Anda di halaman 1dari 23

UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH
STANDARISASI DAN PROFESIONALISME PENDIDIKAN (S3)
UNINUS BANDUNG

DOSEN PEMBINA
PROF. DR. H.E. MULYASA

Oleh

MAIMUNAH
NIS: 4103801414117

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2016
JAWAB SEMUA SOAL DI BAWAH INI DENGAN JELAS
1. Jelaskan pentingnya standarisasi dan profesionalisasi pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan
kualitas pendidikan, SNP, KKNI, dan penjaminan mutu pendidikan. Berikan ilustrasinya di lapangan
(sekolah/lembaga-lembaga pendidikan).
2. Lakukan analisis terhadap manajemen pendidikan karakter dalam konteks standarisasi dan
profesionalisasi pendidikan berdasarkan fakta, kebijakan, tiori, serta pemahaman saudara terhadap
contect, input, proses, product, output, dan outcome pendidikan dalam kaitannya dengan renstranas
pendidikan.
3. Dalam konteks standarisasi dan profesionalisme pendidikan; apakah uji kompetensi dan penilaian
kinerja guru yang paling baik dikelola oleh pemerintah pusat atau oleh pemerintah daerah?; siapakah
yang seharusnya memberikan jaminan mutu, dan bagaimanakah halnya dengan manajemen
madrasah/sekolah, pesantren, serta lembaga pendidikan swasta yang dikelola oleh masyarakat.
4. Dalam renstra pendidikan dikemukakan bahwa masalah mutu pendidikan berkaitan dengan
ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan, prasarana dan sarana belajar, pendanaan pendidikan,
serta proses pembelajaran yang belum efisien dan efektif. Bagaimana permasalahan tersebut dapat
dilakukan perbaikan secara berkesinambungan melalui Penelitian Tindakan Sekolah (PTS); berikan
contohnya.
5. Lakukan analisis SWOT terhadap tupoksi dan kompetensi kepala sekolah profesional; kemudian
rumuskan strategi-strategi yang paling efektif untuk mengembangkan sekolah sesuai dengan
tuntutam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Selamat bekerja sukses

1. Jelaskan pentingnya standarisasi dan profesionalisasi pendidikan dalam kaitannya


dengan peningkatan kualitas pendidikan, SNP, KKNI, dan penjaminan mutu
pendidikan. Berikan ilustrasinya di lapangan (sekolah/lembaga-lembaga pendidikan).
Di beberapa negara Asia proses pengembangan standarisasi sedang berjalan untuk para guru
dalam meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan. Diketahui guru adalah sebagai
media perubahan karena perilaku, sikap dan metode mereka yang dapat meningkatkan bahkan
menghambat kemampuan anak dalam belajar. Dengan demikian perlunya perhatian pada
ketrampilan guru, dengan fokus pada bagaimana guru dapat menciptakan lingkungan
pembelajaran di mana anak tidak hanya lulus ujian, namun juga menilai dan mengupayakan
partisipasi dan kontribusi dari semua siswa, serta mendukung dalam menghargai perbedaan.
Karena anak bersekolah, mendapat manfaat dari sekolah tergantung pada apa yang terjadi di
dalam kelas. Pendidikan guru harus memainkan peran transformasi para guru menjadi praktisi
yang mampu dan bersedia untuk mengintropeksi diri mereka masing-masing.
Standar Mutu Untuk pengembangan standar, penting mengenal pengetahuan, pemahaman,
ketrampilan dan nilai apakah yang harus menjadi ciri khas pembelajaran yang professional.
Oleh karena itu sangat penting untuk melibatkan guru dalam perkembangan dan menetapkan
standar. Standarisasi membantu mengenali guru yang baik, pengembangan panduan
professional, meningkatkan kegiatan belajar-mengajar pada tingkat sekolah dan meningkatkan
tanggungjawab guru. Bagi sistem pendidikan, standarisasi menyediakan sebuah patokan dalam
hal seleksi, akreditasi, promosi, pengembangan profesi dan dukungan bagi guru. Indikator
pengawasan standar profesional guru harus termasuk pengetahuan serta kinerja mereka.
Contoh Standar Guru
Kebanyakan Negara memiliki 9-14 standar. Untuk tujuan dari artikel ini berikut beberapa
contoh standar dan indikator yang dikumpulkan dari Negara yang berbeda.
Standar 1: Isi / Muatan Pengetahuan

Guru memahami konsep 1.1 Guru menunjukkan perkembangan terkini dalam teori
pokok, metode penelitian kependidikan dan pedagogi khusus mata pelajaran berbasis
dan struktur dari mata penelitian
pelajaran dan mengetahui 1.2 Guru menunjukkan pengetahuan kebutuhan kurikulum
bagaimana menciptakan sekolah.
pengalaman belajar yang
berarti bagi siswa yang
berbeda, serta
menghubungkannya pada
perkembangan terkait
dalam teori
kependidikan.

Standar 2: Penyampaian Instruksi

Guru memiliki 2.1 Guru tahu bagaimana meningkatkan pembelajaran untuk


pengetahuan yang baik siswa dengan beragam karakteristik belajar melalui penggunaan
dalam strategi instruksi materi, sumber daya manusia dan teknologi yang beragam
beragam dan 2.2 Guru mengkombinasikan perannya selama proses belajar-
menggunakannya untuk mengajar sebagai instruktur, fasilitator, penasehat atau
mendorong pendengar kaitannya dengan isi dan tujuan instruksi dan
perkembangan siswa kebutuhan siswa.
dalam berpikir kritis, 2.3 Guru menunjukkan pengetahuan dan memahami proses
menyelesaikan masalah, akuisisi bahasa kedua dan strategi untuk mendukung
kemampuan belajar pembelajaran siswa dengan bahasa ibu yang berbeda.
mandiri berdasar
pengetahuan tentang
kedisiplinan, siswa yang
beragam, masyarakat dan
tujuan kurikulum.
Standar 3: Pelaksanaan dan Pengembangan Pribadi dan Profesionalisme

Guru terus-menerus 3.1 Guru menunjukkan rasa menghargai terhadap kebudayaan,


merefleksikan dan agama, gender dan orientasi seksual masing-masing siswa dan
mengevaluasi bagaimana keluarga mereka
pilihan dan tindakan 3.2 Guru menggunakan observasi kelas, informasi tentang
mempengaruhi siswa, siswa, pengetahuan dan penelitian pedagogi sebagai sumber
dan mencari kesempatan bagi intropeksi aktif, evaluasi dan revisi praktis.
secara aktif untuk
mengembangkan
profesionalisme dan
pribadi.

Standar 4: Pembelajaran dan Pengembangan

Guru memahami 4.1 Guru menunjukkan pengetahuan gaya dan kebutuhan


bagaimana individu pembelajaran yang berbeda serta strategi untuk mengajar siswa
tumbuh, berkembang dan dengan kebutuhan yang beragam
belajar. Guru 4.2 Guru memahami prinsip dan strategi manajemen kelas yang
menyediakan efektif, disamping selalu mengingat aturan dan kebijakan resmi
kesempatan belajar yang 4.3 Guru menggunakan informasi tentang keluarga, kebudayaan
mendukung dan lingkungan masyarakat siswa dalam menghubungkan
perkembangan instruksi terhadap pengalaman siswa dan pelajaran sebelumnya.
intelektual, sosial dan 4.4 Guru mengenalkan konsep dan prinsip pada tingkat
pribadi dari semua siswa. kesulitan yang berbeda sehingga hal ini dapat dimengerti bagi
para siswa di tingkat perkembangan yang bervariasi.

StandarStandar 5: Kemampuan Komunikasi

Guru menggunakan 5.1 Guru memahami teori komunikasi, perkembangan bahasa,


pengetahuan yang dan peran bahasa dalam pembelajaran.
efektif, tertulis, lisan, 5.2 Guru menggunakan tehnik kuisioner yang efektif dan
non-lisan, dan tehnik menstimulasi diskusi dalam cara yang berbeda untuk tujuan
komunikasi visual untuk instruksional tertentu.
membantu 5.3 Guru menerapkan kemampuan mendengarkan yang efektif,
perkembangan penyelesaian konflik dan fasilitasi kelompok.
mengekspresikan diri,
berkolaborasi dan
interaksi yang
mendukung di dalam
kelas.

Standar 6: Asesmen, Pengawasan dan Penyediaan Umpan-Balik yang Efektif

Guru mempunyai 6.1 Guru memahami tujuan, karakteristik dan keterbatasan dari
jangkauan yang luas jenis asesmen yang berbeda (misalnya formatif, sumatif dan
dalam strategi asesmen asesmen berbasis otentik dan kurikulum)
formatif dan sumatif 6.2 Guru memahami bagaimana menggunakan hasil asesmen
yang efektif serta dalam merefleksikan, dan memodifikasi pendekatan belajar-
menggunakannya untuk mengajar
mendukung kelanjutan 6.3 Guru mengetahui metode pengawasan kemajuan siswa
hasil perkembangan dengan kesulitan belajar atau dengan cacat ringan/sedang.
intelektual, sosial, fisik
dan emosional bagi
semua siswa.

Standar 7: Hubungan Kerjasama

Guru memperlihatkan 7.1 Guru memahami manfaat, hambatan dan tehnik yang ada di
pemahaman peran dalam hubungan orangtua/keluarga
masyarakat dalam 7.2 Guru berpartisipasi dalam kerjasama dalam membuat
pendidikan dan keputusan dan penyelesaian masalah dengan tenaga ahli yang
memelihara hubungan lainnya untuk mencapai keberhasilan siswa.
kerjasama dengan rekan
kerja, orangtua
siswa/wali, dan
masyarakat untuk
mendukung minat dan
belajar siswa

2. Lakukan analisis terhadap manajemen pendidikan karakter dalam konteks standarisasi


dan profesionalisasi pendidikan berdasarkan fakta, kebijakan, tiori, serta pemahaman
saudara terhadap contect, input, proses, product, output, dan outcome pendidikan dalam
kaitannya dengan renstranas pendidikan.
Pemerintah dan rakyat Indonesia, dewasa ini sedang gencar-gencarnya mengimplementasikan
pendidikan karakter di institusi pendidikan ; mulai dari tingkat dini (PAUD), sekolah dasar
(SD/MI), sekolah menengah (SMA/MA), hingga perguruan tinggi. Melalui pendidikan
karakter yang diimplementasikan dalam institusi pendidikan, diharapkan krsisis degradasi
karakter atau moralitas anak bangsa ini dapat segera teratasi. Lebih dari itu diharapkan di masa
yang akan datang terlahir generasi bangsa dengan ketinggian budi pekerti atau karakter. Itulah
ancangan mulia pemerintah dan rakyat Indonesia, yang patut didukung oleh segenap elemen.
Munculnya kesadaran mengaplikasikan pendidikan karakter tersebut, karena melihat
fenomena degradasi moralitas generasi muda saat ini, yang penulis istilahkan “sudah di
ambang sekarat”, carut marut moralitas anak bangsa saat ini dapat kita amati dalam kehidupan
sehari-hari. Contoh paling sederhana adalah ketika berlalu-lintas, di mana bukan hanya
hilangnya ketaatan pada rambu-rambu atau aturan yang ada, tetapi juga sudah sirnanya
toleransi dan sopan-santun antar sesama pengguna jalan. Data teranyar yang lagi hangat-
hangatnya, mewartakan terjadinya kembali tawuran antar pelajar dan antar mahasiswa,
sungguh sangat memalukan.
Contoh lain yang tarafnya lebih akut, seperti hilangnya penghormatan pada orang yang lebih
tua, budaya mencontek/menjiplak ketika ulangan atau ujian, pergaulan bebas tanpa batas, seks
bebas, mengkonsumsi bahkan menjadi pecandu narkoba, menjadi kelompok geng motor yang
anarkhis, dan masih banyak lagi. Jika banyak generasi muda kita yang keluar dari rambu-
rambu susilan, sebagian generasi tua juga tidak mau kalah. Banyak politikus di negeri ini yang
tidak menunjukkan ketinggian karakter, tetapi malah sebaliknya. Mereka tanpa berdosa
mengkorupsi habis uang rakyatnya. Jika tidak, mereka membuat kebijakan-kebijakan yang
menyengsarakan rakyatnya. Para politikus ini menjelam menjadi manusia
“pembohong”.Bangsa kita, sepertinya saat ini telah kehilangan kearifan lokal yang emnjadi
karakter budaya bangsa sejak berabad-abad lalu.
Di sisi lain, ada anggapan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter memang belum optimal.
Pada kondisi demikian sukar diharapkan perbaikan karakter, bisa jadi disebabkan ketidaksiapan
dan kekurangpahaman para guru mengajarkannya. Karena sifatnya yang instan, berbagai training,
pelatihan dan workshop pendidikan karakter yang sudah diikuti, belum mampu dilaksanakan oleh
para guru.Selain ketidakpahaman bagaimana mengajarkan pendidikan karakter, bisa jadi para
gurunya sendiri belum berkarakter. Para guru belum bisa menjadi figur tauladan, yang perilakunya
bisa dijadikan model bagi peserta didik. Para guru, alih-alih memberi tauladan bagaimana
berperilaku yang santun dan berkarakter, mereka justru sering unjuk kekerasan dan kebringasan.
Seperti ketika ada peserta didik datang terlambat atau tidak mampu mengerjakan soal ulangan.
Menangani fenomena tersebut, semestinya menjadi action para guru mengaplikasikan
pendidikan karakter; bagaimana anak didik tidak dibentak, tidak dipermalukan di depan teman-
temannya, tidak direndahkan harga dirinya, serta bagaimana mestinya guru memberi punishment
yang mendidik. Memang, ada sebagaian guru yang dengan tulus dan ikhlas membangun karakter
peserta didiknya. Sayangnya jumlah guru sebagaimana disebutkan sedikit sekali. Para guru itu,
laksana Ibu Muslimah, Ki Hadjar Dewantara, KH Hasyim As’ary, KH Ahmad Dahlan atau para
guru bangsa lainnya, mengajar sembari menginternalisasikan karakter kepada peserta didiknya.
Sosok seperti mereka itulah, yang akan membawa keberhasilan implementasi pendidikan karakter.
Di sisi lain, belum ada kerjasama yang sinergis antara sekolah, masyarakat dan
keluarga.Misalnya saja, sekolah sudah berupaya menanamkan pendidikan karakter tetapi di
masyarakat dan keluarga justru mnegebiri dan mngikis nilai-nilai yang sudah diajarkan itu.
Lingkungan keluarga yang mestinya merupakan lahan subur menyemai nilai-nilai karakter, justru
menjadi penjara yang penuh kekerasan dan keberingasan. Banyak orang tua yang berdalih
mengenai pemenuhan tuntutan ekonomi, justru abai dengan anak-anaknya. Belum lagi yang
lingkungan keluarganya tidak harmonis, orang tua seperti lupa, bahwa nak adalah titipan Tuhan
yang harus dididik, dirawat dan diiringi tumbuh kembangnya dengan baik, kemudian membentuk
karakter peserta didik. Akan menjadi kerja yang sia-sia, ketika menganjurkan peserta didik untuk
berperilaku mulia, sementara gurunya sendiri tidak berkarakter.
Pendek kata, dari sosok guru yang memancarkan karakter luhur itulah besar kemungkinan
internalisasi pendidikan karakter efektif.
B. Mengingat (Kembali) Pendidikan Karakter
a. Apa Itu Karakter dan Pendidikan Karakter?
Jika dilihat dari asal-usul kata, banyak sekali pendapat mengenai dari mana kata “karakter” itu
berasal. Ada yang berpendapat jika akar kata “karakter” ini, berasal dari kata dalam bahasa
Latin, yaitu “kharakter”, “kharassein”, dan “kharax”, yang bermakna “tools for making”, “to
engrave”, dan “pointed stake”. Kata ini konon banyak digunakan dalam bahasa Perancis
sebagai “caractere” pada abad ke-14. Ketika masuk ke dalam bahasa Inggris, kata “caractere”
ini berubah menjadi “character”.
Adapun di dalam bahasa Indonesia kata “character” ini mengalami perubahan menjadi
“karakter” ( Dani Setiawan, 2010).
Seperti halnya mengenai asal-usul, definisi para ahli mengenai karakter sendiri bermacam-
macam, tergantung dari sisi atau pendekatan apa yang dipakai.
 Menurut American Dictionary of the English Language (2001:2192), karakter merupak
istilah yang menunjuk kepada aplikasi nilai-nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku.
 Sementara dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan sebagai tabiat , sifat-
sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain,
dan watak.
 Menurut (Doni Koesoema, 2007: 80) adapun kepribadian
 Adapun kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang
bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada
masa kecil, dan bawaan sejak lahir.
 Menurut Thomas Lickona (1991:52), karakter mulia mengenai pengetahuan kebaikan
(mpral knowing), lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan (moral feeling),
dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (mora behavior). Dengan kata lain, karakter
mengacu pada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudess), dan motivasi
(motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).
 Menurut Ki Hadjar Dewantara (2011:25), memandang karakter itu sebagai budi pekerti
atau watak. Budi pekerti adalah bersatunya antara gerak fikiran, perasaan, dan kehendak
atau kemauan, yang kemudian menimbulkan tenaga.
 Menurut Kemendiknas (2010), karakter adalah watak, tabiat, watak, atau kepribadian
seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues), yang
diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan
bertindak.
b. Nilai-nilai Dalam Pendidikan Karakter
Nilai-nilai karakter mulia itu dapat kita temukan dalam adat dan budaya hampir di setiap suku
bangsa di negeri ini. Seperti dalam adat dan budaya suku Jawa, Sunda, Sasak, Bugis, Minang,
Asmat, Dayak, dan sebagainya. Nilai-nilai luhur ini merupakan aspek utama yang
diinternalisaasikan kepada peserta didik melalui pendidikan karakter. Lokalitas menjadi
penting dikedepankan dalam pendidikan karakter, sehingga peserta didik tidak tercerabut dari
akar dan budayanya.
Hendaknya nilai-nilai luhur yang berasal dari adat dan budaya lokal lebih diutamakan untuk
diinternalisasikan kepada peserta didik melalui pendidikan karakter. Sebagai contoh, dalam
masyarakat Jawa nilai-nilai “adiluhung” yang terdapat dalam adat dan budaya Jawa seperti
tepo seliro, menghormati yang lebih tua, menghormati alam, dan lingkungan hidup, mencium
tangan orang tua atau guru, dan sebagainya hendaknya lebih diutamakan untuk
diinternalisasikan kepada peserta didik.
c. Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah
Penulis menguraikan bahwa implementasi pendidikan karakter bisa dilakukan melalui :
a) Terintegrasi dalam pembelajaran;
b) Terintegrasi dalam pengembangan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler, dan
c) Terintegrasi dalam manajemen sekolah.
Pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kegiatan pengembangan diri, artinya berbagai hal
terkait dengan karakter diimplementasikan dalam kegiatan pengembangan diri melalui
kegiatan ekstra kurikuler. Beberapa kegiatan ekstra kurikuler yang memuat pembentukan
karakter antara lain :
a. Olah raga (sepak bola, bola voli, bulu tangkis, tenis meja, dan lain-lain),
b. Keagamaan (baca tulis Al-Quran, kajian hadis, ibadah, dan lain-lain),
c. Seni Budaya (menari, menyanyi, melukis,teater),
d. KIR,
e. Kepramukaan,
f. Latihan Dasar Kepemimpinan Peserta Didik (LDKS),
g. Palang Merah Remaja (PMR),
h. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA),
i. Pameran, Lokakarya,
j. Kesehatan, dan lain-lainnya.
Adapun pendidikan karakter yang terintegrasi dalam manajemen sekolah artinya berbagai hal
terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma, dan ketaqwaan, dan lain-lain), dirancang dan
diimplementasikan dalam aktivitas manajemen sekolah, seperti pengelolaan : peserta didik,
regulasi/peraturan sekolah, sumber daya mansia, sarana dan prasarana, keuangan, perpustakaan,
pembelajaran, penilaian, dan informasi, serta pengelolaan lainnya.
Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam struktur kurikulum di sekolah pada umunya ada dua
mata pelajaran yang terkait langsung dengan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu
pendidikan Agama dan PKn. Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara
langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik
peduli dan menginternalisasi nilai-nilai. Dengan kata lain, tidak setiap mata pelajaran diberi
integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai utama saja.
Menurut Lickona (2007), pendidikan karakter di sekolah dapat berjalan secara efektif jika para
pendidikan prinsip-prinsip berikut :
a. Nilai-nilai etika inti hendaknya dikembangkan, sementara nilai-nilai kinerja pendukungnya
dijadikan sebagai dasar atau fondasi;
b. hendaknya didefinisikan secara komprehensif, disengaja, dan proaktif;
c. Pendekatan yang digunakan hendaknya komprehensif, disengaja, dan proaktif;
d. Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian;
e. Berikan peserta didik kesempatan untuk melakukan tindakan moral;
f. Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang, yang menghormati semua peserta
didik, mengembangkan karakter, dan membantu mereka untuk berhasil;
g. Usahakan mendorong motivasi diri peserta didik.
h. Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajarn dan moral;
i. Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral;
j. Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra;
Evaluasi karakater sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana peserta
didik memanifestasikan karakter yang baik.
Pengembangan Pendidikan Karakters elanjutnya , pendidikan karakter dikembangkan melalui
tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Pendidikan karakter
tidak terbatas pada pengetahuan saja. Pendidikan karakter hendaknya juga menjangkau wilayah
emosi dan kebiasaan diri, Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik
(components of good character) yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral acting. Hal ini
diperlukan agar peserta didik dan warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem pendidikan
tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan (mengerjakan)
nilai-nilai kebajikan (moral). Dalam mengimplementasikan pendidikan karakter, komunitas
sekolah tidak bekerja dan berjuang sendiri. Akan tetapi, sekolah hendaknya bekerjasama dengan
masyarakat di luar lembaga pendidikan; seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara. Dengan
desain demikian , diharapkan pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap
rongga pendidikan.
Dalam konteks standarisasi dan profesionalisme pendidikan; apakah uji kompetensi dan penilaian kinerja
guru yang paling baik dikelola oleh pemerintah pusat atau oleh pemerintah daerah?; siapakah yang
seharusnya memberikan jaminan mutu, dan bagaimanakah halnya dengan manajemen madrasah/sekolah,
pesantren, serta lembaga pendidikan swasta yang dikelola oleh masyarakat
Uji kompetensi Guru merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan harkat dan martabat
guru, serta memberikan jaminan mutu layanan dan pendidikan sesuai amanat undang-undang guru dan
dosen. Melalui UKG ini diharapkan diperoleh gambaran dan pemetaan terhadap kompetensi dan kinerja
guru sebagai dasar untuk melalkukan pembinaan agar guru dan tenaga kependidikan dapat memenuhi
standar pelayanan guru agar memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan standar nasional
penddikan, sesuai dengan kebutuhan profesi, harapan dan cita-cita masyarakat, serta sesuai dengan
perkembangan , teknologi dan seni yang semakin berkembang.
Uji kompetensi merupakan tindak lanjut dari program pemerintah berkaitan dengan sertifikasi guru yang
mulanya dilakukan dengan fotopolio. Beberapa guru telah berhasil mengikuti setifikasi ini , mereka telah
memiliki sertifikasi pendidikan dan dinyatakan sebagai guru professional.
Penjaminan mutuu pendidikan (Quality Assurance) adalah proses penetapan dan pemenuhan
standar mutu peneglolaan secra konsisten dan berkelanjutan, sehingga stakeholders memperoleh
kepuasan.Penjaminan mutu atau kualitas adalah seluruh rencana tindakan sistematis yang pentimg
umtuk menyediakan kepercayaan yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tertentu dari
kualitas (Elliot,1993) dalam Saputa H. Sisitem penjaminan mutu. Sedangkan, menurut (Gryjna ,
1988) dalam Saputra H. sistem penjaminan mutu, dalam ( pp no. 19/ 2005 pasal
49) Penjaminankualitas merupakan kegiatan untuk memberikan bukti untuk membangun
kepercayaan bahwa kualitas dapat berfungsi dengan baik dalam. Penjaminan mutu secara internal
oleh satuan penididikan adalah pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang
dikdasmen menerapkan menejemen berbasis sekolah: kemendirian, kemitraan, partisipasi,
keterbukaan, dan akuntabilitas
Dalam PP no. 19/2005 pasal 65 Satuan Pendidikan mengembangkan visi dan misi dan evaluasi
kinerja masing-masing. Sedangkan dalam PP no. 19/2005 pasal 91, Satuan Pendidikan wajib
melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui SNP. Secara singkat,
implementasi SPMP terdiri dari rangkaian proses/tahapan yang secara siklik dimulai dari (1)
pengumpulan data, (2) analisis data, (3) pelaporan/pemetaan, (4) penyusunan rekomendasi, dan
(5) upaya pelaksanaan rekomendasi dalam bentuk program peningkatan mutu pendidikan.
Sekolah perlu membentuk Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri dari berbagai unsur
stakeholders yaitu, kepala sekolah, pengawas sekolah, perwakilan guru, komite sekolah, orang tua,
dan perwakilan lain dari kelompok masyarakat yang memang dipandang layak untuk
diikutsertakan karena kepedulian yang tinggi pada sekolah. Dalam melaksanakan SPMP,
Pengawas Pendidikan yang bertugas sebagai
pembina sekolah juga harus dilibatkan dalam TPS, sebagai wakil dari pemerintah.
Tujuan Penjaminan mutu
Tujuan kegiatan penjaminan mutu bermanfaat, baik bagi pihak internal maupun eksternal
organisasi. Menurut Yorke (1997) Saputra H. Perkembangan Penjaminan Mutu dalam
Pendidikan, tujuan penjaminan (Assurance) terhadap kualitas tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Membantu perbaikan dan peningkatan secara terus-menerus dan berkesinambungan melalui
praktek yang terbaik dan mau mengadakan inovasi.
2. Memudahkan mendapatkan bantuan, baik pinjaman uang atau fasilitas atau bantuan lain dari
lembaga yang kuat clan dapat dipercaya.
3. Menyediakan informasi pada masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten, dan bila
mungkin, membandingkan standar yang telah dicapai dengan standar pesaing.
4. Menjamin tidak akan adanya hal-hal yang tidak dikehendaki.
Selain itu, tujuan dari diadakannya penjaminan kualitas (quality assurance) ini adalah agar dapat
memuaskan berbagai pihak yang terkait di dalamnya, sehingga dapat berhasil mencapai sasaran
masing-masing. Penjaminan kualitas merupakan bagian yang menyatu dalam membentuk kualitas
produk dan jasa suatu organisasi atau perusahaan. Mekanisme penjaminan kualitas yang
digunakan juga harus dapat menghentikan perubahan bila dinilai perubahan tersebut menuju ke
arah penurunan atau kemunduran.
Berkaitan dengan penjaminan kualitas, Stebbing dalam Dorothea E. Wahyuni (2003)
dalamSanaky perkembangan Penjaminan Mutu Pendidikan menguraikan mengenai kegiatan
penjaminan kualitas sebagai berikut :
· Penjaminan kualitas bukan pengendalian kualitas atau inspeksi. Meskipun program penjaminan
kualitas (quality assurance) mencakup pengendalian kualitas dan inspeksi, namun kedua kegiatan
tersebut hanya merupakan bagian dari komitmen terhadap mutu secara menyeluruh.
· Penjaminan kualitas bukan kegiatan pengecekan yang luar biasa. Dengan kata lain, departemen
pengendali kualitas tidak harus bertanggung jawab dalam pengecekan segala sesuatu yang
dikerjakan oleh orang lain.
· Penjaminan kualitas bukan menjadi tanggung jawab bagian perancangan. Dengan kata lain,
departemen penjaminan kualitas bukan murupakan keputusan bidang perancangan atau teknik,
tetapi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan
dalam bidang-bidang yang dibutuhkan dalam perancangan.
· Penjaminan kualitas bukan bidang yang membutuhkan biaya vang sangat besar.
Pendokumentasian dan sertifikasi yang berkaitan dengan penjaminan kualitas bukan pernborosan.
· Kegiatan penjaminan kualitas merupakan kegiatm pengendalian melalui prosedur secara benar,
selungga dapat mencapai perbaikan dalam efisiensi, produktivitns, dan profitabilitas.
· Penjaminan kualitas bukan merupakan obat yang mujarab untuk menyembuhkan berbagai
penyakit. Dengan penjaminan kualitas, justru akan dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik
sejak awal dan setiap waktu (do it right the first time and every time)
Substansi utama system penjamina mutu penididikan (SPM) pendidikan dilaksanakan dengan
pendekatan siklus PDCA (Plan – Do – Check – Action) pada proses penyelenggaraan pendidikan.
a. Perencanaan Mutu (Plan)
Plan, adanya perencanaan berkaitan dengan perencanaan mutu, meliputi penetapan kebijakan
mutu, penetapan tujuan mutu beserta indikator pencapaiannya, serta penetapan prosedur untuk
pencapaian tujuan mutu.
b. Pelaksanaan (Do)
Do, adanya pelaksanaan dari apa yang sudah direncanakan. Maka untuk menjamin mutu
pendidikan, seluruh proses pendidikan, termasuk pelayanan administrasi pendidikan dilaksanakan
sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.
c. Evaluasi (Check)
Adanya monitoring, pemeriksaan, pengukuran dan evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil
pelasanaan termasuk audit mutu internal.
d. Action, adanya tindak lanjut dan perbaikan dari hasil evaluasi.
menyusun rencana perbaikan dan menyusun laporan pelaksanaan program pendidikan. -
Penjaminan Mutu dibutuhkan oleh pendidikan adalah untuk ;
(a) Memeriksa dan mengendalikan mutu; (b) Meningkatkan mutu; (c) Memberikan jaminan pada
stakeholders; (d) Standarisasi, (e) Persaingan nasional dan internasional; (f) Pengakuan lulusan;
(g) Memastikan seluruh kegiatan institusi berjalan dengan baik dan terus meningkat secara
berkesinambungan; dan (h) Membuktikan kepada seluruh stakeholders bahwa institusi
bertanggung jawab (accountable) untuk mutu seluruh kegiatannya
Landasan yuridis SPMP UU No: 20 TAHUN 2003 TENTANG SISDIKNAS Pasal 1 ayat
21; Didasarkan pada: UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionaldan PP No. 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Pokja Penjaminan Mutu 2003 ; (a)
Penetapan Standar Mutu; (b) Pelaksanaan; (c) Evaluasi; (d) Pencapaian dan peningkatan standar;
dan (e) BenchmarkiEvaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan dan
penetapan mutu pendidikan …. dst sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan
pendidikan. Pasal 35 ayat 1; Standar Nasional pendidikan terdiri standar isi, proses, kompetensi
lulusan …. dst., dan Pasal 50 ayat 2; Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar
nasional pendidikan untuk menjamin mutu …. dst. Beberapa Model SPM: Model SPM .
3. Dalam renstra pendidikan dikemukakan bahwa masalah mutu pendidikan berkaitan
dengan ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan, prasarana dan sarana belajar,
pendanaan pendidikan, serta proses pembelajaran yang belum efisien dan efektif.
Bagaimana permasalahan tersebut dapat dilakukan perbaikan secara
berkesinambungan melalui Penelitian Tindakan Sekolah (PTS); berikan contohnya.
Permasalahan mutu pendidikan tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan suatu sistem yang
saling berpengaruh. Mutu keluaran dipengaruhi oleh mutu masukan dan mutu proses.
Dalam hal ini didasarkan pada komponen masukan, proses, dan keluaran. Mutu masukan
pendidikan dapat dilihat dari kesiapan murid dalam mendapatkan kesempatan pendidikan.
Data Pusjas tahun 2004 menunjukkan bahwa sebagian siswa (46%) berada dalam kategori
tingkat kebugaran kurang, dan (37%) dalam tingkat kebugaran sedang. Data Susenas tahun
2003 mengungkapkan bahwa dari sekitar 18 juta anak usia balita, sekitar 28% atau lima juta
anak berstatus kekurangan gizi dan lebih dari 50% anak SD/MI menderita cacingan. (Depkes,
2003). Secara eksternal, komponen masukan pendidikan yang secara signifikan berpengaruh
terhadap peningkatan mutu pendidikan meliputi (1) ketersediaan pendidik dan tenaga
kependidikan yang belum memadai baik secara kuantitas dan kualitas, maupun
kesejahteraannya; (2) prasarana dan sarana belajar yang belum tersedia dan belum
didayagunakan secara optimal; (3) pendanaan pendidikan yang belum memadai untuk
menunjang mutu pembelajaran; dan (4) proses pembelajaran yang belum efisien dan efektif.
Salah satu faktor yang terpenting dalam mempengaruhi kualitas pendidikan adalah
ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan. Sampai dengan tahun 2002/2003 terdapat
sekitar 2,7 juta guru dari jenjang pendidikan prasekolah hingga menengah, baik pada sekolah
negeri maupun swasta. Namun jumlah tersebut belum memadai, karena itu masih diperlukan
sekitar 400 ribu orang. Dalam kaitan dengan tenaga kependidikan, data Balitbang Depdiknas
tahun 2003/2004 mengungkapkan bahwa pegawai administrasi di SD masih sangat kurang.
Jumlah SD 135.644 sekolah hanya memiliki pegawai administrasi 7.687 orang dan penjaga
sekolah 100.486 orang. Dari 21.256 SMP, terdapat 15.636 perpustakaan baru memiliki 8.474
petugas perpustakaan, dari 14.900 laboratorium hanya tersedia 1.892 laboran. Pada 8.238 SMA
dengan 5.598 perpustakaan baru memiliki 4.402 petugas perpustakaan, dari 10.050
laboratorium baru memilki 1.555 laboran. Pada 5.115 SMK dengan 3.745 perpustakaan baru
memiliki 2.017 petugas perpustakaan, dari 1.461 laboratorium baru memilki 804 laboran.
Tenaga kependidikan pada perpustakaan dan laboratorium sebagian besar belum memiliki
kualifikasi dan kompetensi yang memadai, sehingga mutu layanan pendidikan belum optimal.
Berdasarkan data tahun 2004 jumlah pengawas 21.627 orang. Jumlah tersebut tidak sebanding
dengan sekolah yang menjadi sasaran supervisi, selain itu letak geografis sekolah yang
menyulitkan supervisi, sehingga pengawasan proses pembelajaran belum dapat dilakukan
secara efektif dan efisien. Pemerintah telah berusaha menambah tenaga pendidik, khususnya
guru. Upaya tersebut belum dapat memenuhi kekurangan guru di setiap jenjang pendidikan
sebagai akibat banyaknya guru yang mencapai usia pensiun, berhenti, mutasi, dan meninggal
dunia. Padahal di SMP saja setiap tahun ada tambahan 400 ribu murid baru. Untuk mengatasi
kekurangan guru, maka mulai tahun 2003 telah dilakukan pengadaan guru bantu mencapai
jumlah 190.332 orang dan pada tahun 2004 juga dilakukan pengadaan guru bantu sekitar
71.309 orang. Dari jumlah pengadaan guru bantu ditambah dengan PNS baru nonguru bantu
yang berjumlah sekitar 38.533, maka total penambahan guru selama tahun 2003 dan 2004
berjumlah sekitar 300.174 orang. Apabila ditambah dengan kekurangan guru tahun 2002/2003
maka jumlahnya menjadi 427.903 orang, belum lagi apabila ditambah dengan guru yang
pensiun pada tahun 2003 yang berjumlah sekitar 29.937 orang, maka kebutuhan guru untuk
tahun 2004 yaitu 157.666 orang. Kalau ditambah dengan jumlah guru yang pensiun, maka
kebutuhan guru tahun 2005 menjadi 218 ribu orang. Dalam rangka menuntaskan Program
Wajar Dikdas 9 Tahun, terdapat sekitar 400 ribu anak usia 13-15 tahun akan memasuki jenjang
SMP/MTs sehingga dibutuhkan sekitar 25 ribu guru setiap tahunnya. Kekurangan guru
tersebut apabila dilihat dari rasio guru terhadap siswa akan menjadi kontras. Tabel 2
menunjukkan rasio guru terhadap siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA tahun 2003 yaitu
21, 17, dan 14. Apabila dibandingkan dengan rasio guru terhadap siswa berdasarkan standar
nasional pendidikan, maka jumlah guru pada jenjang tersebut sudah sangat ideal. Rasio ini
tidak diikuti dengan pendayagunaan guru secara efisien. Beberapa faktor penyebab
ketidakefisienan tersebut adalah terjadinya penumpukan guru di daerah perkotaan, kurikulum
yang sangat terspesialisasikan pada pendidikan menengah, dan banyaknya sekolah dasar kecil
dengan rata-rata jumlah murid di bawah 100 orang. Rasio pelayanan siswa per guru tersebut
akan menjadi isu kebijakan penting dalam peningkatan mutu dan efisiensi pendidikan, karena
akan menghambat pemenuhan pembiayaan untuk biaya operasi satuan pendidikan dan upaya
untuk meningkatkan gaji guru. Jumlah guru yang besar dan menumpuk pada lokasi tertentu
dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyelenggaraan SMP Terbuka, baik sebagai guru bina
maupun guru pamong. Saat ini dari SMP Terbuka memerlukan 30.000 orang guru bina dan
13.000 guru pamong. Guru bina direkrut dari guru mata pelajaran SMP yang tugas
mengajarnya belum mencapai tugas maksimal sedang guru pamong pada umumnya diambil
dari guru SD/MI. Walaupun demikian kelebihan guru di sekolah-sekolah perkotaan merupakan
persoalan yang perlu ditangani secara serius

4. Lakukan analisis SWOT terhadap tupoksi dan kompetensi kepala sekolah profesional;
kemudian rumuskan strategi-strategi yang paling efektif untuk mengembangkan
sekolah sesuai dengan tuntutam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
1. TUGAS POKOK DAN FUNGSI (TUPOKSI)PENGELOLA SEKOLAH
Sekolah Merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai Unit Pelaksana Teknis(UPT)
pendidikan jalur sekolah, secara garis besar memiliki tugas dan tanggung jawabsebagai berikut
:
1. Melaksanakan pendidikan di sekolah selama jangka waktu tertentu sesuai dengan jenis,
jenjang dan sifat sekolah tersebut.
2. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
3. Melaksanakan bimbingan dan konseling bagi siswa di sekolah
4. Membina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
5. Melaksanakan urusan tata usaha
6. .Membina kerja sama dengan orang tua, masyarakat dan instansi terkait
7. .Bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota Kepala daerah melalui Kepala
DinasPendidikan Kabupaten /Kota setempat Dalam melaksanakan tugasnya,
sekolahdipimpin oleh seorang Kepala Sekolah.
FUNGSI DAN TUGAS PENGELOLA SEKOLAH
A. KEPALA SEKOLAH
Kepala Sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator, manajer,
administratorsupervisor. Leader, innovator dan motivator (EMASLIM-WAN)
1. Kepala Sekolah selaku Edukator
Kepala Sekolah selaku Edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajarsecara
efektif dan efisien. Selain itu juga harus mampu membimbing guru, karyawan dan
siswa bahkan dituntut mampu memberikan contoh mangajar/BK dengan baik.
2. Kepala Sekolah selaku manajer mempunyai tugas :
1. Menyusun perencanaan,
2. Mengorganisasikan kegiatan,
3. Mengarahkan kegiatan,
4. Mengkoordinasikan kegiatan,
5. Melaksanakan pengawasan,
6. Melakukan evaluasi terhadap kegiatan,
7. Menentukan kebijaksanaan,
8. Mengadakan rapat,
9. Mengambil keputusan,
10. Mengatur proses belajar mengajar,
11. Mengatur administrasi, • Ketatausahaan • Siswa • Ketenagaan • Sarana
dan prasarana • Keuangan/RAPBS
12.Mengatur Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)13)

3. Kepala Sekolah sebagai leader diharapkan;

Memiliki kepribadian yang kuat VISI dan MISI , antara lain jujur, percaya diri,
bertanggung jawab, berani mengambil keputusan, berjiwa besar, dapat mengendalika
nemosi, bisa sebagai panutan dan lain-lain2)

4. Kepala Sekolah sebagai Inovator diharapkan :


5. Kepala Sekolah sebagai Motivator harus memiliki kemampuan :
5. Kepala Sekolah sebagai Wirausahawan
B. ANALISIS SWOT Kepala Sekolah sesuai tuntutan Masyarakat Ekonomi Asean
Analisis SWOT Visi dan Misi
Suatu kegiatan akan dapat dilaksanakan dengan baik dan mencapai sasaran jika
sebelumnya dilakukan suatu perencanaan yang matang. Tidak terkecuali dalam dunia
pendidikan, di mana menyusun perencanaan sebagai langkah awal akan cukup
diperhitungkan guna mencapai tujuan yang ingin dicapai (Sanjaya, 2009). Analisa ini
menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian
dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing.
Satu hal yang harus diingat oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa analisa SWOT
adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang
sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan bukan sebuah alat
analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang tepat bagi masalah – masalah
yang dihadapi oleh organisasi. Analisa SWOT bertujuan untuk menemukan aspek-aspek
penting dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada suatu lembaga sehingga
mampu memaksimalkan kekuatan, meminimalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan
membangun peluang.
Analisis SWOT adalah bagian dari tahap tahap perencanaan strategis suatu organisasi
yang terdiri dari tiga tahap yaitu : tahap pengumpulan data, tahap analisis, dan tahap
pengambilan keputusan. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua yaitu data
eksternal dan data internal.
Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar sekolah seperti:
o Peran masyarakat
o Donatur
o Pemerintah
o Organisasi lain
Pengambilan data eksternal diambil dari Opportunity (Peluang) dan Threat(Ancaman)
Data internal dapat diperoleh dari dalam sekolah itu sendiri, antara lain:
 Laporan keuangan sekolah
 Administrasi sekolah
 Kegiatan Belajar mengajar
 Keadaan guru dan siswa
 Fasilitas dan prasarana sekolah
 Administrasi guru dan lain lain
Pengambilan data eksternal diambil dari Strength (Kekuatan) dan Weakness(Kelemahan)
Strength (Kekuatan)
a. Motivasi guru dan siswa cukup tinggi sehingga mampu mengembangkan metode
pembelajaran yang evektif dan disertai dengan penerapan iman dan takwa sehingga
siswanya cukup antusias dalam merespon setiap pembelajaran.
b. Hubungan yang baik antara guru dengan guru ataupun guru dengan siswa sangat kondusif
baik dalam kegiatan ektrakurikuler ataupun pembelajaran untuk membentuk kwalitas
siswa yang positif
c. Dalam segi pendekatan, metode yang diajarkan guru yang bervariasi sehingga guru
menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi agar siswa dapat mengembangkan
diri sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
d. Mempunyai letak geografis yang sangat strategis dan lahan yang cukup luas serta didasari
daya dukung yang sangat positif dari masyarakat sehingga dapat meningkatkan
hubungan kerja sama antara sekolah , komite, orang tua siswa dan masyarakat
e. Tenaga pengajar yang usianya relatif muda sehingga memiliki kinerja yang tinggi dan
semangat serta secara kependidikannya 95% lulusan S1 dan 5%
lulusan S2 dalam meningkatkan disiplin semua personal dan
meningkatkan kinerja untuk membentuk siswa menjadi lebih berpengalaman dan
mendapatkan ilmu yang sesuai dengan tingkatannya
f. Kegiatan pembelajaran ekstrakulikuler yang sangat efektip dengan tenaga operasional
yang memadai khususnya renang sangat diutamakan untuk meningkatkan prestasi siswa
sesuai dengan bakat, minat dan kreativitas
2.1.2 Weakness (Kelemahan)
a. Rekrutmen guru dan staf yang terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan dan sarat
dengan unsur kekeluargaan
b. Keadaan guru sebagian besar masih berstatus honorer dan mengajar ditempat lain sehingga
proses pembelajaran sering terganggu dalam waktu pembelajaran yang telah ditentukan
c. Penerimaan siswa Baru/pindahan Peneriman siswa belum dilakukan dengan cara
test tetapi masih adanya titipan dari berbagai pihak dan jangkauan lokasi sekolah dengan
tempat tinggal siswa sehingga kemampuan siswa dalam segi pembelajaran banyak dibawah
standar pola pikir siswa yang mengikuti test penerimaan siswa baru.
d. Pembiayaan Orang tua siswa dalam anggaran pembangunan sangat sulit dikarnakan
kondisi perekonomian kebanyakan dibawah rata-rata.
e. Belum bisa memfasilitasi sarana dan prasarana yang mendukung untuk pembelajaran
terutama di perpustakaan dan di loboratorium sehingga kurang kondusif dalam
kelengkapan buku dan juga alat praktik yang dimanfaatkan oleh siswa untuk penunjang
pembelajaran.
f. Gedung sekolah sudah membutuhkan banyak perbaikan dan penambahan ruang seperti
ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan juga ruang kantor yang masih kurang
memadai.
Opportunity (Peluang)
a. Dukungan pemerintah daerah dalam melengkapi sarana dan prasarana Sekolah dengan cara
mengajukan prososal ke Pemerintah Daerah Tingkat I dan Tingkat II perlu dilakukan untuk
melengkapi sarana dan prasarana sekolah
b. Pembangunan dengan tanah yang luas bisa memunjang ke arah yang refrisentatif
c. Sarana dan prasarana merupakan kekuatan yang telah ada agar bisa dipergunakan dan
pemanfaatannya yang ada harus di kembangkan terus.
d. Dukungan masyarakat yang ingin menjadikan siswa menjadi berkwalitas di masyarakat
dan ingin setelah lulus dari SMP N 2 Sidamulih bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi
e. Mengingat lokasi yang srtrategis menjadi kekuatan dalam perkembangan sekolah dalam
perekrutan lulusan SD berpeluang cukup besar
f. Daya dukung orang tua tinggi dan terbukti dengan mendaftarkan anaknya di SMP N 2
Sidamulih
Threat (Ancaman)
a. Jarak yang begitu dekat antara lembaga pendidikan yang setingkat dengan SMP dengan
banyaknya SMP – SMP yang berkwalitas
b. Lingkungan sosial sekolah belum memiliki lapangan olah raga yang begitu memadai sehingga
siswa yang mengikuti praktek olahraga harus menyebrang jalan raya provinsi untuk pergi ke
lapangan begitu juga tempat parkir yang tidak cukup luas
c. Persaingan masuk SMA dan setingkatnya banyak memperoleh persaingandengan SMP-SMP
yang lebih berkwalitas dalam tes masuk SMA Negeri
d. Kemajuan Teknologi Komputer dan Informatika Belum terlalu maksimal karena belum ada guru
Khusus mengajar TIK di sekolah ini, jadi kemapuan dalam bersaing dengan SMP lainnya yang
sudah mempunyai tenaga pengajar yang khusus akan lebih sulit.
e. Bangunan yang belum sempurna dengan tidak adnya benteng membuat keamanan sekolah
menjadi terganggu

TERIMAKASIH