Anda di halaman 1dari 31

Halaman |3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan


1. HEREDITAS (KETURUNAN/PEMBAWAAN)
Hereditas diartikan sebagai “totalitas karakteristik individu yang diwariskan
orangtua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki
individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan
dari pihak orangtua melalui gen-gen”. Setiap individu berasal dari satu sel tunggal
yang sangat kecil, garing tengah nya kurang lebih 1/200 inci (1/80 cm). Sel ini
merupakan perpaduan antara sel sperma dan sel ovum yang akan terus bertambah
besar dengan cara pembelahan. Setap sel benih memiliki 48 kromosom, yang
setelah pembuahan, kromosom tersebut akan membelah diri jadi dua organisme
sehingga jumlah kromosom pada sel sel baru menjadi 24. Di dalam kromosom
terdapat gen-gen yang berjumlah 10000-15000, gen gen inilah yang akan
menentuka sifat individu, baik psikis maupun fisiknya. Para sel kemudian akan
berjuang dan akhirnya hanya satu organisme yang berhasil hidup. Jika keduanya
berhasil hidup, maka akan lahir anak kembar. Sedangkan, kembar yang berasal dari
satu sel telur disebut kembar identik.
a. Proses Pembuahan Biasa (Normal)
Mengenai jenis kelamin, sangat bergantung pada perpaduan antar kromosom.
Pada pria terdapat pasangan kromosom xy sedangkan xx pada wanita. Apabila
terdapat pembuahan xy (x dari wanita dan y dari laki laki) maka anak yang akan
lahir adalah laki laki, sedangkan apabila xx maka yang lahir wanita.
b. Proses Pembuahan Kembar
Seperti yang telah dijelaskan diatas, kembar identik hanya berasal dari satu sel
telur sedangkan kembar bersaudara berasal dari dua sel telur yang berhasil
hidup.
Adapun penurunan sifat dari orang tua mengikuti prinsip pronsip sebagai berikut :
1) Reproduksi, penurunan sifat hanya berasal dari sel benih.
2) Konformitas (keseragaman), penurunan sifat akan mengikuti pola jenis generasi
sebeumnya.
3) Variasi, dalam penurunan ifat akan terjadi penurunan yang beraneka
(bervariasi). Antara kakak adik mungkin akan sangat berlainan sifat.
Halaman |4

4) Regresi Fillial, penurunan sifat cenderung kea rah rata rata.

2. LINGKUNGAN PERKEMBANGAN
Urie Bronfrenbrenner & Ann Crouter (Sigelman & Shaffer, 1995 : 86)
mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan merupakan “berbagai peristiwa,
situasi atau kondisi di luar organisme yang di duga mempengaruhi atau
dipengaruhi oleh perkembangan individu”. Sedangkan, lingkungan perkembangan
siswa adalah “keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi, kondisi) fisik atau sosial
yang mempengaruhi atau dipengaruhiperkembangan siswa.”
a. Lingkungan Keluarga
1. Pengertian Keluarga
M.I. Soelaeman (1978: 4-5) mengemukakan pendapat para ahli mengenai
pengertian keluarga, yaitu :
a) F.J Brown berpendapat bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologis,
keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu a) dalam arti luas, keluarga
meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang
dapat dibandingkan dengan “clan” atau marga; b) dalam arti sempit
keluarga meliputi orangtua dan anak.
b) Maciver menyebutkan lima ciri khas keluarga yang umum terdapat
dimana mana, yaitu a) hubungan berpasangan kedua jenis b)perkawinan
atau bentuk ikatan lain yang mengkokohkan hubungan tersebut
c)pengakuan akan keturunan d)kehidupan ekonomis yang diselenggrakan
dan dinikmati bersama, dan e) kehidupan rumah tangga.

2. Peranan dan Fungsi Keluarga


Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, rasa
kasih saying, dan membangun hubungan yang baik antar anggota keluarga.
Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik,
atau gap communication dapat mengembangkan masalah masalah kesehatan
mental bagi anak. Secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai 1)
pemberi rasa aman antar anak dan anggota keluarga yang lain 2)suber
pemenuhan kebutuhan baik fisik maupun psikis 3) sumber kasih saying dan
penerimaan 4) model pola perilaku yang baik bagi anak sebelum terjun ke
masyarakat 5)pemberi bimbingan pada perilaku yang dinggap tepat 6)
Halaman |5

pembantu anak dalam memecahkan masalah dalam rangka menyesuaikan


dengan kehidupan 7)pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan
motorik, verbal, dan sosial yang dibutuhkan guna menyesuaikan diri 8)
stimulator untuk mencapai prestasi baik di sekolah maupun masyarakat 9)
pembimbing dan mengembangkan aspirasi 10) sumber persahabatan atau
teman bermain bagia nak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman
bermain di luar rumah.
Dari sudut pandang sosiologis , fungsi keluarga yaitu :
a. Fungsi Biologis
Kebutuhan dasar manusia antara lain (a) pangan, sandang, dan papan (b)
hubungan seksual suami-istri (c) reproduksi atau pengembangan
keturunan .
b. Fungsi Ekonomis
Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahi
kebutuhan keluarganya (istri dan anak).
c. Fungsi Pendidikan (Edukatif)
Fungsi keluarga dalam pendidikan adalah menyangkut penanaman,
pembimbingan, atau pembiasaan nilai nilai agama, budaya, dan
keterampilan keterampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak.
d. Fungsi Sosialisasi
Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan
kemampuan anak untuk menaati peraturan (disiplin), mau bekerja sama
dengan orang lain, bersikap toleran, menghargai pendapat gagasan orang
lain, mau bertanggung jawab dan bersikap matang dalam kehidupan yang
heterogen (etnis, ras, budaya, dan agama)
e. Fungsi Perlindungan (Protektif)
Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari
gangguan, ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidaknyamanan
(fisik-psikologis) para anggotanya.
f. Fungsi Rekreatif
Keluarga harus memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan, dan
penuh semangat bagi anggotanya.
g. Fungsi Agama (Religius)
Keluarga berfungsi sebagai pedoman nilai nilai agama kepada anak agar
Halaman |6

mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Keluarga berkewajiban


mengajar, membimbing dan membiasakan keluarganya untuk
mempelajari dan mengamalkan ajaran yang dianut. Dadang Huwari
(1997:150) mengemukakan bahwa hasil penelitian ilmiah membuktikan:
(1) remaja yang komitmen agamanya rendah memiliki risiko yang lebih
tinggi untuk terlibat penyalahgunaan NAZA apabila dibandingkan
dengan remaja yang memiliki komitmen agama yang kuat (2)
anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak religius, risiko
untuk terlibat dalam NAZA lebih besar daripada anak dari keluarga yang
religius.

3. Faktor-Faktor Keluarga yang mempengaruhi Perkembangan Anak (Remaja)


a. Keberfungsian Keluarga
Keluarga yang fungsional ditandai dengan (a) saling memperhatikan dan
mencintai (b) bersikap terbuka dan jujur (c) orang tua mau mendengarkan
anak, menerima pesannya dan menghargai pendapatnya (d) ada sharing
masalah atau pendapat di antara anggota keluarga (e) mampu berjuang
mengatasi masalah hidupnya (f) saling menyesuaikan diri dan
mengakomodasikan (g) orang tua melindungi (mengayomi) anak (h)
komunikasi antaranggota berjalan baik (i) keluarga memenuhi kebutuhan
psikososial anak dan mewariskan nilai nilai budaya dan (j) mampu
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Sedangkan ciri ciri keluarga
yang mengalami disfungsi adalah (a) kematian salah satu atau kedua
orangtua (b) kedua orangtua berpisah atau bercerai (c) hubungan kedua
orangtua tidak begitu baik (d) hubungan orangtua dengan anak anak tidak
begitu baik (e) suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan
(f) orangtua sibuk dan jarang berada di rumah (g) salah satu atau kedua
orangtua mengalami kelainan kepribadian atau gangguan jiwa. Berkaitan
dengan maslaah disfungsional tersebut, Stephen R. Covey (1997: 17, 20-
21 dan 390) mengemukakan bahwa sekitar 30 tahun yang lalu telah
terjadi perubahan situasi keluarga yang sangat kuat dan dramatis, yaitu :
1) Angka kelahiran anak tidak sah meningkat menjadi 400%.
2) Presentasi kepala keluarga oleh “orangtua single” telah berlipat ganda.
3) Angka perceraian yang terjadi berlipat ganda.
Halaman |7

4) Angka bunuh diri di kalangan remaja meningkat sebanyak 30%.


5) Skor test bakat skolastik para siswa turun 73 butir.
6) Masalah nomor satu wanita Amerika pada saat ini yaitu kekerasan
(pemerkosaan).
7) Seperempat remaja yang melakukan hubungan seksual telah terkena
penyakit kelamin.
Untuk merespons berbagai masalah yang menganggu keharmonian keluarga,
Covey telah mengajukan “resep” yang dinamakan The 7 Habits of Highly
Effective Families. Tujuh kebiasaan itu yaitu :
Kebiasaan Pertama : “Be Proactive”, keluarga dan para anggotanya
bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri dan mempunyai kebebasan
untuk memilih berdasarkan prinsip prinsip dan nilai nilai berdasarkan
kondisi atau suasana hati.
Kebiasaan Kedua : “Begin with the End in Mind”, Keluarga membangun
maa depannya sendiri melalui upaya menciptakan visi mental dan tujuan
untuk berbagai persoalan besar atau kecil. Mereka tidak hanya hidup dari
hari ke hari tanpa tujuan yang jelas di pikirannya. Bentuk kreasi mental
paling tinggi adalah pernyataan misi pernikahan atau keluarga.
Kebiasaan Ketiga : “Put First Things First”, Keluarga mengorganisasikan
dan melaksanakan prioritas prioritasnya yang sangat penting, seperti yang
disampaikan dalam pernyataan misi pribadi, pernikahan, dan keluarganya.
Mereka memiliki waktu setiap minggunya dan secara regular mengontrak
waktu tersebut.
Kebiasaan Keempat : “Think Win-win”, Mereka berpikir secara
interpedensi, yaitu dengan busaya “we” bukan “me”, mereka
mengembangkan kesempatan win-win dan tidak berpikir “selfishly”.
Kebiasaan Kelima : “Seek First to Understand…Then to be Understood”,
Para anggota keluarga pertama kali mendengarkan secara intensif untuk
memahami pikiran dan perasaan anggota lainnya sehingga mampu
berkomunikasi secara efektif terhadap pikiran dan perasaan sendiri.
Kebiasaan Keenam : “Synergize”, Para anggota keluarga
mengembangkan kekuatan kekuatan keluarga dan para anggotanya melalui
sikap menghormati dan penilaian terhadap perbedaan masing masing, dalam
hal ini keutuhan menjadi lebih penting daripada perbedaan masing masing.
Halaman |8

Kebiasaan Ketujuh : “Sharpen the saw”, Keluarga mengembangkan


efektivitasnya melalui pembaharuan pribadi dan keluarga secara regular
melalu empat dasar bidang kehidupan, yaitu (1) fisik –olahraga, memelihara
gizi, mengelola stress (2) sosial/ekonomi –menjalin persahabatan,
memberikan bantuan, mendengarkan orang lain secraa empatik (3) spiritual
–berdoa, salat, membaca kitab suci (4) mental –membaca, menulis,
mengembangkan bakat belajr dan keterampilan.
Untuk mengembangkan ketujuh kebiasaan tersebut Covey mengajukan
empat prinsip peranan keluarga :
1) Modelling (example of trustworthness). Orangtua merupakan model yang
pertama dan terdepan bagi anak (baik positif mupun negative) dan
merupakan pola bagi “way of life” anak. Cara berpikir dan berbuat anak
dibentuk oleh cara berpikir dan berbuat orangtua, bahkan terkadang
sampai pada generasi ketiga atau keempat. Melalui modeling ini anak
juga akan belajar tentang (1) sikap proaktif, (2) sikap respek dan kasih
saying.
2) Mentoring, yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun
hubungan, investasi emosional (kasih saying kepada orang lain) atau
pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur,
pribadi, dan tidak bersyarat. Ada lima cara untuk memberika kasih saying
yaitu empathizing, sharing, affirming, pray, dan sacrificing.
3) Organizing, yaitu keluarga seperti perusahaan yang memerlukan tim kerja
atau kerjasama antaranggota dalam menyelesaikan tugas tugas atau
memenuhi kebutuhan keluarga.
4) Teaching.Orangtua berperan sebagai guru (teaching) bagi anak anaknya
tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini, orangtua
berusaha memperdayakan prinsip prinsip kehidupan, sehingga anak
memahami dan melaksanakannya. Peran orangtua sebagai guru adalah
menciptakan “conscious competence” : pada diri anak, yaitu mereka
mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan tentang
mengapa mereka mengerjakan itu.
Halaman |9

b. Pola Hubungan Orangtua – Anak (Sikap dan Perlakuan Orangtua


terhadap Anak)
Tabel Sikap atau perlakuan orangtua dan dampaknya terhadap
kepribadian anak :
H a l a m a n | 10

Dalam membahas hal yang sama, Diana Baumrind (Weiten & Lioyd,
1994 : 359-360; Sigelman & Shaffer, 1995 : 396) mengemukakan hasil
penelitiannya :
Tabel pengaruh “parenting style” terhadap perilaku anak
H a l a m a n | 11

Mengkaji hal yang sama, Weiten dan Lioyd (1994 : 361) mengemukakan
lima prinsip “effective parenting”, yaitu :
1) Menyusun/membuat standar (aturan perilaku) yang tinggi namun dapat
dipahami.
2) Menaruh perhatian terhadap perilaku anak yang baik dan memberikan
reward/ganjaran.
3) Menjelaskan alasannya (tujuannya), ketika meminta anak untuk
melakukan sesuatu.
4) Mendorong anak untuk menelaah dampak perilakunya terhadap orang
lain.
5) Menegakkan aturan secara konsisten.
H a l a m a n | 12

c. Kelas Sosial dan Status Ekonomi


Pikunas (1976 : 72) mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn,
dan Sheldon, tentang kaitan antara kelas sosial dengan cara atau teknik
orangtua dalam mengatur (mengelola/memperlakukan) anak, yaitu
bahwa:
1) Kelas Bawah (Lower Class): cenderung lebih keras dalam “toilet
training” dan lebih sering menggunakan hukuman fisik, dibandingkan
dengan kelas menengah. Anak anak dari kelas bawah cendenrung
lebih agresif, independen, dan lebih awal dalam pengalaman seksual.
2) Kelas Menengah (Middle Class): cenderung lebih memberikan
pengawasan, dan perhatiannya sebagi orangtua. Para ibunya merasa
bertanggung jawab terhadap tingkah laku anak anaknya, dan
mnerapkan control yang lebih halus. Mereka mempunyai ambisi untuk
meraih status yang lebih tinggi, dan menekankan anak untuk mengejar
statusnya melalui pendidikan atau latihan professional.
3) Kelas Atas (Upper Class): cenderung lebih memanfaatkan waktu
luangnya dengan kegiatan kegiatan tertentu, lebih memiliki latang
belakang pendidikan yang reputasinya tinggi, dan biasanya senang
mengembangkan apresiasi estetika. Anak anknya cederung lebih
percaya diri, dan cenderung bersikap memanipulasi aspel realitas.
Pengaruh ekonomi keluarga terhadap kepribadian remaja :

Penghasilan
Ayah
yang Kecil
Depresi

Pekerjaan yang
Tidak Stabil

Ekonomi Keluarga Konflik


Morat-Marit Perekonomian
Banyak
Hutang

Menganggur Ibu Depresi

Terbaliknya
Remaja Gizi Keluarga
Berperilaku Nakal dan Fungsi
Orang Tua
H a l a m a n | 13

b. Lingkungan Sekolah
Hurlock (1986:322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi
perkembangan kepribadian anak (siswa) baik dalam cara berpikir, bersikap,
maupun cara berperilaku. Ada beberapa alasan, mengapa sekolah memainkan
peranan yang berarti bagi perkembangan kepribadian anak, yaitu (a) para siswa
harus hadir di sekolah (b) sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini,
seiring dengan perkembangan “konsep diri”-nya, (c) anak-anak banyak
menghabiskan waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah, (d)
sekolah memberi kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses, dan € sekolah
memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya, dan
kemampuannya secara realistic.
Sedangkan sekolah yang sehat (healthy school) didefinisikan sebagai kemampuan
sekolah untuk berkembang atau berubah dalam cara cara yang produktif. Miles
membagi sekolah yang sehat itu dalam tiga bidang, yaitu :
1) Task-Accomplishment (penyelesaian tugas) yang menyangkut (a)alasan yang
jelas, dapat diterima, dapat dicapai, dan tujuannya tepat; (b) relative lancer
dalam berkomunikasi, baik secara horizontal maupun vertikal; dan (c)
penyamaan kekuatan yang optimal, gaya yang mempengaruhi kaloborasi, dan
didasarkan pada kompetensi dan pemecahan masalah.
2) Integrasi Internal, yang menyangkut : (a) pemanfaatan sumber daya yang penuh
(b) identitas sekolah yang cukup jelas dan menarik, sehingga para personelnya
merasa menyatu dengan sekolah, dan (c) para personelnya memiliki semangat
kerja yang tinggi, merasa senang, dan merasa memiliki sekolah.
3) Saling beradaptasi antara sekolah dengan lingkungan, yang menyangkut (a)
Inovatif, kecenderungan untuk berkembang atau berubah setiap saat, (b)
otonomi, kemampuan untuk berbuat bertindak berdasarkan kekuatan sendiri,
(c) adaptasi, perubahan yang simultan baik di sekolah maupun di lingkungan
yang terjadi berkesinambungan, selama terjadi kontak anatara lingkungan
dengan sekolah tersebut, dan (d) kesepakatan memecahkan masalah:
kemampuan sekolah untuk mendeteksi masalah yang munculnya tak dapat
dielakkan, menemukan solusi yang dapat dilaksanakan, melaksanakan atau
melakukan kegiatan, dan mengevaluasi keefektifannya.
H a l a m a n | 14

Selanjutnya Ryans mengemukakan karakteristik guru secara lebih rinci sebagai


berikut :
Perilaku Guru yang efektif :
1.Menampilkan sikap yang bersemangat
2.Memperlihatkan perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3. Bergirang hati & optimis
4.Memiliki kemampuan mengendalikan diri & tidak mudah bingung
5.Senang bergurau/humor
6.Mengakui/menyadari kesalahan sendiri
7.Bersikap adil & objektif dalam memperlakukan siswa
8.Bersikap sabar
9.Menunjukkan sikap memahami & simpati dalam bekerja dengan siswa
10.Bersahabat & ramah dalam bergaul dengan siswa
11.Membantu siswa dalam memecahkan masalahnya (pribadi/pendidikan)
12.Memberikan komentar &penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas
dengan baik
13.Menerima & menghargai usaha siswa
14.Memiliki kemampuan untuk mengantisipasi reaksi orang lain
15.Mendorong siswa untuk mencoba melakukan sesuatu dengan cara yang
terbaik
16.Merencanakan & mengorganisasikan prosedur pembelajaran dikelas
17.Bersifat fleksibel dalam merencanakan prosedur pembelajaran
18.Mengatisipasi kebutuhan siswa
19.Menstimulasi siswa melalui materi & teknik yang menarik
20.Mendemonstrasikan & menerangkan materi pembelajaran dengan jelas]
21.Memberikan tugas dengan jelas
22.Mendorong siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri & mengevaluasi
hasilnya
23.Menegakkan disiplin dengan cara yang positif
24.Memberikan bantuan kepada siswa secara ikhlas
25.Mengetahui secara awal & mencoba memecahkan berbagai masalah
potensial
H a l a m a n | 15

Perilaku Guru Yang Tidak Efektif :


1. Sikap apatis & jenuh
2.Memperlihatkan kurang perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3.Depresi, pesimis & tidak bahagia
4.Mudah naik darah & mudah bingung
5.Terlalu serius
6. Tidak menyadari kesalahan sendiri
7. Tidak bersikap objektif terhadap siswa
8. Tidak sabar
9. Bersikap kurang simpati & sering melecehkan (mencemooh) siswa]
10. Kurang bersahabat/kurang ramah dalam bergaul dengan siswa
11. Kurang memperhatikan masalah siswa
12. Tidak memberikan komentar/penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas
dengan baik
13. Bersikap curiga terhadap motif siswa
14. Kurang memiliki kemampuan untuk mengantisipasi reaksi orang lain
15. Tidak berusaha memberikan dorongan kepada siswa
16. Tidak merencanakan & mengorganisasikan prosedur pembelajaran
17. Perencanaan prosedur pembelajaran bersifat kaku
18. Gagal dalam mengantisifasi kebutuhan siswa
19. Materi & teknik pembelajaran tidak menarik perhatian siswa
20. Kurang jelas dalam mendemonstrasikan & menerangkan materi
21. Kurang jelas dalam memberikan tugas
22. Kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalahnya
sendiri
23. Kurang menegakkan disiplin secara positif
24. Memberikan bantuan dengan setengah hati (ga ikhlas)
25. Gagal dalam memahami & memecahkan masalah yang potensial

c. Kelompok Teman Sebaya


Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam
pengalamannya bergaul dengan teman sebaya :
a. Social cognition: kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan,
motif & tingkah laku dirinya & orang lain. Kemampuannya memahami
H a l a m a n | 16

orang lain, memungkinkan remaja untuk lebih mampu menjalin hubungan


sosial yang lebih baik dengan teman sebayanya.
b. Konformitas : motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam dengan nilai -nilai,
kebiasaan, kegemaran (hobi)/ budaya teman sebayanya.
Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan ortunya cenderung dapat
menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebabanya.
Penelitian Kandel (Adam&Gullotta, 1983 : 112) mengatakan bahwa karakteristik
persahabatan remaja adalah dipengaruhi oleh kesamaan: usia, jenis kelamin, dan
ras. Sedangkan di sekolah dipengaruhi oleh faktor faktor : harapan aspirasi
pendidikan, nilai (prestasi belajar), absensi dan pengerjaan tugas tugas rumah.
Hasil penelitian lainnya oleh Hans Sebald bahwa teman sebaya lebih memberika
pengaruh dalam memilih : cara berpakaian, hobi, perkumpulan (club), dan
kegiatan kegiatan sosial lainnya.
Peranan kelompok teman sebaya bagi remaja adalah memberikan kesempatan
untuk belajar tentang (1) bagaimana berinteraksi dengan orang lain (2) mengontrol
tingkah laku sosial (3) mengembangkan keterampilan, dn minat yang relevan
dengan usianya dan (4) saling bertukar perasaan dan masalah.
Pengaruh kelompok remaja teman sebaya juga berkaitan dengan iklim keuarga itu
sendiri. Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orangtua cenderung
lebih dapat menghindari diri dari pengaruh negative teman sebayanya, dibanding
remaja yang memiliki hubungan kurang baik.

B. Aspek-Aspek Perkembangan
1. Perkembangan Fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan – perubahan pada
tubuh, otak, kapasitas sensorik dan keterampilan motorik (Papalia & Olds, 2001).
Perubahan pada tubuh/fisik ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh,
pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi.
Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan
menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan.
Empat aspek perkembangan fisik menurut Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1956)
antara lain sebagai berikut :
a) Sistem syaraf (perkembangan kecerdasan dan emosi)
b) Otot – otot (kekuatan dan kemampuan gerak motorik)
H a l a m a n | 17

c) Kelenjar Endokrin (perubahan – perubahan pola tingkah laku baru)


d) Struktur fisik/tubuh (perubahan tinggi, berat, dan proporsi)
Perubahan fisik (otak) juga merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan
manusia karena otak adalah sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan sehingga
semakin sempurna struktur otak maka akan meningkatkan kemampuan kognitif
(Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
Tiga tahap pertumbuhan otak menurut para ahli (Vasta, Heih & Miller, 1992) yaitu :
1) Cell production (produksi sel)
2) Cell migration (perpindahan sel)
3) Cell laboration (elaborasi sel)
Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik
halus.
a. Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh
perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota
tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.
Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak.
Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang
anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
b. Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak
yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.
Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk
belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok
termasuk contoh gerakan motorik halus.

2. Perkembangan Intelegensi/Kognitif
Perkembangan intelegensi/kognitif adalah perubahan kemampuan mental
seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Menurut Galton, semakin
tinggi intelegensi seseorang maka tentu semakin baik fungsi indera dan fungsi
geraknya.Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa
remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah
sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi
memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan
H a l a m a n | 18

kognitif ini sebagai tahap operasi formal (suatu tahap dimana seseorang sudah mampu
berpikir secara abstrak).
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu,
dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan.
Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan
seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola
berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk
mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum
sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir
egosentrisme (ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain)
(Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993;
dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir
egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fable (berisi keyakinan bahwa diri
seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini
benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya).
Beberapa uraian tentang pengertian kecerdasan/intelegensi menurut para ahli :
a) S.C. Utami Munandar : kemampuan berpikir, belajar, menyesuaikan diri.
b) Alferd Binet : kemampuan beradaptasi, mengadakan kritik terhadap masalah yang
dihadapi, dan kemampuan untuk memecahkan masalah.
c) L.L. Thurstone : kecakapan mengamati dan menafsirkan, kecakapan dan
kefasihan untuk menggunakan kata – kata, kecakapan mengingat.
d) Edward Thorndike : kemampuan individu untuk memberikan respon yang tepat
terhadap stimulasi yang diterimanya.
e) George D. Stodard : kecakapan dalam menyatakan tingkah laku.
f) William Stern : kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk
menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya.
g) Carl Whitherington : kemampuan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam
kemampuan – kemampuan/kegiatan – kegiatan.
h) J.P. Chaplin (1975) : kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap
situasi baru secara cepat dan efektif.
i) Anita E. Woolfok (1995) : kemampuan untuk belajar, memperoleh dan
menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi
dengan lingkungan.
H a l a m a n | 19

Teori – teori intelegensi yang dikembangkan beberap a orang ahli antara lain sebagai
berikut :
1) Teori two factor oleh Charles Spearman (1904) yang berisi teori “g” (general
factor) dan “s” (specific factor).
2) Teori primary mental abilities oleh Thurstone (1938) yang berisi kemampuan
verbal/berbahasa, kemampuan nalar/berpikir logis, kemampuan tilikan ruang,
kemampuan menghitung, kemampuan mengamati dengan cermat.
3) Teori multiple intelligence oleh J.P. Guilford dan Howard Gardner. Teori ini
berisi operasi mental (proses berpikir), content (isi yang dipikirkan), product
(hasil berpikir).
4) Teori triachic of intelligence oleh Robert Stenberg (1985, 1990). Teori ini berisi
tentang psoses berpikir, meniru/belajar dari pengalaman baru, dan adaptasi
dengan lingkungan.
Tingkatan intelegensi :
a) Idiot (IQ 0 – 29).
b) Imbecile (IQ 30 – 40).
c) Moron atau debil (IQ 50 – 59).
d) Bodoh (IQ 70 – 79).
e) Normal rendah (IQ 90 – 109).
f) Normal tinggi (IQ 110 – 119).
g) Cerdas/superior (IQ 120 – 129).
h) Sangat cerdas/gifted (IQ 130 – 139).
i) Genius (IQ > 140).

3. Perkembangan Emosi
Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai;
merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya.
Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orangtua dan orang-
orang di sekitarnya. Emosi yang berkembang akan sesuai dengan impuls emosi yang
diterimanya. Misalnya, jika anak mendapatkan curahan kasih sayang, mereka akan
belajar untuk menyayangi.
Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu :
a. Memperkuat semangat bila merasa senang atas suatu keberhasilan.
b. Melemahkan semangat apabila timbul rasa kekecewaan karena suatu kegagalan.
H a l a m a n | 20

c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar apabila individu dalam


keadaan gugup.
d. Terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
Ciri – ciri emosi :
a. Lebih bersifat subjektif (memandang sesuatu sebagai pokok masalah utama tanpa
ada alternatif lain).
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap).
c. Banyak bersangkut paut dengan panca indera dan kontak fisik.
Pengelompokan emosi :
a. Emosi sensoris, y;aitu emosi yang di timbulkan oleh rangkasan dari luar trhadap
tubuh, seperti: rasa dingin ,manis, sakit,dan lelah, kenyang, dan lapar
b. Emosi pisikis, Yaitu emosi yang mempunyai alasan kajiwaan. Yang termasuk
emosi ini , di antaranya adalah:
1) perasaan intelektual, yaitu yang meempunyai sangkut paut dengan ruang
lingkup kebenaran.
2) perasaan sosial yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain,
baik bersifat perorangan maupun kelompok.
3) perasaan susila, yaitu perasaan yang brhunbungan dengan nilai baik dan
buruk atau tika [moral].
4) perasaan keindahan [estesis], yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan
keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
5) perasaan ketuhanan, salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk TUHAN,
dianugerahi fitra [kemampuan atau perasaan].
Teori – teori emosi :
a. Canon Bard (teori tentang pengaruh fisiologis terhadap emosi) menurut teori ini
emosi merupakan situasi yang menimbulkan rangkaian pada proses syaraf.
b. James dan Lange. Teori ini menyatakan bahwa emosi itu timbul karena
pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu.
c. Lindsley : activation theory (teori penggerakan). Menurut teori ini emosi
disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama
otak.

4. Perkembangan Bahasa
a. Makna Bahasa
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran
dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan
H a l a m a n | 21

sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan,


lukisan, dan mimik muka.
Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan.
Bahasa merupakan anugerah dari Allah Swt, yang dengannya manusia dapat
mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam, dan penciptanya serta
mampu memposisikan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan
budayanya.
Bahasa sangat erat kaitannya dengan perkembangan berpikir individu.
Perkembangan pikiran individu tampak dalam perkembangan bahasanya yaitu
kemampuan membentuk pengertian, menyusun pendapat, dan menarik kesimpulan.
Perkembangan pikiran itu dimulai pada usia 1,6-2,0 tahun, yaitu pada saat
anak dapat menyusun kalimat dua atau tiga kata. Laju perkembangan itu sebagai
berikut.
1) Usia 1,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat positif, seperti “bapak makan”.
2) Usia 2,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat negatif (menyangkal), seperti:
“bapak tidak makan”.
3) Pada usia selanjutnya, anak dapat menyusun pendapat :
a) Kritikan: “Ini tidak boleh, ini tidak baik”.
b) Keragu-raguan: barangkali, mungkin, bisa jadi. Ini terjadi apabila anak
sudah menyadari akan kemungkinan kekhilafannya.
c) Menarik kesimpulan analogi, seperti: anak melihat ayahnya tidur karena
sakit, pada waktu lain anak melihat ibunya tidur, dia mengatakan bahwa ibu
tidur karena sakit.

b. Tugas-Tugas Perkembangan Manusia


Dalam berbahasa, anak dituntut untuk menuntaskan atau menguasai empat tugas
pokok yang satu sama lainnya saling berkaitan. Apabila anak berhasil
menuntaskan tugas yang satu, maka berarti juga ia dapat menuntaskan tugas-tugas
lainnya. Keempat tugas itu adalah sebagai berikut.
1) Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain. Bayi
memahami bahasa orang lain, bukan memahami kata-kata yang diucapkannya,
tetapi dengan memahami kegiatan/gerakan atau gesture-nya (bahasa
tubuhnya).
2) Pengembangan Perbendaharaan Kata. Perbendaharaan kata-kata anak dimulai
H a l a m a n | 22

secara lambat pada usia dua tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang
cepat pada usia pra-sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah.
3) Penyusunan Kata-kata Menjadi Kalimat, kemampuan menyusun kata-kata
menjadi kalimat umumnya berkembang sebelum usia dua tahun. Bentuk
kalimat pertama adalah kalimat tunggal (kalimat satu kata) dengan disertai:
“gesture” untuk melengkapi cara berpikirnya. Contohnya, anak menyebut
“bola” sambil menunjuk bola itu dengan jarinya. Kalimat tunggal itu berarti
“tolong ambilkan bola saya”. Seiring dengan mningkatnya usia anak dan
keluasan pergaulannya, tipe kalimat yang diucapkannya pun semakin panjang
dan kompleks. Menurut Davis, Garrison & McCarthy (E. Hurlock, 1956) anak
yang cerdas, anak wanita dan anak yang berasal dari keluarga berada, bentuk
kalimat yang diucapkannya itu lebih panjang dan kompleks dibandingkan
dengan anak yang kurang cerdas, anak pria dan anak yang berasal dari
keluarga miskin.
4) Ucapan. Kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui
imitasi (peniruan) terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang lain
(terutama orang tuanya). Pada usia bayi, antara 11-18 bulan, pada umumnya
mereka belum dapat berbicara atau mengucapkan kata-kata secara jelas,
sehingga sering tidak dimengerti maksudnya. Kejelasan ucapan itu baru
tercapai pada usia sekitar tiga tahun. Hasil studi tentang suara dan kombinasi
suara menunjukkan bahwa anak mengalami kemudahan dan kesulitan dalam
huruf-huruf tertentu. Huruf yang mudah diucapakan yaitu huruf hidup (vokal):
i, a, e dan u dan huruf mati (konsonan): t, p, b, m dan n sedangkan yang sulit
diucapkan adalah huruf mati tunggal: z, w, s, dan g dan huruf mati rangkap
(diftong): st, str, sk dan dr.

c. Tipe Perkembangan Bahasa


Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu sebagai berikut.
1) Egocentric Speech, yaitu anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog).
2) Socialized Speech, yaitu terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan
temannya atau dengan lingkungannya. Perkembangan ini dibagi kedalam lima
bentuk: (a) adapted information, disini terjadi saling tukar gagasan atau adanya
tujuan bersama yang dicari, (b) critism, yang menyangkut penilaian anak
terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain, (c) command (perintah), request
H a l a m a n | 23

(permintaan) dan threat (ancaman), (d) questions (pertanyaan), dan (e) answers
(jawaban).
Berbicara monolog (egocentric speech) berfungsi untuk mngembangkan
kemampuan berpikir anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak berusia 2-3
tahun, sementara yang “sociaized speech” mengembangkan kemampuan
penyesuaian sosial (social adjustment).

d. Faktor-Faktor Yang Mempngaruhi Perkembangan Bahasa


Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehatan, intelegensi, status
sosial ekonomi, jenis kelamin dan hubungan keluarga.
1) Faktor Kesehatan. Kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila pada
usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus-menerus, maka anak tersebut
cenderung akan mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan
bahasanya. Oleh karena itu, untuk memelihara perkembangan bahasa anak dengan
normal, orang tua perlu memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang dapat
ditempuh adalah dengan cara memberikan ASI, makanan yang bergizi, memelihara
kebersihan tubuh anak atau secara reguler memeriksakan anak ke dokter atau ke
puskesmas.
2) Intelegensi. Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari intelegensinya. Anak
yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi
normal atau diatas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang mengalami
kelambatan perkembangan bahasanya pada usia awal, dikategorikan sebagai anak
yang bodoh (Lindgren, dalam E. Hurlock, 1956). Selanjutnya Hurlock
mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental,
yaitu bahwa sepertiga diantara mereka yang dapat berbicara secara normal dan
anak yang berada pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat
miskin dalam berbahasanya.
3) Status Sosial Ekonomi Keluarga. Beberapa studi tentang hubungan antara
perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa
anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam
perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga
yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan
kecerdasan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memerhatikan
H a l a m a n | 24

perkembangan bahasa anaknya) atau kedua-duanya (Hetzer & Reindorf dalam E.


Hurlock, 1956).
4) Jenis Kelamin (Sex). Pada tahun pertama anak usia anak, tidak ada perbedaan
dalam vokalilasi antara pria dengan wanita. Namun mulai usia dua tahun, anak
wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak pria.
5) Hubungan Keluarga. Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman
berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan
orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak.
Hubungan yang sehat antara orang tua dengan anak (penuh perhatian dan kasih
sayang dari orang tua) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan
hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau
kelambatan dalam perkembangan bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu bisa
berupa sikap orang tua yang keras atau kasar, kurang kasih sayang, atau kurang
perhatian untuk memberikan latihan dan contoh dalam berbahasa yang baik kepada
anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau
kelainan, seperti: gagap dalam bicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata,
merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata kasar atau tidak sopan.

5. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan
sosial. Dapat juga di artikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap
norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi satu kesatuan
dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Anak dilahirkan belum bersifat sosial.
Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk
mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri
dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau
pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orang tua, saudara,
teman sebaya atau orang dewasa lainya. Perkembangan anak sangat di pengaruhi oleh
proses bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan aspek kehidupan
sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberi
contoh kepada anaknya bagai mana menerapkan norma-norma tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan orang tua ini lazim disebut sosialisasi.
Sueann Robinson Ambron (1981) mengrtikan sosialisi itu sebagai proses belajar yang
membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi
H a l a m a n | 25

anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.


Sosialisasi dari orang tua itu sanggatlah penting bagi anak. Karena dia masih
terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangan
sendiri ke arah pematangan. J.calusen (ambron. 1981: 221) mendeskripsikan tentang
upaya dan perkembangan upaya yang di capai anak. Yaitu sebagai berikut.
Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga,
orang dewasa ainnya maupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan
bentuk-bentuk tingkah laku sosial. Pada usia anak, bentuk-bentuk tingkah laku sosial
itu adalah sebagai berikut.
a) Pembangkangan (negativisme), yaitu suatu Suatu bentuk tingkah laku melawan.
Tingkah laku jni terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan
orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku
ini mulai muncul kira-kira pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia
tiga tahun. Berkembangnya tingkah laku ini negativisme pada usia ini di pandang
sebagai hal yang wajar. Setelah usia empat tahun, biasnya tingkah aku ini mulai
menurun. Antara usia empat dan enam tahun, sikap membangkang/melawan
secara fisik beralih menjadi sikap melawan secara verbal (menggunakan kata-
kata). Sikap orang tua terhadap tingkah laku melawan pada usia ini, seogianya
tidak memandangnya sebagai pertanda bahwa anak itu nakal, keras kepala, tolol
atau sebagai sebutan lainnya yang negatif. Dalam hal ini, sebaiknya orang tua
mau memahami tentang proses perkembangan anak, yaitu bahwa secara naluriah
anak itu mempunyai dorongan untuk berkembang dari posisi “dependent”
(ketergantungan) ke posisi “independent” (bersikap mandiri). Tingkah laku
melawan merupakan salah satu bentuk dari proses perkembangan tersebut.
b) Agresi (agression) yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal)
maupun kata-kata (verbal) Agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi
terhadap frustasi (reaksi kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan keinginannya)
yang di alaminya. Agresi ini berujud dalam perilaku menyerang seperti
memukul, mencubit, menendang, menggigit dan marah-marah dan mencaci maki.
Orang tua yang menghukum anak yang agresif. Sebaiknya orang tua berusaha
untuk mereduksi, mengurangi agresivitas anak. Mengurangi keinginan anak
dengan memberikan mainan atau sesuatu yang di inginkannya (seperti yang tidak
membahayakan keselamatannya).
c) Berselisi / bertengkar (quarrling) terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung
H a l a m a n | 26

atau terganggu oleh sikap atau perilaku, anak lain. Seperti saat di ganggu pada
saat mengerjakan sesuatu atau di rebut barang atau mainannya.
d) Menggoda (teasing) yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif.
Menggoda termasuk serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal
(kata-kata ejekan atau cemoohan),sehingga menimbulkan reaksi marah pada
orang yang di serangnya.
e) Persaingan (rivarly), yaitu keinginan untuk melebihi orang lain. Sikap persaingan
untuk prestise dan pada usia enam tahun, semangat bersaing ini berkembang
dengan lebih baik.
f) Kerja sama (coopration), yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok. Anak
yang berusaha dua atau tiga tahun belum berkembang sikap kerja samanya,
mereka masih kuat sikap “self-cantred”-nya . Mulai usia tiga tahun akhir atau
empat tahun, anak sudah mulai menampilkan sikap kerja samanya dengan anak
lain. Pada usia enam atau tujuh tahun, sikap kerja sama ini sudah berkembang
dengan lebih baik lagi. Pada usia ini anak mau bekerja kelompok dengan teman-
temanya.
g) Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah laku untuk
menguasai situasi sosial, Mendominasi atau bersikap “bissiness” wujud dari
tingkah laku ini. Seperti meminta, menyuruh, dan mengancam atau memaksa
orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya.
h) Mementingkan diri sendiri (slefishness), yaitu sikap egosentris dalam memenuhi
interest atau keinginanya. Anak ingin selalu di penuhi keinginanya dan apabila di
tolak , maka dia protes dengan menangis, menjerit atau marah-marah.
i) Simpati (sympaty), yaitu sikap emosional yang mendorong individu atau bekerja
sama dengannya. Sering dengan bertambahnya usia,anak mulai dapat
mengurangi sikap “slfsh”-nya dan dia mulai mengembangkan sikap sosialnya,
dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.
Perkembangan sosial anak sangat di pengaruhi lingkungan sosialnya , baik orang tua,
Keluarga, orang dewasa lainya silitasi atau memberikan peluang terhadap
perkembangan anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan
sosialnya secara matang. Namun, apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif,
seperti perlakuan orang tua yang kasar; sering memarahi: acuh tak acuh ; tidak
memberikan bimbingan;teladan; pengajaran atau pembiasaan terhadap anak dalam
menerapkan norma-norma baik agama maupun tata kerama/budi pekerti; cendrung
H a l a m a n | 27

menampilkan perilaku melajustment, seperti: (1) bersifat minder; (2) senang


mendominasi orang lain; (3) ersifat egois/ selfish; (4) senang mengisolasi
diri/menyadari; (5) kurang memiliki perasaan tentang rasa; dan (6) mempedulikan
norma dalam berperilaku.

6. Perkembangan Moral
a. Teori Perkembangan Moral Kohlberg
Kohlberg mengembangkan suatu pandangan yang provokatif tentang
perkembangan penalaran moral. Ia mengemukakan bahwa perkembangan moral
terdiri atas tingkat – prakonvensiona, konvensional, dan pascakonvensional – dan
enam tahap (dua tahap pada masing masing tingkat). Peningkatan internalisasi
menandai gerakan ke tingkat 2 dan 3. Data longitudinal Kohiberg memperlihatkan
suatu hubungan antara tahap-tahap dan usia., walaupun dua tahap tertinggi
khususnya tahap 6 jarang muncul.
Tingkat satu : Penalaran Prakonvensional
Penalaran prakonvensional (praconventional reasoning) adalah tingkat yang
paling rendah dalam teori perkembangan kohlberg. Pada tingkat in, anak tidak
memperlihatkan nilai nilai moral-penalaran moral dikendalikan oleh imbalan
(hadiah)
Tahap 1. Orientasi hukuman dan ketaatan (punishment and obedience
orientation) Pada tahap ini, penalaran moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak
taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat.
Tahap 2. Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) pada tahap ini,
penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri.
Tingkat dua: Penalaran Konvensional
Penalaran konvensional (conventional reasoning) Pada tingkat ini, internalisasi
individual ialah menengah. Seseorang menaati standar-standar (internal) tertentu,
tetapi mereka tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal), seperti orang tua
atau aturan-aturan masyarakat.
Tahap 3. Norma-norma Interpersonal (interpersonal norms) Pada tahap ini,
seseorang menghargai kebenaran, keperdulian, dan kesetiaan kepada orang lain
sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral.
Tahap 4. Moralitas sistem sosial (social system morality) Pada tahap ini,
pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman atauran sosial, hukum-
H a l a m a n | 28

hukum, keadilan, dan kewajiban.


Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional
PemikiranPasca Konvensional (postconventional reasoning) Pada tingkat ini,
moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar
orang lain.
Tahap 5. Hak-hak Masyarakat versus hak-hak individual (community rights
versus individual rights) Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai
dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu
orang ke orang lain.
Tahap 6. Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles) Pada tahap
ini, seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada
hak-hak manusia yang universal.
b. Kritik terhadap Kohlberg
1) Pemikiran Moral dan Perilaku moral
Teori kohlberg dikritik karena memberi terlalu banyak penekanan pada
penalaran moral dan kurang memberi penekanan pada perilaku moral.
Penalaran moral kadang-kadang dapat menjadi tempat perlindungan bagi
perilaku immoral. Para pelaku penggelapan dan para direktur bank
mendukung nilai-nilai moral yang paling tinggi ketika memberi komentar atas
dilema-dilema moral, tetapi perilaku mereka sendiri mungkin immoral.
2) Kebudayaan dan Perkembangan Moral
Namun, kritik lain terhadap pandangan kohlberg ialah bahwa pandacare
perspective) ngan ini secara kebudayaan bias (Banks, 1993; Bronstein &
Paludi, 1988; Miller, 1991; Miller dan Bersoff, dalam proses cetak). Suatu
peninjauan penelitian terhadap perkembangan moral di 27 negara
menyimpulkan bahwa penalaran moral lebih bersifat spesifik kebudayaan dari
pada yang dibayangkan Kohlberg dan bahwa sistem skor Kohlberg tidak
mempertimbangkan penalaran moral tingkat tinggi pada kelompok-kelompok
kebudayaan tertentu (Snarey, 1987).
3) Gender dan Perspektif Keperdulian
Carol Gilligan (1982, 1990, 1991, 1992) percaya bahwa teori perkembangan
moral Kohlberg tidak mencerminkan secara memadai relasi dan kepeduliaan
terhadap manusia lain. Perspektif kepedulian (care perspective) ialah suatu
perspektif moral yang memandang manusia dari sudut keterkaitannya dengan
H a l a m a n | 29

manusia lain dan menekankan komunikasi interpersonal, relasi dengan


manusia lain, dan kepedulian terhadap manusia lain. Teori Gilligan ialah
suatu perspektif kepedulian. Menurut Gilligan, Kohlberg kurang
memperhatikan perspektif kepedulian dan perkembangan moral. Ia percaya
bahwa hal ini mungkin terjadi karena Kohlberg seorang laki-laki, karena
penelitiannya adalah dengan laki-laki dari pada dengan perempuan, dan
karena ia menggunakan respon laki-laki sebagai suatu model bagi teorinya.
Kritik meliputi klaim bahwa Kohiberg terlalu menekankan faktor-faktor
kognitif dan kurang menekankan perilaku, kurang menekankan peran
kebudayaan, dan kurang mempertimbangkan perspektif kepedulian. Carol
Gilligan mengemukakan suatu perspektif kepedulian yang lebih kuat ( yang
memandang manusia dari sudut mereka). Gilligan juga percaya bahwa masa
awal remaja adalah suatu titik yang penting dalam perkembangan suara moral
bagi kaum perempuan. Para peneliti telah mengemukakakan dukungan bagi
laki-laki seiring berpusat pada perhatian yang berbeda, walaupun perbedaan
gender pada tahap-tahap kohlberg belum ditemukan secara konsisten. Studi-
studi yang berfokus secara lebih ekstensif pada item-item yang mendukung
relasi yang erat, dan penggunaan sistem skor yang menekankan keterkaitan,
mendukung klaim Gilligan.
c. Altruisme
Altruisme ialah minat yang tidak mementingkan diri sendiri dalam menolong
seseorang. William Damon(1988) menggambarkan suatu urutan perkembangan
alturisme, khususnya berbagi (Sharing). Hingga usia 3 tahun, berbagi dilakukan
karena alasan-alasan yang nonempatis; pada kira-kira 4 tahun, kombinasi
kesadaran empatis dan dukungan orang dewasa menghasilkan suatu rasa kewajiban
untuk berbagi; pada tahun-tahun awal sekolah dasar, anak-anak mulai secara
sungguh-sungguh memperlihatkan gagasan-gagasan yang lebih objektif tentang
keadilan. Pada masa ini prinsip keadilan mulai dipahami; pada tahun-tahun
pertengahan dan akhir sekolah dasar, prinsip-prinsip prestasi dan kebijakan
dipahami.

1. Mussen, dkk (1989:360) menyatakan bahwa aspek-aspek perilaku prososial atau


altruism meliputi :
a. Berbagi
H a l a m a n | 30

Kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka dan
duka.
b. Kerjasama
Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapainya suatu
tujuan.
c. Menolong
Kesediaan untuk menolong orang lain yang sedang berada dalam kesulitan.
d. Bertindak jujur
Kesediaan untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya, tidak berbuat curang.
e. Berderma
Kesediaan untuk memberikan sukarela sebagian barang miliknya kepada
orang yang membutuhkan.
2. Bringham (1991:277) menyatakan aspek-aspek dan perilaku prososial adalah :
a. Persahabatan
Kesediaan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan orang lain.
b. Kerjasama
Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapainya suatu
tujuan.
c. Menolong
Kesediaan untuk menolong orang lain yang sedang berada dalam kesulitan.
d. Bertindak jujur
Kesediaan untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya, tidak berbuat curang.
e. Berderma
Kesediaan untuk memberikan sukarela sebagian barang miliknya kepada
orang yang membutuhkan.
H a l a m a n | 31

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu, hereditas
(keturunan) dan lingkungan perkembangan. Hereditas diartikan sebagai “totalitas
karakteristik individu yang diwariskan orangtua kepada anak, atau segala potensi,
baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan
ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen”. Di
dalam lingkungan perkembangan terdapat lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, dan kelompok teman sebaya. Aspek aspek perkembangan terdiri dari
perkembangan fisik, intelegensi, emosi, bahasa, sosial dan moral. Perkembangan
fisik adalah perubahan – perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensorik dan
keterampilan motorik. Perkembangan intelegensi/kognitif adalah perubahan
kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa.
Perkembangan emosi pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai,
merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah. Perkembangan bahasa
merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Perkembangan
sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan
moral terdiri atas tingkat – prakonvensiona, konvensional, dan pascakonvensional
– dan enam tahap (dua tahap pada masing masing tingkat).

B. Saran
Sebagai calon konselor sebaiknya kita wajib untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan manusia dan aspek-aspek yang mempengaruhi
perkembangan manusia. Dan sebagai orang tua nantinya kita diharapkan untuk
dapat memperhatikan aspek-aspek perkembangan anak dari kecil hingga dewasa.
H a l a m a n | 32

DAFTAR PUSTAKA

Asih, Gusti Yuli. 2010. “Perilaku Prososial Ditinjau dari Empati dan Kematangan
Emosi.” Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus, 1(1) : 33-42.
Ikalor, Allvanialista. 2013. “Pertumbuhan dan Perkembangan.” Jurnal Pertumbuhan dan
Perkembangan, 7(1) : 1-6
Khasanah, Ismatul. 2011. “Permainan Tradisional Sebagai Media Stimulasi Aspek
Perkembangan Anak Usia Dini.” Jurnal Penelitian PAUDIA, 1(1) : 91-105
Rohma, Umi. 2011. “Tes Intelegensi dan Pemanfaatan Dalam Dunia Pendidikan.” Jurnal
Cendekia, 9(1) : 126-139
Santrock, John W. 2002. Life-Span Development. Jakarta : Erlangga.
Sobur, Alex, Drs., M.si. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia.

Yusuf, Syamsu. 2016. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya Offset.
H a l a m a n | 33