Anda di halaman 1dari 2

Bisakah Kecanduan disebut suatu Penyakit?

Lembaga Penyalahgunaan Narkoba Nasional (National Institute on Drug Abuse/NIDA)


menegaskan: kecanduan adalah penyakit otak kronis dan dapat kambuh, penggunaan narkoba
dalam kondisi ini menjadi tidak disadari terlepas dari konsekuensi negatifnya. Maka, kecanduan
dapat dikatakan perubahan yang terjadi pada otak karena penggunaan narkoba sebagai akibat
dari perubahan ini, penggunaan narkoba menjadi kompulsif/terus menerus, di luar kesadaran
pengguna.
Dari pengalaman sehari-hari kita tahu bahwa tidak semua orang yang mencoba atau
menggunakan narkoba dan alkohol menjadi ketagihan, beberapa orang dapat keluar dari
kecanduan mereka, dan tidak semua orang dapat berhenti dengan cara yang sama. Tapi ada
juga bukti ilmiah yang kuat bahwa kebanyakan orang pulih dari kecanduan dengan caranya
sendiri.
Dalam The Biology of Desire: Why Addiction Is Not a Disease, Marc Lewis, seorang ilmuwan
syaraf dan mantan pecandu narkoba, berpendapat bahwa kecanduan itu "tidak normal", dan dia
menawarkan apa yang dia sebut model pembelajaran kecanduan, yang membuatnya kontras
dengan keduanya. Gagasan bahwa kecanduan adalah pilihan dan gagasan bahwa kecanduan
adalah penyakit. Dalam mengkaji sejumlah studi kasus, Lewis berpendapat bahwa kebanyakan
pecandu tidak menganggap mereka sakit (dan ini bagus untuk pemulihan mereka). Artinya,
pecandu perlu mengenal diri mereka sendiri untuk memahami kecanduan mereka dan
menemukan cara alternatif untuk masa depan mereka.

Psikolog di Harvard University Gene Heyman dalam bukunya Addiction: A Disorder of Choice
juga berpendapat bahwa kecanduan bukanlah penyakit tapi melihatnya tidak seperti Lewis,
melainkan sebagai kelainan pilihan. Dalam penelitiannya, beliau menemukan bahwa karena
tuntutan kehidupan orang dewasa mereka, seperti mempertahankan pekerjaan atau menjadi
orang tua, tidak sesuai dengan penggunaan narkoba mereka dan menjadi dorongan kuat untuk
menghentikan kebiasaan mengonsumsi narkoba. Hal ini, tidak berarti bahwa pecandu hanya
orang lemah, juga tidak menyiratkan bahwa mengatasi kecanduan itu mudah dilakukan. Hal ini
sangat sulit, dan bagi sebagian orang praktis tidak mungkin untuk menghentikan kebiasaan
yang bertahun-tahun telah dilakukan.

Perbedaan dalam kasus ini, antara orang-orang yang bisa dan orang-orang yang tidak dapat
mengatasi kecanduan mereka, nampaknya sebagian besar mengenai faktor penentu pilihan.
Banyak pecandu menderita lebih dari sekadar kecanduan zat tertentu dan ini meningkatkan
tekanan mereka; berasal dari latar belakang yang kurang mampu atau minoritas yang
membatasi kesempatan mereka, memiliki sejarah penganiayaan dan sebagainya.

Karena alasan inilah ahli kesehatan filsuf dan kesehatan mental Hannah Pickard menawarkan
alternatif, dimana kita harus melihat faktor penentu pilihan, dan kita harus menghadapinya,
bertanggung jawab sebagai masyarakat atas faktor-faktor yang menyebabkan penderitaan dan
membatasi pilihan yang tersedia bagi pecandu. Untuk melakukan itu kita perlu mendekati
mereka (pecandu) dengan sikap belas kasih, tanpa menyalahkan/stigma mereka, memberikan
rasa hormat dan perhatian yang diperlukan untuk keterlibatan dan perlakuan yang lebih efektif.
Jadi, selain pecandu yang bertanggung jawab untuk mengatasi kecanduan mereka, kita juga
harus bertanggung jawab untuk mengayomi mereka.

Kita bisa menyebut kecanduan penyakit karena konsep penyakit tidak didefinisikan secara
jelas, namun jika dengan "penyakit" kita maksudkan bahwa ada perubahan otak yang berujung
pada kurangnya pilihan untuk berhenti, maka ada cukup bukti untuk membantah pandangan ini.
Pada akhirnya, kita tidak bisa mengerti kecanduan hanya karena perubahan otak dan
kehilangan kontrol. Kita harus melihatnya dalam konteks kehidupan yang lebih luas dan
masyarakat yang membuat beberapa orang yang merupakan pecandu membuat pilihan yang
buruk untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Sumber : Vintiadis, E. Is Addiction a Disease?. Scientific American. Nov 8, 2017.


https://blogs.scientificamerican.com/observations/is-addiction-a-disease/