Anda di halaman 1dari 11

http://www.kompasiana.

com/musniumar/mentalitas-kodok-konflik-dan-pilkada-dki-
jakarta_56f85d07717a61e60da87997

MAKALAH FILSAFAT

PERTIKAIAN DI DKI

Dosen pembimbing : Prof.Dr.Suhartono Taat putra,dr.,Ms

Disusun kelompok 11 :

1. Aan anisyah khama ulfamaroh (151001001)

2. Galih puji prasetyo (151001017)

3. Novita anggun (151001032)

4. Tiflatul amin hidayah (151001040)

5. Widya pangestu ambarwati (151001042)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

(STIKES)PEMKAB JOMBANG

S1 KEPERAWATAN

2015 / 2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

pertikaian demi pertikaian menjadi bagian dari kehidupan umat manusia dari waktu
ke waktu. Perbedaan kepentingan yang tidak bisa dijembatani, menyebabkan konflik atau
pertikaian antar pribadi, antar kelompok, antar komunitas, antar etnis (suku), antar umat
agama biasanya kejadiaan tersebut di dasari adanya egoisme yang terlalu pro dengan
kelompok,komunitas,etnis (suku) ataupun berlandaskan dengan agama sekalipun dan sampai
saat ini belum terselesaikan

Kejadian itu Banyak terjadi di muka bumi bahkan sudah sering terjadi khususnya di
Indonesia negri kita tercinta ini dan lebih khusus lagi di DKI Jakarta. Menjelang Pemilihan
Kepala Daerah di DKI Jakarta dengan adanya banyak hiruk pikuk politik yang akan memicu
adanya potensi terjadinya konflik horizontal antar etnis (suku) yang berada di DKI jakarta
antar bermacam komunitas di DKI bahkan antar umat beragama, dan sebagainya yang
terpolarisasi dalam mendukung kepala daerah DKI Jakarta bahkan terjadi saling bunuh
membunuh dengan istilah santet pada lawanya

Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sering disingkat dengan istilah DKI atau DKI
Jakarta, merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Tidak hanya sebagai ibukota
negara, tetapi juga pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial, agama, budaya, pertahanan-
keamanan dan sebagainya selain itu banyaknya kalangan rakyat yang miskin dan lemah
sehingga mereka hanya mengikuti saja apa yang disampaikan kepadanya dengan begitu akan
sulit merubah apa yang ada difikiranya

Perbedaan kepentingan yang tidak bisa dijembatani, menyebabkan konflik atau


pertikaian antar pribadi, antar kelompok, antar komunitas, antar etnis (suku), antar umat
agama
1.2 Rumusan masalah

1. bagaimana terjadinya pertikaian antar etnis ?

2. Kenapa terjadi pertikaian di DKI ?

1.1 Tujuan :

A. Tujuan umum :

1. menjelaskan pertikaian antar etnis yang terjadi di DKI

B. Tujuan kusus :

1. Menjelaskan terjadinya pertikaian antar etnis

2. Menjelaskan pertikaian di DKI

1.1 Manfaat :

1. Apabila masalah ini terselesaikan tidak


adanya pertikaian dimanapun
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi tidak pernah terlepas dari
berbagai macam konflik dan pertikaian. Konflik pertama di dunia terjadi antara Qabil dan
Habil. Qabil membunuh Habil karena cemburu, kurbannya tidak diterima oleh Allah. Sejak
itu, pertikaian demi pertikaian menjadi bagian dari kehidupan umat manusia dari waktu ke
waktu. Perbedaan kepentingan yang tidak bisa dijembatani, menyebabkan konflik atau
pertikaian antar pribadi, antar kelompok, antar komunitas, antar etnis (suku), antar umat
agama, dan sebagainya selalu terjadi di muka bumi khususnya di Indonesia dan lebih khusus
lagi di DKI Jakarta. Menjelang Pemilihan Kepala Daerah di DKI Jakarta, potensi terjadinya
konflik horizontal antar etnis (suku), antar komunitas, antar umat beragama, dan sebagainya
yang terpolarisasi dalam mendukung kepala daerah, akan terjadi jika tidak ada upaya secara
dini untuk mencegah terjadinya konflik. Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sering disingkat
dengan istilah DKI atau DKI Jakarta, merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Tidak
hanya sebagai ibukota negara, tetapi juga pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial, agama,
budaya, pertahanan-keamanan dan sebagainya. Selain itu, DKI Jakarta juga merupakan
naganya Indonesia. Siapa yang memimpin DKI berarti secara politik telah menguasai 60
Indonesia. Oleh karena itu, semua kekuatan politik, ekonomi, sosial, budaya, agama,
pertahanan–keamanan serta penguasa ekonomi dan politik, ingin memimpin DKI Jakarta,
atau setidak-tidaknya yang memimpin DKI adalah dari kalangannya, sehingga bisa mendapat
manfaat ekonomi, politik, sosial dan sebagainya. Dalam demokrasi yang menentukan adalah
rakyat karena rakyat adalah pemilik kedaulatan, maka untuk mengubah pola pikir (mindset),
keyakinan dan pilihan masyarakat, dipergunakan media sosial dan media untuk menggiring
masyarakat supaya mendukung calon pemimpin yang mereka inginkan. Media yang dikuasai
oleh pemilik modal dan pemimpin partai politik, mereka manfaatkan untuk mempengaruhi
masyarakat dan umat beragama agar mendukung dan memilih calon pemimpin yang mereka
inginkan tanpa menganalisis dampak negatif yang bakal ditimbulkan di belakang hari. Hiruk
pikuk politik menjelang Pilkada DKI 2017, harus dijaga jangan sampai menciptakan konflik
antar warga di DKI. Maka diperlukan partisipasi semua pihak untuk menjaga, memelihara,
merawat dan meningkatkan kerukunan di DKI Jakarta. Masyarakat Mudah Dipengaruhi
Masyarakat Indonesia dan masyarakat DKI Jakarta pada khususnya, masih banyak yang
kurang pendidikan dan mayoritas masih miskin. Akibat kurang pendidikan dan masih miskin,
maka mayoritas bermentalitas “kodok”. Kodok adalah binatang melata, yang banyak diam,
tidak banyak bergerak dan sangat tidak sensitif terhadap lingkungannya. Suatu studi biologi
menunjukkan, kalau seekor kodok ditaruh di dalam panci, lalu ditaruh air dan air itu
dipanaskan, maka kodok itu tidak bereaksi. Tetap diam seolah tidak ada masalah. Jika air itu
mendidih, tetap tidak menunjukkan reaksi keras, tetap diam dan akhirnya mati di dalam air
yang mendidih. Mentalitas mayoritas masyarakat kita masih seperti “kodok”, yaitu diam,
“nrimo”, dan tidak sensitif terhadap lingkungannya. Kondisi masyarakat semacam itu
menjadi sasaran empuk bagi mobilisasi yang dilakukan pimpinan partai politik, politisi,
pemilik modal, penguasa politik dan penguasa media untuk mengubah mindset (pola pikir)
masyarakat dan menggiring opini untuk menuruti apa maunya mereka. Menurut saya, kondisi
sosial semacam itu tidak normal dan amat berbahaya, karena masyarakat yang mudah diatur
dan digiring oleh opini publik mudah pula dibelokkan oleh media sosial, media online, media
cetak dan elektronik (TV dan Radio) yang dilakukan melalui rekayasa politik. Apalagi,
masyarakat Indonesia termasuk masyarakat DKI, pada umumnya tidak memegang ideologi,
tidak pula mengamalkan ashabiyah seperti dikemukakan sosiolog Islam terkemuka Ibnu
Khaldun yaitu (solidaritas sosial, kebersamaan, persatuan dan kesatuan}. Oleh karena itu,
mudah sekali meledak kerusuhan jika masyarakat disulut dengan isu agama dan etnis. Sikap
diam, “nrimo” dan mudah diatur-atur sebagai pencerminan dari mentalitas kodok, harus pula
diwaspadai karena masyarakat kita juga memiliki perilaku yang “temperamental”, mudah
disulut dan mudah pula marah, sehingga merupakan kewajiban semua pihak untuk menjaga
kerukunan sehingga tidak meledak menjadi “bom”, yang bisa menghancurkan dan
membunuh semuanya tanpa pandang bulu. Menjaga Kerukunan Masyarakat kita yang masih
bermentalitas “kodok”, temperamental, tidak memegang ideologi dan tidak pula
mengamalkan sikap ashabiyah, sangat mudah disulut untuk konflik. Salah satu cara untuk
mencegah supaya tidak terjadi konflik antar umat beragama, ialah dengan menjaga, merawat,
membina dan mengembangkan kerukunan. Kerukunan harus dibangun dalam tiga pilar.
Pertama, kerukunan antar internal umat beragama. Kedua, kerukunan antar umat beragama.
Ketiga, kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Adapun kiat untuk menjaga,
merawat, dan memelihara supaya masyarakat tetap rukun dan tidak terjadi konflik di DKI
Jakarta. Pertama, saling menghargai, dan saling menghormati keyakinan, pandangan dan
pemikiran antara sesama dalam satu agama, misalnya antara Muhammadiyah dan Nahdatul
Ulama dalam shalat. Warga Muhammadiyah tidak membaca basmallah secara keras pada saat
memulai membaca surat Al Fatihah. Begitu pula surat lainnya. Sebaliknya warga NU
membaca Al Fatihah secara nyaring atau keras saat mulai membaca surat Al Fatihah dan surat
lainnya. Kedua, umat beragama terutama para tokohnya yang sering berbicara di media
supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa membangkitkan emosi dan kemarahan dari
umat agama lain. Ketiga, umat agama tidak menjadikan umat agama lain sebagai sasaran
untuk memperbanyak umatnya dengan menghalalkan segala cara, misalnya membagi
sembako kepada umat agama lain yang miskin, sembari membujuk mereka untuk pindah
agama. Selain itu, mendirikan rumah ibadah di tengah-tengah umat agama lain. Cara-cara
semacam itu harus dihentikan karena merusak kerukunan dan mengundang konflik sosial.
Keempat, tokoh-tokoh agama dari agama-agama resmi di Indonesia khususnya di DKI
Jakarta, harus sering bertemu dan berdialog. Sebaiknya hasil pertemuan mereka
dipublikasikan untuk diketahui umat, sehingga diharapkan keakraban tokoh agama memberi
resonansi dalam mewujudkan DKI Jakarta yang rukun dan tanpa konflik menjelang, saat, dan
pasca pemilihan kepala daerah. Kelima, para tokoh politik, gubernur, para pengamat harus
memilih kalimat dan bahasa dalam bertutur kata, jangan sampai menyinggung apalagi
menyakitkan masyarakat dan umat agama lain. Dengan melakukan lima hal yang saya
kemukakan di atas, diharapkan DKI Jakarta menjelang, saat dan pasca pemilihan kepala
daerah tetap aman, damai, kondusif dan pemilihan kepala daerah berjalan lubur (langsung,
umum, bebas, rahasia) dan jurdil (jujur, adil)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN NARASI
3.1 Kerangka konsep
Pertikaian antar etnis di DKI Jakarta

Minimya rasa Adanya rasa ingin


solidaritas saling
menjatuhkan satu
dengan yang lain

Peraturan pun Hilangnya rasa


terabaikan kemanusiaan Tidak adanya kerukunan dan
kesejahteraan masyarakat

Pertikaian merajalela Terpecah belahnya antar


dimana - mana kelompok / etnis

3.2 Narasi

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah di DKI Jakarta, potensi terjadinya konflik


horizontal antar etnis (suku), antar komunitas, antar umat beragama, dan sebagainya yang
terpolarisasi dalam mendukung kepala daerah, akan terjadi jika tidak ada upaya secara dini
untuk mencegah terjadinya konflik. Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sering disingkat
dengan istilah DKI atau DKI Jakarta, merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Tidak
hanya sebagai ibukota negara, tetapi juga pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial, agama,
budaya, pertahanan-keamanan dan sebagainya. Selain itu, DKI Jakarta juga merupakan
naganya Indonesia. Siapa yang memimpin DKI berarti secara politik telah menguasai 60
Indonesia. Oleh karena itu, semua kekuatan politik, ekonomi, sosial, budaya, agama,
pertahanan–keamanan serta penguasa ekonomi dan politik, ingin memimpin DKI Jakarta,
atau setidak-tidaknya yang memimpin DKI adalah dari kalangannya, sehingga bisa mendapat
manfaat ekonomi, politik, sosial dan sebagainya. Dalam demokrasi yang menentukan adalah
rakyat karena rakyat adalah pemilik kedaulatan, maka untuk mengubah pola pikir (mindset),
keyakinan dan pilihan masyarakat, dipergunakan media sosial dan media untuk menggiring
masyarakat supaya mendukung calon pemimpin yang mereka inginkan. Media yang dikuasai
oleh pemilik modal dan pemimpin partai politik, mereka manfaatkan untuk mempengaruhi
masyarakat dan umat beragama agar mendukung dan memilih calon pemimpin yang mereka
inginkan tanpa menganalisis dampak negatif yang bakal ditimbulkan di belakang hari. Hiruk
pikuk politik menjelang Pilkada DKI 2017, harus dijaga jangan sampai menciptakan konflik
antar warga di DKI. Maka diperlukan partisipasi semua pihak untuk menjaga, memelihara,
merawat dan meningkatkan kerukunan di DKI Jakarta. Masyarakat Mudah Dipengaruhi
Masyarakat Indonesia dan masyarakat DKI Jakarta pada khususnya, masih banyak yang
kurang pendidikan dan mayoritas masih miskin. Akibat kurang pendidikan dan masih miskin,
maka mayoritas bermentalitas
BAB IV

PEMBAHASAN

2.1 Pertikaian antar etnis

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah di DKI Jakarta, potensi terjadinya konflik


horizontal antar etnis (suku), antar komunitas, antar umat beragama, dan sebagainya yang
terpolarisasi dalam mendukung kepala daerah, akan terjadi jika tidak ada upaya secara dini
untuk mencegah terjadinya konflik .

Dalam demokrasi yang menentukan adalah rakyat karena rakyat adalah pemilik
kedaulatan, maka untuk mengubah pola pikir (mindset), keyakinan dan pilihan masyarakat,
dipergunakan media sosial dan media untuk menggiring masyarakat supaya mendukung
calon pemimpin yang mereka inginkan. Media yang dikuasai oleh pemilik modal dan
pemimpin partai politik, mereka manfaatkan untuk mempengaruhi masyarakat dan umat
beragama agar mendukung dan memilih calon pemimpin yang mereka inginkan tanpa
menganalisis dampak negatif yang bakal ditimbulkan di belakang hari .

Masyarakat Mudah Dipengaruhi Masyarakat Indonesia dan masyarakat DKI Jakarta


pada khususnya, masih banyak yang kurang pendidikan dan mayoritas masih miskin. Akibat
kurang pendidikan dan masih miskin, maka mayoritas bermentalitas “kodok”. Kodok adalah
binatang melata, yang banyak diam, tidak banyak bergerak dan sangat tidak sensitif terhadap
lingkungannya. Suatu studi biologi menunjukkan, kalau seekor kodok ditaruh di dalam panci,
lalu ditaruh air dan air itu dipanaskan, maka kodok itu tidak bereaksi. Tetap diam seolah tidak
ada masalah. Jika air itu mendidih, tetap tidak menunjukkan reaksi keras, tetap diam dan
akhirnya mati di dalam air yang mendidih. Mentalitas mayoritas masyarakat kita masih
seperti “kodok”, yaitu diam, “nrimo”, dan tidak sensitif terhadap lingkungannya. Kondisi
masyarakat semacam itu menjadi sasaran empuk bagi mobilisasi yang dilakukan pimpinan
partai politik, politisi, pemilik modal, penguasa politik dan penguasa media untuk mengubah
mindset (pola pikir) masyarakat dan menggiring opini untuk menuruti apa maunya mereka.
Kondisi sosial semacam itu tidak normal dan amat berbahaya, karena masyarakat yang
mudah diatur dan digiring oleh opini publik mudah pula dibelokkan oleh media sosial, media
online, media cetak dan elektronik (TV dan Radio) yang dilakukan melalui rekayasa politik.

2.2 Pertikaian di DKI Jakarta

Apalagi, masyarakat Indonesia termasuk masyarakat DKI, pada umumnya tidak


memegang ideologi, tidak pula mengamalkan ashabiyah seperti dikemukakan sosiolog Islam
terkemuka Ibnu Khaldun yaitu (solidaritas sosial, kebersamaan, persatuan dan kesatuan}.
Oleh karena itu, mudah sekali meledak kerusuhan jika masyarakat disulut dengan isu agama
dan etnis. Sikap diam, “nrimo” dan mudah diatur-atur sebagai pencerminan dari mentalitas
kodok, harus pula diwaspadai karena masyarakat kita juga memiliki perilaku yang
“temperamental”, mudah disulut dan mudah pula marah, sehingga merupakan kewajiban
semua pihak untuk menjaga kerukunan sehingga tidak meledak menjadi “bom”, yang bisa
menghancurkan dan membunuh semuanya tanpa pandang bulu. Menjaga Kerukunan
Masyarakat kita yang masih bermentalitas “kodok”, temperamental, tidak memegang
ideologi dan tidak pula mengamalkan sikap ashabiyah, sangat mudah disulut untuk konflik .
BAB V
PENUTUP