Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Darah dalam keadaan normal senantiasa berada di dalam pembuluh darah
dan berbentuk cair. Keadaan ini dapat diperoleh bila terdapat keseimbangan
antara aktivitas koagulasi dengan aktivitas fibrinolisis pada sistem hemostasis
yang melibatkan endotel pembuluh darah, trombosit, protein pembekuan,
protein antikoagulan dan enzim fibrinolisis. Terjadinya efek pada salah satu
atau beberapa komponen ini akan menyebabkan terjadinya gangguan
keseimbangan hemostasis dan menimbulkan komplikasi perdarahan atau
trombosis.
Darah terdiri dari komponen cair yang disebut plasma dan berbagai unsur
yang dibawa dalam plasma yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah terdiri dari
eritrosit atau sel darah merah, yaitu sel yang mengangkut oksigen, leukosit
atau sel darah putih yaitu sel yang berperan dalam kekebalan dan pertahanan
tubuh dan trombosit yaitu sel yang berperan dalam hemostasis (Frandson,
1992).
Trombosit dalam proses hemostasis berperan sebagai penambal
kebocoran dalam sistem sirkulasi dengan membentuk sumbat trombosit pada
daerah yang mengalami kerusakan. Agar dapat membentuk suatu sumbat
trombosit maka trombosit harus mengalami beberapa tahap reaksi yaitu
aktivasi trombosit, adhesi trombosit pada daerah yang mengalami kerusakan,
aggregasi trombosit dan reaksi degranulasi. Trombosit akan teraktivasi jika
terpapar dengan berbagai protein prokoagulan yang dihasilkan oleh sel
endotel yang rusak. Adhesi trombosit pada jaringan ikat subendotel terjadi
melalui interaksi antara reseptor glikoprotein membran trombosit dengan
protein subendotel terutama faktor von Willebrand sedangkan aggregasi
trombosit terjadi melalui interaksi antar reseptor trombosit dengan fibrinogen
sebagai mediator.
Bleeding time adalah waktu lamanya perdarahan atau waktu yang
diperlukan untuk berhentinya darah mengalir. Dengan melakukan
pemeriksaan darah di dalam tubuh, dapat dicari suatu jenis kelainan yang

1
selanjutnya sangat berguna bagi penegakan diagnosis dan pengobatan
selanjutnya. Melalui laporan ini akan mempelajari tentang pemeriksaan darah
yaitu pemeriksaan masa pendarahan (bleeding time) dengan menggunakan
metode IVY.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan praktikum kali ini agar mahasiswa mengetahui cara
pemeriksaan masa perdarahan dengan metode IVY.
1.3. Manfaat
Adapun manfaat praktikum kali ini adalah mahasiswa mengetahui cara
pemeriksaan masa perdarahan dengan metode IVY.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Darah
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup, mulai dari
binatang hingga manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada
dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai
pembawa oksigen, mekanisme pertahanan tubuh dan mekanisme hemostasis.
Darah terdiri atas 2 komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah.
Plasma darah meliputi 55% volume darah sedangkan 45% berupa sel darah.
Plasma darah merupakan bagian cair dari darah yang sebagian besar terdiri
atas air, elektrolit dan protein darah. Protein darah tersebut adalah albumin,
globulin dan fibrinogen serta unsur anorganik berupa natrium, kalsium,
kalium, fosfor, besi, dan yodium. Sel-sel darah terdiri atas eritrosit (sel darah
merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (sel pembeku platelet (Bakta,
2006).
2.2. Plasma
Darah disusun oleh 2 komponen, yaitu plasma darah dan sel-sel darah.
Plasma darah termasuk dalam kesatuan cairan ekstraseluler dengan volume
±5% dari berat badan. Apabila sejumlah volume darah ditambah dengan zat
pencegah anti pembekuan darah secukupnya kemudian diputar selama 20
menit dengan kecepatan 3000 rpm maka cairan yang terdapat pada bagian
atas disebut plasma. Plasma darah mengandung fibrinogen. Oleh karena itu
dalam memperoleh plasma, darah dicampur dengan antikoagulan untuk
mencegah terjadinya pembekuan darah.
Sitrat merupakan antikoagulan yang langsung mengikat Ca, sehingga
digunakan untuk pemeriksaan waktu rekalsifikasi. Plasma yang diabsorpsi
dengan barium sulfat mengandung fibrinogen, faktor V, VIII, XI, XII,
XIII.Plasma ini tidak dapat membeku karena tidak mengandung protrombin,
factor X dan faktor VII yang diperlukan untuk aktivasi intrinsik. Faktor XI
dan XII stabil dalam plasma simpan, tidak diabsorpsi oleh barium dan tidak
habis oleh proses pembekuan (Smeltzer, 2001).

3
2.3. Hemostatis
Hemostasis adalah mekanisme menghentikan dan mencegah perdarahan.
Bilamana terdapat luka pada pembuluh darah, segara akan terjadi
vasokonstriksi pembuluh darah sehingga aliran darah ke pembuluh darah
yang terluka berkurang. Kemudian trombosit akan berkumpul dan melekat
pada bagian pembuluh darah yang terluka untuk membentuk sumbat
trombosit. Faktor pembekuan darah yang diaktifkan akan membentuk
benang-benang fibrin yang akan membuat sumbat trombosit menjadi non
permeabel sehingga perdarahan dapat dihentikan.
Proses hemosatasis terjadi 3 reaksi yaitu reaksi vascular berupa
vasokontriksi pembuluh darah, reaksi selular yaitu pembentukan sumbat
trombosit, dan reaksi biokimiawi yaitu pembentukan fibrin. Faktor-faktor
yang memegang peranan dalam proses hemostasis adalah pembuluh darah,
trombosit, dan faktor pembekuan darah. Selain itu faktor lain yang juga
mempengaruhi hemostasis adalah faktor ekstravascular, yaitu jaringan ikat
disekitar pembuluh darah dan keadaan otot (Smeltzer, 2001).
2.4. Mekanisme Hemostatis
1. Fase vascular
Karena akibat dari adanya trauma pada pembuluh darah maka respon
yang pertama kali adalah respon dari vaskuler/kapiler yaitu terjadinya
kontraksi dari kapiler disertai dengan extra-vasasi dari pembuluh darah,
akibat dari extra vasasi ini akan memberikan tekanan pada kapiler tersebut
(adanya timbunan darah disekitar kapiler).
2. Fase Platelet/trombosit
Trombosit adalah sel darah tidak berinti berasal dari sitoplasma
megakariosit. Dalam keadaan inaktif, trombosit berbentuk cakram
bikonveks dengan diameter 1 -4 µm dan volume 7-8 fl. Dengan mikroskop
elektron, trombosit dibagi menjadi 4 zona. Zona perifier yang berguna
untuk adhesi dan agregasi, zona sol-gel yang menunjang struktur dan
mekanisme kontraksi, zona organel yang berperan pada pengeluaran inti
trombosit serta zona membran yang merupakan jalan keluar dari isi
granula saat pelepasan (Yuma, 2006).

4
Trombosit adalah pecahan sitoplasma megakariosit yang berukuran 1-4
um. Terdiri dari 2 bagian yaitu kromomer yang bergranula terletak di
tengah, serta hialometer yang mengelilingi kromomer, tidak bergranula
dan berwarna lebih muda.
Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbat mekanis sebagai
respon hemostatik normal terhadap cedera vaskuler. Proses pembentukan
sumbat tersebut melalui adhesi, pembebasan, agregasi, fusi dan aktivitas
prokoagulan. Trombosit dibentuk oleh megakariosit, yaitu sel raksasa
dalam sumsum tulang belakang dengan cara mengeluarkan sedikit
sitoplasma ke dalam sirkulasi, sekitar 60-75 % trombosit yang telah
dilepas dari sumsum tulang berada dalam peredaran darah, sedangkan
sisanya sebagian besar terdapat pada limpa (Yuma, 2006).
Pada saat terjadinya pengecilan lumen kapiler (vasokontriksi) dan extra
vasasi ada darah yang melalui permukaan asar (jaringan kolagen) dengan
akibatnya trombosit. Akibat dari bertemunya trombosit dengan permukaan
kasar maka trombosit tersebut akan mengalami adhesi serta agregasi.
Setelah terjadinya adhesi maka dengan pengaruh ATP akan terjadilah
agregasi yaitu saling melekat dan desintegrasi sehingga terbentuklah suatu
massa yang melekat. Peristiwa trombosit yang mulai pecah/lepas- lepas
hingga menjadi suatu massa yang melekat disebut Viscous metamorphosis.
Akibat dari terjadinya semua proses ini maka terjadilah gumpalan plug
(sumbatan) baru kemudian terjadi fase yang ketiga (Ganong, 2001).
3. Fase koagulasi (Pembekuan Darah)
Pembekuan darah memerlukan sistem penguatan biologis dimana relatif
sedikit zat pemula secara beruntun mengaktifkan, dengan proteolisis,reaksi
protein prekursor yang beredar ( enzim-enzim faktor pembekuan ) yang
memuncak pada pembentukan trombin, selanjutnya mengkonversi
fibrinogen plasma yang larut menjadi fibrin. Fibrin menjaring agregat
trombosit pada tempat luka vaskular dan mengubah sumbatan trombosit
primer yang tidak stabil menjadi sumbatan haemostasis yang kuat, utuh,
dan stabil (Smeltzer, 2001).

5
Kerja reaksi enzim ini membutuhkan pemekatan setempat factor-faktor
pembekuan yang beredar pada tempat luka.Reaksi melalui permukaan
terjadi pada kolagen yang telah terpapar, faktor III dan faktor jaringan.
Dengan pengecualian fibrinogen yang merupakan sub unit bekuan
fibrin,faktor-faktor pembekuan adalah prekursor enzim maupun kofaktor,
yaitu kemampuan menghidrolisa ikatan peptide tergantung pada asam
amino serin pada inti aktifnya (Smeltzer, 2001).
Ada kontak dan adanya cairan jaringan yang masuk, cairan jaringan ini
mengandung thromboplastin proses pembekuan darah terjadi karena
adanya factor intrinsic dan factor ekstrinsik. Factor intrinsic baru terjadi
bila ada kontak aktivasi. Apabila kontak aktivasi tidak ada, kebanyakan
factor intrinsic berada dalam keadaan tidak aktiv (cascade theory dari
clotting factor.waktu pembuluh darah terputus. Jaringan thromboplastin
adalah factor yang berasal dari jaringan (Smeltzer, 2001).
2.5. Fibrinolisis
Fibrinolisis merupakan proses degradasi dari bekuan-bekuan fibrin secara
enzimatis. Yang memegang peranan pada sistem fibrinolisis adalah sistem
plasminogen – plasmin. Fibrinolisis adalah proses penghancuran deposit
fibrin oleh sistem fibrinolitik sehingga aliran darah akan terbuka kembali.
Sistem fibrinolisis terdiri atas 3 komponen yaitu:
1. PlasminogenàBentuk proenzim yg akn diaktifkan menjadi plasmin,
aktifator plasminogen, dan inhibitor plasmin.
2. Aktifator plasminogenà substansi yg dapat mengaktifkan plasminogen
menjadi plasmin.
3. Inhibitor plasminà substansi yg dapat menetralkan plasmin, mngontrol
aktifitas plasmin.
Fibrinolisis adalah mekanisme fisiologis yang bekerja secara konstan
dengan sistim pembekuan darah untuk menjamin lancarnya aliran darah ke
organ perifer atau jaringan tubuh. Ada sejumlah faktor yang dapat
mempengaruhi fibrinolisis yaitu :

6
1. Usia
Proses fibrinolisis pada anak dan dewasa lebih cepat daripada
orangtua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan
fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuandarah.
2. Merokok
Merokok dapat menaikkan fibrinogen darah, menambah agregrasi
trombosit, menaikkan hematokrit dan viskositas darah .
3. Aktivitas fisik
Pengaruh aktivitas fisik terhadap keseimbangan hemostasis pertama
kali diamati oleh John Hunter pada tahun 1794 dimana ia menemukan
darah hewan yang tidak membeku setelah lari jarak jauh. 150 tahun
kemudian dilakukan penelitian ilmuah oleh Bigss dkk pada tahun 1947
dimana ditemukan bahwa latihan fisik memacu aktivitas fibrinolisis
darah. Darah akan mengalami hiperkoagulasi (lebih encer) setelah
seseorang mengadakan aktivitas fisik. Ini disebabkan meningkatnya
aktivitas 2 faktor yang dapat membuat darah lebih encer yaitu : koagulan
faktor VIII dan APTT (Activated Partial Prothrombin Time). Untuk
memacu hiperkoagulasi, faktor VIII harus meningkat banyak, sedangkan
APTT harus mengalami pemendekan (Murray, 2009).
2.6. Bleeding Time
Waktu mulai terjadinya perdarahan hingga terbentuk sumbat trombosit
dan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga darah berhenti mengalir, disebut
sebagai waktu perdarahan (bleeding time). Waktu perdarahan normal pada
manusia sekitar 1 sampai 3 menit. Pengukuran waktu perdarahan untuk
mengetahui respon vaskuler terhadap hemostasis atau kemampuan pembuluh
darah untuk kontraksi dan retraksi serta peran sumbatan fibrin pada daerah
luka (Pedersen, 1998).
Masa perdarahan digunakan untuk menilai faktor-faktor ekstravaskuler
dari hemostasis (pembekuan darah). Ada 2 cara pemeriksaan yang lazim
digunakan yaitu cara Ivy dan cara Duke. Nilai normal masa pendarahan
dengan metode IVY antara 1 dan 6 menit. Apabila lewat 10 menit
peradarahan belum berhenti, hentikanlah percobaan karena tidak ada gunanya

7
untuk melanjutkannya. Perdarahan yang berlangsung lebih dari 10 menit telah
membuktikan adanya suatu kelainan dalam mekanisme hemostasis. Setelah
dibuktikan bahwa masa perdarahan memanjang perlu mencari lebih lanjut
dengan tes-tes lain dimana letaknya kelainan hemostasis. Akan tetapi perlu
juga menyadari kemungkinan lain apabila masa perdarahan melebihi 10
menit, yaitu tertusuknya 1 vena maka pada pemeriksaan ini ulangilah pada
lengan lain (Gandasoebrata, 2007).
Tusukan harus cukup lama sehingga salah satu bercak darah pada kertas
saring menjadi berdiameter 5 mm atau lebih. Percobaan batal jika tidak
didapat bercak sebesar itu. Percobaan batal juga jika masa perdarahan kurang
dari 1 menit. Kedua hal itu disebabkan karena penusukan kurang dalam. Nilai
normal masa perdarahan dengan metode duke antara 1 -3 menit. Cara duke
kurang memberatkan kepada mekanisme hemostasis karena tidak diadakan
pembendungan, hasil tes menurut Ivy lebih dapat dipercaya. Janganlah
melakukan masa perdarahan menurut duke itu pada ujung jari, hasilnya
terutama pada orang dewasa tidak boleh dipercaya dan lebih baik ditusuk
pada cuping telinga karena hasilnya lebih akurat (Gandasoebrata, 2007).
2.7. Metode Duke
Metode Ivy adalah format tradisional untuk tes ini. Dalam metode ivy
tekanan darah manset diletakkan di lengan atas dan meningkat sampai 40
mmHg. Sebuah pisau bedah atau sesuatu yang digunakan untuk melakukan
tusukan di lengan bagian bawah. Pisau otomatis pegas paling umum
digunakan untuk membuat potongan berukuran standar. Waktu dari ketika
menusuk luka dibuat sampai perdarahan semua telah berhenti diukur dan
disebut waktu perdarahan ( bleeding time), setiap 30 detik handuk kertas
digunakan untuk membersihkan darah. (Sutedjo, 2006).
Terjadinya trombositopenia (50.000 mg/dL) menunjukkan adanya potensi
perdarahan yang memanjang. Waktu perdarahan memanjang selain terjadi
pada penderita trombositopenia, juga pada penderita abnormalitas fungsi
trombosit, defesiensi faktor pembekuan, ketidaknormalan vascular, penyakit
hati berat, anemia aplastik, leukimia. Pemanjangan waktu perdarahan dapat

8
juga disebabkan oleh penggunaan obat salisilat, antikoagulan warfarin,
dekstran, dan agen fibrinolitik streptokinase (Sutedjo, 2006).
2.8. Hemofilia
Hemofilia merupakan salah satu gangguan dari hemostasis.Hemofilia
berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari dua kata yaitu haima yang
berarti darah dan philia yang berarti cinta atu kasih sayang.Jadi dapat
diartikan bahwa hemofilia merupakan penyakit yang diturunkan dari ibu
kepada anaknya pada saat anak tersebut dilahirkan.
Adapun pengertian lain dari hemofilia adalah penyakit kelainan
perdarahan yang disebabkan adanya kekurangan faktor pembekuan darah atau
trombosit (penyakit gangguan pembekuan darah). Hal ini disebabkan karena
darah pada penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secar
normal. Proses pembekuan darah pada seorang penderita hemofilia tidak
secepat atau sebanyak orang yang normal. Penderita hemofilia akan lebih
banyak membutuhkan waktu untuk proses pembekuan darahnya.
Penderita hemofilia ini kebanyakan mengalami gangguan perdarahan di
bawah kulit : seperti luka memar jika sedikit mengalami benturan, atau luka
memar timbul dengan sendirinya jika si penderita telah melakukan aktifitas
yang berat sepertai pembengkakkan pada persendian ; seperti lutut,
pergelanagn tangan atau siku tangan. Hemofilia bisa membahayakan jiwa jika
terjadi perdarahan di organ vital seperti perdarahan pada otak.
Hemofilia lebih sering dijumpai pada anak-anak. Bila pria penderita
hemofilia bertahan hidup dan bertahan sampai perkawinan, maka dia akan
menurunkan anak- anak wanita yang normal pembawa ( carier ). Dan ank
wanita keturunannya ini akan menurunkan kepada sebagian anak laki –
lakinya, sehingga anak laki – lakinya ada yang menderita hemophilia
(Boedhianto, 1986).

9
BAB III
METODE KERJA
3.1. Pra Analitik
Pada tahap pra analitik, persiapan yang dilakukan adalah :
1. Persiapan pasien : Tidak memerlukan persiapan khusus
2. Persiapan sampel : Darah kapiler
3. Prinsip : Dibuat perlakuan standar pada permukaan volar,
lamanya perdarahan sampai berhenti dicatat.
4. Alat dan Bahan :
a. Dissposible lanset steril
b. Kertas saring bulat/tissue
c. Stopwatch
d. Kapas alkohol 70%
e. Tensimeter
3.2. Analitik
Cara kerja :
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dikenakan ikatan tensimeter pada lengan atas dan dipompa sampai
tekanan 40 mm/Hg (selama pemeriksaan berlangsung tekanan 40 mm/Hg
harus tetap dijaga).
3. Dibersihkan lengan bawah dengan kapas alkohol 70 %
4. Ditegangkan kulit lengan bawah dan ditusuk dengan lancet/spoit
5. Jika darah terlihat mulai keluar, dijalankan stopwatch
6. Diisap tetes darah yang keluar, tiap 30 detik memakai sepotong kertas
tissue(jangan menekan kulit ketika menghisap darah)
7. Ketika darah tidak dapat diisap lagi dihentikan stopwatch dan dicatat
waktunya.
C. Pasca Analitik
Nilai rujukan : 1-7 menit

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Adapun hasil pemeriksaan BT (Bleeding Time) yaitu :
Metode dan Waktu
No Nama IVY Standar Keterangan

1. Nn.NB 1 menit 38 detik 1-7 menit Normal


Tabel 4.1. Hasil pemeriksaan BT (Bleeding Time)

4.2. Pembahasan
Dalam keadaan normal darah senantiasa berada di dalam pembuluh darah
dan berbentuk cair. Keadaan ini dapat diperoleh bila terdapat keseimbangan
antara aktivitas koagulasi dengan aktivitas fibrinolisis pada sistem hemostasis
yang melibatkan endotel pembuluh darah, trombosit, protein pembekuan,
protein antikoagulan dan enzim fibrinolisis. Terjadinya efek pada salah satu
atau beberapa komponen ini akan menyebabkan terjadinya gangguan
keseimbangan hemostasis dan menimbulkan komplikasi perdarahan atau
trombosis.
Pada praktikum kali ini yaitu melakukan pemeriksaan masa perdarahan
atau Bleeding Time. Waktu perdarahan adalah interval waktu mulai timbulnya
tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah berhenti mengalir
keluar dari pembuluh darah. Penghentian pembuluh darah ini disebabkan
terbentuknya agregat yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak.
Waktu pendarahan diamati sebagai interval waktu timbulnya tetes darah dari
mulai pembuluh darah yang luka sampai darah terhenti mengalir keluar dari
pembuluh darah. Penghentian pendarahan ini disebabkan oleh terbentuknya
agregat pletelat yang menutupi calah pembuluh darah yang rusak.
Pemeriksaan ini terkait dengan proses hemostatis. Hemostasis adalah
mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan karena trauma dan
mencegah perdarahan spontan. Hemostasis juga menjaga darah tetap cair.
Oleh karena itu pemeriksaan penyaring hemostasis harus meliputi
pemeriksaan vasculer, trombosit, dan koagulasi.

11
Biasanya pemeriksaan hemostasis dilakukan sebelum operasi. Beberapa
klinisi membutuhkan pemerikasaan hemostasis untuk semua penderita pra
operasi, tetapi ada juga membatasi hanya pada penderita dengan gangguan
hemostasis. Yang paling penting adalah anamnesis riwayat perdarahan.
Walaupun hasil pemeriksaan penyaring normal, pemeriksaan hemostasis yang
lengkap perlu dikerjakan jika ada riwayat perdarahan.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai kemampuan vascular dan
trombosit untuk menghentikan perdarahan. Prinsip pemeriksaan ini adalah
menentukan lamanya perdarahan pada luka yang mengenai kapiler pada
bagian bawah cuping telinga.
Trombosit dalam proses hemostasis berperan sebagai penambal
kebocoran dalam sistem sirkulasi dengan membentuk sumbat trombosit pada
daerah yang mengalami kerusakan. Agar dapat membentuk suatu sumbat
trombosit maka trombosit harus mengalami beberapa tahap reaksi yaitu
aktivasi trombosit, adhesi trombosit pada daerah yang mengalami kerusakan,
aggregasi trombosit dan reaksi degranulasi. Trombosit akan teraktivasi jika
terpapar dengan berbagai protein prokoagulan yang dihasilkan oleh sel
endotel yang rusak. Adhesi trombosit pada jaringan ikat subendotel terjadi
melalui interaksi antara reseptor glikoprotein membran trombosit dengan
protein subendotel terutama faktor von Willebrand sedangkan aggregasi
trombosit terjadi melalui interaksi antar reseptor trombosit dengan fibrinogen
sebagai mediator.
Pada cara IVY, mula-mula lengan diikatkan tensimeter pada lengan atas
dan dipompa sampai tekanan 40 mm/Hg (selama pemeriksaan berlangsung
tekanan 40 mm/Hg harus tetap dijaga). Lengan bawah dengan kapas alkohol
70 %. Ditegangkan kulit lengan bawah sekitar 3 cm dari lipatan siku dan
ditusuk dengan lancet. Jika darah terlihat mulai keluar, nyalakan stopwatch
kemudian diisap tetes darah yang keluar, tiap 30 detik memakai sepotong
kertas tissue (jangan menekan kulit ketika menghisap darah). Ketika darah
tidak dapat diisap lagi dihentikan stopwatch dan dicatat waktunya.

12
Pemeriksaan masa perdarahan merupakan suatu tes yang kurang
memuaskan karena tidak dapat dilakukan standarisasi tusukan baik mengenai
dalamnya, panjangnya, lokalisasinya maupun arahnya sehingga korelasi
antara hasil tes ini dan keadaan klinik tidak begitu baik. Perbedaan suhu kulit
juga dapat mempengaruhi hasil tes ini.
Pada pemeriksaan ini tusukan harus cukup dalam, sehingga salah satu
bercak darah pada kertas saring mempunyai diameter 5 mm atau lebih. Masa
perdarahan yang kurang dari 1 menit juga disebabkan tusukan yang kurang
dalam. Dalam hal seperti ini, percobaan dianggap batal dan perlu diulang.
Pada praktikum kali ini, didapatkan hasil yaitu Bleeding Time pada
Nn.NB adalah 1 menit 38 detik yang berarti masa perdarahannya adalah
normal. Pada metode IVY apabila perdarahan lebih dari 10 menit maka
kondisi tersebut tidak normal. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kelainan
atau penyakit seperti Hemofilia, Trombosis, gangguan koagulasi dan
kelaianan vaskuler.

13
BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
Dari praktikum yang dilakukan diperoleh hasil pemeriksaan Bleeding
time atau masa perdarahan pasien atas nama Nn. NB adalah 1 menut 38
detik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil pemeriksaan pasien
masih dalam keadaan normal dimana nilai rujukan untuk masa perdarahan
metode IVY adalah 1 – 7 menit.
5.2. Saran
Saran yang di dapatkan dari praktikum kali ini yaitu diharapkan kepada
praktikan lebih berhati-hati lagi dalam melakukan tehnik pengambilan darah,
sesuai dengan prosedur, agar supaya praktikum dapat berjalan dengan lancar.

14
DAFTAR PUSTAKA

Boedhianto,F.X. 1986. Patologi Klinik. Universitas Airlangga. Surabaya.


Bakta,I Made. 2006. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta.
Gandasoebrata, R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Dian Rakyat. Jakarta
Ganong. 2001. Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta tahun 2007.
Murray Robert K., dkk. 2009. Biokimia Harper Edisi 27. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S.C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Brunner &
Suddarth. Edisi 8. Vol. 2. Jakarta: EGC.
Sutedjo, Aryo. 2006. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan Hasil
Laboratorium Edisi Revisi. Amara Books. Yogyakarta
Pedersen, Sylvia Anderson dan Lorraine M.Wilson. 1998. Patofisologi Konsep
Klinis Proses-proses Penyakit Edisi6. Jakarta:EGC
Yuma,Aulia. 2006. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.

15
LAMPIRAN

Proses penusukan cuping telinga

16