Anda di halaman 1dari 59

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dunia bisnis khususnya jual-beli pada masa sekarang sudah sangat
canggih dengan didukung teknologi yang memadai. Metode perdagangan saat ini
dapat mempertemukan penjual dan pembeli tanpa harus bertatap muka dan dengan
jarak yang tidak terbatas. e-Commerce adalah salah satu tren perdagangan yang
sedang berkembang saat ini dengan peta persaingan yang sangat ketat. Dengan
menggunakan sistem online dan kemudahan yang ada didalamnya, e-Commerce
diprediksi akan semakin mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun
seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang terjun pada bisnis ini.
Perkembangan e-Commerce ini juga didukung dari perilaku konsumen yang lebih
suka dengan aktivitas online yangs serba praktis dan cepat serta efisien. Menurut hasil
riset dari Kata Data Indonesia pada tahun 2017, Pasar e-Commerce di Indonesia akan
mencapai 52% di kawasan Asia Tenggara. Pada presentase Nielsen yang bertajuk
Indonesia Ocean of Opportunities Overcoming Dead Win and Riptide 2017, pada
tahun 2025 e-Commerce di Indonesia akan mencapai US$ 46 miliar dibanding pada
tahun 2015 yang hanya mencapai US$ 1,7 miliar.
Perkembangan e-Commerce yang pesat pada masa sekarang sangat dipengaruhi
dengan keberadaan e-Commerce besar yang ada di dunia, salah satunya adalah JD.ID
Indonesia. JD.id atau juga dikenal sebagai JingDong Mall awalnya merupakan toko
offline di Beijing, China, dengan nama Jingdong Century Trafing Co., Ltd.
Perusahaan ini beralih menjadi online pada tahun 2004 yang kemudian menjadi
JD.com. JD.id mulai beroperasi di Indonesia sejak Oktober 2015 dengan
menyediakan berbagai macam peralatan elektonik dan gadget yang langka dan susah
ditemukan oleh pelanggan.
Dengan masuknya JD.id pada pasar e-Commerce di Indonesia, Perusahaan ini
harus memperhatikan berbagai macam aspek baik internal maupun eksternal
perusahaan yang dapat mempengaruhi keberlangsungan bisnis mereka dan
mempersiapkan strategi perusahaan dalam peta persaingan e-Commerce di Indonesia.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja peluang dan ancaman dari masing-masing faktor lingkungan


eksternal yang dihadapi oleh JD.id Indonesia?
2. Strategi apa yang harus dilakukan JD.id pada pasar persaingan e-Commerce di
Indonesia?
3. Bagaimana prospek bisnis JD.id di Indonesia di masa yang akan datang?

1.3 Metode Penelitian

Untuk dapat menyelesaikan penelitian ini dan menjawab rumusan masalah di


atas, penulis menggunakan metode penelitian yaitu dengan menganalisis data
sekunder. Data sekunder didapatkan dari berbagai sumber tertulis seperti buku,
artikel yang ada di internet dan beberapa peneltian sebelumnya. Analisis terhadap
lingkungan eksternal perusahaan meliputi pada 9 topik aspek yang akan
mempengaruhi keberlangsungan perusahaan, yaitu lingkungan ekonomi,
demografi, sosial budaya, politik domestik, politik internasional, teknologi,
natural, dan pemerintahan. Setiap topik tersebut akan dianalasis mengenai
ancaman dan peluang yang akan dihadapi oleh perusahaan beserta implikasinya
pada setiap kegiatan bisnis dan strategi yang digunakan perusahaan.

1.4 Manfaat Penelitian

Dengan menganalisis lingkungan eksternal pada perusahaan berupa ancaman


serta peluang yang akan dihadapi perusahaan kedepannya dengan disertai
implikasi terhadap kegiatan bisnis dan strategi perusahaan, maka dapat
memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat untuk JD.id Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
analisis bisnis perusahaan dalam melihat prospek bisnis e-Commerce di
Indonesia kedepannya serta sebagai acuan dalam membuat strategi untuk
menghadapai persaingan dengan efektif dan efisien. Selain itu penelitian ini
juga dapat digunakan sebagai perumusan dalam setiap pengambilan kebijakan
yang berpengaruh pada keberlangsungan bisnis perusahaan.

2
2. Bagi penulis adalah dapat mengetahui manfaat dari berbagai faktor
lingkungan eksternal sebagai faktor yang penting untuk menjalankan sebuah
bisnis kedepannya.

1.5 Tujuan Penelitian


1. Menganalisis peluang dan ancaman yang akan dihadapi JD.id Indonesia dari
setiap faktor-faktor lingkungan eksternal yang mempengaruhi
keberlangsungan bisnisnya di Pasar e-Commerce di Indonesia..
2. Mengidentifikasi implikasi bisnis yang dirasakan JD.id Indonesia dari peluang
dan ancaman tersebut.
3. Memproyeksikan kondisi masa depan perusahaan setelah mengetahui peluang
dan ancaman yang akan dihadapi perusahaan.

3
BAB II

PROFIL PERUSAHAAN

2.1 TENTANG PERUSAHAAN

JD.id merupakan sebuah perusahaan e-Commerce di Indonesia yang


beroperasi sejak November 2015. JD.id di Indonesia bermitra dengan Providen
Capital yaitu sebuah perusahaan investasi terbesar di Asia Tenggara. Providen Capital
bekerjasama dengan JD.com sebuah perusahaan asal Beijing, China yang telah berdiri
sejak tahun 1998.
Perusahan JD.com pada awalnya merupakan toko retail offline yang menjual
produk magneto-optikal di Beijing dan didirikan oeh Liu Qiangdong. Pada tahun 2004
JD.com memulai bisnis e-Commerce dengan menjual produk seperti gadget,
elektronik, smartphone, komputer, buku, dan produk kecantikan. JD.id mempunyai
visi dan misi yaitu “berkomitmen untuk memberikan pengalaman berbelanja yang
lebih leluasa dengan menyediakan produk-produk yang terkurasi, asli, premium yang
memilki harga kompetitif, layanan yang dapat diandalkan dan dipercaya, serta
pengiriman yang cepat dan aman”. Oleh karena itulah JD.id mengedepankan produk
asli dan premiumnya sebagai salah satu keunggulan layanan mereka.
Perkembangan bisnis JD.id di Indonesia cukup menyita perhatian dikarenakan
di Indonesia sendiri sebelumnya telah ada e-Commerce yang mempunyai nama besar
seperti Lazada, BukaLapak, dan Zalora. JD.com selaku perusahaan yang menaungi
JD.id di Indonesia merupakan rival terbesar Alibaba di China. JD.id sebagai e-
Commerce yang baru memasuki pasar di Indonesia mempunyai beberapa keunggulan
yang diantaranya adalah :

a. Menjual produk-produk premium asli dengan harga yang kompetitif.


b. Pengembalian dana dengan proses yang cepat jika barang yang diterima tidak
sesuai dengan spesifikasi produk yang tertera pada website JD.id
c. After-sales yang responsif dan menyediakan layanan Concierge yaitu layanan
pick-up service untuk kategori elektronik ketika pembeli sudah mengajukan
pengembalian di website JD.id.

4
d. Pelacakan pemesanan yang akurat sampai produk yang dipesan sampai ke
tangan konsumen.
e. Layanan Cash on Delivery (COD) sehingga konsumen lebih cepat dalam
mendapatkan produk yang mereka inginkan.

2.2 PRODUK
JD.id yang merupakan e-Commerce baru di Indonesia menawarkan berbagai
macam produk yang memenuhi kebutuhan pelanggannya. Poduk yang dijual di JD.id
mulai dari smartphone, produk olahraga, produk kesehatan dan kecantikan, makanan
dan minuman, dan kategori lainnya lengkap tersedia di website serta aplikasi yang
dapat diunduh pada smartphone android maupun iOS. JD.id dapat diakses secara 24
jam dan memudahkan konsumennya dalam mendapatkan produk yang mereka
inginkan.
Produk-produk yang dijual di JD.id merupakan kerjasama langsung dengan
produsen atau distributor utamanya bukan dari penjual perorangan. Hal ini
dimaksudkan agar memudahkan kontrol terhadap kualitas barang yang dijual dan
memastikan tidak ada barang palsu yang dijual oleh JD.id.

5
BAB III
ANALISIS LINGKUNGAN BISNIS
3.1 PEMBANGUNAN EKONOMI
Pembangunan ekonomi suatu Negara, merupakam suatu factor yang patut
diperhatikan bagi pelaku bisnis sebagai acuan dalam usahanya, dikarenakan
pembangunan ekonomi dapat memberikan dampak positif maupun negative yang
berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap keberlanjutan
suatu bisnis. Dengan memahami kondisi perekonomian suatu Negara, pelaku bisnis
dapat memiliki gambaran mengenai kebijakan dan strategi apa yang tepat untuk
diberlakukan dalam kondisi perekonomian tertentu.
Ekonomi pembangunan memiliki beberapa definisi. Definisi secara tradisional
ekonomi atau ekonomi lama yaitu kemampuan perekonomian nasional untuk
menghasilkan peningkatan Gross Domestic Product (GDP) riil per kapita secara terus
menerus. Kemudian definisi dalam perspektif Ekonomi Baru yang berarti suatu
proses multidimensional untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi
ketimpangan, dan kemiskinan yang disertai perubahan struktur sosial, sikap bersama,
dan kelembagaan nasional. Penjabaran dari pandangan ekonomi lama dan ekonomi
baru ini menghasilkan 3 kerangka pembangunan ekonomi utama yaitu : Monetary
Indicators , Non-Monetary Indicators, Mixed Indicators ( Arsyad, 2014 ).
3.3.1 Monetery Indicator/ Indicator Moneter
Indikator ini berkaitan dengan uang, yaitu antara lain mengukur tingkat
income yang diterima oleh masyarakat atau pendapatan per kapita. Data
perekonomian dan pendapatan per kapita di Indonesia 2010-2013 berdasarkan World
Bank dapat dilihat pada pada tabel berikut :
Tabel 1: Tingkat Perekonomian dan Pendapatan Per Kapita Indonesia (2010-2013)

PDB ( U$ Billion) Pedapatan Perkapita (US$)


2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013
709,190 845,931 876,791 868,345 2,981 3,512 3,660 3,580
Sumber : World Bank 2014 ( Data Diolah )

6
Grafik 1 : Proyeksi Perkembangan Middle Class

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa PDB dan Pendapatan Perkapita di
Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun 2010-2012 dan sedikit mengalami
perlambatan pada tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi yang melambat pada tahun
2013 disebabkan oleh masih lemahnya kinerja eksport komoditas sumberdaya alam,
seperti batubara, CPO, dan mineral. Namun diprediksikan perekonomian akan
semakin membaik pada 2014 dengan akan ditingkatkannya kinerja eksport terutama
7
eksport nonmigas. Pertumbuhan ekonomi yang melambat pada tahun 2013 tidak
berdampak signifikan terhadap penurunan konsumsi, nampaknya perekonomiann kita
masih didukung oleh kinerja konsumsi rumah tangga yang masih kuat, bahkan kinerja
konsumsi rumah tangga ini masih mendominasi dan berkontribusi diatas 50%
dibanding struktur PDB dengan jenis pengeluaran lain. Tingginya konsumsi
masyarakat ini juga merupakan dampak dari semakin meningkatnya masyarakat kelas
menengah (middle class).
Dengan pendapatan perkapita pada tahun 2013 yang dilansir mencapai U$
1
3,580 atau sejumlah Rp. 42.244 perharinya . World bank mengestimasi jumlah

masyarakat kelas menengah


Indonesia mencapai 60% dari
total populasi yang berarti
terdapat 150 juta jiwa penduduk
Indonesia merupakan
2
masyarakat kelas menengah ,
hal ini sesuai dengan kriteria
World Bank yang juga
mengkatagorikan masyarakat
dengan pendapatan diatas Rp. 20.000,- sebagai katagori masyarakat Midle-Class.
World Bank (2012) juga menunjukkan bahwa proyeksi middle class juga meningkat
setiap tahunnya. Dapat terlihat pada grafik berikut diatas.

1 nilai tukar kurs Rp. 11.800/Dollar.


2 Data World Bank total penduduk Indonesia 249,9 Juta jiwa

8
Dalam Buku “Satu Dasawarsa Membangun Untuk Kesejahteraan Rakyat”,
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah mencatat peningkatan jumlah
masyarakat kelas menengah dari 37 persen pada 2004 menjadi 56,7 persen dari total
penduduk di Indonesia pada 2013. Menurut buku yang diterbitkan Sekretariat Kabinet
itu, masyarakat middle class merupakan kelompok masyarakat yang membelanjakan
uang per harinya dengan kisaran dua dollar AS atau setara dengan Rp22.756 (dengan
kurs 1 Dollar AS : Rp11.378) hingga 20 dollar AS. Tumbuhnya kelas menengah di
Indonesia juga dapat dilihat dari data statistik jumlah kepemilikan kendaraan
bermotor, jumlah penumpang pesawat terbang, jumlah rumah tangga yang memiliki
HP atau telepon genggam, dan rumah tangga yang memiliki komputer serta memiliki
akses internet.
3.1.2 Non-Monetory Indicators / Indikator Non-Moneter
Indikator Non Moneter sapat diukur dari indeks kualitas hidup dan
pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), secara khusus
mengukur pencapaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar
kualitas hidup. Komponen tersebut meliputi kesehatan, pendidikan dan daya beli
masyarakat. Secara lebih menyeluruh BPS mencatat Indeks Pembangunan Manusia
Indonesia, 2009-2013 sebagai berikut:
Tabel 2 : Indek Pemabangunan Manusia

Indek Pembangunan Manusia, Indonesia 2009-2013


2009 2010 2011 2012 2013
71.76 72.27 72.77 73.29 73.81
Sumber: Badan Pusat Statisti ( data diolah)
Dari data BPS tersebut IPM secara mengalami peningkatan dari tahun
ketahun, hal ini berarti pembangunan perekonomian Indonesia semakin membaik.
Berdasarkan Laporan Pembangunan Manusia atau Human Development Report
(HDR) yang dikeluarkan oleh Lembaga PBB untuk Pembangunan atau United
Nations Development Programme (UNDP), pada tahun 2013 Indonesia berada di

9
posisi ke-108 dari 187 Negara, dan berapa dalam kategori sedang. ( Beate,2014 )
dalam Detik.com menyatakan HDI Indonesia 1980 dan 2013, dinilai nilai naik dari
0.471 menjadi 0.684. Sebuah kenaikan sebesar 45.3 persen atau merupakan rata-rata
peningkatan tahunan sekitar 1.14 persen,
3.1.3 Mixed Indicators/ indicator campuran
Indikator Campuran ini dapat ukur dari tingkat Kesehatan, Perumahan,
Angkatan kerja. Menyoroti mengenai Angkatan Kerja, Badan Pusat Statistik mencatat
pertumbuhan jumlah angkatan kerja sebagai berikut:
Tabel 3 : Jumlah Angkatan Kerja
Jumlah Angkatan Kerja 2009-2013 per bulan Februari
Dalam Jutaan Jiwa
2009 2010 2011 2012 2013
113,74 116,00 119,4 120,41 121,9
Sumber: Badan Pusat Statistik ( data diolah)
Data BPS tersebut menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja semakin
meningkat tiap tahunnya. Dengan semakin banyaknya jumlah angkatan kerja
menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berpenghasilan, maka akan
berimplikasi pada semakin meningkatnya konsumsi masyarakat sehingga potensi
pasar juga turut naik. Hal ini didukung dengan pernyataan (Ansori, 2009) melalui
gaya hidup dan pola konsumsi, orang-orang memanifestasikan perbedaan kelas sosial
secara nyata.
3.1.4 Peluang ( Opportunity):
Dari indicator pembangunan ekonomi tersebut maka memberikan peluang bagi
Lazada Indonesia yaitu antara lain:
a. Potensi pasar akan semakin meningkat, dengan meningkatnya pendapatan
masyarakat, jumlah tenaga kerja, meningkatnya IPM dan kalangan masyarakat
middle class.
b. Semakin banyaknya masyarakat yang akrab dengan teknologi internet dan
aktif dalam berbelanja online. Terlihat dari semakin meningkatnya masyarakat

10
yang memiliki handphone dan menggunakan internet, data BPS menunjukkan
pengguna internet meningkat 2,32 persen pada 2005 menjadi 30,66 persen
pada 2012.
3.1.5 Ancaman (Threat) :
Munculnya banyak kompetitor di bidang e-commerce akibat dari ketertarikan
akan potensial pasar e-commerce yang tinggi, serta new Entry Barrier yang mudah
untuk melakukan perdagangan di dunia online. Kompetitor yang dihadapi tidak hanya
pelaku e-commerce besar yang bersifat head to head seperti Rakunten, dan
Tokopedia, namun juga dari perdagangan online konventional dari masyarakat yang
semakin marak. Kehadiran banyaknya kompetitor di dalam bisnis e-commerce akan
memberikan banyak pilihan bagi masyarakat dalam berbelanja. Hal ini tentu akan
menuntut Lazada Indonesia untuk lebih gencar lagi dalam menarik pasar agar tidak
kalah dengan kompetitornya.
3.1.6 Strategi Pengembangan Usaha
Meningkatnya perekonomian masyarakat memeberikan peluang yang baik
bagi para pelaku bisnis. Namun perkembangan ini akan menjadikan persaingan dalam
dunia bisnis juga semakin meningkat. Untuk itu Lazada Indonesia sebagai salah satu
perusahaan e-commerce yang besar hendaknya dapat mempergencar pemasarannya
melalui berbagai media iklan di internet maupun kampanye iklan dalam bentuk
lainnya. Masyarakat kelas menengah cepat mengevaluasi pemasaran yang bersifat
personal, karena mereka memiliki akses informasi yang relatif bagus. Jadi,
pendekatan melalui peer group, komunitas, perlu dipertimbangkan. Untuk Lazada
Indonesia juga dapat mempergencar iklan diforum media sosial, dan televisi agar
dapat lebih dikenal lagi dikalangan luas tidak hanya diperkotaan namun juga wilayah
kota kota kecil ataupun pedesaan yang saat ini juga telah banyak menggunakan
internet.

10

11
3.2 LINGKUNGAN REGIONAL
Indonesia, salah satu negara yang telah menyepakati kerjasama perdagangan,
baik bilateral, regional dan internasional degan Negara-Negara lainnya. Dengan
adanya liberalisasi perdagangan, baik dalam lingkup internasional dan regional,
hambatan perdagangan dapat dikurangi dan dihilangkan. Dengan adanya kerjasama
maka akan terciptannya pasar bebas dan terbuka yang memberikan potensi terhadap
pertumbuhan social dan ekonomi suatu bangsa.
Menurut Tri Widodo (2013), hal yang penting bagi pelaku bisnis dengan
mempelajari regional ekonomi adalah untuk mengetahui stabilitas ekonomi, tingkat
tabungan dan daya beli masyarakat, trend dan pertumbuhan penduduk sehingga dapat
diketahui bagaimana factor factor ini berpengaruh dengan memberikan suatu peluang
maupun ancaman bagi keberlangsuangan suatu perusahaan.
Kerjasama perdagangan sudah kerap dilakukan oleh Indonesia, baik dalam
skala ASEAN maupun skala yang lebih luas. Misalnya, ASEAN Free Trade Areas
(AFTA), China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), maupun perjanjian perdagangan
regional melalui kesepakatan dengan beberapa negara, seperti ACFTA, G‐20, OPEC,
dan APEC dan yang terbaru yakni ASEAN Economic Community (AEC) yang akan
dilaksanakan pada 2016 mendatang.
Tujuan dari dilaksanakannya kerjasama ekonomi regional ini antara lain
adalah untuk menghilangkan hambatan hambatan dalam perdagangan sehingga
mampu meningkatkan daya saing dan perkembangan perekonomian Negara. Hal ini
sesuai dengan yang disampaikan oleh Ibrahim, et al. (2010), yaitu Integrasi ekonomi
regional adalah suatu proses di mana beberapa negara (pelaku) ekonomi di suatu
wilayah setuju untuk menghapus hambatan, mempermudah dan mempercepat
perpindahan arus lalu lintas barang dan jasa, modal dan tenaga kerja.
Salah satu cara yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam upaya untuk
menciptakan pasar bebas dan terbuka, yaitu dengan kebijakan pemerintah terhadap
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Perhatian pemerintah terhadap TIK

11

12
menjadi penting dikarenakan keberadaan teknologi informasi (TI) memungkinkan individu
saling berhubungan tanpa dibatasi oleh batas‐batas Negara. Peranan Teknologi Informasi dan
Komunikasi juga mampu menghilangkan hambatan‐ hambatan informasi dalam perdagangan,
dan mampu membuka kesempatan seluas‐ luasnya terhadap akses sumber daya dan pasar
kepada investor atau kalangan bisnis dari negara lain. Kebijakan pemerintah yang sangat
mendukung akan kemajuan TIK mampu menjadikan perdagangan internasional menjadi
sangat mudah sehingga mampu memberikan potensi terhadap pertumbuhan social dan
ekonomi. Melalui TIK pula, kemajuan ilmu pengetahuan dapat terdistribusi dan tersebar luas
di tengah-tengah masyarakat.
Dampak dari kerjasama regional terhadap sector ekonomi yaitu antara lain
meningkatkan income perkapita masyarakat, semakin banyaknya lapangan pekerjaan,
sehingga jumlah dari pengangguran dapat dikurangi hal ini juga berdampak pada
semakin meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia.
Meningkatnya pendapatan dan jumlah masyarakat kelas menengah berdampak pada
meningkatnya daya beli masyarakat terhadap barang maupun jasa.
Selain itu kemajuan TIK juga berdampak pada semakin banyaknya
masyarakat yang paham akan Internet. Cisco Visual Networking Index, menyatakan
bahwa Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan lalu lintas IP (Internet Protocol)
tercepat kedua di dunia. Ini artinya, jumlah pengguna internet di Indonesia terus
bertambah dengan pesat. Hal ini berdampak pada perubahan tren dimasyarakat,
kebanyakan masyarakat sudah melibatkan teknologi informasi baik dalam lingkungan
kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam berbelanja.

3.2.1 Peluang ( Opportunity):


a. Potensi pasar yang semakin meningkat, dengan meningkatnya pendapatan
masyarakat, jumlah tenaga kerja, meningkatnya IPM dan kalangan masyarakat
middle class.

12

13
b. Meningkatnya pengguna internet di Indonesia menjadi keuntungan tersendiri
bagi Lazada Indonesia dikarenakan semakin banyaknya pengguna internet maka
semakin baik pula kemampuan Lazada Indonesia dalam memperluas pasar.

3.2.2 Ancaman (Threat) :


Dengan keterbukaan pasar maka memungkinkan untuk munculnya banyak
kompetitor di bidang e-commerce , yang juga merupakan akibat dari ketertarikan
akan potensial pasar e-commerce yang tinggi di Indonesia. New Entry Barrier yang
mudah untuk melakukan perdagangan di dunia online. Kompetitor Asing semakin
banyak. Hal ini tentu akan menuntut Lazada Indonesia untuk lebih gencar lagi dalam
menarik pasar agar tidak kalah dengan kompetitornya.
3.2.3 Strategi Pengembangan Usaha
Sebagai pemain yang sudah cukup berpengalaman di pasar Indonesia, hendaknya
Lazada Indonesia dengan semua capability yang ada dapat memaksimalkan promosi
dan kampanye pemasaranya dengan tujuan memperkuat dalam menarik pasar. Hal ini
bertujuan agar dapat lebih dikenal lagi dikalangan luas tidak hanya diperkotaan
namun juga wilayah kota kota kecil ataupun pedesaan yang saat ini juga telah banyak
menggunakan internet. Sehingga brand Lazada dapat menjadi hal yang selalu diingat
masyarakat dalam melakukan pembelian online.
3.3 FISKAL DAN MONETER
Salah satu aspek yang perlu dipahami oleh para pebisnis tersebut adalah
bagaimana pemerintah Indonesia menjalankan kebijakan fiskal dan moneter sebagai
kunci utama dalam menjalankan kebijakan negara. Dalam menjalankan kebijakan
negara, pemerintah Indonesia menerapkan dua kebijakan yang menjadi kunci utama,
yaitu kebijakan fiscal dan kebijakan moneter. Dua kebijakan tersebut berpengaruh
baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap jalannya suatu bisnis.
Kebijakan fiskal dibagi ke dalam dua aspek penting yang perlu diperhatikan
oleh pelaku bisnis, yaitu pajak dan pengeluaran pemerintah. Pajak merupakan
pengeluaran yang dilakukan oleh pelaku bisnis tetapi sebagai penerimaan bagi

13

14
pemerintah. Sebaliknya, pengeluaran pemerintah merupakan penerimaan bagi pelaku
bisnis. Berdasarkan data yang didapat dari Bank Indonesia, belanja pemerintah pusat
berkontribusi sebanyak 69.08 % terhadap nilai total belanja negara. Pengeluaran
negara ini sebagaian besar terfokus pada pembangunan infrastruktur dan sarana
umum. Hal ini merupakan sebuah sinyal positif bagi para pelaku bisnis di Indonesia.
Data Bank Indonesia (2013), menunjukkan bahwa pajak merupakan
penyumbang pendapatan terbesar bagi Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun
2012, pajak berkontribusi sebesar 74,82 persen terhadap pendapatan Indonesia. Pajak
yang diperoleh oleh Indonesia sebagian besar berasal (2/3 bagian) dari pajak
perusahaan. Besarnya nilai pajak perusahaan memberikan dampak yang sangat besar
terhadap perusahaan. Semakin besar pajak perusahaan maka akan semakin
memperkecil besar pendapatan bersih yang diterima perusahaan.
Kebijakan moneter adalah suatu usaha yang dilakukan oleh bank sentral suatu
negara dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai
dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam
perekonomian. Kebijakan tersebut dilakukan agar harga dan inflasi di suatu negara
stabil serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. Menambah atau mengurangi
jumlah uang yang beredar adalah cara bagaimana mengatur jumlah uang yang beredar
pada masyarakat.
Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, apabila terdapat kebijakan
dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar maka pemerintah menerapkan
Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy). Apabila kebijakan dalam
rangka mengurangi jumlah uang yang beredar atau dapat juga disebut dengan
kebijakan uang ketat maka pemerintah menerapkan Kebijakan Moneter Kontraktif
(Monetary Contractive Policy). Bank Indonesia sebagai Bank Central di Indonesia
adalah lembaga yang melaksanakan pengendalian moneter dengan melakukan
serangkaian kebijakan moneter.
Kebijakan moneter melalui bank sentral, mengontrol inflasi dan suku bunga
yang ada di Indonesia untuk mempertahankan cost of fund demi keberlangsungan

14

15
investasi, salah satunya dengan menetapkan suku bunga kredit. Besarnya suku bunga
kredit sangat mempengaruhi kinerja perusahaan, terutama untuk menentukan struktur
modal yang dimiliki oleh perusahaan, apakah perusahaan akan sepenuhnya
menggunakan ekuitas atau sebagian dengan menggunakan utang. Bagi perusahaan
yang struktur modalnya terdiri dari ekuitas utang, perusahaan akan sangat
memperhatikan besarnya nilai suku bunga kredit yang ditawarkan oleh perusahaan.
Semakin besar suku bunga kredit, maka akan semakin memperkecil peluang
mendapatkan pendapatan bersih yang maksimal dan sebaliknya. Oleh karena itu,
perusahaan akan mencari bank (kreditur) yang memberikan bunga kredit terkecil bagi
perusahaan (debitur).
3.3.1 Peluang (Opportunity) :
Pengeluaran negara ini sebagaian besar terfokus pada pembangunan infrastruktur dan
sarana umum. Hal ini merupakan sebuah sinyal positif bagi para pelaku bisnis di
Indonesia khususnya Lazada Indonesia, membaiknya infrastuktur berarti memberikan
kemudahan bagi akses jalan dalam pendistribusian barang ke konsumen.
Suku bunga yang stabil
Tingkat suku bunga Bank Indonesia saat ini sebesar BI rate 7,5 persen dinilai masih
cukup stabil. Hal ini dapat menciptakan peluang bagi perusahaan untuk mencari
pendanaan eksternal untk mendukung kegiatan bisnis.
3.3.2 Ancaman (Threat) :
Penetapan pajak kepada perusahaan berpengaruh terhadap harga jual barang, semakin
tinggi pajak maka semakin besar juga beban yang akan di bebankan kepada barang
yang dijual. Hal ini berakibat pada harga jual yang semakin mahal. Dengan adanya
pajak menjadi tantangan tersendiri bagi Lazada dalam menentukan harga produk yang
bersaing dipasaran.
3.3.3 Strategi Pengembangan Usaha
Kerjasama dengan pemasok barang
Untuk menghadapi ancaman yang mungkin akan dihadapi oleh lingkungan fiskal dan
moneter, perusahaan hendaknya melakukan efisiensi biaya, bernegosiasi dan bekerja

15

16
sama dengan vendor vendor untuk dapat memperoleh harga dasar produk yang lebih
murah, sehingga dengan adanya pajak, produk yang dijual kekonsumen pun dapat
tetap disesuaikan dengan menjual lebih murah dibanding pesaing.
3.4 POLITIK DALAM NEGERI
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada Forum e-Indonesia Initiative
ITB 2005 menyatakan bahwa TIK adalah suatu pilar utama peradaban manusia saat
ini yang harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas dan diharapkan
menjadi dalam transfromasi menjadi bangsa yang maju. Tidak ada satupun bidang
kehidupan bangsa ataupun sector pembangunan nasional yang tidak memerlukan
pembangunan TIK.
Dari pernyataan Presiden serta pernyataan Didjen Kemendag tersebut, dapat
menginterprestasikan bahwa pemerintah Indonesia nampaknya sangat mendukung
dan terbuka terhadap perkembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)
sebagai salah satu sector yang berperan penting terhadap kemajuan bangsa.
Nampaknya keterbukaan pemerintah terhadap TIK memberikan angin segar bagi
banyak pelaku E-commerce baik asing maupun domestic untuk melakukan investasi
di Indonesia.
Keterbukaan pemerintah terhadap TIK ini diiringi dengan berbagai
perundang-undangan dan peraturan pemerintah dalam upaya menciptakan keamanan,
praktik bisnis yang adil antara pelaku usaha dan konsumen, perlindungan konsumen
secara lebih komprehensif terhadap praktik perdagangan melalui media
internet/jejaring, serta meningkatkan daya saing (competitiveness) transaksi
perdagangan internet.
Masuknya modal asing bagi perekonomian Indonesia merupakan tuntutan
keadaan, baik ekonomi maupun politik Indonesia. Alternatif penghimpunan dana
pembangunan perekonomian Indonesia melalui investasi modal secara langsung
sangat baik dibandingkan dengan penarikan dana internasional lainnya seperti
pinjaman dari luar negeri. Hal ini dikarenakan selain menghasilkan devisa secara
langsung bagi negara, kegiatan penanaman modal secara langsung menghasilkan

16

17
manfaat yang sangat signifikan bagi negara tujuan penanaman modal (host country)
karena sifatnya yang permanen/jangka panjang.
Sabagai perusahaan e-commerce Lazada terikat dengan peraturan pemerintah
terhadap perdagangan e-commerce baik mengenai peraturan perundang-undangan
mengenai tata cara pelaksanaan dan penerapan perdagangan. Yaitu antara lain
Undang-undang republik Indonesia, Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan
transaksi elektronik, Undang-undang perlindungan konsumen, dan UU Transaksi
Keuangan.
Pemerintah melakukan tiga pendekatan utama yang dapat digunakan untuk
menjaga aspek keamanan dunia internet, yaitu pendekatan aspek hukum, aspek
teknologi, dan aspek sosial, budaya, dan etika, sehingga untuk menjaga dan
mengatasi gangguan keamanan dalam penyelenggaraan sistem Elektronis, pendekatan
hukum bersifat mutlak karena tanpa kepastian hukum, persoalan pemanfaatan
informasi menjadi tidak optimal.
Ada beberapa hal yang mendasari pentingnya hal tersebut, pertama dari aspek
legal, yaitu untuk mengintegrasi berbagai peraturan dan perundang undangan yang
telah ada dan seharusnya ada, kemudian untuk mempromosikan persaingan usaha
yang sehat di ranah dunia maya. Kedua dari aspek kontrak online, yaitu standar
verifikasi legalitas e-document dan tandatangan elektronis, kemudian proteksi
terhadap keamanan dan keandalan informasi, serta untuk membangun tugas dan
tanggung jawab iklim usaha e-commerce. Kebijakan pemerintah dari sisi aspek
pembayaran elektronis (e-Payment), yaitu: bagaimana melindungi konsumen dalam
transaksi online dan pengaturan sistem pembayaran yang baru.
RPP Perdagangan Elektronis akan mengatur mengenai sanksi administratif
bagi pelanggaran terhadap ketentuan penyelenggaraan perdagangan Elektronis, baik
bagi penyelenggara (merchant) maupun bagi pelanggan (consumers). Sanksi yang
akan dijatuhkan kepada merchant berupa denda administratif, peringatan di web
merchant sampai kepada pembekuan kegiatan perdagangan Elektronis. Sanksi yang
akan dijatuhkan kepada pelanggan berupa denda administratif, peringatan di web

17

18
merchant (blacklist) sampai dengan pelarangan transaksi melalui perdagangan
Elektronis.
3.4.1 Peluang ( Opportunity):
Kebijakan pemerintahan dalam negeri menunjukkan keterbukaan dan dukungan
terhadap kemajuan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi. Hal menunjukan
adanya dorongan bagi pertumbuhan Lazada Indonesia yang basis utama bisnisnya
mengunakan teknologi.
3.4.2 Ancaman (Threat):
Perkembangan Teknologi Informasi, selain memberikan dampak positif bagi
perekonomian juga memiliki dampak negative yang dapat ditimbulkan oleh kalangan
yang salah dalam memanfaatkan tekonologi tersebut, seperti yang terjadi pada Lazada
Indonesia, dimana terdapat sejumlah oknum tertentu yang melakukan tindakan
penipuan dengan membuat akun palsu dan melakukan transaksi penjualan dengan
mengatas namakan Lazada. Pelaku penipuan online berpura-pura sebagai penjual
online dengan membuat akun akun toko online palsu di media social. Penipuan online
ini merupakan perbuatan yang dilarang yaitu setiap orang dengan sengaja dan tanpa
hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian
konsumen dalam Transaksi Elektronik (UU, Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi
dan transaksi elektronik Pasal 28 (1).
3.4.3 Strategy Yang Dilakukan
1. Dalam merespon banyaknya pembuat akun palsu yang mengatas namakan Lazda
tersebut, lazada secara resmi memublikasikan daftar akun-akun palsu tersebut untuk
di informasikan kemasyarakat dan menghimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati
dan hanya berbelanja di akun resmi Lazada. Akun-akun resmi Lazada yang di
Publikasikan yaitu sebagai berikut :
Website: www.Lazada.co.id
Blog: blog.Lazada.co.id
Email: support@Lazada.co.id
Facebook: Facebook.com/LazadaID

18

19
Twitter: Twitter.com/LazadaID
2. Dalam memenuhi aspek pembayaran yang elektronis ( e-Payment ), Lazada
memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan pembayaran dengan
beberapa bebrapa metode pembayaran yaitu sistem pembayaran yang lengkap seperti
kartu kredit, transfer bank dan Bayar ditempat/Cash On Delivery(COD) serta jaminan
30 hari uang. Pembayaran Cash On Delivery ini bertujuan untuk memudahkan
konsumen yang tidak bisa menggunakan e-Payment, atau konsumen yang masih ragu
terhadap kepastian belanja online karena banyaknya kasur-kasus penipuan online
yang sedang marak
3.5 LINGKUNGAN BUDAYA
Lingkungan budaya merupakan salah satu factor yang penting yang dapat
mempengaruhi jalannya bisnis suatu perusahaan. Salah satu budaya yang menjadi
tren di Indonesia saat ini adalah budaya konsumerisme atau budaya konsumsi.
Budaya konsumsi di Indonesia telah mengalami pergeseran dari waktu kewaktu.
Pendapatan masyarakat yang meningkat, membaiknya infrastruktur, serta kemudahan
dalam mengakses barang maupun jasa, menjadikan gaya hidup serta konsumsi
masyarakat semakin tinggi. Indonesia yang dikenal sebagai Negara dengan penduduk
terbanyak di ASEAN, kini menjadi pasar konsumen terbesar dan potensial yang
mampu menggiurkan banyak investor. Bahkan telah diperkirakan tingkat
pertumbuhan konsumsi domestik di Indonesia akan terus mengalami peningkatan
hingga 5-10 tahun mendatang.
Tingginya budaya konsumsi di Indonesia telah menjadi salah satu perhatian
penting bagi investor asing dalam berinvestasi di Indonesia. Budaya konsumsi ini
juga merupakan pilar penting yang mendorong perkembangan perekonomian di
Indonesia.
Salah satu kategori orientasi nilai-nilai budaya dari masyarakat menurut
Kluckhohn dan Strodbeck (1961) dalam Suryo (2013) adalah The orientation toward
activity yaitu orientasi antara manusia dan pekerjaannya.

19

20
Orientasi manusia dan pekerjaan juga dapat dihubungkan dengan tingkat
pendapatan yang ia peroleh dari pekerjaan tersebut. Tingkat pendapatan akan
berpengaruh terhadap daya beli dan gaya hidup masyarakat itu sendiri yang kemudian
menjadi salah satu pemicu munculnya budaya konsumtif dimasyarakat.
Meningkatnya pendapatan juga akan berdampak pada meningkatnya gaya
hidup masyarakat. Bagi sebagian orang gaya hidup merupakan suatu hal yang penting
karena dianggap sebagai sebuah bentuk ekspresi diri. Ancok (2004), berpendapat
bahwa gaya hidup merupakan pengaruh dari adanya modernisasi. Perilaku gaya hidup
tersebut mengarah pada suka berbelanja (shopoholics), yang kemudian berujung pada
terbentuknya budaya konsumtif dan pemborosan.
3.5.1 Peluang ( Opportunity):
Budaya konsumsi memberikan peluang besar bagi kesuksesan bisnis Lazada
Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara berkembang dimana
masyarakatnya sangat terbuka dengan teknologi baru dan produk-produknya didunia
oleh sebab itu Lazada hadir sebagai toko online yang menyediakan aneka ragam
katagori pilihan produk yang siap melayani kebutuhan masyarakat Indonesia.
Lazada memiliki keuntungan dengan brandnya yang ternama dan didukung
oleh terus meningkatnya angka pengunjung tiap bulannya untuk itu Lazada Indonesia
dapat memanfaatkan hal ini untuk penetrasi market yang lebih gencar lagi.
3.5.2 Ancaman (Threat) :
Tingginya budaya konsumsi di Indonesia nampaknya telah di sadari hampir
semua orang. Beberapa kalangan masyarakat melihat hal tersebut sebagai opportunity
yang menjanjikan untuk membuka usaha dibidang perdagangan. Sehingga banyak
dari masyarakat menggunakan media social networking seperti facebook, instagram,
dan Blackberry, sebagai alat untuk melakukan perdagangan online. New Entry
Barrier yang mudah untuk melakukan perdagangan di dunia online, menjadikan
Lazada harus memperhatikan banyaknya kompetitor yang bermunculan dalam bisnis
e-commerce. Kompetitor yang dihadapi tidak hanya pelaku e-commerce besar yang
bersifat head to head seperti Zalora, dan tokopedia, VIP Plaza dan lain-lain namun

20

21
juga dari perdagangan online konventional dari masyarakat yang semakin marak.
Kehadiran banyaknya kompetitor di dalam bisnis e-commerce akan memberikan
banyak pilihan bagi masyarakat dalam berbelanja. Hal ini tentu akan menuntut
Lazada Indonesia untuk lebih gencar lagi dalam menarik pasar agar tidak kalah
dengan kompetitornya.
Ancaman lain muncul dari beberapa kalangan yang menyalahgunakan
opportunity ini, yaitu oknum penipuan online. Pelaku penipuan online berpura-pura
sebagai penjual online dengan membuat akun akun toko online palsu di media social.
Bahkan beberapa dari penipu online membuat akun palsu yang mengatas namakan
Lazada Indonesia. Dalam situs resmi Lazada.co.id, Lazada mempublikasikan
beberapa akun palsu yang mengatas namakan Lazada dan menghimbau masyarakat
untuk lebih berhati-hati dan hanya berbelanja di akun resmi Lazada yang telah di
publikasikan.
3.5.3 Strategi Pengembangan Usaha
Hal yang dilakukan Rocket Intenet, untuk masuk di Pasar Indonesia, sudah
sangatlah tepat dikarenakan dengan budaya konsumsi yang tinggi oleh masyarakat
Indonesia, serta predikat Indonesia sebagai Negara dengan penduduk terbanyak
nomer 4 dunia, tentu memberikan opportunity yang besar bagi bisnis e-commerce.
Hal ini berdampak pada jumlah pengunjung dan konsumen Lazada Indonesia yang
terus tumbuh dan berkembang semakin hari.
Untuk memanfaatkan budaya konsumsi masyarkat Indonesia yang tinggi
Lazada Indonesia dapat menambahkan varian produk yang menjadi menjadi trend dan
banyak diminati dimasyarakat.
Menjamurnya pedagang online konventional dari masyarakat juga menjadi
pehatian bagi Lazada selain kehadiran kompetitor utamanya seperti Zalora, dan
tokopedia, VIP Plaza dan perusahaan e-commerse lain. Untuk itu mengharuskan
Lazada mengambil strategi penting agar mampu bersaing dengan kompetitor. Dengan
mengangkat isu kepercayaan (Trust) dari masyarakat dalam berbelanja online, Lazada

21

22
menyediakan beberapa metode pembayaran, mulai dari bayar ditempat (Cash On
Delivery /COD), menggesek kartu di tempat, dan jaminan 30 hari uang kembali.
Strategi Lazada untuk mempermudah pembayaran dengan menggunakan cash
on delivery (COD) yang bisa di akses wilayah tertentu perlu dikembangkan
kewilayah lain. Seperti kota kota kecil yang ada diseputaran wilayah yang mampu di
akses COD. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan brand awareness dari Lazada. Jika
brand awareness telah melekat kuat dimasyarakat, maka prospek Lazada Indonesia
untuk berkembang dan mampu bertahan melawan kompetitor semakin tinggi. Selain
itu strategy lainnya untuk memenangkan persaingan adalah dengan mempergencar
iklan.
Lazada Indonesia juga dapat mempergencar iklan, agar dapat lebih dikenal
lagi dikalangan luas tidak hanya diperkotaan namun juga wilayah kota kota kecil
ataupun pedesaan yang saat ini juga telah banyak menggunakan internet.
Brand awareness juga bisa ditingkatkan dengan memberikan pelayanan
terbaik dari sisi logistic maupun pengiriman barang, seperti transparansi dalam harga
dan memberikan harga produk yang kompetitif serta pengiriman barang yang lebih
cepat.
3.6 LINGKUNGAN SOSIAL
Setiap generasi pada zamannya memiliki ciri dan karakteristik masing-
masing, terdapat kesamaan maupun perbedaan yang dapat menjadi gambaran umum
mengenai bagaimana cara mereka berinteraksi dilingkungan sosial maupun diseluruh
siklus kehidupan mereka. Memahami karakteristik dari tiap generasi tentu menjadi
hal penting bagi pelaku bisnis, agar strategi yang dijalankan oleh pemasar sesuai
dengan segmentasi pasar yang disasar.
Generasi Y yang juga dijuluk Geecho boomer dan millennials. Ada yang
mengatakan, generasi Y adalah mereka lahir sekitar tahun 1977 – 2002. Ada juga
yang berpendapat, sekitar tahun 80an hingga tahun 2005. Menurut Ancok (2014),
Generasi Y adalah generasi yang lahir diantara awal tahun 1980 sampai akhir tahun
1999. Namun yang jelas mereka adalah Generasi baru, anak-anak generasi Baby

22

23
Boomer yang hidup setelah Perang Dunia Ke-2. Sedangkan Generasi sebelumnya,
yaitu generasi X yang lahir tahun 1965 – 1979 dan Baby boomer yang lahir tahun
1946 – 1964, mereka adalah generasi dengan katagori usia yang lebih tua.
Menurut Del Hawkins, dkk (2007, p172), suatu generasi atau yang biasa
disebut sebagai kelompok usia merupakan sekelompok orang yang telah mengalami
kehidupan sosial, lingkungan politik, sejarah dan ekonomi.
Tiap generasi memiliki ciri dan karakteristik masing-masing, baik dalam
siklus hidup mereka, cara mereka berinteraksi dilingkungan social, bahkan pandangan
dan cara mereka dalam membeli produk. Kebutuhan dan kecenderungan berubah
seiring dengan perubahan usia. Maka usia dapat menjadi identitas bagi pengenalan
pola prilaku yang memberikan pengaruh terhadap prilaku individu konsumen,
perhatian, selera, kemampuan beli, dan lain-lain.
Parment (2012), mengatakan bahwa tiap generasi memeiliki pengalaman yang
berbeda yang mempengaruhi nilai-nilai mereka, referensi dan perilaku mereka dalam
berbelanja. Motivasi konsumen dalam melakukan pembelian sering kali didasarkan
pada usia mereka. Berdasarkan hasil interview yang ia lakukan pada tiap generasi
baik Generasi Y maupun Baby Boomers, Parment mengidentifikasi terdapat 3 faktor
yang mempengaruhi pembelian konsumen yaitu:
1. Dampak produk terhadap kondisi keuangan konsumen
2. Minat atau ketertarikan konsumen terhadap produk
3. Persepsi lingkungan social yang kepada konsumen atas produk yang ia
dibeli.

23

24
Grafik 2 : pengaruh harga terhadap Grafik 3 : pengaruh tingkat ketertarikan
keuangan konsumen konsumen

Grafik 4 : pengaruh percepsi social


terhadap konsumen atas pembelian barang

Pada Grafik diatas, grafik 2 menggambarkan bagaimana pembelian dan harga


dari memperoleh produk mempengaruhi kondisi keuangan dari konsumen. Pada
factor ini Baik Generasi Y maupun Baby Boomers memiliki respon dan tingkat
pengaruh yang hampir sama (tidak jauh berbeda). Pada grafik 3, menganai factor
minat konsumen terhadap produk, tingkat derajat Generasi Y lebih tinggi dibanding
baby boomers yang mencerminkan keterlibatan emosi dalam tingkat pembelian,
memilih dan membeli barang lebih tinggi. Sama halnya pada grafik 4, mengenai
faktor persepsi social, Generasi Y sangat memperhatikan bagaimana persepsi social

24

25
kepadanya akibat pembelian produk, jauh labih tinggi dibanding generasi baby
boomers.
Dari ketiga factor tersebut, factor minat terhadap produk serta persepsi social
memiliki pengaruh yang tinggi bagi perilaku pembelian Generasi Y, sehingga
kebanyakan Generasi Y membeli produk tidak hanya berdasarkan kebutuhan (need)
tetapi juga didorong oleh hasrat (desire) dan keinginan (want) serta pandangan
socialnya atau image yang diciptakan.
Selain karakteristik diatas, karakteristik lain dari Generasi Y yaitu diantaranya
mahir technology multimedia, generasi banyak bersosialisasi di jejaringan social
mulai facebook, tweeter, path, komunitas blackberry dan media social network
lainnya. Dengan penguasaan teknologi informasi, mereka makin terbiasa berbelanja
online. generasi ini beranjak ke perilaku berbelanja melalui dunia maya. Mereka
meninggalkan gaya berbelanja offline atau berbelanja dengan langsung mendatangi
gerai di pusat-pusat berbelanja.
Di Indonesia, golongan generasi Y
merupakan golongan yang cukup besar dapat
dilihat dari Struktur penduduk berikut ini:
3
Pada piramida penduduk Indonesia ini,
menunjukkan bahwa Generasi Y yang lahir
diantara tahun 1980 sampai tahun 1999, yaitu
generasi dari struktur usia 15-34 tahun berada
pada generasi dengan populasi yang cukup
Grafik 5 : Piramida Penduduk
4
besar dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 249,9 juta jiwa . Secara
spesifik generasi ini berada di kelas menengah. Sehingga tidak aneh jika banyak dari
industry bisnis dan perdagangan, termasuk e-commerce menyasar generasi ini sebagai
segmen pasar potensial mereka.

3 Sumber : Statistik Indonesia (2014). Piramida penduduk berdasarkan data sensus penduduk 2000.

4 World Bank

25

26
3.6.1 Peluang (Opportunity) :
Dengan mempelajari karakteristik dari Generasi Y diatas, Lazada Indonesia,
yang merupakan pelaku bisnis e-commerce, memiliki peluang yang besar dengan
menjadikan Generasi Y sebagai target market potensialnya. Generasi ini memiliki
daya beli yang cukup tinggi, serta pengetahuan mereka mengenai teknologi dan
keaktifan di media social dan internet, menjadikan mereka generasi yang paling
sering melakukan transaksi pembelanjaan online. Hal ini sangat sejalan dengan
konsep bisnis Lazada, yang merupakan toko online yang melakukan penjualan
berbasis internet.
3.6.2 Ancaman (Threat) :
New Entry Barrier yang mudah untuk melakukan perdagangan di dunia
online, menjadikan Lazada harus memperhatikan banyaknya kompetitor yang
bermunculan dalam bisnis e-commerce. Kompetitor yang dihadapi tidak hanya pelaku
e-commerce besar yang bersifat head to head seperti Tokopedia, dan E-bay, namun
juga dari perdagangan online konventional dari masyarakat yang semakin marak.
Kehadiran banyaknya kompetitor di dalam bisnis e-commerce akan memberikan
banyak pilihan bagi masyarakat dalam berbelanja. Hal ini tentu akan menuntut
Lazada Indonesia untuk lebih gencar lagi dalam menarik pasar agar tidak kalah
dengan kompetitornya.
3.6.3 Strategi Pengembangan Usaha
Untuk dapat memenangkan persaingan bisnis, terutama dengan kompetitor
yang head to head dengan Lazada seperti halnya Tokopedia dan E-bay, Lazada hadir
dengan menawarkan konsep pembayaran Cash On Delivery (COD), menggesek kartu
di tempat, dan jaminan 30 hari uang kembali.
Lazada Indonesia juga dapat mempergencar iklan di internet, agar dapat lebih
dikenal lagi dikalangan luas tidak hanya diperkotaan namun juga wilayah kota kota
kecil ataupun pedesaan yang saat ini juga telah banyak menggunakan internet.

26

27
3.7 LINGKUNGAN DEMOGRAFI
Demografi merupakan salah satu faktor non-ekonomi yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan perekonomian suatu Negara maupun bisnis. Menurut
Dewi H. Susilastuti (2013) pengertian demografi adalah disiplin ilmu sosial yang luas
berkaitan dengan studi populasi manusia. Secara formal, demografi merupakan studi
populasi manusia, baik mengenai ukuran, komposisi dan penyebaran, dan proses
bagaimana populasi tersebut berubah. Kelahiran, kematian dan migrasi merupakan
tiga kunci utama demografi yang bersama-sama menghasilkan stabilitas atau
perubahan populasi. Selanjutnya, pada komposisi penduduk, demografi dijelaskan
secara mendasar berdasarkan dari usia, jenis kelamin, keluarga dan status rumah
tangga. Sedangkan secara sosial, demografi dijelaskan oleh status perkawinan,
pendidikan, status sosial-ekonomi, pekerjaan, dan lain sebagainya.
Lingkungan demografi menjadi penting untuk diperhatikan oleh pelaku bisnis
dikarenakan demografi dapat menggambarkan bagaimana suatu generasi memiliki
ciri dan karakteristik masing-masing, terdapat kesamaan maupun perbedaan yang
dapat menjadi gambaran umum mengenai bagaimana cara mereka berinteraksi
dilingkungan sosial maupun diseluruh siklus kehidupan mereka. Memahami
lingkungan demografi tentu menjadi hal penting bagi pelaku bisnis, agar strategi yang
dibuat dan dijalankan oleh pelaku bisnis sesuai dengan segmentasi pasar yang ia tuju.
Indonesia adalah Negara berkembang dengan penduduk terbanyak nomer 4 di
5
dunia dengan jumlah penduduk yang mencapai 249,9 Juta jiwa . Indonesia
merupakan Negara yang memiliki tingkat konsumsi yang tinggi, bahkan Indonesia
disinyalir sebagai salah satu Negara di Dunia yang fundamental perekonominya
ditopang oleh konsumsi masyarakat. Tingginya tingkat konsumsi ini salah satunya
dilandasi oleh factor demorgafi, dimana semakin meningkatnya jumlah masyarakat
kelas menengah, serta semakin banyaknya masyarakat dengan usia produktif yang

5 World Bank

27

28
berpotensi menjadi engine of growth bagi perekonomian atau disebut juga dengan
istilah bonus demografi.
Berikut ini kita akan melihat bagaimana kondisi demografi Indonesia berdasarkan struktur
penduduk:
Grafik 6 : Piramida Penduduk Dari perbandingan piramida penduduk
Indonesia
yang terdata pada tahun 2000 dan tahun 2010
tersebut, dapat kita lihat wahwa populasi dengan
usia produktif mulai dari 15-34 tahun mengalami
peningkatan yang cukup signifikan pada tahun
2010. Data dari International Monitery Fund,
World Economic Outlook Databased mencatat
tingkat perekonomian dan pendapatan per kapita di
Indonesia terus mengalami peningkatan.
Pendapatan perkapita pada tahun 2012 dilansir
mencapai U$ 3,660 atau sejumlah Rp. 43.188.
perharinya. Terdapat sebanyak 150 juta jiwa
penduduk Indonesia merupakan masyarakat kelas menengah, hal ini disesuai dengan
kriteria World Bank yang mengkatagorikan masyarakat dengan pendapatan diatas Rp.
20.000,- / hari sebagai katagori masyarakat Midle-Class. Di Indonesia Total pengguna
internet dilansir sebanyak 55 Juta jiwa atau sekitar 23% dari total penduduk Indonesia
dan kebanyakan dari mereka adalah masyarakat dengan segmen usia antara 15-34
tersebut.
3.7.1 Peluang (Opportunity) :
Dengan memperhatikan factor demografi dari populasi penduduk tersebut,
Lazada Indonesia, sebagai pelaku bisnis e-commerce, memiliki peluang yang besar
dengan menjadikan segmen usia 15-34 tahun sebagai sebagai target market
potensialnya. Selain dikarenakan populasi yang besar, segmen ini juga merupakan
generasi yang sangat akrab dengan teknologi dan paling potensial dalam melakukan
shopping online melalui internet. Generasi ini berada pada usia produktif dan

28

29
kebanyakan dari mereka merupakan masyarakat kelas menengah atau middle class.
Hal ini juga didukung oleh hasil riset dari Ipsos Dailysocial dan Veritrans, yang
menyatakan bahwa saecara global orang-orang yang suka membeli online adalah usia
35 tahun kebawah, memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, high income, dan
perempuan sedikit lebih unggul dari laki-laki dalam pembelian online di media social.
3.7.2 Ancaman (Threat) :
Peluang ini nampaknya juga telah banyak dilihat oleh para pelaku bisnis. New
Entry Barrier yang mudah untuk melakukan perdagangan di dunia online,
menjadikan Lazada harus memperhatikan banyaknya kompetitor yang bermunculan
dalam bisnis e-commerce. Kompetitor yang dihadapi tidak hanya pelaku e-commerce
besar yang bersifat head to head seperti Tokopedia, dan E-bay, namun juga dari
perdagangan online konventional dari masyarakat yang semakin marak. Kehadiran
banyaknya kompetitor di dalam bisnis e-commerce akan memberikan banyak pilihan
bagi masyarakat dalam berbelanja. Hal ini tentu akan menuntut Lazada Indonesia
untuk lebih gencar lagi dalam menarik pasar agar tidak kalah dengan kompetitornya.
3.7.3 Strategy Pengembangan Usaha
Menanggapi hal tersebut, lazada hadir dengan memberikan berbagai macam
keunngulan dari sisi produk maupun service. Lazada menawarkan lebih dari 65.000
macam produk, sistem pembayaran yang mudah dengan konsep pembayaran Cash
On Delivery (COD), menggesek kartu di tempat, dan jaminan 30 hari uang kembali.
3.8 PROCESSING TECHNOLOGY
Lazada adalah perusahaan E-commerce yang terbesar di Asia Tenggara
termasuk di Indonesia. Sebagai perusahaan E-commerce, Lazada Indonesia memiliki
keterikatan yang sangat tinggi terhadap teknologi. Teknologi yang terlibat tidak hanya
didalam proses bisnis secara internal, melainkan keseluruhan sistem bisnis mulai dari
supply chain, metode atau sistem perdagangan, proses bisnis, komunikasi, metode
transaksi hingga pengiriman barang ke konsumen.
Dalam menjalankan bisnisnya Lazada Indonesia sangat bergantung pada
teknologi internet dan jaringan computer, seperti halnya devinisi dari e-commerce itu

29

30
sendiri yang disampaikan Turban ( 2006 ) yaitu proses membeli, menjual,
mentransfer, atau menukar produk, jasa, atau informasi dilakukan via jaringan
komputer, yang meliputi internet.
Teknologi dan model bisnis yang digunakan pelaku bisnis e-commerce
disesuaikan oleh tipe bisnis yang dilakukan. Terdapat 4 tipe bisnis e-commerce antara
lain, yaitu B2B dimana penjual dan pembeli adalah organisasi bisnis. B2C dimana
penjual adalah organisasi bisnis dan pembeli adalah individu , C2B dimana penjual
adalah individu dan pembeli adalah organisasi bisnsi, C2C adalah penjual dan
pembeli sama sama individu.
Lazada Indonesia termasuk dalam tipe bisnis e-commerce B2C dimana Lazada
Indonesia sebagai organisasi bisnis yang menawarkan produk secara langsung ke
konsumen ( individu ) melalui media online. Sebagai E-commerce B2C, Lazada
Indonesia dihadapkan dengan jumlah pembeli yang sangat besar dan jumlah transaksi
penbelian yang ribuan perharinya, yang mengharuskan Lazada Indonesia dapat
mengatur ataupun mengelola transaksi tersebut dengan sebaik mungkin seperti halnya
pesanan yang harus diproses dengan segera dan produk yang harus dikirim ke
konsumen tepat waktu. Oleh sebab itu sangat penting bagi Lazada untuk
memanfaatkan teknologi dalam mekanisme bisnisnya.
Berikut ini adalah teknologi yang digunakan Lazada Indonesia meliputi :
a. Commercial ( Trading ) : Menurut Turban ( 2006 ) Comercial pada e-
commerce berupa penyediaan sarana untuk membeli dan menjual produk, jasa,
dan informasi melalui layanan online.
Dalam hal ini Lazada Indonesia melalui teknologi internet dan jaringan
computer menyediakan Electronic Commerce berupa Website dengan situs
www.Lazada.co.id, sebagai media penghubung, media iklan dan sekaligus
sarana untuk melakukan penjualan online kepada konsumen.
b. Communications : Menurut Turban (2006) Communications dalam e-
commerce meliputi pengiriman barang, jasa, informasi, atau pembayaran
melalui jaringan atau alat elektronik lainnya.

30

31
Secara lebih spesifik teknologi yang digunakan Lazada Indonesia dalam
sistem pembayaran meliputi pembayaran melalui jaringan seperti transfer
bank, atau media elektronik seperti ATM dengan menggunakan kartu debet,
atau bayar ditempat dengan menggunakan kartu kredit, dan pembayaran
cash/Cash On Delivery(COD). Sedangkan teknologi yang digunakan Lazada
untuk menlacak pembayaran dari konsumen adalah dengan menggunakan
Internet banking.
3.8.1 Peluang (Opportunity) :
Dalam e-commerce pembelian produk secara online akan menurunkan biaya
penjualan dari perusahaan sebesar 20-40%. Proses perdagangan dengan
menggunakan media Online ini dapat membantu perusahaan menjangkau pasar
dengan lebih luas tanpa batas tutorial wilayah.
3.8.2 Ancaman (Threat) :
Lebih lanjutnya pengurangan biaya tersebut sebenarnya sangat sulit untuk dicapai
karena produk yang telah dibeli oleh pembeli harus diantar secara fisik.
Walaupun ada yang bisa dikirim dalam bentuk digital seperti software atau music.
Dalam pengiriman barang berupa fisik Lazada menggunakan jasa agen pengiriman
seperti JNE, TIKI, FL, RPX, & Pandu.
3.8.3 Strategy Pengembangan
Pengembangan Teknologi:
Menyoroti sistem pembayaran yang dilakukan Lazada dengan sistem Cash
bayar ditempat/ Cash On Delivery (COD), dalam hal ini Lazada Indonesia masih
menggunakan sistem manual, dimana pembeli membayar uang cash/tunai dan
menyerahkannya kepada agen pengiriman. Dengan perkembangan teknologi dan
potensi pengguna internet yang terus meningkat, akan ada kemungkinan besar terjadi
perubahan tren pembayaran dengan lebih kearah elektronik (Electronic Cash) seperti
yang telah diterapkan di negara Amerika. Electronik Cash merupakan metode
pembayaran offline, dengan menggunakan smart cards, dan digital wallet. Digital
wallet ini bisa di instal di pengguna Smartphone, yang dapat kita koneksikan dengan

31

32
rekening bank. Sehingga saat melakukan transaksi pembayaran konsumen dapat
membuka aplikasi digital wallet dan memasukkan jumlah pembayaran yang
diperlukan, kemudian kode akses dari digital wallet akan disorot ke alat pendeteksi
yang disebut 2D Code. Contoh penggunaan Digital wallet ini dilakukan oleh
Startbuck dan dapat dilihat pada situs Youtube dengan link berikut:
http://www.youtube.com/watch?v=NtwyHyIjRAk atau di link :
http://www.youtube.com/watch?v=cZATWeWe3yc
Pengembangan juga bisa dilakukan untuk sistem promosi, dengan masuk ke
akun social yang sedang tren saat ini seperli pada LINE atau Instagram. Promosi pada
media social LINE dilakukan juga oleh situs e-commerce Rakuten.co.id dan official
account ini termasuk sukses di LINE.
3.9 LINGKUNGAN PEMERINTAHAN
Hasil survey dari Doing Business yang diterbitkan World Bank 2014 yang
bertujuan untuk menggambarkan kemudahan berbisnis didalam suatu Negara telah
memosisikan Indonesia sebagai Negara yang berada di peringkat 120. Terjadi sedikit
peningkatan dari sebelumnya dimana Indonesia berada pada peringkat 128. Namun
dibanding Negara ASEAN lain Indonesia masih tertinggal jauh. Seperti halnya
Negara Singapura yang bertahan di peringkat pertama, sementara Malaysia
menempati peringkat 6 dari tahun sebelumnya di peringkat 8. Filipina yang pada
survei sebelumnya di bawah Indonesia, kini lompat ke peringkat 108.
Dari data tersebut menunjukkan bahwa Kemudahan Berbisnis di Indonesia
Masih terbilang cukup sulit di banding Negara lain di ASEAN lainnya. Hal ini terkait
dengan kerja birokrasi pemerintahan yang belum optimal dalam mengatur
penyelenggaraan urusan pemerintahan baik domestic maupun internasional.
Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) dalam laporannya tahun 2007
menyebutkan bahwa kinerja birokrasi masih belum optimal. Indikator yang
menunjukan hal tersebut antara lain dicerminkan dengan masih banyaknya keluhan
masyarakat, baik menyangkut prosedur, kepastian, tanggung jawab, moral petugas,
serta masih terjadinya praktek pungli yang memperbesar biaya pelayanan, dan masih

32

33
kurang profesionalismenya aparatur pemerintah dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya, sehingga seringkali birokrasi masih dianggap sebagai penghambat
6
pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan
Birokrasi menjadi salah satu penghambat masuknya investasi ke Indonesia
yaitu soal perizinan yang dinilai sulit bagi pengusaha. Selain soal perizinan, masalah
yang kerap dihadapi investor yaitu soal kebijakan di beberapa kementerian berdiri
sendiri sehingga menjadi tumpang tindihnya aturan dan kebijakan, politik birokrasi
yang kental, birokrasi gemuk dan boros hingga korupsi yang melekat pada sistem
pemerintahan.
Beberapa upaya yang akan dilakukan pemerintah pada masa pemerintahan Jokowi
saat ini untuk memperbaiki birokrasi yaitu antara lain:
a. Penataan lembaga dengan memperbaiki kerangka institusionalnya dan
memperjelas prosedur operasional pemerintahan. Upaya yang dilakukan untuk
menyelesaikan masalah dalam kerumitan birokrasi yang menjadi penyebab
utama KKN (korupsi, kolusi dan Nepotisme) dapat diatasi melalui pelayanan
satu pintu atau one services.sehingga birokrasi yang rumit dapat dibuat
menjadi lebih sederhana dan terciptanya birokrasi yang lebih baik.
b. Sistem Online juga akan diberlakukan, seperti halnya yang telah dilakukan
yaitu IMB (izin mendirikan bangunan) online. Sistem birokrasi online bisa
menjadi alternative untuk mengurangi tingkat KKN, karena akan lebih mudah
diawasi dan di telusuri.
Pembenahan profesionalitas dan integritas aparatur sipil negara harus berjalan
dengan disertai pengawasan hingga pemberian award and punishment berdasarkan
aturran dalam Undang-Undang (UU) nomor 5 tahun2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN).

6 http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/5564/

33

34
3.9.1 Peluang (Opportunity) :
Birokrasi pemerintahan yang lamban, secara tidak langsung memberikan
hambatan bagi kompetititor yang akan masuk ke dunia bisnis E-commerce. Masalah
perizinan yang sulit menjadi salah satu penghambat masuknya investasi. Hal ini
menjadi kabar baik bagi Lazada yang telah lebih dulu berkecimpung di Dunia E-
commerce di Indonesia ketika para kompetitornya tidak mudah untuk masuk di
industy ini.
3.9.2 Ancaman (Threat) :
Birokrasi yang lambat dianggap sebagai penghambat pelaksanaan tugas-tugas
pemerintahan dan pembangunan hal ini juga berdampak pada lambatnya perbaikan
infrastruktur maupun berbagai program pemerintahan lainnya. Perbaikan infrastruktur
yang lambat seperti perbaikan jalan jalan yang rusak, perluasan area cakupan jalan
raya akan memberikan dampak pada tidak maksimalnya pelayanan pada distribusi
barang yang dilakukan Lazada Indonesia. Lazada sebagai perusahaan e-commerce
menggunakan jasa ekspedisi dalam setiap pendistribusian barang ke konsumennya.
Dengan perbaikan infrastructure yang lamban dari pemerintah bukan tidak mungkin
akan menghambat pendistribusian barang Lazada ke konsumennya, seperti adanya
kendala ketika akses jalan yang dilalui banyak mengalami kerusakan atau
pendistribusian terhambat dikarenakan infrastruktur ke pedesaan sangat minim.
3.9.3 Strategy Pengembangan :
Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk dapat menjangkau wilayah
pedesaan yang sangat jarang bisa dimasuki oleh banyak ekspedisi, yaitu dengan
bekerjasama dengan PT. Pos Indonesia. Pos adalah satu satunya ekspedisi di
Indonesia yang mampu melayani hingga kepelosok daerah. Dengan melakukan
kerjasama ini maka kendala seperti itu dapat diminimalisir sehingga Lazada tetap
dapat memberikan layanan yang memuaskan bagi konsumennya dimanapun mereka
berada.

34

35
3.10 POLITIK INTERNASIONAL
Kerjasama perdagangan internasional sudah kerap dilakukan oleh Indonesia,
baik dalam skala ASEAN maupun skala yang lebih luas. Misalnya, ASEAN Free
Trade Areas (AFTA), China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), atau yang terbaru
yakni ASEAN Economic Community (AEC) yang akan dilaksanakan pada 2016
mendatang. Indonesia juga turut bergabung dalam World Trade Organization (WTO),
dimana setiap negara anggota harus mengikuti dan melakukan penyesuaian aturan
yang dikeluarkan oleh WTO terhadap regulasi di negara masing-masing.
Salah satu tujuan dari WTO adalah memelihara sistem perdagangan internasional yang terbuka dan
bebas. Sehingga menjadi penting dalam memperhatikan keberadaan teknologi informasi (TI) yang memungkinkan
individu saling berhubungan tanpa dibatasi oleh batas‐batas Negara. Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi
juga mampu menghilangkan hambatan‐hambatan informasi dalam perdagangan, dan mampu membuka
kesempatan seluas‐luasnya akses sumber daya dan pasar kepada investor atau kalangan bisnis dari negara lain.

Indonesia sebagai Negara yang terlibat dalam perdagangan internasional, turut


serta dalam memperhatikan keberadaan faktor teknologi informasi (TI) yang dapat
memainkan peranan besar di dalam mendukung good governance melalui
transparansi dan partisipasi masyarakat. Kemajuan teknologi juga mampu menjadikan
perdagangan internasional menjadi sangat mudah, sehingga diharapkan dapat
berdampak pada terciptanya pasar bebas dan terbuka yang memberikan potensi
terhadap pertumbuhan social dan ekonomi.
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada Forum e-Indonesia Initiative
ITB 2005 menyatakan bahwa TIK adalah suatu pilar utama peradaban manusia saat
ini yang harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas dan diharapkan
menjadi dalam transfromasi menjadi bangsa yang maju. Tidak ada satupun bidang
kehidupan bangsa ataupun sector pembangunan nasional yang tidak memerlukan
pembangunan TIK.

35

36
Dari pernyataan Presiden serta pernyataan tersebut, dapat
menginterprestasikan bahwa pemerintah Indonesia nampaknya sangat mendukung
dan terbuka terhadap perkembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)
sebagai salah satu sector yang berperan penting terhadap kemajuan bangsa.
Keterbukaan pemerintah terhadap TIK ini diiringi dengan berbagai perundang-
undangan dan peraturan pemerintah dalam upaya menciptakan keamanan, praktik
bisnis yang adil antara pelaku usaha dan konsumen, perlindungan konsumen secara
lebih komprehensif terhadap praktik perdagangan melalui media internet/jejaring,
serta meningkatkan daya saing (competitiveness) transaksi perdagangan internet.
Perundang undang yang menyangkut TIK meliputi Undang-undang Nomor 14 Tahun
2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, serta Undang-undang republik
Indonesia, Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang
mengimplementasikan beberapa standar internasional separti :
a. UNICITRAL Model Law on E-Commerce (1996)
b. UNICITRAL Model Law on E-signature law (2001)
c. UN Conventation on use of electronic communication for international
contract (2005)
d. EU Convention on Cybercrime (Budapet 2001)
Tidak dapat dipungkiri, perkembangan TIK di suatu negara memberikan
manfaat besar bagi kemajuan, kemakmuran dan kejayaan suatu bangsa. Di dalam
perkembangannya, kemajuan TIK juga berdampak pada perubahan hubungan
antarbangsa, baik pada masa damai maupun pada masa perang. Melalui pemanfaatan
TIK yang konstruktif, hubungan sosial antarbangsa dapat terselenggara secara
langsung dalam waktu relatif singkat dan tanpa hambatan apapun. Melalui TIK pula,
kemajuan ilmu pengetahuan dapat terdistribusi dan tersebar luas di tengah-tengah
masyarakat.
Nampaknya keterbukaan pemerintah terhadap TIK menjadikan mulai dikenal dan berkembangnya perdagangan secara Elektronis (e‐commerce).
Hal ini

36

37
memberikan angin segar bagi banyak pelaku E-commerce baik asing maupun
domestic untuk melakukan investasi di Indonesia. E‐commerce adalah mekanisme
transaksi yang menggunakan perangkat jaringan komunikasi Elektronis seperti
internet yang digunakan oleh negara maju dan negara berkembang sehingga
aktivitasnya tidak dapat lagi dibatasi oleh batasan geografis, karena mempunyai
karakteristik lintas batas regional dan global sehingga mampu meningkatkan efisiensi
dan kecepatan penyelenggaraan bisnis dan pemerintahan.
3.10.1 Peluang ( Opportunity )
a. Dalam menjalankan bisnisnya Lazada Indonesia sangat bergantung pada
teknologi internet dan jaringan computer, seperti halnya devinisi dari e-
commerce itu sendiri yang disampaikan Turban ( 2006 ) yaitu proses membeli,
menjual, mentransfer, atau menukar produk, jasa, atau informasi dilakukan via
jaringan komputer, yang meliputi internet. Sehingga dengan peraturan yang
diberlakukan pemerintah serta keterbukaan pemerintah terhadap Information
Teknologi menjadikan Lazada dapat dengan mudah untuk masuk ke pasar
Indonesia.
b. Pemanfaatan teknologi melalui media internet telah memberikan banyak
manfaat dan konsekuensi positif bagi kehidupan bermasyarakat khususnya e‐
commerce. Sebagai perusahaan e-commerce, Teknologi Informasi seperti
internet menjadikan perusahaan mampu memperluas pangsa pasar tanpa
hambatan batas toritorial.
3.10.2 Ancaman (Threat) :
Keterbukaan pemerintah terhadap teknologi informasi menjadi pemicu
berkembangnya pengguna Internet di Indonesia, Semakin banyaknya ritel online di
Indonesia menjadi bukti bahwa kini semakin banyak konsumen yang telah terbiasa
menggunakan internet dalam kegiatan sehari-harinya. New Entry Barrier yang mudah
untuk melakukan perdagangan di dunia online, menjadikan Lazada harus
memperhatikan banyaknya kompetitor yang bermunculan dalam bisnis e-commerce.

37

38
Kompetitor yang dihadapi tidak hanya pelaku e-commerce besar yang bersifat head
to head seperti Amazon.com, dan E-bay, namun juga dari perdagangan online
konventional dari masyarakat yang semakin marak. Kehadiran banyaknya kompetitor
di dalam bisnis e-commerce akan memberikan banyak pilihan bagi masyarakat dalam
berbelanja. Hal ini tentu akan menuntut Lazada Indonesia untuk lebih gencar lagi
dalam menarik pasar agar tidak kalah dengan kompetitornya.
3.11 INFORMASI TEKNOLOGI
Devinisi dari e-commerce menurut U.S. Department of Commerce yaitu “The
sales of goods and services where an order is placed by the buyer or price and terms
of sale are negotiated over the Internet”. Dari devinisi tersebut, menunjukkan bahwa
teknologi internet merupakan hal pokok yang harus ada dalam pelaksanaan bisnis e-
commerce. Perkembangan transaksi bisnis yang menggukanan e-commerce tidak
terlepas dari laju pertumbuhan internet. Pertumbuhan pengguna internet yang pesat
adalah kenyataan bahwa internet adalah media penting dan efektif bagi perusahaan
untuk memperkenalkan dan menjual produk barang atau jasa ke calon pembeli.
Mencermati pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang terus meningkat dari
waktu kewaktu menjadikan E-commerce sebagai salah satu yang disebut-sebut
sebagai next big thing dalam digital marketing di Indonesia. Hasil survey Visa,
diperkirakan online shopping di Indonesia akan tumbuh 40% tahun 2014 dan 53%
tahun 2015. Pertumbuhan online shopping ini dilandasi dengan semakin
meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari
Cisco Visual Networking Index, yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara
dengan pertumbuhan lalu lintas IP (Internet Protocol) tercepat kedua di dunia. Ini
artinya, jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertambah dengan pesat .
Johar Alam Rangkuti (Chairman, PT Internetindo Data Centra Indonesia),
menyatakan bahwa pengguna internet Indonesia memainkan posisi yang sangat
penting di dunia, dimana Indonesia merupakan Negara dengan pengguna Internet
terbesar ke-8, dan pegguna jejaring sosial terbesar ke-4 dunia. Berdasarkan data yang
dilaporkan kementrian dan informatika republic Indonesia, Indonesia berada pada

38

39
posisi ke 4 dengan tingkat pengguna facebook terbanyak di dunia, dan Negara ke-5
dengan jumlah pengguna tweeter terbanyak. Data dapat dilihat pada gambar berikut:
Grafik 7 : Data Pengguna Internet 2012

Sumber : kementrian komunikasi dan informatika republic Indonesia.

Jika melihat dari tingkat pertumbuhan dan jumlah pengguna social media,
maka Facebook dan tweeter merupakan media social yang memiliki potensi besar
dalam meraih market pada bisnis e-commerce. Hal ini dikarenakan banyknya jumlah
pengguna Facebook di Indonesia yang mencapai 47 juta pengguna dan Tweeter 19,5
juta pengguna pada tahun 2012.
Ipsos, sebuah lembaga riset yang berbasis di Amerika dan Kanada,
meluncurkan hasil riset mengenai kebiasaan orang membeli di social media. Hasil
riset menunjukkan Indonesia adalah Negara dengan proporsi terbesar nomer 2 dunia,
setelah brazil, dimana orang-orangnya suka membeli berdasarkan rekomendasi dan
iklan dari media social. Tingkat proporsi sebagai berikut, Brazil (69% berdasarkan
iklan, 66% berdasarkan post), diikuti oleh Indonesia (68% dan 64%). Hasil survey
lainnya dilakukan oleh Daily Social dan Verytrans (2011), menunjukkan bahwa
setengah dari pembeli online di Indonesia melakukan transaksi belanja online melalui
Facebook.

39

40
3.11.1 Peluang (Opportunity) :
Dengan semakin meningkatnya pengguna internet, dan semakin banyaknya
pelaku online shopping di Indonesia memberikan banyak peluang dan kesempatan
bagi Lazada Indonesia untuk semakin berkembang. Kemampuan dalam mengikuti
prilaku pasar dimana pengguna Internet Indonesia yang mayoritas menggunakan
media social sebagai media belanja online, mengharuskan Lazada untuk dapat
memanfaat hal ini dengan membuat akun e-commerce di media yang banyak diminati
seperti Facebook dan Tweeter. Oleh karena itu Lazada Indonesia selain menggunakan
Teknologi Web Commerce didalam operasional bisnisnya dengan situs resmi
www.lazada.co.id, Lazada juga menggunakan teknologi Web 2.0 berupa Facebook
dengan situs Facebook.com/LazadaID dan Tweeter dengan situs Twitter:
Twitter.com/LazadaID. Screenshot aplikasi dapat dilihat pada gambar berikut :

Teknologi web commerce dengan situs www.lazada.co.id


Web 2.0 dengan situs Facebook/LazadaID

Web 2.0 dengan situs Twitter.com/LazadaID

40

41
3.11.2 Ancaman (Threat) :
Semakin banyaknya ritel online di Indonesia menjadi bukti bahwa kini
semakin banyak konsumen yang telah terbiasa menggunakan internet dalam kegiatan
sehari-harinya,. Lazada harus memperhatikan banyaknya kompetitor yang
bermunculan dalam bisnis e-commerce. Kompetitor yang dihadapi tidak hanya pelaku
e-commerce besar yang bersifat head to head seperti Amazon.com, dan E-bay, namun
juga dari perdagangan online konventional dari masyarakat yang semakin marak.
Kehadiran banyaknya kompetitor di dalam bisnis e-commerce akan memberikan
banyak pilihan bagi masyarakat dalam berbelanja. Hal ini tentu akan menuntut
Lazada Indonesia untuk lebih gencar lagi dalam menarik pasar agar tidak kalah
dengan kompetitornya.
3.11.3 Strategy Pengembangan
Dengan adanya E-commerce kedua belah pihak baik Lazada sebagai
produsen maupun masyarakat Indonesia sebagai konsumen sama-sama diuntungkan.
Konsumen dapat lebih mudah dalam memperoleh produk yang diinginkan dan
dengan harga yang relative lebih murah, dapat memiliki banyak referensi serta
menghemat waktu dan biaya dibanding jika berbelanja offline. Sedangkan Lazada
diuntungkan dengan pangsa pasar yang semakin luas.
Kemampuan perusahaan dalam memperluas pasar dan menarik banyak
konsumen tidak lepas dari peranan teknologi apa yang digunakan, sehingga menjadi
perhatian bagi perusahaan untuk menggunakan teknologi dan media e-commerce
yang tepat dan effective. Teknologi selain sebagai alat bantu yang memudahkan
dalam transaksi bisnis, juga sebagai kunci sukses bagi suatu usaha. Dengan
memanfaatkan teknologi yang tepat guna akan berdampak baik terhadap keefektifan
kinerja suatu perusahaan sebigu pula sebaliknya jika teknologi yang digunakan tidak
tepat guna maka akan cenderung useless dan hanya menghabiskan banyak biaya.

41

42
3.12 LINGKUNGAN ALAM
Indonesia adalah Negara yang memiliki potensi bencana alam yang cukup
tinggi dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut laporan
UNISCO pada tahun 2005, Indonesia berada pada peringkat ke 7 sebagai negara yang
paling rawan di landa bencana. Sedangkan Firma konsultan resiko global, Maplecroft,
menempatkan Indonesia dalam katagori nomor dua di dunia yang rentan bencana
dalam Indeks Resiko Bencana Alam (ISDR)(Wsp 27/5-2011). Tingginya tingkat
bencana alam di Indonesia juga diakui oleh Bakornas PB yang menyatakan bahwa
antara tahun 2003 hingga 2006 telah terjadi 1.429 kejadian bencana, dimana bencana
hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, gelombang pasang, tsunami,
kekeringan, kebakaran lahan dan hutan merupakan bencana yang paling sering
terjadi, disusul oleh bencana geologi lain yang tidak kalah besar seperti gempa bumi
dan gunung meletus, yang turut memperpanjang daftar sejarah kejadian bencana alam
di Indonesia.
Bencana alam kini menjadi factor lingkungan yang cukup serius untuk
diperhatikan bagi para pelaku bisnis, dikarenakan kebanyakan dari bencana alam
memberikan efek negative bagi keberlangsungan perusahaan, meskipun ada beberapa
yang justru memberikan dampak positif bagi bisnis tertentu. Mengetahui potensi dari
bencana alam setidaknya akan memberikan gambaran bagi pelaku bisnis agar resiko
dari bencana alam dapat diatasi atau paling tidak dapat diminimalisir.
Bencana menurut Badan Penanggulanan Bencana (2013), adalah peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang mengancam dan menggangu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh factor alam dan/atau nonalam maupun
factor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Indonesia memiliki banyak daerah yang rentan terhadap bencana alam seperti
gempa bumi, tsunami, banjir, letusan vulkanik dan musim kemarau, banjir dan
bencana hidrometeorologi maupun geologi lainnya. Secara geografis Indonesia
terletak didaerah khatulistiwa dengan morfologi yang beragam dari daratan sampai

42

43
pegunungan tinggi. Keragaman morfologi ini banyak dipengaruhi oleh faktor geologi
terutama dengan adanya aktivitas pergerakan lempeng tektonik aktif di sekitar
perairan Indonesia diantaranya adalah lempeng Asia, Australia dan lempeng Dasar
Samudera Pasifik dan Lempeng Samudera Hindia.
Pergerakan lempeng-lempeng tektonik tersebut menyebabkan terbentuknya
jalur gempa bumi, rangkaian gunung api aktif serta patahanpatahan geologi yang
merupakan zona rawan bencana gempa bumi dan tanah longsor. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB, 2006) menunjukkan data bahwa Indonesia adalah
salah satu negara yang mempunyai tingkat kegempaan yang tinggi di dunia dimana
lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan yang terjadi di Amerika Serikat.
Potensi bencana yang ada di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 2
kelompok utama, yaitu potensi bahaya utama (main hazard) dan potensi bahaya
ikutan (collateral hazard). Potensi bahaya utama (main hazard potency) ini dapat
dilihat antara lain pada peta potensi bencana gempa di Indonesia yang menunjukkan
bahwa Indonesia adalah wilayah dengan zona-zona gempa yang rawan, peta potensi
bencana tanah longsor, peta potensi bencana letusan gunung api, peta potensi bencana
tsunami, peta potensi bencana banjir, dan lain-lain. Dari indikator-indikator diatas
dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi bahaya utama (main hazard
potency) yang tinggi (HPLI, 2014).
Tren bencana alam terus meningkat dari tahun ketahun, BNPB mencatat
bencana yang terjadi pada tahun 2002 ada 190 kejadian, di tahun 2005 terdapat 691
kejadian bencana, di 2010 ada 2.232 bencana. Beberapa tahun terakhir ini, sejumlah
bencana alam terjadi di Indonesia, seperti letusan Gunung Merapi dan Gunung
Bromo, tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, yang mana keduanya terjadi pada
tahun 2010, tsunami di Pangandaran, Jawa Barat pada tahun 2006, gempa bumi di
Yogyakarta, Jawa Tengah pada tahun 2006 serta semburan dan banjir lumpur panas di
Jawa Timur pada tahun 2006 dan beberapa gempa bumi di Papua, Jawa Barat,
Sulawesi, dan Sumatra pada tahun 2009. Indonesia juga mengalami banjir besar di

43

44
Jakarta pada bulan Februari 2007 dan Solo, Jawa Tengah pada bulan Januari 2008.
Pada bulan Maret 2009, hujan lebat telah mengakibatkan jebolnya bendungan di luar
Jakarta, menenggelamkan rumah-rumah di daerah berpenduduk padat, dan
mengakibatkan kematian atas kira-kira 100 orang. Banjir melanda ratusan rumah dan
menyebabkan beberapa orang dilaporkan hilang. Pada Oktober 2010, sedikitnya 145
orang meninggal pada banjir bandang di kelurahan Wasior, Papua Barat. Sejak 24
Oktober 2010 hingga 5 November 2010, Gunung Merapi, sebuah gunung berapi di
bagian selatan Jawa dekat Yogyakarta, meletus beberapa kali dan dipercaya telah
menewaskan lebih dari 380 orang. Selain itu pada Oktober 2010, gempa bumi
melanda pesisir Sumatera Barat yang menyebabkan tsunami pada Kepulauan
Mentawai, dimana lebih dari 500 orang meninggal dunia.
Bencana yang terjadi pada tahun 2014 seperti meletusnya Gunung Kelud di
Kediri Jawa Timur, kabut asap di Riau, Banjir bandang dan longsor yang terjadi di
Sulawesi Utara, Gempa dengan kekuatan 6,5 skala Richter (SR) terjadi di Kebumen
Jawa Tengah, Puting Beliung yang terjadi di Lampung, Banjir yang terjadi diberbagai
kota seperti Boyolali (Jateng), Demak (Jateng), Bungo (Jambi), Banjar (Kalsel),
Cijengkol (Banten), Bekasi (Jabar), Tanah Longsor yang terjadi di Lebak (Banten),
Sukabumi (Jabar), Puting Beliung yang terjadi di Pringsewu (Lampung), Boyolali
(Jateng), Karawang (Jabar), Tanggul Jebol terjadi di Depok (Jabar), Erupsi: Gunung
Sinabung yang terjadi di Karo (Sumut).
Badan Nasional Penanggulanan Bencana menggunakan Data dan Informasi
Bencana Indonesia (DIBI) sebagai alat aplikasi analisis yang digunakan untuk
menyimpan data bencana serta mengelola dara spasial maupun data non spasial baik
bencana skala kecil maupun bencana skala besar dan banyak factor yang dapat
meningkatkan terjadinya resiko bencana. Badan Nasional Penganngulangan Bencana,
mencatat frequensi bencana berdasarkan hasil analisa DIBI, yaitu tertera pada char
berikut:

44

45
Frekuensi Bencana Periode 1815-2014
Banjir Erupsi Epidemic
Gempa dan Stunami Kekeringan Konflik
Kecelakaan Transfortasi Gelombang Angin Kencang
Longsor Kebakaran Hutan Banjir dan Longsor
1% 3%

17%
37%

21%

12%
1%
2% 1%
2%
2% 1%

Grafik 8 : Frekuensi Bencana Periode 1815-2014


Data tersebut menunjukkan frekuensi bencana alam yang paling sering terjadi
menimpa Indonesia adalah banjir yaitu sebesar 37%, angin kencang 21%, longsor
17% dan kekeringan 12%. Dan diikuti oleh bencana alam lainnya seperti erupsi,
epidermik, kebakaran hutan, gelombang, kecelakaan transfortasi, dan longsor. Dari
daftar bencana alam tersebut kebanyakan berupa Bencana alam hidrometeorologi
(bencana alam meteorologi) yaitu bencana alam yang berhubungan dengan iklim.
Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam Qodriatun
(2013), memperkirakan bencana alam hidrometereologi akan terus berlangsung
karena adanya anomali suhu muka air laut yang menghangat di perairan Indonesia
yang menyebabkan pasokan uap air melimpah sehingga curah hujan berintegrasi
tinggi terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dari berbagai bencana alam, Badan
Nasional Penanggulangan Benvana, mencatat dampak yang besar terjadi pada saat
terjadi Banjir, dimana jumlah korban jiwa mencapai 18.877 jiwa dan kerusakan
rumah sebanyak 280.560 buah. Kerugian akibat bencana alam lainnya yang paling
banyak memakan korban jiwa yaitu Stunami dengan jumlah 167.779 jiwa meninggal

45

46
dunia dan menhancurkan 421.969 rumah penduduk, selain itu Erupsi juga berakibat
pada meninggalnya 78.647 jiwa penduduk Indonesia.
3.12.1 Bencana Alam Dan Dampaknya Bagi Perusahaan ( Ancaman )
Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak dapat dielakkan dan terjadi
diluar kendali semua orang. Dampak bagi bencana alam tidak hanya dirasakan bagi
masyarakat perorangan tetapi juga bagi banyak industry bisnis. Lazada Indonesia
sebagai perusahaan e-commerce di Indonesia, memperoleh dampak negative dari
terjadinya bencana alam. Lazada Indonesia dimana aktivitas bisnisnya yang
menggunakan kurir sebagai saluran distribusi barang dari perusahaan ke konsumen.
Dengan terjadinya bencana alam, berakibat pada terhambat proses pengantaran
barang, sehingga pengiriman barang akan memakan waktu lebih lebih lama bahkan
bisa mencapai berminggu-minggu. Sebagai contoh ketika terjadi letusan Gunung
Kelud, berakibat pada Hujan abu yang menerpa hingga sejumlah wilayah di Jawa
Tengah dan Yogyakarta, yang berjarak lebih dari 200km dari gunung Kelud. Badan
Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, menyebutkan hujan abu menyebar di
beberapa wilayah, seperti Kediri, Malang, Blitar, Surabaya, Ponorogo, hingga
Pacitan, Solo, Yogya, Boyolali, Magelang, Purworejo, serta Temanggung. Hujan abu
dan hujan pasir yang tersebar mencapai ketinggian 10cm berakibat terhadap
terhambatnya berbagai aktifitas, akses jalan semakin sulit, sehingga banyak
penerbangan yang delay, dan ekspedisi/jasa pengiriman barang pun mengalami
kesulitan dalam akses distribusi baik darat maupun udara. Sama halnya seperti asap
tebal yang terjadi di Riau, juga berdampak pada banyaknya pesawat yang mengalami
keterlambatan hal ini berefek pada kinerja ekspedisi/ kurir pengiriman barang yang
tidak bisa mengantar pengiriman barang tepat waktu. Pemadaman listrik selama kabut
di Riau yang dilakukan selama 3 hari berdampak pada terhambatnya aktivitas
masyarakat, khususnya bagi mereka yang suka berbelanja online, aktivitas
pemadaman listrik mengakibatkan masyarakat tidak dapat mengakses internet. Selain
itu bencana yang paling sering terjadi adalah bencana banjir. Banjir dan berdampak

46

47
langsung pada terhambatnya pengiriman paket barang oleh berbagai ekspedisi,
dikarenakan akses infrastruktur yang sulit dilewati karena genangan air.
Bagi Lazada Indonesia Keterlambatan pengiriman barang ke alamat
konsumen selain berdampak pada penurunan produktifitas perusahaan, juga
berpengaruh pada berkurangnya kepuasan konsumen terhadap pelayanan. hal ini juga
berimbas pada menurunnya jumlah pemesanan barang diwilayah terjadinya bencana.
Bencana alam juga berdampak bagi kehidupan social masyarakat, dimana
dengan terjadinya bencana minat masyarakat untuk berbelanja menurun. Hal ini
dikarenakan kondisi yang tidak stabil, ekonomi masyarakat yang kurang baik akibat
kerugian yang diderita pasca bencana.
3.12.2 Strategy Pengembangan Usaha
Menurunnya minat konsumen untuk berbelanja akibat terjadinya bencana,
meberikan dampak pada menurunnya penjualan perusahaan. Jika hal ini terjadi secara
terus menerus akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap menurunnya
revenue perusahaan. Dalam menghadapi hal ini, strategy yang dilakukan perusahaan
adalah mempergencar iklan dan promosi, agar bisa menarik banyak segmen pasar
diberbagai wilayah. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir resiko penurunan pesanan
ketika terjadi bencana diwilayah tertentu, maka perusahaan masih memiliki target
pasar diwilayah lain yang dapat menopang turunannya pesanan diwilayah yang
terkena bencana.
3.13 INDUSTRI DAN KEBIJAKAN SEKTORAL
E-Commerce merupakan industri yang masih tergolong baru di Indonesia,
namun diprediksikan bahwa industri ini akan mengalami pertumbuhan yang pesat
selama beberapa tahun depan. Potensi belanja online di Indonesia semakin lama
semakin bertumbuh besar dengan semakin mudahnya akses jaringan internet dan
meningkatnya kepercayaan konsumen untuk memilih berbelanja online dibanding
belanja di suatu toko offline.

47

48
Menkominfo ( Kementerian Komuunikasi dan Infromasi) yang menyebutkan bahwa
nilai transaksi e-commerce pada tahun 2013 mencapai angka Rp130 triliun. Data dari
lembaga riset ICD memprediksi bahwa pasar e-commerce di Indonesia akan tumbuh
dari 42% dari tahun 2012-2015.
Terdapat peraturan pemerintah di sector perdagangan e-commerce yang
mengikat setiap pelaku e-commerce di Indonesia. Kebijakan pemerintah ini berupa
peraturan perundang-undangan mengenai tata cara pelaksanaan dan penerapan
perdagangan yaitu antara lain Undang-undang republik Indonesia, Nomor 11 tahun
2008 Tentang Informasi dan transaksi elektronik, Undang-undang perlindungan
konsumen, dan UU Transaksi Keuangan. Pemerintah melakukan tiga pendekatan
utama yang dapat digunakan untuk menjaga aspek keamanan dunia internet, yaitu
pendekatan aspek hukum, aspek teknologi, dan aspek sosial, budaya, dan etika,
sehingga untuk menjaga dan mengatasi gangguan keamanan dalam penyelenggaraan
sistem Elektronis, pendekatan hukum bersifat mutlak karena tanpa kepastian hukum,
persoalan pemanfaatan informasi menjadi tidak optimal. Ada beberapa hal yang
mendasari pentingnya hal tersebut, pertama dari aspek legal, yaitu untuk
mengintegrasi berbagai peraturan dan perundang undangan yang telah ada dan
seharusnya ada, kemudian untuk mempromosikan persaingan usaha yang sehat di
ranah dunia maya. Kedua dari aspek kontrak online, yaitu standar verifikasi legalitas
e-document dan tandatangan elektronis, kemudian proteksi terhadap keamanan dan
keandalan informasi, serta untuk membangun tugas dan tanggung jawab iklim usaha
e-commerce. Dari sisi aspek pembayaran elektronis (e-Payment), yaitu: bagaimana
melindungi konsumen dalam transaksi online dan pengaturan sistem pembayaran
yang baru.
3.13.1 Peluang (Opportunity) :
Kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan TIK menjadikan e-
commerce sebagai bisnis yang menggiurkan. Berangkat dari hal inilah didirikannya
Lazada Indonesia yang merupakan cabang dari perusahaan terkemuka asal Jerman,
Rocket Internet pada 2012, di Jakarta Selatan. Di dalam menjalankan bisnis e-

48

49
commerce tentu saja banyak yang harus diperhatikan terkait kebijakan pemerintah
melalui undang-undangnya. Peraturan yang dilakukan pemerintah ini memberikan
dampak pada terciptanya keselarasan, dan keamanan, praktik bisnis yang adil antara
pelaku usaha dan konsumen, dan untuk kebaikan bersama dalam hubungan yang
saling menguntungkan antara pelaku bisnis, masyarakat dan pemerintah.
3.13.2 Ancaman ( Threat) :
Terdapat sanksi administratif bagi pelanggaran terhadap ketentuan
penyelenggaraan perdagangan Elektronis, baik bagi penyelenggara (merchant)
maupun bagi pelanggan (consumers). Sanksi yang akan dijatuhkan kepada merchant
berupa denda administratif, peringatan di web merchant sampai kepada pembekuan
kegiatan perdagangan Elektronis. Sanksi yang akan dijatuhkan kepada pelanggan
berupa denda administratif, peringatan di web merchant (blacklist) sampai dengan
pelarangan transaksi melalui perdagangan Elektronis.
3.13.3 Strategy Pengembangan :
Peraturan pemerintah terhadap perdagangan elektornis (E-cemmerce) di
Indonesia, serta beberapa peraturan pemerintah maupun perundang-undangan yang
menjadi perhatian bagi Lazada Indonesia sehingga dijadikan pedoman dalam
menjalankan bisnisnya. Dalam memenuhi aspek pembayaran yang elektronis ( e-
Payment ), Lazada memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan
pembayaran dengan beberapa bebrapa metode pembayaran yaitu sistem pembayaran
yang lengkap seperti kartu kredit, transfer bank dan Bayar ditempat/Cash On
Delivery(COD) serta jaminan 30 hari uang. Pembayaran Cash On Delivery ini
bertujuan untuk memudahkan konsumen yang tidak bisa menggunakan e-Payment,
atau konsumen yang masih ragu terhadap kepastian belanja online karena banyaknya
kasur-kasus penipuan online yang sedang marak

49

50
BAB IV
STRATEGY PENGEMBANGAN USAHA
Dengan memperhatikan peluang dan ancaman dari ketiga belas lingkungan
bisnis yang telah dijabarkan diatas, maka Lazada Indonesia dapat dijadikan hasil
analisa tersebut sebagai bentuk informasi yang bermanfaat bagi perusahaan dalam
perancangan strategi baik untuk pengembangan internal perusahaan maupun stategi
bersaing dengan kompetitior. Hal yang dilakukan Lazaada Indonesia, untuk masuk di
Pasar Indonesia, sudah sangatlah tepat dikarenakan dengan budaya konsumsi yang
tinggi oleh masyarakat Indonesia, meningkatnya pendapatan masyarakat, dan serta
dukungan pemerintah terhadap perkembangan informasi dan technology menjadikan
pasar Indonesia adalah pasar yang menggiurkan bagi pelaku usaha E-commerce.
Namun dalam menghadapi persaingan yang semakin kuat, Lazada Indonesia
membutuhkan perencanaan strategy untuk memengkan kompetisi. Hal yang harus
dilakukan seperti meningkatkan kampanye iklan melalui internet marketing, seperti
menggunakan SEO, PCC Advertising, Sosial Media Marketing, maupun E-mail
marketing. Hal lain yang perlu diperhatikan untuk dapat memenangkan persaingan
adalah dengan menawarkan harga produk yang kompetitive, dan lebih murah
dibanding pesaingnya, hal ini dapat dilaksanakan dengan meningkatkan kerjasama
dengan vendor dan bernegosiasi agar dapat memperoleh produk dengann harga yang
lebih murah, sehingga mampu menawarkan produk dengan harga yang lebih
terjangkau kepada konsumen. Peningkatan layanan pendistribusian barang dengan
mempercepat waktu pengiriman, serta dapat menjangkau wilayah-wilayah pelosok
untuk meningkatkan hal ini maka Lazada Indonesia dapat meningkatkan kerjasama
dengan berbagai media ekspedisi seperti JNE, Pos Indonesia, dan lainnya.

50

51
DAFTAR PUSTAKA
Alfitri. 2007. Budaya Konsumerisme Masyarakat Perkotaan. Majalah Eprika, Volume
XI, no. 01.

Ansori, Mohammad Hasan. 2009. Consumerism and the emergence of a New Middle
Class in Globalizing Indonesia. University of Hawai’i.

Ancok, D. 2004. Psikologi Terapan: Mengupas Dinamika Kehidupan Umat Manusia.


Yogyakarta, Darussalam.

Ancok, Djamaludin. 2014. Social Change and Business How to Manage Generation
Y. Bahan Ajar General Business Environment. MM UGM : Yogyakarta.

Ardhanari, Margaretha. 2013. Memelihara Budaya : Perspektif Masyarakat


Konsumen Dan Perilakunya. Universitas Katolik Widya Mandala. Surabaya

Arsyad, Lincolin. 2013. Economic Development. Bahan Ajar General Business


Environment. MM UGM. Yogyakarta

Badan Penanggulanan Bencana. 2013 . Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana


Daaerah Yogyakarta 2013-2017. Yogyakarta.

Bank Indonesia. 2014. Laporan kebijakan moneter, ekonomi, moneter dan keuangan.
Indonesia.

Bapenas dengan BKNPB Jakarta. 2006. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko
Bencana 206-209. Jakarta: Badan Perencanan Pembangunan Nasional Pres.

DailySocial, Verytrans. 2012. E-commerce In Indonesia. Independent research project


at Harvard Business School by the management of Veritrans, in joint effort
with DailySocial

Dharmasraya. 2011. Manfaat teknologi informasi dan komunikasi untuk


pembangunan. http://www.dharmasrayakab.go.id/home/artikel/teknologi-
informasi/151-memanfaatkan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-untuk-
pembangunan.html

Hawkins, Del I dkk (2007) . Consumer Behavior. New York: The McGraw - Hill
Companies, Inc.

51

52
Parment, Anders. 2013. Generation Y vs. Baby Boomers: Shopping behavior, buyer
involvement and implications for retailing. Journal of Retailing and Consumer
Services. Stockholm University School of Business : Sweden

Qodriatun, Sri Nurhayati. 2013. Bencana Hidrologi Dan Upaya Adaptasi perubahan
Iklim. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi.

Kuswanto, Kapti Rahayu. 2013. General Business Environment : Processing


Technology. Bahan Ajar. Magister Manajemen UGM. Yogjakarta.

Suryo, Djoko. 2013. Cultural Environment and Business. Bahan Ajar General
Business Environment. MM UGM. Yogyakarta.

Turban, Rainer. 2009. Introdution to information system, second edition: Jhon Wiley
& Sons (Asia) Pte Ltd
Widodo, Tri. 2013. Regional Economy. Bahan Ajar General Business Environment.
MM FEB UGM. Yogyakarta.

Adiatisari, Dana. 2013. Konsumsi topang ekonomi RI 10 tahun ke depan,


http://ekbis.sindonews.com/read/813959/33/konsumsi-topang-ekonomi-ri-10-
tahun-ke-depan (diakses pada 7September 2014)

Asih, Ratnaning. 2012. Indonesia pengguna Tweeter Terbesar Kelima Dunia.


http://www.tempo.co/read/news/2012/02/02/072381323/Indonesia-Pengguna-
Twitter-Terbesar-Kelima-Dunia ((diakses pada 30 September 2014)

Dewanto, Tuhu Nugraha. 2012. Tantangan & Solusi E-Commerce Indonesia.


http://ekonomi.kompasiana.com/marketing/2012/08/14/tantangan-solusi-e-
commerce-indonesia-485319.html ( diakses pada 12 September 2014 )

Fikri, Muammar. 2014. 13 Bencana Alam Menimpa Indonesia di Awal tahun 2014.
http://beritagar.com/p/13-bencana-alam-menimpa-indonesia-di-awal-tahun-
2014-11461 (Diakses pada 4 September 2014)

Ginanjar, Ary . 2014. Generasi Y Adalah Generasi Penerus Indonesia Saat Ini.
http://aryginanjar.com/generasi-y-adalah-generasi-penerus-indonesia-saat-ini/.
(Diakses tanggal 10 September 2014)

Himpunan Pemerhati Lingkungan Hidup Indonesia. 2014. Bencana.


http://www.hpli.org/bencana.php ( Diakses pada 4 September 2014

52

53
Indonesia, Lazada. 2012. Lazada Indonesia profile on Kompas TV,
http://www.youtube.com/watch?v=JUEbOS43hzc, Lazada Indonesia, (Diakses
pada 8 September 2014)

Irawan, Dhani . 2014. Posisi indeks pembangunan manusia indosia tangking 108 dari
187. Detik.Com (diakses pada tgl 20 September 2014)

JPNN. 2013. Masyarakat Dinilai Sangat Konsumtif.


http://www.jpnn.com/read/2013/12/06/204407/Masyarakat-Indonesia-Dinilai-
Sangat-Konsumtif- (Diakses pada 8 September 2014)

Kompas. 2014. Ancaman Bencana Hidrometeorologi. Jakarta


http://sains.kompas.com/read/2012/12/14/16325585/Ancaman.Bencana.Hidrom
eteorologi. ( Diakses pada 5 September 2014)

Lukman, Enricko. 2014. 5 Model E-commerce di Indonesia.


http://id.techinasia.com/5-model-bisnis-ecommerce-di-indonesia/ ( diakses pada
15 September 2014)

Masna, Aulia. Co-Founder Lazada Indonesia Thomas Damek Mengundurkan Diri


Untuk Mempersiapkan Usaha Baru, http://dailysocial.net/post/lazada-
indonesia-managing-director-tom-damek-departs-company (Diakses pada 7
September 2014 )

Melani, Agustina. 2014. Jokowi Punya Tugas Berat Perbaiki Birokrasi Pemerintah.
http://bisnis.liputan6.com/read/2102892/jokowi-jk-punya-tugas-berat-perbaiki-
birokrasi-pemerintah ( diakses pada tanggal 9 September 2014)

Nistanto, Reska. 2014. Trafik internet di Indonesia melaju kencang.


http://industri.kontan.co.id/news/trafik-internet-di-indonesia-melaju-kencang
( diakses pada 15 September 2014)

Riviastuti, Asiska. 2014. Pesanan Paket Dagangan Turun 30%.


http://www.solopos.com/2014/01/18/bencana-banjir-pesanan-paket-dagangan-
turun-30-482697 ( Diakses pada 5 September 2014)

Saleh, Rizki. 2014. Kelas menengah Indonesia populasi naik ke 56,7% pada 2013.
http://berita2bahasa.com/berita/01/4401704-kelas-menengah-indonesia-populasinya-
naik-ke-56-7-pada-2013

Sekretariat Ditjen Aplikasi dan Informatika komunikasi dan Informasi. 2014.


Kebijakan pemerinta dibidan TIK.
h g

54
53

55
http://www.slideshare.net/menhariq/kebijakan-pemerintah-di-bidang-tik.
( Diakses pada 24 September 2014)

Solopos. 2014. Dampak Letusan Kelud Pengiriman Paket Terhambat.


http://www.solopos.com/2014/02/16/dampak-letusan-kelud pengiriman-paket-
terhambat-abu-vulkanik-489984 (Diakses pada 4 September 2014)

StartsupBisnis, 2014. E-commerce Indonesia Akan Tumbuh 40 Tahun ini.


http://startupbisnis.com/survey-visa-ecommerce-indonesia-akan-tumbuh-40-
tahun-ini/ (diakses pada 30 September 2014)

StartupsBisnis. 2013. Hasil Riset Ipsos : Orang Indonesia Suka Membeli


Berdasarkan Rekomendasi dan Iklan di Social Med.
http://startupbisnis.com/hasil-riset-ipsos-orang-indonesia-suka-membeli-
berdasarkan-rekomendasi-dan-iklan-di-social-media/ (diakses pada 30
September 2014)

World Bank. 2014. http://www.worldbank.org/in/country/indonesia/overview .


(diakses pada tgl 20 September 2014)

Wahyuni, Dwi. 2014. Dunia Bisnis Indonesia Terhambat Ruwetnya Birokrasi.


http://bisnis.liputan6.com/read/2072110/dunia-bisnis-indonesia-terhambat-
ruwetnya-birokrasi ( diakses pada tanggal 9 September 2014)

Zamzami, Lucky Dan Hendrawati. 2011. Kearifan Budaya Lokal Masyarakat


Maritim Untuk Upaya Mitigasi Bencana Di Sumatera Barat. Padang :
Universitas Andalas.

54