Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan – FALTL – Universitas Trisakti


Gasal 2017/2018

KELOMPOK 4
1. Bunga Faradhani (082001500014)
2. Dzak Hamzah (082001500020)

Asisten Mahasiswa: Corry Valentina

KEBISINGAN LALU LINTAS

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Meningkatnya mobilitas orang memerlukan sarana dan prasarana transportasi
yang memadai, aman, nyaman dan terjangkau bagi masyarakat. Peningkatan
pendapatan membuat masyarakat mampu untuk membeli kendaraan seperti
sepeda motor maupun mobil sebagai sarana transportasi pribadi. Peningkatan
perekonomian daerah juga menyebabkan kebutuhan akan sarana transportasi lain
seperti bus dan truk meningkat. Akibatnya, semakin hari jumlah arus lalu lintas
dan jenis kendaraan yang menggunakan ruas-ruas jalan semakin bertambah. Hal
ini menimbulkan masalah di bidang transportasi, salah satunya adalah masalah
polusi suara (kebisingan) yang ditimbulkan oleh lalu lintas terhadap lingkungan
sekitarnya, yang salah satunya adalah kawasan pendidikan.
Kebisingan didefenisikan sebagai suara yang tidak dikehendaki. Untuk
menentukan kebisingan suara berdasarkan aspek seperti kenyaringan, waktu dan
dasar bising. Pedoman prediksi Kebisingan Akibat Lalu Lintas memuat prosedur
penghitungan tingkat kebisingan di ruas jalan perkotaan dan antar kota yang
diakibatkan oleh lalu lintas dengan menggunakan model prediksi Calculation of
Road Traffic Noise (CoRTN) serta ketentuan-ketentuan umum maupun teknis
berkaitan dengan pengukuran dan penghitungan parameter berpengaruh,
penyajian hasil dan penilaian dampak kebisingan dari variabel-variabel
berpengaruh dalam model prediksi kebisingan.
Intensitas kebisingan yang berada di lingkungan lalu lintas dapat diukur
menggunakan alat Sound Level Meter (SLM) dengan cara menangkap perubahan
tekanan udara yang terjadi akibat adanya benda bergetar. Oleh karena itu,
dilakukan suatu uji tingkat kebisingan lalu lintas di sekitar Jalan S.Parman,
kampus A Universitas Trisakti.

1.2 Tujuan Percobaan


Untuk mengukur tingkat kebisingan lalu lintas berdasarkan jenis kendaraan
yang terjadi di sekitar jalan raya S.Parman, kampus A Universitas Trisakti,
dengan menggunakan alat Sound Level Meter (SLM).

II. TINJAUAN PUSTAKA


Bunyi adalah rangsangan yang diterima oleh telinga karena getaran media
elastis. Sifat bunyi ditentukan oleh frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi bunyi
adalah jumlah gelombang bunyi yang lengkap yang diterima oleh telinga setiap
detik. Bising (noise) adalah bunyi yang ditimbulkan oleh gelombang suara
dengan intensitas dan frekuensi yang tidak menentu. Suara dengan tingkat
kebisingan tinggi dan nada tinggi sangat mengganggu, terlebih lagi bila
datangnya secara terputus-putus dan tiba-tiba.
Kebisingan adalah bentuk suara yang tidak diinginkan atau bentuk suara
yang tidak sesuai dengan tempat dan waktunya (Siswanto,2002). Suara tersebut
tidak diinginkan karena mengganggu pembicaraan dan telinga manusia, yang
dapat merusak pendengaran atau kenyamanan manusia, kebisingan adalah bunyi
yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konsep ruang dan waktu
sehingga menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia.
Sumber kebisingan dibedakan bentuknya atas dua jenis sumber yaitu
sumber titik (berasal dari sumber diam) dan sumber garis (berasal dari sumber
bergerak) yang umumnya berasal dari kegiatan transportasi. Reaksi orang
terhadap kebisingan tergantung beberapa faktor seperti kenyaringan, lama
frekuensi dan interaksi kebisingan dengan sumber bising lain, karena kebisingan
tidak hanya tergantung pada besaran fisik saja tetapi juga melibatkan faktor
lingkungan (Siswanto, 2002). Sumber kebisingan di daerah perkotaan
diantaranya berasal dari mesin pabrik, peralatan kantor, peralatan rumah tangga
dan dari sektor transportasi.
Bunyi diukur dengan satuan yang disebut desibel. Dalam hal ini mengukur
besarnya tekanan udara yang ditimbulkan oleh gelombang bunyi. Tingkat
kebisingan lalu lintas dinyatakan dengan satuan desibel (dB). Kebisingan lalu
lintas dapat diukur dengan alat yang disebut Sound Level Meter (Harris,1979).
Parameter lalu lintas yang berkaitan dengan analisa tingkat kebisingan
adalah: volume lalu lintas dan kecepatan. Volume lalu lintas adalah satuan
pengukur jumlah arus lalu lintas yang ditunjukkan oleh jumlah kendaraan yang
melewati suatu titik pengamatan dalam satu satuan waktu baik dalam hari, jam,
dan menit (Sukirman, 1999). Volume lalu lintas (Q) sangat berpengaruh terhadap
kebisingan lalu lintas mengingat bahwa tingkat kebisingan lalu lintas merupakan
harga total dari beberapa tingkat kebisingan dari masing-masing jenis kendaraan
atau akan membentuk fungsi linear terhadap tingkat kebisingan pada saat
kecepatan kendaraan bermotor 55 km/jam (Malkhamah,1992).
Menurut Morlok (1995) peningkatan kecepatan lalu lintas dan peningkatan
arus kendaraan sangat mempengaruhi tingkat kebisingan. Sumber dari suatu
kendaraan yang menimbulkan kebisingan pada umumnya berasal dari getaran
mesin, saluran pemasukan udara ke mesin, saluran pembuangan gas hasil 6
pembakaran (exhaust), transmisi, gesekan roda dengan permukaan jalan, rem,
faktor aerodinamis dan muatan.
Pada bising jalan raya atau lalu lintas bunyi yang dihasilkan cenderung tidak
konstan tergantung dari intensitas kendaraan yang lewat. Semakin lama
kebisingan lalu lintas ini semakin bertambah seiring dengan bertambahnya
jumlah kendaraan yang melintas. Secara garis besar strategi pengendalian bising
dibagi menjadi tiga elemen :
 Pengendalian terhadap sumber suara
Salah satu cara yang tepat untuk mengatasi bising adalah dengan
mengendalikan sumber bising itu sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan
membatasi modifikasi kendaraan bermotor yang dapat berpotensi
menimbulkan kebisingan.
 Pengendalian terhadap jalur bising
Pengendalian bising ini juga dapat dilakukan dengan memblokir jalur bising
sehingga bising tidak sampai pada pendengar. Pemblokiran jalur bising ini bisa
dilakukan dengan menggunakan barrier seperti dengan membuat penghalang
hidup/ pepohonan.
 Pengendalian terhadap penerima bising
Salah satu hal yang paling penting adalah mengendalikan penerima bising itu
sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan cara perencanaan yang baik terhadap tata
guna lahan.
Kebisingan dapat berpengaruh pendengaran manusia bising dapat
menyebabkan kenaikan batas ambang pendengaran yang dapat menyebabkan
penurunan daya pendengaran manusia. Serta dapat menyebabkan gangguan
kesehatan pada manusia seperti pusing, mual, dan tegang apabila intensitas bising
sudah lebih dari 130 dB.
Menurut Siswanto (2002) selain menyebabkan ketulian, kebisingan sering
menimbulkan beberapa gangguan seperti : gangguan percakapan, tidur,
pelaksanaan tugas, perasaan, dan fatal tubuh. Gangguan percakapaan terjadi jika
seseorang berbicara di suatu ruang bising, maka suara orang tersebut sulit
ditangkap atau dimengerti oleh pendengarnya, sehingga harus berteriak atau
mendekat terhadap lawan bicaranya. Hasil penelitian menyatakan bahwa
seseorang mengalami ganguan tidur jika prosentase seseorang terbangun dari
tidurnya adalah 5 % pada tingkat intensitas suara 40 dB(A) dan meningkat sampai
30 % pada 70 dB(A). Pada tingkat intensitas suara yakni 100 sampai 120 dB(A),
hampir setiap orang akan terbangun dari tidurnya (Siswanto,2002).

III. ALAT DAN BAHAN


3.1 Alat
Tabel 3.1 Alat-Alat Pegukuran Kebisingan Lalu Lintas
No Nama Alat Keterangan
1 Sound Level Meter

2 Anemometer
No Nama Alat Keterangan
3 Stopwatch

4 Hygrometer

5 Barometer

6 Counter
IV. CARA KERJA

Kalibrasikan alat
Sound Level Meter
Lakukan sampling Tentukan jarak titik
menggunakan
pada titik yang telah pengukuran dengan
Sound Level
ditentukan. posisi 25 m.
Calibrator dalam 94
dB

Ukur data
Ukur selama 10 Nyalakan alat
meteorogi:
menit dengan Sound Level Meter
kelembaban dan
pembacaan setiap 5 dan stopwatch
kecepatan angin
detik dan alat data. secara bersamaan.
yang mempengaruhi.

Hitung kendaraan Lakukan


Catat hasil hitungan
bermotor yang perhitungan setiap
counter yang telah
melintasi titik lokasi 10 menit dalam
didapatkan pada
yang telah waktu 1 jam, maka
tingkat kebisingan
ditetapkan dengan dapat mengetahui
setiap kendaraan
menggunakan kecepatan setiap
yang mewakili.
counter. kendaraan bermotor.
V. HASIL PENGAMATAN
5.1 Lokasi Penelitian
Lokasi : Kampus A Universitas Trisakti
Titik Sampling : Jl. S. Parman
Titik Koordinat : 6̊ 10’ 4,4625’’ S 106̊ 47’ 22,5168” E
Hari/tanggal : Selasa, 14 November 2017
Waktu Pengukuran : Pkl. 10.00 WIB s.d. 11.00
Jarak antara Sumber dengan Penerima : 25 m
5.2 Data Meteorologi
Tabel 5.1 Hasil Pengukuran Data Meteorologi
No. Data Meteorologi Keterangan
1. Arah Angin (Kompas) Barat
2. Kecepatan Angin (Anemometer) 0,76 m/s
3. Kelembapan (Hygrometer) 52 %rh
4. Temperatur (Suhu) 31 °C

5. Tekanan (Barometer) 764 mmhg

5.3 Data Sampling


Kecepatan rata – rata kendaraan :
 V Sedan = 40 km / jam
 V Sepeda motor = 30 km / jam
 V Mikrobus = 50 km / jam
 V Bus = 50 km / jam
 V Truck = 50 km / jam
Jumlah kendaraan :
 N Sedan = 2398 buah
 N Motor = 341 buah
 N Mikrobus = 992 buah
 N Bus = 75 buah
 N Truk = 42 buah

Tabel 5.2 Hasil Pengamatan Leq 1-10 Menit (dBA)

Jam Menit 5 detik ke (dB(A)) Leq 1


menit
Ke Ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 (dB(A))
I 69,5 70,3 70,0 69,4 69,3 67,8 66,2 64,3 64,9 66,0 66,0 65,0 67,9
II 65,6 70,6 66,4 67,5 65,9 66,3 67,2 65,2 67,3 71,9 66,8 65,8 67,7
III 65,0 64,7 64,3 65,8 74,6 67,8 65,3 67,5 64,1 63,9 65,3 64,1 67,1
IV 65,6 65,4 66,9 67,0 67,7 67,9 68,4 67,8 67,2 67,3 65,4 67,4 67,1
V 72,0 64,9 66,2 68,1 65,1 68,6 66,2 64,8 72,5 66,2 67,3 68,2 67,9
VI 68,1 65,9 63,8 64,8 66,0 68,1 64,2 66,3 64,3 64,6 65,6 64,6 65,7
VII 65,2 65,2 66,0 64,8 64,9 67,2 66,9 69,8 65,9 65,6 66,7 66,9 66,5
VIII 64,0 64,8 65,1 63,7 64,8 64,3 64,8 64,8 68,2 66,3 66,3 66,5 65,4
IX 73,6 64,6 66,5 64,9 65,2 64,3 66,8 66,8 68,6 62,3 86,1 64,8 75,9
X 73,9 62,5 63,0 62,4 65,7 65,3 67,2 67,2 64,9 61,9 63,1 65,0 66,8
Leq 10 menit 69,2
Keterangan : Terkecil = 61,9 dB(A)
Terbesar = 86,1 dB(A)

Tabel 5.3 Hasil pengamatan Jumlah Kendaraan Pada Lalu Lintas

No Jenis Kendaraan Jumlah kendaraan dengan kecepatan Loe dB(A)


(km/jam)
1. Sepeda Motor 30 56
2. Sedan 40 59
3. Mikrobus 50 73
4. Bus 50 80
5. Truk 50 83
Tabel 5.4 Data Tiap Lokasi Titik Sampling
Jarak L2
Lokasi Titik Sampling
(m) (dB(A))
10 93,7
Jalan Kyai Tapa
25 86,1
Jalan depan Halte Busway Grogol 2 10 90,9
(belokan) 25 86,1
10 93,2
Jalan S Parman
25 87,2

DAFTAR PUSTAKA
Harris, C.M. 1979. Handbook of Noise Control. Mc Graw-Hill Book Company, New
York.
Keputusan Mentri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat
Kebisingan.
Malkhamah, S. 1992. Lalulintas Harian Rata-rata (LHR) di Daerah Istimewa
Yogyakarta. Media Teknik No. 2 dan 3 Tahun XIV Agustus dan Desember
1992 .
Morlok, E.K. 1995. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Penerbit
Erlangga.
Siswanto. 2002. Kebisingan. Surabaya; Balai Hiperkes.
Sukirman, Silvia. 1999. Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan. Bandung : Nova.