Anda di halaman 1dari 15

BAB I

DESKRIPSI PROYEK

1.1 Gambaran Proyek

Tujuan dalam proyek ini dibuat untuk mengalirkan BBM dalam hal ini berjenis solar dari kapal
tangker ke tangka penampung. Dimana dengan desain yang diiginkan tangka penampung
beridameter 6 meter dengan tinggi 5 meter dan boleh diisi sampai 4 meter . Diinginkan tangka
harus terisi penuh dalam waktu 2 jam . Maka dalam hal ini proyek diarahkan untuk melakukan
perancangan jalur pipa tersebut.

Gambar 1.1 Denah Lokasi Proyek


Gambar 1.2 Desain Tangki yang akan digunakan

1.2 Arahan Desain

Dengan ini menganut sistem amerika dimana kecepatan erosionalyang digunakan adalah 1,5 dari
kecepatane erosional maksimum
BAB II

DASAR PRANCANGAN

2.1. Variabel yang menentukan

Variable yang menentukan dalam perancangan ini adalah:

 Tekanan : psig
 Suhu : 33ᵒ C
 Laju : m3/s
 Bahan : bahan yang dialirkan berjenis solar HSDO (High Speed Diesel Oil) dan
bahan pipa yang digunakan adalah Carbon Steel

2.2. Rona Lingkungan

1. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor penting dalam penentuan perancangan pipa, sehingga
dibuthkan data yang sesuai dengan lapagan. Untuk perancangan ini dilakukan pada suatu
daerah berkisar pada 33ᵒ C
2. Tekanan Udara
Tekanan udara merupakan tenaga yang digunakan untuk menggerakan masa udara dalam
setiap satuan luas. Daerah yang menerima panas matahari, udaranya akan mengembang
dan naik dengan tekanan udara rendah. Perancangan pipa ini dilakukan pada kondisi
tekanan udara sebesar 1 atm.
3. Kecepatan angin
Kecepatan angina pada tempat tersebut adalah sebesar 13 km/jam (di Banten )
4. Kelembaban udara relative
Merupakan salah satu variable fisika atmosfer yang menggambarkan perbandingan antara
tekanan udara actual dengan tekanan udara jenuh. Kelembaban udara relative ini dapat
menggambarkan kuantitas kandungan uap air yang berada di suatu lokasi tertentu. Dalam
perancangan ini rata rata kelembaban berada pada dikisaran 84%.
BAB III
CODE & STANDART

3.1 Code
Keselamatan kerja pipa penyalur minyak dan gas bumi berdasarkan Keputusan Menteri
Pertambangan dan Energi Nomor 300.K/38/M.PE/1997 sebagai berikut.

Pasal 6
(1) Selambat-lambatnya 2 (dua) sebelum dimulainya penggelaran, perubahan dan atau perluasan
Pipa Penyalur. Pengusaha wajib menyampaikan laporan secara tertulis kepada Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang mengenai :
a. lokasi geografis
b. denah penggelaran Pipa Penyalur;
c. proses diagram
d. jumlah princian tenaga kerja dan perubahannnya;
e. hal-hal yang dianggap perlu oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang

Pasal 7
(1) Penggelaran Pipa Penyalur baik di darat maupun di laut dapat dilakukan dengan car ditanam
atau diletakkan di permukaan tanah.

Pasal 8
(1) Pengusaha wajib menyediakan tanah untuk tempat digelarnya Pipa Penyalur dan ruang untuk
Hak Lintas Pipa (Right Of Way) serta memenuhi ketentuan Jarak Minimum.
(2) Penyediaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan pengusaha dengan cara
membeli, membebaskan, menyewa atau mendapatkan izin dari instansi pemerintah, badan
hukum atau perorangan.

Pasal 9
(1) Pipa Transmisi Gas dan Pipa Induk yang digelar di daratan ttttekanan lebih dari 16 (enam belas)
bar, harus dirancang sesuai ketentuan klasifikasi lokasi kelas2 (dua) sertu memenuhi ketentuan
pasal 7 dengan Jarak Minimum ditetapkan sekurang-kurangnya 9 (sembilan) meter.
(2) Pipa Transmisi Gas dan Pipa Induk yang digelar di daratan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dapat dirancang dengan ketentuan klasifikasi lokasi kelas 1 (satu) dalam hal data
perencanaan lingkungan jangka panjang yang ditetapkan Pemerintah Daerah setempat
menjamin klasifikasi lokais tidak berubah, dengan ketentuan Jarak Minimum ditetapkan 9
(sembilan) meter.
(3) Dalam hal ketentuan jarak minimum sebgaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) tidak dapat
dipenuhi desain konstruksi dan klasifikasi lokasi ditetapkan minimal satu kelas lebih tinggi dari
kelas dan Jarak Minimum yang ditatapkan dengan menggunakan tabel sebagaimana tercantum
dalam lampiran II.
(4) Dalam hal ketentuan Jarak Minimum pada ayat (1) dan (2) tiak dapat dipenuhi, Jarak Minimum
tersebut dapat diperpendek menjadi minimum (3) meter dengan syarat :
a. untuk pipa dengan diameter lebih kecil dari 8 (delapan), faktor desain lebih
dari 0,4 (empat per sepuluh);
b. untuk pipa dengan diameter 8 (delapan) inci sampai 12 (duabelas) inci,
faktor desain tidak lebih dari 0,3 (tiga per sepuluh)
c. untuk pipa dengan diameter lebih besar dari 12 (duabelas) inci faktor desain 0,3 (tiga per
sepuluh) dan ketebalan pipa minimum 11,9 (sebelas dan sembila per sepuluh) mm atau 0,468
(empat ratus enam puluh delapan per seribu)inci.
(5) Dalam hal persyaratan ketebalan pipa pada ayat (4) tidak dapat dipenuhi, Jarak Minimum
ditetapkan 3 (tiga) meter, dengan ketentuan faktor desain sebagaima dimaksud pada ayat 4
(empat) wajib dipenuhi dan harus dilengkapi dengan sarana pengaman tambahan atau ketentuan
lain yang ditetapkan oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.

Pasal 10
(1) Pengggelaran Pipa Transmisi Gas dan Pipa Induk yang dioperasikan pada tekanan dari 4 (empat)
dengan ketentuan Jarak Minimum ditetapkan 2 (dua) meter sebagaimana tercantum dalam
lampiran II.
(2) Di dalam Jarak Minimum 2(dua) meter sebagimana ditetapkan pada ayat (1) tidak dapat
dipenuhi, dan memenuhi klasifikasi lokasi kelas 4 (empat) dan faktor desain tidak lebih dari 0,3
(tiga per sepuluh) dan dilengkapi dengan pengalaman tambahan atau dengan ketentuan lain
yang ditetapkan oleh kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.

3.2 Standart

 ASME B31.3 Process piping


 API 5L
 ANSI : Tabel ukuran pipa dipasaran..
BAB IV
DASAR TEORI

4.1 Solar
Solar adalah salah satu jenis bahan bakar yang dihasilkan dari proses pengolahan minyak
bumi, pada dasarnya minyak mentah dipisahkan fraksi-fraksinya pada proses destilasi sehingga
dihasilkan fraksi solar dengan titik didih 250°C sampai 300°C. Kualitas solar dinyatakan dengan
bilangan cetane (pada bensin disebut oktan), yaitu bilangan yang menunjukkan kemampuan solar
mengalami pembakaran di dalam mesin serta kemampuan mengontrol jumlah ketukan (knocking),
semakin tinggi bilangan cetane ada solar maka kualitas solar akan semakin bagus.
Karakteristik Solar
Sebagai bahan bakar, tentunya solar memiliki karakteristik tertentu sama halnya dengan jenis
bahan bakar lainnya. berikut karakteristik yang dimiliki fraksi solar:
1. Tidak berwarna atau terkadang berwarna kekuning-kuningan dan berbau.
2. Tidak akan menguap pada temperatur normal.
3. Memiliki kandungan sulfur yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bensin dan
kerosen.
4. Memiliki flash point (titik nyala) sekitar 40°C sampai 100°C.
5. Terbakar spontan pada temperatur 300°C.
6. Menimbulkan panas yang tinggi sekitar 10.500 kcal/kg.
Pada umumnya solar digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel ataupun peralatan-
peralatan industri lainnya. Agar menghasilkan pembakaran yang baik, solar memiliki syarat-syarat
agar memenuhi standar yang telah ditentukan. Berikut persyaratan yang menentukan kualitas
solar:
 Mudah terbakar.
 Tidak mudah mengalami pembekuan pada suhu yang dingin.
 Memiliki sifat anti knocking dan membuat mesin bekerja dengan lembut.
 Solar harus memiliki kekentalan yang memadai agar dapat disemprotkan oleh ejector di
dalam mesin.
 Tetap stabil atau tidak mengalami perubahan struktur, bentuk dan warna dalam proses
penyimpanan.
 Memiliki kandungan sulfur sekecil mungkin, agar tidak berdampak buruk bagi mesin
kendaraan serta tidak menimbulkan polusi.
4.3 Sistem Pipa untuk Minyak

Dalam bidang keteknikkan, ada tiga aspek desain untuk sistem pipa yaitu,

a) Desain hidrolik
b) Desain mekanik
c) Desain operasi dan perawatan.
Dan perancangan ini penulis membatasi sampai pada desain hidroliknya saja. Desain hidrolik
mengevaluasi komoditas karakteristik fisik untuk dialirkan, kuantitasnya, pemilihan jalur atau rute
pipa dan topografi, mengidentifikasi jumlah dan letak stasiun pompa berdasarkan karakteristik
hidrolik. Ada beberapa yang juga termasuk aspek desain mekanik, seperti pemilihan pipa
berdasarkan spesifikasi diameter dan tebal pipa.

A. Pemilihan Rute
Pemilihan rute merupakan langkah awal sekaligus paling penting dalam perancangan sistem
pipa, karena dalam pemilihan rute ini dimana akan menentukan efektifitas pengaliran, menjaga pipa
dari faktor-faktor luar yang mengakibatkan kerusakan sehingga umur pipa berkurang, biaya instalasi
yang tidak dibahas pada perancangan ini, serta pengaruhnya terhadap lingkungan.

Secara logika, pemilihan rute ialah jarak terpendek atau garis lurus. Namun ada beberapa hal
yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan rute, yaitu:

a) Keadaan geografis area seperti kondisi tanah, melewati sungai, tepi pantai, rawa, gunung,
jalan raya, rel kereta, dan lain sebagainya.
b) Topografi area atau elevasi tanah pada profil hidrolik, sehingga sistem aliran pada pipa
dapat memanfaatkan sistem gravitasi.
c) Akses transportasi material dan peralatan kontruksi pada saat instalasi.
d) Faktor keamanan, sehingga diperlukan perijinan area agar tidak mengganggu pemukiman
penduduk dan merugikan lingkungan
B. Basis Desain

Tahap awal perencanaan dibutuhkan dasar desain. Parameter umum yang dibutuhkan diantaranya:

Parameter sistem. Ada beberapa parameter yang ditentukan dari perusahaan yang dapat
membantu menentukan laju aliran untuk sistem. Desain laju aliran sistem mungkin saja berubah-
ubah tiap tahunnya dan dinyatakan sebagai laju aliran per hari dalam barrel per day (BPD) atau
1000 meter cubic per calender day (1000 m3/cd) atau million tonnes per annum (MTA).
Ratio antara laju aliran per calender day dengan operasi per hari disebut faktor beban (load
factor)

= 2.12

Pada sistem pipa yang baik memiliki faktor beban antara 92 sampai 95 persen. Sedangkan
sistem pipa yang memiliki variasi aliran memiliki faktor beban yang lebih rendah, 85 sampai 90
persen [2].

Parameter lingkungan. Faktor lingkungan mempengaruhi baik desain pipa di bawah dan di
atas tanah. Untuk pipa di bawah tanah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti temperatur
tanah, konduktivitas tanah, massa jenis tanah, dan tingkat kedalaman penanaman. Dalam
kebanyakan kasus, hanya suhu udara dan kecepatan udara yang memiliki dampak signifikan pada
desain di atas tanah

Sifat-sifat komoditas. Sifat-sifat dari komoditas yang ditransportasikan memiliki


dampak yang signifikan pada desain sistem pipa. Sifat-sifat tersebut termasuk identifikasi dari
viskositas, densitas, tekanan vapor, dan temperatur tertentu
BAB V

PERHITUNGAN

5.1 Menghitung Diameter Pipa


𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑘𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖 𝑠𝑜𝑙𝑎𝑟 = 𝜋𝑟 2 × 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖
= 3,14 × 32 𝑚2 × 4 𝑚
= 113,04 𝑚3
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 113,04 𝑚3 𝑚3 1 𝑗𝑎𝑚
𝑄(𝑙𝑎𝑗𝑢 𝑎𝑙𝑖𝑟) = 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢
= 2 𝑗𝑎𝑚
= 56,52 𝑗𝑎𝑚
× 3600 𝑠 = 0,0157 𝑚3 /𝑠

Untuk mendapatkan diameter luar, terlebih dulu mencari kecepatan erosional sebesar 1,5 dari
kecepatan erosional maksimumnya.

20 𝑓𝑡/𝑠 0,3048 𝑚
𝑣= 1,5
× 1 𝑓𝑡
= 4,064 𝑚/𝑠

𝑄 0,0157 𝑚3 /𝑠
𝐴= 𝑣
= 4,064 𝑚/𝑠
= 0,00386 𝑚2

1
𝐴 = 4 𝜋𝑑2
4×0,00386 𝑚2
𝑑2 = 3,14

𝑑𝑖𝑛𝑠𝑖𝑑𝑒 = 0,07 𝑚
𝑑𝑖𝑛𝑠𝑖𝑑𝑒 = 2,76 𝑖𝑛

Karena di pasaran tidak terdapat pipa dengan diameter dalam 2,76 in maka diambil diameter yang
mendekati 2,76 in yaitu 2,9 in berdasarkan tabel ANSI.
𝑑𝑖𝑛𝑠𝑖𝑑𝑒 = 2,900 𝑖𝑛
𝑑𝑜𝑢𝑡𝑠𝑖𝑑𝑒 = 3,5 𝑖𝑛

5.2 Menghitung Tebal Pipa


𝜌 𝑠𝑜𝑙𝑎𝑟 𝑝𝑎𝑑𝑎 33℃ = 851 𝑘𝑔/𝑚3
Sebelum menghitung tebal pipa, terlebih dulu menghitung tekanan pipa dengan menggunakan hukum
Bernoulli, dengan cara seperti berikut:
1 1
𝑃1 + 𝜌𝑔ℎ1 + 2 𝑚𝑣 2 = 𝑃2 + 𝜌𝑔ℎ2 + 2 𝑚𝑣 2
𝑃1 = 𝑃2 + 𝜌𝑔(ℎ2 − ℎ1 )
𝑘𝑔 𝑚
𝑃1 = 101325 𝑃𝑎 + 851 𝑚3 × 9,8 𝑠2 × (5 − 0)𝑚

𝑃1 = 138854,1 𝑃𝑎
𝑃1 = 20,7439 𝑝𝑠𝑖

𝑃×𝐷𝑜𝑢𝑡𝑠𝑖𝑑𝑒
𝑡=
2(𝑆𝐸+𝑃𝑌)
20,7439 𝑝𝑠𝑖×3,5 𝑖𝑛
𝑡=
2(20000 𝑝𝑠𝑖𝑔×1+20,7439 𝑝𝑠𝑖×0,4

𝑡 = 1,8143 × 10−3 in

tm = t + C
tm = ( 1,8143 × 10−3 + 0,1 in)
tm = 0,0108 in

Tebal yang dibutuhkan yaitu 0,0108 in namun di pasaran tidak ada sehingga diambil dari tabel
ANSI dengan 0,3 in.

5.3 Menentukan Scheduled Number


Berdasarkan tabel ANSI, dengan tebal 0,3 in didapat Scheduled Number sebesar 40.
DAFTAR PUSTAKA

American Society of Mechanical Engineer( ASME ) B.31.3.2002. Process Pipping Guide.


New York: ASME

Anonim.2015. Definisi Bahan Bakar Diesel (Solar )

http://www.prosesindustri.com/2015/02/defenisi-bahan-bakar-diesel-solar.html

Geankoplois, C.J .2003. Transport Process and Unit Operations,4nd ed.Tokyo: Prenctice-
Hall International

Sudjana L.B., 1987. Keptusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor300.k/38/M.PE/1997


tentang Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak dan Gas Bumi Jakarta : Kementrian
Pertambangan dan Energi Republik Indonesia.
LAMPIRAN

 Tabel ANSI