Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Syafei (1994) menyebutkan bahwa faktor-faktor lingkungan yaitu iklim, edafik
(tanah), topografi dan biotik antara satu dengan yang lain sangat berkaitan erat dan sangat
menentukan kehadiran suatu jenis tumbuhan di tempat tertentu, namun cukup sulit mencari
penyebab terjadinya kaitan yang erat tersebut. Korner (1999, dalam Dolezal dan Srutek,
2002) mengungkapkan bahwa persebaran suatu jenis tumbuhan secara tidak langsung
dipengaruhi oleh interaksi antara vegetasi dengan suhu, kelembaban udara, dan kondisi
topografi seperti ketinggian dan kedalaman tanah. Parikesit (1994), melaporkan bahwa pada
kondisi lingkungan tertentu, setiap jenis tumbuhan tersebar dengan tingkat adaptasi yang
beragam, sehingga menyebabkan hadir atau tidaknya suatu jenis tumbuhan pada lingkungan
tersebut. Menurut Resosoedarmo et al. (1985), teknik ordinasi dinilai cukup handal untuk
mengungkapkan hubungan antara persebaran jenis tumbuhan dengan faktor lingkungan.
Canonical Correspondence Analysis (CCA) adalah teknik ordinasi yang digunakan untuk
menentukan persebaran jenis tumbuhan berdasarkan variabel lingkungan ataupun respon
tumbuhan terhadap variabel lingkungan (Kent dan Coker, 1992; Kent dan Ballard, 1988; ter
Braak, 1987).
Tumbuhan sangat berguna bagi makhluk hidup, dengan adanya tumbuhan, kebutuhan
makhluk hidup secara tidak langsung dapat terpenuhi. Tumbuhan dalam tingkatan tropik
berperan sebagai produsen, karena mempunyai kemampuan untuk berfotosintesis
menghasilkan klorofil. Dari produsen, dapat menghasilkan zat hijau daum yang berguna bagi
konsumen, termasuk hewan dan manusia. Dalam pertumbuhannya tumbuhan terpenuhi oleh
beberapa faktor yang disebut faktor pembatas, faktor ini terdapat pada ekosistem lingkungan
dan habitat dimana makhluk hidup itu tinggal.
Oleh karena itu, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang hubungan antara
vegetasi dan faktor lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana kualitas cahaya yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi dan faktor
lingkungan?
2. Bagaimana intensitas cahaya yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi dan faktor
lingkungan?
3. Bagaimana titik kompensasi yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi dan faktor
lingkungan?
4. Bagaimana heliofita dan siofita yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi dan
faktor lingkungan?
5. Bagaimana cahaya optimal bagi tumbuhan yang mempengaruhi hubungan antar
vegetasi dan faktor lingkungan?
6. Bagaimana adaptasi tumbuhan terhadap cahaya?
7. Bagaimana lama penyinaran terhadap tumbuhan?
8. Bagaimana variasi suhu yang mempengaruhi tumbuhan?
9. Bagaimana hubungan suhu dengan tumbuhan?
10. Bagaimana hubungan suhu dengan produktivitas?
11. Apa itu thermoperiodis?
12. Bagaimana hubungan antara suhu dan dormansi terhadap tumbuhan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui kualitas cahaya yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi dan
faktor lingkungan
2. Untuk mengetahui Intensitas Cahaya yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi
dan faktor lingkungan
3. Untuk mengetahui Titik kompensasi yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi
dan faktor lingkungan
4. Untuk mengetahui Heliofita dan Siofita yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi
dan faktor lingkungan
5. Untuk mengetahui Cahaya Optimal Bagi Tumbuhan yang mempengaruhi hubungan
antar vegetasi dan faktor lingkungan
6. Untuk mengetahui adaptasi tumbuhan terhadap cahaya
7. Untuk mengetahui Lama Penyinaran Terhadap Tumbuhan
8. Untuk mengetahui Variasi Suhu Yang mempengaruhi Tumbuhan
9. Untuk mengetahui Hubungan Suhu dengan Tumbuhan
10. Untuk mengetahui Hubungan suhu dengan produktivitas
11. Untuk mengetahui termoperiodisme
12. Untuk mengetahui Hubungan antara Suhu dan Dormansi Terhadap Tumbuhan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kualitas Cahaya
Radiasi matahari secara fisika merupakan gelombang-gelombang elektromagnetik
dengan berbagai panjang gelombang. Tidak semua gelombang-gelombang tadi dapat
menembus lapisan atas atmosfer untuk mencapai permukaan bumi. Yang dapat mencapai
permukaan bumi adalah gelombang-gelombang dengan ukuran 0,8 sampai 10 mikron.
Gelombang yang dapat terlihat oleh mata berkisar antara 0,39 sampai 7,60 mikron,
sedangkan gelombang dibawah 0,39 merupakan gelombang pendek dikenal dengan
ultraviolet dan gelombang diatas 7,60 mikron merupakan radiasi gelombang panjang atau
infrared/merah-panjang. Umumnya kualitas cahaya tidak memperlihatkan perbedaan yang
mencolok antara satu tempat dengan tempat lainnya, sehingga tidak selalu merupakan faktor
ekologi yang penting. Meskipun demikian telah dipahami adanya respon kehidupan terhadap
berbagai panjang gelombang cahaya ini.

2.2 Intensitas cahaya


Intensitas cahaya atau kandungan energi merupakan aspek cahaya yang terpenting
sebagai faktor ingkungan, karena berperan sebagai tenaga pengendali utama dari ekosistem.
Intensitas cahaya ini sangat bervariasi baik dalam ruang/spesial maupun dalam
waktu/temporal. Radiasi matahari yang sampai dan menembus atmosfer bumi akan
terabsorbsi dan terrefleksi atau berhamburan oleh gas-gas dan partikel-partikel yang
dikandungnya.
Intensitas cahaya yang terbesar terjadi didaerah tropika, terutama daerah kering (zona
arid), sedikit cahaya derefleksikan oleh awan. Didaerah garis lintang rendah cahaya matahari
menembus atmosfer dan membentuk sudut yang besar dengan permukaan bumi, sehingga
lapisan atmosfer yang tertembus berada dalam ketebalan minimum . Intensitas cahaya
menurun secara cepat dengan naiknya garis lintang. Pada garis lintang yang tinggi matahari
berada pada sudut yang rendah terhadap permukaan bumi dan juga permukaan atmosfer,
dengan demikian sinar menembus lapisan atmosfer yang terpanjang, ini akan mengakibatkan
lebih banyak cahaya yang direfleksikan dan dihamburkan oleh lapisan awan dan pencemar di
atmosfer.
Perbedaan musim juga mempengaruhi intensitas cahaya di daerah dengan latituda
tinggi ini, intensitas pada musim panas jauh berbeda dengan intensitas cahaya pada musim
dingin.
Variasi intensitas cahaya dalam skala besar akan dimodifiksasikan lagi oleh faktor
topografi. Sudut dan arah kemiringan akan sangat berpengaruh terhadap jumlah cahaya yang
sampai di permukaan bumi atau ekosistem, hal ini akan lebih terasa untuk daerah-daerah di
garis lintang tinggi, sehingga dapat menghasilkan perbedaan struktur ekosistem.

2.3 Titik kompensasi


Dengan tujuan untuk mengasilkan produktivitas bersih, tumbuhan harus menerima
sejumlah cahaya yang cukup untuk membentuk karbohidrat yang memadai dalam
mengimbangi kehilangan sejumlah karbohidrat akibat repirasi. Apabila semua faktor-faktor
lainnya yang mempengaruhi laju fotosintesis (pembentukan karbohidrat) dapat mengimbangi
kehiangan karbohidrat akibat respirasi dikenal sebagai titik kompensasi. Titik ini
menggambarkan intensitas cahaya yang memadai untuk terjadinya fotosintesis, dan
merupakan intensitas cahaya minimum yang penting untuk pertumbuhan. Harga titik
kompensasi ini akan berlainan untuk setiap jenis tumbuhan.

2.4 Heliofita Dan Siofita


Tumbuhan yang beradaptasi untuk hidup pada tempat-tempat dengan intensitas
cahaya yang tinggi biasa disebut tumbuhan dengan intensitas cahaya yang tinggi biasa
disebut tumbuhan heliofita. Merupakan tumbuhan yang senang dengan cahaya yang tinggi
intensitasnya dan mempunyai titik kompensasi yang tinggi pula. Dalam tubuhnya mempunyai
sistem kimia yang aktif untuk membentuk karbohidrat dan juga membongkarnya dalam
respirasi.
Sebaliknya tumbuhan yang hidup baik dalam situasi jumlah cahaya yang rendah,
dengan titik kompensasi yang rendah pula, dikenal dengan tumbuhan senang keteduhan atau
siofita, metabolismenya lambat dan demikian juga proses respirasinya. Titik kompensasi
heiofita dapat mencapai setinggi 4.200 luks tetapi untuk tumbuhan yang hidup di tempat
teduh (siofita) titik kompensasinya bisa serendah 27 luks. Bahkan ganggang yang hidup
dalam perairan dalam dan ganggang serta lumut yang hidup dalam gua-gua dapat tumbuh
dengan intensitas cahaya yang lebih lemah sampai tidak melebihi cahaya bulan.
Beberapa jenis tumbuhan mempunyai karakteristika siofita ketika masih muda, yang
kemudian berkembang karakteristika heliofita apabila telah dewasa. Hal ini biasanya terjadi
pada pohon-pohon dengan anaknya yang harus tahan hidup di bawah peneduhan.
Pada dasarnya kaitan antara besar penyinaran dengan laju fotosintesis merupakan
pangkal dari perbedaan helofilia dengan siofita ini. Dalam hal ini peranan pembentukan
pigmen hijau serta klorofil sangat erat kaitannya dengan intensitas cahaya tadi. Pada tempet-
tempat dengan penyinaran yang penuh, cahaya berkecendrungan untuk merusak atau
menghancurkan klorofi ini. Dengan demikian kemampuan yang tinggi dalam pembentukan
klorofil ini adalah mutlak diperlukan bagi tumbuhan yang hidup di tempat terbuka.
Apabila tumbuhan tidak mampu menghasilkan klorofil untuk mengimbangi klorofil
inilah yang membedakan antara heliofita dengan siofita. Heliofita berkemampuan yang tinggi
dalam pembentukan klorofilnya sehingga dapat tahan ditempat yang terbuka, dan sebaiknya
siofita akan lebih efektif bila berada dibawah naungan dan akan gagal apabila berada pada
daerah terbuka.

2.5 Cahaya Optimal Bagi Tumbuhan


Proses pertumbuhan dari tumbuhan membutuhkan hasil fotosintesis yang melebihi
kebutuhan respirasi. Jadi kebutuhan minimum cahaya untuk proses pertumbuhan ini baru
terpenuhi apabila cahaya melebihi titik kompensasinya . bagi umumnya tumbuhan intensitas
cahaya optimum untuk fotosintesis haruslah lebih keci dari intensitas cahaya matahari penuh
apabila ditinjau dari sudut kebutuhan daun secara individual. Meskipun demikian bila suatu
tumbuhan besar hidup pada cahaya yang penuh sebagian besar dedaunannya tidak dapat
menerima cukup cahaya matahari untuk fotosintesis secara maksimal akibat akan tertutup
dedaunan di permukaan kanopinya. Dengan demikian cahaya matahari penuh akan
menguntungkan bagi daun-daun di dalam kanopi untuk mencapai efektifitas fotosintesis
secara total bagi tumbuhan untuk mengimbangi kekurangan dari daun-daun yang berada
dalam cahaya supra-optimal.
Intensitas cahaya optimum bagi tumbuhan yang hidup dihabitat alami janganlah
diartikan betul-betul cahaya optimal untuk fotosintesis. Pada umumnya cahaya matahari itu
terlalu kuat atau terlalu lemah bagi organ-organ fotosintesis. Optimum haruslah diartikan
bahwa kombinasi tertentu dari faktor-faktor lingkungan lainnya, ingat konsep holosinotik,
akan memberikan pengaruh bersih dari kondisi cahaya dalam suatu perioda tertentu lebih
baik untuk proses fotosintesis dibandingkan dengan keadaan lainnya.
2.6 Adaptasi Tumbuhan Terhadap Cahaya
Beberapa tumbuhan mempunyai karakteristik yang dianggap sebagai adaptasinya
dalam mereduksi keusakan akibat cahaya yang teralu kuat atau supra-optimal. Dedaunan
yang mendapat cahaya dengan intensitas yang tinggi kloropast berbentuk cakram, posisinya
sedemikian rupa sehingga cahaya yang diterima hanya oleh dinding vertikalnya. Bahkan pada
beberapa jenis tertentu letak daun secara keseluruhan sering tidak berada dalam keadaan
horizontal, hal ini untuk mengindar dari arah cahaya yang tegak lurus pada permukaan daun
dan ini berarti mengurangi kuat cahaya yang masuk. Berkurangnya kadar klorofi pada
intensitas cahaya yang tinggi mengandung aspek yang menguntungkan , cahaya yang diserap
atau diabsorpsi akan mempertinggi energi yang diubah menjadi panas akibat efisiensi
ekologi yang rendah. Hal ini akan tidak saja mempengaruhi keseimbangan air tetapi juga
akan mengganggu keseimbangan fotosintesis dengan respirasi dalam tumbuhan.
Telah banyak dipelajari bahwa umumnya tumbuhan tropika intensitas cahaya yang
diterima mempunyai hubungan langsung dengan kadar anthocyanin. Pigmen ini yang
biasanya terletak pada lapisan permukaan dari sel berperan sebagai pemantul cahaya
sehingga menghambat atau mengurangi penembusan cahaya ke jaringan yang berkadar
panas. Dengan dipantukannya cahaya merah ini maka akan mereduksi kemungkinan
kerusakan-kerusakan sel sebagai akibat pemanasan. Ternyata suhu dibawah lapisan berwarna
merah dari suatu buah mempunyai suhu lebih rendah jika dibandingkan dengan bagian
lainnya yang berwarna hijau.
Beberapa ganggang yang bebas bergerak akan menghindar dari cahaya yang terlalu
kuat dengan jalan pergerakan secara vertikal, bermigrasi ke kedalaman air.

2.7 Lama Penyinaran


Lamanya penyinaran relatif antara siang dan malam dalam 24 jam akan
mempengaruhi fungsi dari tumbuhan secara luas jawaban dari organisme hidup terhadap
lamanya siang hari dikenal dengan fotoperiodisma. Dalam pertumbuhan jawaban/ respon ini
meliputi perbungaan, jatuhnya daun dan dormansi. Didaerah sepanjang khatulistiwa lamanya
siang hari atau fotoperioda akan konstan sepanjang tahun, sekitar 12 jam. Didaerah
temperata/ bermusim panjang hari lebih dari 12 jam pada musim panas, tetapi akan kurang
dari 12 jam pada musim panas, tetapi akan kurang dari 12 jam pada musim dingin. Perbedaan
yang terpanjang antara siang dan malam akan terjadi didaerah dengan garis lintang tinggi.
Berdasarkan respon ini, tumbuhan berbunga dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok
besar, yaitu:
1. Tumbuhan berkala panjang, yaitu tumbuhan yang memerlukan lamanya siang lebih
dari 12 jam untuk terjadinya proses perbungaan. Berbagai tumbuhan temperate
termasuk pada kelompok ini seperti macam-macam gandum(wheat dan barley) dan
bayam.
2. Tumbuhan berkala pendek, kelompok tumbuhan yang memerlukanlamanya siang
lebih pendek dari 12 jam untuk terjadinya proses perbungaan, dalam kelompok ini
termasuk tembakau dan bunga krisan.
3. Tumbuhan berhari netral, yaitu tumbuhan yang tidak memerlukan perioda panjang
hari tertentu untuk proses perbungaannya misal tomat dan dandelion.
Reaksi tumbuhan berskala panjang dan berskala pendek membatasi penyebarannya
secara latitudinal sesuai dengan kondisi fotoperioda. Apabila beberapa tumbuhan terpaksa
hidup ditempat yang kondisi fotoperiodanya tidak optimal, maka pertumbuhannya akan
bergeser pada pertumbuhan vegetatif. Misalnya bawang merah, tumbuhan berkala pendek
akan menghasilkan bulbus/ umbi lapisnya yang besar apabila ditumbuhkan didaerah
fotoperioda yang panjaang, hal ini memberikan arti ekonomi tertentu dan banya dilakukan
oleh pakar hortikultura. Didaerah khatulistiwa tingkah laku tumbuhan sehubungan dengan
fotoperioda ini tidaklah menunjukkan adanya pengaruh yang mencolok. Tumbuhan akan
tetap aktif dan berbunga disepanjang tahun asalkan faktor-faktor lainnya, dalam hal ini suhu,
air, dan nutrisi, tidak merupakan faktor pembatas.
2.8 Variasi Suhu
Sangat sedikit tempat-tempat dipermukaan bumi secara terus menerus berada dalam
kondisi terlalu panas atau dingin untuk sistem kehidupan, suhu biasanya mempunyai variasi
baik secara ruang maupun secara waktu. Variasi suhu ini berkaitan dengan garis lintang, dan
sejalan dengan ini juga terjadi variasi lokal berdasarkan topografi dan jarak dari laut.
Terjadi juga variasi dari suhu ini dalam ekosistem, misalnya dalam hutan dan
ekosistem perairan. Perbedaan yang nyata antara suhu pada permukaan kanopi hutan dengan
suhu dibagian dasar hutan akan terlihat dengan jelas. Demikian juga oerbedaan suhu dibagian
dasar hutan akan terlihat dengan jelas. Demikian juga perbedan suhu berdasarkan kedalaman
air. Seperti halnya dengan faktor cahaya, letak dari sumber panas(matahari), bersama samaa
dengan berputarnya bumi pada porosnya akan menimbulkan variasi suhu dialam tempat
tumbuhan hidup.
Jumlah panas yang diterima bumi juga berubah-ubah setiap saat tergantung pada
lintasan awan, bayangan timbul setiap hari, setiap musim setiap tahun dan gejala geologi.
Begitu matahari terbit pagi hari, permukaan bumi memperoleh lebih banyak panas
dibandingkan dengan yang hilang karena reradiasi panas bumi, dengan demikian suhu akan
naik dengan cepat. Setelah beberapa jam tercapai suhu yang tinggi sekitar setengah hari.
Setelah lewat petang mulailah terjadi penurunan suhu muka bumi ini akibat reradiasi yang
lebih besar dibandingkan dengan radiasi yang diterima. Pada malam hari penurunan suhu
muka bumi akan bertambah lagi, panas yang diterima penurunan suhu muka bumi akan
bertambah lagi, panas yang diterima melalui radiasi dari matahari tidak ada, sedangkan
radiasi berjalan terus, akibat ada kemungkinan suhu permukaan bumi lebih rendah dari suhu
udara disekitarnya. Proses ini akan menimbulkan fluktuasi suhu harian dan fluktuasi suhu
yang paling tinggi akan terjadi didaerah antara ombak, ditepi pantai.
Berbagai karakteristik muka bumi penyebab variasi suhu:
1. Komposisi dan warna tanah, makin terang warna tanah makin banyak panas yang
dipantulkan, makin gelap warna tanah makin banyak panas diserap.
2. Kegemburan dan kadar air tanah, tanah yang gembur lebih cepat memberikan
respon pada pancaran panas dari pada tanah yang padat, terutama erat kaitannya
dengan penembusan dan kadar air tanah, makin basah tanah makin lambat suhu
berubah.
3. Kerimbunan tumbuhan,pada situasi dimana udara mampu bergerak dengan bebas
maka tidak ada perbedaan suhu antara tempat terbuka dengan tempat tertutup
vegetasi. Tetapi kalau ingin tidak menghembus keadaan sangat berlainan, dengan
kerimbunan yang rendah sudah mampu mereduksi pemanasan tanah oleh pemancaran
sinar matahari. Ditambah lagi kelembapan udara dibawah rimbunan tumbuhan akan
menambah banyaknya panas yang dipakai untuk pemanasan uap air, akibatnya akan
menaikan suhu udara. Pada malam hari panas yang dipancarkan kembali oleh tanah
akan tertahan oleh lapisan kanopi. Dengan demikian fluktusi suhu dalam hutan sering
jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan fluktuasi suhu ditempat terbuka/tidak
bervegetasi.
4. Iklim mikro perkotaan, perkembangan suatu kota menunjukan adanya pengaruh
terhadap iklim mikro. Asap dan gas yang terdapat diudara kota sering mereduksi
radiasil. Partikel-partikel debu yang melayang diudarah merupakan inti dari uap air
dalam proses kondensasinya, uap air inilah yang bersifat aktif dalam mengurangi
pengaruh radiasi matahari.
2.8 Suhu Dan Tumbuhan
Kehidupan dimuka bumi berada dalam suatu batas kisaran 0̊ c sampai 30̊ c, dalam
kisaran suhu ini individu tumbuhan mempunyai suhu minimum, maksimum, dan optimum
yang diperlikan untuk aktivitas metabolismenya. Suhu-suhu tadi yang diperlukan organisme
hidup dikenal dengan suhu kardinal.
Suhu tumbuhan biasanya kurang lebih sama dengan suhu sekitarnya karena adanya
pertukaran suhu yang terus menerus antara tumbuhan dengan udara sekitarnya. Kisaran
toleransi suhu bagi tumbuhan sangat bervarisi, untuk tanaman ditropika, semangka, tidak
dapat mentoleransi suhu dibawah 15̊ c - 18̊ c. Sebaliknya konifer didaerah temperata masih
bisa mentoleransi suhu sampai serendah minus 30̊ c. Tumbuhan air umumnya mempunyai
kisaran toleransi suhu yang lebih sempit jika dibandingkan dengan tumbuhan didaratan.
Secara garis besar semua tumbuhan mempunyai kisaran toleransi terhadap suhu yang berbeda
tergantung pada umur, keseimbangan air dan juga keadaan musim.

2.9 Suhu Dan Produktivitas


Laju respirasi dan fotositesis dari tumbuhan haruslah terjadi sedemikian rupa sehingga
terdapat produktivitas bersil untuk tumbuhan umumnya suhu optimum untuk respirasi lebih
tinggi dari suhu optimum untuk fotosintesis. Diatas suhu tertentu respirasi akan melebihi
fotosintesis, maka akan terjadi kelaparan bagi tumbuhan tersebut. Hal inilah yang berperan
dalam membatasi penyebaran tumbuhan dari daerah dingin ke daerah hangat.

2.10 Termoperiodisma
Merupakan jawaban dari tumbuhan terhadap fluktuasi suhu yang bersifat ritnik. Hal
ini dapat terjadi baik secara musim atau harian. Tumbuhan yang biasanya hidup pada tempat-
tempat dengan suhu yang berfluktuasi berkecenderungan akan mengalami gangguan apabila
ditumbuhkan pada tempat dengan suhu yang konstan. Kebanyakan tumbuhan akan tumbuh
baik bila suhu lingkungan berubah-ubah. Misalnya tomat mempunyai laju pertumbuhan
optimum bila berada pada tempat dengan suhu siang 25̊c dan suhu malam sekitar 10̊c.
Fluktus suhu ini menghasilkan keseimbangan optimum antara respirasi dan fotosintesis.
Beberapa jenis tumbuhan fluktuasi teratur diperlukan untuk perkecambahan.
Thermoperiodisme membatasi penyebaran baik berdasarkan garis lintang maupun ketinggian
tempat.
2.11 Suhu Dan Dormansi
Dormansi tidak saja terjadi pada tumbuhan yang hidup pada tumbuhan yang hidup
didaerah beriklim hangat. Tumbuhan ditropika sering mempunyai fasa dorman yang tidak ada
kaitannya dengan suhu. Diperkirakan bahwa fenomena ini telah memungkinkan nenek
moyang pohon-pohon temperata berasal dari bermigrasinya dari tropika ketemperata.
Sebagai gejala umum dormansi diinduksikan dalam tumbuhan ditemperatur sebagai
jawaban terhadap fotoperioda. Tetapi fasa dorman dari tumbuhan akan dipecahkan oleh suhu
yang dingin, gejala ini disebut vernalisasi. Bila tidak cukup suhu dingin untuk memecahkan
masa dorman maka tumbuhan tidak mampu untuk hidup lagi. Kebanyakan pohon dan perdu
didaerah inggris, misalnya memerlukan antara 200 sampai 300 jam dibawah suhu 9 ̊ c untuk
memecahkan masa dorman itu. Vernalisasi dimanfaatkan dalam hortrikultra untuk
mempercepat siklus hidup untuk tujuan penyilangan. Tanaman bianual seperti beet dan
seledri menghasilkan daum dan umbi dalam musim tumbuh pertama dan berbunga pada
musim tumbuh kedua. Dengan memanfaatkan suhu dingin buatan siklus hidup akan terjadi
secara lengkap hanya dalam satu tahun.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahwa yang mempengaruhi hubungan antar vegetasi dan faktor lingkungan, yaitu 1)
kualitas cahaya, dimana Umumnya kualitas cahaya tidak memperlihatkan perbedaan yang
mencolok antara satu tempat dengan tempat lainnya, sehingga tidak selalu merupakan faktor
ekologi yang penting. Meskipun demikian telah dipahami adanya respon kehidupan terhadap
berbagai panjang gelombang cahaya ini. 2) Intensitas Cahaya, dimana Intensitas cahaya atau
kandungan energi merupakan aspek cahaya yang terpenting sebagai faktor ingkungan, karena
berperan sebagai tenaga pengendali utama dari ekosistem. 3) Titik Kompensasi, dimana Titik
ini menggambarkan intensitas cahaya yang memadai untuk terjadinya fotosintesis, dan
merupakan intensitas cahaya minimum yang penting untuk pertumbuhan. 4) Heliofita dan
Siofita, dimana Heliofita berkemampuan yang tinggi dalam pembentukan klorofilnya
sehingga dapat tahan ditempat yang terbuka, dan sebaiknya siofita akan lebih efektif bila
berada dibawah naungan dan akan gagal apabila berada pada daerah terbuka. 5) Cahaya
Optimal Bagi Tumbuhan, dimana Intensitas cahaya optimum bagi tumbuhan yang hidup
dihabitat alami janganlah diartikan betul-betul cahaya optimal untuk fotosintesis. Pada
umumnya cahaya matahari itu terlalu kuat atau terlalu lemah bagi organ-organ fotosintesis. 6)
Adaptasi tumbuhan terhadap cahaya, dimana Telah banyak dipelajari bahwa umumnya
tumbuhan tropika intensitas cahaya yang diterima mempunyai hubungan langsung dengan
kadar anthocyanin. Pigmen ini yang biasanya terletak pada lapisan permukaan dari sel
berperan sebagai pemantul cahaya sehingga menghambat atau mengurangi penembusan
cahaya ke jaringan yang berkadar panas. 7) Lama Penyinaran, dimana Lamanya penyinaran
relatif antara siang dan malam dalam 24 jam akan mempengaruhi fungsi dari tumbuhan
secara luas jawaban dari organisme hidup terhadap lamanya siang hari dikenal dengan
fotoperiodisma. 8) Variasi Suhu, dimana variasi dari suhu ini dalam ekosistem, misalnya
dalam hutan dan ekosistem perairan. Perbedaan yang nyata antara suhu pada permukaan
kanopi hutan dengan suhu dibagian dasar hutan akan terlihat dengan jelas. 9) Suhu dan
Tumbuhan, dimana: Kehidupan dimuka bumi berada dalam suatu batas kisaran 0̊ c sampai 30̊
c, dalam kisaran suhu ini individu tumbuhan mempunyai suhu minimum, maksimum, dan
optimum yang diperlikan untuk aktivitas metabolismenya. Suhu-suhu tadi yang diperlukan
organisme hidup dikenal dengan suhu kardinal. 10) Suhu dan Produktivitas, dimana Laju
respirasi dan fotositesis dari tumbuhan haruslah terjadi sedemikian rupa sehingga terdapat
produktivitas bersil untuk tumbuhan umumnya suhu optimum untuk respirasi lebih tinggi dari
suhu optimum untuk fotosintesis. 11) Thermoperiodis, dimana Thermoperiodisme membatasi
penyebaran baik berdasarkan garis lintang maupun ketinggian tempat. 12) suhu dan
dormansi, dimana Dormansi tidak saja terjadi pada tumbuhan yang hidup pada tumbuhan
yang hidup didaerah beriklim hangat. Tumbuhan ditropika sering mempunyai fasa dorman
yang tidak ada kaitannya dengan suhu. Diperkirakan bahwa fenomena ini telah
memungkinkan nenek moyang pohon-pohon temperata berasal dari bermigrasinya dari
tropika ketemperata.

3.2 Saran
Semoga para pembaca bisa memberikan kritikan dan saran dalam isi makalah ini, dimana
untuk makalah ini bisa sempurna.