Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH HABITAT DAN KARAKTERISTIK FISIK

KOMODO (Varanus komodoensis) TERHADAP DISTRIBUSI MAUPUN


PEMILIIHAN LOKASI BERSARANG DI LOH SEBITA PULAU KOMODO TAMAN
NASIONAL KOMODO, NUSA TENGGARA TIMUR

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Satwa Komodo (Varanus komodoensis) merupakan kadal terbesar endemik yang


dilindungi. Saat ini sebarannya terbatas di lima pulau dalam populasi terpisah dalam wilayah
kepulauan Sunda Kecil di bagian Timur Indonesia, dimana empat pulau diantaranya terletak
dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Kawasan ini merupakan bagian penting Indonesia
di masa silam dan di masa akan datang. Menghilangnya hutan tropis pesisir terbuka,
kebakaran hutan akibat kegiatan manusia, dan kompetisi dengan manusia untuk pemanfaatan
spesies mangsa, seperti Rusa Timor (Cervus timorensis), diperkirakan menjadi ancaman
terhadap proses-proses yang mempengaruhi kelangsungan hidup populasi kecil Komodo.
Komodo dapat dijumpai di lima pulau besar dan kecil yang berada di kawasan Taman
Nasional Komodo. Pulau Komodo (8°35’40”LS; 119°25’51”BT) merupakan pulau terbesar
diTaman Nasional Komodo (336 km2) yang terletak di kawasan Timur Indonesia dan
terdapat 12 loh (lembah) di dalamnya yaitu, Loh Liang, Loh Lawi, Loh Sebita, Loh Boko,
Loh Wenci, Loh B’oh, Loh Pinda, Loh Baes, Loh Gong, Loh Wau, Loh Srikaya dan Laju
Pemali. Loh Sebita telah ditetapkan menjadi salah satu kawasan yang diperuntukkan sebagai
lokasi penelitian dan terdapat kekurangan informasi dasar mengenai life history, sifat dasar
ekologi umum dan reproduksi satwa komodo, seperti ukuran populasi betina bersarang
tahunan, habitat dan karakteristik fisik yang mempengaruhi distribusi maupun pemilihan
lokasi bersarang, merupakan aspek inti untuk memfasilitasi pengambilan keputusan berkaitan
dengan manajemen dan konservasi spesies ini (Jessop et all,2003).

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan ketika suatu spesies
akan dijadikan hewan atau sasaran konservasi adalah keberlangsungan hidupnya yang
diantaranya dapat berkaitan dengan habitat yang sesuai dan nyaman, ketersediaan
sumbermakanan, reproduksi. Bagi komodo dan satwa bersarang lainnya, sarang merupakan
salah satu bentuk pertahanan hidup mereka. Bagi komodo sarang adalah tempat untuk
beristirahat, berteduh dari panas terik matahari maupun pertahananterhadap kedinginan untuk
menjaga kestabilan suhu tubuhnya. Serta tempat untuk menyimpan dan melindungi telurnya
dari gangguan predator. Oleh sebab itu informasi mengenai distribusi sarang komodo tipe
gundukan sangat penting digali informasinya dan faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhinya.

Jessop et all,(2003) melaporkan bahwa komodo menggunakan tiga tipe sarang yang
dikategorikan sebagai berikut: (a) sarang permukaan tanah, tipe sarang ini dibuat sendiri oleh
komodo betina dengan menggali tanah hingga menjadi sebuah lubang. Lubang tanah ini lebih
sulit dimasuki karena bentuk lubang yang horizontal dengan banyak lubang tipuan di
dalamnya. Sarang berupa lubang yang terdapat dipermukaan tanah yang rata kebanyakan
tertutup oleh rumput. Komodo betina akan membuat sarangsendiri karena di daerah tersebut
tidak ada sarang burung gosong yang dapat dimanfaatkan; (b) sarang bukit, berupa galian
besar landasan bertingkat pada sisi bukit.

Biawak Komodo betina menggali sebuah lubang (ruang) penyimpanan telur di antara
sejumlah lubang tipuan. Sarang ini terletak di savanaterbuka, yang menutupi hampir
keseluruhan bukit dan (c) sarang gundukan, komodo menggunakan sarang gundukan yang
dibangun oleh burung gosong. Mereka juga melaporkan bahwa adanya kecenderungan
komodo lebih banyak menggunakan sarang gundukan bekas sarang burung gosong dari pada
sarang tipe bukit dan tanah. Dari data penelitian terdahulu terlihat bahwa terdapat mekanisme

pemilihan sarang. Gundukan bekas sarang burung gosong lebih banyak dipilih oleh komodo
betina dibandingkan sarang ditanah dan sarang dibukit. Komodo betina memang secara khas
memilih sarang burung gosong yang rata-rata lebih tersinari matahari, dengan keteduhan
langsung relatif rendah yang biasanya secara kebetulan berkaitan dengan hutan gugur.
Diperkirakan, bahwa proses pemilihan ini disebabkan karena lingkungan tersebut memiliki
kondisi yang baik untuk inkubasi telur selama 180 hari hingga masa penetasan (Green dan
King, 1999)
1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah distribusi sarang Komodo (Varanus komodoensis) tipe gundukan di Loh


Sebita, Taman Nasional Komodo

2. Faktor-faktor lingkungan apa sajakah yang mempengaruhi distribusi sarang komodo


(Varanus komodoensis) tipe gundukan di Loh Sebita, Taman Nasional Komodo

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui distribusi sarang Komodo (Varanus komodoensis) tipe gundukan di Loh


Sebita, Taman Nasional Komodo

2. Mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi sarang Komodo (Varanus


komodoensis) tipe gundukan di Loh Sebita, Taman Nasional Komodo

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau gambaran mengenai habitat
dan karakteristik fisik yang mempunyai pengaruh terhadap distribusi maupun pemilihan
lokasi bersarang oleh komodo khususnya untuk sarang tipe gundukan di Loh Sebita sehingga
Taman Nasional Komodo memperhatikan hal ini untuk pengambilan keputusan berkaitan
dengan konservasi komodo (Varanus komodoensis).
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 2 bulan, yaitu dari bulan Maret sampai April 2019
di Resort Loh Sebita pulau Komodo Taman Nasional Komodo Propinsi Nusa Tenggara
Timur

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan selama kegiatan penelitian ini adalah : Peta kawasan, GPS, kamera,
binokuler, termmeter, refraktometer,roll meteran, worksheet dan alat tulis.
Penelitian karakteristik sarang berbiak komodo menggunakan teknik Purpossive
samplingdalam pengambilan data di lapangan. Penggunaan teknik sampling ini adalah untuk
mereduksi objek yang diteliti dari objek yang lebih luas karena pertimbangan waktu, biaya,
tenaga dan peralatan. Selain itu hasil penelitian dapat digeneralisasikan, artinya menggunakan
kesimpulan-kesimpulan pada objek yang lebih luas dari keseluruhan objek penelitian.

C. Metode Pengumpulan Data

Data primer yang diperlukan adalah letak sarang yang diperoleh dengan cara observasi
lapang secara langsung. Metode yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Orientasi lapangan dan inventarisasi sarang, berguna untuk mengetahui seluk beluk
kawasan yang akan dijadikan objek penelitian dan untuk mengetahui jumlah dan
keberadaan sarang. Titik koordinat sarang diplotkan dalam GPS.
b. Cross checking, berguna untuk mengetahui kebenaran keberadaan dan sebaran suatu
lokasi sarang yang sedang dijadikan objek penelitian, informasi dasar didapatkan dari
survey sarang sebelumnya dari petugas di lapangan.
c. Pemetaan,memetakan letak sarang dan sumber air di atas peta kerja
d. Pengamatan dan pengukuran, dilakukan terhadap objek penelitian berupa sarang
berbiak dan kondisi lingkungan sekitarnya dengan meninjau karakteristiknya.
e. Pengambilan sampel air, dilakukan untuk menganalisis air yang terdapat di lokasi.
Data sekunder yang dikumpulkan meliputi sebaran iklim (suhu, kelembaban), sebaran
vegetasi,sebaran satwa, penataan kawasan, aktivitas manusia dan sharing. Data itu didapatkan
dari Studi pustaka dan wawancara dengan petugas jaga wana di Taman Nasional Komodo.

D. Analisis Data

Analisis sebaran geografis yaitu memetakan hasil inventarisasi dengan peta digitasi dengan
program ArcView, kemudian mendeskripsikan keterkaitan tipe sarang dengan faktor habitat
dan karakteristik fisik.
DAFTAR PUSTAKA

Fahrudin. 1998. Pendugaan Parameter Demografi Populasi Komodo (Varanus komodoensis


Ouwens, 1912) di Pulau Komodo Taman Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur. [skripsi].
Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Jessop, T. S., J. Sumner, H. Rudiharto, D. Purwandana, M.J. Imansyah dan J. A. Phillips.


2003. Studi Distribusi, Penggunaan dan Pemilihan Tipe Sarang oleh Biawak Komodo :
Implikasi untuk Konservasi dan Manajemen. Zoological Society of San diego, The Nature
Conservancy, Komodo National Park.

Sunanto. 1998. Studi Interaksi Antara Komodo (Varanus komodoensis Ouwens, 1912)
dengan Burung Gosong (Megapodius freycinet Gaimard, 1823) Di Pulau Komodo Taman
Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur. [Skripsi]. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan
Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.