Anda di halaman 1dari 50

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS

PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN CORPORATE


RISK TERHADAP TINDAKAN PAJAK AGRESIF

(Studi Empiris Perusahaan Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek


Indonesia Tahun 2012-2016)

Oleh:
SESTY REGIANI L
1410531030

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu dari Syarat-Syarat Guna Memperoleh


Gelar Sarjana Ekonomi

PADANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pasal 1 ayat 1, disebutkan bahwa

pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi

atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang- undang, dengan tidak

mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara

dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pajak merupakan unsur penting bagi negara-negara di dunia. Di

Indonesia penerimaan dari sektor pajak merupakan presentase tertinggi

dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya. Terlebih lagi, Indonesia

adalah negara berkembang yang masih banyak membutuhkan perbaikan dan

pembangunan dari berbagai sektor baik dari sektor pendidikan dan

kesejahteraan rakyat, pembangunan infrastruktur pendorong pertumbuhan

ekonomi, pendukung ketahanan dan keamanan, serta untuk pembangunan di

daerah. Oleh karena itu, pemerintah banyak melaksanakan program pembangunan

di berbagai sektor demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagi perusahaan, pajak adalah beban yang mengurangi penghasilan

perusahaan, terlebih lagi perusahaan tidak mendapatkan imbalan langsung ketika

membayar pajak. Hal inilah yang mendorong perusahaan melakukan minimalisasi

pembayaran pajak. Menurut Lumbantoruan (1996) meminimalkan


pembayaran pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari

memanfaatkan celah-celah peraturan perpajakan yang ada sampai dengan

melanggar peraturan perpajakan. Dengan demikian jumlah pembayaran pajak

dapat ditekan dengan menggunakan strategi di bidang perpajakan. Oleh karena

itu, terdapat kemungkinan perusahaan melaporkan pajak kurang dari

semestinya, sehingga pendapatan perusahaan menjadi lebih optimal. Bila hal

tersebut terjadi, maka perusahaan mengindikasikan melakukan tindakan pajak

agresif (I Nyoman, et al. 2015).

Tindakan pajak agresif adalah tindakan yang dirancang atau dimanipulasi

untuk mengurangi laba fiskal melalui perencanaan pajak yang tepat, yang dapat

diklasifikasikan atau tidak diklasifikasikan sebagai tax evasion, sedangkan

tax evasion merupakan usaha yang dilakukan untuk mengurangi hutang pajak

dengan cara yang tidak legal (unlawful) (Frank, et al., 2009). Hal ini dapat terjadi

karena adanya kelemahan pada peraturan perpajakan yang dapat dimanfaatkan

oleh pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan berwenang dalam pengambilan

keputusan untuk segala aspek yang ada di dalam perusahaan, baik aspek yang

mengandung risiko tinggi ataupun risiko rendah. Tindakan pajak agresif dapat

digolongkan sebagai suatu tindakan yang memiliki risiko yang tinggi, karena

akibat yang dapat muncul ketika tindakan tersebut terdeteksi adalah perusahaan

akan berpotensi memeroleh sanksi berupa denda yang tinggi, hingga rusaknya

image perusahaan di mata publik (I Nyoman, et al., 2015).

Pemimpin perusahaan umumnya memiliki karakter risk taker atau risk

averse yang tercermin pada besar kecilnya corporate risk yang ada (Budiman dan
Setiyono, 2012). Menurut Paligorova (2010) bila pemimpin perusahaan memiliki

karakter risk taker, maka corporate risk akan semakin tinggi. Corporate risk

dapat dilihat dari nilai standar deviasi earning. Standar deviasi earning yang

dimaksud adalah penyimpangan dari outcome yang diterima dengan yang

diekspektasikan (Hartono, 2013). Semakin tinggi corporate risk maka dapat

mencerminkan bahwa pemimpin perusahaan telah berani melakukan tindakan

yang mengandung risiko tinggi, seperti tindakan pajak agresif. Hal ini juga

didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan I Nyoman, et al. (2015) dan

Swingly dan Sukartha (2015) yang menunjukkan bahwa corporate risk

berpengaruh positif terhadap tindakan pajak agresif.

Setiap kegiatan perusahaan, baik yang mengandung risiko tinggi atau

tidak, semestinya dapat dikelola dengan tata kelola perusahaan (corporate

governance) yang baik. Corporate governance menurut Monk dan Minow (2004)

dalam Lukviarman (2016) adalah upaya menjaga hubungan diantara tiga aktor

penting dalam perusahaan yaitu pemilik, manajemen, dan board of directors yang

berperan dalam penentuan arah dan kinerja perusahaan sesuai dengan mekanisme

yang ditetapkan. Menurut Annisa dan Kurniasih (2012) perusahaan yang memiliki

corporate governance yang baik cenderung mengambil tindakan perpajakan

yang tidak beresiko dan lebih taat terhadap peraturan yang telah ditetapkan. Hal

ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan corporate governance yang baik

memiliki kecendrungan yang rendah dalam tindakan pajak agresif. Hal ini

didukung juga dengan hasil penelitian I Nyoman, et al. (2015) yang

menunjukkan corporate governance tidak memiliki peran signifikan terhadap

tindakan pajak agresif.


Keputusan perusahaan untuk melakukan praktik pajak agresif mungkin

saja dipengaruhi oleh berbagai faktor terkait corporate governance. Di mana

menurut peneliti terkait pelaksanaan corporate governance ada beberapa faktor

yang terbukti dapat mempengaruhi perusahaan dalam melakukan praktik pajak

agresif. Faktor tersebut diantaranya adalah kepemilikan institusional, komite

audit, dan kualitas audit.

Kepemilikan institusional merupakan salah satu alternatif mekanisme

dalam tata kelola perusahaan (corporate governance) yang termasuk dalam

transparansi perusahaan (Wardhani, 2006). Kepemilikan institusional menurut

Dewi dan Jati (2014) adalah jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh

pemerintah, perusahaan asuransi, investor luar negeri atau bank. Karena adanya

tanggung jawab perusahaan kepada pemegang saham, maka pemilik institusional

memiliki insentif untuk memastikan bahwa manajemen perusahaan membuat

keputusan yang akan memaksimalkan kesejateraan pemegang saham. Desai dan

Dharmapala dalam penelitiannya tahun 2009 menyimpulkan bahwa kepemilikan

institusional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap efek penghindaran

pajak.

Semakin banyak jumlah komite audit dalam perusahaan akan

meningkatkan kualitas corporate governance di dalam perusahaan, sehingga akan

memperkecil kemungkinan praktik pajak agresif dilakukan. Dalam penerapan

corporate governance, komite audit bertugas membantu komisaris indenpenden

untuk mengawasi dan memastikan bahwa perusahaan telah berjalan sesuai

dengan undang-undang dan peraturan berlaku. kepentingan pajak. Dalam


penelitian Annisa dan Kurniasih (2012) menyatakan bahwa komite audit

berpengaruh secara signifikan terhadap praktik penghindaran pajak. Hasil yang

sama juga dibuktikan dalam penelitian Dewi dan Jati (2014) bahwa komite

audit berpengaruh terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Menurut Dewi dan Jati (2014) kualitas audit adalah segala kemungkinan

yang dapat terjadi saat auditor mengaudit laporan keuangan klien dan menemukan

pelanggaran atau kesalahan yang terjadi dan melaporkannya dalam laporan

keuangan auditan. Dalam melakukan pengauditan hal yang terpenting dalam

pelaksanaannya adalah transparansi yang merupakan salah satu unsur dari

corporate governance. Transparansi terhadap pemegang saham dapat dicapai

dengan melaporkan hal-hal terkait perpajakan pada pasar modal dan pertemuan

para pemegang saham. Peningkatan transparansi terhadap pemegang saham

dalam hal pajak semakin dituntut oleh otoritas publik (Sartori, 2010). Karena

asumsi adanya implikasi dari perilaku pajak yang agresif, perusahaan mereka

mengambil posisi agresif dalam hal pajak dan akan mencegah tindakan

tersebut jika mereka tahu sebelumnya.

Profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan laba. Untuk mengontrol kemungkinan adanya

pengaruh profitabilitas perusahaan, maka penelitan ini memasukkan variabel

kontrol return on assets (ROA) karena memiliki peran dalam perubahan

Current effective tax rate (CuETR) (proksi tindakan pajak agresif).

Pada penelitian kali ini peneliti menggunakan data perusahaan barang

konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Tahun pengamatan pada


penelitian ini menggunakan periode selama lima tahun, yaitu tahun 2012-2016.

Variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu variabel dari corporate

governance yaitu kepemilikan institusional, komite audit, kualitas audit, dan

corporate risk serta profitabilitas sebagai variabel kontrol dalam mendeteksi

pengaruhnya terhadap tindakan pajak agresif. Diharapkan dengan penelitian yang

dilakukan dapat menunjukkan hasil yang maksimal untuk melihat pengaruh

variabel yang digunakan dalam mendekteksi adanya pengaruh variabel-variabel

tersebut terhadap tindakan pajak agresif pada perusahaan yang diteliti.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik menyusun

skripsi dengan judul “Pengaruh Corporate Governance dan Corporate Risk

terhadap Tindakan Pajak Agresif” (Studi Empiris Perusahaan Barang Konsumsi

yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2016).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat

dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan

institusional berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif?

2. Apakah corporate governance yang diproksikan dengan komite audit

berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif?

3. Apakah corporate governance yang diproksikan dengan kualitas audit

berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif?

4. Apakah corporate risk berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif?


5. Apakah corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan

institusional, komite audit, dan kualitas audit serta corporate risk

secara simultan berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa

tujuan yang akan menjadi fokus penelitian, yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh corporate governance

yang diproksikan dengan kepemilikan institusional terhadap tindakan

pajak agresif.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh corporate governance

yang diproksikan dengan komite audit terhadap tindakan pajak agresif.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh corporate governance

yang diproksikan dengan kualitas audit terhadap tindakan pajak

agresif.

4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh corporate risk terhadap

tindakan pajak agresif.

5. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh corporate governance

yang diproksikan dengan kepemilikan institusional, komite audit, dan

kualitas audit serta corporate risk terhadap tindakan pajak agresif.


1.4 Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai

berikut :

1. Bagi peneliti, diharapkan dapat menambah wawasan peneliti mengenai

corporate governance dan corporate risk yang ada di dalam

perusahaan serta tindakan pajak agresif yang dilakukan oleh

perusahaan.

2. Bagi peneliti berikutnya, diharapkan dapat menjadi bahan referensi

bagi penelitian selanjutnya yang akan melakukan penelitian sejenis.

3. Bagi perusahaan, diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

dan masukan mengenai tindakan pajak agresif dan sebagai bahan

referensi bagi pemilik perusahaan, manager, dan investor dalam

pengambilan keputusan.

4. Bagi Pemerintah, diharapkan dapat membantu dalam membuat dan

menetapkan kebijakan perpajakan yang lebih adil serta meningkatkan

pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan perusahaan

sehingga dapat mengurangi kesempatan perusahaan untuk

melakukan tindakan pajak agresif.

1.5 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan penelitian ini terdiri dari:


BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini merupakan pendahuluan dari penelitian yang terdiri

dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Pada bab ini dijelaskan tentang landasan teori yang digunakan,

penelitian-penelitian yang berhubungan, kerangka pemikiran, serta

hipotesis dari penelitian ini.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini berisi tentang ruang lingkup penelitian, populasi dan

sampel, jenis dan sumber data yang diperoleh, variabel penelitian,

metode analisis data dengan uji hipotesis.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi mengenai deskripsi sampel penelitian yang terdiri

dari gambaran umum tentang pengumpulan data, deskripsi variabel

penelitain, hasil analisis data, serta pembahasan.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisi penjelasan mengenai kesimpulan, keterbatasan

penelitian dan saran dari penelitian ini.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pajak Agresif

Pajak merupakan salah satu pendapatan terbesar dari suatu negara. Dimana

pengertian pajak dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009

tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi

wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat

memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan

secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat.

Menurut Mardiasmo (2011) pajak adalah iuran rakyat kepada kas

Negara berdasarkan Undang-Undang yang dapat dipaksakan dengan tiada

mendapat jasa timbale (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan

yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Sedangkan menurut Waluyo (2009) pajak adalah iuran masyarakat

kepada Negara (yang dipaksakan) yang oleh wajib membayarnya menurut

peraturan-peraturan umum (undang-undang) tidak mendapat prestasi kembali

yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk

membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas Negara untuk

menyelenggarakan pemerintahan.
Kirchler et al. (2003) mengemukakan bahwa dari perspektif ekonomi dan

terpisah dari pertimbangan hukum, tax avoidance, tax evasion, dan tax flight

mempunyai efek yang mirip yaitu pengurangan pendapatan sebagai dasar untuk

mengurangi beba pajak. Akan tetapi dari perspektif psikologi dengan adanya

perbedaan legal dan pertimbangan moral, beberapa individu menganggap ketiga

istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda. Tax avoidance diartikan sebagai

suatu usaha untuk mengurangi pembayaran pajak secara legal, sedangkan tax

evasion dianggap sebagai usaha mengurangi pembayaran pajak dengan cara yang

illegal, dan tax flight mengacu pada tindakan memindahkan lokasi transaksi bisnis

untuk mendapatkan penghematan pembayaran pajak.

Menurut Fatharani (2012) definisi tindakan pajak agresif adalah tindakan

yang dirancang atau dimanipulasi untuk mengurangi laba fiskal melalui

perencanaan pajak (tax planning) yang tepat. Walaupun tindakan pajak yang

diambil tidak menyalahi peraturan yang ada, tetapi semakin perusahaan

mengambil langkah penghindaran pajak dengan memanfaatkan celah-celah dari

peraturan yang ada maka tindakan tersebut akan dinilai semakin agresif.

Perusahaan yang memiliki pendapatan tinggi cenderung menghadapi beban pajak

yang rendah. Rendahnya beban pajak dikarenakan perusahaan dengan pendapatan

yang tinggi berhasil memanfaatkan keuntungan dari adanya insentif pajak dan

pengurang pajak yang lain (Darmadi dan Hakim, 2013).

Rahayu (2016) menggunakan CuETR untuk mengukur agresivitas pajak

dalam penelitiannya. Rahayu (2016) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan

menggunakan CuETR sebagai proksi untuk mengukur agresivitas pajak, proksi


CuETR adalah proksi yang paling banyak digunakan dalam literatur, dan nilai

yang rendah dari CuETR dapat menjadi indikator adanya agresivitas pajak.

Dengan demikin, CuETR dapat digunakan untuk mengukur agresivitas pajak.

Menurut Desai dan Dharmapala (2006) tindakan pajak agresif dapat

memberikan marginal benefit maupun marginal cost. Marginal benefit yang

mungkin didapat adalah adanya penghematan pajak (tax saving) yang signifikan

bagi perusahaan sehingga porsi yang dapat dinikmati oleh pemilik akan menjadi

lebih besar. Kemudian dengan melakukan tindakan pajak yang agresif juga dapat

memberikan keuntungan kepada manajer baik secara langsung maupun tidak

langsung. Manajer bisa mendapatkan kompensasi yang lebih tinggi atas

kinerjanya yang menghasilkan beban pajak perusahaan yang harus dibayarkan

menjadi lebih rendah. Selain itu manajer juga berkesempatan untuk mendapatkan

kentungan pribadi dengan melakukan rent extraction. Rent extraction adalah suatu

tindakan manajer yang tidak memaksimalkan kepentingan pemilik, tindakan ini

dapat berupa penyusunan laporan keuangan yang agresif, mengambil sumber daya

atau aset perusahaan untuk kepentingan pribadi, maupun melakukan transaksi

dengan pihak istimewa. Sedangkan marginal cost yang mungkin terjadi adalah

penalty atau sanksi administrasi yang dikenakan oleh petugas pajak yang

merupakan akibat dari kemungkinan dilakukannya audit dan ditemukannya

kecurangan-kecurangan di bidang perpajakan pada perusahaan. Jika kecurangan-

kecurangan tersebut ditemukan ketika dilakukan pemeriksaan maka akan

berpotensi memunculkan biaya-biaya non-pajak lainnya yang tentu saja dapat

merugikan perusahaan dan merusak reputasi perusahaan. Salah satu contohnya

adalah menurunnya harga saham perusahaan. Penurunan harga saham ini adalah
sebagai akibat adanya anggapan dari para pemegang saham bahwa tindakan pajak

agresif yang dilakukan oleh manajer merupakan tindakan rent extraction yang

dapat merugikan pemegang saham.

2.1.2 Corporate Risk

Risiko memiliki kaitan dengan return yang diperoleh perusahaan, bahwa

risiko merupakan penyimpangan atau deviasi dari outcome yang diterima

dengan yang diekspektasi. Dengan demikian dapat diartikan semakin besar

deviasi antara outcome yang diterima dengan yang diekspektasikan

mengindikasikan semakin besar pula risiko yang ada (Budiman dan Setiyono,

2012).

Menurut Paligrova (2010) risiko perusahaan merupakan volatilitas earning

perusahaan, yang bisa diukur dengan rumus deviasi standar. Dengan demikian

dapat dimaknai bahwa risiko perusahaan merupakan penyimpangan atau deviasi

standar earning baik penyimpangan itu bersifat kurang dari yang direncanakan

(downside risk) atau mungkin lebih dari yang direncanakan (upset potensial),

semakin besar deviasi earning perusahaan mengindikasikan semakin besar pula

risiko perusahaan yang ada. Tinggi rendahnya risiko perusahaan ini

mengindikasikan karakter eksekutif apakah termasuk risk taker atau risk

averse.

Berbeda dengan risk taker, eksekutif yang memiliki karakter risk averse

adalah eksekutif yang cenderung tidak menyukai resiko sehingga kurang berani

dalam mengambil keputusan bisnis. Eksekutif risk averse jika mendapatkan

peluang maka dia akan memilih resiko yang lebih rendah (Low, 2006).
Biasanya eksekutif risk averse memiliki usia yang lebih tua, sudah lama

memegang jabatan, dan memiliki ketergantungan dengan perusahaan (Maccrimon

dan Wehrung, 1990). Dibandingkan dengan risk taker, eksekutif risk averse lebih

menitikberatkan pada keputusan-keputusan yang tidak mengakibatkan resiko yang

lebih besar. Dengan demikian mereka harus mampu mendatangkan cash flow

yang tinggi pula guna memenuhi tujuan pemilik perusahaan yakni untuk

mendapatkan cash flow dari operasi yang dilakukan oleh perusahan (La Porta

dan Silanez 1999).

Coles et al. (2004) menyebutkan bahwa risiko perusahaan (corporate

risk) merupakan cerminan dari policy yang diambil oleh pimpinan perusahaan.

Policy yang diambil pimipinan perusahaan bisa mengindikasikan apakah mereka

memiliki karakter risk taker atau risk averse. Semakin tinggi corporate risk maka

eksekutif semakin memiliki karakter risk taker, demikian sebaliknya.

2.1.3 Corporate Governance

2.1.3.1 Teori Keagenan (The Agency Theory)

Teori keagenan adalah teori yang menjelaskan hubungan antara agent

sebagai pihak yang mengelola perusahaan dan principal sebagai pihak pemilik,

keduanya terikat dalam sebuah kontrak. Pemilik atau principal adalah pihak yang

melakukan evaluasi terhadap informasi dan agent adalah sebagai pihak yang

menjalankan kegiatan manajemen dan mengambil keputusan (Aditya, 2017).

Menurut Lukviarman (2016) teori keagenan memberikan fokus terhadap

fakta yang berkembang bahwa dalam setiap organisasi individu (agent) akan

bertindak sebagai pihak yang dipercaya oleh individu atau sekelompok individu
lainnya (principal). Hubungan antara keduanya akan terjadi dalam organisasi

perusahaan antara pemegang saham (stockholders) sebagai principal dan dengan

pengelola (managers) sebagai agent dalam hubungan tersebut. Para ahli agency

theory menggunakan asumsi bahwa kedua pihak tersebut memiliki kepentingan

masing-masing (self interest) dan kepentingan tersebut lebih banyak mengalami

perbedaan dari sudut pandang keduanya (divergence of interest). Keinginan yang

berbeda tersebut membutuhkan adanya mekanisme yang dapat digunakan

principal (pemegang saham) untuk senantiasa memonitor agent (para manajer).

Namun demikian, mekanisme kontrol tersebut adalah sulit untuk dilakukan dan

menimbulkan biaya yang mahal karena secara natural pihak manajer (agents)

umumnya memiliki keahlian yang lebih baik dibanding pemilik (principals), serta

mekanisme kontrol tersebut tidak dapat dilaksanakan secara terus-menerus dan

diobservasi secara langsung. Dalam kaitan ini para ahli agency theory

berkeyakinan bahwa keberadaan struktur organisasi merupakan upaya yang

rasional untuk digunakan, walaupun bersifat kompleks tetapi mampu menciptakan

sistem yang efisien di dalam mengatur kerja sama antara kedua pihak yang

berhubungan.

Lebih lanjut, penganut agency theory juga meyakini bahwa struktur

organisasi maupun mekanisme kontrol yang dapat digunakan dalam hubungan

keagenan tersebut (the agency relationships) berbeda antara satu organisasi

dengan organisasi lainnya, serta antara satu penugasan dengan penugasan (task)

lainnya. Skala atau tingkatan perbedaan karakteristik struktur dan mekanisme

yang diadopsi oleh setiap organisasi tersebut sangat ditentukan oleh bentuk
ketidaksimestrisan informasi (information asymmetry) antara principals dan

agents (Lukviarman, 2016).

Satu elemen kunci dari teori keagenan adalah bahwa principal

dan agent mempunyai perbedaan preferensi dan tujuan. Information gap

(information asymmetry) yang terjadi pada berbagai perusahaan dikarenakan

pihak manajer setiap hari berinteraksi langsung dengan kegiatan perusahaan

dengan demikian pihak manajer mempunyai informasi yang sangat lengkap

tentang perusahaan yang dikelolanya (Oktavianti, 2014). Sedangkan pemilik

perusahaan hanya mengandalkan laporan yang diberikan oleh pihak

manajemen, karena pemilik perusahaan tidak berinteraksi secara langsung pada

kegiatan perusahaan.

Masalah yang terjadi antara manajemen dan pemilik modal menimbulkan

munculnya biaya. Disinilah letak pentingnya corporate governance, yaitu sebagai

penjamin dilindunginya hak-hak pemegang saham. agency cost terdiri atas

monitoring cost dan bonding cost. Corporate governance dikatakan dapat

menurunkan monitoring cost dengan adanya peningkatan pengawasan dan

transparansi. Bonding cost merupakan agency cost yang ditanggung oleh direksi

yang mencerminkan upaya manajemen dalam menunjukkan kepada shareholder

bahwa mereka tidak akan menyalahgunakan wewenang yang diberikan (Lestari,

2007).

Corporate governance sebagai efektivitas mekanisme yang bertujuan

meminimalisasi konflik keagenan, dengan penekanan khusus pada mekanisme

legal (Marga, 2011). Corporate governance merupakan salah satu elemen kunci
dalam meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan

antara manajemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang saham dan

stakeholders lainnya. Corporate governance juga memberikan suatu struktur yang

memfasilitasi penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan, sebagai sarana

untuk menentukan teknik monitoring kinerja (Deni, dkk, 2004).

2.1.3.2 Defenisi Corporate Governance

Terdapat berbagai definisi yang menjelaskan tentang corporate

governance. Menurut Lukviarman (2004) corporate governance merupakan

suatu sistem yang terdiri dari berbagai perangkat/kelembagaan serta aturan main

(checs and balances) agar sistem dapat bekerja dengan optimal.

Cadbury Committee, seperti dikutip oleh Forum for Corporate

Governance in Indonesia (FCGI), mengartikan corporate governance atau tata

kelola perusahaan sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara

pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah,

karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang

berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu

sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.

The Institute Indonesia of Corporate Governance (IICG), dalam situsnya,

mendefinisikan corporate governance sebagai serangkaian mekanisme untuk

mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan agar operasional perusahaan

berjalan sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan (stakeholders).

Sedangkan good corporate governance diartikan sebagai struktur, sistem, dan

proses yang digunakan oleh organ - organ perusahaan sebagai upaya untuk
memberikan nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka

panjang.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa corporate

governance adalah suatu mekanisme yang mengatur dan mengendalikan

perusahaan melalui hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola)

perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang

kepentingan internal dan eksternal lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai

perusahaan.

Di Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) atau

National Comittee on Governance menerbitkan Indonesia’s Code of Good

Corporate Governance sebagai pedoman dasar perusahaan dengan menyediakan

referensi dalam mengimplementasikan corporate governance untuk melaksanakan

usahanya sehingga menjamin kelangsungan jangka panjang dalam koridor etika

bisnis yang pantas meskipun bukan merupakan regulasi (KNKG, 2006). Dalam

KNKG (2006), disebutkan terdapat tiga pilar yang menyokong implementasi

corporate governance, yaitu:

1. Regulator, supervisor, dan otoritas penyelenggara peraturan hukum dan

regulasi yang akan memajukan penciptaan iklim bisnis yang sehat,

efisien, dan transparan, melaksanakan dan memeliharanya, dan

membantunya dengan penyelenggaraan hukum yang konsisten.

2. Sektor bisnis sebagai pelaku pasar yang melaksanakan corporate

governance sebagai dasar melaksanakan bisnis.

3. Publik sebagai pemakai produk dan jasa dari sektor bisnis dan sebagai

pihak yang terkena dampak dari keberadaan perusahaan yang


menunjukkan perhatian dan melaksanakan tujuan dan kontrol tanggung

jawab sosial.

Sedangkan prinsip-prinsip umum corporate governance menurut KNKG

(2006) yaitu:

1. Keterbukaan (transparency)

Keterbukaan berhubungan dengan kualitas informasi yang disampaikan

perusahaan. Kepercayaan investor akan sangat tergantung dengan

kualitas informasi yang disampaikan perusahaan. Oleh karena itu,

perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang jelas, akurat, tepat

waktu dan dapat dibandingkan dengan indikator-indikator yang sama.

Penyampaian informasi kepada publik secara terbuka, benar, kredibel dan

tepat waktu akan memudahkan untuk menilai kinerja dan resiko yang

dihadapi perusahaan. Praktek yang dikembangkan dalam rangka

keterbukaan diantaranya perusahaan diwajibkan untuk mengungkapkan

transaksi-transaksi penting yang terkait dengan perusahaan, resiko-resiko

yang dihadapi dan rencana atau kebijakan perusahaan yang akan

dijalankan. Selain itu, perusahaan juga perlu untuk menyampaikan

kepada seluruh pihak struktur kepemilikan perusahaan serta perubahan

terjadi.

2. Akuntabilitas (accountability)

Akuntabilitas berhubungan dengan adanya sistem yang

mengendalikan hubungan antara organ-organ yang ada di

perusahaan. Akuntabilitas diperlukan sebagai salah satu solusi mengatasi

masalah keagenan yang timbul antara pemegang saham dan direksi serta
pengendaliannya oleh komisaris. Oleh karena itu, akuntabilitas dapat

diterapkan dengan mendorong seluruh organ perusahaan menyadari

tanggung jawab, wewenang dan hak kewajibannya.

Praktek-praktek yang diharapkan muncul dalam menerapkan akuntabilitas

diantaranya pemberdayaan dewan komisaris, memberikan jaminan

perlindungan kepada pemegang saham khususnya pemegang saham

minoritas dan pembatasan kekuasaan yang jelas di jajaran direksi.

Pengangkatan komisaris independen merupakan bentuk implementasi

prinsip akuntabilitas dengan tujuan untuk meningkatkan pengendalian

oleh pemegang saham terhadap kinerja perusahaan.

3. Pertanggungjawaban (responsibility)

Responsibilitas menekankan pada adanya sistem yang jelas untuk

mengatur mekanisme pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang

saham dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Hal tersebut untuk

merealisasikan tujuan yang hendak dicapai dalam corporate governance

yaitu mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang berkaitan dengan

perusahaan.

Responsibilitas juga berkaitan dengan kewajiban perusahaan untuk

mematuhi semua peraturan dan hukum yang berlaku. Kepatuhan

terhadap ketentuan yang ada akan menghindarkan dari sanksi, baik sanksi

hukum maupun sangsi moral masyarakat akibat dilanggarnya kepentingan

mereka. Implementasi prinsip-prinsip corporate governance dalam

pengelolaan perusahaan (corporate governance) mencerminkan bahwa

perusahaan tersebut telah dikelola dengan baik dan transparan. Hal


tersebut dapat merupakan modal dasar bagi timbulnya kepercayaan publik

sehingga perusahaan yang telah go public saham perusahaannya akan

lebih diminati oleh para investor dan berdampak positif terhadap

peningkatan nilai perusahaan atau harga saham (Arif, 2008).

4. Independensi (independency)

Untuk mempercepat implementasi prinsip-prinsip corporate governance,

perusahaan harus secara independen diatur dengan kekuatan seimbang

yang tepat, dengan cara tidak ada satu pun organ dalam perusahaan

yang mendominasi organ lainnya dan tidak ada campur tangan dari

pihak lain.

5. Kewajaran (fairness)

Prinsip ini menekankan pada jaminan perlindungan hak-hak para

pemegang saham, termasuk hak-hak pemegang saham minoritas dan

para pemegang saham asing serta perlakuan yang setara terhadap semua

investor. Praktek kewajaran ini juga mencakup adanya sistem hukum dan

peraturan serta penegakannya yang jelas dan berlaku bagi semua pihak.

Hal ini penting untuk melindungi kepentingan pemegang saham

khususnya pemegang saham minoritas dari praktek kecurangan dan

praktek-praktek insider trading.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam

mengimplementasikan corporate governance, perusahaan harus memenuhi lima

prinsip tersebut, apabila perusahaan senantiasa memperhatikan kelima prinsip

tersebut maka akan terciptanya corporate gorvernance yang baik dalam


perusahaan tersebut. Lebih lanjut lagi tujuan penerapan corporate gorvernance

hanya terdiri dari dua tujuan utama, yaitu:

1. Tujuan pertama adalah untuk mengontrol biaya agensi (agency cost).

Sebuah struktur tata kelola yang baik adalah salah satunya yang dapat

meminimalisasi agency cost. Agency cost merupakan kerugian yang

diderita pemegang saham sebagai akibat perilaku manajemen yang

menyimpang dari memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham

ditambah biaya yang dikeluarkan untuk mengawasi perilaku tersebut.

2. Tujuan yang kedua adalah untuk mempromosikan tanggung jawab sosial.

Kebijakan maksimalisasi keuntungan tidak selalu memaksimalkan

kekayaan, dan bahkan maksimalisasi kekayaan merupakan suatu hal yang

tidak diinginkan. Kepentingan perusahaan dan sosial dapat disejajarkan

melalui berbagai regulasi teknik. Perusahaan dapat, misalnya dipaksa

untuk membatasi emisi bahaya melalui larangan, lisensi, atau perpajakan

(Aditya, 2017).

Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia dan

International Monetary Fund (IMF) memperkenalkan konsep Good Corporate

Governance (GCG). Corporate governance merupakan tata kelola perusahaan

yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang

menentukan arah kinerja perusahaan (Haruman, 2008). Perusahaan yang memiliki

mekanisme corporate governance yang baik maka akan berbanding lurus dengan

kepatuhan perusahaan dalam memenuhi kewajiban pajaknya (Sartori, 2010).

Corporate governance diciptakan untuk mengawasi tax planning ataupun tax


management agar mampu berjalan dibawah hukum yang berlaku. Corporate

governance memastikan agar tata kelola perusahaan dalam perpajakan tetap

berada dalam koridor penghindaran pajak (tax avoidance) yang bersifat

legal bukan penggelapan pajak (tax evasion) yang bersifat illegal.

2.1.4 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh

institusi. Kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha

pengawasan yang lebih besar oleh pihak institusional sehingga dapat

menghalangi perilaku oportunistik dari para manajer perusahaan. Kepemilikan

institusional diukur dengan proporsi saham yang dimiliki institusional pada akhir

tahun dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar di perusahaan tersebut

(Moh’d et al., 1998).

Institusi sebagai pemilik saham dianggap lebih mampu dalam

mendeteksi kesalahan yang terjadi. Hal ini dikarenakan investor

institusi lebih berpengalaman dibandingkan dengan investor individual. Institusi

sebagai investor yang sophisticated karena mempunyai kemampuan dalam

memproses informasi dibandingkan dengan investor individual. Dengan

demikian, akan semakin membatasi manajemen dalam memainkan angka

dalam laporan keuangan (Saptatinah, 2005).

Menurut Bushee dalam Boediono (2005) menyatakan bahwa kepemilikan

institusional memiliki kemampuan untuk mengurangi insentif para manajer yang

mementingkan diri sendiri melalui tingkat pengawasan yang intens. Kepemilikan

institusional dapat menekan kecenderungan manajemen untuk memanfaatkan


discretionary dalam laporan keuangan sehingga memberikan kualitas laba yang

dilaporkan. Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk

mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif

sehingga mengurangi tindakan manajemen melakukan manajemen laba.

Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat mempengaruhi

proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat

akrualisasi sesuai kepentingan pihak manajemen.

Menurut Fadhilah (2014) besar kecilnya konsentrasi kepemilikan

institusional maka akan mempengaruhi kebijakan pajak agresif, tetapi semakin

besar kepemilikan institusional maka akan semakin mengurangi tindakan

kebijakan pajak agresif. Agresifitas pajak mengarah kepada penghematan pajak

yang menyebabkan perusahaan potensial dikenakan sanksi oleh IRS (Internal

Revenue Service) terkait biaya pelaksanaan dan biaya agensi. (Chen, et al., 2008,

dalam Annisa dan Lulus, 2012). Perusahaan dengan kepemilikan institusional

yang lebih besar lebih memungkinkan untuk mengeluarkan, meramalkan, dan

memperkirakan sesuatu lebih spesifik, akurat, dan optimis (Khurana dan Moser,

2009).

2.1.5 Komite Audit

Menurut Kep. 29/PM/2004, Komite audit adalah komite yang dibentuk

oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolahan

perusahaan. Keberadaan komite audit sangat penting bagi pengelolaan

perusahaan. Komite audit merupakan komponen baru dalam sistem pengendalian

perusahaan, selain itu komite audit dianggap sebagai penghubung antara


pemegang saham dan dewan komisaris dengan pihak manajemen adalah

menangani masalah pengendalian.

Komite audit adalah organ tambahan yang diperlukan dalam pelaksanaan

prinsip corporate governance. Komite audit merupakan suatu komite yang

beranggotakan satu atau lebih anggota komisaris dan keberadaannya terbebas dari

pengaruh direksi, eksternal auditor dan hanya bertanggung jawab kepada dewan

komisaris (Surya, 2008).

Keberadaan Komite Audit diatur melalui Surat Edaran Bapepam Nomor

SE 03/PM/2002 (bagi perusahaan publik) dan Keputusan Menteri BUMN

Nomor KEP-103/MBU/2002 (bagi BUMN). Keanggotaan komite audit

sekurang-kurangnya tiga anggota, seorang diantaranya komisaris independen

perusahaan tercatat sekaligus menjadi ketua komite, sedangkan pihak lain

adalah pihak eksternal yang independen dan sekurang-kurangnya salah seorang

memiliki kemampuan dibidang akuntansi dan keuangan.

Tugas komite audit meliputi menelaah kebijakan akuntansi yang

diterapkan oleh perusahaan, menilai pengendalian internal, menelaah sistem

pelaporan eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan. Komite audit sebagai

pihak independen yang betugas untuk memonitor proses pelaporan keuangan

akan mengurangi gangguan dalam informasi laba sehingga pasar diduga akan

bereaksi lebih kuat atas informasi laba yang dilaporkan oleh perusahaan yang

membentuk komite audit daripada laba yang dilaporkan oleh perusahaan

yang tidak membentuk komite audit (Suaryana, 2005). Adanya komite audit

diharapkan dapat meminimalkan tindakan independen direktur keluarga. Komite


tersebut dapat mengawasi agar direktur keluarga dapat bekerja secara profesional

dan independen (Hartini, 2011).

Seperti diatur dalam Kep 29/PM/2004 yang merupakan peraturan yang

mewajibkan perusahaan membentuk komite audit, tugas komite audit antara lain:

1. Melakukan penalaran atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan

perusahaan, seperti laporan keuangan, proyeksi dan informasi keuangan

lainnya.

2. Melakukan penelaahan atas ketaatan perusahaan terhadap peraturan

perundang- undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundangan

lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan.

3. Melakukan penelahaan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor

internal.

4. Melaporkan kepada komisaris berbagai resiko yang dihadapi perusahaan

dan pelaksanaan manajemen resiko oleh direksi.

5. Melakukan penelahaan dan melaporkan kepada dewan komisaris atas

pengaduan yang berkaitan dengan emiten.

6. Menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan rahasia perusahaan.

Komite audit berfungsi untuk memberikan pandangan mengenai

masalah- masalah yang berhubungan dengan kebijakan keuangan, akuntansi

dan pengendalian intern. Tujuan pembentukan komite audit adalah:

1. Memastikan laporan keuangan yang dikeluarkan tidak menyesatkan dan

sesuai dengan praktik akuntansi yang berlaku umum.

2. Memastikan bahwa internal kontrolnya memadai.


3. Menindaklanjuti terhadap dugaan adanya penyimpangan yang material di

bidang keuangan dan implikasi hukumnya.

4. Merekomendasikan seleksi auditor eksternal.

Menurut Surya (2008), pada umumnya komite audit mempunyai tanggung

jawab pada tiga bidang, yaitu :

1. Laporan Keuangan

Tanggung jawab komite audit di bidang laporan keuangan adalah untuk

memastikan bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen telah

memberikan gambaran yang sebenarnya tentang kondisi keuangan dari

perusahaan, hasil usaha, rencana dan komitmen perusahaan.

2. Corporate Governance

Tanggung jawab komite audit dalam bidang corporate governance adalah

untuk memastikan telah dijalankan sesuai dengan Undang-Undang dan

peraturan yang berlaku dan etika, melaksanakan pengawasan secara efektif

terhadap benturan kepentingan dan kecurangan yang dilakukan oleh

manajemen perusahaan.

3. Pengawasan perusahaan

Komite audit bertanggung jawab untuk pengawasan perusahaan termasuk

di dalamnya hal yang berpotensi mengandung resiko dan sistem

pengendalian internal serta memonitor proses pengawasan yang dilakukan

oleh auditor internal.

Sesuai dengan fungsi komite audit di atas, sedikit banyak keberadaan

komite audit dalam perusahaan berpengaruh terhadap kualitas dan integritas


laporan keuangan yang dihasilkan. Dari hasil pengujian Pohan (2008)

menunjukkan bahwa semakin tinggi keberadaan komite audit dalam suatu

perusahaan makin baik kualitas corporate governance di dalam perusahaan

tersebut akan makin memperkecil kemungkinan tindakan pajak agresif.

2.1.6 Kualitas Audit

Salah satu prinsip utama yang disarankan oleh OECD untuk pembuat

kebijakan corporate governance adalah didasarkan pada keterbukaan dan

transparansi. Transparansi meliputi:

1. Pengungkapan yang bersifat penting,

2. Informasi harus disiapkan, diaudit dan diungkapkan sejalan dengan

pembukuan yang berkualitas,

3. Penyebaran informasi harus bersifat adil, tepat waktu dan efisien (Hastuti,

2005).

Kualitas audit dapat diukur dengan proksi ukuran Kantor Akuntan Publik

(KAP). Lennox (2000) (dalam Susiana dan Herawaty, 2007) memaparkan teori

reputasi memprediksikan adanya hubungan positif antara ukuran KAP dengan

kualitas audit. Penelitian DeAngelo (1981) yang dikutip dari penelitian Lennox

(2000) (dalam Susiana dan Herawaty, 2007) mengemukakan bahwa KAP yang

besar memiliki insentif yang lebih untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak

reputasinya dibandingkan dengan KAP yang lebih kecil.

Ukuran KAP ini dibedakan menjadi dua yaitu untuk KAP Big Four dan

KAP Non Big Four. Laporan keuangan yang diaudit oleh KAP Big Four menurut
beberapa referensi dipercaya lebih berkualitas sehingga menampilkan nilai

perusahaan yang sebenarnya, oleh karena itu diduga perusahaan yang diaudit oleh

KAP Big Four memiliki tingkat kecurangan yang lebih rendah dibandingkan

perusahaan yang diaudit oleh KAP Non Big Four.

Becker (1998) menyimpulkan bahwa klien dari auditor Non Big Four

melaporkan akrual diskresioner (proksi dari pengelolaan laba) secara rata-rata

lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh klien auditor Big Four. Penelitian di

Indonesia mengenai kualitas audit dilakukan oleh Wirjolukito (2003), dimana

kualitas audit yang tinggi (yang diproksi dengan KAP besar – KAP Big Four)

tidak memperkecil besaran underpricing.

Adapun KAP Big Four yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Price Water House Coopers (PWC) dengan partnernya di Indonesia KAP

Haryanto Sahari.

2. Deloitte Touche Tohmatsu dengan partnernya di Indonesia Osman

Bing Satrio dan Eny, PT. Deloitte Konsultan Indonesia (DKI), dan

Deloitte Tax Solution (DTS).

3. Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG) International dengan

partnernya di Indonesia yaitu KAP Siddharta Widjaja dan Rekan.

4. Ernst and Young (EY) dengan partnernya di Indonesia KAP Purwantono,

Suherman, dan Surja (PSS).

2.1.7 Profitabilitas

Menurut Kusumawati (2005), profitabilitas merupakan kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan laba pada masa mendatang dan merupakan


indikator dari keberhasilan operasi perusahaan. Menurut Kasmir (2008), rasio

profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam

mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas

manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan

dari penjualan dan pendapatan investasi.

Van Horne dan Wachowicz (2005) mengemukakan rasio profitabilitas

terdiri atas dua jenis, yaitu rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam

kaitannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam

kaitannya dengan investasi. Profitabilitas dalam hubungannya dengan

penjualan terdiri atas margin laba kotor (gross profit margin) dan margin laba

bersih (net profit margin). Profitabilitas dalam hubungannya dengan investasi

terdiri atas tingkat pengembalian atas aktiva (return on total assets) dan tingkat

pengembalian atas ekuitas (return on equity).

2.1.7.1 Return on Asset

Return on Asset (ROA) merupakan indikator kemampuan sebuah unit

usaha untuk memperoleh laba atas sejumlah aset yang dimiliki oleh unit usaha

tersebut. Menurut Hanafi dan Halim (2004) Return on Asset (ROA) adalah rasio

yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan

menggunakan total asset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah

disesuaikan dengan biaya-biaya untuk melunasi aset tersebut.

Perusahaan yang mempunyai profitabilitas tinggi akan menarik minat

investor untuk menanamkan modalnya dengan harapan akan mendapatkan

keuntungan yang tinggi pula. Semakin besar ROA menunjukan kinerja


perusahaan yang semakin baik, karena tingkat pengembalian investasi (return)

juga semakin besar. ROA dihitung dengan membagi tingkat keuntungan setelah

pajak (laba bersih) dengan total asetnya. Semakin tinggi rasio ini maka semakin

baik produktivitas assets dalam memperoleh keuntungan bersih (Sri Sudarsi,

2002). Sebaliknya rasio yang rendah menunjukan kemungkinan-kemungkinan

sebagai berikut :

1. Adanya over investment dalam aktiva yang digunakan untuk operasi

dalam hubungannya dengan volume penjualan yang diperoleh dengan

aktiva tersebut.

2. Merupakan cermin rendahnya volume penjualan dibandingkan dengan

ongkos-ongkos yang diperlukan.

3. Adanya inefisiensi baik dalam produksi, pembelian maupun pemasaran.

4. Adanya kegiatan ekonomi yang menurun.

ROA yang negatif disebabkan laba perusahaan dalam posisi negatif (rugi)

pula. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan dari investasi yang ditanamkan

dalam aktiva belum mampu menghasilkan laba. Secara sistematis ROA dapat

dirumuskan sebagai berikut:

ROA = Net Operating Profit


Total Asset
2.2 Penelitian Terdahulu

1. Penelitian Rahayu (2016) tentang “Pengaruh Kepemilikan Institusional

dan Corporate Risk terhadap Tindakan Pajak Agresif” menyimpulkan

dari hasil penelitiannya bahwa kepemilikan institusional berpengaruh

positif dan signifikan terhadap tindakan pajak agresif pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010-

2014. Sedangkan corporate risk berpengaruh namun tidak signifikan

terhadap tindakan pajak agresif pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010-2014.

2. Penelitian Putri (2017) tentang “Analisis Pengaruh Corporate

Governance, Corporate Risk, Earnings Management, Leverage dan

Liquidity terhadap Tindakan Pajak Agresif” menyimpulkan dari hasil

penelitiannya bahwa corporate governance berpengaruh signifikan

terhadap tindakan pajak agresif pada perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015 dengan nilai koefisien

negatif. Sedangkan untuk variabel corporate rate disimpulkan bahwa

corporate risk mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tindakan

pajak agresif pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

periode 2012-2015.

3. Penelitian yang dilakukan Fahriani dan Priyadi (2016) tentang

“Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Tindakan Pajak

Agresif” pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia dengan periode pengamatan selama tahun 2009-2013.

Penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu tindakan pajak


agresif, variable independennya, yaitu; dewan komisaris, dewan

direksi, komite audit, dan komisaris independen. Di mana penelitian

ini menyimpulkan bahwa dewan komisaris, dewan direksi, komite

audit, dan komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap

tindakan pajak agresif.

4. Penelitian yang dilakukan Sabrina dan Soepriyanto (2012) tentang

“Analisis Karakteristik Corporate Governance terhadap Tindakan

Pajak Agresif” pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu

tindakan pajak agresif, variable independennya, yaitu; komisaris

independen, komite audit, kepemilikan institusional, dan kualitas audit.

Serta menggunakan variable control yaitu; ukuran perusahaan, tingkat

pendanaan dan profitabilitas. Di mana penelitian ini menyimpulkan

bahwa komite audit berpengaruh signifikan terhadap tindakan pajak

agresif, komisaris independen, kepemilikan institusional dan kualitas

audit tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap tindakan pajak

agresif, serta profitabilitas (ROA) mempunyai pengaruh yang

signifikan terhadap tindakan pajak agresif.

5. I Nyoman, et al. (2015) melakukan penelitian tentang “Tindakan

Pajak Agresif pada Perbankan: Eksplorasi Corporate Risk dan

Corporate Governance” pada perusahaan perbankan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia periode 2012-2013. Penelitian ini menggunakan

variabel kontrol yaitu: size, profitabilitas, dan leverage. Di mana

penelitian ini menyimpulkan bahwa corporate risk berpengaruh positif


terhadap tindakan pajak agresif, sedangkan corporate governance tidak

mempengaruhi tindakan pajak agresif perusahaan, serta profitabilitas (ROA)

tidak berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif perusahaan.

2.3 Kerangka Konseptual

Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian sebelumnya serta

permasalahan yang dikemukakan, maka sebagai acuan untuk merumuskan

hipotesis, berikut disajikan kerangka konseptual pemikiran teoritis yang

dituangkan dalam model penelitian seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 2.1
Kerangka Konseptual

Variabel Independen & Variabel Kontrol

Kepemilikan
Institusional (KI)

Variabel Dependen
Komite Audit
(KA)
Tindakan Pajak
Kualitas Audit Agresif (CuETR)
(KUA)

Corporate Risk
(CR)

Profitabilitas
(ROA)
2.4 Hipotesis Penelitian

2.4.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Tindakan Pajak

Agresif

Menurut Djakman dan Machmud (2008) dalam Anggraini (2011)

kepemilikan institusional merupakan pemegang saham terbesar sehingga

merupakan sarana untuk memonitor manajemen. Kepemilikan institusional

memiliki arti penting dalam perusahaan, keberadaan mereka dianggap mampu

menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap keputusan

yang diambil oleh manajer. Hal ini didukukung oleh penelitian Lim

(2011) pada perusahaan di Korea dianalisis bahwa kepemilikan

institusional memperkuat efek negatif dari penghindaran pajak pada cost

of debt dengan mengurangi biaya agensi antara pemegang saham pengendali

dan debt holders. Sehingga dapat disimpulkan kepemilikan institusional

sebagai pengawas yang berasal dari eksternal akan mendorong manajemen

perusahaan dengan melakukan pengawasan terhadap manajemen

perusahaan agar dalam menghasilkan laba berdasarkan aturan yang

berlaku, karena pada dasarnya kepemilikan institusional lebih melihat

seberapa jauh manajemen taat kepada aturan dalam menghasilkan laba, salah

satunya adalah mematuhi peraturan pajak yang berlaku dan meminimalisir

adanya tindakan pajak agresif yang dilakukan oleh perusahaan.

H1 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap tindakan pajak

agresif.
2.4.2 Pengaruh Komite Audit terhadap Tindakan Pajak Agresif

Foker (1992) dalam Hanum (2013) menyatakan bahwa komite audit

merupakan alat yang efektif untuk melakukan mekanisme pengawasan,

sehingga dapat mengurangi biaya agensi dan meningkatkan kualitas

pengungkapan perusahaan. Pengungkapan perusahaan yang dimaksud

adalah bahwa perusahaan telah melakukan pengungkapan berdasarkan

aturan yang telah ditetapkan dan tidak melanggar hukum yang berlaku.

Annisa dan Kurniasih (2012) menyatakan bahwa keberadaan komite audit

dapaat meminimalisasi penghindaran pajak karena dapat memberikan suatu

pandangan tentang masalah akuntansi, laporan keuangan dan

penjelasannya, sistem pengawasan internal serta auditor independen.

Beberapa alasan komite audit perusahaan berpengaruh memiliki hubungan

dengan manajemen pajak yang dilakukan oleh perusahaan yaitu: pertama, jika

semakin sedikit komite audit yang dimilik oleh perusahaan maka pengendalian

kebijakan keuangan yang dialakukan oleh komite audit sangat minim sehingga

akan meningkatkan tindakan manajemen dalam melakukan pajak agresif, begitu

juga apabila semakin banya komite audit dalam perusahaan maka pengendalian

kebijakan keuanganpun akan sangat ketat sehingga akan mengurangi tindakan

manajemen dalam manajemen pajak. Kedua, kredibilitas perusahaan yang

memiliki komite audit yang sedikit atau kurang dari yang ditetapkan BEI akan

mempengaruhui integritas dan kreditabilitas keuangan perusahaan di mata

investornya (Aditya, 2017).

H2 : Komite audit berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif.


2.4.3 Pengaruh Kualitas Audit terhadap Tindakan Pajak Agresif

Menurut penelitian Sanjaya (2008) perusahaan yang diaudit oleh

Kantor Akuntan Publik (KAP) Big Four memiliki kualitas auditor yang

memiliki keahlian dan memiliki reputasi yang tinggi dibandingkan dengan

auditor KAP Non Big Four. Dengan adanya reputasi yang tinggi membuat

auditor KAP Big Four berusaha secara sungguh- sungguh untuk

mempertahankan pangsa pasar, kepercayaan masyarakat, dan reputasinya

dengan cara memberi perlindungan kepada publik. Annisa dan Kurniasih

(2012) juga menyatakan apabila suatu perusahaan diaudit oleh KAP Big

Four akan semakin sulit melakukan kebijakan pajak agresif. Karena jika

nominal pajak yang harus dibayar terlalu tinggi biasanya perusahaan akan

berusaha menggelapkan pajak, oleh karena itu semakin berkualitas

auditornya maka perusahaan cenderung tidak melakukan manipulasi pajak

karena auditor eksternal akan bekerja optimal untuk mempertahankan

reputasinya.

H3 : Kualitas Auditor berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif.

2.4.4 Pengaruh Corporate Risk terhadap Tindakan Pajak Agresif

Pihak eksekutif dalam sebuah perusahaan memiliki dua karakter

dalam menjalankan tugasnya, yaitu risk taker dan risk averse (Low, 2006).

Pemimpin perusahaan yang memiliki karakter risk taker cenderung lebih berani

dalam mengambil keputusan walaupun keputusan tersebut berisiko tinggi, karena

mereka termotivasi untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi

(Dewi, 2013). Oleh karena itu mereka akan terus berusaha mendatangkan aliran
kas yang tinggi untuk memenuhi tujuan pemilik perusahaan. Tindakan pajak

agresif bertujuan untuk mengurangi laba kena pajak, sehingga dapat mengurangi

pembayaran pajak dan akhirnya dapat meningkatkan aliran kas masuk

perusahaan. Peningkatan aliran kas ini lah yang dapat meningkatkan insentif yang

akan diterima oleh eksekutif dari para pemegang saham. Budiman dan Setiyono

(2012) dan Dewi (2013) menyatakan bahwa corporate risk yang merupakan

proksi dari karakter eksekutif berpengaruh signifikan terhadap tax

avoidance.

H4 : Corporate risk berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif.

2.4.5 Pengaruh Profitabilitas terhadap Tindakan Pajak Agresif

Profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba. Profitabilitas yang tinggi menyebabkan

pembayaran pajak yang akan dilakukan perusahaan juga akan meningkat,

sehingga CuETR menjadi semakin tinggi (Prakosa, 2014). Profitabilitas sebagai

variabel kontrol dalam penelitian ini juga memiliki peran dalam mempengaruhi

Current Effective Tax Rate (CuETR) (proksi tindakan pajak agresif). Menurut

Rego (2003) dalam Dewi (2013) perusahaan besar memiliki kemungkinan yang

lebih besar untuk melakukan tindakan pajak agresif karena memiliki aktivitas

bisnis yang lebih kompleks.

H5 : Profitabilitas berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini penulis memilih BEI sebagai tempat observasi

penilitiannya. Penelitian yang dilakukan adalah observasi tidak langsung berupa

data sekunder dengan menggunakan data yang ada pada situs BEI yaitu

www.idx.co.id. Untuk menganalisi permasalahan yang ada, penulis mendata

laporan keuangan dari perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di BEI.

3.2 Metode Penelitian Sampel

Dalam penelitian ini, metode pemilihan sampel yang digunakan adalah

pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan (judgment sampling). Metode

judgment sampling atau purposive pengumpulan data atas dasar strategi

kecakapan atau pertimbangan pribadi semata (Hamid,2012).

Judgment sampling yaitu teknik sampling yang satuan samplingnya dipilih

berdasarkan pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh satuan

sampling yang memiliki karakteristik atau kriteria yang dikehendaki dalam

pengambilan sampel. Perusahaan barang konsumsi yang dipilih dengan

pertimbangan agar data yang didapat homogen sehingga menggambarkan

kekhususan hasil pada satu jenis perusahaan.

Sample tidak dipilih secara acak, melainkan dipilih sendiri oleh peneliti,

karena ada pertimbangan - pertimbangan tertentu dari pemilihan tersebut. Adapun


asalan atau kriteria pertimbangan dalam pemilihan sampel penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

selama periode 2012-2016.

2. Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan selama tahun 2012-

2016.

3. Perusahaan sampel memiliki data yang lengkap sesuai dengan yang

dibutuhkan dalam penelitian ini.

4. Perusahaan yang menyatakan laporan keuangan dalam rupiah dan berakhir

pada tanggal 31 Desember selama periode yang dibutuhkan.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang

merupakan sumber data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media

internet dari website Indonesia Stock Exchange (IDX) www.idx.co.id yaitu berupa

laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan barang konsumsi periode

2012-2016.

Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan dengan mempelajari, memahami, dan

menelaah buku-buku, jurnal, makalah dan tulisan yang berhubungan

dengan penelitian ini.

2. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi yaitu pengumpulan data dengan cara

membuat salinan data dan mengadakan arsip-arsip serta laporan

tahunan perusahaan yang menjadi sampel.

3.4 Variabel dan Pengukuran Variabel

Penelitian ini melibatkan enam variabel yang terdiri dari satu variabel

dependen, empat variabel independen dan satu variabel kontrol. Variabel

dependen yakni tindakan pajak agresif, variabel independen berupa kepemilikan

institusional, komite audit, kualitas audit dan corporate risk, serta variabel kontrol

berupa profitabilitas (ROA).

3.4.1 Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain.

Dalam penelitian ini variabel dependen yang digunakan adalah tindakan pajak

agresif yang diproksikan dengan Current Effective Tax Rate (CuETR). Adapun

formula untuk CuETR adalah:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑏𝑎𝑦𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛


CuETR = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘

3.4.2 Variabel Independen (X)

Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan dan mempengaruhi

variabel dependen. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini

terdiri dari:
3.4.2.1 Kepemilikan Institusional (KI)

Kepemilikan institusional adalah jumlah saham yang dimiliki oleh

instansi. Kepemilikan saham oleh instansi dianggap mampu mendekteksi setiap

kesalahan yang dilakukan oleh perusahaan sehingga manajemen bisa terkontrol

dalam tidak melakukan tindakan oportunistik di dalam perusahaan. Kepemilikan

institusional diukur menggunakan jumlah saham yang dikuasai oleh instansi,

dengan menggunakan ukuran :

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑝𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑖𝑛𝑠𝑡𝑖𝑡𝑢𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙


KI= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

3.4.2.2 Komite Audit (KA)

Komite audit yang dimaksud dari penelitian ini ialah jumlah komite audit

yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam melakukan tugas pengawasan

pengelolahan perusahaan, dan komite audit dalam penelitian ini diukur dengan:

KA= ∑ Komite Audit

3.4.2.3 Kualitas Audit (KUA)

Kualitas audit adalah segala kemungkinan yang dapat terjadi saat auditor

mengaudit laporan keuangan klien dan menemukan pelanggaran atau kesalahan

yang terjadi dan melaporkannya dalam laporan keuangan auditan (Dewi dan Jati,

2014). Transparansi terhadap pemegang saham dapat dicapai dengan

melaporkan hal-hal terkait perpajakan pada pasar modal dan pertemuan para

pemegang saham. Peningkatan transparansi terhadap pemegang saham dalam


hal pajak semakin dituntut oleh otoritas publik (Sartori, 2010). Karena asumsi

adanya implikasi dari dari perilaku pajak yang agresif, perusahaan mereka

mengambil posisi agresif dalam hal pajak dan akan mencegah tindakan tersebut

jika mereka tahu sebelumnya. Oleh Karena itu, kualitas audit diukur dengan

menggunakan variable dummy yang bernilai 1 apabila audit laporan

keuangan dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Big Four, dan bernilai

0 apabila audit laporan keuangan tidak dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik

(KAP) Big Four.

3.4.2.4 Corporate Risk (CG)

Risiko perusahaan merupakan penyimpangan atau deviasi dari outcome

yang diterima dengan yang diekspektasikan, dan risiko ini memiliki kaitan

dengan return yang diperoleh perusahaan (Hartono, 2013). Dengan demikian

dapat diartikan bahwa semakin besar nilai standar deviasi tersebut, maka

mengindikasikan semakin besar pula risiko yang ada. Mengacu pada penelitian

Dyreng et al. (2010), pengukuran risiko perusahaan dalam penelitian ini dihitung

melalui standar deviasi dari laba sebelum pajak (Income Before Tax Expense)

dibagi dengan total aset perusahaan. Adapun rumus proksi yang dimaksud

di atas adalah sebagai berikut:

Dimana E adalah Income Before Tax Expense dibagi dengan total aset

yang dimiliki perusahaan.


3.4.3 Variabel Kontrol (X)

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan

pengembalian selama waktu tertentu. Untuk mengukur profitabilitas

perusahaan, peneliti menggunakan Return On Asset (ROA) mengacu pada

penelitian Hidayanti (2013). ROA diperoleh dengan membagi net operating

profit dengan total aset.

𝑁𝑒𝑡 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡


ROA = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan riset kausal. Riset kausal merupakan riset yang memiliki tujuan

utama membuktikan hubungan sebab akibat atau hubungan mempengaruhi dan

dipengaruhui dari variabel-variabel yang diteliti (Istijanto,2009).

3.5.1 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif merupakan teknik deskriptif yang memberikan

informasi mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud untuk menguji

hipotesis. Analisis ini hanya digunakan untuk menyajikan dan menganalisis data

disertai dengan perhitungan agar bisa memperjelas keadaan atau karakteristik data

yang digunakan. Pengukuran yang digunakan dalam statistik deskriptif ini

meliputi jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean),

dan standar deviasi.


3.5.2 Uji Asumsi Klasik

Pengujian regresi linier berganda dapat dilakukan setelah model dari

penelitian ini memenuhi syarat-syarat yaitu lolos dari uji asumsi klasik. Syarat-

syarat yang harus dipenuhi adalah data tersebut harus terdistribusikan secara

normal, tidak mengandung multikoloniaritas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.

Untuk itu sebelum melakukan pengujian regresi linier berganda perlu

dilakukan lebih dahulu pengujian asumsi klasik yang terdiri dari:

3.5.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel dependen dan

independen dalam model regresi yang digunakan terdistribusi secara normal.

Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi data normal atau

mendekati normal. Pada penelitian ini akan digunakan uji Kolmogorov-Smirnov

(K-S) untuk melihat apakah data terdistribusi secara normal. Kriteria pengujian

untuk uji ini adalah:

1. Signifikansi > 0.05 maka data berdistribusi normal

2. Signifikansi < 0.05 maka data tidak terdistribusi secara normal

3.5.2.2 Uji Multikolinieritas

Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas, dapat dilihat dari nilai

tolerance dan varian inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap

variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya.

Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak

dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah
sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF =1/Tolerance). Nilai yang umum

dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance ≤ 0,10

atau sama dengan nilai VIF ≥ 1,0.

3.5.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi tersebut

terjadi heteroskedastisitas yang bertujuan untuk mengetahui terjadinya varian

yang tidak sama untuk variabel bebas yang berbeda. Model regresi yang baik

adalah jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda

(heteroskedastisitas). Untuk mengetahui adanya heteroskedastisitas adalah dengan

melihat ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik Scatter Plot dengan ketentuan:

1. Jika terdapat pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola

tertentu yang teratur maka menunjukkan telah terjadi heteroskedastisitas.

2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan

dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3.5.2.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t atau

sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada masalah autokorelasi.

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan

satu sama lain, masalah ini timbul karena ada masalah residual atau kesalahan

pengganggu tidak bebas dari suatu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering

ditemukan pada data runtun waktu atau time series karena gangguan-gangguan

pada seorang individual atau kelompok cenderung mempengaruhi gangguan


individual atau kelompok yang sama pada periode berikutnya. Pengujian terhadap

adanya fenomena autokorelasi dalam data yang dianalisis dapat dilakukan dengan

beberapa cara, salah satunya dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Metode uji

Durbin-Watson (Uji DW) memiliki ketentuan berikut ini (Santoso, 2012):

1. Jika DW lebih kecil dari -2, berarti terdapat autokorelasi.

2. Jika DW berada diantara -2 dan +2, berarti tidak terdapat autokorelasi.

3. Jika DW lebih besar dari +2, berarti terdapat negative autokorelasi.

3.5.3 Analisis Regresi dan Uji Hipotesis

3.5.3.1 Analisis Regresi

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-

faktor yang terkait dengan tindakan pajak agresif pada perusahaan barang

konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia seperti jumlah kepemilikan

institusional, jumlah komite audit, kualitas audit, corporate risk, dan

profitabilitas. Untuk mempermudah dalam pengolahan data digunakan alat bantu

SPSS 16 (Statistical Product and Service Solution).

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah multiple

regression analysis. Menurut Nugroho (2015), Analisis regresi berganda

digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel

dependen. Analisi regresi berganda adalah alat untuk meramal nilai pengaruh dua

variable atau lebih terhadap satu variable terikat, yang bertujuan untuk

membuktikan ada tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal antara dua

variable bebas
Rumus regresi linear berganda :

Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5

Y = Tindakan pajak agresif

a = Konstanta

b1 = Koefisien regresi kepemilikan institusional

X1 = Kepemilikan institusional

b2 = Koefisien regresi komite audit

X2 = Komite audit

b3 = Koefisien regresi kualitas audit

X3 = Kualitas audit

b4 = Koefisien regresi corporate risk

X4 = Corporate risk

b4 = Koefisien regresi profitabilitas

X4 = Profitabilitas

3.5.3.2 Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali,

2011). Nilai koefisien determinasi (R2) antara 0 (nol) dan 1 (satu). Jika nilai R

Square semakin mendekati nol, maka semakin kecil pengaruh semua variabel

independen terhadap variabel dependen, tetapi jika nilai R square mendekati satu

berarti variabel independen memberikan hampir semua informasi yang

dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

3.5.3.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)


Uji statistik t dilakukan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh suatu

variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel

dependen. Uji t dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai signifikansi

masing-masing variabel pada output hasil regresi menggunakan SPSS dengan

significance level 0,05 (α = 5%).

Jika nilai signifikansi lebih besar dari α maka hipotesis (Ha) ditolak

(koefisien regresi tidak signifikan), yang berarti secara individual variabel

independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel

dependen. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari α maka hipotesis (Ha) diterima

(koefisien regresi signifikan), berarti secara individual variabel independen

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

3.5.3.4 Uji Signifikansi Parameter Simultan (Uji Statistik F)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel

independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara

bersama-sama terhadap variabel dependen. Uji F dalam penelitian ini dilakukan

dengan melihat nilai signifikansi F pada output hasil regresi menggunakan SPSS

dengan significance level 0,05 (α = 5%). Jika nilai signifikansi lebih besar dari α

maka hipotesis ditolak, yang berarti semua variabel independen tidak mempunyai

pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Jika nilai signifikan

lebih kecil dari α maka hipotesis diterima, yang berarti semua variabel independen

mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.