Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Trauma kandung kemih merupakan penyebab terbanyak pada kecelakaan lalu
lintas atau kecelakaan kerja yang menyebabakan fragmen patah tulang pelvis
mencederai buli-buli. Ruptur kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal atau
ekstraperitoneal. Ruptur kandung kemih ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk
fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh
(Smeltzer & Bare, 2008).
Cedera traumatis ke kandung kemih relatif jarang pada orang dewasa maupun
anak-anak. Namun, kejadian trauma tumpul meningkat sebagai akibat dari preferensi
transportasi modern dan meningkatkan ketergantungan pada kendaraan bermotor yang
melakukan perjalanan pada kecepatan yang lebih tinggi secara paralel dengan
kemajuan dalam mesin dan bagian dari teknologi. Oleh karena itu, kejadian trauma
intra abdomen dan kandung kemih dapat diperkirakan akan meningkat
juga(Arif,2010).
Trauma kandung kemih sekunder terjadi karena cidera tumpul atau cedera
tembus. enam puluh atau sembilan puluh persen dari cedera kandung kemih tumpul
terjadi sekunder untuk fraktur panggul dan 2% sampai 11% dari pasien dengan fraktur
panggul mempertahankan cedera kandung kemih dan kombinasikan urethal dan
cedera kandung kemih terjadi dalam 2% sampai 30% dari kasus (Loughlin, 2008).
Trauma kandung kemih dapat disebabkan oleh trauma baik eksternal (tumpul
atau penetrasi) atau iatrogenik, dengan frekuensi yang sama pada umumnya. Hanya
ada keterbatasan data yang tersedia dalam literatur membandingkan pada frekuensi
cedera kandung kemih eksternal dan iatrogenik pada populasi umum. Selama 5 tahun
multi survei dari 61 lembaga departemen urologi mengidentifikasi 512 kasus cedera
kandung kemih, 41% dari yang dihasilkan dari tabrakan kendaraan bermotor, 8% dari
jatuh dari ketinggian, 2% dari cedera yang menghancurkan, 0,6% dari luka tembus,
dan 49% dari cedera iatrogenik (Hohenfellner & Santtuci, 2007).

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Trauma Vesika Urinaria ?
2. Bagaimana Klasifikasi Trauma Vesika Urinaria ?
3. Bagaimana Etiologi Trauma Vesika Urinaria ?
4. Bagaimana Manifestasi Klinis Trauma Vesika Urinaria ?
5. Bagaimana Patofisiologi Trauma Vesika Urinaria ?
6. Bagaimana Pathways Trauma Vesika Urinaria ?
7. Bagaimana Pemeriksaan Penunjang Trauma Vesika Urinaria ?
8. Bagaimana Penatalaksanaan Trauma Vesika Urinaria ?
9. Bagaimana Komplikasi Trauma Vesika Urinaria ?
10. Bagaimana Asuhan Keperawatan Trauma Vesika Urinaria ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II
Serta memahami tentang penyakit Trauma Vesika Urinaria dan dapat
mengaplikasikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan Trauma
Vesika Urinaria
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan Definisi Trauma Vesika Urinaria
b. Menjelaskan Klasifikasi Trauma Vesika Urinaria
c. Menjelaskan Etiologi Trauma Vesika Urinaria
d. Menjelaskan Manifestasi Klinis Trauma Vesika Urinaria
e. Menjelaskan Patofisiologi Trauma Vesika Urinaria
f. Menjelaskan Pathways Trauma Vesika Urinaria
g. Menjelaskan Pemeriksaan Penunjang Trauma Vesika Urinaria
h. Menjelaskan Penatalaksanaan Trauma Vesika Urinaria
i. Menjelaskan Komplikasi Trauma Vesika Urinaria
j. Menjelaskan Asuhan Keperawatan Trauma Vesika Urinaria

2
D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan bagi mahasiswa dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan Trauma Vesika Urinaria
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat memberikan pengetahuan atau informasi kepada
masyarakat tentang Trauma Vesika Urinaria dan bagaimana cara penangannya
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan masyarakat dapat memberikan asuhan keperawatan dan pendidikan
kesehatan Trauma Vesika Urinaria pada klien

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Trauma vesika urinaria adalah cidera yang terjadi pada kandung kemih yang
diakibatkan oleh kecelakaan atau trauma iatrogenik (Salam, 2013).
Trauma vesika urinaria adalah trauma yang terjadi pada kandung kemih (vesica
urinaria) yang diakibatkan patahnya tulang panggul dan beberapa hantaman keras ke
arah abdomen bagian bawah ketika kandung kemih terisi penuh (Soepardi,2010).
Trauma vesika urinaria adalah cedera pada kandung kemih yang terjadi akibat
trauma tumpul dan penetrasi dan bervariasi menurut isi kandung kemih sehingga bila
kandung kemih penuh akan lebih mungkin untuk menjadi terluka dari pada saat
kosong (Mutaqqin & Sari, 2011).

B. Klasifikasi
a. Ruptur ekstraperitoenal
Ruptur ekstraperitoenal biasanya berhubungan dengan fraktur panggul (89%-
100%) sebelumnya, mekanisme cidera diyakini dari perforasi langsung oleh
fragmen tulang panggul. Tingkat cidera kandung kemih secara langsung berkaitan
dengan tingkat keparahan fraktur.
b. Rupture Intraperitoneal
Rupture kandung kemih intraperitoneal digambarkan sebagai masuknya urine
secara horizontal kedalam kompartemen kandung kemih. Mekanisme cidera
adalah peningkatan tingkat tekanan intravesikel secara tiba-tiba kekandung kemih
yang penuh. Kekuatan daya trauma tidak mampu ditahan oleh kemampuan
dinding kandung kemih sehingga terjadi perforasi dan urine masuk kedalam
peritoneum.
c. Kombinasi rupture intraperitoneal dan ekstraperitoneal
Mekanisme cidera penetrasi memungkinkan cedera menembus kandung kemih
seperti peluru kecepatan tinggi melintasi kandung kemih atau luka tusuk
abdominal bawah. Hal itu akan menyebabkan intraperitoneal , ekstraperitoneal,
cidera, atau gabungan kandung kemih. (Purnomo,2008).

4
C. Etiologi
Penyebab lain melibatkan trauma obstetri pada saat melahirkan. Trauma kandung
kemih terutama terjadi akibat trauma tumpul pada panggul, tetapi bisa juga karena
trauma tembus seperti luka tembak dan luka tusuk oleh senjata tajam. Pecahan –
pecahan tulang yang berasal dari fraktura dapat menusuk kandung kemih. Tetapi
ruptura kandung kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul panggul atas kandung
kemih yang terisi penuh. Tenaga mendadak atas masa urin yang terbendung di dalam
kandung kemih menyebabkan rupture. Perforasi iatrogen pada kanndung kemih
tterdapat pada reseksitransurtral, sistoskopi atau karena manipulasi dengan peralatan
pada kandung kemih. Penyebab iatrogenik termasuk pasca intervensi bedah dari
ginekologi, urologi, dan operasi ortopedi didekat kandung kemih. Penyebab lain
melibatkan trauma obstetri pada saat melahirkan (Heardman,2009).

D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala trauma vesika urinaria antara lain :
a. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat
b. Tidak bisa buang air kecil , kadang keluar darah dari uretra
c. Nyeri suprapublik
d. Ketegangan otot dinding perut bawah
e. Ekstravasasi kontras pada sistogram
f. Trauma tulang panggul (Arif,2010).

E. Patofisiologi
Cedera kandung kemih tidak lengkap atau sebagian akan menyebabkan
robekan mukosa kandung kemih. Segmen dari dinding kandung kemih jernih
mengalami memar, mengakibatkan cedera lokal dan hematoma. Memas atau kontusio
memberikan manifestasi klinik hematuria setelah trauma tumpul atau setelah
melakukan aktivitas fisik yang ekstrem contohnya lari jarak jauh). Biasanya terjadi
peningkatan suhu tubuh.
Ruptur ekstraperitoneal kandung kemih. Tuptue ekstraperitonel biasanya
berhubungan dengan faktor panggul (89%-100%). Sebelumnya, mekanisme cedera
diyakini dari perforasi langsung oleh fragmen tulang panggul. Tingkat cedera
kandung kemih secara langsung berkaitan dengan tingkat keparahan fraktur.

5
Beberapa kasus mungkin dengan mekanisme yang mirip dengan pecahnya
kandung kemih intraperitoneal, yang merupakan kombinasi dari trauma dan
overdistention kandung kemih. Temuan cystographic klasik adalah ekstravasasi
kontrol sekitar kandung kemih.dengan cedera yang lebih kompleks, bahan kontras
melaluas ke paha, penis, perineum, atau kedalam dinding anterior abdomen.
Ekstravasasi akan mencapai skrotum ketika fasia superior diagfragma urogenital
sendiri menjadi terganggu.
Kombinasi ruptur intraperitoneal dan ekstraperitoneal. Mekanisme cedera
penerasi memungkinkan cedera menembus kandung kemih seperti peluru kecepatan
tinggi melintasi kandung kemih atau luka tusuk abdominal bawah. Hal tersebut akan
menyebabkan intraperitoneal, ekstraperitoneal, cedera, atau gabungan kandung kemih
(Sylvia,2009).

6
F. Pathways

Trauma tumpul Kecelakaan Trauma tembus

Menusuk kandung kemih

Kerusakan kontuinitas jaringan

Edema pada kandung kemih

TRAUMA VESIKA URINARIA

Proses infeksi/peradangan
Menekan saraf Sulit berkemih Perubahan
status
kesehatan
Suhu tubuh Cedera kandung Nyeri area Penumpukan
meningkat kemih pinggang urine dalam
kandung Kurangnya
Hipertermi Robekan pada Ketidakmampuan kemih pengetahuan
mukosa mengontrol nyeri tentang
kandung kemih penyakitnya

Nafsu makan Gangguan


Segmen dari menurun eliminasi Cemas
kandung kemih urine
jernih memar
Asupan nutrisi
Resiko infeksi tidak terpenuhi
hematoma

Pemenuhan
Nyeri akut nutrisi kurang
dari kebutuhan

(Heardman,2009 . Sylvia,2009).

7
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang berguna untuk konfirmasi diagnosis dan
menyingkirkan diagnosis banding. Berikut adalah pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan pada trauma kandung kemih :
1. Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah alat untuk mengetahui pancaran urin secara obyektif. Derasnya
pancaran diukur dengan membagi volume urin saat berkemih, dibagi dengan lama
proses berkemih. Kecepatan pancaran normal adalah 20 ml/detik. Jika kecepatan
pancaran <10 ml/detik menandakan adanya obstruksi.
2. Uretrigram Retrograde
Dilakukan uretrigram retrograde untuk mengevaluasi cedera uretral. Klien dilakukan
kateterisasi setelah uretrogram untuk meminimalkan risiko gangguan uretral dan
komplikasi jangka panjang yang luas, seperti striktur, inkontinensia (tidak dapat
menahan berkemih) dan impoten.
3. USG (Ultrasonografi)
USG cukup berguna dalam mengevaluasi striktur pada pars bulbosa. Dengan alat ini
kita juga bisa mengevaluasi panjang striktur dan derajat luas jaringan parut,
contohnya spongiofibrosis. Ini membantu kita memilih jenis tindakan operasi yang
akan dilakukan kepada pasien. Kita dapat mengetahui jumlah residual urin dan
panjang striktur secara nyata, sehingga meningkatkan keakuratan saat operasi
4. MRI (Magneting Resonance Imaging)
MRI sebaiknya dilakukan sebelum operasi karena dapat mengukur secara pasti
panjang striktur, derajat fibrosis, dan pembesaran prostat. Namun, alat ini belum
tersedia secara luas dan biayanya sangat mahal sehingga jarang digunakan
(Suharyanto, 2009).

H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Sistografi yaitu dengan memasukkan kontras ke dalam buli-buli sebanyak 300-
400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretram. Kemudian
dibuat beberapa foto, yaitu (1) foto pada saat buli-buli terisi kontras dalam posisi
anterior-posterior (AP), (2) pada posisi oblik, dan (3) wash out film yaitu foto
setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli.

8
Jika didapatkan robekan pada buli-buli, terlihat ekstravasasi kontras di dalam
rongga perivesikal yang merupakan tanda adanya robekan ekstraperitoneal. Jika
terdapat kontras yang berada di sela-sela usus berarti ada robekan buli-buli
intraperitoneal. Pada perforasi yang kecil seringkali tidak tampak adanya
ekstravasasi (negatif palsu) terutama jika kontras yang dimasukkan kurang dari
250 ml
2. Penatalaksanaan keperawatan
1. Atasi syok dan pendarahan
2. Istirahat baring
3. Memasang kateter urin
4. Perawatan umum pasca bedah dipantau dengan ketat untuk menjamin drainase
yang adekuat sampai terjadi penyembuhan. Pasien ruptur kandung kemih
mungkin mengalami perdarahan hebat untuk beberapa hari setelah perbaikan

(Suharyanto, 2009).

I. Komplikasi
1. Syok
Terjadi karena penurunan tekanan darah dan terjadinya perdarahan. Pada
penderita syok sepsis 40-60% terdapat bakteremia. Hubungan antara bakteremia
dan sepsis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain imunitas dan kondisi
penyakit. Secara umum bakteri aerobik gram negatif sering dihubungkan dengan
keadaan sepsis. Akhir-akhir ini bakteri gram positif juga banyak ditemukan
sebagai pemicu sepsis. Perjalanan sepsis akibat bakteri diawali oleh proses infeksi
yang ditandai dengan bakteremia selanjutnya berkembang menjadi SIRS
(Systemic Inflamatory Respon Syndrome) dilanjutkan sepsis, sepsis berat, syok
sepsis dan berakhir MODS. Syok terjadi pada 40% pasien sepsis.
2. Sepsis
Komplikasi pada luka traumatik biasanya disebabkan oleh oranisme aerob
endogen, terutama P. Aeruginosa, S. Aureus, E.coli, Proteus spp, acino bacter dan
lain – lain (Putranto, 2014). Ketika luka akibat trrauma tidak dirawat dengan baik
maka bakteri masuk kedalam saluran kemih maka terjadilah infeksi saluran
kemih. Respon imunologi pada trauma berat dimulai saat awal kejadian dengan
dimulai aktifitas monosit. Aktifitas ini menyebabkan peningkatan sintesa dan

9
pelepasan mediatormediator inflamasi baik itu yang bersifat pro inflamasi maupun
anti inflamasi. Kelebihan respon pada trauma menginduksi SIRS dan MOF yang
terjadi 30% pada semua trauma berat
Hubungan antara bakteremia dan sepsis dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain imunitas dan kondisi penyakit. Secara umum bakteri aerobik gram
negatif sering dihubungkan dengan keadaan sepsis. Akhir-akhir ini bakteri gram
positif juga banyak ditemukan sebagai pemicu sepsis. Ledger dkk melaporkan
mikroorganisme yang sering ditemukan antara lain Eschericia coli,Enterococci,
dan beta hemolytic streptococci (Suharyanto, 2009).

J. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1. Identitas Klien
Lakukan pengkajian meliputi: nama, jenis kelamin,suku bangsa, tanggal
lahir,agama dan tanggal pengkajian.
2. Keluhan utama/alasan masuk RS:
Klien datang ke RS dengan keluhan merasakan nyeri pada pada bagian
kandung kemih
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang:
Hematuria,perubahan warna atau volume urine. Adanya rasa nyeri: lokasi,
kateter, durasi, dan faktor yang memicu. Syok hipovolemik
b. Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit yang pernah dialami (jenis penyakit, lama dan upaya untuk
mengatasi, riwayat masuk RS)
c. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit menular atau keturunan dalam keluarga
4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum :
- Klien tampak sehat/ sakit/ sakit berat : Sakit
- Kesadaran : Sadar
- GCS : E4V5M6
- Tanda- tanda vital :

10
Tekanan Darah : Cenderung meningkat
Nadi : Biasanya meningkat
RR : Biasanya meningkat
Suhu : Biasanya lebih dari 37 C

b. Pemeriksaan Fisik (Head To toe)


- Wajah : Pucat
- Mata : Cowong
- Mulut : Mukosa kering
- Leher : Tidak terjadi pembesaran typoid
- Dada : Tidak terjadi Ronchi atau whezzing
- Abdomen : Nyeri pada daerah abdomen
- Genetalia : Tidak terjadi kelainan
- Ekstremitas : Kulit kering
5. Fokus Pengkajian
1. Aktivitas/istirahat
- Keletihan, kelelahan, malaise.
- Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari – hari.
2. Integritas Ego
Ketidak berdayaan, putus asa, cemas , mudah tersinggung
3. Eliminasi
- Perubahan gejala BAK
- Nyeri saat BAK
4. Makanan/Cairan
Kekurangan nutrisi , nafsu makan menurun
5. Neurosensori
- Sakit kepala, pusing, vertigo, ketidakmampuan berkonsentrasi.
- Kelemahan, keseimbangan buruk.
6. Nyeri/kenyamanan
Sakit pada daerah abdomen
7. Keamanan
Trauma baru , terjadi peningkatan suhu tubuh akibat infeksi

11
8. Penyuluhan/Pembelajaran
Riwayat penyakit maag, depresi. (Doengoes,2010).

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan suhu tubuh meningkat
b. Resiko infeksi berhubungan dengan robekan pada mukosa kandung kemih
c. Nyeri akut berhubungan dengan hematoma
d. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi
tidak terpenuhi
e. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan penumpukan urine dalam
kandung kemih
f. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya
(NANDA,2015).
3. Intervensi keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC)
keperawatan Hasil (NOC)
1 Hipertermi NOC NIC
berhubungan Thermoregulation Fever Treatment
dengan suhu Kriteria hasil : 1.Monitor suhu sesering
tubuh meningkat 1.Suhu tubuh dalam mungkin
rentang normal 2.Monitor IWL
2.Nadi dan RR dalam 3.Monitor warna dan suhu
rentang normal kulit
3.Tidak ada perubahan 4.Monitor tekanan darah,nadi,
warna kulit dan tidak dan RR
ada pusing 5.Monitor penurunan tingkat
4.Merasa nyaman kesadaran
6.Monitor WBC,HB,Hct
7.Monitor intake dan output
8.Kolaborasi pemberian anti
piretik
9.Berikan pengobatan untuk
mengatasi penyebab demam

12
10.selimuti pasien
11.Lakukan tapid sponge
12.Kolaborasikan dengan
dokter
13.Kompres pasien
2 Resiko Infeksi NOC NIC
berhubungan 1.Immune status Infection Control
dengan robekan 2.Knowledge: Infection 1.Bersihkan lingkunga setelah
pada mukosa control dipakai pasien lain
kandung kemih 3.Risk Control 2.Pertahankan teknik isolasi
Kriteria Hasil : 3.Batasi pengunjung bila
1.Klien bebas dari perlu
tanda dan gejala 4.Instruksikan Pada
infeksi pengunjung untuk
2.Mendresipsikan mencuci tangan saat
proses penularan berkunjung dan
penyakit setelah berkunjung
3.Menunjukkan meninggalkan pasien
kemampuan Untuk 5.Gunakan sabun antibiotik
mencegah untuk cuci tangan
timbulnya infeksi 6.Cuci tangan Setiap sebelum
4.Jumlah leukosit dan sesudah tindakan
dalam batas normal Keperawatan
5.Menunjukkan 7.Gunakan baju , Sarung
perilaku hidup sehat Tangan sebagai alat
pelindung
8.Pertahankan lingkungan
aseptic selama pemasangan
alat
9.Ganti letak IV perifer dan
line sentral dan dressing
sesuai dengan petunjuk
umum
10. Gunakan kateter
13
11.Tingkatkan intake nutrisi
12.Berikan terapi antibiotic
bila perlu
13.Monitor tanda dan gejala
infeksi
14.Monitor kerentanan
terhadap infeksi
15.Batasi pengunjung
16.Dorong Masuknya Nutrisi
yang cukup
17.Dorong masuknya cairan
18.Dorong istirahat
19.Ajarkan cara menghindari
infeksi
20.Instruksikan pasien untuk
minum antibiotic
3 Nyeri akut NOC NIC
berhubungan 1.Pain Level Pain Management
dengan 2.Pain Control 1.Lakukan pengkajian nyeri
hematoma 3.Comfort Level secara komrehensif
Kriteria hasil : termasuk lokasi
1.Mampu mengontrol karakteristik ,durasi,
nyeri (tahu penyebab frekuensi , kualitas dan
nyeri, mampu factor presipitasi
menggunakan teknik 2.Observasi reaksi non verbal
non farmakologi dari ketidaknyamanan
untuk mengurangi 3.Gunakan teknik terapeutik
nyeri , mencari 4.Kaji kultur yang
bantuan mempengaruhi repon nyeri
2.Melaporkan bahwa 5.Evaluasi nyeri masa lampau
nyeri berkurang 6.Bantu pasien dan keluarga
dengan untuk mencari dan
menggunakan menemukan dukungan
manajemen nyeri 7.Kontrol lingkungan yang
14
3.Mampu mengenali dapat mempengaruhi nyeri
nyeri 8.Kurangi factor perseptif
4.Menyatakan rasa nyeri
nyaman setelah nyeri 9.Ajarkan tentang teknik non
berkurang farmakologi
10.Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
11.Tingkatkan istirahat
12.kolaborasikan dengan
dokter
13.Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri
14.Evaluasi keefektifan
control nyeri
Analgesic Administration
15.Tentukan lokasi ,
karakteristik, kualitas,dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
16.Cek riwayat alergi
17.Cek instruksi dokter
tentang jenis
obat,dosis,dan frekuensi
18.Berikan analgesic
4 Pemenuhan NOC NIC
nutrisi kurang 1.Nutritional status Nutrition management
dari kebutuhan 2.Nutritional status 1.Kaji adanya alergi makanan
berhubugan food and fluit 2.Kolaborasi dengan ahli gizi
dengan asupan 3.Intake untuk menentukan jumlah
nutrisi tidak 4.Nutrion status : kalori dan nutrisi yang di
terpenuhi Nutrien Intake butuhkan pasien
5.Weight control 3.Anjurkan pasien untuk
Kriteria Hasil : meningkatkan protein dan
1.Adanya peningkatab vitamin C
15
BB sesuai dengan 4. Berikan subtansi gula
tujuan 5.Yakinlah diet yang dimakan
2.Berat badan ideal mengandung tinggi serat
sesuai dengan tinggi dan mencegah konstipasi
badan 6.Berikan makanan yang
3.Mampu terpilih (sudah di
mengidentifikasi konsultasikan dengan ahli
kebutuhan nutrisi gizi)
4.Tidak ada tanda-tanda 7.Ajarkan paisen bagaimana
malnutrisi membuat catatan makanan
5.Menunjukkan harian
peningkatan fungsi 8.Monitor jumlah nutrisi dan
pengecapan dari kandungan kalori
menelan 9.Berikan informasi tentang
6.Tidak terjadi kebutuhan nutrisi
penurunan 10.Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang di butuhkan
Nutrition Monitoring
11.BB pasien dalam batas
normal
12.Monitor adanya penurunan
berat badan
13.Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa
dilakukan
14.Monitor intraksi anak atau
orang tua selama makan
15.Monitor lingkungan
selama makan
16.Jadwalkan peningkatan
dan tindakan selama jam
makan
17.Monitor kulit kering
16
18.Monitor Mual Muntah
5 Gangguan NOC NIC
eliminasi urine 1.Urinary elimination 1.Lakukan penilaian kemih
berhubungan 2.Urinary Contiunence 2.Memantau penggunaan obat
dengan Kriteria Hasil : 3.Memonitor efek dari
penumpukan 1.Kandung kemih penggunaan obat
urine dalam kosong secara penuh 4.Menyediakan penghapusan
kandung kemih 2.Tidak ada residu urine privasi
3.Intake cairan dalam 5.Gunakan kekuatan sugesti
rentang normal dengan menjalankan air atau
4.Bebas dari ISK disiram ditoilet
5.Tidak ada spasme 6.Merangsang refleks
bladder kandung kemih
6.Balance cairan 7.Sediakan waktu yang cukup
Seimbang untuk pengosongan
kandung kemih
8.Masukkan kateter kemih
9.Anjurkan pasien/keluarga
untuk merekam output urine
10.Memantau asupan dan
output
11.Membantu dengan toilet
secara berkala
6 Cemas NOC NIC
berhubungan 1.Anxiety self-control Anxiety reduction
dengan 2.Anxiety level 1.Gunakan pendekatan yang
kurangnya 3.Coping menenangkan
pengetahuan Kriteria Hasil : 2.Nyatakan dengan jelas
tentang 1.Klien mampu terhadap perilaku pasien
penyakitnya mengidentifikasi 3.Jelaskan semua prosedur
dan mengungkap dan apa yang dirasakan
gejala cemas selama prosedur
2.Mengidentifikasi, 4.Pahami perspektif pasien
mengungkapkan dan terhadap situasi stress
17
menunjukkan teknik 5.Temani pasien untuk
untuk mengontrol memberikan keamanan dan
cemas mengurangi takut
3.Vital sign dalam batas 6.Dorong keluarga untuk
normal menemani
4.Postur tubuh, ekspresi 7.Lakukan back/neckrub
wajah, bahasa tubuh 8.Dengarkan dengan penuh
dan tingkat aktivasi perhatian
menunjukkan 9.Identifikasi Tingkat
berkurangnya kecemasan
kecemasan 10.Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
11.Berikan obat untuk
mengurangi kecemasan

(NANDA,2015).

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Trauma kandung kemih dapat disebabkan oleh trauma baik eksternal (tumpul atau
penetrasi) atau iatrogenik, dengan frekuensi yang sama pada umumnya. Hanya ada
keterbatasan data yang tersedia dalam literatur membandingkan pada frekuensi cedera
kandung kemih eksternal dan iatrogenik pada populasi umum. Selama 5 tahun multi
survei dari 61 lembaga departemen urologi mengidentifikasi 512 kasus cedera
kandung kemih, 41% dari yang dihasilkan dari tabrakan kendaraan bermotor, 8% dari
jatuh dari ketinggian, 2% dari cedera yang menghancurkan, 0,6% dari luka tembus,
dan 49% dari cedera iatrogenik
B. Saran
1.Bagi Tenaga Kesehatan
Untuk tenaga kesehatan terutama perawat diharapkan bias mengerti dan
memahami tentang pengertian , penyebab ,pencegahan dan pengobatan dari trauma
vesika urinaria agar saat menerapkan pada pasien tidak terjadi suatu kesalahan yang
menyebabkan pasien tambah parah atau bahkan bisa mengalami kematian karena
kesalahan dalam melakukan asuhan keperawatan
2.Bagi Pasien dan Keluarga
Bagi pasien diharapkan mengerti tentang penyebab, pengobatan, dan
pencegahan dari trauma vesika urinaria, agar pada saat terjadi trauma vesika urinaria
dapat melakukan pencegahan dini sebelum dilakukan asuhan keperawatan

19
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth .2010. Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. Jakarta:EGC

Doengoes, Maryllin E .2010. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 3. Jakarta:EGC

Heardman, Heather .2009. Nursing Diagnosis Definition & Classification. United


Kingdom

Muttaqin,Arif .2010. Pengkajian Keperawatan (Aplikasi Pada Praktek Klinis).


Jakarta:Salemba Medika

Mutaqqin, Arif & Sari, Kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika

NANDA (Nursing Diagnosis and Clasification) .2015. Diagnosa Nanda NIC & NOC
disertai Discharge Planning. Philadelpia

Price, Sylvia A . Wilson ,L.M .2010. Patofisiologi Konsep Proses Penyakit, Edisi
4,Alih Bahasa Peter Anugrah .Jakarta:Penerbit buku kedokteran EGC

Purnomo, Basuki B. 2007. Dasar – dasar Urologi Edisi Dua. Jakarta : CV Sagung
Seto

Salam, M.A et al. 2013. Principles and Practice of Urology, Vol. 1. New Delhi:
Jaypee Brothers Medical Publisher.

Suharyanto, Toto. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta:TIM.

20