Anda di halaman 1dari 12

KAJIAN PENYAKIT TROPIS

(MALARIA, DHF, THYPOID, FILARIASIS)

Disusun oleh

D-III Jurusan Keperawatan tk. 2.1

NI MADE WIDIADNYANI P07120015033

NI AYU SUPARMINI PUTRI P07120015034

AJIE PRATAMA P07120015035

NI KM. RISKA DESIYANI P07120015036

NI PUTU EMIK OKTAMI P07120015037

D.A ANGGAN PUJIANI P07120015038

NI PUTU NOPINDRAWATI P07120015035

GUSTI AYU YUNIARI DEVI P07120015035

JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


TAHUN 2015-2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga penulis berhasil menyelesaikan paper ini

tepat pada waktunya yang berjudul “KAJIAN PENYAKIT TROPIS”

Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu di harapkan demi kesempurnaan
paper ini.

Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan paper ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa merestui segala usaha kita. Amin.

Denpasar, 13 September 2016

penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................4
1.3 Tujuan............................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian..............……….................................................................................................5

2.1.1 Malaria, DHF, Thypoid, Filariasi...............................................................................5

2.2 Tanda dan Gejala...........................................................…….…......................……….....7

2.2.1 Malaria, DHF, Thypoid, Filariasi...............................................................................7

2.3 Pencegahan dan Pengobatan............................................................................................8

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan…….…………………………………………….....................….....…......12
3.2 Saran…………………………………………………….....................………….......12

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tropis merupakan salah satu bentuk penyakit yang sering terjadi di daerah
beriklim tropis dan subtropis. Tidak hanya di Indonesia, tapi hampir di semua negara
miskin dan berkembang, penyakit tropis ini dapat mewabah dengan cepat dan menjadi
salah satu faktor peningkat angka kematian. Untuk mengurangi angka kematian tersebut,
perlu adanya penanggulangan guna menekan penyebarluasan penyakit tropis yang
ternyata semakin lama semakin mewabah. Masyarakat pun mengharapkan adanya
organisasi-organisasi khususnya instansi pemerintah yang memberikan perhatian dengan
melakukan penelitian-penelitian dalam pemberantasan penyakit-penyakit tropis dan
mengadakan pelayanan kesehatan yang layak untuk masyarakat.
Banyak faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit tropis ini. Sebagai contohnya
adalah sanitasi yang buruk di lingkungan kumuh dan kotor. Dari hal tersebut, tidak hanya
instansi-instansi pemerintah saja yang diharapkan dapat melakukan pencegahan
penyebaran penyakit tropis, tapi masyarakat juga harus ikut serta mendukung hal ini
dengan menumbuhkan kesadaran dan kepedulian diri sendiri terhadap lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa itu Malaria, DHF, Thypoid, Filariasis?
1.2.2 Bagaimana tanda dan gejala Malaria, DHF, Thypoid, Filariasis?
1.2.3 Bagaimana pencegahan dan pengobatan Malaria, DHF, Thypoid, Filariasis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian Malaria, DHF, Thypoid, Filariasis
1.3.2 Untuk mengetahui seperti apa Tanda dan gejala Malaria, DHF, Thypoid, Filariasis
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana pencegahan dan pengobatan Malaria, DHF, Thypoid,
Filariasis

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

2.1.1 Malaria, DHF, Thypoid, Filariasis

Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang
menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual didalam darah.
Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil, anemia dan splenomegali.
penyakit menular ini sangat dominan di daerah tropis dan sub-tropis atau kawasan tropika
yang biasa namun apabila diabaikan dapat menjadi penyakit yang serius. Parasit penyebab
malaria seperti malaria jenis Plasmodium falciparum merupakan malaria tropika yang sering
menyebabkan kematian. Ia adalah suatu protozoa yang dipindahkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Anopheles betina terutama pada waktu terbit dan terbenam matahari.
Setidaknya 270 juta penduduk dunia menderita malaria dan lebih dari 2 miliar atau 42%
penduduk bumi memiliki risiko terkena malaria. WHO mencatat setiap tahunnya tidak kurang
dari 1 hingga 2 juta penduduk meninggal karena penyakit yang disebarluaskan nyamuk
Anopheles. Penyakit malaria juga dapat diakibatkan karena perubahan lingkungan sekitar
seperti adanya Pemanasan global yang terjadi saat ini mengakibatkan penyebaran penyakit
parasitik yang ditularkan melalui nyamuk dan serangga lainnya semakin mengganas.
Perubahan temperatur, kelembaban nisbi, dan curah hujan yang ekstrim mengakibatkan
nyamuk lebih sering bertelur sehingga vector sebagai penular penyakit pun bertambah dan
sebagai dampak muncul berbagai penyakit, diantaranya demam berdarah dan malaria.

DHF (Dengue Hemorrhagic Fever)

Dengue Hemorrhagic Fever Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Dengue ialah suatu
infeksi arbovirus (arthrop-borne virus) akut, ditularkan oleh nyamuk spesies Aedes (FK UI,
1985, hlm. 607). Dengue Hemorrhagic fever (DHF) atau Demam berdarah dengue adalah
penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
aedes aegypti (Nursalam, 2005). Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat
mengakibatkan kematian, terutama pada anak. Penyakit ini juga sering menimbulkan
kejadian luar biasa atau wabah.

5
Demam berdarah dengue atau DHF adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh
empat serotipe virus dengue dan ditandai dengan empat gejala klinis utama yaitu demam
yang tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi
sampai timbulnya renjatan (sindroma renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma
yang dapat menyebabkan kematian (Soe soegijanto, 2002).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam
manifestasi perdarahan, dan bertendendi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan
kematian (Mansjoer, 2005). Puncak kasus DBD terjadi pada musim hujan yaitu bulan
Desember sampai dengan Maret.
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Virus dengue
(arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (Suriadi,
2010). Menurut Aziz Alimul H. (2006) Dengue Haemorargic Fever (DHF) merupakan
penyakit yang disebabkan oleh karena virus dengue yang termasuk golongan arbovirus
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan
Demam Berdarah Dengue (DBD).
Demam berdarah dengue ialah penyakit yang terutama terdapat pada anak dengan gejala
utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama
(Soeparman, 1993).

Thypoid
Demam tifoid merupakan penyakit yang penyebaran penyakitnya melalui media
tertentu dari distribusiglobal, gejala yang paling umum yaitu sakit kepala, sakit pada bagian
abdomen, diare dan demam tinggi.Penyakit Ini adalah satu penyakit febrile yang disebabkan
oleh bakteri gram negative salmonellaenterica dan menjadi salah satu masalah kesehatan di
Negara berkembang dimana di Negara tersebutmemiliki pelayanan kesehatan yang lemah,
personal hygiene yang lemah dan serta kebersihan makananyang kurang. Ini adalah endemik
pada beberapa bagian dari Negara berkembang, pengelolaan limbahyang buruk juga dapat
menjadi factor penyebab penularan demam tifoid, karena dapat menulari makanan.

Filariasis
Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi
sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan kelenjar
limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila
tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki,

6
lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang
menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia
timori (Elmer R. Noble & Glenn A. Noble, 1989). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan
berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks. Anak
dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.

2.2 Tanda dan Gejala

2.2.1 Malaria, DHF, Thypoid, Filariasis

Malaria

Tanda-tanda yang terjadi pada penyakit malaria dimulai dengan dingin dan sering
sakit kepala. Penderita menggigil atau gemetar selama 15 menit sampai satu jam. Dingin
diikuti demam dengan suhu 40 derajat atau lebih. Penderita lemah, kulitnya kemerahan dan
menggigau. Demam berakhir setelah beberapa jam. Penderita mulai berkeringat dan suhunya
menurun. Setelah serangan itu berakhir, penderita merasa lemah tetapi keadaannya tidak
mengkhawatirkan.

DHF (Dengue Hemorrhagic Fever)

Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :

 Meningkatnya suhu tubuh 5-7 hr


 Nyeri pada otot seluruh tubuh
 Sakit kpala
 Suara serak
 Batuk
 Epistaksis
 Disuria
 Nafsu makan menurun
 Muntah
 Ptekie
 Ekimosis
 Perdarahan gusi
 Muntah darah

7
 Hematuria masih
 Melena

Thypoid

Gejala dari penyakit demam tifoid, ditandai oleh demam yang sangat tinggi, paradoxical
bradycardia,ruam yang berwarna merah, dan yang paling umum yaitu sakit kepala, sakit pada
bagian abdomen dandiare. Pasien yang menderita demam tifoid, mungkin memiliki gejala
yang kebih berat, seperti,pendarahan pada alat pencernaan, perlubangan pada bagian ileum,
penyakit otak, pancreatitis akut,perlubangan usus, gangguan pada limpa, osteomyelitis pada
tulang belakang, bisul, kelainan fungsi tubuh.

Filariasis

Gejala filariais antara lain adalah berupa :

1. Demam berulang-ulang selama 3 – 5 hari, demam dapat hilang bila beristirahat dan
muncul kembali setelah bekerja berat.
2. Pembengkakan kelenjar limfe (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak
(lymphadenitis) yang tampak kemerahan. Diikuti dengan radang saluran kelenjar
limfe yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal
lengan ke arah ujung (Retrograde lymphangitis) yang dapat pecah dan mengeluarkan
nanah serta darah.
3. Pembesaran tungkai, buah dada, dan buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan
terasa panas (Early lymphodema). Gejala klinis yang kronis berupa pembesaran yang
menetap pada tungkai, lengan, buah dada, dan buah zakar tersebut.

2.3 Pencegahan dan Pengobatan

Malaria

Pengobatan dan Pencegahan penyakit malaria memutus rantai penularan dengan


memilih mata rantai yang paling lemah. Mata rantai tersebut adalah penderita dan nyamuk
malaria. Seluruh penderita yang memiliki tanda-tanda malaria diberi pengobatan pendahuluan

8
dengan tujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan mencegah penularan selama 10 hari. Bagi
penderita yang dinyatakan positif menderita malaria setelah diuji di laboratorium, akan diberi
pengobatan secara sempurna. Bagi orang-orang yang akan masuk ke daerah endemis malaria
seperti para calon transmigran, perlu diberi obat pencegahan.

Obat- obat antimalaria diantaranya :

1. Klorokuin
Klorokuin adalah bentuk sintetik 4-aminokuinolin, diproduksi dalam bentuk garam
fosfat untuk pemberian secara oral. Ekskresi klorokuin melalui urin dengan mas
paruh 3-5 hari, namun waktu paruh eliminasi terminal mencapai 1-2 bulan. Klorokuin
bersifat skizontosida darah yang sangat efektif untuk semua jenis plasmodium pafa
manusia dan gametosida terhadap P.vivax, P.ovale dan P.malariae. Mekanisme kerja
klorokuin adalah menghambat polimerisasi produk sisa hemoglobin (heme) menjadi
hemozoin di dalam vakuol pencernaan parasit sehingga menghilangkan toksisitas
parasit karena pembentukan heme bebas.
2. Kina dan Kuinidin
Kina mulai dipakai sebagai OAM sejak tahun 1632. Obat ini merupakan alkaloid
kinkona yang dibuat dari ekstrak pohon kinkona di Amerika Selatan. Kuinidin adalah
dekstrorotatori stereoisomer dari kina. Mekanisme kerja kina sebagai OAM belum
sepenuhnya dipahami, diduga menghambat detoksifikasi heme parasit dalam vakuola
makanan.
3. Proguanil
Proguanil adalah suatu biguanid yang dimetabolisme dalam tubuh (melalui enzim
CYP2C19) menjadi bentuk aktif sikloguanil. Sikloguanil menghambat pembentukan
asam folat dan asam nukleat, bersifat skizontosida darah yang bekera lambat,
skizontosida jaringan terhadap P.falcifarum, P.vivax, P.ovale, dan sporontosida.

DHF (Dengue Hemorrhagic Fever)

Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan Demam Berdarah. Maka, hal yang dapat
dilakukan untuk membantu kesembuhan orang yang terkena penyakit ini adalah:

 Berikan obat penurun panas atau parasetamol.

9
 Kompres agar panas tidak terlalu tinggi. Kompres sebaiknya dilakukan dengan air
hangat, bukan dengan air dingin atau es. Air dingin dapat menyebabkan penderita
menggigil sehingga tubuh menjadi panas.
 Minum air putih yang banyak. Penderita DBD biasanya akan kekurangan cairan,
maka air putih sangat baik untuk mereka. Air putih juga dapat membantu menurunkan
panas. Selain air putih, bisa juga berikan cairan oralit untuk membantu penyembuhan.
 Makanan yang bergizi. Sebenarnya tidak ada pantangan makanan untuk penderita
DBD. Berikan makan bergizi agar tubuh menjadi kuat dan dapat melawan virus DBD.
Buah-buahan dan sayuran dapat sangat bermanfaat untuk pemulihan.
 Minum air daun jambu dan angkak dapat membantu menaikkan trombosit.

Perawatan bisa dilakukan di rumah jika kondisi penderita tidak buruk dan diperbolehkan oleh
dokter. Tetapi, butuh ketelitian dalam merawatnya. Anda juga harus terus berkonsultasi
dengan dokter dan melakukan periksa darah setiap hari untuk mengetahui kondisinya.
Dirawat di rumah sakit dapat menjadi pilihan jika Anda merasa hal itu lebih aman karena
tindakan medis bisa segara diambil jika kondisi pasien menurun juga dimungkinkan
diberikan infus untuk menambah cairan pasien.

Hal-hal yang membahayakan dari penyakit DBD karena infeksi virus ini dapat menyebabkan
trombosit darah turun menjadi sangat rendah. Yang kemudian akan menyebabkan pembuluh
darah menjadi kempis, cairan bocor sehingga darah masuk ke rongga-rongga tubuh dan
menyebabkan pendarahan pada telinga, hidung, atau kulit yang dapat mengakibatkan
kematian.

Thypoid

Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (2006), ada 3 strategi pokok untuk memutuskan
transmisi thypoid yaitu:
 Identifikasi dan eradikasi Salmonella thypii baik pada kasus demam thypoid
maupun pada kasus carrier thypoid.
 Pencegahan transmisi langsung dari pasien terinfeksi Salmonella thypii akut
maupun carrier.
 Proteksi pada orang yang beresiko terinfeksi.

10
Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari
toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu
mentah (yang belum dipasteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih
dan hindari makanan pedas karena akan memperberat kerja usus dan pemberian vaksin.

Filariasis

Penyakit kaki gajah atau penyakit filariasis adalah penyakit menular menahun yang
disebabkan infreksi cacing filaria, ditularkan oleh gigitan berbagai jenis nyamuk seperti
anopheles culex aedes mansoniaan, opheles, aedes dan sebagainya.. Akibat dari penyakit kaki
gajah ini bila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat dapat menimbulkan cacat menetap.

Untuk mengobati penyakit kaki gajah, penderita harus meminum obat sesuai dosis lewat
petunjuk dokter atau dinas kesehatan. Biasanya obat untuk mengatasi penyakit kaki gajah
terdiri dari obat cacing utk membasmi cacing di dalam usus, obat cacing utk membasmi
cacing yg ada dlm peredaran darah, serta paracetamol. Namun tidak semua penderita
diberikan obat yang sama, karena pemberian obat kaki gajah disesuaikan dengan usia
maupun latar belakang dari penderita penyakit kaki gajah.

Bagaimanapun juga mencegah terjadinya penyakit lebih baik dari pada mengobatinya.
Adapun cara untuk mencegah penyakit kaki gajah antara lain :

 Membasmi penyebar penyakit kaki gajah, dengan cara penyemprotan nyamuk di


sekitar tempat tinggal kita.
 Gunakan anti nyamuk seperti pemakaian obat nyamuk semprot, bakar, lotion anti
nyamuk dan sebagainya.
 Memakai kelambu pada saat tidur juga dapat mencegah gigitan nyamuk.
 Menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk.
 Membersihkan pekarangan dan lingkungan di sekitar rumah.
 Mencegah berkembangkanya nyamuk, dengan cara menguras penampungan air yang
menjadi tempat berkembangkanya nyamuk.

Dengan melakukan hal-hal tersebut maka kita telah berusaha mengurangi resiko terjangkitnya
penyakit kaki gajah maupun penyakit-penyakit lain yang juga bisa ditularkan oleh nyamuk.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Banyak faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit tropis ini. Sebagai contohnya
adalah sanitasi yang buruk di lingkungan kumuh dan kotor. Dari hal tersebut, tidak hanya
instansi-instansi pemerintah saja yang diharapkan dapat melakukan pencegahan
penyebaran penyakit tropis, tapi masyarakat juga harus ikut serta mendukung hal ini
dengan menumbuhkan kesadaran dan kepedulian diri sendiri terhadap lingkungan.

3.2 Saran

a) Dalam menyusun makalh sebaiknya menggunakan banyak referensi agar dapat


menghasilkan tugas yang lengkap dan maksimal

b) Dalam menyelesaikan tugas kelompok sebaiknya di biutuhkan kekompakan dari


masing-masing anggota kelompok , agar tugas dapat terselesaikan dengan mudah.

12