Anda di halaman 1dari 17

PERTANYAAN SELF ESTEEM

1. Apa yang anda lakukan jika atasan anda men-judge anda kurang bisa melakukan perintah yang diberikan
tanpa dia tau nilai-nilai positif yang ada pada diri anda?

Buat daftar point nilai–nilai positif pada diri kita


Karena melalui nilai – nilai positif yang kita punya dapat membangun kepercayaan diri dan membuat
semangat hidup. Buatlah keyakinan “saya bisa” karena akan membuat kita fokus pada kekuatan yang kita
miliki. Hal ini sebagai modal kita untuk melangkah lebih maju.

2. Bagaimana sikap anda bila orang-orang dilingkungan kerja anda mengatakan hal-hal negative tentang
diri anda?

Jangan selalu dengarkan orang


Jangan pernah ambil pusing akan omongan orang tentang diri kita yang tidak konstrutif, kecuali memberikan
input yang membangun diri kita lebih baik, tidak semua orang mengenal dan mengerti akan kepribadian kita.

3. Apa yang anda lakukan jika anda ragu dengan kemampuan yang anda miliki?

Lihat apa yang kita senangi


Buat daftar apa yang ingin kita capai dan apa yang ingin kita lakukan. Tancapkan nilai – nilai keberanian dan
keyakinan bahwa dengan kemampuan yang kita miliki, kita bisa meraih itu semua.

4. Bagaimana cara meningkatkan self esteem kita?

Berteman dengan orang optimistis


Support diri kita dengan orang-orang yang punya sikap otimis dan sikap positif dalam kehidupan. Berteman
dan bergaul dengan mereka akan mendatangkan sikap serupa sehingga self-esteem kita pun meningkat.

Bagaimana cara anda untuk meningkatkan semangat untuk tetap menjaga self esteem anda?

Bersyukur
Ingat pepatah Attitude of Gratitude .Bersyukur merupakan cara yang sangat sederhana tapi pemaknaannya
sangat dalam. Yaitu mensyukuri hal yang kita punya dengan apa yang kita miliki sekarang contoh simpelnya
kehangatan keluarga, karena dengan bersyukur kita akan merasa orang yang paling beruntung di dunia ini.

PERTANYAAN EFIKASI
Point-point apa saja yang akan menunjang efikasi diri kita dalam dunia kerja?

perasaan yakin atas kemapuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam
tindakan-tindakannya, dapat merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang disukainya dan bertanggung jawab
atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, dapat menerima dan
menghargai orang lain, memiliki dorongan untuk berprestasi serta mengenal kelebihan dan kekurangannya.

Apa yang menjadi sumber utama dalam mekanisme pembentukan efikasi diri seorang individuu?

1. Pengalaman-Pengalaman tentang Penguasaan. Sumber paling berpengaruh bagi self-efficacy adalah


pengalaman-pengalaman tentang penguasaan (mastery experiences), yaitu performa-performa yang sudah
dilakukan di masa lalu (Bandura, 1997).

2. Pemodelan Sosial. Yaitu pengalaman-pengalaman tak terduga (vicarious experiences) yang disediakan
orang lain.

3. Persuasi Sosial. Self-efficacy dapat juga diraih atau dilemahkan lewat persuasi social. Efek-efek dari
sumber ini agak terbatas namun, dalam kondisi yang tepat, persuasi orang lain dapat meningkatkan atau
menurunkan self-efficacy.

4. Kondisi Fisik dan Emosi. Emosi yang kuat biasanya menurunkan tingkat performa. Ketika mengalami rasa
takut yang besar, kecemasan yang kuat dan tingkat stres yang tinggi, manusia memiliki ekspektansi self-
efficacy yang rendah.

Bagaimana cara anda untuk membangkitkan efikasi diri anda sedang menghadapi masalah?

Yakinkan diri anda bahwa diri anda bisa mengatasi masalah anda dengan cara jangan menganggap sebuah
masalah rumit, semua masalah pasti ada penyelesaian atau jalan keluarnya, hanya saja caranya berbeda-
beda. Pikirkan penyelesaiannya jangan pikirkan masalahnya.

Apa dampak yang anda rasakan setelah meningkatkan efikasi diri anda?

Mempunyai motivasi yang lebih, berprilaku yang lebih baik dalam menyikapi masalah, bertahan dan
bersabar dalam menghadapi masalah, mempunyai keyakinan tinggi bahwa “saya bisa!”.

Apakah penting bagi kita untuk mempunyai sifat efikasi? Mengapa?

Penting, karena efikasi diri adalah suatu kenyataan seseorang mengenai kemampuannya untuk melakukan
tugas-tugas tertentu yang spesifik.

Bagaimana watak saya sebenarnya?

Apa yang membuat saya bahagia dan sedih?

Apa yang sangat mencemaskan saya?


Bagaimana orang lain memandang saya?

Apakah mereka menghargai atau merendahkan saya?

Apakah mereka membenci atau menyukai saya?

Bagiamana pandangan saya tentang penampilan saya?

Apakah saya orang yang menarik atau jelek?

Apakah tubuh saya kuat atu lemah?

Jawaban pada tiga pertanyaan pertama adalah persepsi psikologis tentang diri Anda. Jawaban pada tiga
pertanyaan berikutnya adalah persepsi social. Jawaban pada tiga pertanyaan terakhir adalah persepsi fisis
tentang diri Anda. Dengan demikian, konsep diri bukan sekedar gambaran deskriptif tentang diri, tetapi juga
penilaian tentang diri Anda.

B. SUMBER-SUMBER KONSEP DIRI

1. Self-Esteem

Self-esteem (harga diri) adalah penilaian, baik positif atau negative, individu terhadap diri sendiri. Tingginya
self-esteem merujuk pada tingginya estimasi individu atas nilai, kemampuan, dan kepercayaan yang
dimilikinya. Sedangakan self-esteem yang rendah melibatkan penilaian yang buruk akan pengalaman masa
lalu dan pengharapan yang rendah bagi pencapaian masa depan.

Orang dengan self-esteem tinggi memiliki sikap positif terhadap dirinya. Mereka merasa puas dan
menghargai diri sendiri, yakin bahwa mereka mempunyai sejumlah kualitas baik, dan hal-halyang patut
dibanggakan. Self –esteem mempengaruhi perilaku komunikasi seseorang. Orang dengan self-esteem tinggi
akan lebih lentur dalam menaggapi situasi yang dihadapi meskipun itu situasi yang sulit karena mereka
mampu menerima diri sendiri apa adanya, daripada orang dengan self-esteem rendah.

Harga diri merupakan salah satu komponen konsep diri. Konsep diri mempunyai dua komponen; komponen
kognitif dan komponen afektif (Rakhmat,2003). Bisa jadi komponen kognitif berupa, “saya ini bodoh” dan
komponen afektif berupa, “saya senang saya bodoh, ini lebih baik bagi saya”. Bisa jadi komponen kognitifnya
sama, tetapi komponen afektifnya, ”saya malu sekali karena saya bodoh”. Komponen afektif inilah disebut
harga diri. Adapun komponen kognitif disebut self-image (citra diri).

2. Social Evaluation (Penilaian Sosial)


Kebanyakan informasi tentang diri sendiri tidak kita dapatkan dari perenungan atau refleksi diri, melainkan
dari orang lain. Keyakinan Anda tentang pendapat orang lain terhadap Anda akan mempengaruhi perilaku
dan keinginan Anda untuk berubah atu tidak.
Proses evaluasi social ini termasuk di dalamnya Reflected appraisal (pantulan penilaian) atau direct feedback
(umpan balik langsung) Apakah itu?

a. Reflected appraisal

Bagaimana orang lain memandang Anda? Bagaimana Anda hadir atau tampil di hadapan orang sangat
mungkin berdasarkan pertimbangan dari tindakan dan perkataan orang tersebut terhadap Anda. Dalam
banyak hal, pendapat kita tentang diri sendiri adalah cermin (refleksi atau pantulan) dari penilaian nyata
orang lain terhadap kita. Pendapat yang dilontarkan orang ini kemudian berpindah menjadi pendapat kita.
Perpindahan ini terjadi dengan mudah, dari “orang lain mengatakan bahwa saya bukan pendengar yang
baik”, ke “Saya bukan pendengar yang baik”. Dengan menyimpulkan pendapat orang lain tentang Anda dan
kemudian memakai pendapat tersebut sebagai pendapat Anda sendiri maka Anda memantulkan penilaian
orang lain itu. Pantulan penilaian yang Anda lakukan tersebut kemudian masuk dalam self-concept Anda.

b. Direct feedback

Ketika orang lain -terutama significant others, seperti orang tua dan teman-teman dekat- menyatakan
penilaiannya kepada kita maka kita menerima feedback (umpan balik) tentang kualitas dan kemampuan kita.
Umpan balik langsung (direct feedback) ini lebih jarang terjadi dibanding reflected appraisals, tetapi
merupakan sumber penting bagi self-concept seseorang
Beberapa teori kepribadian menunjuk pentingnya umpan balik langsung (direct feedback) bagi aktualisasi
diri (self-actualization), yaitu perkembangan terhadap peningkatan kemampuan seseorang. Contoh, ketika
Anda kecil, orang tua Anda mungkin berulang kali mengatakan “Kami sangat bangga jika Kamu bisa
melakukan yang terbaik di sekolah”. Jika demikian maka Anda mengembangkan self-concept yang
rnudah karena Anda merasa cinta atau penghargaan dari orang lain memiliki syarat, yaitu bergantung pada
perilaku Anda. Berdasarkan teori kepribadian humanistic, kemungiann besar anda akan menjadi orang
dewasa yang bahagia dan sehat jika anda menerima direct feedback atau penghargaan secara positif oleh
orang lain tanpa syarat bahwa cinta untuk Anda tidak bergantung pada perilaku tertentu anda.

C. TEORI-TEORI KONSEP DIRI

1. Social Comparison (Pembandingan social)


Menurut ahli psikologi social modern, Leon Festinger, social comparison theory membantu menjelaskan
berbagai macam fenomena, termasuk keyakinan social, perubahan sikap, dan komunikasi kelompok.

Social comparison theory ini dibangun atas empat prinsip dasar, yakni berikut ini:

a. Setiap orang memiliki keyakinan tertentu.


b. Penting bagi keyakinan kita untuk menjadi benar.
c. Beberapa keyakinan lebih sulit untuk dibuktikan dibanding yang lainnya. Hal-hal yang tidak bisa
dibuktikan secara objektif mungkin dibuktikan secara subjektif melalui pembuktian bersama (membuat
orang lain setuju).
d. Ketika anggota dari kelompok rujukan (refrence group) saling tidak setuju tentang suatu hal, mereka akan
berkomunikasi hingga konflik tersebut terselesaikan.

2. Persepsi diri (Self-Perception)

a. Self-Attribution (Atribusi Diri)

Penelitian pada ekspresi emosi menguatkan penjelasan self-attribution ini. Dengan “memalsukan” emosi-
marah-seseorang bisa membuat “tampak” nyata, suatu keadaan yang benar-benar dirasakan. Teori self-
perception menjelakan bahwa ketika kita mencoba memahami bagaimana perasaan kita, kita melihatnya
pada wajah kita:”saya tadi tersenyum, jadi saya menyangka tadi saya senang.”

b. Overjustification (Pembenaran yang Berlebih)

Proses self-perception bekerja dengan menyimpulkan maksud dan tujuan kita. Contoh: kita tahu bahwa
seseorang dibayar mahal untuk suatu pekerjaan yang sulit. Ini mendorong kita untuk berkesimpulan bahwa
uang –sebagai tujuan ekstrinsik- adalah motivasi utamanya.

D. HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KOMUNIKASI

Konsep diri merupakan factor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal karena setiap orang
bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya (Rakhmat,2003).

Brook dan Emmert (dalam Rakhmat, 2003) menyebutkan ada lima ciri orang yang memiliki konsep diri positif
:

1. Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.


2. Ia merasa setara dengan orang lain.
3. Ia menerima pujia tanpa rasa malu.
4. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak
seluruhnya disetujui masyarakat.
5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena mengungkapkan kepribadian yang tidak disenanginya dan
berusaha mengubahnya.

ontoh Kalimat Pertanyaan Pada Pengkajian Konsep Diri

- Identitas diri

1. Bagaimana anda menggambarkan karakteristik anda?

2. Bagaimana orang lain menggambarkan diri anda?

3. Apa yang disukai dalam diri anda?

4. Apa yang anda kerjakan dengan baik?

5. Apa saja kekuatan, bakat dan kemampuan anda?

6. Apa yang anda ingin ubah pada diri anda dan jika anda bisa mengubahnya yang sangat mengganggu
anda jika anda berpikir seseorang tidak menyukai anda?

- Gambaran diri/citra diri

7. Bagaimana Anda memandang diri Anda?

8. Bagaimana Anda memandang orang lain disekitar Anda?

9. Bagaimana orang lain memandang diri Anda?

10. Bagaimana orang lain bersikap terhadap diri Anda?

11. Apakah anda nyaman dengan keadaan Anda saat ini?

12. Apakah anda mensyukuri keadaan anda saat ini?

13. Apakah anda merasa nyaman apabila mendiskusikan mengenai pengobatan yang sedang anda jalani?

14. Apakah anda merasa berbeda atau inferior terhadap orang lain?

15. Bagaimana perasaan anda mengenai penampilan anda?

16. Perubahan seperti apa yang anda harapkan terjadi pada tubuh anda setelah menjalani pengobatan?

17. Bagaimana orang terdekat anda bereaksi terhadap perubahan pada tubuh anda?

- Harga diri
18. Apakah anda sudah merasa puas dengan hidup anda?

19. Apakah yang anda rasakan mengenai diri sendiri?

20. Bagaimana cara anda menyikapi tanggapan orang lain tentang kekurangan yang ada pada diri Anda?

21. Bagaimana cara anda menyikapi tanggapan orang lain mengenai keburukan yang belum tentu ada pada
diri Anda?

- Peran atau perilaku

22. Apakah anda bersedia untuk menceritakan mengenai keluarga anda?

23. Bagaimana hubungan anda dengan orang terdekat?

24. Apa tanggung jawab anda dalam keluarga?

25. Apa tanggung jawab anda dengan lingkungan sekitar?

26. Peran atau tanggung jawab yang ingin anda ubah?

27. Apakah anda bangga akan anggota keluarga anda?

28. Apakah anda bangga dengan lingkungan pekerjaan anda?

- Ideal diri

29. Apakah anda mendapat apa yang diinginkan?

30. Tujuan apa dalam hidup anda yang penting?

31. Apakah anda bangga dengan pekerjaan anda?

32. Apakah anda sudah puas dengan pencapaian anda?

Hamachek (dalam Rakhmat,2003) menyebutkan ada sebelas karakteristik orang yang memiliki konsep diri
positif:
1. Ia meyakini betul-betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya,
walupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat.
Namun, ia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu apabila pengalaman dan
bukti-bukti baru menunjukan bahwa ia salah.

2. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan atau
menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.
3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang
telah terjadi di waktu lalu, dan apa yang telah terjadi di waktu yang lalu,dan apa yang sedang terjadi di waktu
sekarang

4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuan untuk mengatasi persoalan. Bahkan ketika ia menghadapi
kegagalan atau kemunduran.

5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat
perbedaan dalam kemampuan tertentu , latar belakang keluarga, atu sikap orang lain terhadapnya.

Adapun orang yang memiliki konsep diri negative adalah mereka yang memiliki ciri-ciri:

1. Peka terhadap kritik; artinya ia tidak tahan menerima kritik, mudah marah dan naik pitam. Baginya,
koreksi dari orang lain sering kali dianggap sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya.

2. Sangat responsive dan antusias terhadap pujian. Baginya, segala hal yang menunjang harga dirinya
menjadi pusat perhatiannya.

3. Hiperkrtis terhadap orang lain. Sikap ini dikembangkan sejalan dengan sikap kedua tadi; di satu pihak ia
selalu ingin dipuji, tetapidi pihak lain ia tidak sanggup mengungkap penghargaan atau pengakuan akan
kelebihan orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun atau siapapun.

4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tak diperhatikan. Ia tidak mempermasalahkan
dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari system social yang tidak beres. Ia menganggap
orang lain sebagai musuh hingga tak dapat melahirkan kehangatan dalam berhubungan dengan orang lain.

Dari konsep diri yang positif akan lahir pola perilaku komunikasi interpersonal yang positif pula, yakni
melakukan persepsi yang lebih cermat dan mengungkapkan petunjuk-petunjuk yang membuat orang lain
menafsirkan kita dengan lebih cermat pula. Orang yang memiliki konsep diri positif adalah orang menurut
istilah Sidney M. Jourard “tembus pandang” (transparent, yakni terbuka terhadap orang lain, Rakhmat,2003).

KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI

A. PENGERTIAN KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI DAN PENGEMBANGAN DIRI

1. Self-awareness (Kesadaran Diri)

Self-awareness (kesadaran diri) merupakan perhatian sesorang yang terfokus pada diri sendiri, perasaannya,
nilai, maksud, dan/atau evaluasi dari orang lain.

2. Self-Schemata (Skema Diri)


Skemata merupakan kategorisasi gagasan mengenai stimuli yang dikembangkan oleh diri sendiri. Oleh
karena itu, self-schemata adalah seperangkat susunan self-generalizations (hal-hal yang umum) dari diri
seseorang, yang didapat dari penilaian yang dilakukan sendiri atau orang lain. Self-schemata mempengaruhi
bagaimana Anda memperhatikan atau mengingat informasi dan kesempatan tentang diri sendiri. Contoh:
self-schemata Anda meliputi “fisik yang tidak kuat”. Oleh karenanya Anda akan memikirkan skema ini
sebelum mnyetujui bergabung dengan sebuah klub olahraga. Self-schemata mungkin akan membatasi kita,
tetapi merupakan suatu hal yang bersifat dinamis, dapatberubah seiring perkembangan informasi dan
pengalaman kita.

B. SELF-MOTIVATION (MOTIVASI DIRI)

1. Self-Consistency (konsistensi Diri)

a. insufficient justification

ketika seseorang berbuat sesuatu yang tidak mendapat pembenaran, mugkin dia akan membangun
rasionaliatas –self-justification- untuk memulihkan self-consistency dirinya. Misalnya, Anda menghabiskan
banyak uang untuk sebuah mobil yang sangat menarik perhatian Anda, tetapi tidak begitu disukai orang.
Anda mungkin beralasan untuk diri sendiri maupun orang lain bahwa mobil itu merupakan investasi besar
dan mempunyai nilai jual. Anda mungkin yakin akan hal ini, tapi alasan itu hanya untuk membenarkan uang
yang telah dihabiskan.

b. Decision-Making (pembuatan Keputusan)

Self-justification juga dibuat dengan cepat setelah seseorang membuat suatu keputusan yang sulit.
Contohnya , seseorang harus memutuskan kuliah apa yang harus ia hadiri dari dua pilihan kuliah. Keduanya
merupakan kuliah yang penting, tetapi ia tetap harus memutuskan. Setelah memutuskan suatu pilihan,
mungkin ia akan melihat beberapa masalah atau kekurangan pada kuliah yang tidak dipilih, dan menemukan
manfaat/keuntungan atas pilihan yang ia buat. Alasan yang muncul setelah keputusan tersebut merupakan
pembenaran atas pilihan yang telah diputuskan saat itu, yang singkat dan sulit.

2. Self-Enchancement (Peningkatan Diri)

Self-motivation yang besar adalah perlindungan dan pertahanan akan self-esteem (harga diri). Dikatakan
bahwa banyak orang yang menderita karena self-esteem yang rendah. Teori kepribadian humanistic
(humanistic personality theories) menyebutkan bahayanya evaluasi negative atas diri seseorang. Beberapa
kecenderunagan self-enchacement terjadi melalui proses yang telah disebutkan, seperti donward
comparisons, meyakinkan diri atas kelebihannya dari orang lain atau self-justifiction, untuk
merasionalisasikan perilaku yang bertentangan dengan diri.

Diluar itu ada bentuk-bentuk lain self-enchacement, yaitu self-serving processes dan self-presentation
processes.

a. Self-serving processes

Proses ini umumnya melibatkan tiga bentuk kognisi social yang diaplikasikan pada perlindungan terhadap
self-esteem, yaitu:

1) Egocentric Bias (Bias Egosentris)

Egosentris atau pemusatan diri (self-conteredness) bisa membuat pengolahan dan pengingatan informasi
menjadi bias. Ketika terpengaruh oleh bias egosentris, seseorang mengingat dengan lebih baik informasi
yang relevan baginya. Salah satu bentuk bias egosentris dalam suatu hubungan adalah mnyatakan kontribusi
dirinya lebih banyak dibanding yang lain.

2) False Comparison Effects (Efek Perbandingan Palsu)

Seperti telah di jelaskan, social comparison penting bagi perkembangan self-concept seseorang. Social
comparison menimbulkan efek bagi penilalian dari perilaku positif atau negative seseorang. Misalnya, Anda
telah melakukan sesutau yang baik dan patut di puji. Mungkin Anda memperkuat pendapat Anda sendiri
dengan menyimpulkan bahwa hanya sedikit orang yang akan bertindak sama seperti Anda. Proses self-
serving ini disebut dengan false-uniqueness effect (efek keunikan palsu). Akan tetapi, apabila Anda
melakukan sesuatu yang buruk dan patut disalahkan, Anda mungkin meyakinkan diri bahwa orang lain pasti
akan berbuat sama dalam kondisi yang sama pula. Ini disebut dengan false-consesus effect (efek konsesus
palsu). Kedua hal tersebut merupakan bias-bias egosentris, yang dimotivasi oleh self-enchancement.

3) Beneffectance

Proses self-serving yang lain terjadi ketika mengambil kesimpulan tentang diri dari tindakan yang kita
lakukan. Kecenderungan untuk mengedepankan hal-hal baik dari kesuksesan kita dan menjauhkan kegagalan
kita disebut dengan beneffectance. Benefectance adalah bias dalam atribusi. Misalnya , Anda kecewa
menonton tim sepak bola favorit Anda yang bermain buruk sehingga kalah. Kemudian, Anda mingkin akan
terkejut membaca dimedia massa para pemain mengatakan bahwa penampilan yang buruk disebabkan oleh
keadaan cuaca yang tidak bersahabat. Pada contoh ini, sudut pandang Anda sebagai pengamat lebih objektif,
sedangkan sudut pandang para pemain sepak bola di penuhi dengan beneffectancd.
b. Self-Presentation (Penyajian Diri)

Banyak kognisi diri dimotivasi oleh perhatian terhadap penyajian diri (self-presentation). Terdapat tiga
proses self-presentation:

1) Impression management

Dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain, kita bukan hanya menyampaikan atau menerima
pesan, tetapi juga melakukan pengolahan kesan (impression management). Konsep ini datang dari sosiolog
Erving Goffman. Ia mengatakan bahwa seseorang “tampil” di hadapan orang lain untuk mendapatkan kesan
tertentu. Manusia secara sengaja menampilkan diri (self-presentation) seperti yang ia kehendaki. Peralatan
lengkap yang ia gunakan untuk menampilkan diri ini disebut front. Front terdiri dari panggung (setting),
penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner).

2) Social accounting

Ketika kita berhadapan dengan orang lain, bahkan dengan yang tidak kita kenal, kita merasa ada tekanan
yang membuat kita bertindak semestinya. Mengapa demikian? Orang asing tidak kenal kita dan tidak tahu
bagimananya kita , maka kita terlibat dalam

apa yang disebut social accounting untuk meyakinkan mereka. Salah satu bentuk social accounting adalah
mimic muka, termasuk terlihat malu ketika kita terlibat dalam kesalahan atau tersenyum ketika melakukan
kontak mata dengan orang lain. Bentuk lainnya adalah membuat excuses (alasan). Ini meliputi alsan
sebenarnya (“Maaf saya tidak dengar, tolong diulangi”) dan alasan yang dibuat. Misalnya, Anda terlambat
hadir di sebuah pesta , jika Anda mengatakan alasan sebenarnya mungkin akan melukai perasaan si
empunya acara, oleh karenanya Anda berkata, “Saya minta maaf datang terlambat, tadi saya belok kearah
yang salah”.

3) Self-Monitoring (Pengawasan Diri)

Self-monitoring yaitu pengawasan terhadap tindakan kita guna mencapai tujuan tertentu. Melalui
pengawasan ini kita melakukan penyesuaian-penyesuaian atas tindakan-tindakan yang dilakukan atau
hendak dilakukan. Ahli psikologi social menyebutkan dimensi ini dapat menyebabkan orang terlihat berbeda
. Pada suatu keadaan, seseorang akan mempunyai self-monitoring yang tinggi terhadap situasi sosialnya dan
berperilaku selayaknya. Ini disebut dengan high self-monitoring. High self-monitoring memberi perhatian
lebih pada orang lain, melihat dan menaggapi orang lain untuk menyenangkan mereka. Mereka mengatakan
hal-hal yang mereka pikir orang lain mau dengar atau memberi pendapat untuk menyenangkan orang lain.
Sebaliknya, orang dengan low self-monitoring berperilaku konsisten pada situasi apapun, yaitu dengan
mempertahankan nilai-nilai mereka, dan mengarahkan perilaku dengna prinsip yang dimiliki, bukna karena
alasan pragmatis.
Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang benar.
1. Saya mampu tertawa dan melihat segala sesuatunya dari sisi yang
menyenangkan
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
Universita Sumatera Utara

Page 9
d. Tidak pernah
2. Saya berfikir maju dan menikmati sesuatu yang ada
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak pernah
3. Saya menyalahkan diri sendiri saat segala sesuatunya berjalan tidak
semestinya walaupun sebenarnya saya tidak perlu melakukan hal itu
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak pernah
4. Saya cemas tanpa sebab yang jelas
a. Tidak Pernah
b. Jarang
c. Kadang-kadang
d. Sering
5. Saya merasa takut dan panic tanpa alas an yang jelas
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak pernah
6. Banyak hal yang mengganggu pikiran saya
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak pernah
7. Saya merasa saya sangat tidak bahagia/tidak gembira sehingga saya sulit
untuk tidur
Universita Sumatera Utara

Page 10
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak pernah
8. Saya merasa sedih atau sengsara
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak pernah
9. Saya tidak bahagia sehingga saya menangis
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak pernah
10. Saya berfikir untuk melukai diri sendiri
a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Jarang
d. Tidak

SELAMAT BEKERJA 1.

a. Saya tidak merasa sedih.

b. Saya kadang-kadang merasa sedih.

c. Sepanjang waktu saya sedih dan tidak bisa menghilangkan perasaan itu.

d. Saya sangat sedih / tidak bahagia sehingga saya tidak tahan lagi rasanya.

2.

a. Saya tidak terlalu berkecil hati mengenai masa depan.

b. Saya merasa kecil hati dengan masa depan.

c. Saya merasa bahwa saya tidak memiliki sesuatu yang bisa memberikan harapan.

d. Saya merasa bahwa masa depan saya tanpa harapan dan bahwa semuanya tidak dapat menjadi lebih baik.
3.

a. Saya tidak menganggap diri saya sebagai orang yang gagal.

b. Saya merasa bahwa kegagalan saya lebih banyak daripada orang lain.

c. Jika saya mengingat masa lalu, maka yang terlihat oleh saya hanyalah kegagalan.

d. Saya merasa bahwa saya adalah orang yang gagal total.


4.

a. Saya tetap memperoleh kepuasan dari hal-hal yang biasa saya lakukan.

b. Saya tidak bisa lagi menikmati berbagai hal yang pernah saya rasakan dulu.

c. Saya tidak lagi memperoleh kepuasan sejati dalam beberapa hal.

d. Saya tidak puas / merasa bosan dengan semua yang saya hadapi.

5.

a. Saya tidak terlalu merasa bersalah.

b. Saya kadang-kadang merasa bersalah.

c. Saya agak merasa bersalah di sebagian besar waktu saya.

d. Saya merasa bersalah sepanjang waktu.

6.

a. Saya tidak merasa seolah saya sedang dihukum.

b. Saya merasa mungkin saya sedang dihukum.

c. Saya berfikir saya akan dihukum.

d. Saya merasa bahwa memang saya sedang dihukum.

7.

a. Saya tidak merasa kecewa dengan diri saya sendiri.

b. Saya agak kecewa dengan diri saya sendiri.

c. Saya muak terhadap diri saya sendiri.

d. Saya membenci diri saya sendiri.

8.

a. Saya tidak merasa lebih buruk dari orang lain.

b. Saya mengecam diri saya sendiri karena kelemahan / kesalahan saya.

c. Saya menyalahkan diri saya sepanjang waktu karena kesalahan - kesalahan saya.

d. Saya menyalahkan diri saya untuk semua hal-hal buruk yang terjadi.

9.

a. Saya tidak punya pikiran sedikitpun untuk bunuh diri.


b. Saya kadang-kadang mempunyai pikiran untuk bunuh diri.

c. Saya ingin bunuh diri.

d. Saya akan bunuh diri jika ada kesempatan.

10. a. Saya tidak lebih banyak menangis dibandingkan dengan biasanya.

b. Saya sekarang lebih banyak menangis daripada biasanya.

c. Saya selalu menagis sekarang ini karena saya tidak bisa menahannya.

d Saya biasanya suka menangis tapi sekarang ini saya sama sekali tidak bisa menangis walaupun ingin.

11.

a. Saya tidak bisa merasa tersinggung dibandingkan biasanya.

b. Saya menjadi lebih mudah kesal dan tersinggung dibandingkan biasanya.

c. Saya merasa kesal dan gampang marah sepanjang waktu.

d. Saya sama sekali tidak tersinggung terhadap hal-hal yang biasanya menyinggung saya.

12.

a. Saya tidak kehilangan minat terhadap orang lain.

b. Saya sekarang kurang berminat terhadap orang lain dibandingkan biasanya.

c. Saya banyak kehilangan minat terhadap orang lain dan hanya sedikit saja memperhatikan mereka.

d. Saya kehilangan seluruh minat saya terhadap orang lain dan tidak peduli terhadap mereka.

13.

a. Saya membuat keputusan sebaik biasanya.

b. Saya mencoba menunda-nunda keputusan saya.

c. Saya merasa sangat susah membuat keputusan.

d. Saya sama sekali tidak bisa lagi membuat keputusan.

14.

a. Saya tidak kelihatan lebih buruk dibandingkan biasanya.

b. Saya merasa khwatir bahwa saya kelihatan lebih tua atau tidak menarik lagi.

c. Saya merasa ada perubahan-perubahan yang menetap pada penampilan saya.

d. Saya merasa bahwa nampak sangat jelek.


15.

a. Saya bisa bekerja sebagaimana biasanya.

b. Saya memerlukan usaha tambahan untuk memulai suatu pekerjaan.

c. Saya tidak bekerja sebaik biasanya.

d. Saya sama sekali tidak bisa mengerjakan apa–apa .

16.

a. Saya bisa tidur sebagaimana biasanya.

b. Saya bangun pagi lebih cepat daripada biasanya.

c. Saya bangun 1-2 jam lebih cepat dibandingkan biasanya dan susah untuk bisa tidur kembali.

d. Setiap pagi saya terbangun dini hari dan tidak bisa tidur lebih dari 5 jam.

17.

a. Saya tidak merasa letih dibandingkan biasanya.

b. Saya lebih mudah capai dibandingkan biasanya.

c. Saya merasa lelah setelah melakukan apapun

. d. Saya terlalu lelah untuk melakukan apapun.

18.

a. Nafsu makan saya tidak lebih buruk dibandingkan biasanya.

b. Nafsu makan saya tidak sebaik biasanya.

c. Nafsu makan saya jauh lebih buruk saat ini.

d. Saya sama sekali tidak lagi mempunyai nafsu makan.

19. a. Belakangan ini kalaupun berat badan saya menurun, itu tidak banyak.

b. Saya telah kehilangan berat badan lebih dari 2 kg.

c. Saya telah kehilangan berat badan lebih dari 4, 5 kg.

d. Saya telah kehilangan berat badan lebih dari 6,5 kg.

20. a. Saya tidak lagi terlalu memikirkan kesehatan saya dibandingkan biasanya.

b. Saya memikirkan perasaan-perasaan sakit dan nyeri atau gangguan pada perut atau buang air besar.

c. Saya sangat memikirkan keadaan saya dan apa yang saya rasakan, sehingga sangat sulit untuk memikirkan
hal yang lain.
d. Saya betul-betul terbawa oleh apa yang saya rasakan.

21. a. Saya tidak melihat adanya perubahan terhadap minat saya terhadap seks.

b. Saya kurang berminat terhadap seks dibandingkan biasanya.

c. Saya cukup banyak kehilangan minat terhadap seks saat ini.

d. Saya betul-betul kehilangan minat terhadap seks.