Anda di halaman 1dari 4

Tahapan dalam Pelaksanaan

Pengadaan Tanah untuk


Instansi Pemerintah
Posted on 10 Januari 2011 by omtanah.com — 13 Komentar

Tahapan dalam Pelaksanaan Pengadaan Tanah untuk Instansi Pemerintah, adapun beberapa tahapan tersebut
adalah sbb:

a. Penyusunan proposal

Disiapkan oleh Instansi pemerintah yang memerlukan tanah, menguraikan :


– maksud dan tujuan pembangunan
– letak dan lokasi pembangunan
– luasan tanah yang diperlukan
– sumber pendanaan
– analisis kelayakan lingkungan (AMDAL)

b. Penetapan Lokasi

Diajukan oleh Instansi pemerintah yang memerlukan tanah kepada :

 Bupati / Walikota atau Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta


 Apabila 2 wilayah Kabupaten / Kota atau lebih diajukan kepada Gubernur.
 Apabila 2 wilayah propinsi atau lebih, diajukan kepada Kepala BPN RI
 Apabila terhadap penetapan lokasi dan kemudian dalam pelaksanaan kegiatan terdapat
perubahan/penambahan desa/kelurahan agar segera dilakukan revisi dalam SK Penetapan Lokasi.
 Dalam rangka pengamanan lokasi pengadan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum agar mematuhi Surat Edaran Kepala BPN RI tanggal 13 Juli 2006 Nomor: 140.2-146A.
c. Publikasi

Setelah diterimanya keputusan penetapan lokasi, instansi pemerintah yang memerlukan tanah dalam waktu
paling lama 14 (empat belas ) hari wajib mempublikasikan rencana pelaksanaan pembangunan untuk
kepentingan umum kepada masyarakat, dengan cara langsung maupun tidak langsung melalui media
cetak, elektronik dan lainnya, yang pelaksanaannya dibuat dengan berita acara.

d. Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah (P2T)

Untuk keperluan pengadaan tanah oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah bagi pelaksanaan pembangunan untuk
kepentingan umum dibentuk Panitia Pengadaan Tanah yang pembentukan dan susunan keanggotaannya harus
sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat (1) dan (2), Pasal 15 ayat (1) dan (2) dan Pasal 16 ayat (1) dan (2)
Peraturan Kepala BPN RI No. 3 Tahun 2007, dan dibentuk Sekretariat beserta
susunan keanggotaan dengan Surat Keputusan Ketua Panitia Pengadaan Tanah.

e. Penyuluhan/Sosialisasi

Setelah diterimanya permohonan Pengadaan Tanah oleh Instansi yang memerlukan tanah Panitia Pengadan
Tanah bersama-sama dengan Instansi yang memerlukan tanah melaksanakan Penyuluhan/Sosialisasi pada
masyarakat di lokasi dengan dituangkan dalam Berita Acara Hasil Penyuluhan.

f. Identifikasi dan Inventarisasi

Setelah dilakukan pemasangan Tanda Batas lokasi oleh Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah bersama-
sama dengan Panitia Pengadaan Tanah. Selanjutnya dibentuk Satuan Tugas (satgas) dengan Surat Keputusan
Ketua Panitia Pengadaan Tanah yang akan melakukan kegiatan identifikasi dan inventarisasi yang meliputi :

 pengukuran rincikan bidang tanah


 Inventarisasi dan identifikasi data fisik dan yuridis pemilik tanah yang terkena pembentukan tanah
(petugas BPN dibantu desa)
 Inventarisasi tanaman dari Instansi terkait (Dinas Pertanian)
 Inventarisasi Bangunan dari Instansi terkait (DPU )
g. Pengumuman

Panita Pengadaan Tanah mengumumkan hasil inventarisasi dan identifikasi tanah dan/atau bangunan dan/atau
tanaman dilakukan di Kantor Desa/Kelurahan dan/atau Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota selama 7 (tujuh)
hari dan/atau melalui media cetak, elektronik selama 2 (dua) kali penerbitan, untuk memberikan kesempatan
bagi pihak yang berkepentingan mengajukan keberatan.

h. Pengesahan Hasil Pengumuman


 Setelah jangka waktu pengumuman berakhir dan tidak ada keberatan maka dibuat Berita
Acara Pengesahan hasil pengumuman oleh Panitia Pengadaan Tanah.
 Apabila terdapat keberatan dan dapat dipertanggungjawabkan dilakukan revisi.
 Apabila keberatan tidak dapat dipertanggungjawabkan proses pengadaan tanah dilanjutkan.
 Apabila Keberatan mengenai sengketa kepemilikan maka penyelesaiannya diupayakan melalui
musyawarah atau melalui Pengadilan.
i. Penilaian
 Penilaian harga tanah yang terkena pembangunan untuk kepentingan umum dilakukan oleh Lembaga
Penilai Harga Tanah. Apabila saat dilakukan Pengadaan Tanah di Kabupaten/Kota atau disekitar
Kabupaten/Kota yang bersangkutan belum terdapat Lembaga Penilai Harga Tanah yang sudah mendapat
Lisensi dari Badan Pertanahan Nasional, maka Penilaian Harga Tanah dilakukan oleh Tim Penilai Harga
Tanah yang dibentuk oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta.
 Penentuan Lembaga Penilai Harga Tanah dilakukan oleh Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah
berpedoman pada Keputusan Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 beserta perubahannya.
 Penilaian Harga Bangunan dan/atau Tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah
dialkukan oleh Kepala Dinas/Kantor/Badan di Kabupaten/Kota yang membidangi bangunan dan/atau
benda lain yang berkaitan dengan tanah.
j. Musyawarah
 Musyawarah antara Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah dengan para pemilik tanah mengenai :
 Rencana pembangunan untuk kepentingan umum dilokasi tersebut.
 Bentuk dan/atau besarnya ganti rugi.
 Musyawarah mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi berpedoman pada :
 Kesepakatan para pihak.
 Hasil Penilaian Harga Tanah dan penilaian harga bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain
yang berkaitan dengan tanah.
 Tenggat waktu penyelesaian proyek pembangunan.
 Panitia Pengadaan Tanah membuat Berita Acara Hasil Pelaksanaan Musyawarah lokasi pembangunan
untuk kepentingan umun dan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi yang ditandatangani oleh
seluruh anggota panitia, Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah dan para pemilik.
k. Keputusan Panitia Pengadaan Tanah (P2T)
 Berdasarkan berita acara hasil pelaksanaan musyawarah lokasi pembangunan untuk kepentingan umum
dan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi, Panitia Pengadaan Tanah menerbitkan keputusan
mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dan daftar nominatif pembayaran ganti rugi.
 Dalam hal tanah yang diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan merupakan tanah instansi pemerintah,
keputusan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dilakukan berdasarkan tata cara yang diatur
dalam peraturan Perundang-undangan tentang Perbendaharaan Negara.
l. Pembayaran Ganti Rugi
 Berdasarkan keputusan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi Panitia Pengadan Tanah
memerintahkan kepada Insatansi Pemerintah yang memerlukan tanah untuk melakukan pembayaran ganti
rugi kepada yang berhak dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tangal keputusan tersebut
ditetapkan apabila bentuk ganti rugi berupa uang dan terhadap bentuk ganti rugi selain uang tenggang
waktu sesuai dengan kesepakatan para pihak.
 Untuk melindungi kepentingan yang berhak atas ganti rugi, seoarang penerima kuasa hanya dapat
menerima kuasa dari (1) satu orang yang berhak atas ganti rugi.
 Surat kuasa untuk menerima ganti rugi harus dibuat dalam bentuk notariil dan disaksikan oleh dua orang
saksi atau bagi daerah terpencil surat kuasa dibuat secara tertulis dan diketahui oleh Kepala Desa/Lurah
atau yang setingkat dengan itu dan Camat.
 Bersamaan dengan pembayaran ganti rugi berupa uang, Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah
membuat tanda terima pembayaran ganti rugi, ditindakanjuti dengan Penandatanganan Pernyataan
Pelepasan Hak atas tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman, dan oleh Panitia Pengadaan Tanah dibuat
Berita Acara pembayaran ganti rugi dan pelepasan hak atas tanah.
 Pada saat penandatanganan pernyataan pelepasan hak atas tanah yang berhak atas ganti rugi wajib
menyerahkan dokumen asli bukti kepemilikan kepada Panitia Pengadaan Tanah.
m. Penitipan Ganti Rugi
 Penitipan ganti rugi diajukan oleh instansi pemerintah yang memerlukan tanah kepada Ketua Pengadilan
Negeri setempat untuk memperoleh penetapan, dengan melampirkan persyaratan :
 Berita Acara pembayaran ganti rugi.
 Berita Acara hasil pelaksanaan musyawarah dan penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi.
 Keputusan Bupati / Walikota / Gubernur / Mendagri terhadap adanya keberatan;
 Keterangan dan alasan penitipan ganti rugi dan.
 Surat-surat lain terkait penitipan ganti rugi.
 Penitipan ganti rugi dilakukan dalam hal :
 Tidak ada kesepakatan nilai ganti rugi sedangkan musyawarah telah melewati jangka waktu 120 hari.
 Yang berhak ganti tidak diketahui keberadaannya.
 Obyek perkara dipengadilan dan belum memperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap.
 Masih dipersengketakan kepemilikannya.
 Sedang diletakan sita oleh pihak yang berwenang.
 Terhadap tanah yang uang ganti ruginya dititipkan di Pengadilan, belum dapat diajukan permohonan hak
atas tanahnya.
n. Pemberkasan
 Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota melakukan pemberkasan dokumen dan menyerahkannya
kepada :
 Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah berupa dokumen asli
 Pertanahan Kabupaten/Kota berupa rekaman dokumen asli yang dilegalisasi oleh pejabat yang
berwenang.
 Instansi induk yang memerlukan tanah berupa rekaman dokumen asli yang dilegalisir oleh Pejabat yang
berwenang.
 Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta berupa rekaman dokumen asli yang dilegalisir
oleh Pejabat yang berwenang.
 Tugas dan tangung jawab Panitia Pengadan Tanah Kabupaten/Kota berakhir setelah penyerahan dokumen
Pengadaan Tanah kepada Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah dengan dibuat Berita Acara.
 Permasalahan yang lahir setelah berakhirnya pelaksanaan Pengadaan Tanah tidak menghalangi
pembangunan fisik sedangkan bentuk dan tindak lanjut penyelesaian permasalahan tersebut sesuai dengan
isi putusan penyelesaiannya.

sumber UU Nomor 2 Tahun 2012