Anda di halaman 1dari 37

KISI-KISI SOAL UJI TEORI KEJURUAN PEMFORMA AKADEMIK

Saruan Pendidikan : SMK Alokasi Waktu : 120 Menit


Kelas : XII Jumlah Butir Soal : 50 Butir
Bidang Keahlian : Teknik Gambar Bangunan Bentuk Tes : Pilihan Ganda
INDIKATOR
NO KOMPETENSI NO. BUTIR SOAL JUMLAH SOAL
KEMAMPUAN YANG DIUJI
1 Menerapkan dasar-dasar gambar teknik Menentukan bentuk bentuk bidang 2
1 1
dimensi
Menentukan hasil proyeksi benda tiga
dimensi cara proyeksi eropah bidang 2 1
proyeksi I, II dan III
menentukan fungsi icon yang terdapat
pada toolbar drawing utnuk 3 1
menggambar dengan perangkat lunak
2 Menerapkan ilmu statika dan tegangan Menghitung besar resultan gaya 4 1
mengidentifikasi diagram gaya momen
dengan berbagai bentuk beban yang 5 1
bekerja pada suatu gelagar
3 Mengidentifikasi ilmu bangunan gedung Menentukan fungsi dari bagian-bagian
6 1
bangunan gedung
Menentukan fungsi alat-alat
7 1
penyambung pipa air
INDIKATOR
NO KOMPETENSI NO. BUTIR SOAL JUMLAH SOAL
KEMAMPUAN YANG DIUJI
Menentukan jenis pondasi
8 1
berdasarkan kondisi tanah
4 Menerapkan keselamatan dan kesehatan Menentukan fungsi peralatan K3
9 1
kerja(K3)
5 Menggambar dengan perangkat lunak Menerapkan perintah dalam toolbar
modify 10 1
dalam perangkat lunak
Membedakan penggunaan perintah
11 1
dalam perangkat lunak
Membedakan penggunaan perintah
12 1
dalam perangkat lunak
Menentukan sistem koordinat yang
13 1
tepat
Menentukan dengan benar perintah
14 1
dalam perangkat lunak
Menentukan dengan benar perintah
15 1
dalam perangkat lunak
Menentukan dengan benar perintah
16 1
dalam perangkat lunak
Membedakan langkah yang tepat 17 1
INDIKATOR
NO KOMPETENSI NO. BUTIR SOAL JUMLAH SOAL
KEMAMPUAN YANG DIUJI
Menentukan model pencetakan
18 1
yang benar
Mengidentifikasikan urutan
19 1
pencetakan yang benar
6 Membuat gambar rencana kolom beton Menerapkan gambar tulangan kolom
20 1
bertulang struktur gedung beton bertulang
Menghitung jarak bebas antar
21 1
tulangan
7 Menggambar rencana dinding penahan mengidentifikasi prinsip perencanaan
22 1
dinding penahan tanah
8 Menggambar konstruksi lantai dan dinding Mengidentifikasikan pemasangan
23 1
bangunan ubin yang baik
Menghitung ukuran bata 24 1
Menentukan jenis ikatan tembok bata 25 1
9 Menggambar konstruksi lantai dan dinding Mengidentifikasikan pemasangan
26 1
bangunan ubin yang baik
Menghitung ukuran bata 27 1
Menentukan jenis ikatan tembok bata 28 1
10 Menggambar konstruksi kusen,pintu dan Menentukan jenis sambungan yang
29 1
jendela digunakan pada kunsen pintu dan
INDIKATOR
NO KOMPETENSI NO. BUTIR SOAL JUMLAH SOAL
KEMAMPUAN YANG DIUJI
jendela
Menganalisis gambar potongan 30 1
Mengidentifikasi bagian-bagian kusen 31 1
Menganalisis detail jenis pintu 32 1
11 Menggambar rencana plat lantai Menghitung posisi tulangan 33 1
Menentukan simbol dan penggunaan
34 1
kode dalam gambar plat
Menentukan jenis tulangan 35 1
12 Menggambar konstruksi tangga Menghitung anak tangga 36 1
13 Menggambar kostruksi atap Menentukan bentuk kuda-kuda yang
37 1
benar
Menentukan salah satu bagian kuda-
38 1
kuda
Menentukan jenis sambungan yang
39 1
digunakan pada kuda-kuda
14 Menggambar utilitas gedung Menentukan nama simbol gambar 40 1
Menghitung jumlah alat sambung 41 1
15 Menggambar lay out dekorasi interior dan Mendeskripsikan
eksterior ruang,estetika,dekorasi interior dan 45 1
eksterior
INDIKATOR
NO KOMPETENSI NO. BUTIR SOAL JUMLAH SOAL
KEMAMPUAN YANG DIUJI
Mendeskripsikan
fungsi,suasana,harmoni interior dan 46 1
eksterior
Mengidentifikasikan ruang lingkup
47 1
pekerjaan ukur tanah.
Menerapkan teknik pengoperasian
alat sipat datar (levelling) dan alat 48 1
sipat ruang (theodolit).
Membedakan jenis perawatan optik
49 1
yang benar
Menghitung jumlah alat sambung
50 1
yang digunakan

Penyusun,

Citra Nurmalita
DOKUMEN UJI KOGNITIF
KODE SOAL : 1700201A

INSTRUMEN KOGNITIF
UJI PERFORMA AKADEMIK KEJURUAN SMK
BIDANG KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR
BANGUNAN
TAHUN PELAJARAN 2017/2018
KOTA SURABAYA

KETERANGAN INSTRUMEN
a. Nama Instrumen : Uji Performa Akademi Kejuruan SMK
Bidang Keahlian Teknik Gambar
Bangunan.
b. Responden : Siswa
c. Kegunaan Instrumen : Mengukur Performa Akademik Bidang
Kejuruan Teknik Gambar Bangunan Siswa
SMK Sebelum Ujian Nasional
d. Panjang Intrumen : 50 Butir Soal dengan Bentuk Pilihan
ganda.
e. Validitas : Diukur dengan formula Aiken dan
didapatkan dari rerata indeks validitas
sebesar 1,04 (validitas tinggi)
f. Reliabilitas : Diukur dengan bantuan program ministeps
dan didapatkan dari keandalan sebesar
0,36 (kurang reliable)

DIREKTORAT PEMBINAAN SMK


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DOKUMEN UJI KOGNITIF
KODE SOAL : 1700201B

INSTRUMEN AFEKTIF
UJI PENERAPAN SOFT SKILL SESUAI
KECERDASAN EMOSIONAL DANIEL GOLEMAN

DIREKTORAT PEMBINAAN SMK


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2017
DIREKTORAT PEMBINAAN SMK
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Bidang Keahlian : Teknik Gambar Bangunan


Jenjang : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Hari/ Tanggal : Senin, 16 Januari 2017
Alokasi Waktu : 10.00 s.d 12.10 WIB

UJI PERFORMA AKADEMIK KEJURUAN SMK


BIDANG KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR BANGUNAN

PETUNJUK UMUM
1. Tulis identitas anda pada lembar jawaban sesuai dengan,
a. Nama Peserta
b. Nomor Peserta
c. Tanggal Lahir
2. Alokasi waktu uji performa akademik 120 menit untuk 50 butir soal.
3. Jumlah soal bentuk Pilihan Ganda
4. Pilihlah jawaban dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf A,B,C dan D
untuk jawaban yang anda anggap paling benar.
5. Tidak diijinkan menggunakan bantuan hitung (kalkulator, handphone, laptop, tablet,
dsb).

Selamat Mengerjakan
PEDOMAN PENSEKORAN

Bentuk Pilihan Ganda dengan penskoran setiap jawaban benar diberi skor 1,
dan bila salah diberi skor 0.Cara penskoran tes bentuk pilihan ada dua, yaitu:
Pertama tanpa ada koreksi terhadap jawaban tebakan, Kedua adalah adanya
koreksi terhadap jawaban tebakan.
1. Penskoran tanpa koreksi terhadap jawaban tebakan adalah satu untuk setiap
butir soal yang dijawab benar, sehingga jumlah skor yang diperoleh siswa
adalah banyaknya butir soal yang dijawab benar.
Skor = (B/N) x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
N = banyaknya butir soal
Contoh:
Banyaknya soal tes ada 40 butir. Banyaknya jawaban yang benar ada 20
butir.Jadi skor yang diperoleh adalah:Skor = (20/40) x 100 = 50
2. Penskoran dengan koreksi terhadap jawaban tebakan adalah sebagai berikut:
Skor = {[B – (S/(P – 1))]/N}x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
S = banyaknya butir soal yang dijawab salah
P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir soal
N = banyaknya butir soalButir soal yang tidak dijawab diberi skor 0.
Contoh:
Soal bentuk pilihan ganda yang terdiri 40 butir soal dengan 4 pilihan untuk setiap
butir soal. Bila banyaknya butir soal yang dijawab benar ada 20, yang dijawab
salahada 12 dan yang tidak dijawab ada 8, maka skor yang diperoleh adalah:
Skor = {[20 – (12 / (4 – 1))]/40}x 100 = 40
HASIL UJI COBA
INSTRUMEN KOGNITIF UJI PERFORMA AKADEMIK KEJURUAN SMK
BIDANG KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR BANGUNAN

a) Instrumen Pengukuran Ranah Kognitif (Pengetahuan)


Instrumen ranah kocnitif (pengetahuan) digunakan untuk mencakup kegiatan
mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak
adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam
aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan
jenjang yang paling tinggi. Ke enam jenjang yang dimaksud adalah
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
Pengetahuan (knowledge) adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-
ingat kembali atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-
rumus dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk
menggunakannya.
Soal dikembangkan dalam bentuk Pilihan Ganda (PG) untuk mengukur Hasil
ujii coba perfoma akademik kejuruan SMK Bidang keahlian Teknik Gambar
Bangunan.
Pedoman penskoran dirancang untuk menjaga objektivitas penilaian dan
kepastian skor yang diperoleh peserta tes. Penskoran ini dibuat dalam dikotomi
karena merupakan tes pilihan ganda, diartikan bahwa skor 1 untuk jawaban
benar, dan skor 0 (nol) untuk jawaban salah denhan menggunakan model Rasch
yang dikembangkan menggunakan satu parameter dalam menganalisis
kemampuan peserta tes, dengan aplikasi yang dgunakan adalah Ministep atau
disebut winstep. Kategori dengan ketentuan masing-masing kategori sebagai
berikut,
1. Penskoran tanpa koreksi terhadap jawaban tebakan adalah satu untuk setiap
butir soal yang dijawab benar, sehingga jumlah skor yang diperoleh siswa
adalah banyaknya butir soal yang dijawab benar.
Skor = (B/N) x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
N = banyaknya butir soal
2. Penskoran dengan koreksi terhadap jawaban tebakan adalah sebagai berikut:
Skor = {[B – (S/(P – 1))]/N}x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
S = banyaknya butir soal yang dijawab salah
P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir soal
N = banyaknya butir soalButir soal yang tidak dijawab diberi skor 0.

Instrumen pengukuran Hasil ujii coba perfoma akademik kejuruan SMK Bidang
keahlian Teknik Gambar Bangunan yang telah disusun, selanjutnya divalidasi
agar instrumen tes benar-benar menggambarkan keterampilan yang hendak
diukur. Butir-butir yang dikembangkan akan dibuat berdasarkan kisi-kisi yang
terdistribusi proporsional sesuai uraian materi yang tercantum dalam kurikulum,
agar secara validitas isi atau validitas teoritis memenuhi syarat. Koefisien validitas
isi dalam penelitian yang akan dilakukan ini diolah dari skor yang diberikan oleh
expert judgement dengan melibatkan ahli bidang pengukuran (ahli konstruksi tes)
dan bidang matematika sekolah (ahli materi). Hasil expert judgement selanjutnya
diolah menggunakan formula Aiken sebagai berikut (Azwar, 2015: 113).

∑𝑠
𝑉=
[𝑛(𝑐 − 1)]

Keterangan:
s = r – lo
r = angka yang diberikan oleh penilai
lo = angka penilaian validitas yang terendah
c = angka penilaian validitas tertinggi
koefisien validitas sekitar 0,7 masih dapat diterima dan dinilai memuaskan (Aiken,
1980)

b) Responden dalam Uji coba


Reponden dalam uji coba ini adalah siswa kelas XII yang sudah menerima
kompetensi keseluruhan dari kelas XII kejuruan teknik gambar bangunan.
Banyaknya responden dalam uji coba diambil dari populasi menggunakan acuan
Tabel Morgan dengan derajat kepercayaan 95% (Krejcie & Morgan, 1970).
Berdasarkan tabel tersebut, jika ukuran populasi ± 2000 responden, maka
minimum sampel yang harus ditarik adalah 322 responden. Sementara itu,
besarnya ukuran sampel minimal untuk model 1-PL (Rasch model) adalah 200
(Wright & Stone, 1979: 98) atau 150-250 (Linacre, 1994). Berdasarkan
pertimbangan tersebut, maka dalam penelitian yang akan dilakukan ini ditetapkan
ukuran sampel sejumlah 151 responden untuk ujicoba dan 180 responden untuk
pengukuran.

c) Teknik analisis data.


(1) Analisis Karakteristik Instrumen Pengukuran Hasil ujii coba perfoma
akademik kejuruan SMK Bidang keahlian Teknik Gambar Bangunan
Analisis data dimulai dengan mendeskripsikan kelayakan (karakteristik)
instrumen Pengukuran Hasil ujii coba perfoma akademik kejuruan SMK Bidang
keahlian Teknik Gambar Bangunan menggunakan Item Response Theory
dengan bantuan program Ministeps. Program Ministeps dipilih karena memiliki
kelebihan, yakni: (1) dapat menganalisis data kontimus dan politomus beserta
kombinasinya, (2) tersedianya hasil analisis baik berdasarkan teori tes klasik
maupun teori tes modern, dan hasil analis respon modern didasarkan pada
model likelihood maximum menggunakan model logistik atau parameter (Subali
& Suyata, 2011: 2).
Analisis berdasarkan pendekatan IRT dapat dilakukan dengan menguji
asumsi uni dimensi melalui analisis kesesuaian (fit) atau analis faktor
eksploratori. Butir tes bersifat unidimensi berarti bahwa butir tersebut mengukur
satu kemampuan. Jika asusmsi unidimensi sudah terpenuhi, maka secara
otomatis asumsi independensi lokal juga terpenuhi. Salah satu indikasi suatu
butir tes bersifat unidimensi adalah data sesuai (fit) dengan model Rasch. Analisi
model Rasch yang dapat memprediksi respon setiap responden menggunakan
statistik Infit Mean-Square (IMS) dan Outfit Mean-Square (OMS). Statistik IMS
dan OMS berkisar dari 0,5 sampai 1,5 (Linacre, 2002).
Tabel 2. Rentang Nilai IMS dan OMS
Nilai Implikasi bagi Pengukuran
>2,0 Merusak sistem pengukuran
> 1,5 - 2,0 Tidak mempunyai makna bagi pengukuran
0,5 - 1,5 Bermanfaat bagi pengukuran
< 0,5 Tidak bermanfaat bagi pengukuran tetapi tidak
merusak
Sumber: Linarce, 2011.
Sementara itu, karakteristik pada parameter butir berupa tingkat
kesulitan diiterpretasi menggunakan kriteria dari Baker (2001:11), sebagai
berikut.
Sangat
Sangat mudah Mudah Sedang Sukar
sukar
-2,0 -0,5 0 +0,5 +2,0
Selanjutnya pada IRT, indeks keandalan (koefisien reliabilitas) tes
dinyatakan dengan fungsi informasi tes yang merupakan penjumlahan fungsi
informasi semua butir tes. Besarnya fungsi suatu tes dapat diestimasi
menggunakan formula berikut (Hambleton & Swaminathan, 1985: 104).

𝑃𝑖′ (𝜃)2
𝑙𝑖 (𝜃) = ∑𝑛𝑖=1 𝑃𝑖 (𝜃)

Keterangan:
𝑃𝑖′ (𝜃)= derivatif dari 𝑃𝑖 (𝜃)
𝑙𝑖 (𝜃)= informasi dari butir i

Apabila fungsi informasi tes telah diestimasi, maka langkah selanjutnya


adalah menghitung kesalahan baku pengukuran menggunakan formula berikut
(Hambleton & Swaminathan, 1985: 104).
1
𝑆𝐸(𝜃) =
√𝑙𝑖 (𝜃)

(2) Analisis Data Instrumen Pengukuran Hasil Uji Coba Performa Akademik
Kejuruan SMK Bidang Keahlian Teknik Gambar Bangunan

Tes memberikan makna setelah dianalisis hasilnya. Hasil kerja


responden selanjutnya dianalisis agar diperoleh data (1) Hasil Uji Coba Perfoma
Akademik Kejuruan SMK Bidang Keahlian Teknik Gambar Bangunan. Secara
garis besar untuk menganalisis tes menggunakan teori respon butir (b). Pada
model yang digunakan IRTanalisis tes dilakukan berdasarkan butir, banyak
responden tes, dan model yang digunakan untuk analisis adalah IRT dengan 1
PL.
Hasil pengukuran disajikan dalam bentuk: 1) grafik distribusi frekuensi
kemampuan (ability), dan chart presentase berdasarkan kategori level
kemampuan. Penentuan tingkat Hasil uji coba performa akademik kejuruan SMK
Bidang Keahlian Teknik Gambar Bangunan tersebut digunakan kategori
berdasarkan rata-rata ideal simpangan baku ideal. Hal ini diterapkan dengan
asumsi bahwa keterampilan kognitif performa akademik akejuruan SMK Bidang
Keahlian Teknik Gambar Bangunan berdistribusi normal. Penentuan skor rata-
rata ideal (Mi) dan skor simpangan baku ideal (SB) didasarkan pada skor
tertinggi dan terendah dari variabel penelitian yang dinyatakan sebagai berikut,
Tabel 3. Interval Nilai Level Kemampuan
No. Interval Kemampuan Level
1. Mi + 1,5 SBi < 𝜃 Sangat tinggi
2. Mi + 0,5 SBi < 𝜃 ≤Mi +1,5 SBi Tinggi
3. Mi - 0,5 SBi < 𝜃 ≤Mi +0,5 SBi Sedang
4. Mi - 1,5 SBi < 𝜃 ≤Mi - 0,5 SBi Rendah
5. 0 < Mi – 1,5 SBi Sangat rendah

Interpretasi hasil pengukuran dilakukan atas dasar skor secara dikotomi


dengan dari hasil pengukuran. Berdasarkan hasil analisis dengan model Rash
program Winsteps diperoleh kemampuan (ability).
Berdasarkan koefisien tingkat kesulitan butir, ICC, fungsi informasi dan SEM
dapat dideskripsikan karakteristik tes. Berdasarkan koefisien reliabilitas dan
tingkat kesulitan butir dapat dinyatakan kelayakannya tes digunakan sebagai
dasar dalam pengambilan keputusan terhadap responden.
TES KOGNITIF UJI PERFORMA AKADEMIK KEJURUAN SMK
BIDANG KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR BANGUNAN

1. Nama Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam studi ini adalah Tes Kognitif Uji Performa
Akdemik Kejuruan SMK Bidang keahlian Teknik Gambar Bangunan.
2. Kegunaan Instrumen
Instrumen Tes Kognitif Uji Performa Akdemik Kejuruan SMK Bidang keahlian Teknik
Gambar Bangunan merupakan alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan
kemampuan siswa u dalam pemahaman terkait dengan mata pelajaran kejuruan bidang
keahlian bangunan kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan.
3. Panjang Instrumen
Tes Kognitif Uji Performa Akdemik Kejuruan SMK Bidang keahlian Teknik Gambar
Bangunan SMK terdiri atas 50 item. Berdasarkan hasil validasi instrumen Tes Kognitif Uji
Performa Akdemik Kejuruan SMK Bidang keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK yang
dilakukan oleh 3 expert judgment dan uji coba kepada 180 responden, didapatkan
simpulan bahwa sebanyak 50 item favourable dan 0 item unfavourable.
4. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes Kognitif Uji Performa Akdemik Kejuruan
SMK Bidang keahlian Teknik Gambar Bangunan
a. Validitas
Uji validitas pada instrumen tes dimaksudkan untuk menguji apakah tes tersebut
mampu mempresentasikan seluruh isi hal yang akan diukur. Ada berbagai pendapat
mengenai validitas untuk instrumen yang digunakan pengukuran, baik di bidang
pendidikan maupun psikologi. Menurut American Educational Research Association,
American Psychological Association, and National Council on Measurement in Education
(AERA, APA, and NCME) dalam Standards for Educational and Psychological Testing,
validitas merujuk pada derajat dari fakta dan teori yang mendukung interpretasi skor tes,
dan merupakan pertimbangan paling penting dalam pengembangan tes (1999). Ahli lain
mengemukakan bahwa validitas suatu alat ukur adalah sejauhmana alat ukur itu mampu
mengukur apa yang seharusnya diukur (Nunnally, 1978, Allen & Yen, 1979: 97;
Kerlinger, 1986; Syaifudin Azwar, 2000: 45).
Sementara itu, Linn & Gronlund (1995) menjelaskan validitas mengacu pada
kecukupan dan kelayakan interpretasi yang dibuat dari penilaian, berkenaan dengan
penggunaan khusus. Pendapat ini diperkuat oleh Messick (1989) bahwa validitas
merupakan kebijakan evaluatif yang terintegrasi tentang sejauhmana fakta empiris dan
alasan teoretis mendukung kecukupan dan kesesuaian inferensi dan tindakan
berdasarkan skor tes. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan
bahwa validitas akan menunjukkan dukungan fakta empiris dan alasan teoretis terhadap
terhadap interpretasi skor tes, dan terkait dengan kecermatan pengukuran.

Pengukuran validitas Tes Kognitif Uji Performa Akdemik Kejuruan SMK Bidang
keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK dengan formula Aiken menggunakan bantuan
program Excel. Formula Aiken sebagai berikut (Azwar, 2015: 113).

∑𝑠
𝑉=
[𝑛(𝑐 − 1)]

Keterangan:

s = r – lo

r = angka yang diberikan oleh penilai

lo = angka penilaian validitas yang terendah

c = angka penilaian validitas tertinggi

koefisien validitas sekitar 0,7 masih dapat diterima dan dinilai memuaskan (Aiken, 1980)

Tabel Indeks Aiken pada Setiap Item Soal

Validator
Nomor Butir Soal Indeks Aiken
1 2 3
1 2 3 3 1.00
2 3 3 3 1.00
3 2 2 2 1.33
Validator
Nomor Butir Soal Indeks Aiken
1 2 3
4 2 2 2 1.33
5 2 2 3 0.83
6 3 3 3 1.00
7 2 2 3 0.83
8 2 2 3 0.83
9 3 3 3 1.00
10 2 2 2 1.33
11 2 2 2 1.33
12 2 2 3 0.83
13 3 3 3 1.00
14 2 2 2 1.33
15 2 2 2 1.33
16 2 2 3 0.83
17 2 2 3 0.83
18 2 2 3 0.83
19 3 3 3 1.00
20 2 2 2 1.33
21 2 2 2 1.33
22 2 2 3 0.83
23 2 2 3 0.83
24 2 2 3 0.83
25 3 3 3 1.00
26 2 2 2 1.33
27 2 2 2 1.33
28 2 2 3 0.83
29 2 2 3 0.83
30 2 2 3 0.83
31 3 3 3 1.00
32 2 2 2 1.33
33 2 2 2 1.33
34 2 2 3 0.83
35 2 2 3 0.83
36 2 2 3 0.83
37 3 3 3 1.00
38 2 2 2 1.33
39 2 2 2 1.33
40 2 2 3 0.83
41 3 3 3 1.00
42 3 3 3 1.00
43 3 3 3 1.00
44 2 2 2 1.33
Validator
Nomor Butir Soal Indeks Aiken
1 2 3
45 2 3 2 0.83
46 3 3 3 1.00
47 3 2 3 1.00
48 2 2 2 1.33
49 3 3 3 1.00
50 2 2 3 0.83
Rata-rata 1.04

Berdasarkan tabel tersebut disimpulkan bahwa data Tes Kognitif Uji Performa
Akdemik Kejuruan SMK Bidang keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK dengan
adalah valid dengan indeks validitas 1,04  1.

b. Reliabilitas
Tujuan utama menghitung reliabilitas skor tes adalah untuk mengetahui tingkat
ketepatan (precision) dan keajegan (consistency) skor tes. Indeks reliabilitas
berkisar antara 0 - 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1),
makin tinggi pula keajegan/ketepatannya. Tes yang memiliki konsistensi reliabilitas
tinggi adalah akurat, reproducibel, dan generalized terhadap kesempatan testing
dan instrumen tes lainnya. Secara rinci faktor yang mempengaruhi reliabilitas skor
tes di antaranya:

o Semakin banyak jumlah butir soal, semakin ajek suatu tes.


o Semakin lama waktu tes, semakin ajek.
o Semakin sempit range kesukaran butir soal, semakin besar keajegan.
o Soal-soal yang saling berhubungan akan mengurangi keajegan.
o Semakin objektif pemberian skor, semakin besar keajegan.
o Ketidaktepatan pemberian skor.
o Menjawab besar soal dengan cara menebak.
o Semakin homogen materi semakin besar keajegan.
o Pengalaman peserta ujlan.
o Salah penafsiran terhadap butir soal.
o Menjawab soal dengan buru-buru/cepat.
o Kesiapan mental peserta ujian.
o Adanya gangguan dalam pelaksanaan tes.
o Jarak antara tes pertama dengan tes kedua.
o Mencontek dalam mengerjakan tes.
o Posisi individu dalam belajar.
o Kondisi fisik peserta ujian.
Ada 3 cara yang dapat dilakukan untuk menentukan reliabilitas skor tes, yaitu :
1) Keajegan pengukuran ulang: kesesuaian antara hasil pengukuran pertama dan
kedua dari sesuatu alat ukur terhadap kelompok yang sama.
2) Keajegan pengukuran setara: kesesuaian hasil pengukuran dan 2 atau lebih alat
ukur berdasarkan kompetensi kisi-kisi yang lama.
3) Keajegan belah dua: kesesuaian antara hasil pengukuran belahan pertama dan
belahan kedua dari alat ukur yang sama. Penggunaan rumus untuk mengetahui
koefisien ketiga jenis reliabilitas di atas dijelaskan secara rinci berikut ini.
Berdasarkan uji reliabilitas yang diukur dengan program Winsteps dan didapat
indeks keandalan sebesar 0,35 (kurang reliabel).

Pengukuran Terhadap Penerapan Soft Skill Sesuai Kecerdasan


Emosional Daniel Goleman

A. Pendahuluan
Pengukuran sikap dalam studi ini dilakukan pada penerapan soft skill sesuai konsep
kecerdasan emosional dari Daniel Goleman. kecerdasan emosional adalah kemampuan
seseorang untuk memahami serta mengatur suasana hati agar tidak melumpuhkan
kejernihan berfikir otak rasional, tetapi mampu menampilkan beberapa kecakapan, baik
kecakapan pribadi maupun kecakapan antar pribadi. Dilihat dari segi peserta didik, siswa
yang merasa kecerdasan emosionalnya baik, dengan contoh siswa merasa senang, akan
bergairah dan semangat dalam belajar, disamping motivasi belajar. Dengan demikian,
perasaan siswa menjadi suatu sumber energi dalam belajar, disamping motivasi belajar.
(Winkel, 2004:207).
Mengacu pada Kepmendiknas No.045/U/2002 menyatakan bahwa, menuntut
perubahan arah pendidikan tinggi untuk, (a) menghasilkan lulusan yang dapat bersaing
dalam dunia global; (b) adanya perubahan orientasi pendidikan tinggi yang tidak lagi hanya
menghasilkan manusia cerdas berilmu namun juga mampu menerapkan keilmuannya dalam
kehidupan di masyarakatnya (kompeten dan relevan), yang berbudaya; dan (c) Juga adanya
perubahan kebutuhan di dunia kerja yang terwujud dalam perubahan persyaratan dalam
menerima tenaga kerja, yaitu adanya persyaratan soft skill yang dominan disamping hard
skill. Sehingga kurikulum yang dikonsepkan lebih didasarkan pada rumusan kompetensi
yang harus dicapai/dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi yang sesuai atau mendekati
kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat pemangku kepentingan/stake holder (Dirjen
Dikti, 2008).
Munculnya EQ (Emotional Quotient) pada tahun 1995 oleh Daniel Goleman
menyimpulkan tentang peran kecerdasan emotional (EQ) dalam kehidupan manusia
ternyata memegang peranan kesuksesan manusia baik di tempat kerja, kehidupan pribadi,
hubungan keluarga, dan kenakalan remaja. Penelitian tentang EQ menemukan hasil
semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, semakin besar kemungkinan orang itu
sukses sebagai pekerja, orang tua, manajer, remaja, pasangan hidup, dan aspek-aspek lain
dalam kehidupan (Said, 2011:83-84).
Menurut Wikipedia (dalam Sri Yuliani, 2014), soft skills adalah istilah sosiologis
yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, ketrampilan sosial,
komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang mencirikan
kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Soft skills merupakan
kecerdasan emosional dan sosial (Emotional Inteligence Quotient) yang sangat penting
untuk melengkapi hard skills atau kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient).
Definisi soft skill pada sumber lainnya mengemukakan bahwa soft skill adalah
kecakapan hidup yang terkait dengan hubungan antar–manusia yang meliputi kecakapan–
kecakapan berkomunikasi, pengelolaan konflik, hubungan antar–manusia, berpresentasi,
berunding, membangun tim, efektivitas pribadi, pemecahan masalah yang kreatif, pemikiran
strategis, mempengaruhi orang lain, dan sebagainya. Kecakapan–kecakapan tersebut
termasuk sebagai kecerdasan emosional atau biasa disebut dengan Emotional Quotient
(Samani,2012).
Menurut Goleman (2009:44) disimpulkan bahwa atrirbut-atribut soft skills dalam
menentukan keberhasilan belajar dan bekerja paada orang-orang di Amerika menyumbang
pengaruh sangat besar sebesar 80%.
Berdasarkan penelitian Sharma (dalam I Made S.Utama,2010:4), pada penelitian
Tim Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi (PHK-I) Universitas Udayana dan
berdasarkan hasil dari telaah DU/DI dari pihak proyek pemerintah dan swasta dipilihlah
indikator dari kompetensi soft skill. Indikator yang digunakan dalam menganalisis
kecakapan soft skill dalam pembelajaran struktur baja I berdasarkan dengan kompetensi
yang harus dicapai oleh mahasiswa, karakteristik mahasiswa, dan kebutuhan di dunia kerja
bidang konstruksi baja. Indikator kompetensi soft skill dipilih oleh penelaah dengan
pertimbangan bahwa, seorang pekerja khususnya bidang ketekniksipilan hal terpenting dan
pekerjaan pertama dari segala proyek yaitu pekerjaan untuk menjalankan dan
mengutamakan langkah keselamatan dan kesehatan kerja (K3), maka dari itu bentuk
kecakapan soft skill sangat diperlukan dalam kaitannya dengan pelaksanaan program K3
dalam sebuah proyek kerja bidang ketekniksipilan.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa soft skills adalah istilah
sosiologis yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, ketrampilan
sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang
mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. perubahan
kebutuhan di dunia kerja yang terwujud dalam perubahan persyaratan dalam menerima
tenaga kerja, yaitu adanya persyaratan soft skill yang dominan disamping hard skill.
Sehingga kurikulum yang dikonsepkan lebih didasarkan pada rumusan kompetensi yang
harus dicapai/dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi yang sesuai atau mendekati kompetensi
yang dibutuhkan oleh masyarakat pemangku kepentingan/stake holder (Dirjen Dikti, 2008).

B. Unsur-unsur Soft Skill dari Konsep Kecerdasan Emosional Daniel Goleman


Goleman berpendapat ada dua macam kerangka kerja kecakapan emosi yaitu
kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Masing-masing dari kecakapan tersebut memiliki
ciri-ciri tertentu yang digabung menjadi lima ciri.
Adapun kelima ciri-ciri tersebut, menurut Goleman dalam bukunya yang berjudul
Kecerdasan Emosional (2002:63), disimpulkan bahwa 5 ciri-ciri seseorang yang mempunyai
kecerdasan emosi menurut teori Goleman dapat ditabelkan berikut ini:
Tabel 2.1 Lima wilayah ciri-ciri Kecerdasan Emosional
5 Wilayah kecerdasan Pribadi dalam bentuk
kecerdasan Emosional

1. Kesadaran Diri

2. Pengaturan Diri

3. Motivasi Diri

4. Empati Diri

5 Keterampilan Sosial
a. Kesadaran Diri
Para ahli psikologi menggunakan metakognisi untuk menyebutkan proses berfikir untuk
menyebut kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Adapun Goleman lebih menyukai
istilah kesadaran diri untuk menyebut dua kesadaran di atas (Goleman,2002:63).
Kesadaran diri menurut Goleman bukanlah perhatian yang larut ke dalam emosi akan
tetapi lebih merupakan modus netral yang mempertahankan refleksi diri di tengah badai emosi
(Goleman,2002:64). Hal ini juga dikenal dengan istilah “Stemming dasar” atau nada dasar alam
perasaan, yang lebih kurang menetap. (Winkel, 2004:208).
Menurut Goleman Kesadaran diri yaitu mengetahui apa yang ia rasakan pada suatu saat,
dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur
yang realistis atas kemampuan diri, dan kepercayaan diri yang kuat (Mts Ma’arif Manggung,
2011:02).
Dalam buku Kecerdasan Emosional (2002:62), Goleman memaparkan contoh kesadaran
diri yaitu :
“Alkisah, di Jepang ada seorang Samurai yang suka bertarung. Samurai ini menantang seorang
guru Zen untuk menjelaskan konsep surga dan neraka. Tetapi pendeta menjawab dengan nada
menghina, ”Kau hanyalah orang bodoh, aku tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk orang
macam kamu.” Merasa harga diri direndahkan, Samurai itu naik darah. Sambil menghunus
pedang, ia berteriak, ”Aku dapat membunuhmu karena kekurangajaranmu.” “Nah,” jawab
pendeta itu dengan tenang, ”Itulah neraka.” Takjub melihat kebenaran yang ditunjukkan oleh
sang guru, amarah yang menguasai diri samurai itu menjadi tenang, menyarungkan
pedangnya, dan membungkuk sambil mengucapkan terima kasih pada sang pendeta itu atas
penjelasannya. ”Dan” kata sang pendeta, ”Itulah surga.”
Kesadaran mendadak Samurai terhadap gejolak perasaannya adalah inti dari
kecerdasan emosional, yaitu kesadaran akan perasaan diri sendiri waktu perasaan itu timbul.
Menurut Goleman (2002:428), dalam bukunya kecerdasan emosi untuk meraih puncak
prestasi. Kesadaran diri tidak terbatas pada mengamati diri dan mengenali perasaan akan
tetapi juga menghimpun kosa kata untuk perasaan dan mengetahui hubungan antara fikiran,
perasaan, dan reaksi.
Menurut Goleman (2002:95) mengatakan bahwa kesadaran seseorang terhadap titik
lemah serta kemampuan pribadi seseorang juga merupakan bagian dari kesadaran diri.
Adapun ciri orang yang mampu mengukur diri secara akurat adalah:
1) Sadar tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya.
2) Menyempatkan diri untuk merenung, belajar dari pengalaman.
3) Terbuka terhadap umpan balik yang tulus, bersedia menerima perspektif baru, mau terus
belajar dan mengembangkan diri sendiri.
4) Mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri dengan perspektif
yang luas dengan pandai menangani kesedihan (Goleman, 2002:97).
Kesadaran diri memang penting apabila seseorang ceroboh, tidak memperhatikan dirinya
secara akurat, maka hal itu akan merugikan dirinya dan berdampak negatif bagi oarang lain.
Oleh sebab itu, manusia harus pandai-pandai mencari tahu siapa dirinya. Kesadaran diri juga
tidak lepas dari rasa percaya diri. Percaya diri memberikan asuransi mutlak untuk terus maju.
Walaupun demikian, percaya diri bukan berarti nekad. Menurut Goleman (2002:110-111), rasa
percaya diri erat kaitannya dengan “efektivitas diri”, penilaian positif tentang kemampuan kerja
diri sendiri. Efektifitas diri cenderung pada keyakinan seseorang mengenai apa yang ia
kerjakan dengan menggunakan keterampilan yang ia miliki.
Percaya diri memberi kekuatan untuk membuat keputusan yang sulit atau menjalankan
tindakan yang diyakini kebenarannya. Tidak adanya percaya diri dapat menjadikan rasa putus
asa, rasa tidak berdaya, dan meningkatnya keraguan pada diri sendiri. Adapun ciri dari orang
yang memiliki rasa percaya diri adalah:
1) Berani tampil dengan keyakinan diri, berani menyatakan keberadaannya.
2) Berani menyuarakan pandangan yang tidak populer dan bersedia berkorban demi
kebenaran.
3) Tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan tidak pasti dan
tertekan (Goleman, 2002:107).
Adanya kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal
penting bagi pemahaman diri. Adapun ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang
sesungguhnya membuat manusia berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki
keyakinan yang lebih baik tentang perasaannya adalah pengendali yang handal bagi kehidupan
mereka, karena mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya
atas pengambilan keputusan. Keputusan masalah pribadi maupun profesi. Kesadaran diri tidak
lain adalah kemampuan untuk mengetahui keadaan internal. Kesadaran diri sangat penting
dalam pembentukan konsep diri yang positif. Konsep diri adalah pandangan pribadi terhadap
diri sendiri, yang mencakup tiga aspek yaitu :
1) Kesadaran emosi, yaitu tahu tentang bagaimana pengaruhnya emosi terhadap kinerja,
dan kemampuan menggunakan nilai-nilai untuk memandu pembuatan keputusan.
2) Penilaian diri secara akurat, yaitu perasaan yang tulus tentang kekuatan-kekuatan dan
batas-batas pribadi, visi yang jelas tentang mana yang perlu diperbaiki, dan kemampuan
untuk belajar dari pengalaman orang lain.
3) Percaya diri yaitu keyakinan tentang harga diri dan kemampuan diri.
Menurut dasar inilah maka bagi seorang siswa-siswi SMK yang nantinya akan menjadi
calon drafter diharapkan mempunyai sikap kesadaran diri yang kuat, agar nantinya dapat
menunjang kehidupan dari para siswa-siswi dalam lingkungan pekerjaannya maupun
dilingkungan masyarakat. Rasa percaya diri yang tinggi, dan dapat mengetahui apa yang
menjadi kelebihan dan kelemahan dari siswa itu sendiri dapat menjadi acuan untuk seorang
siswa dalam melaksanakan KBM MPL-TL agar cara belajar mereka dapat lebih maksimal.
Peserta didik akan mengetahui cara mengatasi kelemahan dan kelebihan mereka dalam KBM
MPL-TL.

b. Pengaturan Diri
Menurut Goleman dalam bukunya Kecerdasan Emosional (2002:111-112) pengaturan diri
adalah pengelolaan impuls dan perasaan yang menekan. Dalam kata Yunani kuno,
kemampuan ini disebut sophrosyne, “hati-hati dan cerdas dalam mengatur kehidupan,
keseimbangan, dan kebijaksanaan yang terkendali” sebagaimana yang diterjemahkan oleh
Page Dubois, seorang pakar bahasa Yunani (Goleman, 2002:77).
Menurut Goleman, lima kemampuan pengaturan diri yang umumnya dimiliki oleh star
performer adalah pengendalian diri, dapat dipercaya, kehati-hatian, adaptabilitas, dan inovasi
(Goleman, 2002:77).
1) Pengendalian Diri
Pengendalian diri adalah mengelola dan menjaga agar emosi dan impuls yang merusak
tetap terkendali. Orang-orang yang memiliki kecakapan pengendalian diri ini adalah sebagai
berikut :
a) Mengelola dengan baik perasaan-perasaan impulsif dan emosi-emosi yang menekan.
b) Tetap teguh, berpikir positif, dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang paling berat.
c) Berpikir dengan jernih dan tetap terfokus kendali dalam tekanan (Goleman, 2002:130-131).
2) Dapat dipercaya dan kehati-hatian yaitu memelihara norma kejujuran dan integritas. Orang
dengan kecakapan ini:
a) Bertindak menurut etika dan tidak pernah mempermalukan orang.
b) Membangun kepercayaan lewat keandalan diri dan otentisitas.
c) Mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain.
d) Berpegang kepada prinsip secara teguh bahkan bila akibatnya adalah menjadi tidak
disukai (Goleman, 2002:142-144).
3) Kehati-hatian, yaitu dapat diandalkan dan bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban.
Orang dengan kecakapan ini:
a) Memenuhi komitmen dan mematuhi janji.
b) Bertanggung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan mereka.
c) Terorganisasi dan cermat dalam bekerja.
4) Adaptabilitas
Adaptabilitas yaitu keluwesan dalam menanggapi perubahan dan tantangan. Orang
dengan kecakapan ini:
a) Terampil menangani beragamnya kebutuhan, bergesernya prioritas, dan pesatnya
perubahan.
b) Siap mengubah tanggapan dan taktik untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
c) Luwes dalam memandang situasi (Goleman, 2002:151).
Adaptabilitas menurut keluwesan dalam mempertimbangkan bermacam-macam perspektif
untuk suatu situasi pada gilirannya. Keluwesan ini tergantung pada ketangguhan emosi atau
kemampuan untuk tetap merasa nyaman dalam ambiguitas dan tetap tenang dalam
menghadapi sesuatu yang tidak terduga. Orang yang kemampuannya kurang dalam
menyesuaikan diri akan dihantui ketakutan, kecemasan, ketidaknyamanan yang mendalam
akibat perubahan. Adapun berubahnya realitas merupakan bagian dari kehidupan yang tidak
terelakkan, terutama dalam dunia bisnis. Kecakapan lain yang mendukung adaptabilitas adalah
rasa percaya diri, khususnya kepastian yang memungkinkan seseorang dengan cepat
mengatur tanggapan yang sesuai, dan melepaskan apa saja tanpa pertimbangan terlalu
banyak. Adapun kecakapan lain yang berhubungan dengan adaptabilitas adalah inovasi
(Goleman, 2002:157-158).
5) Inovasi yaitu bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan dan pendekatan-pendekatan
baru, serta informasi terkini. Orang dengan kecakapan ini :
a) Selalu mencari gagasan baru dari berbagai sumber.
b) Mendahulukan solusi-solusi yang orisinal pemecahan masalah.
c) Menciptakan gagasan-gagasan baru.
d) Berani mengubah wawasan dan mengambil resiko akibat pemikiran baru mereka
(Goleman, 2002:151).
Tindakan inovatif memerlukan unsur kognitif dan emosi. Bisa mempunyai wawasan kreatif
merupakan unsur kognitif. Adapun untuk merasakannya memerlukan kecakapan emosi,
seperti percaya diri dan ketekunan.
Berkaitan dengan adanya unsur emosi dalam proses inovasi, Goleman menambahkan
bahwa landasan emosi seorang inovator adalah senang menikmati orisinalitas. Pada saat
orang lain sibuk bergelut dengan hal-hal remeh, dan merasa ketakutan yang luar biasa
terhadap resiko gagasan barunya, seorang inovator dapat dengan cepat mengidentifikasi isu-
isu penting dan menyederhanakan masalah yang semula tampak sangat rumit (Goleman,
2002:150).
Secara sederhana, Goleman membagi tahapan penting dalam inovasi ini. Dalam dua
tahapan pertama inisiasi yaitu munculnya gagasan cemerlang. Kedua, implementasi yaitu
mewujudkan gagasan tersebut (Goleman, 2002:165). Hasil refleksi ini juga bisa menjadi aspek
kognitif dalam pembentukan sikap dan membuat sikap semakin tertanam dalam batin siswa.
(Winkel,S.J.,WS: 2004:212).
Dengan seorang siswa memiliki sikap pengaturan diri yang baik, maka akan muncul sikap
baik yang penting dibutuhkan seorang manusia yaitu sebuah kejujuran dan membangun
kehidupan yang gagal agar menjadi baik kembali, sikap seperti itulah yang sekarang telah
luntur dan kewajiban untuk seorang generasi bangsa yaitu membangun kembali dan
membudayakan sikap seperti itu untuk dirinya sendiri dan misinya untuk membiasakan sikap
jujur dan bangkit kembali kepada generasi selanjutnya. Sikap jujur dan bangkit juga sangat
diperlukan dalam proses pembelajaran KBM MPL-TL, karena dengan bersikap mengatur diri
untuk menjadi lebih baik maka secara langsung kehidupan seorang siswa akan menjadi lebih
baik untuk perkembangan pendidikannya ataupun nantinya untuk mereka dilingkungan
pekerjaan yang mana manusia jujur dan dapat mengatasi masalah-masalah dengan sikap
bangkit kembali akan lebih disukai dilingkungan pekerjaan.

c. Motivasi
Motivasi yaitu menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun
menuju sasaran, membantu untuk mengambil inisiatif untuk bertindak secara efektif, dan untuk
bertahan menghadapi kegagalan atau frustasi (Goleman, 2002:514).
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting yang
berkaitan dengan memberi perhatian, memotivasi diri sendiri, menguasai diri sendiri, dan
berkreasi.
Untuk menumbuhkan motivasi seseorang perlu adanya kondisi flow pada diri orang
tersebut. Flow adalah keadaan lupa sekitar, lawan dari lamunan dan kekhawatiran, bukannya
tenggelam dalam kesibukan yang tak tentu arah. Momen flow tidak lagi bermuatan ego. Orang
yang dalam keadaan flow menampilkan penguasaan hebat terhadap apa yang mereka
kerjakan, respon mereka sempurna senada dengan tuntutan yang selalu berubah dalam tugas
itu, dan meskipun orang menampilkan puncak kinerja saat sedang flow, mereka tidak lagi
peduli pada bagaimana mereka bekerja, pada fikiran sukses atau gagal. Kenikmatan tindakan
itu sendiri yang memotivasi mereka (Goleman, 2002:128).
Flow merupakan puncak kecerdasan emosional. Dalam flow emosi tidak hanya ditampung
dan disalurkan, akan tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, dan selaras dengan
tugas yang dihadapi. Terperangkap dalam kebosanan, depresi, atau kemeranaan kecemasan
menghalangi tercapainya keadaan flow.
Menurut Goleman (2002:128-129), salah satu cara untuk mencapai flow adalah dengan
sengaja memusatkan perhatian sepenuhnya pada tugas yang sedang dihadapi. Keadaan
konsentrasi tinggi merupakan inti dari kinerja yang flow.
Flow merupakan keadaan yang bebas dari gangguan emosional, jauh dari paksaan,
perasaan penuh motivasi yang ditimbulkan oleh ekstase ringan. Ekstase itu tampaknya
merupakan hasil samping dari fokus perhatian yang merupakan hasil prasyarat keadaan flow.
Mengamati seseorang yang dalam keadaan flow memberi kesan bahwa yang sulit itu
mudah, puncak performa tampak alamiah dan lumrah. Ketika dalam keadaan flow otak berada
pada keadaan “dingin”.
Adapun selain itu yang berkaitan dengan motivasi adalah optimisme. optimisme seperti
harapan berarti memiliki pengharapan yang kuat bahwa secara umum, segala sesuatu dalam
kehidupan akan sukses kendati ditimpa kemunduran dan frustasi. Dari titik pandang
kecerdasan emosional, optimisme merupakan sikap yang menyangga orang agar jangan
sampai jatuh dalam kemasabodohan, keputusasaan atau depresi bila dihadang kesulitan,
karena optimisme membawa keberuntungan dalam kehidupan asalkan optimisme itu realistis.
Karena optimisme yang naif membawa malapetaka (Goleman, 2002:123).
Orang yang optimis memandang kemunduran sebagai akibat sejumlah faktor yang bisa
diubah, bukan kelemahan atau kekurangan pada diri sendiri. Berbeda dengan orang pesimis
yang memandang kegagalan sebagai penegasan atas sejumlah kekurangan fatal dalam diri
sendiri yang tidak dapat diubah. Menurut Goleman (2002:196), ciri-ciri dari orang yang memiliki
kecakapan optimis adalah sebagai berikut:
1) Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan.
2) Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal.
3) Memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan
ketimbang sebagai kekurangan pribadi (Goleman, 2002:196).
Kerabat dekat optimisme adalah harapan. Harapan yaitu mengetahui langkah-langkah
yang diperlukan untuk meraih sasaran dan memiliki semangat serta energi untuk
menyelesaikan tingkah-tingkah tersebut, harapan merupakan daya pemotivasi utama, maka
ketidakhadirannya membuat orang tak berdaya. Pada dasarnya ada empat kemampuan
motivasi yang harus dimiliki. (Goleman,2002:181-182), yaitu:
1) Dorongan prestasi yaitu dorongan untuk meningkatkan atau memenuhi standar
keunggulan. Orang dengan kecakapan ini:
a) Berorientasi pada hasil, dengan semangat juang tinggi untuk meraih tujuan dan
memenuhi standar.
b) Menciptakan sasaran yang menantang dan berani mengambil resiko yang telah
diperhitungkan.
c) Mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mengurangi ketidakpastian dan mencari
cara yang lebih baik.
d) Terus belajar untuk meningkatkan kinerja yang lebih baik (Atkinson,1987:26).
2) Komitmen, yaitu menyelaraskan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga. Orang
dengan kecakapan ini:
a) Siap berkorban demi sasaran lembaga yang lebih penting.
b) Merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar.
c) Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan penjabaran
pilihan-pilihan.
d) Aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok
3) Inisiatif (initiative), yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. Orang dengan
kecakapan ini:
a) Siap memanfaatkan peluang.
b) Mengejar sasaran lebih dari yang dipersyaratkan atau diharapkan dari mereka.
c) Berani melanggar batas-batas dan aturan-aturan yang tidak prinsip bila perlu, agar
tugas dapat dilaksanakan.
d) Mengajak orang lain melakukan sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa petualangan.
4) Optimisme, yaitu kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan
kegagalan. Orang dengan kecakapan ini:
a) Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan.
b) Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal.
c) Memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan
ketimbang sebagai kekurangan pribadi (Goleman, 2002:181-196 & 214).
Atas dasar inilah motivasi akan terwujud, jika di khususkan pada peserta didik kemampuan
pendidik juga berperan penting dengan cara mewujudkan usaha untuk meningkatkan motivasi
siswa terutama dalam proses KBM dikelas dengan Mata Diklat MPL-TL dengan cara inilah
secara kognitif dan afektif siswa bisa berjalan dengan seimbang dan akan menghasilkan proses
pembelajaran yang dapat diterima siswa dengan baik, peranan pendidik diantaranya yaitu
dengan cara membina hubungan yang akrab dengan siswa, menyajikan bahan pelajaran yang
tidak terlalu diatas daya tangkap siswa, namun juga tidak jauh dibawahnya, menggunakan
media pengajaran yang sesuai, bervariasi dalam prosedur mengajar, namun tidak berganti
prosedur yang belum dikenal siswa, dengan tiba-tiba dan tidak membodohkan siswa kalau
mereka belum bisa (Winkel, 2004:213).

d. Empati
Empati adalah memahami perasaan dan masalah orang lain dan berfikir dengan sudut
pandang mereka, menghargai perbedaan perasaan orang mengenai berbagai hal
(Goleman,2002:428). Menurut Goleman, kemampuan mengindera perasaan seseorang
sebelum yang bersangkutan mengatakannya merupakan intisari empati. Orang sering
mengungkapkan perasaan mereka lewat kata-kata, sebaliknya mereka memberi tahu orang
lewat nada suara, ekspresi wajah, atau cara komunikasi non-verbal lainnya. Kemampuan
memahami cara-cara komunikasi yang sementara ini dibangun di atas kecakapan-kecakapan
yang lebih mendasar, khususnya kesadaran diri (self awareness) dan kendali diri (self control).
Tanpa kemampuan mengindera perasaan individu atau menjaga perasaan itu tidak
membingungkan seseorang, manusia tidak akan peka terhadap perasaan orang lain (PAM
Galbraith,2005:24-25).
Empati menekankan pentingnya mengindera perasaan dari perspektif orang lain sebagai
dasar untuk membangun hubungan interpersonal yang sehat. Bila kesadaran diri terfokus pada
pengenalan emosi sendiri, dalam empati perhatiannya diraihkan pada pengenalan emosi orang
lain. Seseorang semakin mengetahui emosi sendiri, maka ia akan semakin terampil membaca
emosi orang. Dengan demikian, empati dapat dipahami sebagai kemampuan mengindera
perasaan dan perspektif orang lain.
Tingkat empati tiap individu berbeda-beda. Menurut Goleman, pada tingkat yang paling
rendah, empati mempersyaratkan kemampuan membaca emosi orang lain, pada tataran yang
lebih tinggi, empati mengharuskan seseorang mengindera sekaligus menanggapi kebutuhan
atau perasaan seseorang yang tidak diungkapkan lewat kata-kata. Diantara yang paling tinggi,
empati adalah menghayati masalah atau kebutuhan-kebutuhan yang tersirat di balik perasaan
seseorang (Goleman, 2002:215). Adapun kunci untuk memahami perasaan orang lain adalah
mampu membaca pesan non-verbal seperti ekspresi wajah, gerak-gerik dan nada bicara. Hal
ini terbukti dalam tes terhadap lebih dari tujuh ribu orang di Amerika Serikat serta delapan
belas negara lainnya. Dari hasil tes ini diketahui bahwa orang yang mampu membaca pesan
orang lain dari isyarat non-verbal ternyata lebih pandai menyesuaikan diri secara emosional,
lebih populer, lebih mudah bergaul, dan lebih peka dibandingkan dengan orang yang tidak
mampu membaca isyarat non-verbal (Goleman, 2002:136).
Namun ada kalanya seseorang tidak memiliki kemampuan berempati, empati tidak
ditemukan kepada orang yang melakukan kejahatan-kejahatan sadis. Suatu cacat psikologis
yang ada umumnya ditemukan pada pemerkosa, pemerkosa anak-anak, dan para pelaku
tindak kejahatan rumah tangga. Orang-orang ini tidak mampu berempati, ketidakmampuan
untuk merasakan penderitaan korbannya memungkinkan mereka melontarkan kebohongan
kepada diri mereka sendiri sebagai pembenaran atas kejahatannya. Hilangnya empati sewaktu
orang-orang melakukan kejahatan pada korbannya hampir senantiasa merupakan bagian dari
siklus emosional yang mempercepat tindakan kejamnya (Goleman, 2002:149-150). Selain itu,
empati tidak ditemukan pada penderita eleksitimia (ketidakmampuan mengungkapkan emosi).
Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan mereka untuk mengetahui apa yang sedang mereka
rasakan. Selain bingung dengan perasaannya sendiri, penderita eleksitimia juga bingung
apabila ada orang lain yang mengungkapkan perasaan kepadanya. Secara emosional,
penderita ini tuli nada, tidak bisa mendeteksi kata atau tindakan yang bersifat emosional.
Empati yang berlebihan dapat mendatangkan stres, kondisi ini disebut “empathy distruss”,
stres akibat empati. Stres akibat empati ini sangat lazim terjadi bila seseorang merasakan
kesusahan yang mendalam, karena seseorang sangat empati berhadapan dengan seseorang
yang sedang dalam suasana hati negatif, dan kemampuan pengaturan dirinya tidak mampu
untuk menenangkan stres akibat simpati mereka sendiri. Untuk menghindari stres ini,
diperlukan suatu seni mengelola emosi, sehingga manusia tidak terbebani oleh rasa tertekan
yang menular dari orang yang sedang dihadapi (Goleman,2002:230). Menurut Goleman
(2002:230-231), ada lima kemampuan empati, yaitu :
1) Memahami orang lain, yaitu mengindera perasaan-perasaan orang lain, serta mewujudkan
minat-minat aktif terhadap kepentingan-kepentingan mereka. Orang dengan kecakapan ini:
a) Memperhatikan isyarat-isyarat emosi dan mendengarkannya dengan baik.
b) Menunjukkan kepekaan dan pemahaman terhadap perspektif orang lain.
c) Membantu berdasarkan pemahaman terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain.
2) Mengembangkan orang lain yaitu, mengindera kebutuhan orang lain untuk berkembang
dan meningkatkan kemampuan mereka. Orang lain dengan kecakapan ini:
a) Mengakui dan menghargai kekuatan, keberhasilan dan perkembangan orang lain.
b) Menawarkan umpan balik yang bermanfaat dan mengidentifikasi kebutuhan orang lain
untuk berkembang.
c) Menjadi mentor, memberikan pelatihan pada waktu yang tepat, dan penugasan-
penugasan yang menantang serta memaksa dikerahkannya keterampilan seseorang.
3) Orientasi pelayanan yaitu mengantisipasi, mengakui, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
pelanggan. Orang yang memiliki kecakapan ini:
a) Memenuhi kebutuhan pelanggan dan menyesuaikan semua itu dengan pelayanan atau
produksi yang tersedia.
b) Dengan senang hati menawarkan bantuan yang sesuai.
c) Mencari berbagai cara untuk meningkatkan kepuasan dan kesetiaan pelanggan.
d) Menghayati perspektif pelanggan, bertindak sebagai penasehat yang dipercaya.
4) Memanfaatkan keragaman yaitu menumbuhkan kesempatan (peluang) melalui pergaulan
dengan bermacam-macam orang. Orang dengan kecakapan ini:
a) Hormat dan mau dengan orang-orang dari berbagai macam latar belakang.
b) Memahami beragamnya pandangan dan peka terhadap perbedaan antar kelompok.
c) Memandang keberagaman sebagai peluang menciptakan lingkungan yang
memungkinkan semua orang sama-sama maju kendati berbeda-beda.
d) Berani menentang sikap membeda-bedakan dan intoleransi.
5) Kesadaran politik yaitu mampu membaca kecenderungan sosial dan politik yang sedang
berkembang. Orang dengan kecakapan ini:
a) Membaca dengan cermat hubungan kekuasaan yang paling tinggi
b) Mengenal dengan baik semua jaringan sosial yang penting.
c) Memahami kekuatan-kekuatan yang membentuk pandangan-pandangan serta tindakan-
tindakan klien, pelanggan, atau pesaing.
d) Membaca dengan cermat realitas lembaga maupun realitas di luar (Goleman,
2002:219).
Disimpulkan bahwa sikap empati dalam kehidupan manusia sangat diperlukan, karena
dengan sikap ini maka seseorang akan mampu membaca kecenderungan sosial orang lain dan
menimbulkan sikap terpuji untuk selalu mengetahui keadaan orang lain. Sikap dapat
mengetahui keadaan orang lain tidak hanya diperlukan di lingkungan masyarakat dan
lingkungan pekerjaan saja, melainkan penting juga dalam proses KBM MPL-TL. Dengan
seorang siswa mempunyai sikap empati maka siswa akan lebih menghargai seorang teman,
mempunyai sikap sosial yang tinggi dengan teman sebayanya, dengan sikap tersebut maka,
kelemahan dan kelebihan seorang siswa tidak akan ada halangan atau kesulitan kalau ada
teman yang peduli dengan dirinya atau sesamanya. Dampaknya proses belajar mengajar
ataupun hubungan antar siswa akan menjadi lebih baik.

e. Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial (social skills), adalah kemampuan untuk menangani emosi dengan
baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan
sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan untuk mempengaruhi dan
memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan untuk bekerjasama dalam tim.
Dalam memanifestasikan kemampuan ini dimulai dengan mengelola emosi sendiri yang
pada akhirnya manusia harus mampu menangani emosi orang lain. Menurut Goleman,
menangani emosi orang lain adalah seni yang mantap untuk menjalin hubungan, membutuhkan
kematangan dua keterampilan emosional lain, yaitu manajemen diri dan empati. Dengan
landasan keduanya, keterampilan berhubungan dengan orang lain akan matang. Ini merupakan
kecakapan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tidak
dimilikinya kecakapan ini akan membawa pada ketidakcakapan dalam dunia sosial atau
berulangnya bencana antar pribadi. Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilan-
keterampilan inilah yang menyebabkan orang-orang yang mempunyai nilai akademik yang
tinggi gagal dalam membina hubungannya (Goleman,2002:158-159).
Dalam berhubungan dengan orang lain, manusia menularkan emosinya kepada orang lain
atau sebaliknya semakin terampil seseorang secara sosial, semakin baik mengendalikan sinyal
yang dikirimkan.
Kesadaran sosial juga didasarkan pada kemampuan perasaan sendiri, sehingga mampu
menyetarakan dirinya terhadap bagaimana orang lain beraksi. Menurut Goleman, apabila
kemampuan antar pribadi ini tidak di imbangi dengan kepekaan perasaan terhadap kebutuhan
dan perasaan diri sendiri serta bagaimana cara memenuhinya, maka ia akan termasuk dalam
golongan bunglon-bunglon sosial yang tidak peduli sama sekali bila harus berkata ini dan
berbuat itu.
Secara lebih luas, Goleman menjelaskan bahwa keterampilan sosial, yang makna intinya
adalah seni menangani emosi orang lain, merupakan dasar bagi beberapa kecakapan :
1) Pengaruh yaitu terampil menggunakan perangkat persuasi secara efektif. Orang dengan
kecakapan ini:
a) Terampil dalam persuasi.
b) Menyesuaikan prestasi untuk menarik hati pendengar.
c) Menggunakan strategi yang rumit seperti memberi pengaruh tidak langsung untuk
membangun konsensus dan dukungan.
d) Memadukan dan menyelaraskan peristiwa-peristiwa dramatis agar menghasilkan
sesuatu yang efektif.
2) Komunikasi, yaitu mendengarkan serta terbuka dan mengirimkan pesan serta meyakinkan.
Orang dengan kecakapan ini:
a) Efektif dalam memberi dan menerima, menyertakan isyarat emosi dalam pesan-pesan.
b) Menghadapi masalah-masalah sulit tanpa ditunda.
c) Mendengarkan dengan baik, berusaha untuk saling memahami, dan bersedia berbagi
informasi secara utuh.
d) Menggalakkan komunikasi terbuka dan tetap bersedia menerima kabar buruk sebagai
kabar baik.
3) Manajemen konflik, yaitu merundingkan dan menyelesaikan ketidaksepakatan. Orang
dengan kecakapan ini:
a) Menangani orang-orang sulit dan situasi tegang dengan diplomasi dan taktik.
b) Mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi konflik, menyelesaikan perbedaan
pendapat secara terbuka, dan membantu mendinginkan situasi.
c) Menganjurkan debat dan diskusi secara terbuka.
d) Mengantar ke solusi menang-menang.
4) Kepemimpinan, yaitu mengilhami dan membimbing individu atau kelompok. Orang dengan
kecakapan:
a) Mengartikulasikan (kata-kata jelas) dan membangkitkan semangat untuk meraih visi
serta misi bersama.
b) Melangkah di depan untuk memimpin bila diperlukan, tidak peduli sedang di mana.
c) Memadu kinerja orang lain namun tetap memberikan tanggung jawab kepada mereka.
d) Memimpin kuat teladan.
5) Katalisator perubahan, yaitu mengawali atau mengelola perubahan. Orang dengan
kecakapan ini:
a) Menyadari perlunya perubahan dan dihilangkannya hambatan.
b) Menantang status quo untuk mengatakan perlunya perubahan.
c) Menjadi pelopor perubahan dan mengajak orang lain ke dalam perjuangan itu.
d) Membuat model perubahan seperti yang diharapkan oleh orang lain.
6) Membangun hubungan, yaitu menumbuhkan hubungan yang bermanfaat. Orang dengan
kecakapan ini:
a) Menumbuhkan dan memelihara jaringan tidak formal yang meluas.
b) Mencari hubungan-hubungan yang saling menguntungkan.
c) Membangun dan memelihara persahabatan pribadi di antara sesama mitra kerja.
7) Kolaborasi dan kooperasi, yaitu kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama.
a) Menyeimbangkan pemusatan perhatian kepada tugas dengan perhatian kepada
hubungan.
b) Kolaborasi berbagai rencana, informasi, dan sumber daya.
c) Mempromosikan iklim kerja sama yang bersahabat.
d) Mendeteksi dan menumbuhkan peluang-peluang untuk kolaborasi.
8) Kemampuan tim, yaitu menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan
bersama. Orang dengan kecakapan ini:
a) Menjadi teladan dalam kualitas tim seperti memberikan perhatian, kesediaan
membantu orang lain, dan kooperasi.
b) Mendorong setiap anggota tim berpartisipasi secara aktif dan penuh antusiasme.
c) Membangun identitas tim, semangat kebersamaan dan komitmen (Goleman,2002:271-
350).
Atas dasar inilah seorang siswa harus mempunyai sikap keterampilan sosial meskipun
dalam kapasitas kecil, karena dengan manusia khususnya siswa SMK mempunyai sikap
keterampilan sosial yang dikelola dengan baik maka tidak salah kalau nantinya peserta didik
tersebut bisa menjadi seorang pemimpin atau seorang motivator untuk diri sendiri dan orang
lain dilingkungan orang itu berada. Dalam konteks seorang siswa, akan menghasilkan seorang
siswa yang mampu untuk menjadi pemimpin dikelasnya, pemimpin diskusi, pemimpin belajar,
pemimpin diskusi dan yang paling penting pembahasan pendidikan karakter ini adalah dengan
seorang siswa menjadi seorang yang sukses dengan mengelola kecerdasan emosionalnya
sendiri, maka kecerdasan yang lain meliputi IQ, ESQ dan sebagainya akan selalu mengikuti
dan menghasilkan generasi muda bangsa Indonesia yang sukses sesuai dengan Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015 serta UU No. 20 th 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Seluruh ciri-ciri manusia yang memiliki EQ tinggi sebagaimana dirumuskan Goleman
(2002:50) merupakan ciri yang harus dimiliki oleh para star performer, tetapi juga dapat
diterapkan pada segala aktivitas termasuk dalam berdakwah dalam tatanan agama. Dalam hal
ini Goleman menyatakan bahwa aturan kerja ini telah berubah, manusia dinilai berdasarkan
tolak ukur baru, tidak hanya berdasarkan tingkat kepandaian, atau berdasarkan pelatihan dan
pengalaman, tetapi juga berdasarkan sikap baik mengelola diri sendiri dan berhubungan
dengan orang lain. Aturan hampir tidak berhubungan dengan yang dahulu dianggap penting
saat menuntut ilmu. Kemampuan akademik hampir tidak berkaitan dengan standar ini. Alat ukur
baru ini sudah dengan teknik yang memadai untuk mengerjakan tugas-tugas, namun berbeda
dengan yang lama, alat ukur baru ini memusatkan perhatian pada kualitas pribadi. Hal ini
dapat dilihat dengan adanya ciri-ciri EQ yang dikemukan Goleman, seperti kesadaran diri,
pengaturan diri, dan motivasi dibandingkan dengan kecakapan sosial (empati dan keterampilan
sosial).
Adanya ciri-ciri tersebut di atas, juga telah memperlihatkan hubungan antara kelima
dimensi kecerdasan emosi dan dua puluh lima kecakapan emosi. Dan analisis skala yang
ditetapkan Goleman tidak seorangpun yang sempurna melaksanakan mempunyai profil
kekuatan dan batas-batas sendiri. Untuk itu yang harus dilakukan adalah bagaimana belajar
untuk terus berbenah diri menjadi profil yang ideal.

Pada studi ini menggunakan angket motivasi belajar yang berupa pernyataan singkat dengan
4 alternatif jawaban yaitu Selalu, Sering , kadang- kadang dan tidak pernah. Adapun langkah-
langkah penyusunan angket adalah sebagai berikut:
1) Menyusun kisi-kisi angket berdasarkan indikator yang sesuai dengan motivasi;
2) Menyusun butir-butir angket berdasar kisi-kisi yang telah dibuat;
3) Melakukan validasi isi terhadap butir-butir angket yang dilakukan oleh pakar;
4) Merevisi butir-butir angket berdasarkan saran dari pakar;
5) Menguji coba instrument angket;
Uji-uji untuk angket penerapan soft skill, sebagai berikut :
1. Uji Validitas
Validitas dari suatu instrumen biasanya dinilai oleh para pakar (Budiyono, 2003:65),
sehingga validitas isi dari instrumen penelitian ini akan dilakukan oleh pakar. Pengukuran
validitas instrumen angket motivasi belajar dengan formula Aiken menggunakan bantuan
program Excel. Validasi isi dilakukan pada 7 raters yang berasal dari 2 Psikolog, 3 sarjana
Psikologi, 1 guru bimbingan konseling, dan 1 ahli bahasa. Formula Aiken sebagai berikut
(Azwar, 2015: 113).
∑𝑠
𝑉 = [𝑛(𝑐−1)]

Keterangan:
s = r – lo
r = angka yang diberikan oleh penilai
lo = angka penilaian validitas yang terendah
c = angka penilaian validitas tertinggi
koefisien validitas sekitar 0,7 masih dapat diterima dan dinilai memuaskan (Aiken,
1980)

2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas yang digunakan pada angket motivasi belajar matematika ini dengan metode
rumus Alpha, yaitu:

 n   si 
2

r11    1 2  (Budiyono, 2003: 70)


 n  1  st 

dengan
r11 = indeks reliabilitas instrumen
n = banyaknya butir instrumen
si2 = variansi butir ke-i, i = 1, 2, ..., n
st2 = variansi skor total yang diperoleh subyek uji coba.
Menurut Budiyono (2003:72) bahwa tidak ada ketentuan baku dalam menentukan
nilai indeks reliabilitas yang memenuhi syarat baik. Tetapi biasanya, diambil nilai 0,70. Ini
berarti, hasil pengukuran yang mempunyai indeks reliabilitas 0,70 atau lebih cukup baik
nilai kemanfaatannya dalam arti instrumennya dapat dipakai untuk melakukan pengukuran.
HASIL UJI COBA OBSERVASI SOFT SKILL

1. Nama Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam studi ini adalah observasi soft skill
2. Kegunaan Instrumen
Instrumen observasi soft skill merupakan alat yang digunakan untuk mengukur sikap. Sikap dalam
studi ini berupa observasi soft skill
3. Panjang Instrumen
Instrumen observasi observasi soft skill terdiri atas 5 item. Berdasarkan hasil validasi Instrumen
observasi observasi soft skill yang dilakukan oleh 5 expert judgment dan uji coba kepada 100
responden, didapat simpulan bahwa sebanyak 5 item favourable dan 0 item unfavourable.
4. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Observasi Jiwa Kewirausahaan
a. Validitas
Pengukuran validitas instrumen observasi observasi soft skill dengan formula Aiken
menggunakan bantuan program Excel. Validasi isi dilakukan pada 5 raters yang berasal dari 2
Psikolog, 2 sarjana Psikologi, 1 guru bimbingan konseling, dan 1 ahli bahasa. Formula Aiken
sebagai berikut (Azwar, 2015: 113).

∑𝑠
𝑉 = [𝑛(𝑐−1)]

Keterangan:

s = r – lo

r = angka yang diberikan oleh penilai

lo = angka penilaian validitas yang terendah

c = angka penilaian validitas tertinggi

koefisien validitas sekitar 0,7 masih dapat diterima dan dinilai memuaskan (Aiken, 1980)

Tabel 1.
Indeks Aiken pada Setiap Item Observasi Soft Skill

Nomor Butir Validator Indeks


Soal 1 2 3 4 5 Aiken
1 4 4 4 3 3 1.00
2 3 4 4 4 3 1.00
3 3 3 4 4 4 1.00
4 3 3 4 4 4 1.00
Nomor Butir Validator Indeks
Soal 1 2 3 4 5 Aiken
5 3 3 4 4 4 1.00
6 3 3 4 4 4 1.00
7 2 3 3 4 4 0.93
8 2 3 4 4 4 1.00
9 3 3 4 4 4 1.00
10 3 3 4 3 4 0.93
11 3 3 4 3 4 0.93
12 3 3 2 4 4 0.93
13 3 3 2 4 4 0.93
14 3 3 3 4 4 0.93
15 2 3 4 4 4 1.00
16 2 3 4 4 4 1.00
17 3 3 4 3 4 0.93
18 3 3 4 3 4 0.93
19 3 3 4 4 2 0.93
20 3 3 4 4 4 1.00
21 3 3 4 4 2 0.93
22 3 3 4 4 4 1.00
23 3 3 3 3 4 0.87
24 3 3 4 4 4 1.00
25 3 3 4 4 4 1.00
26 3 3 4 4 4 1.00
27 3 3 4 4 4 1.00
rata-rata 0.97

Berdasarkan tabel tersebut disimpulkan bahwa data uji coba observasi soft skill adalah valid dengan
indeks validitas 0,97 diartikan bahwa validitas tinggi