Anda di halaman 1dari 10

PENERAPAN TEORI SELF CARE PADA PASIEN

DIKELUARGA ATAU KOMUNITAS


Diposkan pada 20 Oktober 2014 oleh madelosyan

BAB I

PENDAHULUAN

 Latar Belakang
Keperawatan sebagai pelayanan profesional, dalam aplikasinya harus dilandasi
oleh dasar keilmuan keperawatan yang kokoh. Dengan demikian perawat harus
mampu berfikir logis dan kritis dalam menelaah dan mengidentifikasi fenomena
respon manusia. Banyak bentuk-bentuk pengetahuan dan ketrampilan berfikir kritis
harus dilakukan pada setiap situasi klien antara lain dengan menggunakan model-
model keperawatan dalam proses keperawatan dan tiap model dapat digunakan
dalam praktek keperawatan sesuai dengan kebutuhan.

Model konsep menurut Dorothea Orem yang dikenal dengan model self care
(perawatan diri) memberikan pengertian jelas bahwa bentuk pelayanan
keperawatan dipandang dari suatu pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan individu
dalam memenuhi kebutuhan dasar dengan tujuan mempertahankan kehidupan,
kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan keadaan sehat dan sakit, yang ditekankan
pada kebutuhan klien tentang perawatan diri sendiri.

Model Self Care (perawatan diri) ini memiliki keyakinan dan nilai yang ada dalam
keperawatan di antaranya dalam pelaksanaan berdasarkan tindakan atas
kemampuan. Self Care didasarkan atas kesengajaan serta dalam pengambilan
keputusan dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan, setiap manusia
menghendaki adanya Self Care (perawatan diri) dan sebagai bagian dari kebutuhan
dasar manusia. Self Care (perawatan diri) merupakan perubahan tingkah laku
secara lambat dan terus menerus didukung atas pengalaman sosial sebagai
hubungan interpersonal (hubungan antara satu individu dengan individu lain),
hubungan interpersonal dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar
menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan sekedar hubungan interpesonal.
Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan conten (isi pesan)
melainkan juga menentukan relationship (hubungan).

 Tujuan Makalah
Untuk mengetahui aplikasi self care dari tahap pengkajian sampai tahap evaluasi.

Manfaat Makalah
Agar mahasiswa mampu mengaplikasikan konsep Dorothea Orem dalam proses
keperawatan.

BAB II

ISI

Keperawatan mandiri (selfcare) menurut Orem adalah suatu pelaksanaan kegiatan


yang di prakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi
kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya
sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit. (Orem 1980) pada dasarnya diyakini
bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan selfcare dan mereka
mempunyai hak untuk mendapatkan kebutuhan itu sendiri, kecuali bila tidak
mampu.

Kondisi klien yang dapat mempengaruhi self-care dapat berasal dari


faktor internal(dari dalam diri individu) dan eksternal (dari luar diri individu),
faktor internal meliputi usia, tinggi badan, berat badan, budaya/suku, status
perkawinan, agama, pendidikan dan pekerjaan. Adapun faktor luar meliputi
dukungan keluarga dan budaya masyarakan dimana klien tinggal.
Ketidakseimbangan baik secara fisik maupun mental yang di alami oleh klien
dengan Diabetes Melitus menurut Orem disebut dengan self care-deficit. Menurut
Orem peran perawat dalam hal ini yaitu mengkaji klien sejauh mana klien mampu
untuk merawat dirinya sendiri dan mengklasifisikannya sesuai dengan klafisikasi
kemampuan klien.
 Konsep Keperawatan Dorothea Orem
Konsep keperawatan Orem mendasari peran perawat dalam memenuhi kebutuhan
perawatan dari klien untuk menerapkan kemandirian dan kesehatan yang optimal,
Orem mengembangkan teori yang saling berhubungan yaitu teori “Self Care
Deficit”, Teori “Self Care”, dan teori “Nursing System”, ketiga teori tersebut
berfokus pada manusia menyeimbangkan kehidupan, kesehatan dan
kesejahteraannya dengan merawat diri mereka sendiri.

1. Teori Self care Deficite


Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di
mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan.
Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat tidak mampu atau terbatas untuk
melakukan self carenya secara terus menerus. Inti dari teori ini menggambarkan
manusia sebagai penerima perawatan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan
keperawatan dirinya dan memeliki berbagai keterbatasan-keterbatan dalam
mencapai dalam mencapai taraf kesehatannya, perawatn yang diberikan didasarkan
kepada tingkat ketergantungan, yaitu ketergantungan total atau parsial. Deficit
perawatan diri menjelaskan hubungan antar kemampuan seseorang dalam
bertindak/beraktivitas dengan tuntutan kebutuhan tentang perawatan diri, sehingga
bila tuntutan lebih besar dari kemampuan, maka ia akan mengalami penurunan
deficit perawat diri.

2. Teori Self Care


Teori Self Care adalah tindakan yang matang dan mementingkan orang lain yang
mempunyai potensi untuk berkembang, serta mengembangkan kemampuan yang
dimiliki agar dapat menggunakan secara tepat, nyata dan Valid untuk
mempertahankan fungsi dan berkembang dengan stabil dalam perubahan
lingkungan, Self Care digunakan untuk mengontrol atau faktor external dan
internal yang mempengaruhi aktifitas seseorang untuk menjalankan fungsinya dan
berperanan untuk mencapai kesejahteraannya.
Teori self care meliputi :

1. Self Care merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta


dilaksananakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta
mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan.
2. Self Care Agency merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan
perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan,
sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.
3. Self Care Demand merupakan tuntutan atau permintaan dalam perawatan
diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu
tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat
dalam tindakan yang tepat.
4. Self Care Requisites merupakan erkebutuhan self care merupakan suatu
tindakan yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang
bersifat universal dan berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta
dalam upaya mepertahankan fungsi tubuh. Self Care Reuisites terdiri dari
beberapa jenis, yaitu: Universal Self Care Requisites (kebutuhan universal
manusia yang merupakan kebutuhan dasar), Developmental Self Care
Requisites (kebutuhan yang berhubungan perkembangan indvidu) dan
Health Deviation Requisites (kebutuhan yang timbul sebagai hasil dari
kondisi pasien).
5. Teori Nursing System merupakan sistem keperawatan, ketika perawat
menentukan, mendisain, dan menyediakan perawatan yang mengatur
individu dan mencapai pemenuhan kebutuhan perawatan diri.
 Asuhan Keperawatan Menurut Dorothea Orem
Menurut Orem asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap
orang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu
individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan.
Teori ini dikenal dengan teori self care (perawatan diri).
Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia dan orang
sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka. Orem
mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu:

1. Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal)


Kebutuhan yang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus
kehidupannya seperti kebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk
kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan
pencegahan bahaya. Hal tersebut dibutuhkan manusia untuk perkembangan
dan pertumbuhan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan lainnya yang
berguna bagi kelangsungan hidupnya.
2. Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri pengembangan)
Kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan proses
perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalam
siklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yang dapat
berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan
proses perkembangan sepanjang siklus hidup.

3. Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri


penyimpangan kesehatan)
Kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atau keturunan,kerusakan struktur
manusia, kerusakan atau penyimpanngan cara, struktur norma, penyimpangan
fungsi atau peran dengan pengaruhnya, diagnosa medis dan penatalaksanaan
terukur beserta pengaruhnya, dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan
seseorang untuk melakukan self care.

Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:

1. Human being (Kehidupan manusia): oleh alam, memiliki kebutuhan umum


akan pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk
mengelola kondisi kehidupan yang menyokong proses hidup, pembentukan
dan pemeliharaan integritas structural, serta pemeliharaan dan peningkatan
integritas fungsional.
2. Perkembangan manusia: dari kehidupan di dalam rahim hingga pematangan
ke dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan kondisi yang
meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan di setiap periode
dalam daur hidup.
3. Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari struktur
normal dan integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan beberapa
persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan pengaturan untuk
mengontrol perluasan dan mengurangi dampaknya. Asuhan keperawatan
mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantuangan atau
kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3 tingkatan
dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:
1. Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan
keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi
(sistem pengganti keseluruhan).
2. Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan
(sistem pengganti sebagian).
3. Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem
dukungan/pendidikan

Aplikasi Self Care


Adapun proses keperawatan menurut Dorothea Orem yaitu:

1. Tahap Pengkajian
2. Pengkajian data dasar (nama, umur, sex, status kesehatan, status
perkembangan, orientasi sosio-kultural, riwayat diagnostik dan pengobatan,
faktor sistem keluarga), pola hidup, faktor lingkungan.
3. Observasi status kesehatan klien Untuk menemukan masalah keperawatan
berdasarkan self-care defisit,maka perawat perlu melakukan pengkajian
kepada klien melalui observasi berdasarkan klasifikasi tingkat
ketergantungan klien yang terdiri dari Minimal Care, Partial Care, Total
Care.
4. Pengembangan teori Orem dengan masalah fisiologis. Secara rinci
pengembangan teori Orem mengenai kebutuhan dasar adalah sebagai
berikut:
5. Pemenuhan kebutuhan udara/oksigen.
6. Pemeliharaan kebutuhan air/cairan.
7. Pemeliharaan kebutuhan makanan/nutrisi.
8. Perawatan proses eliminasi dan ekskresi.
9. Pemeliharaan keseimbangan aktifitas dan istirahat.
10. Pemeliharaan keseimbangan privasi dan interaksi sosial.
11. Pencegahan resiko yang mengancam kehidupan, kesehatan, dan
kesejahteraan.
12. Peningkatan kesehatan dan pengembangan potensi dalam hubungan sosial.
13. Tahap Diagnosa
Diagnosa keperawatan sesuai dengan self care defisit yang dialami oleh klien.
Mengacu pada diagnosa keperawatan yang aktual, resiko tinggi dan kemungkinan.
Teori Orem masih lebih berfokus pada masalah fisiologis, namun diagnosa dapat
dikembangkan ke masalah lain sesuai hirarki kebutuhan dasar yang dikembangkan
Maslow.
3. Tahap Intervensi
Dibuat sesuai dengan dignosa keperawatan, berdasarkan self care demand dan
meningkatkan kemampuan self care. Membuat metode yang sesuai untuk
membantu klien.
4. Tahap Implementasi
1. Merumuskan,memberikan dan mengatur bantuan langsung pada klien dan
orang-orang terdekat dalam bantuan keperawatan.
2. Membimbing dan mengarahkan.
3. Memberi dukungan fisik dan psikologis
4. Memberikan dan mempertahankan lingkungan yang mendukung
perkembangan individu
5. Pendidikan
6. Berespon terhadap permintaan, keinginan dan kebutuhan klien akan kontak
bantuan keperawatan.
7. Kalaborasi, pelimpahan wewenamg.
8. Melibatkan anggota masyarakat.
9. Lingkungan
5. Tahap Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan pasien atas tindakan yang
telah dilakukan sehingga dapat disimpulkan apakah tujuan asuhan keperawatan
tercapai atau belum. Menilai keefektifan tindakan perawatan dalam: meningkatkan
kemampuan self care, memenuhi kebutuhan self care, dan menurunkan self
care deficitnya.
 Kasus
Keluarga Tuan Dodi merupakan keluarga besar yang terdiri dari ayah, ibu, 2 anak
dan nenek. Nenek sering mengeluh pusing dan kaku di tengkuk. Jika mengeluh
pusing nenek hanya minum obat yang beli di warung. Nenek dulu pernah periksa
di puskesmas dan didiagnosa hipertensi. Sekarang nenek jarang periksa ke
puskesmas karena jarak puskesmas dan rumah sangat jauh.

 Pembahasan
Pengkajian dan Diagnosa
Ada seorang nenek yang bernama sulatri berusia 65 tahun dan bertempat tinggal di
menyumbung Kalimantan barat . suatu hari nenek sulastri mengalami sakit dan
dibawa kepuskesmas oleh keluarganya. Saat sampai dipuskesmas nenek ditanyai
oleh perawat tentang keluhan yang dirasakan oleh nenek , nenek menjawab jika
beliau sering merasa pusing dan kaku tengkuknya. Dan perawat juga bertanya
kepada keluarganya sejak kapan nenek mengeluh sakit itu , ternyata keluarganya
juga baru mengetahui jika nenek merasa sakit yang tak tertahan , ketika perawat itu
bertanya kepada nenek kembali ternyata nenek merasakan sakit itu sudah lama
tetapi nenek hanya membelikan obat diwarung. Setelah perawat mengkaji data dari
nenek dan keluarganya ternyata perawat dapat menarik kesimpulan bahwa nenek
didiagnosa hipertensi.

Implementasi
Setelah alat siap , perawat mengukur tekanan darah nenek sulastri dan ternyata
tensinya , setelah perawat mengetahui jika ternyata tekanan darahnya nenek tinggi
kemudian perawat memberitahukan kepada dokter dan dokter memberikan resep
obat . setelah perawat memberikan resepnya kepada nenek kemudian perawat
memberikan penyuluhan pendidikan tentang hipertensi. Didalam penyuluhan itu
perawat menganjurkan kepada nenek dan kelurganya bahwa nenek tidak
diperbolehkan mengkonsumsi garam berlebihan , makanan berlemak , perbanyak
makan ketimun , dan buah mengkudu .

Evaluasi
Setelah perawat memberikan penyuluhan kepada nenek dan keluarganya kemudian
perawat mengajukan beberapa pertanyaan kepada nenek dan keluarganya supaya
perawat mengetahui seberapa jauh nenek dan keluarganya mengerti tentang
penyuluahan yang diberikan. Dan mereka bias menjawab dengan benar.

 Kesimpulan kasus
Menurut penulis menyimpulkan bahwa kasus diatas termasuk tingkat kebutuhan
the supportive-educative system (kebutuhan mandiri). The supportive-educative
system adalah dukungan pendidikan yang dibutuhkan oleh klien yang
memerlukannya untuk dipelajari, agar mampu melakukan perawatan mandiri.
Metode bantuan : perawat membantu klien dengan menggunakan system ini dan
melalui 5 (lima) metode bantuan yang meliputi acting atau melakukan sesuatu
untuk klien, mengajarkan klien, mengarahkan klien, mensuport klien, menyediakan
lingkungan untuk klien agar dapat tumbuh dan berkembang.asuhan keperawatn
mandiri dilakukan dengan memeperhatikaan tingkat ketergantungan atau
kebutuhan klien dan kemampuan klien.Karena, nenek hampir tidak memerlukan
bantuan dan Pasien mampu melakukan aktifitas hidupnya sendiri.

George, JB (1995). Nursing Theories : The Base for Professional Nursing


Practice.

Aplikasi Teori Orem (Self Care)


Dalam Keperawatan
Posted on 2 April, 2008. Filed under: Kep. Komunitas |

Menurut Orem asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap


orang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu
memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan. Teori ini dikenal
dengan teori self care (perawatan diri).
Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia dan
orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka. Orem
mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu:

1. Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal): kebutuhan


yang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus kehidupannya
seperti kebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk kebutuhan udara,
air, makanan, eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan pencegahan
bahaya. Hal tersebut dibutuhkan manusia untuk perkembangan dan
pertumbuhan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan lainnya yang
berguna bagi kelangsungan hidupnya.
2. Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri pengembangan):
kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan
proses perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi
tahap dalam siklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan
kejadian yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal
ini berguna untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus
hidup.
3. Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangan
kesehatan): kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atau
keturunan,kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan
cara, struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan
pengaruhnya, diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta
pengaruhnya, dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan
seseorang untuk melakukan self care.

Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:


1. Human being (Kehidupan manusia): oleh alam, memiliki kebutuhan umum akan
pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk mengelola kondisi
kehidupan yang menyokong proses hidup, pembentukan dan pemeliharaan integritas
structural, serta pemeliharaan dan peningkatan integritas fungsional.

2. Perkembangan manusia: dari kehidupan di dalam rahim hingga pematangan ke


dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan kondisi yang meningkatkan
proses pertumbuhan dan perkembangan di setiap periode dalam daur hidup.

3. Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari struktur normal


dan integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan beberapa
persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan pengaturan untuk mengontrol
perluasan dan mengurangi dampaknya.

Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat


ketergantuangan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3
tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:

1. Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan


dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi (sistem pengganti
keseluruhan).

2. Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (sistem


pengganti sebagian).

3. Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem


dukungan/pendidikan).

APLIKASI TEORI OREM


Klien dewasa dengan Diabetes Melitus menurut teori self-care Orem dipandang
sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk merawat dirinya sendiri untuk
memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan mencapai kesejahteraan.
Klien dewasa dengan Diabetes Mellitus dapat mencapai sejahtera / kesehatan
yang optimal dengan mengetahui perawatan yang tepat sesuai dengan kondisi dirinya
sendiri. Oleh karena itu, perawat menurut teori self-care berperan sebagai
pendukung/pendidik bagi klien dewasa dengan Diabetes Mellitus terkontrol untuk tetap
mempertahankan kemampuan optimalnya dalam mencapai sejahtera.
Kondisi klien yang dapat mempengaruhi self-care dapat berasal dari faktor
internal dan eksternal, factor internal meliputi usia, tinggi badan, berat badan,
budaya/suku, status perkawinan, agama, pendidikan, dan pekerjaan. Adapun factor luar
meliputi dukungan keluarga dan budaya masyarakat dimana klien tinggal.
Klien dengan kondisi tersebut membutuhkan perawatan diri yang bersifat
kontinum atau berkelanjutan. Adanya perawatan diri yang baik akan mencapai kondisi
yang sejahtera, klien membutuhkan 3 kebutuhan selfcare berdasarkan teori Orem yaitu:

1. Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal),


kebutuhan yang umumnya dibutuhkan oleh klien selama siklus hidupnya
dalam mempertahankan kondisi yang seimbang/homeostasis yang
meliputi kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, istirahat, dan interaksi
sosial serta menghadapi resiko yang mengancam kehidupan. Pada klien
DM, kebutuhan tersebut mengalami perubahan yang dapat diminimalkan
dengan melakukan selfcare antara lain melakukan latihan/olahraga, diet
yang sesuai, dan pemantauan kadar glukosa darah.
2. Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri
pengembangan), klien dengan DM mengalami perubahan fungsi
perkembangan yang berkaitan dengan fungsi perannya. Perubahan fisik
pada klien dengan DM antara lain, menimbulkan peningkatan dalam
berkemih, rasa haus, selera makan, keletihan, kelemahan, luka pada kulit
yang lama penyembuhannya, infeksi vagina, atau pandangan yang kabur
(jika kadar glukosanya tinggi).
3. Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri
penyimpangan kesehatan), kebutuhan yang berkaitan dengan adanya
penyimpangan kesehatan seperti adanya sindrom hiperglikemik yang
dapat menimbulkan kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi), hipotensi,
perubahan sensori, kejang-kejang, takikardi, dan hemiparesis. Pada klien
dengan DM terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan yang harus
dipenuhi dengan kemampuan yang dimiliki. Klien DM akan mengalami
penurunan pola makan dan adanya komplikasi yang dapat mengurangi
keharmonisan pasangan (missal infeksi vagina dan bagian tubuh lainnya).

Ketidakseimbangan baik secara fisik maupun mental yang dialami oleh klien
dengan DM menurut Orem disebut dengan self-care deficit. Menurut Orem peran
perawat dalam hal ini yaitu mengkaji klien sejauh mana klien mampu untuk merawat
dirinya sendiri dan mengklasifikasikannya sesuai dengan klasifikasi kemampuan klien
yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Setelah mengkaji dan mendapatkan informasi yang lengkap barulah perawat
mulai bekerja untuk mengembalikan kemampuan self-care klien secara optimal sesuai
dengan kondisi aktual klien yang berhubungan dengan Diabetes Mellitus yang diderita
oleh klien.

Anda mungkin juga menyukai