Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai
dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk
tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan
perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek.Sebaliknya, orang
yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter
mulia. Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan,
hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat,
temperamen, watak”.Adapun berkarakter, adalah berkepribadian, berperilaku,
bersifat, dan berwatak.
Adapun pengertian Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh
seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak
seseorang lahir sampai mati, di dalam keluarga, dalam pekerjaan atau
pengalaman sehari-hari. Pendidikan informal, sama sekali tidak terorganisasi
secara struktural, tidak terdapat penjejangan kronologis, tidak mengenal adanya
kredensials, lebih merupakan hasil pengalam belajar individual-mandiri, dan
pendidikannya tidak terjadi di dalam “medan interaksi belajar mengajar
buatan” sebagaimana pada pendekatan formal dan non formal.
Pada umumnya pendidikan dalam keluarga (rumah tangga) itu bukan
berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan
mendidik, melainkan karena seecara kodrati suasan dan strukturnya
memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. situasi
pendisikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh
mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anakKeluarga adalah
unit terkecil dari masyarakat. Baik tidaknya masyarakat ditentukan oleh baik
tidaknya keadaan keluarga umumnya pada masyarakat tersebut. Oleh karena
itu apabila kita menghendakai suatu masyarakat yang baik, tertib, dan diridhai
Allah mulailah dari keluarga.

Pendidikan Karakter Page 1


Untuk sebab itulah kelompok kami mengambil rumusan masalah mengenai
bagaimana contoh realisasi beberapa nilai pendidikan karakter (Gemar
Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab) di
lingkungan informal sebagaimana di kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penyusun dapat mengambil masalah
yang akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya yaitu :
1. Apa definisi dari pendidikan informal?
2. Apa pengertian dari realisasi pendidikan karakter?
3. Bagaimana pentingnya nilai-nilai pendidikan karakter?
4. Bagaimana contoh realisasi 4 nilai pendidikan karakter (Gemar Membaca,
Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab) di pendidikan
informal?

C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Karakter pada semester
empat.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk dapat menjelaskan definisi dari pendidikan informal
b. Untuk dapat menjelaskan definisi dari realisasi pendidikan karakter
c. Untuk dapat menjelaskan bagaimana pentingnya nilai-nilai karakter
d. Untuk dapat menyebutkan contoh realisasi dari 4 nilai pendidikan
karakter berupa Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, dan
Tanggung jawab di Pendidikan Informal

Pendidikan Karakter Page 2


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan Informal

Gambar 1. Pendidikan oleh orang tua


Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pasti dialami seseorang
sejak ia dilahirkan, dan biasanya dilaksanakan sendiri oleh orang tua dan
anggota keluarga yang lain. (Soelaiman Joesoef, dkk, 1981: 48)
Pada umumnya pendidikan dalam keluarga (rumah tangga) itu bukan
berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan
mendidik, melainkan karena seecara kodrati suasana dan strukturnya
memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. situasi
pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh
mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak (Zakiah Daradjat,
dkk. 1991: 35)
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Baik tidaknya masyarakat
ditentukan oleh baik tidaknya keadaan keluarga umumnya pada masyarakat
tersebut. Oleh karena itu apabila kita menghendakai suatu masyarakat yang
baik, tertib, dan diridhai Allah mulailah dari keluarga.
Melihat peran yang dapat dimainkan oleh pendidikan keluarga maka tidak
berlebihan bila Sidi Ghazalba mengkategorikannya pada jenis lemba
pendidikan primer, utamanya untuk masa bayi dan masa anak-anak sampai usia
sekolah. Dalam lembaga ini sebagai pendidikan adalah orangtua, kerabat,

Pendidikan Karakter Page 3


famili dan sebagainya. Orangtua selain sebagai pendidik, juga sebagai
penanggung jawab (Ramayulis, 2008: 282)
Jadi pendidikan oleh orangtua merupakan pendidikan utama dan pertama
bagi anak-anak mereka, karena merekalah anak mula-mula menerima
pendidikan. dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam
kehidupana keluarga.

B. Realisasi Pendidikan Karakter

Gambar 2. Pengetahuan tentang realisasi pendidikan karakter


Realisasi adalah proses tindakan menjadikan nyata atau perwujudan yang
sudah direncanakan (Sugono, 2008: 1179). Sedangkan, Pendidikan adalah
seluruh aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada
peserta didik terhadap semua aspek perkembangan kepribadian, baik jasmani
dan rohani, secara formal, informal, dan nonformal yang berjalan terus-
menerus untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi (baik nilai
insaniyah maupun ilahiyah) (Kurniawan, 2016: 27).
Kementerian Agama Republik Indonesia (2010) mengemukakan bahwa
karakter dapat diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang melekat dan
dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti secara
khusus ciri-ciri ini membedakan antara satu individu dengan yang lainnya.
Karakter sangat dekat dengan kepribadian individu (Mulyasa, 2012: 3-4).
Realisasi Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu
perkembangan jiwa anak-anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratnya
menuju ke arah peradaban yang manusiawi dan lebih baik. Pendidikan karakter
merupakan proses yang berkelanjutan dan tak pernah berakhir (never ending
process), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan
(continuous quality improvement) yang ditujukan pada terwujudnya sosok

Pendidikan Karakter Page 4


manusia masa depan dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. Pendidikan
karakter harus menumbuhkembangkan nilai-nilai filosofis dan mengamalkan
seluruh karakter bangsa secara utuh dan menyeluruh (Mulyasa, 2012: 1-2).
Dalam Bab II Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan UU Nomor 20 tahun 2003 maka pendidikan karakter menjadi
sebuah pembelajaran yang wajib diinternalisasikan sejak dini di semua jenjang
pendidikan termasuk dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi (Kurniawan,
2016: 12).

C. Pentingnya Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Gambar 3. Skema Nilai-nilai karakter


Menurut Huriyah (2016) pentingnya nilai-nilai pendidikan karaker bagi
peserta didik adalah sebagai berikut:
1. Mengenali identitas diri

Pendidikan Karakter Page 5


Hal ini bertujuan untuk mengenali siapa diri kita yang sebenarnya,
dengan begitu kita mengetahui apa fungsi kita, misalkan di identitas kita
sebagai pelajar maka yang harus kita lakukan adalah belajar.
2. Menunjang kreatifitas
Kreativitas merupakan hal yang positif jika hal tersebut dapat terus
ditingkatkan, dengan adanya pendidikan karakter ini lah kita dapat
mengasah kreativitas seseorang agar menjadi lebih baik, kreativitas
seseorang tentu berbeda-beda biasanya tergantung bagaimana hobinya,
dengan terus mengasah hobi yang dimiliki seseorang tentu akan
menimbulkan kreativitas yang lebih, dan jika ada permasalahan yang timbul
maka akan cepat diatasinya.
3. Membentuk sifat yang baik
Nilai pendidikan karakter juga membentuk sifat yang baik, terutama dari
segi etika dan moral, etika seseorang yang tidak mendapatkan pendidikan
karakter akan cenderung negatif, terlebih faktor lingkungan yang selalu
berperan dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan adanya pendidikan
karakter akan memberikan batasan-batasan apa yang baik dilakukan dan apa
yang buruk, pendidikan karakter ini lah yang akan memfilter aktvitas
seseorang
4. Meningkatkan kepedulian terhadap sesama
Manusia adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan seseorang
untuk membantu dalam kehidupan sehari-harinya, dengan meningkatnya
kepedulian terhadap sesama akan memberikan dampak yang positif dari diri
seseorang tersebut, meningkatkan kepedulian terhadap sesama bisa
dilakukan dengan sedekah, bergotong-royong antar RT dan RW setempat,
sehingga mereka mengenal kita sebagai pribadi yang memiliki kepedulian.
5. Membangun sifat kepemimpinan
Sifat kepemimpinan seseorang tentu berbeda-beda tingkatan hal ini bisa
dilihat ketika dia mengambil keputusan. Agar keputusan yang diambil tidak
menimbulkan kerugian baik diri sendiri maupun orang lain. Maka sifat
kepemimpinan harus dibangun. Dengan adanya pendidikan karakter ini akan

Pendidikan Karakter Page 6


mengajarkan seseorang untuk melatih sifat kepemimpinannya. Dengan
begitu segala hal yang diputuskan akan memberikan hal yang positif.

D. Contoh Realisasi nilai Pendidikan Karakter pada 4 Nilai Karakter (Gemar


membaca, Peduli lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung jawab)
1. Gemar Membaca

Gambar 4. Peningkatan Gemar Membaca


Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, budaya membaca
masyarakat Indonesia masih rendah. Merujuk data Badan Pusat Statistik
(BPS) pada 2012, sebanyak 91,68% penduduk Indonesia yang berusia
sepuluh tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya sekitar
17,66% yang suka membaca. Begitupun UNESCO melansir laporannya
bahwa indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai angka
0,001. Artinya, dari setiap seribu orang Indonesia hanya ada satu orang saja
yang punya minat baca. Sedangkan rata-rata indeks tingkat membaca di
negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62 (Huriyah, 2016)
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat minat baca anak-
anak Indonesia adalah lingkungan keluarga yang belum mendukung. Sudah
seharusnya bagi keluarga yang ingin merangsang budaya membaca anak
dan anggota keluarga lainnya seharusnya menyiapkan perpustakaan mini di
rumahnya. Keluarga indonesia lebih banyak memilih menghiasi rumahnya
dengan barang keramik dan barang antik lainnya, ketimbang menghiasi
dengan deretan buku (Huriyah, 2016)
Sebelum berbicara lebih jauh tentang minat dan keterampilan membaca,
ada baiknya kita bahas terlebih dahulu tentang membaca. Membaca
merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca

Pendidikan Karakter Page 7


untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media
kata atau bahasa tulis. Membaca juga diartikan sebagai sebuah keterampilan
berbahasa yang hanya diperoleh melalui latihan, bukan pembawaan sejak
lahir. Oleh karena itu akan muncul berbagai keterampilan dalam melakukan
membaca, diantaranya adalah menggerakkan otot mata, menggunakan
grafik mengatasi kesulitan membaca, menggunakan kamus, mencari ide
pokok penjelasannya dan sebagainya (Huriyah, 2016)
Dalam kegiatan membaca, ada beberapa hal yang menjadi tujuannya.
Secara umum tujuan membaca adalah mendapatkan informasi, memperoleh
pemahaman serta kesenangan. Namun secara khusus, tujuan membaca
adalah memperoleh informasi faktual, memperoleh keterangan tentang
sesuatu yang khusus dan problematis, memberikan penilaian kritis terhadap
karya tulis seseorang, memperoleh kenikmatan emosi, serta mengisi waktu
luang (Huriyah, 2016)
Menurut Huriyah (2016) berikut ini merupakan contoh realisasi dan
faktor yang mempengaruhi realisasi nilai karakter berupa minat (Gemar)
membaca pada anak di lingkungan keluarga, yaitu berupa:

Gambar 5. Peran orangtua dalam peningkatan gemar membaca


a. Contoh Realisasi
Hal terpenting bagi keluarga dalam perkembangan anak adalah
memberikan fasilitas yang dapat mendukung daya tumbuh kembang
anak. Untuk mendorong anak agar mempunyai minat dan keterampilan
membaca, maka keluarga hendaknya menyediakan fasilitas berupa
perpustakaan mini di rumah, atau yang disebut perpustakaan keluarga.

Pendidikan Karakter Page 8


Jadikan anak enjoy menikmati kehadiran perpustakaan keluarga,
daripada main play station.
Kehadiran perpustakaan keluarga diharapkan mampu mendekatkan
anggota keluarga -terutama anak-anak- dengan kegiatan membaca dan
memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar. Perpustakaan
keluarga bisa didesain sesuai kondisi dan kebutuhan setiap keluarga. Ada
keluarga yang menyediakan ruangan khusus untuk perpustakaan, ada
juga yang hanya menyediakan rak-rak buku sederhana. Perpustakaan
keluarga bisa menjadi sarana yang paling tepat untuk memenuhi
kebutuhan keluarga akan bacaan karena disesuaikan dengan minat
spesifik anggota keluarga. Selain itu, perpustakaan keluarga juga menjadi
alternatif menghabiskan waktu. Sebagaimana kita ketahui bahwa
menonton televisi selama ini adalah aktivitas yang dipilih oleh sebagian
besar keluarga untuk menghabiskan waktunya.

Gambar 6. Contoh Perpustakaan Rumah


Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya perpustakaan
keluarga, yakni antara lain: (a) mengenalkan pada anak atau anggota
keluarga tentang bahan bacaan yang mengandung ilmu pengetahuan
maupun rekreasi, (b) menanamkan sikap saling membantu seluruh
anggota keluarga dalam proses pembelajaran di rumah, (c) mengajar
anak untuk menghargai bahan bacaan, (d) bisa dijadikan ajang
mempererat kebersamaan dalam keluarga, (e) dapat menggugah minat
baca anggota keluarga dan menciptakan kehangatan keluarga.

Pendidikan Karakter Page 9


Saat membuat perpustakaan keluarga, ada beberapa faktor yang perlu
diperhatikan, diantaranya adalah: pertama, penataan kondisi fisik
(athmospheric) perpustakaan keluarga. Penataan kondisi fisik
perpustakaan keluarga dapat dilakukan dengan melibatkan semua
anggota keluarga.
Tujuan dan sasaran penataan kondisi fisik perpustakaan adalah
menciptakan kondisi perpustakaan yang kondusif, nyaman, indah dan
memiliki nilainilai estetika sehingga mampu memberikan kesenangan,
ketenangan dan kepuasan bagi penggunanya. Hal-hal yang perlu
dilakukan dalam penataan kondisi fisik perpustakaan keluarga adalah
penentuan lokasi, perancangan desain perpustakaan, pencahayaan atau
penerangan, penataan sirkulasi udara, pewarnaan ruang, penataan elemen
dekoratif (dekoratif dinding, lukisan, foto nostalgia, unsur natural seperti
tanaman hidup).
Kedua, penyediaan berbagai fasilitas di perpustakaan keluarga.
Membangun perpustakaan keluarga yang ideal membutuhkan beberapa
fasilitas pendukung, diantaranya perabot rak buku. Rak buku bisa dibeli
di toko atau pesan dengan merancang desain rak sendiri. Agar
perpustakaan makin nyaman, bisa dipasang meja baca atau pun sofa.
Perabotan lain yang sangat penting adalah audio visual. Peralatan audio
visual baik untuk menunjang aktivitas membaca serta untuk berbagai
tujuan yang bersifat relaksasi. Alunan musik klasik atau slow juga sangat
disarankan diputar di ruang perpustakaan keluarga.
Ketiga, penyediaan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan
keluarga. Perpustakaan keluarga yang baik dan efisien adalah
perpustakaan yang memuat sumber-sumber yang bisa dijadikan
pembahasan dan pemecahan berbagai persoalan, bermanfaat untuk anak-
anak di sekolah, biografi tokoh, surat kabar, majalah, novel populer
maupun buku-buku untuk menambah wawasan pengetahuan. Dalam
sebuah perpustakaan keluarga, jumlah koleksi bukan hal yang penting,
tapi keragaman jauh lebih penting. Dari pada memfokuskan diri pada
jumlah buku, lebih baik memusatkan perhatian pada kepentingan dan

Pendidikan Karakter Page 10


ketertarikan khusus tiap anggota keluarga terhadap bacaan. Buku yang
berjumlah sedikit namun terbaca akan lebih baik daripada buku yang
jumlahnya banyak namun tak tersentuh.
Keempat, menciptakan perpustakaan pribadi untuk anak. Untuk
menciptakan perpustakaan pribadi anak, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, yakni: (a) menentukan ruang atau pojok ruangan mana
yang akan disulap menjadi perpustakaan pribadi khusus si kecil. (b)
menyediakan rak buku pendek yang bagian paling atasnya bisa dijangkau
anak. (c) mengatur penempatan buku untuk memudahkan pencarian.
Pengaturan bisa didasarkan pada abjad nama penulis, atau judul bukunya.
Tapi, beberapa anak senang mengatur peletakan buku berdasarkan
ukuran. Hal ini memang akan membuat deretan buku terlihat lebih rapi.
(d) menyediakan kursi, meja kecil, dan karpet lembut di dekat rak buku
agar anak semakin nyaman membaca. (e) membuat aturan bersama anak
perihal perawatan dan penjagaan buku dan bahan bacaan lainnya.
Misalnya, tidak diperkenankan menulis atau mencoret-coret buku,
melipat halaman, atau merobeknya. (f). untuk menjaga agar buku tak
mudah rusak, ajak anak untuk menyampul buku-bukunya, terutama buku
soft cover.
b. Faktor Minta (Gemar) Membaca
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi minat dan
keterampilan membaca anak, yakni antara lain motivasi. Motivasi
merupakan faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan
membaca. Motivasi untuk membaca dapat dibedakan berdasarkan
sumbernya. Dalam hal ini ada motivasi yang bersifat intrinsik, yaitu
motivasi yang bersumber pada membaca itu sendiri,dan informasi
ekstrinsik yang sumbernya terletak diluar membaca itu. Contoh motivasi
intrinsik ialah keinginan atau dorongan untuk mendapatkan penghargaan,
atau untuk mendapatkan imbalan. Seseorang yang memiliki motivasi
tinggi atau kuat, tanpa didorong atau disuruh membaca atau giat belajar
membaca; sedangkan yang tidak bermotivasi atau motivasinya rendah,
tentunya enggan membaca. Faktor motivasi juga dipengaruhi oleh

Pendidikan Karakter Page 11


berbagai hal seperti kondisi ekonomi orangtua, lingkungan keluarga,
teman sebaya, lingkungan sekolah, dan lain sebagainya.
Faktor yang mempengaruhi membaca berikutnya adalah lingkungan
keluarga. Orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya membaca
akan berusaha agar anak-anaknya memiliki kesempatan untuk belajar
membaca. Kebiasaan orangtua membacakan cerita untuk anak-anak yang
masih kecil merupakan usaha yang besar sekali dalam menumbuhkan
minat baca maupun perluasan pengalaman serta pengetahuan anak.

Gambar 7. Sosialisasi orang tua agar anak gemar membaca


Bahan bacaan adalah faktor ketiga yang dapat mempengaruhi kegiatan
membaca. Bahan bacaan akan mempengaruhi minat maupun kemampuan
memahaminya. Bahan bacaan yang terlalu sulit untuk seseorang akhirnya
akan mematahkan selera untuk membacanya. Selain ketiga faktor diatas,
terdapat beberapa faktor lain dalam membaca, yakni tingkat intelijensi,
kemampuan berbahasa, sikap dan minat, keadaan bacaan, kebiasaan
membaca, pengetahuan tentang cara membaca, latar belakang sosial,
ekonomi dan budaya, emosi, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki
sebelumnya, kemampuan berkomunikasi dalam membaca, serta daya
tahan membaca.
Inteligensi adalah faktor yang mempengaruhi dalam proses membaca.
Pada hakekatnya, membaca adalah proses berpikir dan memecahkan
masalah. Dua orang yang berbeda IQ (Intelligence Quotient)-nya sudah

Pendidikan Karakter Page 12


pasti akan berbeda hasil dan kemampuan membacanya. Faktor
berikutnya adalah kemampuanberbahasa. Apabila seseorang menghadapi
bacaan yang bahasanyatidak pernah didengarnya maka akan sulit
memahami teks bacaan tersebut. Penyebabnya tidak lain karena
keterbatasan kosakata yang dimilikinya.
Sikap dan minat juga bisa mempengaruhi proses membaca. Sikap
biasanya ditunjukkan oleh rasa senang dan tidak senang. Sikap
umumnya bersifat laten atau lama. Sedangkan minat merupakan keadaan
dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu.
Minat lebih bersifat sesaat. Selain hal tersebut, keadaan bacaan juga
mempunyai pengaruh yang besar dalam kegiatan membaca.

2. Peduli Lingkungan
Isu lingkungan tidak bisa dipungkiri lagi merupakan isu yang semakin
hari semakin keras diserukan oleh banyak pihak. Pada kenyataannya, isu
lingkungan memang bukan sekedar isapan jempol semata karena banyak
kejadian tragis yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan.
Faktor utama penyebab kerusakan lingkungan tersebut tidak lain dan
tidak bukan adalah manusia tentunya. Banyak orang yang justru tidak
menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan dan bahkan banyak orang
tidak peduli serta tidak tahu cara yang tepat untuk menjaga lingkungan agar
terhindar dari kerusakan.
Ketidakpedulian dan ketidaktahuan ini bisa jadi muncul karena mereka
tidak diajari mengenai kepedulian terhadap lingkungan sedari kecil oleh
orang tua mereka. Banyak orang tua juga tidak memberi contoh yang baik
kepada anak mengenai cara-cara sederhana untuk menjaga lingkungan.
Tentu kita tidak ingin melihat alam yang semakin merana karena anak-
anak kita kelak tumbuh dewasa dengan ketidakpedulian yang sama terhadap
alam karena kita tidak mengajarkan mereka untuk peduli terhadap alam.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita memberi pengertian dan contoh
pada anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan beberapa langkah
sederhana.

Pendidikan Karakter Page 13


Menurut Bangjuju.com (2013), bahwa berikut ini sedikit contoh dari
realisasi nilai karakter berupa Peduli Lingkungan, yaitu sebagai berikut:
a. Melatih kepekaan anak pada hewan
Ekologi lingkungan terdiri dari beberapa elemen termasuk di
antaranya hewan dan tumbuhan. Banyak orang tua yang mengajarkan
anak untuk bersikap baik dan peduli terhadap sesama manusia, tetapi
sebaiknya orang tua juga tidak lupa untuk mengajarkan anak agar
memberikan kepedulian yang sama terhadap hewan.

Gambar 8. Peduli pada Hewan di sekitar


Ada banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk melatih kepekaan anak
terhadap lingkungan terutama hewan. Memberikan pengertian mengenai
rantai makanan dan pentingnya menjaga rantai makanan tetap stabil
misalnya merupakan hal sederhana yang bisa dilakukan oleh orang tua.
Orang tua juga perlu menanamkan pengertian pada anak agar tidak
menyiksa binatang karena setiap binatang juga mempunyai hak untuk
hidup laiknya manusia. Sesekali orang tua juga bisa mengajak anak
bertamasya ke kebun binatang untuk memperluas wawasan anak
mengenai berbagai macam hewan.
Banyak orang tua yang anti memelihara binatang saat ada anak di
dalam keluarga. Namun, sebenarnya memelihara binatang peliharaan di
rumah dan mengajak anak untuk ikut serta merawat binatang tersebut
juga akan mengasah kepekaan anak terhadap makhluk hidup tidak hanya
binatang melainkan juga manusia.

Pendidikan Karakter Page 14


Gambar 9. Anak yang peduli pada hewan
b. Tamasya Alam
Liburan sekolah merupakan momen yang tepat untuk keluarga
berkumpul dan menghabiskan waktu bersama tanpa harus terganggu oleh
aktivitas sehari-hari yang demikian sibuk. Kebanyakan orang tua
biasanya akan mengajak anak mereka untuk menghabiskan waktu liburan
di pusat perbelanjaan atau taman hiburan.
Tidak ada salahnya memang, tetapi ada kalanya Anda perlu
memanfaatkan waktu liburan sekolah untuk mengajak anak Anda untuk
lebih mengenal alam bebas. Ada banyak tempat wisata yang bertema
alam yang bisa Anda temukan meskipun mungkin agak jauh dari kota
tempat Anda tinggal.

Gambar 10. Mengajak keluarga tamasya


Anda dan keluarga bisa mengunjungi air terjun atau danau untuk
mengenalkan anak pada ekosistem air tawar misalnya. Anda yang tinggal
di lingkungan perkotaan mungkin jarang berkesempatan untuk
menikmati udara segar dari lingkungan dengan area pepohonan yang

Pendidikan Karakter Page 15


rimbun sehingga mungkin Anda dan keluarga bisa memilih
menghabiskan waktu liburan di hutan wisata.
Selain itu, mungkin Anda juga bisa mempertimbangkan untuk
mengajak anak berkemah di alam terbuka agar anak lebih dekat dengan
alam. Satu prinsip penting yang orang tua tidak boleh lupa saat mengajar
anak untuk peduli pada lingkungan adalah bahwa orang tua harus terlibat
langsung dan memberi contoh pada anak mengenai kepedulian terhadap
lingkungan itu sendiri.
c. Buang Sampah pada Tempatnya
Hal ini bisa menjadi dasar kepedulian buah hati pada lingkungannya.
Bisa memberikan wawasan pada mereka apa bahaya jika sampah tidak
dibuang pada tempatnya, misalnya saja membuang sampah di sungai atau
melempar sampah sembarangan dari jendela mobil. Ajarkan juga cara
membedakan mana sampah organik mana sampah non-organik.

Gambar 11. Mengajarkan anak membuang sampah pada tempatnya


Untuk melatih mereka, sediakan tempat sampah yang bisa
menampung sampah non organik di dalam kamar mereka. Jika mereka
sudah terbiasa dan memulai dari rumah, maka mereka akan peduli saat
membuang sampah pada tempatnya sekalipun mereka jauh dari rumah.
Mengingat masih banyak keluarga yang tidak peduli, ayo mulai dari
keluarga Anda!
d. Kreasi Baru dengan Daur Ulang
Memanfaatkan beberapa barang bekas dan sampah yang bisa didaur
ulang bisa menjadi salah satu cara kreatif agar putra-putri tidak terlalu

Pendidikan Karakter Page 16


konsumtif membeli berbagai mainan atau barang-barang buatan pabrik.
Selain bisa menjadi alternatif daur ulang, kegiatan ini bisa dilakukan
seluruh keluarga yang menyenangkan.

Gambar 12. Mengajarkan anak mengolah sampah bekas


Anda pasti masih ingat bagaimana membuat mobil-mobilan dari kulit
jeruk Bali Atau bila ingin barang yang tahan lama, bisa mengajak buah
hati untuk membuat tas atau dompet dari pembungkus sabun cuci piring
cair. Tanamkan pada diri anak bahwa memakai bahan kreatif daur ulang
adalah hal yang baik dan bisa menyelamatkan lingkungan.
e. Belajar Menanam Pohon
Keluarga kita pasti ingin berpartisipasi pada acara menanam pohon
yang sering digalakkan berbagai lembaga pecinta lingkungan maupun
pemerintah. Membuat putra-putri mencintai pohon sebagai salah satu
penopang kehidupan tentu harus dibiasakan mulai mereka kecil.

Gambar 13. Mengajarkan anak menanam pohon

Pendidikan Karakter Page 17


Jika halaman rumah tidak terlalu luas, keluarga bisa memanfaatkan
tanaman yang memakai media pot. Ajak putra-putri untuk turut serta
merawatnya, lebih baik jika yang ditanam bisa menghasilkan buah,
pohon tomat misalnya. Kita juga bisa memakai media boneka yang bisa
ditumbuhi tanaman, misalnya boneka Horta.

3. Peduli Sosial

Gambar 14. Mengajarkan anak peduli terhadap teman


Kepribadian anak anda setelah dewasa tidak bisa lepas dari bagaimana
pola pendidikan yang diterapkan orang tua kepada anak di usia dini. Dengan
mengarahkannya semenjak usia dini, maka kemungkinan besar anak
menjadi pribadi yang diharapkan oleh orang tua menjadi lebih besar, dan
tentunya setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi pribadi yang
sebaik-baiknya bahkan lebih dari orang tuanya (Muthmainnah, 2016).
Ada begitu banyak nilai-nilai kebaikan yang sebaiknya ditanamkan
kepada diri anak, yakni kepedulian terhadap sesama. Seiring dengan
berkembangnya waktu dan zaman, rasa kepedulian banyak manusia
terhadap sesamanya mulai banyak berubah dan meluntur, sehingga dengan
menanamkan rasa peduli terhadap sesamanya, maka di masa depan
lingkungan anak anda tumbuh dan hidup tetap menjujung tinggi rasa
kepedulian yang besar bagi sesama (Muthmainnah, 2016).
Momentum Ramadhan dan Idul Fitri/adha ini adalah saat yang tepat
untuk mengajarkan pada anak tentang pentingnya kepedulian sosial pada
mereka yang kurang beruntung. Kepedulian sosial adalah suatu nilai penting
yang harus dimiliki seseorang karena terkait dengan nilai kejujuran, kasih
sayang, kerendahan hati, keramahan, kebaikan dan lain sebagainya. Untuk

Pendidikan Karakter Page 18


memiliki sikap kepedulian sosial memang dibutuhkan tingkat kematangan
tertentu. Memang sulit mendidik anak tentang kepedulian sosial, namun
bukan berarti mereka tidak perlu belajar. Secara perlahan anak akan
mengerti tentang pentingnya sikap peduli terhadap sesama sejak usia dini
(Muthmainnah, 2016).

Gambar 15. Momentum Idul Adha untuk mengajarkan anak peduli


Sikap sayang sesama dapat dilatih kepada anak dengan cara, misalnya,
memberi tahu anak bagaimana harus bersikap saat berteman. Mereka juga
harus diajarkan untuk mengutarakan perasaan dengan kata-kata. Bagi anak,
hal itu sangat penting karena saat anak-anak segala sesuatu ingin diketahui
(Muthmainnah, 2016).

Gambar 16. Peduli terhadap teman sebaya


Langkah lain yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan
penguatan positif pada perilaku sayang. Sebab, kebanyakan orangtua hanya
memerhatikan anak ketika melakukan hal baik dan tidak baik. Anak
berperilaku tidak baik karena anak merindukan perhatian orangtua. Karena
itu, nyatakan penghargaan dan sayang Anda saat anak berperilaku sayang,

Pendidikan Karakter Page 19


maka dia akan lebih sering menunjukkan perilaku sayang (Muthmainnah,
2016).
Ini bertujuan untuk melatih anak agar lebih positif dalam bertindak dan
bersikap. Dengan kasih sayang yang diajarkan kepada mereka, anak-anak
akan mengerti kesulitan orang lain (Muthmainnah, 2016).
Hal lain yang harus diajarkan orangtua kepada anak adalah mengajarkan
mereka untuk menolak perilaku yang bertentangan dengan kasih sayang.
Anak-anak perlu belajar apa yang dapat atau tidak diterima untuk mencapai
keinginannya. Jika untuk mendapatkan keinginannya seorang anak
menyakiti atau merugikan orang lain, hal ini bertentangan dengan kasih
sayang (Muthmainnah, 2016).

4. Tanggung Jawab
Pengertian tanggung jawab memang sering kali terasa sukar untuk
didefinisikan secara tepat. Adakalanya tanggung jawab dikaitkan dengan
menerima konsekwensi dari apa yang telah kita perbuat, atau merupakan
suatu keharusan untuk melakukan sesuatu. Banyaknya bentuk tanggung
jawab ini menyebabkan kita terasa sulit untuk menyusunnya dalam bentuk
kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami. Dosen Psikologi Universitas
Pancasila putri langka, M. Psi, mendefinisikan tanggung jawab sebagai
suatu konsekwensi dari suatu pekerjaan yang telah seseorang lakukan.
Melatih anak untuk bertanggung jawab sejak dini merupakan langkah
yang tepat bahkan harus dilakukan oleh semua orang tua. Mengingat
maraknya perilaku anak zaman sekarang banyak yang tidak bertanggung
jawab, Menurutnya mendidik anak bertanggug jawab sejak dini akan sangat
berguna kelak kala remaja. “Apabila tanggung jawab sudah dibiasakan sejak
dini, maka ketika ia beranjak dewasapun sifat ini akan mudah di
kembangkan, sehingga hal-hal yang tidak bertanggung jawab dari perbuatan
anak itu bisa terreduksi, bahkan hilang ” tandasnya.

Pendidikan Karakter Page 20


Gambar 17. Mengajarkan anak bertanggung jawab setelah bermain
Sikap bertanggung jawab bukanlah sikap genetik yang sudah ada pada
setiap individu. Tetapi untuk bertanggung jawab memerlukan pembiasaan.
Maka perlu peran orang lain untuk membiasakannya anak sedini mungkin
dengan memulainya dari hal-hal kecil dulu. Untuk memulainya, seorang
anak membutuhkan contoh serta arahan dari lingkungan terdekatnya.
Menganai ini Putri berpendapat bahwasanya orang tua merupakan pihak
yang paling tepat untuk membantu mengajarkan anak bertanggung jawab
karena keduanya adalah orang-orang terdekatnya yang mengetahui kondisi
perkembangan jiwa anak. Orang tua memiliki peranan yang sangat
signifikan dalam membantu mendidik anak bertanggung jawab, tidak hanya
ibu, seorang ayah juga memiliki peran yang sama besarnya dengan ibu,
karena apabila seorang ayah sudah tidak sejalan dengan apa yang ibu
lakukan pada anaknya, maka anaknya pun akan menirunya, peran ayah
sebagai kepala keluarga dialah salah satu pemberi figur yang baik kepada
anak serta pendukung ibunya dalam segala aspek yang menyangkut anak,
sehingga anak akan benar-benar merasa bahwa keduanya (ibu dan ayah)
merupakan figure yang tepat yang harus anak tiru, “begitu juga dalam hal
membantu mendidik anak bertanggung jawab, peran seorang ayah sama
besarnya dengan peran ibu” tambahnya.
Orang tua perlu mengetahui perkembangan anak. Baik menyangkut
perkembangan fisik maupun psikis. Begitu juga dalam membantu mendidik
anak bertanggung jawab, orang tua harus mengetahui seluk-beluk dan
perkembangan jiwa anaknya. Karena hal ini akan sangat membantunya

Pendidikan Karakter Page 21


dalam memilih cara atau metode dalam membantu mengajarkan anak
bertanggung jawab. Banyak cara orang tua untuk mengetahui cara melatih
rasa tanggung jawab kepada anaknya. Misalnya dengan belajar dari orang
tua mereka, atau mengumpulkan informasi dari buku. Bisa juga dengan
mengikuti seminar tentang anak, baik itu yang berhubungan dengan
perkembangan jiwanya secara umum maupun dalam hal membantunya
bertanggung jawab.
Menurut Putri Langka M.Psi, dalam membantu mendidik anak
bertanggung jawab, mulailah dari hal-hal yang kecil dengan bertanggung
jawab terhadap dirinya sendiri terlebih dulu, seperti anak bisa
membersihkan dirinya sendiri, meletakan tas pada tempatnya, kemudian
setelah itu bisa dilanjutkan dengan tanggung jawab yang lebih tinggi, yaitu
tanggung jawab terhadap keluarga, contohnya membantu membereskan
tempat tidurnya setiap hari, “Bahkan mengakui kesalahan yang telah ia
lakukan juga merupakan bentuk dari tanggung jawab,” tambahnya, jika
pondasi lingkungan internalnya sudah kuat, maka anak akan dapat
mengembangkan tanggung jawab di luar lingkungan keluarga, yaitu
tanggung jawab terhadap masyarakat ataupun lingkungannya.
Peran orangtua dalam perkembangan anaknya sangatlah signifikan.
Begitu juga dalam membantu mengajarkan tanggung jawab pada anak.
Orangtua adalah orang paling dekat dengan anak, maka harus menjadi
teladan yang baik. Selain itu kepedulian orang tua akan perkembangan
anaknya juga sangat penting. Dalam hal ini diimplementasikan dengan
memberikan ruang dan waktu untuk membantu mendidik anak bertanggung
jawab secara langsung. “Orangtua jangan hanya bisa bersifat instruktif, tapi
bagaimana ia bisa menjadi model bagi anaknya dengan cara terjun langsung,
selain itu juga memberikan pemahaman-pemahaman terhadap anak tentang
tanggung jawab itu sendiri sangatlah penting” ungkap Sofiandi.
Menurut Sofiandi, kesalahan yang selama ini banyak dilakukan oleh
orang tua dalam pendidikan tanggung jawab ialah kurangnya pengarahan
dan figure yang baik. Kebanyakan orang tua hanya menjadi penyuruh tanpa
memberikan tuntunan serta contoh. Padahal seharusnya orang tua menjadi

Pendidikan Karakter Page 22


role model, seperti apa tanggung jawab itu. Karena anak cenderung
menjiplak perilaku orang tuanya. Perlu diketahui, pola pikir anak itu
kongkrit. Artinya dia akan menyerap apa saja yang ia perhatikan. Selain
memberikan arahan serta contoh yang baik, orang tua juga harus bisa
mengkomunikasikan tujuan serta manfaat ketika menyuruh melakukan
sesuatu pada anaknya.
Sementara itu Elly Risma Musa, Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati
mengatakan bahwa orang tua perlu membekali diri dengan tiga hal. Yaitu
pengetahuan tingkat perkembangan anak, bagaimana cara otak anak bekerja,
dan gaya komunikasi yang diterapkan pada anak. Elly menjelaskan bahwa
poin pertama serta kedua bisa dipelajari melalui buku-buku ataupun artikel-
artikel terkait, seminar dan konsultasi khusus pada seorang Psikolog.
Sedangkan untuk poin yang ketiga, orang tua perlu mengasah keterampilan
gaya komunikasinya sendiri. Sehingga gaya berkomunikasinya bisa
memotivasi sang anak, misalnya dengan cara memuji anak ketika
melakukan sesuatu dengan baik. Jadi jelaslah, bahwa masalah membantu
mendidik anak bertanggung jawab, akhirnya kembali pada orangtuanya itu
sendiri. Dengan kata lain terpulang pada nilai-nilai diri orangtua, yaitu
seperti yang tercermin dalam mendidik dan mengasuhnya.

Pendidikan Karakter Page 23


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pasti dialami seseorang
sejak ia dilahirkan, dan biasanya dilaksanakan sendiri oleh orang tua dan
anggota keluarga yang lain. Pendidikan oleh orangtua merupakan
pendidikan utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena merekalah
anak mula-mula menerima pendidikan. dengan demikian bentuk pertama
dari pendidikan terdapat dalam kehidupana keluarga.
2. Realisasi Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu
perkembangan jiwa anak-anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratnya
menuju ke arah peradaban yang manusiawi dan lebih baik. Pendidikan
karakter merupakan proses yang berkelanjutan dan tak pernah berakhir
(never ending process), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang
berkesinambungan (continuous quality improvement) yang ditujukan pada
terwujudnya sosok manusia masa depan dan berakar pada nilai-nilai budaya
bangsa.
3. Pentingnya nilai-nilai pendidikan karaker bagi peserta didik adalah
Mengenali identitas diri, Menunjang kreatifitas, Membentuk sifat yang baik,
Meningkatkan kepedulian terhadap sesama, dan Membangun sifat
kepemimpinan.
4. Gemar membaca merupakan suatu kebiasaan menyediakan waktu untuk
membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. Peduli
lingkungan merupakan perilaku yang selalu berupaya mencegah kerusakan
pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Kepekaan akan
segala kesulitan yang dihadapi oleh Peduli sosial merupakan perilaku yang
selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang

Pendidikan Karakter Page 24


membutuhkan. Tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku seseorang
untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan,
terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya).

Pendidikan Karakter Page 25