Anda di halaman 1dari 78

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perhatian masyarakat terhadap soal pertanian dan lingkungan beberapa

tahun terakhir ini menjadi meningkat. Keadaan ini disebabkan karena semakin

dirasakannya dampak negatif yang besar bagi lingkungan, dan jika dibandingkan

dengan dampak positifnya bagi peningkatan produktivitas tanaman pertanian

pengaruh bahan kimia tersebut tidak sebanding. Bahan-bahan kimia yang selalu

digunakan untuk alasan produktivitas dan ekonomi ternyata saat ini lebih banyak

menimbulkan dampak negatif baik bagi kehidupan manusia dan lingkungan

sekitarnya.

Penggunaan pupuk, pestisida, dan bahan kimia lainnya yang terus

menerus dapat merusak biota tanah, keresistenan hama dan penyakit, serta dapat

merubah kandungan vitamin dan mineral beberapa komoditi sayuran dan buah.

Hal ini tentunya jika dibiarkan lebih lanjut akan berpengaruh fatal bagi siklus

kelangsungan kehidupan, bahkan jika sayuran atau buah yang telah tercemar

tersebut dimakan oleh manusia secara terus menerus, tentunya akan menyebabkan

kerusakan jaringan bahkan kematian.

Bertitik tolak dari hal tersebut, saat ini banyak masyarakat yang

mengkonsumsi sayuran dan buah terutama komoditi segar yang bebas bahan

2
kimia. Mereka lebih suka membeli sayuran dan buah yang bolong-bolong karena

hama penyakit daripada sayuran dan buah segar yang mulus tetapi banyak

disemprot bahan kimia. Melihat kecenderungan masyarakat tersebut, salah satu

upaya yang dapat dilakukan dalam bidang pertanian adalah mengembangkan

pertanian dengan sistem pertanian organic yang prinsip pengelolaannya “kembali

ke alam”.

Pertanian organik merupakan bagian dari pertanian alami yang dalam

pelaksanaannya berusaha menghindarkan penggunaan bahan kimia dan pupuk

yang bersifat meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi

lingkungan yang sehat. Selain itu, juga untuk menghasilkan produksi tanaman

yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah melalui

penggunaan sumberdaya alami seperti mendaur ulang sampah dedauan yang

banyak ada di lingkungan kampus, kantor dan perumahan. Jadi dengan demikian,

tidak salah jika istilah pertanian organik sering diidentikkan dengan gerakan

petanian yang kembali ke alam.

Teknologi dan ilmu pengetahuan pada saat ini berkembang dengan sangat

cepat, hal ini tidak lepas dari keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhannya

dengan mudah dan tidak menghabiskan waktu serta tenaga yang banyak.

Perkembangan teknologi sangat diperlukan guna mempercepat penyelesaian

pekerjaan yang dilakukan. Salah satu pekerjaan yang dilakukan manusia yang

membutuhkan waktu yang cukup lama dan tenaga yang banyak adalah membuang

sampah, atau membakar sampah untuk mendapatkan lingkungan yang bersih. Jika

3
sampah (daun – daunan) tersebut sangat banyak, tentu akan menyita waktu dan

tenaga yang besar untuk membakar dan membuang sampah tersebut.

1.2. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Adapun tujuan meliputi beberapa hal sebagai berikut :

 Untuk dapat memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul

dalam perencanaan dan pembuatan dengan bekal pengetahuan

keteknikan yang dimiliki serta ditunjang dengan literature yang

relevan dengan permasalahan yang ada.

 Mencoba mewujudkan alat penghancur sampah daun-daunan yang

dirancang dalam bentuk jadi.

2. Tujuan Khusus

 Untuk menghasilkan alat penghancur sampah yang tepat guna dalam

pembuatan pupuk bokasi.

 Ingin menghasilkan, menganalisa, dan mempelajari alat yang dapat


mendaur ulang sampah daun-daunan.
 Ingin mengurangi jumlah sampah, sehingga tercipta kebersihan di
sekitar lingkungan.

1.3. Batasan Masalah

Dalam Perencanaan dan Pembuatan Alat Penghancur Sampah Daun-daunan

ini, pembatasan dibatasi pada perhitungan daya motor dan putaran motor,

perhitungan putaran pully, kapasitas tabung penggiling, sistim kerja alat

penghancur sampah, gambar detail alat penghancur sampah.


4
1.4. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah:

1. Studi literatur yaitu mengumpulkan dasar teori dari buku-buku, baik dari

buku pegangan kuliah.

2. Diskusi yaitu dengan melakukan diskusi dengan pembimbing tugas akhir

dan orang-orang yang berpengalaman dalam bidangnya.

1.5. Sistimatika Penulisan

Sebagai gambaran umum dari pada isi tugas akhir ini, maka dapat

diuraikan sistimatikanya sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan yang akan menjelaskan tentang latar belakang

penulisan, tujuan penulisan, batasan penulisan, metode

penulisan dan sistimatika penulisan.

Bab II : Tinjauan pustaka yang akan menjelaskan sedikit mengenai

pupuk bokasi, cara kerja alat penghancur sampah, proses

5
pemilihan bahan, konsep desain, serta komponen-komponen

utama dari mesin penghancur sampah daun-daunan.

Bab III : Metodologi penelitian berisikan uraian tentang metoda dan langkah-

langkah perancangan secara aplikatif.

Bab IV : Perancangan komponen mesin mencakup scew conveyor,

silinder saringan, tabung, rangka, hopper, dan daya motor.

Bab V : Penutup yang berisikan kesimpulan dan saran yang akan

menjelaskan ringkasan mengenai hasil perencanaan mesin

penghancur sampah dalam bentuk kesimpulan dan saran-

saran yang perlu diperhatikan dalam perencanaan.

Daftar pustaka : berisikan daftar buku-buku yang digunakan sebagai acuan

dalam penulisan tugas akhir ini.

Dalam rancangan mesin penghancur sampah penulis membuat

diagram rancangan seperti pada Gambar 1.1. Diagram rancangan ini

menjelaskan langkah-langkah tahapan pengerjaan dari mulai awal sampai

dengan akhir.

6
Mulai

Survey

Data :
Pengambilan data

Tidak
Diperoleh

Ya

Perhitungan :
 Survey jenis bahan yang akan di uji.
 Perhitungan daya motor dan putaran motor.
 Perhitungan putaran pully.
 Kapasitas tabung penggiling.
 Sistim kerja alat penghancur sampah.
 Gambar detail alat penghancur sampah.

Tidak
Hasil analisa

Ya
Kesimpulan

Stop

Gambar 1.1. Diagaram Alir Penulisan Skripsi

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Untuk pembuatan suatu alat para pembuat (designer) harus mengetahui

dan membuat gambar kerja yang jelas dan harus mengetahui material yang

digunakan pada setiap komponen alat baik komponen utama maupun komponen

pendukung dari alat tersebut karena dalam suatu alat bagian-bagian komponen

alat tersebut saling berhubungan. Sebelum menetapakan material yang akan

digunakan para pembuat harus mempunyai suatu referensi yang dapat dijadikan

sebagai pedoman dalam penentuan jenis material yang akan digunakan tersebut.

Dalam referensi kita dapat menentukan kekuatan suatu bahan, pemilihan material

dan lain sebagainya menurut ketentuan yang baku dan standar.

2.1 Pupuk Bokasi

Pupuk merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi para petani,

namun karena jumlah pupuk yang dihasilkan terbatas, terkadang para petani

kesulitan mendapatkan pupuk untuk ladang dan sawah mereka.

Proses pembuatan pupuk alami tidak serumit pembuatan pupuk buatan,

karena bahan yang dibutuhkan dapat diperoleh langsung dari alam, salah satunya

sampah organik yang terdiri dari daun-daun dan limbah rumah tangga yang

banyak berserakan, yang merupakan masalah untuk keindahan dan kebersihan

dikota-kota besar. Karena bila sampah ini dibakar, akan menghasilkan polusi dan

mengeluarkan biaya dalam proses pembakaran itu sendiri, dan beberapa resiko

lain yang dapat terjadi.

8
2.2 Teknologi Tepat Guna

Teknologi didefinisikan sebagai penerapan ilmu pengetahuan untuk

membantu manusia dalam berbagai bidang pekerjaan. Secara umum dapat

dikatakan bahwa teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk membantu

kerja atau dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Akhir-akhir ini banyak

istilah teknologi dipakai sebagai teknologi maju, madya, tradisional, pedesaan dan

tepat guna. Yang lebih penting adalah bagaimana menggunakan teknologi tersebut

secara tepat untuk meningkatkan nilai tambah (added value) suatu produk atau

barang dan bagaimana cara meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan manusia.

2.3 Konsep Perencanaan

Perencanaan (desain) adalah fungsi menciptakan perencanaan teknis untuk

menyelesaikan masalah. Ini melibatkan analisis dan sintesis juga melibatkan

perencanaan yang hati-hati tentang bagaimana hal yang dirancang akan dibuat dan

diproduksi oleh pabrik sesuai guna proses pemeliharaanya.

Fungsi produk dan kontruksi menerjemahkan bagaimana rancangan ke

proses manufaktur. Engineers working dalam area fungsional ini biasanya

bertugas untuk memindahkan perencanaan keproduksi awal untuk membuktikan

bahwa produk yang dihasilkan atau dibuat sesuai dengan biaya yang telah

direncanakan.

2.3.1 Kriteria Desain

Dasar pemilihan dan penerapan teknologi berdasarkan pada pokok-pokok

pikiran yang meliputi :

9
1. Peningkatan nilai tambah dan teknologi tepat guna yang akan

dipakaiatau diterapkan harus dapat meningkatkan nilai tambah bagi

masyarakat.

2. Pengendalian mutu harus ditunjang dengan pengendalian mutu terpadu.

3. Efisien, produktifitas dan praktis dalam pemakaian.

4. Keselamatan kerja terjamin dimana merupakan persyaratan penting

untuk pemilihan teknologi tepat guna.

2.3.2 Batasan Perencanaan Mesin

Dalam perencanaan ini banyak yang harus dipertimbangkan untuk solusi

dari masalah yang terjadi nantinya dalam rancangan bangun alat, diantaranya :

1. Bentuk dan ukuran mesin yang kita rancang bangun.

2. Mudah dalam pengoperasian.

3. Mudah dalam perawatan.

4. Komponen mesin yang digunakan harus banyak terdapat dipasaran.

5. Peluang mesin yang dirancang bangun akan dapat merebut pasaran.

2.4 Tahap-Tahap Perancangan

Dasar perencanaan diambil dari daun akasia yang telah dibusukkan dengan

campuran air didalam drum selama dua minggu. Maka dari itu penulis merancang

alat penghancur sampah daun-daunan dengan menggunakan ulir atau screw,

karena screw dapat menghasilkan gaya aksial yang besar untuk menghancurkan

sampah daun-daunan tersebut.

10
Dalam pengoperasiannya sampah daun akasia dimasukan dalam mesin

melalui corong masuk (root hooper) maka screw akan mengangkut daun akasia

dan melakukan pencacahan atau penghancuran daun akasia, sampah daun akasia

hancur karena didepan screw ada pisau penghancur dan juga karena adanya gaya

aksial dari screw dan penahan laju aliran, sehingga hasil penghancuran akan

keluar dari saringan depan.

2.4.1 Prinsip Kerja Alat

Yang harus diketahui terlebih dahulu adalah bagaimana mesin ini bekerja,

dimana daun akasia masuk sampai menjadi pupuk bokasi. Prinsip kerja alat ini

sangat sederhana, seperti yang diterangkan dibawah ini.

Daun akasia yang telah dibusukkan dengan cara perendaman dengan air

selama lebih kurang dua minggu dimasukkan kedalam wadah pemasukan (root

hopper), kemudian daun akasia dihancurkan oleh screw dan keluar melalui

saluran pengeluaran.

2.5 Dasar Pemilihan Bahan

Dalam merencanakan suatu komponen alat atau mesin terlebih dahulu

harus diketahui tentang bahan yang digunakan serta dapat dipertimbangkan dalam

pemakaian nya. Seleksi dalam memilih bahan merupakan hal yang penting dalam

proses perancangan.

Pemilihan bahan yang baik akan menciptakan kelancaran dalam proses

berikutnya, ketika kita memilih bahan seharusnya berdasarkan pada bagian

penampilan dan bagian manufaktur. Biasanya tidak mungkin menyadari potensi

11
penuh dari bahan baku meskipun produk yang dirancang kembali untuk

mengaplikasikan karakteristik dari bahan, dengan kata lain pengertian sederhana

dari produk baru tanpa merubah rancangan untuk penggunaan optimum dari

bahan.

Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan

kerja untuk sebuah komponen mesin seperti fungsi, pembebanan, umur,

kemampuan yang dibentuk, ongkos produksi dan ketersediaan bahan dipasar, pada

umumnya pemilihan bahan cukup pada pengalaman dengan menggunakan bahan

dan mutu standar. Misalnya untuk sebuah poros biasanya dibuat dari baja batang

yang ditarik dingin dan finising.

Kriteria pemilihan bahan pada mesin ini adalah :

1. Bahan yang digunakan harus sesuai dengan sifat daun-daunan.

Fungsi dari peralatan yang dirancang ini yaitu untuk dapat menghasilkan

bubuk dari hasil penghancuran dengan berhubungan langsung dengan

screw dan tidak boleh terjadi karat dan tidak boleh terkontaminasi dengan

unsure Fe. Bahan yang digunakan pada bagian ini harus tahan karat.

Sedangkan bahan-bahan seperti rangka, penutup screw, bias menggunakan

baja lunak alumunium.

2. Harus mudah didapat

Mengingat bahwa sekmen pasar yang diincar adalah industri kecil dan

rumah tangga maka pertimbangan biaya perawatan dan perbaikan harus

diantisipasi dengan segera. Caranya tentu komponen pengganti harus

mudah didapat dipasaran.

12
3. Efisiensi bahan

Dalam perencanaan harus diperhitungkan juga berupa umur dari bahan

yang digunakan. Semakin panjang usia bahan semakin banyak keuntungan

yang diperoleh. Material denagn efisiensi yang lebih tinggi memang lebih

mahal, tetapi kalau dibandingkan dengan lama komponen.

4. Kekuatan bahan

Sifat-sifat khas bahan industri perlu dikenal secara baik karena bahan

tersebut dipergunakan untuk berbagai macam keperluan dalam berbagai

keadaan. Sifat-sifat itu adalah : sifai-sifat mekanik (kekuatan, kekerasan,

keuletan, kekakuan, keliatan, kelelahan, kepekaan takikan atau kekuatan

impak, dsb), sifat-sifat termal (panas jenis, pemuaian, konduktivitas, dsb)

dan masih banyak lainnya. Kebanyakan sifat tersebut ditentukan oleh jenis

dan perbandingan atom yang membentuk bahan, yaitu unsur dan

komposisinya. Sebagai contoh kadar suatu unsur yang sangat rendah

terabaikan dalam suatu ketakmurnian bahan memberikan pengaruh

terhadap sifat-sifatnya, sifat-sifat mekanik yaitu kekuatannya demikian

juga dengan sifat ketahanan korosi termasuk reaksi kimianya. Kekuatan

bahan dapat dihitung berdasarkan persamaan :

F
  
gaya

A N 2luaspenampang
m

2.6 Komponen-Komponen Mesin.

Komponen-komponen yang mendukung kontruksi dan fungsi dari masing-

masing komponen adalah :


13
2.6.1 Poros screw

Poros adalah salah satu bagian yang terpenting dari sebuah screw

conveyor, yang berfungsi untuk meneruskan tenaga bersama-sama dengan

putaran. Poros memegang peranan paling utama dalam screw conveyor karena itu

kita harus terlebih dahulu mengetahui bentuk-bentuk poros. Poros yang digunakan

untuk meneruskan daya diklasifikasikan menurut pembebanannya sebagai berikut:

a. Poros Transmisi

Poros macam ini mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur.

Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling, roda gigi, puli, sabuk atau

sprocket, rantai, dan lain-lain.

b. Spindel

Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin perkakas,

dimana beban utamanya berupa puntiran, disebut spindel. Syarat yang harus

dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya

harus teliti.

c. Gandar

Jenis poros ini merupakan poros yang dipasang diantara roda-roda kereta

barang, dimana tidak mendapat beban puntir, bahkan kadang-kadang tidak boleh

berputar, disebut gandar. Gandar ini hanya mendapat beban lentur, kecualai jika

digerakkan oleh penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir. Menurut

bentuknya, poros dapat digolongkan atas poros lurus umum dan porosengkol

sebagai poros utama dari mesin torak, dan lain-lain.

14
Dalam merencanakan suatu poros harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Kekuatan Poros
Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau beban lentur

atau gabungan antara puntir dan lentur seperti telah diutarakan. Juga ada poros

yang mendapat beban tarik atau tekan seperti poros baling-baling kapal atau

turbin. Kelelahan tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter

poros diperkecil (poros bertangga) atau bila poros mempunyai alur dan pasak,

harus diperhatikan. Sebuah poros harus direncanakan hingga cukup kuat menahan

beban-beban diatas.

b. Putaran Kritis
Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada harga putaran tertentu

dapat terjadi getaran yang luar biasa besarnya. Putaran ini disebut putaran kritis,

hal ini dapat terjadi pada turbin, motor torak, motor listrik, dan dapat

mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jika mungkin,

poros harus direncanakan sedemikian rupa hingga putaran kerjanya lebih rendah

dari putaran kritisnya.

c. Korosi
Bahan-bahan tahan korosi (termasuk plastis) harus dipilih untuk poros

propeler dan pompa bila terjadi kontak dangan fluida yang korosif. Demikian pula

untuk poros-poros yang terancam kavitasi, dan poros-poros mesin yang sering

terhenti lama. Sampai batas-batas tertentu dapat pula dilakukan perlindungan

terhadap korosi.

15
d. Bahan Poros

Poros untuk mesin biasanya mengguanakan bahan dari baja batang yang

ditarik , baja karbon konstruksi mesin (disebut bahan S-C) yang dihasilkan dari

ingot yang di “kill” (baja yang dioksidasiakn dengan ferro silicon dan dicor, kadar

karbon terjamin). Untuk lebih jelasnya gambar poros dapat dilihat pada Gambar

2.1

Gambar 2.1 Poros Dengan Berbagai Ukuran

2.6.2 Bantalan

Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban sehingga

putaran atau gerakan bolak baliknya dapat berlangsung secara halus, aman dan

panjang umur. Pada dasarnya bearing (bantalan) dan hanger memiliki fungsi yang

sama, yang membedakannya adalah letak atau posisi, hanger biasanya diletakkan

dengan posisi menggantung. Bantalan harus cukup kokoh untuk menahan poros

serta elemen mesin lainnya agar berkerja dengan baik. Jika bantalan tidak berkerja

dengan baik maka prestasi seluruh sistem akan menurun atau tidak berkerja

dengan baik. Bantalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

16
1. Atas dasar gerakan bantalan terhadap poros

a. Bantalan luncur

Pada bantalan ini terjadi gesekan akibat luncuran poros yang ditumpu dan

bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan

perantaraan lapisan pelumas.

b. Bantalan gelinding

Pada bantalan ini terjadi gesekan akibat gelindingan antara poros dengan

bantalan yang menumpu poros. Bentuk bantalaan gelinding ini terbagi atas :

- Bulat

- Rol

- Rol jarum

- Rol bulat

2. Atas dasar arah beban terhadap poros

a. Bantalan radial

Arah beban yang ditumpu oleh bantalan adalah sejajar dengan poros yang

diikat pada bantalaan.

b. Bantalaan radial tegak

Arah bantalaan ini tegak lupus dengan poros yang ditumpu.

c. Bantalaan gelinding khusus

Bantalaan ini digunakan untuk menumpu beban yang arahnya sejajar dan

tegak lurus sumbu poros.

17
Pada umumnya jenis-jenis bantalan yang banyak dipakai adalah bantalan

bola, tetapi bantalan ini tidak kuat menahan beban yang terlalu besar. Pada

Gambar 2.2 adalah berbagai jenis bantalan yang banyak dipakai pada permesinan.

Gambar 2.2. Macam-macam bantalan gelinding

Untuk memilih bantalan yang akan digunakan harus diketahui beban yang

akan ditumpu oleh bantalan. Beban yang akan ditumpu oleh bantalan merupakan

faktor yang sangat penting dalam pemilihan bantalan.

Faktor – faktor yang harus diperhatikan dalam memilih tipe bantalan yang

akan dipakai adalah sebagai berikut :

1. Tujuan pemakaian

2. Besar, keadaan dan arah beban ( radial atau aksial ) yang beraksi pada

support.

18
3. Putaran poros bantalan

4. Umur bantalan yang diinginkan

5. Kondisi temperatur kerja bantalan

Jika beban radial saja yang bekerja pada support dimana bantalan

terpasang, maka digunakan bantalan radial berupa :

a. Single row radial ball bearing atau bantalan bola radial satu garis

b. Double row self aligning bearing

c. Roller bearing with short cylindrical roller

Jika beban yang beraksi pada tumpuan (support) bantalan adalah beban

radial dan aksial maka digunakan bantalan radial berupa :

a. Single low radial ball bearing (beban aksial = 70% dari beban radial

sebenarnya yang diketahui)

b. Radial trust ball bearing (pada beban aksial yang tinggi)

c. Tapered roller bearing (pada beban aksial dan radial yang besar)

Perlu diketahui bahwa Single row radial ball bearing yang disebutkan di

atas mampu menerima beban aksial dalam dua cara. Jika beban radial sama

dengan beban aksial atau beban radial lebih kecil dari beban aksial, maka bantalan

yang dipakai adalah Radial And Trust Bearing yang dapat menerima beban aksial

dan beban radial secara terpisah.

2.6.3 Screw Conveyor

Screw Conveyor atau mesin pemindah bahan ( material handling

equipment ) adalah peralatan yang digunakan untuk memindahkan muatan yang

berat dari satu tempat ke tempat lain dalam jarak yang tidak jauh, misalnya pada

19
bagian – bagian atau departemen pabrik, pada tempat – tempat penumpukan

bahan, lokasi kontruksi, tempat penyimpanan dan pembongkaran muatan, dan

sebagainya. Mesin pemindah bahan hanya memindahkan muatan dalam jumlah,

besar, serta jarak tertentu dengan perpindahan bahan ke arah horizontal, vertikal,

dan atau kombinasi keduanya.

Mesin pemindah bahan ( screw conveyor ) mendistribusikan muatan

keseluruh lokasi di dalam perusahaan, memindahkan bahan di antara unit proses

yang terlibat dalam produksi, membawa produk jadi ( finished product ) ke tempat

produk tersebut akan dimuat, dan memindahkan limbah produksi ( production

waste ) dari production site ke loading area

Peralatan pemindah bahan ( screw conveyor ), yaitu peralatan yang

ditujukan untuk memindahkan muatan curah ( banyak partikel, homogen )

maupun muatan satuan secara kontinu. Screw conveyor biasanya terdiri dari poros

yang terpasang screw yang berputar dalam trough dan unit penggerak, pada saat

screw berputar material yang dipindahkan dimasukkan melalui feeding hopper ke

screw yang bergerak maju akibat daya dorong ( thrust ) screw.

Screw seperti terlihat pada Gambar 2.3 berfungsi sebagai pengangkut,

penghancur, dan sekaligus pencacah dari sampah daun akasia. Komponen ini

merupakan komponen utama dari mesin penghancur sampah ini. Untuk gambar

penampang screw dapat dilihat pada gambar. Bahan yang digunakan dalam

perencanaan screw adalah baja S45C. baja S45C dimasudkan dengan baja dengan

kekuatan tarik 58kg/mm yang mempunyai sifat keras dan ulet(Sularso, 2004).

20
Gambar 2.3 screw conveyor

Untuk perancangan alat ini maka digunakan persamaan-persamaan berikut:

a. Diameter screw

Dari literatur maka persamaan yang digunakan adalah:

4xQ
D= ……………………….(persamaan 2.1, lit
60xxSxnxxxc

1)

Dimana:

Q = kapasitas screw (kg/jam)

D = Diameter screw (m)

n = Putaran ideal untuk screw (rpm)

φ = Efisiensi loading (0,25)

ρ = Massa jenis bahan baku (kg/m 3 )

c = Faktor pendakian atau penurunan sudut pendakian (untuk

screw

horizontal = 1)

b. Panjang screw

Panjang screw dapat dibuat dimensinya sesuai dengan kebutuhan produksi

(kapasitas). Semakin panjang screw yang dirancang maka kapasitas

21
produksinya akan semakin besar. Diujung pelat screw tersebut terdapat

didalamnya tiga buah mata pisau yang berfungsi untuk menghaluskan

sebelum keluar dari saluran buang.

c. Tebal plat screw

Untuk tebal plat screw diambil dari table split flight coupling menurut

standart IS : 2292 dan 2293-1963 maka dari diameter screw 103,7 mm

didapat tebal plat sebesar 4 mm.

d. Penampang dari pisau

Pisau berfungsi sebagai pendukung kerja dari screw untuk memperoleh

tekanan screw, disamping itu pisau juga berfungsi apabila jarak antara

screw dengan rumah screw terlalu jauh maka material tidak akan terangkut

oleh screw dan mencincang daun supaya lebih halus lagi.

2.6.4 Sabuk Dan Pully

Biasanya untuk poros yang terlalu jauh di gunakan sabuk, karena

mengingat faktor ekonomis, kemudahan pembuatan komponen pendukung. Tetapi

kelemahan dari sabuk bila dibandingkan dengan rantai dan roda gigi adalah

terjadinya slip yang lebih besar; sehingga keakuratan transmisi daya berkurang.

Salah satu persyaratan utama sabuk adalah koefesien gesek yang tinggi.

Koefesien sabuk sangat ditentukan oleh bahan sabuk dan bahan puli. Puli

biasanya dibuat dari besi cor, aluminium, kertas fiber (yang dipres dengan inti

logam, untuk motor listrik). Besi atau baja cor memiliki gesekan dan ketahanan

terhadap keausan yang baik.

22
1. Macam-macam sabuk

Sabuk disebut juga ban mesin, dibagi menjadi tiga macam yaitu:

 Sabuk rata

 Sabuk-V

 Dan sabuk bulat (tali)

Sabuk dibuat dari bahan yang kuat, fleksibel dan tahan lama (durable).

Penggolongan sabuk menurut bahannya adalah:

 Sabuk kulit

 Sabuk katun

 Sabuk karet

 Dan sabuk balata

a. Sabuk-V

Sabuk-V terbuat dari karet dan mempumyai penampang trapesium.

Tenunan, tetoron dipergunakan sebagai inti sabuk untuk membawa tarikan yang

besar. Kontruksinya dapat dilihat pada Gambar 2.4

Sabuk-V dibelitkan di sekeliling alur puli yang berbentuk V pula. Bagian

sabuk yang membelit pada pull mengalami lengkungan sehingga lebar bagian

dalamnya akan bertambah besar.

1. Tcrpal

2. Bagian pcnarik

3. Karct pembungkus
Gambar 2.4 Kontruksi sabuk-V

(Sumber: Sularso, 1980; 164)

23
Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh bentuk baji, sehingga

menghasilkan transmisi daya yang besar pada tegangan yang relatif rendah. Hal

ini merupakan keunggulan sabuk-V bila dibandingkan dengan sabuk rata.

Berikut ini adalah gambar tipe dan ukuran penampang sabuk-V serta

diagram pemilihan sabuk:

Gambar 2.5 Tipe dan ukuran penampang sabuk-V

(Sumber: Sularso, 1980; 164)

Gambar 2.6 Profil alur sabuk-V

(Sumber: Sularso, 1980; 165)

b. Perhitungan panjang sabuk-V dan diameter puli penggerak dan

yang digerakkan.

Berdasarkan daya rencana dan putaran poros penggerak, penampang

sabuk-V yang sesuai dapat diperoleh dari diagram pemilihan sabuk-V beri kut:

24
Gambar 2.7 Diagram pemilihan sabuk-V

(sumber: Sularso, 1980; 164)

Daya rencana (Pd) dihitung dengan mengalikan daya yang akan diteruskan

(P) dengan faktor koreksi (fc). Adapun besarnya faktor koreksi tersebut dapat

diambil dari Tabel 2.3 sesuai dengan variasi dan kapasitas mesin yang digerakkan

dan jumlah kerja mesin tiap hari.

Dalam perdagangan terdapat berbagai panjang sabuk-V. Nomor

nominalnya dinyatakan dalam panjang kelilingnya dalam inchi. Nomor nominal

puli-V dinyatakan sebagai diameter dp dimana lebar alurnya dalam Gambar 2.7

di atas menjadi lo dalam tabel (sumber: Sularso, 1980; 165)

Pemilihan puli hendaknya tidak diambil berukuran yang terlalu kecil

karena dapat memperpendek umur sabuk. Tabel 2.1 menunjukkan diameter

minimum puli yang diazinkan dan yang dianjurkan

25
Tabel 2.1 Diameter minimum Puli-V yang Diizinkan dan Dianjurkan (mm)

Penampang A B C D E
Diameter min. yang diizinkan 65 115 175 300 450
Diameter min. yang dianjurkan _ 95 145 225 350 550
(Sumber Sularso, 1980; 169)

Tabel 2.2 Panjang Sabuk-V Standar


Nomor Nominal Nomor Nominal Nomor Nominal Nomor Nominal
(inch) (mm) (inch) (mm) (inch) (mm) (inch) (mm)
10 254 45 1143 80 2032 115 2921
11 279 46 1168 81 2057 116 2946
12 305 47 1194 82 2083 117 2972
13 330 48 1219 83 2108 118 2997
14 356 49 1245 84 2134 119 3023
15 381 50 1270 85 2159 120 3048
16 406 51 1295 86 2184 121 3073
17 432 52 1321 87 2210 122 3099
18 457 53 1346 88 2235 123 3124
19 483 54 1372 89 2261 124 3150
20 508 55 1397 90 2286 125 3175
21 533 56 1422 91 2311 126 3200
22 559 57 1448 92 2337 127 3226
23 584 58 1473 93 2362 128 3251
24 610 59 1499 94 2388 129 3277
25 635 60 1524 95 2413 130 3302
26 660 61 1549 96 2438 131 3327
27 686 62 1575 97 2464 132 3353
28 711 63 1600 98 2489 133 3378
29 737 64 1626 99 2515 134 3404
30 762 65 1651 100 2540 135 3429
31 787 66 1676 101 2565 136 3454
32 813 67 1702 102 2591 137 3480
33 838 68 1727 103 2616 138 3505
34 864 69 1753 104 2642 139 3531
35 889 70 1778 105 2667 140 3556
36 914 71 1803 106 2692 141 3581
37 940 72 1829 107 2718 142 3607
38 965 73 1854 108 2743 143 3632
39 991 74 1880 109 2769 144 3658
40 1016 75 1905 110 2794 145 3683
41 1041 76 1930 111 2819 146 3708
42 1067 77 1956 112 2845 147 3734
43 1092 78 1981 113 2870 148 3759
44 1118 79 2007 114 2896 149 3785
(Sumber: Sularso, 1980; 168)
26
Kecepatan linear sabuk-V (m/detik) adalah:

 .d p.n1 ……………………………………………………….…(pers 2.2)


v  60.1000

Jika jarak sumbu poros C, puli penggerak dan yang digerakkan dp dan Dp

diketahui nilai panjang keliling sabuk (L) dapat dicari:

Gambar 2.8 Perhitungan panjang keliling sabuk

(Sumber: Sularso, 1980; 168)

Dimana: Pd = Daya rencana (Kw)

Po = Kapasitas Daya transmisi dari satu sabuk (Kw)

K = Faktor koreksi dan tabel 10.

Po  C1  C2  C1 50 / 200  C3  C4  C3 50 / 200  …………........... ..(pers 2.3)

C 1 — C 4 adalah nilai konstanta diambil dari tabel 11

K  (faktor koreksi) didapat dari Tabel 2.3 setelah menghitung sudut kontak yaitu:

D  d p 
2

  180 p
………………………………………………………..(pers 2.4)
C

27
Tabel 2.3 Faktor koreksi

Dp -dp
Sudut kontak pull kccil  (0) Faktor koreksi K
C

0,00 180 1,00


0,10 174 0,99
0.2 169 0,97
0,30 163 0,96
0,40 157 0,94
0,50 151 0,93
0,60 145 0,91
0,70 139 0,89
0,80 133 0,87
0,90 127 0,85
1,00 120 0,82
1,10 113 0,80
1,20 106 0,77
1,30 99 0,73
1,40 91 0,70
1,50 83 0,65
(Sumber: Sularso, 1980; 174)

2.6.5 Variabel kerja

a). Kecepatan screw

Kecepatan adalah kecepatan perubahan terhadap waktu yang diperlukan

untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang diberikan. Untuk menentukan

kecepatan screw dalam mengangkut bahan dipergunakan persamaan

sebagai berikut :

Sxn
V= ……………………………………….(persamaan 2.5, lit 1)
60

28
Dimana:

V = Kecepatan dari screw (m/menit)

S = Diameter Pitch screw (m)

n = Putaran ideal (rpm)

b). Beban permeter pada screw

Q
q= ……………………………………….(persamaan 2.6, lit 1)
3,6xv

Diamana:

Q = Kapasitas (kg/jam)

v = Kecepatan screw (m/menit)

c). Gaya aksial pada screw

Gaya aksial adalah gaya yang mempunyai arah horizontal terhadap suatu

gaya yang melingkar. Gaya ini sering terjadi pada alat-alat pemindah

bahan pada suatu pabrik.

F = q . L . f0 . c…………………………………(persamaan 2.7, lit 1)

Dimana:

F = Gaya aksial (N)

q = Beban permeter (kg/m)

L = Panjang screw (m)

f0 = Faktor gesekan statis (0,85)

c = Faktor penahanan (2)

29
d). Torsi dari poros screw

Torsi adalah gaya yang diteruskan ke suatu batang atau penghubung

sehingga akan menyebabkan tenaga putar. Untuk menghitung berapa torsi

yang terjadi pada screw digunakan persamaan berikut :

T = F r tan ( α + φ )………………...………………(persamaan 2.8, lit 1)

Dimana:

F = Gaya aksial (N)

T = Torsi dari poros screw (N.mm)

α = Sudut screw terhadap jari-jari

1
φ = Sudut pengaruh gesekan ( φ = tan f, dimana f = 0,2 maka φ =
0
11,31 )

2.7 Daya dan Putaran

a. Daya

Daya adalah laju perpindahan energi dari suatu sistem atau pada suatu

sistem yaitu energi yang dipindahkan dalam joule perdetik yang

dilambangkan dengan P atau N. pada alat screw daya dapat dihitung

berdasarkan persamaan:

Daya screw yang dibutuhkan (Ns)

Tx2xn
Ns = ………………………………….. (persamaan 2.9, lit 1)
102x60

30
Dimana:

Ns = Daya screw (kw)

T = Torsi dari poros screw (kg.mm)

n = Putaran ideal (rpm)

Daya mesin penggerak direncanakan (Nm)

Ns
Nm = ………………………………………(persamaan 2.10, lit 1)
m

Dimana:

Nm = Daya (kw)

Ns = Daya screw (kw)

m = Efisiensi mesin penggerak

b. Putaran

Putaran (rotasi) semua titik dalam sebuah benda selalu mempunyai jarak

yang tetap dari sebuah garis yang tegak lurus terhadap bidang geraknya.

Sumbu putaran dan titik-titik dalam benda tersebut akan membuat lintasan

menurut jalur berupa lingkaran terhadap garis tersebut. Putaran ini ditandai

dengan satuan RPM.

2.8 Perencanaan poros screw

Perencanaan dimensi poros

Untuk  a :

 a= b ………………………………….(persamaan 2.11, lit 2)


(Sf1xSf2 )

31
Dimana:

 a = Tegangan geser material (N/mm 2 )

 b = Kekuatan tarik (N/mm 2 )

S f1 = Faktor kelelahan punter untuk baja paduan (6,0)

S f1 = Faktor kekasaran permukaan (1,3)

Persamaan untuk diameter

16.T
d= 3 ……………………………….(persamaan 2.12, lit2)
. a

Dimana:

d = Diameter poros screw (mm)

 = Konstanta phie (3,14)

T = Torsi yang diterima oleh screw (N.mm)

 a = Tegangan geser material (N/mm)

2.9 Pembentukan daun screw

Pembentukan daun screw pada dasarnya dibuat dari plat yang dibuat

menyerupai cincin, kemudian memotong dan membuang sebahagian kecil bagian

dari cincin plat tersebut. Kemudia plat tersebut dilakukan penarikan dengan gaya

aksial yang berlawanan arah. Sehingga terbentuk spiral yang nantinya akan

dilakukan pemasangan pada poros screw, kemudian dilanjutkan dengan

pengelasan pada poros screw.

32
Untuk pembuatan perlu diameter dari screw, diameter poros tempat

kedudukan dari plat, dan jarak antara screw dengan screw lainnya. Untuk

pembentukan daun screw ini dapat digunakan persamaan berikut:

L 1 = ( .DL)  p 2
2
………………………….(pers 2.13, lit 3)

L 2 = ( .D)2  p 2 ……………………….....(pers 2.14, lit 3)

(L1.t)
…………………...……..(pers 2.15, lit 3)
R 1= 1  L2 )
(L
t = R2  R1 ………………………….(pers 2.16, lit3 )

(180.L2) ………………………..
= (pers 2.17, lit3)
( .R1)

Dimana:

L 1 = Keliling lingkaran luar screw (mm)

L 2 = Keliling lingkaran dalam / poros screw (mm)

R 1 = Jari-jari dalam plat cincin (mm)

R 2 = Jari-jari luar plat cincin (mm)

 = Besar sudut plat yang dipakai

2.10 Perencanaan dimensi geometri silinder screw

Perencanaan silinder screw


Dscrew ……..…………………(pers 2.18, lit 1)
D silinder _ screw =
0,9

33
Perencanaan tebal plat screw

Pada perencanaan tebal plat ini menggunakan persamaan berikut:

di  t  P 
t=  1 ………………………..(pers 2.19, lit 2)
2  t  P 

Dimana:

P = Tekanan pada dinding screw (kg/mm 2 )

d i = Diameter dalam dari silinder screw (mm)

t = Tegangan tarik dari stenless steel (kg/mm 2 )

2.11 Perhitungan Sambungan Baut

Baut adalah salah satu alat pengikat yang sangat penting. Untuk mencegah

kecelakaan atau kerusakan pada mesin atau konstruksi, pemilihan baut sebagai

alat pengikat harus dilakukan dengan seksama untuk mendapatkan ukuran yang

sesuai.

 2
Wt = d c . a ………………………..(pers 2.20, lit 2)
4

Dimana:

Wt = Gaya yang diterima (kg)

 a = Tegangan geser dari baut (kg/mm 2 )

dc = Diameter baut (mm)

Teganagan yang terjadi pada plat sambungan las tersebut adalah:

34
P. 2
 w= ………………………..(pers 2.21, lit 2)
t.l

Dimana:

 w = Tegangan geser pada sambungan las (kg/mm 2)

P = Besar gaya yang diterima (kg)

2.12 Perencanaan Bantalan Poros Screw

Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban sehingga

putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secara halus, aman dan

panjang umur.Bantalan seperti yang terlihat pada Gambar 2.10 yang digunakan

adalah bantalan gelinding dimana bantalan tersebut menerima beban radial yang

bekerja tegak lurus terhadap sumbu poros.

Gaya tangensial yang terjadi:

2.T
Ft = ……………………………………(pers 2.22, lit 3)
ds

Gambar 2.10 Bantalan Gelinding

Gaya normal adalah antara dua permukaan benda yang saling bersentuhan

akan ada gaya dari permukaan benda yang satu ke permukaan benda yang kedua

dan sebaliknya.Arah. Gaya normal yang diterima bantalan:


Fn F ………………………..(pers 2.23, lit 3)
= cost

35
Gaya radial adalah gaya yang bekerja vertikal atau tegak lurus terhadap

suatu gerak yang merlingkar :

Fr = Fn  Fa ………………………..(pers 2.24, lit 3)

Perhitungan beban equivalen:

We = ( X r.V .Fr  Yt .Fa ).Ks ………………………..(pers 2.25, lit 3)

Dimana:

Xr = Faaktor radial = 0,43

V = Faktor rotasi = 1

Yt = Faktor aksial = 1

Ks = Faktor pelayanan = 1

Umur bantalan:

 c k 4
L=   .10 ……………………….(pers 2.26, lit 2)
 We 

Umur bantalan dalam jam:

L
LH = ……………………….(pers 2.27, lit 2)
60.n

2.13 Perencanaan Puly dan V-belt

Puly dan V-Belt seperti yang terlihat pada Gambar 2.11 adalah salah satu

elemen mesin yang sangat penting dipergunakan untuk jarak yang jauh antara

duah buah poros yang tidak memungkinkan transmisi langsung dengan roda gigi.

36
Gambar 2.11 Puly dan V-belt

Penggunaan puly dan V-belt ini sangat ekonomis dibandingkan dengan

jenis roda gigi. Puly yang digunakan untuk mereduksi putaran dibuat dengan

system bertingkat, sehingga nantinya didapat putaran yang diharapkan.

Ratio kecepatan untuk puly yang dapat ditulis:

N2 d1 , Dimana:
=
N1 d 2

N1 = Putaran puly 1.

N 2 = Putaran puly 2.

d1 = Diameter puly 1.

d 2 = Diameter puly 2.

Sedangkan untuk puly bertingkat dapat ditulis:

N d xd
= 1 3
4

N1 d2 xd 4

Panjang sabuk – V
 r r 
L = r  r   2x  1 2 2 

x 
1 2

37


Dimana:

 = Konstanta phi

r1 = Jari-jari puly 1

r2 = Jari-jari puly 2

x = Jarak antara puly 1 dan 2

Sudut kontak antara puly 1 dengan 2:

r1  r2
Sin =
x

2.14 Rangka

Perhitungan reaksi pada rangka yang dilakukan dengan menggunakan

langkah-langkah yang biasa dipergunakan dalam statika. Selanjutnya dilakukan

perhitungan gaya dan momen dalam, sehingga akan dihasilkan diagram gaya dan

momen dalam yang digunakan untuk menentukan daerah yang memiliki gaya dan

momen terbesar, dengan menganggap bahwa alas an pada bagian tersebut

merupakan suatu tumpuan jepit (E.P popov).

38
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir (Flow Chart)

Start

Survey
Lapangan

Data
Daya dan putaran motor

Tidak
Lengkap

Ya
Proses Perhitungan
Diameter screw dan
poros,gaya,momen
Tidak

Hasil

Ya
Gambar Rancangan

Kesimpulan

End
Gambar 3.1 Diagram Alir Perencanaan Mesin Penghancur Sampah

39
3.2 Studi Kasus

Study kasus dilakukan dilapangan untuk mengetahui permasalahan yang

terjadi dimasyarakat luas mengenai sampah daun-daunan yang mereka salah

gunakan selama ini. Dalam hal ini penulis melakukan pendekatan dengan

masyarakat terutama yang dipedesaan yang menggunakan pupuk pada tanaman

mereka. Dari pembicaraan yang penulis lakukan para petani hanya tahu bahwa

kotoran hewan yang bisa mereka buat jadi pupuk dan daun-daunan mereka buang

atau dibakar. Dari penelusuran itulah penulis berkomitmen untuk membuat alat

penghancur sampah daun-daunan yang menghasilkan pupuk bokasi yang baik buat

tanaman petani indonesia. Dengan adanya pupuk bokasi ini maka petani tidak

perlu mengeluarkan dana yang besar untuk tanamannya.

3.3 Studi Literatur

Dari hasil pengumpulan data dari beberapa sumber seperti internet, buku

dan yang paham dalam bidang ini penulis mendapatkan beberapa hal yang penting

dalam perencanaan alat ini sebagai berikut :

1. Kelebihan pupuk bokasi dibanding pupuk kimia yaitu Pupuk bokasi

mempunyai keunggulan dalam hal memperbaiki sifat fisik dan biologi

tanah, sesuatu yang tidak dapat dicapai pupuk kimia.

2. Pupuk bokasi lebih mudah diserap tanaman, lebih ramah lingkungan,

tidak membahayakan kesehatan, dan lain sebagainya.

40
3. Pupuk bokasi menyediakan hara makro dan mikro seperti Zn, Cu, Mo,

Co, Ca, Mg, dan Si.

4. Pupuk bokasi meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.

5. Pupuk bokasi dapat bereaksi dengan ion logam untuk membentuk

senyawa kompleks, sehingga ion logam yang meracuni tanaman atau

menghambat penyediaan hara seperti Al, Fe dan Mn dapat dikurangi.

3.4 Penetapan Dasar Perencanaan

Dasar perencanaan diambil berdasarkan fungsi dan sifat pupuk bokasi yang

sangat bagus buat tanaman dan kesuburan tanah. Disamping itu bahan untuk bahan

pupuk bokasi ini mudah kita jumpai karena disekitar kita bayak sekali daun-daun

yang bisa kita mamfaatkan. Maka berdasarkan penjelasan diatas penulis

merancang alat penghancur sampah daun-daunan dengan menggunakan ulir atau

screw, karena screw dapat menghasilkan gaya aksial yang besar. Disamping itu

ulir akan dilengkapi dengan konis yang dapat mendukung kerja screw agar

mendapatkan hasil yang maksimal.

Keuntungan dari alat penghancur daun-daunan ini dengan menggunakan

screw adalah :

1. Proses yang cepat karena dengan perendaman daun-daunan selama

beberapa hari akan memudahkan pengolahan daun menjadi serbuk

daun.

2. Gaya aksial yang diakibatkan oleh screw cukup besar dengan

meletakkan konis pada ujung screw.

41
3. Tidak menggunakan tenaga manusia yang besar sehingga lebih efisien

dan ekonomis.

3.5 Perencanaan Komponen Utama Dan Komponen Pendukung

Komponen utama dari alat penghancur sampah daun-daunan ini

adalah screw dan silinder screw, sedangkan rumah kempa dan dongkrak

hidrolik merupakan pembantu pengempaan berulang dari hasil

pengempaan screw.

3.6 Pembuatan Gambar

Dari hasil analisa perencanaan masing-masing komponen maka

akan didapat dimensi dan variable kerja. Dari dimensi tadi akan didapat

hasil berupa gambar teknik dari masing-masing komponen beserta gambar

terpasangnya atau gambar alat secara keseluruhan.

3.7 Pembuatan Laporan

Apabila analisa dan gambar kerja dari masing-masing komponen

sudah didapat secara lengkap maka dilakukan penyusunan laporan menurut

format laporan yang telah ada.

42
Gambar 3.2 Rancangan Mesin Penhancur Sampah Organik

43
BAB IV

HASIL PERHITUNGAN PERENCANAAN

Perhitungan dalam perencanaan ini sangat penting sekali karena bertujuan

untuk memenuhi kapasitas, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemilihan bahan,

baik itu komponen utama maupun komponen pendukung. Pada Bab ini akan

dilakukan perhitungan untuk melakukan geometri gaya-gaya yang bekerja pada

saat kondisi operasional ataupun gaya-gaya yang mempengaruhinya beserta daya

yang dibutuhkan dari komponen guna mendapatkan efisiensi bahan dan daya yang

dipergunakan dalam perencanaan ini.

4.1 Perencanaan Dimensi Screw

Untuk perancangan komponen ini kapasitas daun akasia yang akan diolah

360 kg/hari atau 45 kg/jam dengan waktu kerja efektif kurang lebih 8 jam/hari.

Dari literature yang didapat untuk putaran screw ini memiliki putaran maksimum

150 rpm sedangkan putaran minimum 23,6 rpm ( A. Spivakovsky dan Dyachkov)

4.1.1 Diameter Srew

Dengan menggunakan persamaan 2.1 pada Bab sebelumnya maka didapat :

Untuk putaran screw 23,6 rpm

4xQ
D=
60xx0.8xnxxxc

Dimana:

Q = Kapasitas screw (kg/jam)

D = Diameter screw (m)

44
n = Putaran ideal untuk screw (rpm)

φ = Efisiensi loading (0,25)

ρ = Massa jenis bahan baku (kg/m 3 )

c = Faktor pendakian atau penurunan sudut pendakian (untuk

screw

horizontal = 1)

4x45Kg / jam
D 3
 60x3.14x0.8x23.6x0.25x28.512Kg / m3 x1

= 0.1921 m = 192.1 mm

Untuk putaran screw 150 rpm.

4x45Kg / jam
D 3
 60x3.14x0.8x150x0.25x28.512Kg / m3 x1

= 0.1037 m = 103.7 mm

Dari hasil perhitungan, diameter screw yang digunakan adalah 103,7 mm.

4.1.2 Panjang Screw

Panjang screw dirancang sepanjang 500 mm dengan dipasangi 5 buah plat

screw dengan jarak screw yang satu dengan yang lainnya sejauh 100 mm, dimana

screw ini berfungsi sebagai penghantar sampah dari hopper ke mata pisau. Mata

pisau terletak diujung pelat screw didalamnya terdapat tiga buah mata pisau yang

berfungsi untuk menghaluskan sebelum keluar dari saluran buang.

45
4.1.3 Tebal Pelat Screw

Untuk tebal plat screw diambil dari table split flight coupling menurut

standart IS : 2292 dan 2293-1963 maka dari diameter screw 103,7 mm didapat

tebal plat sebesar 4 mm.

4.1.4 Penampang dari pisau

Pisau berfungsi sebagai pendukung kerja dari screw untuk memperoleh

tekanan screw, disamping itu pisau juga berfungsi apabila jarak antara screw

dengan rumah screw terlalu jauh maka material tidak akan terangkut oleh screw

dan mencincang daun supaya lebih halus lagi. Dalam perencanaan ini karena

material yang dipakai adalah daun akasia jadi tebal dari pisau direncanakan 2 mm,

lebar 10 mm dan panjangnya 100 mm. Dibawah ini adalah massa jenis dari

beberapa logam dimana penulis memilih bahan dari pisau adalah besi dengan

massa jenis 7897 kg/mm2 seperti yang ada pada Table 4.1

Tabel 4.1 Massa jenis dari beberapa material logam.

Logam Berat Jenis (kg/mm2)


Aluminium 2643
Tembaga 8906
Kuningan 8750
Timah Hitam 11309
Magnesium 1746
Nikel 8703
Seng 7144
Besi 7897
Baja 7769

46
Dalam menghitung volume dan massa dari pisau dapat dihitung dengan

menggunakan persamaan seperti berikut ;

Tebal = t = 2 mm

Lebar = l = 10 mm

Panjang = p = 100 mm

V1 = (p · l · t) mm3

V1 = (100 · 10 · 2 ) mm3

= 2000 mm3

= 2000 · (1 ×10-9)

= 2 × 10-6 m3

Massa
Massa Jenis =
Volume

m
ρ=
V

m=V·ρ

m1 = (2 × 10-6 m3) · (7897 kg.m-3)

= (1,58 × 10-2) kg

4.2 Variabel Kerja

4.2.1 Kecepatan Screw

Dengan menggunakan persamaan berikut maka didapat jarak daun screw dengan

daun screw lainnya:

S = 0,8 x Dscrew

47
Dimana:

V = Kecepatan dari screw (m/menit)

S = Diameter Pitch screw (m)

n = Putaran ideal (rpm)

= 0.8 x 103.7 mm

= 82.96 mm

Sxn
V 
60

82.96mmx150rpm
= 60

= 207.4 mm/s = 0.2074 m/s

= 12.444 m/menit.

4.2.2 Beban Permeter Pada Screw

Dengan menggunakan persamaan 2.3 pada Bab II didapat :

Q
q=
3,6xv

Diamana:

Q = Kapasitas (kg/jam)

v = Kecepatan screw (m/menit)

45

3.6x0.2074

= 60,27 Kg/m.

48
4.2.3 Gaya Aksial Pada Screw

Untuk mencari besarnya gaya aksial digunakan persamaan sebagai berikut:

F = q . L . f0 . C

Dimana:

F = Gaya aksial (N)

q = Beban permeter (kg/m)

L = Panjang screw (m)

f0 = Faktor gesekan statis (0,85)

c = Faktor penahanan (2)

= 60,27 Kg/m x 0.500 m x 0.85 x 2

= 51,23 Kg = 502,56 N

4.2.4 Torsi dari Poros Screw

Untuk mencari torsi yang terjadi pada screw ini digunakan persamaan

sebagai berikut

T = F r tan ( α + φ )

Dimana:

F = Gaya aksial (N)

T = Torsi dari poros screw (N.mm)

α = Sudut screw terhadap jari-jari

r = Jari-jari screw conveyor

1
φ = Sudut pengaruh gesekan ( φ = tan f, dimana f = 0,2

49
0
maka φ = 11,31 )

= 502,56 N x 51.85 mm x tan ( 70.170 + 11.310 )

= 173941,02 N.mm

4.2.5 Daya Poros Screw yang Dibutuhkan (Ns)

Daya poros screw dapat dicari dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Tx2xn
Ns =
102x60

Dimana:

Ns = Daya screw (kw)

T = Torsi dari poros screw (kg.mm)

n = Putaran ideal (rpm)

17.73Kg.mx2x3.14x150rpm

102x60

= 2.73 KW

4.2.6 Daya Mesin Penggerak yang Direncanakan

Untuk mendapatkan daya mesin penggerak, digunakan persamaan sebagai berikut

Ns
Nm =
m

Dimana:

Nm = Daya (kw)

Ns = Daya screw (kw)

51
m = Efisiensi mesin penggerak (0.8)

2.73KW

0.8

= 3.4 KW

4.3 Perencanaan Dimensi Poros Screw

Panjang poros diasumsikan 600 mm, dalam hal ini karena poros biasanya

digunakan bahan dari besi. Berdasarkan hal itu dipilih bahan S45C dimana

kekuatan tarik maksimumnya (σb)sebesar 58 Kg/mm2 atau 569 N/mm2, maka

tegangan gesernya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

b
 a=
(Sf1xSf2 )

Dimana:

 a = Tegangan geser material (N/mm 2 )

 b = Kekuatan tarik (N/mm 2 )

S f1 = Faktor kelelahan puntir untuk baja paduan (6,0)

S f1 = Faktor kekasaran permukaan (2)

569N / mm2

6x2

= 47.42 N/mm2

Untuk menghitung diameter poros digunakan persamaan :

16.T
d= 3
. a

52
Dimana:

d = Diameter poros screw (mm)

 = Konstanta phie (3,14)

T = Torsi yang diterima oleh screw (N.mm)

 a = Tegangan geser material (N/mm)

16x173941.02N.mm
3
 3.14x47.42N / mm2

= 30.24 mm

4.4 Perhitungan Pasak

Pasak adalah untuk menyambung poros motor ke gear box dan ke poros

screw conveyor. Fungsi pasak adalah untuk memindahkan daya dan putaran dari

poros penggerak ke poros yang digerakkan

4.4.1. Jari – jari fillet pasak ( r )

 D  Ds 
r=  b 
 2 

Dimana :

Db = Diameter bantalan (mm). di ambil (32)mm

Maka :

 32  30 
r=  
 2 

r = 1 mm

53
4.4.2. Alur pasak ( b )

ds
b=
4

30
b= 4

b = 7,5 mm

4.4.3. Tinggi pasak ( h )

ds
h=
6

30
h=
6

h = 5 mm

4.4.4. Fillet pasak ( c )

h
c=
b

5
c=
7,5

c = 0,7

Maka di dapat, alur pasak(b) x tinggi(h) x fillet(c)

7,5 mm x 5 mm x 0,7 ….lit 2 tabel 1.8 hal 10

54
Gambar 4.1. Pasak

4.5 Pembentukan Daun Screw

Pembentukan daun screw pada dasarnya dibuat dari plat melingkar yang

menyerupai cincin kemudian memotong dan membuang sebagian kecil bagian

dari cincin plat tersebut. Kemudian plat tersebut dilakukan penarikan dengan gaya

aksial yang berlawanan arah sehingga membentuk spiral nantinya akan dilakukan

pemasangan pada poros screw kemudian dilanjutkan dengan pengelasan pada

poros screw. Untuk pembuatan perlu diameter luar dari screw, diameter poros

tempat kedudukan dari plat dan jarak antara daun screw dengan screw lainnya.

Untuk perencanaan ini, maka didapatkan :

Diameter luar screw (DL) = 103.7 mm

Diameter poros screw (D) = 34.04 mm

Jarak antara daun screw dengan daun screw lainnya (p) = 100 mm

Untuk dapat menghitung keliling lingkaran luar screw digunakan persamaan :

2
L 1 = ( .DL )  p

55
Dimana:

L 1 = Keliling lingkaran luar screw (mm)

L 2 = Keliling lingkaran dalam / poros screw (mm)

R 1 = Jari-jari dalam plat cincin (mm)

R 2 = Jari-jari luar plat cincin (mm)

 = Besar sudut plat yang dipakai

 3.14x103.7mm 2  100mm2

= 340.63 mm

Keliling lingkaran dalam/poros screw (L2) didapat :

L 2 = ( .D)  p
2 2

 3.14x30.24mm  100mm2
2


= 137.90 mm

Jari-jari dalam plat cincin dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut :

(L1.t)
R 1=  L2 )
(L1

340.63mmx36.73mm

340.63mm  107.30mm

= 53.62 mm

56
Jari-jari luar plat cincin adalan :

R2 = R1 + t

t = R2  R1

D1  D 103.7  30.24
   36.73mm
2 2

R2 = 53.62 mm + 36.73 mm

= 90.35 mm

Untuk menghitung besar sudut yang dipakai digunakan persamaan :

(180.L2 )
=
( .R1)

180x107.30mm

3.14x53.62mm

= 114.710

= 89.500

4.6 Perencanaan Silinder Screw

Dari diameter screw didapat diameter silinder dengan persamaan sebagai berikut :

Dscrew
D silinder _ screw =
0,9

103.7mm
D silinder _ screw =
0,9

= 115.22 mm = 11.522 cm

Laju aliran daun didalam screw adalah :

Qs  Vscrew xAsilinderscrew

57
0.11522
 12.44m3 / menitx3.14x 2
  

 2 

= 0.1297 m3/menit

= 0.7776 m3/jam

Laju aliran daun akasia yang diharapkan :

Q
Qp =  akasia
akasia

45kg / jam
Qp =
29.8kg / m3

= 1.5101 m3/jam.

Jadi selisih kapasitas adalah :

Q1 = Qp - Qs

= 1.5101 m3/jam – 0.7776 m3/jam

= 0.7325 m3/jam

= 0.012 m3/menit.

4.7 Perencanaan Tebal Plat Silinder Screw

Pada perncanaan tebal plat ini menggunakan persamaan :

di  t  P 
t=  1
2  t  P 

Dimana:

P = Tekanan pada dinding screw (2,54kg/mm 2 )

d i = Diameter dalam dari silinder screw (115,22mm)

t = Tegangan tarik dari stenless steel (58kg/mm 2 )


58
 
115.22mm  58kg / mm  2.45kg / mm  1
2 2

t
 58kg / mm  2.45kg / mm
2 2
2 

t  3,4mm  3mm

4.8 Dimensi Penutup Depan Silinder Screw

Diameter plat = Diameter Silinder + Tebal Plat Silinder Screw

= 115.22 mm + 3 mm

= 118.22 mm

4.9 Perhitungan Sambungan Baut Pada Silinder Screw

Gaya aksial pada screw 51,23 kg, maka sambungan yang digunakan 4 titik

sehingga gaya yang diterima masing-masing baut adalah 12,81 kg maka diameter

baut yang digunakan adalah :

 2
Wt  d c . a
4

Wt = Gaya yang diterima (12,81kg)

 a = Tegangan geser dari baut JIS B 1051(34kg/cm 2 =0,34kg/mm2)

dc = Diameter baut (mm)

Maka :

12,81kg.4
dc 
0,34kg / mm2 .3,14

= 8,93 mm

59
Untuk dimensi plat sambungan baut, lebar plat yang digunakan adalah

17,81 mm dengan tebal plat 3 mm, maka tegangan yang terjadi pada sambungan

las tersebut adalah :

P.
w 
t.l

Dimana :  w = Tegangan geser pada sambungan las (kg/mm 2)

P = Besar gaya yang diterima (kg)


Maka :

  51,23kg. 2
w
3mm.17,81mm

= 1,36 kg/mm2

( w   i )

(1,36 kg/mm2 < 5 kg/mm2)

4.10 Perencanaan Hopper

Hopper yang direncanakan berbentuk prisma segi empat, dimana untuk

memperindah bentuk dari hopper penulis mengasumsikan panjang dan lebar dari

300 mm. waktu yang diasumsikan adalah 3 menit, sehingga :

Volume hopper :

V=txQ

= 3 menit x 0.012 m3/menit

= 0.036 m3

60
Penampang hopper :

A = 300 mm x 300 mm

= 90000 mm2

= 0.09 m2

Tinggi hopper :

V = 2 xtxA
3

3V
t =
2A

3x0.036m3
=
2x0.09m2

= 0.2 m

= 200 mm

4.11 Perencanaan Bantalan

Bantalan yang digunakan adalah bantalan gelinding dimana bantalan

tersebut menerima beban radial yang bekerja tegak lurus terhadap sumbu poros.

Gaya tangensial yang terjadi adalah :

2.T
Ft 
ds

2x173941.02N.mm
= 30.24mm

= 11504.03 N

61
Gaya normal yang diterima bantalan adalah :

Ft
Fn 
cos
 
11504.03N
=
cos 200

= 12242.34 N

Fn
Fr
Ft

Gambar 4.2 Arah Gaya Yang Bekerja Pada Bantalan.

Gaya radial :

Fr  Fn 2  Ft 2

2
= 
= 4187.14 N

Perhitungan beban equivalent :

We = (Xr . V . Fr + Yt . Fa ) . Ks

Dimana :

Xr = Faktor radial, 0,43

V = Faktor rotasi, 1

Yt = Faktor aksial, 1

Ks = Faktor pelayanan, 1

62
Maka :

We = (0.43 x 1 x 4187.14N + 1 x 0 ) x 1

= 1800.47 N

Berdasarkan diameter poros dan bantalan dimana diameter poros adalah

30,24 mm, maka dipilih bantalan nomor 6206 ( sularso, 2004 ) dengan kapasitas

nominal dinamis spesifik (c) = 1530 kg atau sama dengan 15009.3 N maka umur

bantalan dapat kita hitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Umur bantalan :

 C   4
3

L =   .10

 We 

15009.3N 3 .104
=  

 3021.39N 

= 579,33 . 104 putaran.

Umur bantalan dalam jam :

L
LH 
3600


579.33x104
=
3600

= 1609.24 jam

4.12 Perencanaan Pully

Rasio untuk pully bertingkat yang direncanakan masing-masing i12 = 1/3

dan i34 = 1/4 agar dapat putaran 150 rpm pada poros screw.

63
n1 d1 1
 
n2 d 2 3

Pully n1 = 2200 rpm

d1 = 3 inchi = 76,2 mm

maka d2 didapat :

d2 = 3 x d1

d2 = 3 x 3

= 9 inchi = 228,6 mm

Maka d4 adalah :

d3 = 2,5 inchi = 63,5 mm

n4  d1.d3

n1 d 2 .d 4

d1.d3.n1
d4 
n4 .d 2

3inchix2.5inchix2200rpm
d 4 
150rpmx9inchi

= 12 inchi = 304,8 mm

Untuk masing-masing panjang sabuk didapat :


 r  r 
L  r  r   2x  1 2 2
1  1 2
 x 

Dimana:

 = Konstanta phi

r1 = Jari-jari puly 1

64
r2 = Jari-jari puly 2

x = Jarak antara puly 1 dan 2

Maka :
L  3.141.5  4.5  2x20.5 
 

 1.5  4.5 2 
20.5 
1


= 60,29 inchi = 1531,36 mm

Dari hasil perhitungan didapat panjang keliling sabuk 1 (L1) adalah

1531,36 mm dan panjang keliling sabuk yang mendekati perhitungan yang

tersedia dipasaran adalah 1549 mm atau 61 inchi. (sularso,2004)

 r  r 2 
L2   r3  r4  2x  3 4 
 x 
L  3.141.25  6   2x12.5 
 

 1.25  6 2 
12.5 
2


= 49,57 inchi = 1259,08mm

Dari hasil perhitungan didapat panjang keliling sabuk 2 (L2) adalah

1259,08 mm dan panjang keliling sabuk yang mendekati perhitungan yang

tersedia dipasaran adalah 1270 mm atau 50 inchi. (sularso,2004)

4.13 Sudut Kontak Antara Pully

a. untuk pully 1 dan pully 2

r1  r2
Sin 
x

1.5  4.5
=
20.5

65
Sin  0,29

  16,860

b. untuk pully 3 dan pully 4

r3  r4
Sin 
x

1.25  6
Sin 
12.5

Sin  0,58

  54,450

4.14 Perhitungan Tegangan Pada Rangka

Sebelum melakukan analisa gaya-gaya yang terjadi pada rangka terlebih

dahulu harus mengetahui besarnya gaya yang ditimbulkan oleh berat dari rangka

itu sendiri.

 dari ST37 : 7854 kg/m3

Volume dari rangka :pxlxt

= 600 x 3 x 50

= 90000 mm3b

Massa dari rangka :ρxv

= 7854 kg/m3 x 90000 mm3

= 0,71 kg = 6,96 N

Maka besar gaya terdistribusi akibat gaya berat dari rangka adalah = 6,96 N

sepanjang 600 mm pada rangka. w adalah gaya terdistribusi = 0.02 N/mm

66
P1 = P2 = P3 = P4 = 13,92 N

P1 P2 P3 P4

210mm 300mm 335mm 450mm 520mm 600mm

F x  0  

RAx  RBx  0

F y
 0  

RAy  RBy  P1 w.x  P2  P3  P4  0

RAy  RBy  P1  w.x  P2  P3 P4  0

RAy  RBy  13,92N  0.02N / mmx600mm  13,92N  13,92N  13,92N  0

RAy  RBy  67,68N

M A 0

R .x P .210  P .335  P .450  P .520  w. x 


2

By 1 2 3 4  0
 2 

67

R By .600   13 ,92 N .210 mm  13 ,92 N . 335 mm  13 ,92 N .450 mm 
  600 mm 2

 13 ,92 N .520 mm 

0 , 02 N

/ mm .
2 
24688,8N.mm
RBy 
600mm

RBy  41,15N

Maka dari hasil diatas akan didapatkan harga dari RAy sebesar :

RAy + RBy = 67,68 N

RAy = 67,68 N – 41,15 N

= 26,53 N

Potongan 1

w v

RAy

F y  0  ; x  0

RAy  w.x  v  0

RAy  26.53N

M 0 0

 x 
M  w.x.   R  0
 2 
Ay

68

 x 2 
M  R Ay.x   w. 
 2 

Jika x = 0

M=0

Potongan 2

w P1
v

RAy

Jika x = 210 mm

 F  0  
y

RAy  P1 w.x  v  0

v  RAy  P1  w.x

v  26,53N  13,92N  0,02N / mm.210mm



v  8,41N

M 0 0
M  w.x.   R .x P .x  210mm
 x 
Ay 1
 2
 x
M  R .x   w. 2  P.x  210mm
Ay   1
 2 

69

M  26,53N.210mm   0,02N / mm. 210mm  13,92N.210mm  210mm


2

 
 2 


M  6012,3N.mm

Potongan 3

P1 w P2
v

RAy

Jika x = 335 mm

F y  0 

RAy  P1 P2  w.x  v  0

v  RAy  P1  P2  w.x

v  26,53N  13,92N  13,92N  0,02N / mm.335mm



v  8,01N

M 0 0

70
 R .x   P .x  210mm w.x. x 

   P
2
.x  335mm M  0
 2
Ay 1

 x
M  R .x   w. 2  P .x.210mm P .x.335mm
Ay   1 2
 2 
 2

335mm
M  26,53N.335mm  0,02N / mm.   13,92N.335mm  210mm
 2 
 13,92N 335mm  335mm

M  6025,3N.mm

Potongan 4

P1 w P2
v

RAy

Jika x = 450 mm

 F  0  
y

R Ay  P1  P2  P3 .w.x   v  0

v  RAy  P1  P2  P3  w.x

v  26,53N  13,92N  13,92N  13,92N  0,02N / mm.450mm



v  24,23N

71
M 0 0

 R .x   P .x  210mm w.x. x 



   P x  335mm P x  450mm M  0
Ay 1
2 3
 x2  2
M  R .x   w.  P.x  210mm P x  335mm P x  450mm
Ay   1 2 3
 2 
 2

450mm
M  26,53N.450mm  0,02N / mm.   13,92Nx450  210mm
 2 
 13,92Nx450  335mm 13,92Nx450mm  450mm

M  4971,9N.mm

Potongan 5

P1 w P2 P3
v

RAy x

Jika x = 520 mm

 F  0  
y

RAy  P1  P2  P3  P4  w.x v  0

v  RAy  P1  P2  P3  P4  w.x

v  26,53N  13,92N  13,92N  13,92N  13,92N  0,02N / mm.520mm



v  39,55N

72
M 0 0

 R .x   P x  210mm w.x. x 

   P x  335mm P x  450mm
Ay 1
2 3
 2
 P4 x  520 mm  M  0

M  R .x   w. x   P x  210mm P x  335mm P x  450mm



2

Ay    1 2 3
 2 
 P4  x  520 mm

M  26,53N.520mm   0,02N / mmx 520mm 


  13,92Nx520  210mm
2

 
 2 
 13,92Nx520  335mm 13,92Nx520  450mm 13,92Nx520  520mm

M  3226,8N.mm

Potongan 6

P1 w P2 P3 P4 v

RAy
x

Jika x = 600 mm

73
 F  0  
y

RAy  P1  P2  P3  P4  w.x v  0

v  RAy  P1  P2  P3  P4  w.x

v  26,53N  13,92N  13,92N  13,92N  13,92N  0,02N / mm.600mm



v  41,15N

M 0 0

M  R .x   
w. x  P x  210mm P x  335mm P x  450mm
2

Ay 1 2 3
 2 
 P4  x  520mm  0

Jika x = 600 mm

M=0

Dari hasil perhitungan yang telah diperoleh maka didapat momen lentur

terbesar terdapat pada (x = 335 mm, M = 6025,3 N.mm) sedangkan gaya lintang

(gaya geser) terbesar adalah (x = 600 mm, v = -41,15 N).

74
BAB V

HASIL PENGUJIAN

Dalam pengujian penulis mendapatkan hasil perencanaan diameter screw

103,7 mm dimana, berdasarkan tabel putaran yang didapat adalah 23,6 rpm dan

150 rpm. Putaran minimumnya 23,6 rpm dan putaran maksimumnya 150 rpm.

Pada tiap putaran hasil dari mesin screw conveyor berbeda- beda kehalusan dari

material uji yaitu sampah organik. Pada saat pengujian penulis memilih bahan

daun pohon mahoni dimana daun yang sudah jatuh ke tanah direndam dalam 4 – 6

hari lalu dilakukan proses pengolahan. Pada putaran 23,6 rpm didapat hasil seperti

pada Gambar 5.1 berikut.

Gambar 5.1 Hasil Cincangan pada Putaran Rendah Yaitu 23,6 rpm

Dari gambar dapat dilihat bahwa hasil pencacahan pada putaran rendah yaitu

23,6 rpm sangat kasar, itu disebabkan karena daun dalam screw conveyor tidak

terpotong oleh pisau karena putarannya lambat. Sedangkan pada putaran

75
maksimum screw conveyor yaitu 150 rpm hasilnya lebih baik dari pada putaran

rendah, jadi hasilnya berbanding terbalik dengan putaran minimum. Jelaslah kita

ketahui bahwa lebih baiknya hasil material sampah yang keluar dari saluran buang

karena putaran pisaunya lebih kencang jadi mampu untuk memotong-motong

daun seperti Gambar 5.2 dibawah. Lamanya perendaman juga mempengaruhi

kehalusan sampah karena dengan begitu sampah akan busuk. Jadi kesimpulannya

dari pengujian mesin pencacah sampah yang penulis rencanakan bahwa pada

putaran maksimal hasil sampah yang dihasilkan lebih halus yang dapat kita

bandingkan berdasarkan gambar.

Gambar 5.2 Hasil Cincangan pada Putaran tinggi yaitu 150 rpm

76
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Pada bab ini penulis akan menyajikan kesimpulan dimana kesimpulan

didapat dari hasil pembahasan dan perhitungan pada bab-bab sebelumnya tentang

perencanaan alat penghancur sampah daun-daunan untuk pupuk bokasi dengan

menggunakan screw conveyor.

Dari hasil perhitungan tersebut didapat dimensi dan variable kerja dari

masing-masing komponen sebagai berikut :

Dimensi screw

Diameter Screw 103,7 mm

Panjang Screw 500 mm

Tebal Plat Screw 4 mm

Diameter Poros 30,24 mm

Variable Kerja Dari Screw

Kecepatan Screw 12,44 m/menit

Beban Permeter Pada Screw 60,27 kg/m

Gaya Aksial Pada Screw 502,56 N

Torsi Dari Poros Screw 17,73 kg.m

Daya Poros Screw 2,73 Kw

77
Mesin Penggerak

Daya Efektif Mesin Penggerak 3,4 Kw

Putaran Mesin Penggerak 1450 rpm

Dimensi Silinder Screw

Diameter Silinder Screw 115,22 mm

Tebal Silinder Screw 3 mm

Diameter Pully Bertingkat

Diameter Pully 1 76,2 mm

Diameter Pully 2 228,6 mm

Diameter Pully 3 63,5 mm

Diameter Pully 4 203,2 mm

Panjang Sabuk-V

Panjang Sabuk 1531,36 mm

Panjang Sabuk 2 1068,21 mm

Sudut Kontak Antar Pully

Pully 1 dan Pully 2 16,860

Pully 3 dan Pully 4 24,830

Bantalan

Nomor Bantalan Untuk Poros Screw 6206


Nomor Bantalan Untuk Poros Pully
6208
Bertingkat

78
Dari hasil perencanaan ini dapat disimpulkan bahwa pemilihan ukuran-

ukuran atau dimensi screw sangat penting dalam perencanaan suatu mesin

penghancur sampah daun-daunan untuk pupuk bokasi ini, karena sangat

berpengaruh kepada banyak sedikitnya pupuk bokasi yang akan dihasilkan.

6.2 Saran

Untuk perbaikan dalam perencanaan mesin yang sama dengan penulis

kedepannya, penulis memberikan saran-saran antara lain :

1. Dalam perendaman daun akasia diusahakan direndam agak lama supaya

hasil pupuk bokasi yang dihasilkan lebih halus.

2. Supaya mesin lebih mudah dipindah-pindahkan ketempat lain dipasang

roda pada rangka.

3. Untuk memperoleh hasil pupuk bokasi yang bagus harus diperhatikan

jarak antar daun screw dan jumlah plat screw yang akan direncanakan.

79