Anda di halaman 1dari 3

CPR-AM (cardiopulmonary resuscitation Automatic Machine) Teknologi Masa Kini

Bagi Pasien Cardiac Arrest Untuk Diterapkan Di Indonesia1

Indonesia merupakan salah satu Negara Berkembang yang terletak di Asia Tenggara,
Negara yang berbatasan dengan Filipina, Singapura dan Malaysia ini seharusnya sudah
memiliki banyak sekali keunggulan dalam sistem teknologi dan ilmu pengetahuan. Selain hal
tersebut, melainkan selayaknya Negara yang terkenal akan Kebhinekaan dan SDA (sumber
daya alam)2 ini memiliki sistem kemajuan di berbagai bidang khususnya teknologi pada
sektor Kesehatan. Hal ini menjadi faktor primer bagi Negara Indonesia untuk memajukan
sektor kesehatan.

Salah satu sektor kesehatan yang perlu dibenahi yaitu tingginya angka kematian akibat
serangan jantung di Indonesia. Prevalensi penyakit Jantung yang dikeluarkan oleh
Riskesdas tahun 2013 yaitu terdapat dua penyakit jantung di Indonesia yang mengalami
sorotan, pertama PJK (pentakit jantung koroner) dan kedua gagal jantung. Penyakit jantung
koroner di Indonesia sebanyak 0,5% dan gagal jantung sebanyak 0,13% dimana penyakit
gagal jantung terbesar berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan angka kejadian
0,25% disusul oleh Jawa Timur dan Jawa Tengah3. Maka dari itu perlu adanya
kewaspadaan terhadap penangananan serangan jantung. Selain itu WHO (world health
organization) menyampaikan bahwa sampai tahun 2009 lalu terdapat 1,7 juta orang
meninggal Dunia akibat penyakit Degeneratif khususnya pada penyakit Jantung4.

Dalam manifetasi klinis yang berbeda-beda cardiac arrest atau biasa disebut henti jantung
juga menjadi salah satu faktor utama pemicu kematian, hal ini terjadi apabila korban tidak
segera dilakukan penangan secara komprehensif dan berkelanjutan. Menurut Artikel yang
diterbitkan oleh www.heart.org pada bulan Juli 2015, Cardiac arrest adalah suatu gangguan
yang fatal terjadi pada jantung dimana jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba. Perlu
adanya penanganan henti jantung dengan waktu yang tepat dan dalam proses yang cepat
serta sesuai standar operasional, untuk itu sistem penanganan pertama yang paling akurat
dalam kasus cardiac arrest adalah dengan melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation)
atau RJP (resusitasi jantung paru) yang mana merupakan salah satu faktor terpenting dalam
penanganan kasus cardiac arrest dengan kemungkinan bertahan hidup terbesar dari cedera
tersebut adalah yang tertinggi dengan interval waktu kurang dari 60 menit dan harus
ditangani 4-6 menit setelah ditemukan terjadi cardiac arrest5.

CPR yang dilakukan oleh tenaga profesional di Indonesia memang tidak usah diragukan
lagi, apalagi tenaga perawat profesional di Indonesia mempunyai banyak sekali wawasan
luas mengenai penangan dan ketepatan dalam melakukan CPR, hal ini perlu didukung
dengan keterampilan dan pengalaman yang luas dalam penanganan kasus henti jantung/

1
Oleh Diyah Amartiwi, Mahasiswa D3 Keperawatan Stikes Telogorejo Semarang
2
Sirait, et al., 2015, Bagaimana Hak Masyarakat, Hukum Adat dan Sumber Daya Alam diatur, Bogor; ICRAF Se-
Asia. Hlm. 55
3
RISKESDAS (riset kesehatan dasar) 2013, hlm.91-93
4
Handajani, et al., (2009), faktor-faktor yang berhubungan pada pola kematian degeneratif di Indonesia,
file:///C:/Users/Asus/Documents/Downloads/2755-1682-1-PB.pdf/ diperoleh tanggal 18 Maret 2018

5Art Hsieh, (2010). 'Golden Hour,' CPR and the evolution of EMS, https://www.ems1.com/cardiac-
care/articles/771955-Golden-Hour-CPR-and-the-evolution-of-EMS/ diperoleh tanggal 18 maret 2018
cariac arrest. Walaupun di Indonesia sudah banyak memiliki tenaga profesional dalam
melakukan Bantuan Hidup Dasar, namun tidak jarang masih banyak kegagalan yang dialami
oleh tenaga ahli profesional dalam melakukan CPR. Ketepatan waktu, keterampilan dan
ketepatan dalam mengatur kompresi serta ventilasi sangat diperlukan dalam melakukan
CPR, selain itu faktor kelelahan ketika melakukan kompresi pada cardiac arrest juga
menjadi salah satu keutamaan perlu adanya bantuan teknologi mutahir dalam menangani
cardiac arrest sendiri.

Salah satu teknologi yang mutahir dalam melakukan CPR yaitu menggunakan CPR-AM
(Cardiopulmonary Resuscitation Automatic Machine), alat ini merupakan salah satu alat
teknologi masa kini yang direkomendasikan oleh AHA (American Heart Assosiation) pada
tahun 2015. Teknologi CPR-AM ini berbeda dengan AED (automated external defibrillator)
dimana AED hanya berfokus pada kejutan listrik ketika cardiac arrest terjadi, berbeda
dengan CPR-AM yang digunakan sebagai alat kompresi otomatis pada pasien henti jantung
dengan band kompresor distribusi beban yang digerakkan secara mekanis dan digerakkan
dengan baterai, yang mana CPR-AM ini disediakan dengan bentuk kompresi langsung dan
kompresi torakik semi-melingkar. Ini secara otomatis mengukur pasien dan beroperasi
dalam mode kompresi 30: 2 dan mode kompresi kontinue dan dapat digunakan pada sudut
45 derajat. Di Amerika sendiri CPR-AM juga dikenal dengan sebutan LUCAs (lund University
Cardiopulmoary Assist System) yang mana sudah jauh lebih moderen dibandingakan
dengan Thumper yaitu merupakan alat kompresi otomatis pertama dari Michigan
Instruments.

CPR-AM sendiri sudah diproduksi oleh perusahaan dan dikembangkan sejak tahun 1990’an,
walaupun anjuran pemakaian baru dilakukan oleh AHA pada tahun 2015 dalam buku
pedomannya. Study yang dilakukan oleh Axelsson dkk, di EMS (Emergency Medical
Services) dengan menggunakan Lucas bahwa 105 pasien dilakukan penanganan dengan
menggunakan Lucas atau CPR-AM dan 169 pasien dengan CPR Manual mendapatkan
hasil 12 menit penanganan cardiac arrest menggunakan Lucas atau CPR-AM lebih cepat
sampai ke Rumah Sakit dari tempat kejadian dibandingkan penanganan secara manual.

Hal ini juga telah dibuktikan oleh Fla Swansson dkk, di Volusia Country dengan alat Lucas
generasi kedua yang diberi nama Autopulse yang membandingkan tingkat pengiriman
pasien dari tempat kejadian ke UGD dari 607 pasien dilakukan CPR secara manual dan 206
pasien dilakukan dengan Autopulse mendapatkan hasil yang signifikan yaitu pasien sampai
dengan cepat menuju UGD dengan menggunakan Autopulse 56% jauh lebih cepat daripada
denga CPR secara manual. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ong, Ornato dkk. di Otoritas
Ambulans Richmond di Virginia. Dengan menggunakan CPR-AM, ada peningkatan
ketahanan bertahan mencapai 235%, peningkatan ketahanan hidup hingga 88% di rumah
sakit dan peningkatan 71% di lapangan. Semua hasil secara statistik signifikan. Hampir
semua bukti mendukung keefektifan perangkat CPR-AM dalam meningkatkan tekanan
perfusi dan tingkat ketahanan hidup jangka panjang6. Indonesia sangat membutuhkan CPR-
AM ini karena sebagai alat yang dapat membantu dalam menekan peningkatan kematian
akibat dari cardiac arrest dan meminimalisir dalam kelelahan serta kesalahan ketika
melakukan CPR secara manual, selain itu membantu perawat dalam bekerja lebih efektif
dan cepat untuk menangani kasus cardiac arrest.

6
Educational grant from Zoll Medical Corperation (2017). Automatic CPR
http://www.resuscitationcentral.com/circulation/automated-cpr/ diperoleh pada tanggal 18 maret 2018
(Tambahan Di Luar teks).....

Gambar CPR-AM (LUCAs and Autopulse)

ini merupakan gambar dari CPR-AM (pulmonary


resuscitation automatic machine) yang bernama
Lucas dengan kompresi yang jauh lebih canggih dibandingkan dengan generasi
sebelumnya yang bernama the Thumper yang dioperasikan dengan piston pengemudi
seperti gambar berikut,selain itu Lucas dioperasikan dengan cara elektrik dan menggunakan
sistem kompresi pengaturan 30;2 secara otomatis dan berbeda dengan Thumper yang
masih menggunakan sistem manual setting.

Autopulse merupakan alat CPR-AM yang cukup canggih setelah Lucas II dimana
perbedaannya alat ini lebih fleksibel dan pemasangannya jauh lebih otomatis dibandingkan
lucas II, berikut gambar Autopulse

Efisien waktu akan didapat ketika menggunakan alat


CPR-AM berjenis Lucas dan Autopulse ini, selain itu
tingkat efektivitas alat ini juga jauh lebih signifikan
daripada menggunakan sistem manual.

Masalah yang saat ini masih ada dalam CPR-AM adalah


mahalnya harga CPR-AM serta belum ada produk yang di
Impor ke Indonesia menjadi kendala paling utama CPR-
AM dapat diterapkan di Indonesia.

Lebih mudah digunakan karena Lucas dan Autopulse (CPR-AM) ini hanya membutuhkan
waktu detik dalam pemakaian dan perakitan. Tim medis hanya tinggal merakitnya saja
ditempat dengan setting otomatis. Untuk di Amerika dan Eropa sendiri alat ini sudah
digunakan di awam terlatih seperti pada pemadam kebakaran, serta sudah banyak dimiliki
oleh Ambulans dan IGD.