Anda di halaman 1dari 20

KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR

SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PENERIMAAN LAPORAN POLISI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN


SOP-SPKT-02 00 1/21

TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017


DIBUAT OLEH DIPERIKSA OLEH
ANGGOTA KA SPKT

SASWITO, SE ANDRE J.W MANUPUTTY, S.I.K


KOMPOL NRP.72060536 AKBP NRP.72060453

1. Tujuan

Disusunnya Standar Operasional Prosedur (SOP) Penerimaan Laporan Polisi.


bertujuan sebagai pedoman pelaksanaan tugas dalam menerima laporan dan
pengaduan masyarakat.

2. Dasar

a. Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik


Indonesia.
b. Undang-undang No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP.
c. Peraturan kepala Badan Reserse Kriminal No 3 Tahun 2014 Tentang
Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

3. Pengertian
a. SPKT adalah singkatan dari Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu yang
bertugas melaksanakan pelayanan untuk menerima laporan pengaduan
masyarakat
b. Siaga SPKT adalah anggota yang disiagakan untuk melayani, menerima
laporan dan pengaduan masyarakat.
c. Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena
hak atau kewajibannya berdasarkan Undang-Undang kepada pejabat yang
berwenang tentang telah atau sedang diduga akan terjadinya tindak pidana.
d. Pengaduan adalah pemberitahuan disertai dengan permintaan oleh pihak
yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang guna menindak
menurut hukum seseorang yang melakukan tindak pidana aduan yang
merugikan.

4. Sarana dan Prasarana


a. 4 unit perangkat komputer beserta printer
b. Alat tulis kantor
c. Jaringan internet dan wifi
d. Ruang tunggu yang nyaman
e. Ruang pelayanan replesentatif
f. Mushola
g. Tempat parkir yang memadai
h. Toilet pria dan wanita
i. Instalasi listrik (kabel,colokan,dll)
j. Petugas

5. Pelaksanaan
a. Pelapor diterima diruang siaga oleh petugas piket dengan senyum, sapa,
salam kemudian ditanya hal yang dapat dibantu
b. Pelapor dipersilahkan untuk duduk ditempat yang disediakan berhadapan
dengan petugas penerima laporan (petugas piket)
c. Petugas menanyakan identitas pelapor, bukti pendukung dan melakukan
pemeriksaan yang dituangkan dalam Laporan Polisi
d. Petugas memberikan Laporan Polisi yang sudah dibuat untuk diperiksa
oleh pelapor dan dibubuhkan tandatangan pelapor
e. Petugas penerima laporan menandatangani laporan polisi yang sudah
dibuat kemudian meminta Ka siaga SPKT untuk menandatangani laporan
polisi tersebut
f. Petugas penerima laporan membuat surat permintaan visum et repertum
kepada rumah sakit dalam tindak pidana yang memerlukan pemeriksaan
saksi ahli
g. Petugas membuatkan Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) atau
pengaduan dan menyerahkan satu lembar kepada pelapor setelah
ditandatangani
h. Petugas menyerahkan Laporan Polisi yang sudah dibuat bersama
pelapor/korban kepada penyidik untuk ditindaklanjuti atau petugas yang piket
mengantarkan berkas Laporan Polisi ke satker terkait.
KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR
SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

SURAT LAPORAN KEHILANGAN

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN


SOP-SPKT-02 00 4/21
TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017

1. Tujuan

Disusunnya Standar Operasional Prosedur (SOP) Penerimaan Laporan


Kehilangan bertujuan sebagai pedoman pelaksanaan tugas dalam menerima
laporan dan pengaduan masyarakat.

2. Dasar

a. Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik


Indonesia.
b. Undang-undang No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP

3. Pengertian
Laporan Kehilangan adalah surat keterangan yang menerangkan bahwa
seseorang melaporkan adanya sebuah kasus kehilangan suatu barang
berharga/dokumen yang dikeluarkan oleh SPKT sebagai persyaratan untuk
mengurus dokumen yang hilang

4. Persyaratan
a. Yang bersangkutan/korban datang sendiri
b. Membawa kartu indentitas diri/surat pengantar dari kelurahan
c. Membawa salinan atau Foto copy dokumen yang hilang
d. Untuk surat penting (paspor, dll) wajib membawa surat pengantar dari
instansi yang mengeluarkan dokumen tersebut
5. Pelaksanaan
a. Pelapor diterima diruang siaga oleh petugas piket dengan senyum, sapa,
salam kemudian ditanya hal yang dapat dibantu
b. Pelapor dipersilahkan untuk duduk ditempat yang disediakan berhadapan
dengan petugas penerima laporan (petugas piket)
c. Petugas menanyakan identitas pelapor, bukti pendukung kemudian
mengetik surat keterangan yang dituangkan dalam Surat Laporan
Kehilangan sesuai dengan format yang sudah ditentukan
d. Petugas mencetak 2 lembar Surat Laporan Kehilangan kemudian
memberikan kepada pelapor untuk diperiksa dan di tandatangani
e. Petugas mengajukan Surat Laporan Kehilangan kepada Ka Siaga SPKT
untuk ditandatangai
f. Petugas melakukan registrasi penomoran Surat Laporan Kehilangan dan
memberikan stempel
g. Petugas penyerahkan satu lembar Surat Laporan Kehilangan kepada
pelapor dan satu lembar sebagai arsip di SPKT
KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR
SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

SKOT (Surat Keterangan Orang Terlantar)

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN


SOP-SPKT-02 00 6/21
TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017

1. Tujuan
Membangun dan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dalam hal
penerbitan SKOT (Surat Keterangan Orang Terlantar) secara online sehingga
diharapkan dengan aplikasi online SKOT akan dapat lebih efektif dan efisien
serta mempermudah dalam melaksanakan tugas

2. Pedoman
a. Undang undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 dan 2 tentang fakir miskin dan
orang terlantar
b. Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.Pengertian
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2009 tentang
kesejahteraan sosial
d. Progam Kerja SPKT Polda Jatim TA 2017
e. Rencana Kerja SPKT Polda Jatim TA 2018

3. Pengertian
Surat Keterangan Orang terlantar yaitu surat keterangan yang diterbitkan oleh
petugas SPKT secara online kepada orang yang karena sebab tertentu
sehingga menyebabkan dirinya terlantar/tidak berdaya secara materi, yang
selanjutnya dari surat keterangan tersebut digunakan untuk mendapatkan
bantuan (uang saku, panti penampungan, makan, tiket sesuai domisili) dari
pemerintah setempat (Dinas sosial)
4. Prosedur Pelaksanaan
Mekanisme aplikasi online SKOT dapat dilaksanakan diawali dengan :
a. Masyarakat yang terlantar dapat melaporkan melalui call center 110,
datang ke SPKT Polda Jatim atau Dinas Sosial
b. Petugas menginput data identitas orang terlantar de dalam aplikasi online
yang terintegrasi dengan Dispenduk, Dinsos, Reskrim/Intel dan Dishub
c. Penerbitan Sket orang terlantar oleh petugas SPKT
d. Jika armada belum siap orang terlantar dilakukan penampungan dikantor
dinas sosial jika armada sudah siap orang terlantar diberikan uang saku
dan diantar oleh petugas SPKT menuju ke terminal, stasiun atau
pelabuhan sesuai dengan alamat yang dituju
e. Penjemputan dari turun armada dan penyediaan tempat transit sementara
untuk orang terlantar oleh petugas terminal, pelabuhan dan stasiun
sebelum dilakukan penjemputan oleh petugas SPKT jajaran
f. Pengantaran orang terlantar dari terminal, stasiun dan pelabuhan menuju
ke alamat tempat tinggal dan keluiarganya yang kemudian
didokumentasikan bersama dengan Ketua RT atau RW setempat.
KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR
SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

CALL CENTRE 110

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN


SOP-SPKT-02 00 8/21
TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017

1. Tujuan
Sebagai pedoman dan acuan standar pelayanan operasional pelaksanaan tugas
call center 110 dalam menerima telepon pengaduan masyarakat guna
percepatan tindakan kepolisian sebagai wujud pelayanan publik melalui media
elektronik.

2. Pedoman/Dasar
a. Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
b. Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan transaksi
elektronik atau teknologi informasi secara umum
c. Perkap Nomor 20 tahun 2014 tentang pelayanan Polisi 110

3. Pengertian
Layanan Polisi 110 merupakan layanan bagi masyarakat Indonesia, Khususnya
untuk pengaduan yang bersifat darurat, sesuai dengan visi Polri yaitu
terwujudnya pelayanan keamanan dan ketertiban masyarkat yang prima,
tegaknya hukum dan keamanan dalam negeri yang mantap serta terjalinnya
sinergi polisional yang proaktif

4. Sarana dan Prasarana


a. Meja berpartisi
b. Kursi
c. Komputer set+ UPS
d. Headset
e. Printer warna
f. TV LCD 50 inci untuk monitoring (khusus Polda)
g. Jaringan internet
h. Aplikasi pengaduan
i. Aplikasi Recording (rekaman pembicaraan)
j. Aplikasi CMS (Call Monitoring System)
k. 1 orang tenaga EOS (Engineer On Site) yang bertugas memastikan segala
perangkat, jaringan maupun aplikasi call center 110 berjalan dengan baik

5. Prosedur pelaksanaan
a. Pada tingkat Polda
1) Menerima limpahan telepon dari Polres
2) Input pengaduan dari masyarkat melalui telpon
3) Melakukan eskalasi ke Polres terkait
4) Monitoring pengaduan Polres
b. Pada tingkat Polres
1) Menerima telepon masuk langsung dari masyarakat
2) Input pengaduan dari masyarakat melalui telepon
3) Menindaklanjuti laporan eskalasi dari Polda
4) Melakukan reaksi atas laporan yang masuk

6. Tata Cara penerimaan


a. Langkah I (pada komputer)
1) Nyalahkan komputer
2) Pilih aplikasi google atau mozila firefox
3) Ketik link 180.250.77.27/new_polri
4) Isi username Polda (poldajatim) / Polres(polres.........)
5) Isi password Polda (polda123)/Polres (polres123)
b. Langkah 2 (pada avaya/telepon)
1) Nyalakan avaya/telepon
2) Pasang headset
3) Tekan tanda panah kanan
4) Tekan tanda panah atas
5) Selanjutnya cari login di dalam layar avaya, lalu tekan tombol ok dalam
tombol avaya/telepon
6) Tekan username 75701 ( atau nomor lain sesuai yang sudah disetting/
ditentukan enginer /EOS)
7) Tekan lagi 75701
8) Selanjutnya cari auto in dalam layar avaya/telepon lalu tekan tombol ok

KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR


SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

RECEPTIONIS

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN


SOP-SPKT-02 00 11/21
TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017

1. Tujuan
Sebagai pedoman dalam pelaksaanan tugas receptionis dalam penerimaan tamu
yang humanis dan memberikan kemudahan kepada tamu

2. Pengertian
Resepsionis adalah orang yang bertugas di area front liner sebagai penerima
tamu untuk menyambut, menanyakan, mengkoordinasikan dan menghantarkan
tamu sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh tamu.

3. Kriteria
a. Memiliki performance yang baik dan simpatik
b. Percaya diri, bersikap ramah dan humanis dalam memberikan pelayanan
c. Tenang, sopan dan mendengarkan setiap pembicaraan pada saat melayani
tamu
d. Komunikatif dengan bahasa jelas dan mudah dimengerti
e. Jangan menyela atau memotong pembicaraan tamu
f. Memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang cukup
g. Tanggung jawab dalam melaksakan tugas sebagai receptionis

4. Prosedur Pelaksanaan
a. Membukakan pintu dan menyambut tamu dengan humanis (senyum, sapa,
salam)
b. Menanyakan kepentingan dan memberikan nomor antrian sesuai dengan
tujuan
c. Melakukan registrasi identitas tamu
d. Mempersilakan tamu untuk duduk diruang tunggu
e. Mengantarkan tamu sesuai dengan tujuan
f. Membukakan pintu dan mengucapkan terimakasih kepada tamu yang sudah
selesai dan meninggalkan ruang pelayanan
KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR
SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

CCTV
NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN
SOP-SPKT-02 00 13/21
TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017

1. Tujuan
a. Untuk membantu dalam memonitoring atau mengawasi situasi serta
kegiatan yang terjadi dilokasi yang terpasang camera cctv sebagai
b. Untuk memudahkan dan penunjang penyelidikan terhadap tindak pidana
yang terjadi
c. Untuk meninjau kinerja yang dilakukan oleh personil yang bertugas
d. Untuk merekam semua kejadian yang terekam pada CCTV sehingga dapat
dijadikan sebagai alat bukti untuk pelaporan kepada pihak yang berwajib

2. Dasar
a. Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
b. Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan transaksi
elektronik atau teknologi informasi secara umum

3. Pengertian
CCTV ( Closed Circuit Television) Adalah sebuah kamera video digital yang
difungsikan untuk memantau dan mengirimkan sinyal video kepada suatu
ruangan yang kemudian sinyal itu akan diteruskan ke sebuah layar monitor

4. Alat
a. Kamera
b. DVR (Digital Video Recorder)
c. HDD (Hard Disk Drive)
d. Coaxial Cable
e. Power Cable
f. BNS Connector

5. Mekanisme CCTV
Kamera CCTV ditempatkan disuatu lokasi yang strategis yang memiliki
jangkauan yang luas, hasil rekaman pada kamera CCTV akan terekam dengan
jelas pada DVR dengan batas waktu atau batas kapasitas yang ditentukan
sesuai dengan kebutuhan pengguna, Kamera CCTV dapat merekam segala
kegiatan atau aktivitas secara otomatis dengan cara kerja yang dapat diatur
pada pengaturan system CCTV terlebih dahulu dan akan selalu melakukan
aktivitas perekaman selama persediaan kapasitas media penyimpanan pada
DVR masih tersedia.

KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR


SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

REWARD DAN PUNISMENT

KEPADA ANGGOTA
NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN
SOP-SPKT-02 00 15/21
TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017

1. Tujuan
SOP tentang pemberian reward dan punishment kepada pelaksana layanan ini
disusun sebagai pedoman atau acuan dalam memberikan reward/penghargaan
atau punishment/sanksi kepada anggota yang berhak dinilai dalam hal ini
anggota yang bertugas sebagai pelaksana layanan, dan penilaian yang diberikan
secara berkala.

2. Dasar
a. UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
b. Peraturan Kapolri Nomor 22 tahun 2010, tanggal 28 September 2010
tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian
Daerah;
c. Surat Perintah Ka SPKT Polda Jatim Nomor : Sprin/38/I/2017 tanggal 16
Januari 2017 tentang sprin pelaksana Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah
Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Dari melayani
(WBBM)di lingkungan Polri.
d. Program kerja SPKT 2017
e. Rencana kerja SPKT 2018

3. INDIKATOR PENILAIAN
a. Pemberian Reward/penghargaan dapat diberikan dengan kualifikasi
penilaian sebagai berikut :
1) Selama bertugas sebagai pelaksana layanan/ piket siaga berpenampilan
dan berpakaian yang rapi, menarik, dan sopan.
2) Memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan 3S (Senyum, Sapa,
Salam) dan melaksanakan pelayanan sesuai SOP yang berlaku.
3) Memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik, tidak arogan,
tidak membentak-bentak, serta memberikan informasi yang dibutuhkan
oleh masyarakat secara jelas.
4) Keberadaannya pada saat melaksanakan tugas/piket selalu ada ditempat
sesuai jam piket pelayanan yang telah ditentukan.
5) Tidak memungut biaya dari layanan yang diberikan (pungli) atau
menerima gratifikasi dalam bentuk apapun.
6) Selalu memberikan informasi yang menjadi atensi kepada pimpinan terkait
layanan yang diberikan.
7) Dapat bekerja sama dengan rekan kerja sesuai regu piket siaganya.
8) Tidak menyalahgunakan wewenangnya sebagai pelaksana layanan untuk
digunakan di luar SPKT (Markus dan atau menerbitkan Sketlainnya
diluarlayanan SPKT)
9) Berturut-turut selama 1 (satu) bulan kehadirannya sesuai jadwal piket
siaga tidak pernah absen/ijin.
10) Tidak pernah mendapatkan teguran/keluhan/respons negatif dari
masyarakat terkait layanan yang diberikannya.

b. Pemberian Punishment/sanksi dapat diberikan apabila anggota pelaksana


layanan melakukan hal-hal sebagai berikut :
1) Selama bertugas sebagai pelaksana layanan/ piket siaga berpenampilan
dan berpakaian tidak rapi, tidak menarik dan tidak sedap dipandang.
2) Tidak memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan 3S (Senyum,
Sapa, Salam) dan serta melaksanakan pelayanan tidak sesuai SOP yang
berlaku.
3) Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat bersikap tidak
baik,arogan, membentak-bentak, serta memberikan informasi yang
menyesatkan kepada masyarakat.
4) Keberadaannya pada saat melaksanakan tugas/piket jarang adaditempat
(suka menghilang) sesuai jam piket pelayanan yang telah ditentukan.
5) Memungut biaya dari layanan yang diberikan (pungli) dan menerima
gratifikasi.
6) Tidak memberikan informasi yang menjadi atensi kepada pimpinan terkait
layanan yang diberikan.
7) Tidak dapat bekerja sama dengan rekan kerja sesuai regu piket siaganya.
8) Menyalahgunakan wewenangnya sebagai pelaksana layanan untuk
digunakan di luar SPKT (Markus dan atau menerbitkan Sket lainnya diluar
layanan SPKT)
9) Berturut-turut selama 1 (satu) bulan kehadirannya sesuai jadwal piket
siaga sering tidak masuk/ijin.
10) Beberapa kali mendapatkan teguran/keluhan/respons negatif dari
masyarakat terkait layanan yang diberikannya.

4. Prosedur pelaksanaan reward dan punishment


a. Tahapan pemberian reward
1. Membuat indikator penilaian
2. Bentuk tim penilai
3. Pelaksanaan rapat
4. Pembuatan berita acara hasil rapat
5. Buat piagam
6. Pemberian piagam dan hadiah
b. Tahapan pemberian punishment
1. Melakukan penilaian dan pengawasan personil
2. Memberikan konseling bagi anggota yang bermasalah
3. Apabila mengulang maka dilakukan tindakan disiplin (buat LP, Hormat
bendera dan cuci toilet)
4. Apabila mengulang lagi, dilakukan pemeriksaan oleh Propam
5. Dilaksanakan sidang disiplin
6. Membuat putusan hasil sidang disiplin
7. Anggota yang bermasalah melaksanakan putusan sidang disiplin.

5. MEKANISME PENILAIAN
a. Dalam memberikanpenilaian untuk reward dan punishment kepada anggota
pelaksana layanan akan dibentuk tim penilai internal serta dibuat sprint yang
terdiri dari :
1) KA SPKT

2) KAUR RENMIN
3) KA SIAGA A, B dan C
4) 1 anggota staf urminsebagai sekretaris
b. Pelaksanaan penilaian dilakukan setiap bulan dengan hasil 1 orang anggota
pelaksana layanan yang mendapatkan reward dan 1 orang anggota yang
mendapat punishment (bila ada).
c. Pembuatan berita acara hasil penilaian dari tim penilai internal yang
ditandatangani oleh KA SPKT.
d. Pembuatan piagamkepada anggota yang diusulkan mendapat reward hasil
penilaian tim penilai internal.
e. Pengumuman anggota yang mendapat reward dan punishment
dilaksanakan pada Minggu ke 4 di halaman depan Kantor SPKT (waktu apel
satker).
f. Reward yang diberikan berupa Piagam Penghargaan dan uang apresiasi
senilai Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) dan disebutkan pada saat apel
satkerminggu ke 4 setiap bulannya serta dibacakan BA .
g. Punishment yang diberikan kepada anggota yang tidak disiplin atau
melanggar dilakukan pembinaan dalam bentuk (buat LP, Hormat bendera,
bersihkan Toilet, sidang disiplin, sidang kode etik).
KEPOLISIAN DAERAH JAWA TIMUR
SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

PANIC BUTTON ON HAND

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN


SOP-SPKT-02 00 19/21
TANGGAL TERBIT : 11 JUNI 2017

1. Tujuan
a. Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang mekanisme pelayanan
masyarakat melalui program Panic Button On Hand bagi para petugas
pelaksana maupun pembina Satker terkait di Polda Jatim dan Jajaran.
b. Agar diperoleh kesamaan persepsi dan tindakan dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat yang mengedepankan ketanggapan/
segeraan (Quick Respons)

2. Dasar
a. Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
b. Quick wins Renstra Polda Jatim tahun 2015-2019.
c. Penetapan Kinerja dan Rencana kegiatan SPKT Polda Jatim tahun 2017.

3. Pengertian
Adalah paket aplikasi yang dapat didownload secara gratis di play store HP
android, dapat diaplikasikan secara mudah oleh pemilik HP dengan persyaratan
awal mengisi formulir nama, nomor KTP/SIM, alamat dan nomor HP.
Didalam aplikasi panic button on ada 4 fasilitas layanan antara lain :
1) Penerimaan laporan masyarakat
2) Penerimaan kritik dan saran
3) Pelayanan masyarakat
4) Media informasi publik
Lebih jelasnya panic Button/alarm system adalah sebuah alat yang berfungsi
untuk memberikan indikator jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan
konsep kerja yang terintegrasi dengan SPKT Polda Jatim.

4. Mekanisme Panic Button on Hand


a. Alarm system memperoleh input (dipicu) melalui interaksi manusia, bila
tombol “help” di HP android seseorang ditekan 3X maka secara otomatis
akan muncul tanda merah bulat berkedip dipeta monitor 1 MCC, yang
menandakan bahwa sebuah alarm sedang aktif
b. Selanjutnya operator MCC apabila memungkinkan menghubungi nomor
pemilik telepon/HP yang mengirimkan sinyal Panic Button untuk
melakukan cross check apa yang terjadi ditempat tersebut
c. Jika terdapat indikasi terjadi suatu gangguan Kamtibmas maka operator
MCC melalui Siaga langsung menghubungi petugas polisi terdekat dari
lokasi yang dapat dipantau melalui media GPS
d. Siaga memonitor perkembangan penanganan kejadian di lokasi, bila
memerlukan tambahan kekuatan segera menghubungi piket fungsi Polres
atau Polsek untuk segera merapat ke lokasi
e. Apabila terjadi panggilan alarm lebih dari satu atau lebih maka akan
diterima oleh petugas di monitor 2 dan selanjutnya sehingga seluruh
panggilan masyarakat teratasi dengan baik tanpa harus menunggu
f. Apabila terdapat pangilan alarm yang tidak serius/main-main, secara
otomatis sistem akan mencacat sampai 3 kali panggilan selanjutnya nomor
HP yang bersangkutan di blacklict oleh karana itu petugas tetap merespon
secara prosedural setiap adanya panggilan alarm
g. Jika ada permintaan bantuan Polisi dari masyarakat maka dalam waktu 10
menit, petugas Polri harus sudah tiba di lokasi untuk melakukan tindakan
Kepolisian yang diperlukan

5. Admistrasi Personil
a. Penugasan dalam operasional MCC bersifat fungsional, para pembina
Satker terkait agar benar benar mengatur keterlibatan anggotanya yang
ditugaskan berdasarakan Sprin sehingga tidak menghambat pelaksanaan
tugas pokok dan tanggungjawab fungsi masing-masing

b. Petugas MCC membuat produk administrasi ( buku mutasi Jaga dan buku
penerimaan/pelimpahan laporan) terkait dengan pelayanan yang dilakukan
selama bertugas yang ditandatangani oleh Ka Siaga
c. Setiap bulan Ka SPKT mendatakan laporan yang masuk melalui panic
button on hand untuk dilaporkan kepada Kapolda Jatim sebagai bahan
analisa dan evaluasi
d. Kebutuhan menyangkut ketersediaan sarana prasarana dan anggaran
operasional panic button on hand maupun MCC dikelola oleh Ka SPKT
Polda Jatim dan berkoordinasi dengan fungsi terkait