’Hospital diperoleh


P( s ) s k 
Ak  lim ( s   k )  lim P( s) 
s  k Q( s ) s  k
 Q( s ) 

s k 
 lim P( s) lim  
s  k s  k
 Q( s ) 

s k 
 P( k ). lim  
s  k
 Q( s ) 

1
 P( k ) ...
Q' ( s )

Sehingga (1) dapat ditulis sebagai

P(s) P(1 ) 1 P( 2 ) 1 P( k ) 1 P( n ) 1


 .  .  ...   .
Q(s) Q' (1 ) s  1 Q' ( 2 ) s   2 Q' ( k ) s   k Q' ( n ) s   n

dengan demikian

 P( s )  1  P( 1 ) 1 P( 2 ) 1 P( k ) 1 P( n ) 1 


L1  L  .  .  ...  .  ...  . 
 Q( s )   Q' ( 1 ) s   1 Q' ( 2 ) s   2 Q' ( k ) s   k Q' ( n ) s   n 

1  P(
 P( 1 ) 1  1  P( 2 1  1  1  P( n ) 1 
L1  .  L  .   ....  L 
k
.   ...  L  . 
 Q' ( 1 ) s   1   Q' ( 2 ) s   2   Q' ( k s   k   Q' ( n ) s   n 

P(1 ) 1t P( 2 )  2t P( k )  k t P( n )  nt


 .e  .e  ...  .e  ...  .e
Q' ( 1 ) Q' ( 2 ) Q' ( k ) Q' ( n )

n
P( k )  k t
 e
k 1 Q' ( k )

9) Fungsi Beta
Jika m>0 dan n>0 didefinisikan fungsi beta sebagai
1

u
m 1
B(m,n) = (1  n) n 1 du a dan kita dapat memperlihatkan sifat-sifat:
0

(m)(n)
1. B(m, n) 
 ( m  n)

2
1 (m)(n)
 sin  cos 2 m1  d 
2 m 1
2. B(m, n) 
0
2 2(m  n)

Soal-soal

1. Tentukan,

 12 
a. L1  
4  s 

 2s  5 
b. L1  
s  9
2

 3s  8 4s  24 
c. L1   2 
 s  4 s  16 
2

 
 3s  2
1 7 
d. L  5  
 s 2 3s  2 

 s 
e. L1  3
 (s  1) 

 3s  14 
f. L1  
 s  4s  8 
2

 8s  20 
g. L1  
 s  12s  32 
2

 s  1 
h. L1  
 s 3 2 
 5s  2 
i. L1  
 3s  4s  8 
2

 s 4 s  24 
j. L1   
 ( s  4)
5
s 2  16 

2

 s 1 
k. L1  2 
 ( s  2s  2) 
2

 1 
l. L1  
 ( s  4)( s  4) 
2

 1 
m. L1  3
 ( s  1) 
2

2. Buktikan bahwa:

 3s  16 
a. L1    5e  2e
2t  2t

s  s  6
2

 2s  1  3 t 1 t
b. L1    1 e  e
s  s
3
2 2

 s 1  1 t 2 1  2 t 3
c. L1   e  e
 6s  7 s  2  2
2
2


1 11s 2  2  5  3 t t
d. L    5e  e 2  2e
2t

 ( s  2)( 2s  1)( s  1)  2

 27  12s 
e. L1   4t
  3e  3 cos(3t )
 ( s  4)( s  9 
2

 s 2  16s  24  1
f. L1    sin( 4t )  cos(2t )  sin( 2t )
 s  20s  64  2
4 2
 s 1  1
  4 cos t  3 sin t   e
4 3t
g. L1 
 ( s  3)( s  2s  2)  5
2
5

3. Dengan menggunakan rumus penguraian Heaviside, tunjukkan bahwa

 2s  11 
a. L1  
 ( s  2)( s  3) 

 19s  27 
b. L1  
 ( s  2)( s  1)( s  3) 

 2s 2  6s  5 
c. L1  
 ( s  6s  11s  6 
3 2

 2s 2 
d. L1  
 ( s  1)( s  2)( s  3) 

6.7 Penggunaan pada Persamaan Diferensial


a) Persamaan Diferensial dengan Koefisien Konstan
Transformasi Laplace dapat digunakan untuk menentukan selesaian suatu persamaan
diferensial dengan koefisien konstan.

Misal ditentukan persamaan diferensial

d 2Y dY
p  qY  F ( x) atau Y ' ' pY ' qY  F ( x) dengan p,q adalah konstanta dan
dx dx
persamaan tersebut mempunyai syarat awal atau batas Y(0)=A dan Y’(0)=B, A dan B adalah
konstanta yang diberikan.

Selesaian persamaan diferensial yang diketahui dapat ditentukan dengan cara


melakukan transformasi Laplace pada masing-masing persamaan dan selanjutnya gunakan
syarat awal yang diberikan. Akibatnya diperoleh persamaan Aljabar LY ( x)  y(s) .
Selesaian yang diperlukan diperoleh dengan menggunakan transformasi Laplace invers
dari y(s). Cara ini dapat diperluas pada persamaan-pers amaan diferensial tingkat tinggi.

Contoh

Tentukan selesaian persamaan diferencial berikut.

1) Y ' 'Y  x dengan Y(0) = 0 dan Y’(0)=-2


Jawab

Dengan transformasi Laplace masing-masing bagian dari persamaan diferensial


diperoleh

L{Y "Y}  LY " LY   L{x}

Menurut sifat (5) transformasi Laplace

 
L F ( n) (t )  s n L{F (t )}  s n1 F (0)  s n2 F " (0)  ....  sF n2 (0)  F n1 (0) , sehingga

 {s 2 L{Y }  sY (0)  Y ' (0)}  L{Y }  L( x)

1
 ( s 2 y  s  2)  y 
s2

1
 ( s 2  1) y   ( s  2)
s2

1 s2
y  2
s ( s  1) s  1
2 2

1 1 s 2
=  2  2  2
s 2
s 1 s 1 s 1

1 s 3
=  2  2
s 2
s 1 s 1
Untuk menentukan selesaian, gunakan transformasi Laplace invers

1 s 3 
Y  L1  2  2  2 
s s  1 s  1

1  s  1  3 
 L1  2   L1  2  L  2 
s   s  1  s  1

 x  cos x  3sin x

Untuk pemeriksaan jawab di atas

Y  1  cos x  3sin x

Y '   sin x  3 cos x

Y ' '   cos x  3sin x

Y ' 'Y   cos x  3sin x  x  cos x  3sin x  x dan Y(0) = 1, Y’(0)=-2

2) Y ' '3Y '2Y  4e 2 x dengan Y(0) = -3 dan Y’(0)=5

Jawab

Dengan transformasi Laplace masing-masing bagian dari persamaan diferencial diperoleh

LY "3Y '2Y   L{4e 2x }

Menurut sifat (5) transformasi Laplace

 
L F ( n) (t )  s n f (s)  s n1 F (0)  s n2 F " (0)  ....  sF n2 (0)  F n1 (0) , sehingga

LY "3Y '2Y   L{4e 2x }

 {s 2 L{Y }  sY (0)  Y ' (0)}  3sL{Y }  Y (0)  2L{Y }  L(4e 2 x )

4
 {s 2 y  3s  5}  3{sy  3}  2 y 
s2
4
 ( s 2  3s  2) y   3s  14
s2

4 3s  14
 y  2
( s  3s  2)( s  2) s  3s  2
2

 3s 2  20s  24

( s  1)( s  2) 2

7 4 4
  
s  1 s  2 ( s  2) 2

Untuk menentukan selesaian, gunakan transformasi Laplace invers

 7 4 4 
Y  L1    2
 s  1 s  2 ( s  2) 

  7  1  4  1  4 
 L1   L   L  2
 s  1 s  2  ( s  2) 

 7e x  4e 2 x  4 xe2 x

b) Persamaan Diferensial dengan Koefisien Variabel


Transformasi Laplace juga dapat digunakan untuk menentukan selesaian persamaan
diferensial dengan koefien variable. Khususnya persamaan diferensial yang berbentuk

 
 
dm
 
x nY ( n) ( x) sehingga transformasi Laplace diperoleh L x mY ( n ) ( x)  (1) m m L Y ( n ) ( x) 
 ds 

Hal ini sesuai dengan sifat transformasi Laplace

dn
Jika L{F (t )}  f ( s ) maka L{t n F (t )}   1 f ( s)   1 f ( n ) ( s)
n
n
ds
Untuk jelasnya perhatikan beberapa contoh berikut

Tentukan selesaian persamaan diferensial

1) xY' '2Y ' xY  0 dengan Y(0) = 1 dan Y(  )= 0


Jawab

Dengan transformasi Laplace pada masing-masing bagian persamaan diperoleh:

LxY"2Y ' xY  L0

 LxY" L2Y ' LxY  0

 (1)1
d 2
ds
  d
s y  sY (0)  Y ' (0)  2( sy  Y (0))  (1)1 ( y )  0
ds

 1
ds

d 2
 d
s y  s  1  2( sy  1)  (1)1 ( y )  0
ds

 dy  dy
 2 sy  s 2  1  0  2( sy  1)  (1) 0
 ds  ds

 2sy  s 2 y'1  2sy  2  y'  0

 (s 2  1) y'  1

1
 y'  
( s  1)
2

1
Diperoleh y    (s 2
 1)
ds   arctan s  C


Karena y  0 bila s   kita dapatkan c  , sehingga
2

 1
y  arctan s  arctan
2 s

 1 sin t
Akhirnya didapat Y  L arctan   , hal ini memenuhi Y(  ) =0
 s t
2) Y ' 'xY'Y  1 , dengan Y(0) = 1 dan Y’(0) = 2
Jawab

Dengan transformasi Laplace pada masing-masing bagian persamaan diperoleh:

LY " xY 'Y   L


1

 LY " LxY' LY   L


1

 
 s 2 y  sY (0)  Y ' (0)  (1)1
d
ds
{sy  Y (0)}  y 
1
s


 s 2 y  s.1  2   d
ds
( sy  1)  y  0

 
 s 2 y  s  2  ( y  sy ' )  y ' 
1
s

1
 sy '( s 2  1) y  s  2 
s

Persamaan di atas merupakan persamaan difererensial liner tingkat satu derajat satu dan
dapat diubah menjadi:

 1 2 1
 y ' s   y  1   2
 s s s

 1
  s   ds 1 2
s  2 ln s
1 2
s
Faktor integral persamaan di atas adal e 
e 2
s e
2 2

d  2 2 s2   2 1
s2
 2 2
1
Maka  s e y   1   2 s e
ds   
 s s 

s s2
1 2 1
Sehingga y  e y  (1   2 ) s 2 e 2 ds
s s s
s2
1 2 c
  2  2 e2
s s s

Akhirnya diperoleh y  1  2t

Soal-soal

Tentukan selesaian persamaan diferensial berikut:

1) Y ' xY'Y  0 dengan Y(0) = 0 dan Y’(0) = 1


2) xY ' '(1  2 x)Y '2Y  0 dengan Y(0) = 1 dan Y’(0) = 2

3) xY ' '( x  1)Y 'Y  0 dengan Y(0) = 5 dan Y(  ) = 0

4) Y ' 'Y '4xY  0 dengan Y(0) = 3 dan Y’(0) = 0


5) Y”+4Y = 9x dengan Y(0)=0 dan Y’(0)=7
6) Y”-3Y’+2Y=4x+12e  x dengan Y(0) = 0 dan Y’(0)=-1

3.2 Persamaan Laplace satu Dimensi


3.4. Persamaan Laplece dalam TigaDimensi
3.5. Kondisi batas dan teorema keunikan
3.6. Pemisah Variabel

Bab 4 Multipole
4.1. Ekspansi Multipole dari Potensial Skalar
4.2. Monopole
4.3. Dipole
4.4. Quadrupole

Bab 5 Bahan Dielektrik


5.1. Pendahuluan
5.2. Polarisasi
5.3. Rapat Muatan Terikat
5.4. Hukum gauss dalam Dielektrik
5.5. Klasifikasi Dielektrik

Bab 6 Kemagnetan Dalam Bahan


6.1. Pendahuluan
6.2. Rapat Arus Magnetisasi
6.3. Medan Alternatif H
6.4. Supseptibilitas Magnet dan Permeabilitas
6.5. Ferromagnetik
Bab7 Magnetostatika
1. Karakteristik Magnet
Magnet ialah sejenis logam yang juga dikenali dengan nama besi berani. Bentuk magnet
ada beberapa macam seperti pada Gambar 1.
magnet batang magnet ladam atau U magnet jarum

Gambar 1. Jenis-jenis magnet

Magnet dapat diperoleh dengan cara buatan. Jika baja di gosok dengan sebuah magnet,
dan cara menggosoknya dalam arah yang tetap, maka baja itu akan menjadi magnet. Baja atau
besi dapat pula dimagneti oleh arus listrik. Baja atau besi itu dimasukkan ke dalam kumparan
kawat, kemudian kumparan kawat dialiri arus listrik yang searah seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Baja dalam kumparan yang dialiri arus listrik

Magnet selalu memiliki dua kutub, yaitu Utara dan Selatan. Dari kedua kutub tersebut
mengalir garis gaya magnet , yaitu dari kutub Utara ke kutub Selatan. Garis gaya magnet tersebut
merambat lewat udara di sekitar batang magnet. Pada magnet berbentuk batang, lintasan yang
harus dilalui oleh garis gaya magnet melalui udara relatif panjang, sehingga gaya magnet pada
magnet batang lebih lemah. Pada magnet berbentuk U, lintasan yang perlu dilalui oleh garis gaya
magnet di udara lebih pendek, maka gaya magnet berbentuk U lebih kuat. Garis gaya yang
keluar dan menuju kutub magnet pada setiap titik disekitar magnet berbeda kerapatannya setiap
satuan luas yang ditembus garis gaya tersebut. Kerapatan garis gaya ini disebut juga fluks
magnetik yang dirumuskan sebagai berikut :
φ = B A Cos q
Keterangan:
f = fluks magnetik (weber)
B = induksi magnetik (Weber/m2 atau maxwell/m2 atau Tesla (T))
A = luas bidang yang ditembus garis gaya magnetik (m2)
q = sudut antara arah garis normal bidang A dan arah B

2. Medan Magnet
a. Medan magnet di sekitar benda magnetik
Medan magnet merupakan area yang terpengaruh oleh suatu gaya magnet. Kerapatan
garis gaya magnet sangat dipengaruhi posisinya terhadap magnet. Makin dekat ke magnet, garis
gaya magnet semakin rapat. Ini berarti bahwa kekuatan magnet pada setiap titik pada dan
disekitar magnet tidaklah sama. Ini juga berarti bahwa pengaruh gaya tolak atau gaya tarik kutub
magnet pada titik-titik sekeliling kutub magnet tidak sama besarnya, makin jauh dari kutub
magnet makin berkurang pengaruh gaya itu. Besar gaya tolak atau gaya tarik kutub magnet
berbanding terbalik dengan jarak kuadrat dari kutub yang bersangkutan. Pada garis-garis medan
magnetik dapat kita lihat bahwa :
1. Garis-garis medan magnetik tidak pernah saling berpotongan.
2. Garis-garis medan magnetik selalu mengarah radial ke luar menjauhi kutub utara dan
mengarah radial ke dalam mendekati kutub selatan.
3. Tempat di mana garis-garis medan magnetik rapat menyatakan medan magnetik kuat,
sebaliknya tempat di mana garis-garis medan magnetik renggang menyatakan medan
magnetik lemah.
Adapun kuat/lemahnya medan magnet tersebut ditunjukkan oleh intensitas magnet (H) yang
dirumuskan sebagai berikut :
B = µo H
Keterangan :
B = induksi magnetik (Weber/m2 atau maxwell/m2 atau Tesla (T))
H = intensitas magnet (Am-1)
µo = permeabilitas = 4π x 10-7 Wb.A-1.m-1 (diletakkan di udara)

Contoh soal:
Berapakah induksi magnetik dari sebuah magnet yang diletakkan di udara dengan intensitas
magnet sebesar 0,1 Am-1.
Jawab :
B = 4π x 10-7 Wb.A-1m-1 x 0,1 A.m-1 = 12,56 x 10-8 Weber/m2.

b. Medan magnet karena arus listrik pada penghantar lurus


Hans Christian Oerstead menemukan adanya hubungan antara fenomena listrik dan
kemagnetan, menurutnya, perpindahan muatan listrik (arus listrik) akan menimbulkan medan
magnet di sekitarnya.

a b c
Gambar 3. Perubahan posisi magnet jarum karena adanya arus listrik

Gambar 3a menunjukkan bahwa magnet jarum yang diletakkan sejajar di sekitar kawat
tidak berarus listrik, posisi magnet tidak mengalami perubahan. Sedangkan pada Gambar 3b dan
3c menunjukkan bahwa sebuah magnet jarum yang ditempatkan di sekitar kawat berarus listrik
akan mengalami gaya yang menyimpangkan posisi magnet jarum dari poisi semula. Arah
penyimpangan posisi tersebut tergantung kepada arah arus listrik dalam penghantar.
Penyimpangan kutub-kutub magnet jarum terhadap kawat berarus listrik menunjukkan adanya
pengaruh timbal balik antara arus listrik dengan kutub magnet.
Medan magnet di sekitar penghantar berarus digambarkan dengan garis-garis gaya
magnet yang melingkari penghantar dengan pusat lingkaran pada setiap titik di sepanjang
penghantar tersebut. Pada Kaidah Tangan Kanan Fleming, diketahui bahwa garis gaya magnet
yang terbentuk tersebut memiliki arah tertentu. Bila kawat berarus listrik tersebut digenggam
dengan tangan kanan, dan ibu jari mengarah ke arah aliran arus, maka keempat jari lainnya
menunjukkan arah garis gaya magnet. Hal ini ditunjukkan pada gambar 4.
Gambar 4. Kaidah tangan kanan Fleming

Adapun besarnya induksi magnetik B di suatu titik yang berjarak r dari penghantar
sepanjang L dan ditimbulkan kuat arus I dapat dihitung dengan Hukum Biot Savart :
B = k I L sin θ
r2
keterangan :
B = induksi magnetik (Weber/m2 atau maxwell/m2 atau Tesla (T))
k = µo /4π = 10-7 Wb.A-1m-1
I = kuat arus (A)
L = panjang kawat (m)
θ = besarnya perubahan sudut
r = jarak (m)

Contoh soal :
Misalkan suatau kawat lurus dialiri arus sebesar 0,4 Ampere sepanjang 10 m. Tentukan besar
induksi magnetik di titik P yang berjarak 20 cm dari penghantar dengan kemiringan posisi titik
30°.
Jawab:

B = 10-7 Wb.A-1m-1.0,4 A. 10 m sin 30° = 10-7. 0,4. 10. ½ = 5 x 10-6 Wb/m2


(0,2 m)2 (0,2)2

Apabila kawat penghantar sangat panjang dan lurus yang terletak pada sumbu-x serta dialiri arus
listrik I, perhitungan besar medan induksinya adalah:
B = (µo I)
(2 π r)

Contoh soal :
Apabila kawat penghantar sangat panjang dan lurus yang terletak pada sumbu-x serta dialiri arus
listrik 0,2 A, tentukan besar medan induksinya yang berjarak 20 cm dari penghantar.
Jawab
B = 4π x 10-7 Wb.A-1.m-1. 0,2 A
4π. 0,2 m
= 10-7 Wb/m2

c. Medan magnet karena arus listrik pada penghantar berbentuk lingkaran


Sebuah kawat penghantar berbentuk lingkaran (jari-jari = r) dialiri arus I maka induksi
magnetik terjadi di pusat lingkaran dan pada setiap titik sepanjang sumbu yang melalui titik
pusat lingkaran seperti pada Gambar 5.

Gambar 5. Kawat penghantar berbenuk lingkaran


Kuat induksi magnetik pada pusat lingkaran O dari satu buah lilitan arus adalah
B = µo I
2a
Sedangkan untuk arus listrik yang mengalir pada lebih dari satu lilitan maka kuat induksi
magnetik di pusat lingkaran menjadi:
B = N µo I
2a
N = jumlah lilitan
Untuk induksi magnetik pada setiap titik pada sumbu yang menembus pusat lingkaran, misalnya
di titik P seperti ditunjukkan pada gambar, digunakan rumus:
B = µo I sin θ
2r2
Contoh soal :
Sepuluh buah lingkaran dengan jari-jari 40 cm disusun rapat sedemikian rupa sehingga memiliki
titik pusat yang relatif sama seperti pada Gambar 6. Pada lingkaran tersebut mengalir arus listrik
0,1 A.

Gambar 6. Lingkaran kawat berarus listrik

a) Berapa kuat induksi magnetik pada pusat lingkaran


b) Berapa kuat induksi magnetik di titik sumbu yang berjarak 30 cm dari pusat lingkaran.
Jawab:
a) B = 10 (4π × 10-7 ) × 10-1 : [2 × (4 × 10-2)2] = 125 × 10-6 Wb/m2
b) Dari gambar: Sin θ = a/r = 4/5
2r2 = 5.000 (rumus phitagoras)
Maka B = (4π × 10-7 × 10-1 × 4/5 ) : 5 × 103 = 0,64 × 10-10 Wb/m2

d. Medan magnet oleh solenoida dan toroida


Solenoida adalah kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat
rapat seperti pada gambar 7 sedangkan toroida adalah solenoida yang dilengkungkan sehingga
sumbunya berbentuk lingkaran seperti pada gambar 8.
Gambar 7. Solenoida Gambar 8. Toroida

Induksi magnetik di tengah solenoida dapat dihitung dengan menggunakan rumus :


Bo = µ I n = µ I (N/L)
Adapun Induksi magnetik di ujung solenoida dapat dihitung dengan menggunakan rumus
Bp = µ I (n/2) = µ I (N/2L) = Bo/2
Sedangkan Induksi magnetik di sumbu toroida dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Bo = µ I = µ I N / 2 π R
Keterangan :
µ = permeabilitas bahan solenoida
N = jumlah lilitan
L = 2 π R = panjang keliling lingkaran
n = jumlah lilitan per satuan panjang = N/L

3. Pengaruh Medan Magnet


a. Induksi Magnet
Sebuah medan magnet mampu memberi pengaruh (induksi) terhadap bahan magnet.
Jika sepotong besi lunak diletakkan pada batang magnet atau pada kutub magnet, maka besi
lunak itu akan ditarik oleh batang magnet atau oleh kutub magnet. Selama besi itu melekat atau
berdekatan dengan kutub magnet, maka ia akan menjadi magnet sementara. Magnet sementara
ini mempunyai kutub utara dan kutub selatan seperti magnet semula. Kutub utara magnet semula
berhadapan dengan kutub selatan magnet sementara, atau sebaliknya.

b. Pengaruh Medan Magnet Terhadap Muatan Bergerak


Sebuah partikel bermassa m bermuatan listrik q yang bergerak dengan kecepatan v di
dalam medan magnet dengan induksi magnetik B akan mengalami gaya dari medan magnet yang
mempengaruhi gerak muatan tersebut. Gaya tersebut dikenal dengan istilah Gaya Lorentz. Jadi
gaya yang terjadi (dialami) oleh benda bermuatan yang bergerak di dalam suatu medan magnet
disebut Gaya Lorentz yang dirumuskan sebagai berikut :
F = q v B sin θ
Keterangan :
F = besar gaya gaya Lorentz (N)
q = besar muatan (Colomb (C))
B = kuat induksi magnetik (Wb/m2)
θ = sudut yang dibentuk oleh arah gerak muatan dengan arah induksi magnetik
Bila θ = 90º (v ⊥ B) maka F = q v B. Karena F selalu tegak lurus terhadap v.
Apabila lintasan partikel bermuatan merupakan lingkaran dengan jari-jari R, maka rumusnya :
R = mv
q.B
keterangan :
R = panjang jari-jari (m)
m = massa partikel (kg)
dengan v = w R ω w = 2πf = 2π/T
Arah dari gaya magnetik ini, sesuai dengan aturan tangan kanan. Sebagaimana ditunjukkan pada
gambar 9.

Gambar 9. Aturan Tangan Kanan

Arah dari gaya magnetik F ini dapat diketahui melalui aturan tangan kanan tersebut, di mana
arah ibu jari menunjukkan arah gaya Lorenzt dan arah keempat jari yang lain menunjukkan arah
medan magnet B, sedangkan arah telunjuk menunjukkan arah kecepatan muatan v. Gaya ini
terjadi setiap saat pada setiap posisi muatan dalam medan magnet seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 10. Besar gaya Lorentz tergantung pada: besar muatan benda, kecepatan gerak muatan,
besar medan magnet, serta arah gerak muatan listrik terhadap arah medan magnet.
Gambar 10. Muatan dengan kecepatan v dalam sebuah medan magnet akan bergerak berpilin
(spiral) karena pengaruh gaya lorentz

c. Pengaruh Medan Magnet Terhadap Kawat Berarus


Melalui kawat lurus sepanjang yang terletak di sumbu-y mengalir arus listrik dengan kuat arus =
I. Bila kecepatan muatan-muatan positif adalah v dan jumlah muatan yang mengalir adalah q
selama waktu t, maka Gaya Lorentz F:
F = I B sin θ
I = q/t
keterangan :
t = waktu (detik)
Penentuan arah gaya Lorentz mengikuti kaidah tangan kanan. Jika keempat jari dikepalkan dari
arah v ke B atau dari arah I ke B. maka ibu jari menunjukkan arah gayanya seperti ditunjukkan
pada Gambar 11.

Gambar 11. Pengaruh medan magnet terhadap kawat berarus

Jika dua penghantar yang dialiri arus didekatkan paralel (sejajar), maka gaya Lorentz
menimbulkan interaksi antara kedua penghantar tersebut berupa gaya tarik menarik atau gaya
tolak-menolak. Bila I1 dan I2 berlawanan arah maka kedua kawat saling tolak sedangkan jika I1
dan I2 searah maka kedua kawat saling tarik seperti yang ditunjukkan pada Gambar 12.
Gambar 12. Gaya antar kawat lurus paralel

Adapun besar gaya persatuan panjang penghantar adalah:


F1 = F2 = µo I1 I2
2πd

Bab 8 Arus Listrik


8.1. Pendahuluan
8.2. Arus Garis Lurus
8.3. Divergensi dan Curl B
8.4. Penerapan Hukum Ampere
8.5. Perbandingan magnet Statis dan Listrik Statis
8.6. Vektor Potensial Magnetik
8.7. Soal Latihan

Daftar Pustaka
https://www.scribd.com/doc/79741123/Potensial-Listrik#download
https://www.scribd.com/document/253145769/Dipol-Listrik-Di-Dalam-Medan-Listrik