Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Kasus (masalah utama) :


“Gangguan Proses Pikir : Waham Kebesaran
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
 Menurut Gail W. Stuart, Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan
dengan realitas sosial.
 Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan,
tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain.
Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan kontrol
(Depkes 2000).
 Waham adalah Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai
dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang
kebudayaan.
b. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala pada klien dengan perubahan proses piker:waham adalah
sebagai berikut :
 Menolak makan
 Tidak ada perhatian pada perawatan diri
 Ekspresi wajah sedih/gembira/ketakutan
 Gerakan tidak terkontrol
 Mudah tersinggung
 Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan
 Tidak bias membedakan antara kenyataan dan bukan kenyataan
 Menghindar dari orang lain
 Mendominasi pembicaraan
 Berbicara kasar
 Menjalankan kegiatan keagamaan secara berlebihan

c. Rentang respon perilaku adaptif-maladaptif

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Pikiran logis Distorsi pikiran Waham


Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dgn Reaksi emosi Sulit berespon emosi
pengalaman berlebihan /kurang Perilaku kacauIsolasi
Perilaku Perilaku aneh/tidak Sosial
sesuaiHubungan biasaMenarik Diri
sosial harmonis
d. Faktor predisposisi
- Faktor perkembangan : hambatan perkembangan akan mengganggu
hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stres dan
ansietas yang berakhir dengan ganggja==uan persepsi, klien menekan
oeasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak
efektif.
- Faktor sosial budaya : seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian
dapat menyebabkan timbulnya waham.
- Faktor psikologis : hubungan yang tidak harmonis, peran
ganda/bertentangan, dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan
pengingkaran terhadap kenytaan.
- Faktor biologis : waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak,
pembesaran ventrikel di otak, atau perubahan pada sel kortikal dan
limbik.
- Genetik : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf
yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.
I
e. Faktor presipitasi
- Faktor sosial budaya : waham dapat dipicu karena adanya perpisahan
dengan orang yang berarti atau diasingkan dari kelompok.
- Fakotor biokimia : Dopamin, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya
diduga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang.
- Faktor psikologis : kecemasan yang memanjang dan terbatasnya
kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan
koping untuk menghadapi kenyataan yang menyenangkan.
f. Jenis-jenis waham
 Waham agama : keyakinan seseorang bahwa ia dipilih oleh Yang Maha
Kuasa atau menjadi utusan Yang Maha Kuasa.
 Waham somatik : keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
sakit atau terganggu, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai
kenyataan..
 Waham kebesaran : keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki
kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain,
diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
 Waham curiga : kecurigaan seseorang yang berlebihan atau tidak rasional
dan tidak mempercayai orang lain, ditandai dengan waham yang
sistematis bahwa orang lain “ingin menangkap “ atau memata-matainya.
 Waham nihilstik : keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal
dunia, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

3. a. Pohon Masalah

Effek
Resiko tinggi perilaku
Core Problem kekerasan

Etiologi
Perubahan proses pikir : waham

Isolasi sosial

b. Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji :


Harga diri rendah
kronis
1) Masalah keperawatan

 Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

 Kerusakan komunikasi : verbal

 Perubahan isi pikir : waham

 Gangguan konsep diri : harga diri rendah.


2) Data yang perlu dikaji
Masalah Keperawatan Data yang perlu dikaji
Perubahan proses pikir : waham Subjektif :
- Klien mengatakan bahwa
kebesaran
dirinya adalah orang yang
paling hebat
- Klien mengatakan bahwa ia
memiliki kebesaran atau
kekuasaan khusus.
Objektif :
- Klien terus berbicara tentang
kemampuan yang dimilikinya.
- Pembicaraan klien cenderung
berulang-ulang.
- Isi pembicaraan tidAk sesuai
dengan kenyataan.

4. Diagnosa Keperawatan
“Perubahan proses pikir : waham kebesaran
5. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Rencana tindakan keperawatan pada klien
Strategi pelaksanaan (SP 1) untuk klien
 Membantu orientasi realitas
 Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
 Membantu klien memenuhi kebutuhannya
 Menganjurkan klien memasukan dalam jadwal kegiatan harian
Strategi pelaksanaan (SP 2) untuk klien
 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
 Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki
 Melatih kemampuan yang dimiliki
Strategi pelaksanaan (SP 3) untuk klien
 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
 Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara
teratur
 Menganjurkan klien memasukan dalam jadwal kegiatan harian
Tindakan keperawatan untuk klien
 Tidak mendukung atau membantah waham klien
 Yakinkan klien berada dalam keadaan aman
 Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari
 Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi
karena dapat menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah
 Jika klien terus menerus membicrakan wahamnya, dengarkan tanpa
memberi dukungan atau menyangkal sampai klien berhenti
membicarakannya
 Beri pujian bila penampilan dan orientasi klien sesuai dengan realitas
 Anjurkan klien untuk melakukan aktifitas sesuai kemampuan yang
dimilikinya
 Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan,takut,dan marah
 Bicara dalam konteks realitas
 Jelaskan kepada klien tentang program pengobatannya (manfaat,
dosis obat, jenis, dan efek samping obat yang diminum serta cara
meminum obat yang benar)
 Diskusikan akibat yang terjadi bila klien berhenti minum obat tanpa
konsultasi.
b. Rencana tindakan keperawatan untuk keluarga
Strategi pelaksanaan (SP 1) untuk keluarga
 Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien
 Menjelaskan pengetian, tanda dan gejala waham yang dialami klien
beserta proses terjadinya
 Menjelaskan cara-cara merawat klien waham
Strategi pelaksanaan (SP 2) untuk keluarga
 Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat klien waham
 Melatih keluarga melakukan cara merawat klien waham
Strategi pelaksanaan (SP 3) untuk keluarga
 Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk
minum obat
 Menjelaskan follow up klien setelah pulang
Tindakan keperawatan untuk keluarga klien
 Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami klien
 Diskusikan dengan keluarga tentang cara merawat klien waham
dirumah, follow up dan keteraturan pengobatan, serta lingkungan yang
tepat untuk klien
 Diskusikan dengan keluarga tentang obat klien (nama obat, dosis,
frekuensi, efek samping, dan akibat penghentian obat)
 Diskusikan dengan keluarga kondisi klien yang memerlukan bantuan
c. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
 Aktivitas dan istirahat
Gangguan tidur, bangun lebih awal, insomnia, dan hiperaktivitas.
 Higiene
Kebersihan personal kurang, terlihat kusut/ tidak terpelihara.
 Integritas ego
Dapat timbul dengan ansietas berat, ketidakmampuan untuk rileks,
kesulitan yang dibesar-besarkan, mudah agitasi.
Mengekspresikan persaaan tidak adekuat, perasaan tidak berharga, kurang
diterima, dan kurang percaya pada orang lain. Menunjukkan kesulitan
koping terhadap stres, menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai.
 Neurosensori
Mengalami emosi dan prilaku kongruen dengan sistem
keyakinan/ketakutan bahwa diri ataupun orang terdekat berada dalam
bahaya karena diracuni atau diinfeksi, mempunyai penyakit, merasa
tertipu oleh pasangan individu, dicurangi oleh orang lain, dicintai atau
mencintai dari jarak jauh.
 Keamanan
Dapat menimbulkan perilaku berbahaya/menyerang
 Interaksi sosial
Kerusakan bermakna dalam fungsi sosial/perkawinan
Umumnya bermasalah dengan hukum.
masalah utama : pasien mengalami waham
penyebab : gangguan konsep diri
efek : terjadi gangguan komunikasi verbal
b. Intervensi
Diagnosa keperawatan : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
perubahan proses pikir / waham

Tujuan Umum : Klien dapat mengontrol wahamnya.

Perencanaan Intervensi
Tujuan Khusus Kriteria Evaluasi
Klien dapat Klien dapat mengenal akan 1. Adakan kontrak sering
mengenal akan wahamnya setelah dan singkat.
wahamnya. mendapat penjelasan dari - Gunakan teknik
perawat komunikasi terapeutik.
- Pertahankan
konsistensi perawat
yang bertugas.
2. Jangan membantah atau
menyangkal keyakinan
pasien
Klien dapat Klien dapat mengendalikan 1. Bantu klien untuk
mengendalikan wahamnya dengan bantuan mengungkapkan anansietas,
wahamnya. perawat dengan takut atau tidak aman.
menggunakan cara yang 2. Focus dan kuatkan pada
efektif orang – orang yang nyata,
ingatan tentang pikiran
irasional. Bicarakan
kejadian – kejadian dan
orang – orang yang nyata.
3. Diskusikan cara untuk
mencegah waham, contoh
percaya pada orang lain,
belajar akan kenyataan,
bicara dengan orang lain,
yakin akan dirinya bahwa
tidak ada yang akan
mengerti perasaannya bila
tidak cerita dengan orang
lain.
Klien dapat 1. Klien dapat 1. Bantu klien
mengevaluasi menyebutkan mengidentifikasi kegiatan
dirinya. keberhasilan yang atau keinginan yang
pernah dialami berhasil dicapainya.
2. Klien dapat 2. Kaji bagaimana
menyebutkan kegagalan perasaan klien dengan
yang pernah dialami. keberhasilan.
3. Bicarakan kegagalan
yang pernah dialami klien
dan sebab – sebab
kegagalan
4. Kaji bagaimana respon
klien terhadap kegagalan
tersebut dan cara mengatasi
5. Jelaskan pada klien
bahwa kegagalan yang
dialami dapat menjadi
pelajaran untuk mengatasi
kesulitan yang mungkin
terjadi di masa yang akan
datang.
Klien dapat Klien dapat menyebutkan 1. Bantu klien memuaskan
membuat rencana cita – cita dan harapan yang tujuan yang ingin
yang realistis. sesuai dengan dicapainya.
kemampuannya 2. Diskusikan dengan klien
tujuan yang ingin dicapai
dengan kemampuan klien.
3. Bantu klien untuk
memilih prioritas tujuan
yang mungkin dapat
dicapainya.
4. Beri kesempatan klien
untuk melakukan kegiatan
yang telah dipilih.
5. Tunjukkan keterampilan
yang telah dicapai klien.
6. Ikutsertakan klien dalam
kegiatan aktivitas
kelompok.
Klien mendapat Keluarga dapat 1. Bina hubungan saling
dukungan dari menyebutkan cara – cara percaya dengan klien.
keluarga dalam merawat klien waham. 2. Kaji pengetahuan
berhubungan dengan keluarga tentang waham dan
orang lain. tindakan yang dilakukan
keluarga dalam merawat
klien.
3. Beri penguatan positif
atas upaya yang baik dalam
merawat klien.
4. Diskusikan dan ajarkan
dengan keluarga tentang :
waham, tanda – tanda dan
cara merawat waham.
5. Beri pujian atas upaya
keluarga yang positif.

d. TAK
Tujuan :
1. Klien dapat memahami pentingnya melakukan kegiatan untuk mencegah
munculnya waham.
2. Klien dapat menyusun jadwal kegiatan untuk mencegah terjadinya waham
Setting :
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang.
Metode :
1. Diskusi dan tanya jawab.
2. Bermain peran/ simulais dan latihan.
e. SP (Strategi Pendahuluan)
a. Tempatkan waham dalam kerangka waktu dan identifikasi pemicu
 Identifikasi semua komponen waham dengan menempatkannya dalam
waktu dan urutan
 Identifikasi pemicu yang mungkin berhubungan dengan stres dan ansietas
 Apabila waham terkait ansietas ajarkan keterampilan mengatasi ansietas
 Buat suatu program penatalaksanaan gejala
b. Kaji instensitas, frekuensi dan lama waham
 Bantu pasien untuk menghilangkan waham yang berlalu dengan cepat
dalam keranmgka waktu yang singkat.
 Pertimbangkan untuk menghindari waham yang menetap atau yang telah
dialami dalam waktu lama sementara waktu guna mencegah terhambatnya
hubungan perawatr-klien.
 Dengarkan secara seksama sampai tidak diperlukan lagi pembicaraan
mengenai waham.
c. Identifikasi komponen emosional sosial waham
 Berespon terhadap perasaan pasien yang mendasar, bukan pada sifat
waham yang tidak logis.
 Dorong pembicaraan mengenai ketakutan, kecemasan, dan kemarahan
klien pasien tanpa menilai waham yang diceritakan pasien benar atau
salah.
d. Amati adanya bukti pemikiran konkret
 Tentukan apakah pasien benar-benar menagjak anda berbicara atau tidak.
 Tentukan apakah pasien dan anda menggunakan bahasa yang sama.
e. Amati pembicaraan yang menunjukkan gejala gangguan pemikiran
 Tentukan apakah klien menunjukkan gangguan pemikiran( mis, bicara
berputar-putar, menyimpang, mudah mengubah topik pembicaraan, tidak
dapat merespon terhadap upaya anda untuk mengarahkan kembali
pembicaraan).
 Sadari bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan
ketidaksesuaian antara kenyataan dan waham.
f. Amati kemampuan klien untuk menggunakan pertimbangan sebab akibat
secara akurat
 Tentukan apakah klien dapat membuat prediksi yang logis(indukltif atau
deduktif ) berdasarkan pengalaman masa lalu.
 Tentukan apakah klien dapat mengonseptualisasi waktu.
 Tentukan apakah klien dapat mengakses dan menggunakan memori yang
bermakna saat ini dan jangka panjang.
g. Bedakan antara gambaran pengalaman dan kenyataan dari situasi tertentu
 Identifikasi keyakinan yang salah mengenai situasi yang nyata.
 Tingkatkan kemampuan pasien untuk menguji realitas.
 Tentukan apakah pasien berhalusinasi, karena ini akan memperkuat
waham
h. Secara cermat, tanyakan pasien tentang kenyataan yang terjadi dan arti dari
kenyataan tersebut.
 Bicarakan mengenai waham untuk mencoba membantu pasien melihat
bahwa waham itu tidak benar.
 Harap diingat, jika langkah ini dilakukan sebelum langkah sebelumnya
selesai, hal ini dapat memperkuat waham.
i. Diskusikan tentang waham dan konsekuensinya
 Jika intensitas waham berkurang, diskusikan waham ketika pasien siap
untuk mendiskusikannya.
 Diskusikan konsekuensi waham.
 Berikan kesempatan kepada klien untuk mengambil tanggungjawab dalam
prilaku, aktivitas sehari-har, dan pengambilan keputusan.
 Dorong tanggungjawab personal pasien dan partisipasinya dalam
kesehatan dan penyembuhan.
j. Tingkatkan distraksi sebagai cara untuk menghentikan fokus pasien pada
waham
 Tingkatkan aktivitas yang membutuhkan perhatian pada keterampilan fisik
dan dapat membantu klien menggunakan waktu secara konstruktif.
 Kenali dan dorong aspek yang positik dari kepribadian klien.