Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Demensia merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada orang-orang

dengan usia lanjut. Demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual secara

progresif yang menyebabkan kemunduran kognitif dan fungsional, sehingga mengakibatkan

gangguan fungsi sosial pekerjaan, dan aktivitas harian.

Penyebab demensia yang paling sering pada individu yang berusia diatas 65 tahun adalah

(1) penyakit Alzheimer, (2) demensia vaskuler, dan (3) campuran antara keduanya. Penyebab

lain yang mencapai kira-kira 10 persen diantaranya adalah demensia jisim Lewy (Lewy body

dementia), penyakit Pick, demensia frontotemporal, hidrosefalus tekanan normal, demensia

alkoholik, demensia infeksiosa (misalnya human immunodeficiency virus (HIV) atau sifilis) dan

penyakit Parkinson.

Demensia vaskuler merupakan suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua

sindroma demensia akibat iskemik, perdarahan, anoksik atau hipoksik otak dengan penurunan

fungsi kognitif mulai dari yang ringan sampai paling berat yang kadang disertai dengan

gangguan memori.

Penyebab demensia vaskuler adalah penyakit vaskuler serebral yang multipel yang

menimbulkan gejala berpola demensia. Ditemukan umumnya pada laki-laki, khususnya dengan

riwayat hipertensi dan faktor resiko kardiovaskuler lainnya. Gangguan terutama mengenai

pembuluh darah serebral berukuran kecil dan sedang yang mengalami infark dan menghasilkan

lesi parenkhim multiple yang menyebar luas pada otak . Penyebab infark berupa oklusi

pembuluh darah oleh plaq arteriosklerotik atau tromboemboli dari tempat lain( misalnya katup

1
jantung). Pada pemeriksaan akan ditemukan bruit karotis, hasil funduskopi yang tidak normal

atau pembesaran jantung (Kaplan and Sandock)

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi

Demensia vaskuler merupakan suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua

sindroma demensia akibat iskemik, perdarahan, anoksik atau hipoksik otak dengan penurunan

fungsi kognitif mulai dari yang ringan sampai paling berat yang kadang disertai dengan

gangguan memori.

2.2. Etiologi

Demensia vaskular diakibatkan oleh adanya penyakit pembuluh darah serebral

(aterosklerosis atau trombus) dan gangguan sistem peredaran darah (penyakit jantung iskemik)

yang dapat menyebabkan lesi hipoksia, iskemia, atau adanya perdarahan di otak sehingga dapat

mencetuskan ternyadinya infark dan perdarahan otak.

Studi tentang penyebab kematian pada pasien dengan demensia menunjukkan bahwa

gangguan sistem peredaran darah (misalnya, penyakit jantung iskemik) adalah penyebab

langsung kematian paling umum pada demensia vaskular, diikuti oleh penyakit sistem

pernapasan (misalnya, pneumonia). Prevalensi demensia vaskular terjadi lebih tinggi pada pria

dibandingkan pada wanita dan insidensi meningkat dengan usia yang makin menua.

3
2.3. Epidemiologi

Di negara-negara barat, demensia vaskular menduduki urutan kedua terbanyak setelah

penyakit Alzheimer. Tetapi karena demensia vaskular merupakan tipe demensia yang terbanyak

pada beberapa negara Asia dengan populasi penduduk yang besar maka demensia vaskular

merupakan tipe demensia yang terbanyak di dunia.

Prevalensi demensia vaskular bervariasi antar negara, tetapi prevalensi terbesar

ditemukan di negara-negara maju. Tingkat prevalensi demensia adalah 9 kali lebih tinggi pada

pasien yang telah mengalami stroke. The European Community Concerted Action on

Epidemiology and Prevention of Dementia mendapatkan prevalensi berkisar dari 1,5/100 wanita

usia 75-79 tahun di Inggris hingga 16,3/100 laki-laki usia di atas 80 tahun di Italia.

Demensia vaskular merupakan demensia yang dapat dicegah sehingga mempunyai

peranan yang besar dalam menurunkan angka kejadian demensia dan perbaikan kualitas hidup

orang-orang dengan usia lanjut.

2.4.Faktor Resiko

Prevalensi demensia vaskular akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya usia

seseorang, dan lebih sering dijumpai pada laki-laki. Sebuah penelitian di Swedia menunjukkan

resiko terjadinya demensia vaskular pada laki-laki sebesar 34,5% dan perempuan sebesar 19,4%.

Secara umum faktor resiko Demensia vaskuler sama seperti faktor resiko stroke meliputi

usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes mellitus, aterosklerosis, penyakit jantung, penyakit arteri

perifer, plak pada arteri carotis interna, merokok.

Selain itu, faktor yang harus ditelusuri adalah riwayat penyakit terdahulu. Dari penelitian

penderita stroke didapatkan prevalensi demensia yang cukup tinggi. Dari evaluasi 252 penderita

4
yang sebelumnya menderita stroke, didapatkan hasil bahwa 26,3% dari mereka menderita

demensia.

2.5. Klasifikasi

Berdasarkan PPDGJ III, Demensia vaskular dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Demensia vaskular Onset Akut

Biasanya terjadi secara cepat sesudah serangkaian stoke akibat thrombosis serebrovaskuler,

embolisme dan perdarahan. Pada kasus yang jarang, satu infrak yang besar dapat sebagai

penyebabnya.

2. Demensia multi infark

Onsetnya lebih lambat, biasanya setelah serangkaian episode iskemik minor yang

menimbulkan akumulasi dari infark pada parenkim otak.

3. Demensia vaskular subkortikal

Fokus kerusakan akibat iskemik pada substasi alba di hemifer serebral yang dapat diduga

secara klinis dan dibuktikan dengan CT Scan. Kortex serebri biasanya tetap baik, walaupun

demikian gambaran klinis masih mirip dengan demensia pada penyakit Alzaimer

4. Demensia vaskuler campuran kortikal dan subkortikal

Komponen campuran kortikal dan subkortikal dapat diduga dari gambaran klinis, hasil

pemeriksaan, atau keduanya.

5. Demensia vascular lainnya

6. Demensia yang tidak tergolongkan

5
Adapun pembagian demensia vaskular secara klinis adalah sebagai berikut :

1. Demensia vaskular onset akut (pasca stroke)

dapat ditemukan infark tertentu akan ditemukan lesi pada girus angularis, thalamus,

basal forebrain, daerah sekitar arteri serebri

6
2. Demensia vaskuler Multiple Infark

Pada demensia ini, akan didapatkan adanya perdarahan intraserebral. Terdapat infark

yang lebih dari satu.

3. Demensia vaskuler subkortikal terdapat lesi iskemik pada substansia alba di hemisfer

serebral yang dapat diduga secara klinis dan dibuktikan dengan CT-Scan. Kortex cerebri

biasanya tetap baik, walaupun demikian gambaran klinis masih mirip dengan demensia

pada penyakit Alzaimer.

4. Demensia vaskular tipe campuran penyakit Alzheimer dan penyakit serebrovaskular,

dapat diduga dengan gambaran klinis , hasil pemeriksaan CT scan atau keduanya.

7
2.6. Patogenesis

Demensia vascular dapat disebabkan oleh penyakit pembuluh darah dan gangguan pada

system pembuluh darah, seperti:

1. Ateroslerosis

Pengerasan atau kekakuan pembuluh darah yang disebabkan oleh penumpukan lipid atau

kolesterol pada dinding pembuluh darah.

2. Trombus

Terbentukanya bekuan pada dinding pembuluh darah yang dibentuk oleh proses

thrombosis sehingga membentuk masa yang menonjol pada dinding pembuluh darah,

sehingga dapat menyumbat pembuluh darah.

8
Keadaan-keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya hipoksik, iskemik dan perdarahan

otak, sehingga dapat menyebabkan terjadinya infark tunggal pada daerah otak, infark lakunar,

infark multiple, sindrom Binswanger, angiopati amiloid serebral, hipoperfusi, dan hematoma

(perdarahan)

1. Infark Tunggal di Daerah Strategis

Strategic single infarct dementia merupakan akibat lesi iskemik pada daerah kortikal atau

subkortikal yang mempunyai fungsi penting.

a. Infark girus angularis

Menimbulkan gejala afasia sensorik, aleksia, agrafia, gangguan memori, disorientasi

spasial.

b. Infark daerah distribusi arteri serebri posterior

Menimbulkan gejala amnesia disertai agitasi, halusinasi visual, gangguan visual dan

kebingungan.

c. Infark daerah distribusi arteri serebri anterior

Menimbulkan abulia, afasia motorik dan apraksia.

d. Infark lobus parietalis

Menimbulkan gangguan kognitif dan tingkah laku

2. Infark Lakunar

Lakunar adalah infark kecil, diameter 2-15 mm, disebabkan kelainan pada small

penetrating arteries di daerah diencephalon, batang otak dan sub kortikal akibat dari hipertensi.

Pada sepertiga kasus, infark lakunar bersifat asimptomatik. Apabila menimbulkan gejala, dapat

terjadi gangguan sensorik, transient ischaemic attack, hemiparesis atau ataksia. Bila jumlah

lakunar bertambah maka akan timbul sindrom demensia, sering disertai pseudobulbar palsy. CT

9
scan otak menunjukkan hipodensitas multipel dengan ukuran kecil, dapat juga tidak tampak pada

CT scan otak karena ukurannya yang kecil atau terletak di daerah batang otak. Magnetic

resonance imaging (MRI) otak merupakan pemeriksaan penunjang yang lebih akurat untuk

menunjukkan adanya lakunar terutama di daerah batang otak (pons).

3. Infark Multiple

Demensia multi infark merupakan akibat dari infark multipel dan bilateral. Terdapat

riwayat satu atau beberapa kali serangan stroke dengan gejala fokal seperti

hemiparesis/hemiplegi, afasia, hemianopsia. Pseudobulbar palsy sering disertai disartria,

gangguan berjalan (small step gait), forced laughing/crying, inkontinensia. Computed

tomography imaging (CT scan) otak menunjukkan hipodensitas bilateral disertai atrofi kortikal,

kadang-kadang disertai dilatasi ventrikel.

4. Sindrom Binswanger

Penyakit Binswanger dikenal juga sebagai ensefalopati arteriosklerotik subkortikal,

ditandai dengan ditemukannya infark-infark kecil pada subtansia alba yang juga mengenai

daerah korteks serebri. Dulu dianggap penyakit yang jarang terjadi tapi dengan pencitraan yang

canggih dan kuat seperti resonansi magnetik (Magnetic Resonance Imaging; MRI) membuat

penemuan kasus ini menjadi lebih sering.

Sindrom Binswanger menunjukkan demensia progresif dengan riwayat stroke, hipertensi

dan kadang-kadang diabetes melitus. Sering disertai gejala pseudobulbar palsy, gangguan

berjalan (gait) dan inkontinensia. Terdapat atrofi white matter, pembesaran ventrikel dengan

korteks serebral yang normal. Faktor risikonya adalah small artery diseases (hipertensi,

angiopati amiloid), kegagalan autoregulasi aliran darah di otak pada usia lanjut, hipoperfusi

periventrikel karena kegagalan jantung, aritmia dan hipotensi.

10
5. Angiopati Amiloid Serebral

Terdapat penimbunan amiloid pada tunika media dan adventisia arteriola serebral.

Insidensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Kadang-kadang terjadi demensia dengan

onset mendadak.

6. Hipoperfusi

Demensia dapat terjadi akibat iskemia otak global karena henti jantung, hipotensi berat,

hipoperfusi dengan/tanpa gejala oklusi karotis, kegagalan autoregulasi arteri serebral, kegagalan

fungsi pernafasan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan lesi vaskular di otak yang multipel

terutama di daerah white matter.

7. Perdarahan

Demensia dapat terjadi karena lesi perdarahan seperti hematoma subdural kronik, gejala

sisa dari perdarahan sub arachnoid dan hematoma serebral. Hematoma multipel berhubungan

dengan angiopati amiloid serebral idiopatik atau herediter.

11
2.7. Manifestasi Klinis

Serangan demensia vaskular terjadi secara mendadak, dapat didahului oleh Transient

Ischemic Attack (TIA) atau stroke. Adanya riwayat dari faktor risiko penyakit seberovaskular

harus disadari tentang kemungkinan terjadinya demensia vaskular.

Gambaran klinik penderita demensia vaskular menunjukkan kombinasi dari gejala gejala

sebagai beikut:

1. Gejala fokal neurologik

Gejala fokal neurologik dapat berupa gangguan motorik, gangguan sensorik, dan

hemianopsia.

2. Kelainan neuropsikologik

Kelainan neuropsikologik berupa gangguan memori disertai dua atau lebih kelainan

kognitif lain seperti gangguan atensi, bahasa, visuospasial dan fungsi eksekutif.

3. Kelaianan neuropsikiatrik.

Gejala neuropsikiatrik sering terjadi pada demensia vaskular, dapat berupa perubahan

kepribadian (paling sering), depresi, mood labil, apatis, abulia, tidak adanya spontanitas.

Depresi berat terjadi pada 25-50% pasien dan lebih dari 60% mengalami sindrom depresi

dengan gejala paling sering yaitu kesedihan, ansietas, retardasi psikomotor atau keluhan

somatik. Psikosis dengan ide-ide seperti waham terjadi pada ± 50%, termasuk pikiran

curiga.

12
2.8. Diagnosis

A. Kriteria Diagnostik

Diagnosis demensia vaskular ditegakkan melalui dua tahap, pertama menegakkan

diagnosis demensia itu sendiri, kedua mencari proses vaskular yang mendasari. Terdapat

beberapa kriteria diagnostik untuk menegakkan diagnosis demensia vaskular, yaitu:

1. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi ke empat (DSM-IV)

2. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III)

1. DSM IV

Diagnosis demensia vaskular menurut DSM-IV adalah menggunakan kriteria sebagai

berikut.

a) Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan satu atau

lebih dari gangguan kognitif berikut ini:

1) Afasia (gangguan berbahasa)

2) Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas motorik, sementara

fungsi mototik normal).

3) Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda walaupun fungsi

sensoriknya normal).

4) Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan, daya abstraksi, dan

membuat urutan).

b) Defisit kognitif pada kriteria a) yang menyebabkan gangguan fungsi sosial dan

okupasional yang jelas.

c) Tanda dan gejala neurologik fokal (refleks fisiologik meningkat, refleks patologik positif,

13
paralisis pseudobulbar, gangguan langkah, kelumpuhan anggota gerak) atau bukti

laboratorium dan radiologik yang membuktikan adanya gangguan peredaran darah otak ,

seperti infark multipleks yang melibatkan korteks dan subkorteks, yang dapat

menjelaskan kaitannya dengan munculnya gangguan.

2. PPDGJ III

Berdasarkan Pedoman diagnosa demensia vaskuler menurut PPDGJ III adalah

sebagai berikut :

1. Terdapat gejala demensia

2. Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata (mungkin terdapat hilangnya daya

ingat, gangguan daya pikir, gejala neurologis fokal). Daya tilik diri (insight) dan daya

nilai (judgment) secara relatif tetap baik.

3. Suatu onset yang mendadak atau deteriorasi yang bertahap, disertai adanya gejala

neurologis, meningkatkan kemungkinan diagnosa demensia vaskuler. Pada beberapa

kasus, penetapan hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan CT-Scan atau

pemeriksaan neuropatologis.

B. Identifikasi Demensia Vaskular

Mengidentifikasi demensia vaskular tidak selalu mudah. Looi et al mendapatkan bahwa

pasien demensia vaskular relatif memiliki memori verbal jangka panjang yang lebih baik tetapi

fungsi eksekutif lobus frontal lebih buruk dibandingkan pasien dengan demensia Alzheimer.

Dapat pula digunakan sistem skor misalnya skor iskemik Hachinski dan skor demensia oleh

Loeb dan Gondolfo. Diakui bahwa sistem skor ini belum memadai, kemungkinan terjadinya

14
kesalahan masih ada dan cara ini tidak dapat menentukan adanya demensia campuran (vaskular

dan Alzheimer).

1. Skor Iskemik Hachinski

Skor Iskemik Hachinski Skor

Permulaan mendadak 2

Progresifnya bertahap 1

Perjalanan berfluktuasi 2

Malam hari bengong atau kacau 1

Kepribadian terpelihara 1

Depresi 1

Keluhan somatik 1

Inkontinesia emosional 1

Riwayat hipertensi 1

Riwayat stroke 2

Ada bukti aterosklerosis 1

Keluhan neurologik fokal 2

Tanda neurologik fokal 2

Skornya kurang dari 7 mungkin menderita Alzheimer, sedangkan Penderita dengan DVa atau

demensia multi infark mempunyai skor lebih atau sama dengan 7.

15
2. Skor Demensia Loeb dan Gondolfo

Demensia oleh Loeb dan Gondolfo Skor

Mulanya mendadak 2

Permulaannya dengan riwayat stroke 1

Gejala fokal neurologik 2

Keluhan fokal 2

CT scan terdapat:

- Daerah hipodens tunggal 2

- Daerah hipodens multiple 3

Bila skornya 0 – 4, kemungkinan menderita demensia karena penyakit Alzheimer, bila skornya 5

– 12 maka kemungkinan menderita demensia vaskular.

16
C. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mendapatkan data yang dapat memberi nilai tambah

dalam menunjang diagnosis.

1. Pencitraan

Dengan adanya fasilitas pemeriksaan CT scan kepala atau MRI dapat dipastikan adanya

perdarahan atau infark (tunggal atau multipel) yang besar serta lokasinya. Juga dapat

disingkirkan kemungkinan gangguan struktur lain yang dapat memberikan gambaran mirip

dengan demensia vaskular, misalnya metastasis dari neoplasma.

Adapun gambaran yang didapatkan dari pemeriksaan CT scan dan MRI adalah sebagai

berikut:

a. Gambaran CT scan atau MRI yang mendukung demensia vaskular adalah :

- Infark multiple bilateral yang terletak pada hemisfer yang dominan dan struktur limbik,

- Stroke lacunar multipel

- Adanya lesi periventricula yang meluas sampai ke daerah substansia alba.

b. Pasien dengan mild cognitive impairment (MCI) vaskular menunjukkan lesi infark lacunar

yang lebih luas, atrofi yang minimal pada hippocampal dan entorhinal cortikal, sedangkan

untuk MCI Alzaimer menunjukkan keadaan yang sebaliknya.

Menurut studi tahun 2000 oleh Nagata et al,(18) positron emission tomography (PET)

dapat digunakan untuk membedakan demensia vaskular dengan penyakit Alzheimer. Pada pasien

dengan demensia vaskular terjadi hipoperfusi dan hipometabolisme pada lobus frontal,

sedangkan pada penyakit Alzheimer dapat ditemukan adanya hipoperfusi dan hipometabolisme

tanda parietotemporal.

17
2. Laboratorium

Digunakan untuk menentukan penyebab atau faktor resiko yang mengakibatkan

timbulnya stroke dan demensia. Selain itu, pengujian laboratorium juga dilakukan untuk

menyingkirkan diagnosis selain demensia. Pemeriksaan darah tepi, laju endap darah (LED),

kadar glukosa, tes HIV, kolesterol, trigliserida, HDL,LDL, dan pemeriksaan lainnya yang dapat

menunjang diagnosa demensia vaskuler.

3. Pemeriksaan Lainnya

Pemeriksaan yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi untuk kasus demensia

vaskular adalah echocardiography, arteriografi, EEG dan lain-lain.

2.9. Penatalaksanaan

Terapi untuk demensia vaskular ditujukan kepada penyebabnya, mengendalikan

faktor risiko (pencegahan sekunder) serta terapi untuk gejala neuropsikiatrik dengan

memperhatikan interaksi obat. Selain itu diperlukan terapi multimodalitas sesuai

gangguan kognitif dan gejala perilakunya.

Obat-obat yang dapat digunakan pada demensia vaskuler antara lain:

a. Golongan Acetilcholinesterase Inhibitor

Donepezil hidrochoride, Galantamin, hidrobromide, Rivastigmin.

b. Golongan NMDA Reseptor Antagonis

Memantine

18
c. Dapat diberikan obat-obatan sesuai dengan gejala yang timbul, dapat diberikan :

a. Anti Psikosis

- Chlorpromazine  150 – 600 mg /hari

- Haloperidol  5-15 mg /hari

- Perphenazine  12-24 mg /hari

b. Anti Anxietas

- Diazepam  Oral = 10-30 mg /hari

IV/IM = 2-10 mg /kali setiap 3-4 jam

- Alprazolam  0,25-0,5 mg /hari

19
2.10. Pencegahan

Demensia vaskular dapat dicegah dengan mengatasi penyakit yang merupakan faktor

resiko. Menurut Sachdev, ada beberapa strategi pencegahan demensia vaskular yang dapat

dilakukan sebagai berikut:

1. Obati hipertensi secara optimal

2. Obati diabetes mellitus

3. Tanggulangi hiperlipidemia

4. Anjurkan pasien untuk berhenti merokok dan batasi alkohol

5. Beri antikoagulan bila ada atrial fibrilasi

6. Beri terapi antiagregasi trombosit pada yang beresiko tinggi

7. Gunakan diet untuk mengontrol diabetes, obesitas, dan hiperlipidemia

8. Anjurkan mengubah gaya hidup (misalnya: mengurangi kegemukan, olahraga, mengurangi

stres, dan mengurangi konsumsi garam)

9. Intervensi dini pada stroke dan TIA

10. Sediakan rehabilitasi intensif setelah stroke

20
BAB III

KESIMPULAN

1. Demensia vaskuler adala suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua

sindroma demensia akibat iskemik, perdarahan, anoksik atau hipoksik otak dengan

penurunan fungsi kognitif mulai dari yang ringan sampai paling berat yang

kadangdisertai dengan gangguan memori.

2. Demensia vaskular diakibatkan oleh adanya penyakit pembuluh darah serebral

(aterosklerosis atau trombus) dan gangguan sistem peredaran darah (penyakit jantung

iskemik) yang dapat menyebabkan lesi hipoksia, iskemia, atau adanya perdarahan di otak

sehingga dapat mencetuskan ternyadinya infark dan perdarahan otak.

3. Klasifikasi demensia vaskuler antara lain :

Demensia vaskular Onset Akut

Demensia Multi infark

Demensia vaskular subkortikal

Demensia vaskulea campuran kortikal dan subkortikal

Demensia vascular lainnya

Demensia yang tidak tergolongkan

4. Kriteria diagnosa demensia vaskuler dapat ditegakan dengan menggunakan:

1. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi ke empat (DSM-IV)

2. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III).

5. Pemeriksaan Penunjang dapat dilakukan denan melakukan pencitraan, pemeriksaan

laboratorium dan pemeriksaan lain seperti EKG, EEG, Arteriografi, dan lain-lain.

21
6. Dengan pengendalian factor resiko, pencegahan dan penatalaksanaan stroke yang baik

dapat menurunkan insidens demensia vaskuler sehingga dapat memperbaikan kualitas

hidup pada lanjut usia.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan and Sadock, Synopsy of Psichiatry , 1st volume, Ninth Edition, Lippincott

Williams and Wilkins, Philadephia, USA, 2003, 10 : 333

2. Dr. Rusli, Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III, Edisi I, FK Unika

Atmajaya, Jakarta, 2001

3. Leys D, Parnetti L, Pasquier F. Vascular dementia. In: Fisher M, Bogousslavsky J,

editors. Current review of cerebrovascular disease. 3th ed. Philadelphia: Current

Medicine Inc; 1999. p. 137-47.

4. Looi JCL, Sachder PS. Differentiation of vascular dementia from AD on

neuropsychological tests. Neurology 1999; 53: 670-80.

5. Lumbantobing SM. Neurogeriatri. Balai Penerbit FKUI; Jakarta; 2001.

6. Multi-infarct dementia [monograph on CD-Room]. Bowler JV, Hachinski VC.

Neurobase; 1999.

7. Ikeda M, Hokoishi K, Maki N, Nebu A, Tachibana N, Komori K, et al. Increased

prevalence of vascular dementia in Japan: a community-based epidemiological study.

Neurology 2001; 11:839-44.

8. Roman GC, TatemichiTK, ErkinjunttiT, Cummings JL, Masdeu JC, Garcia JH, et al.

Vascular dementia: diagnostic criteria for research studies. Report of the NINDS-AIREN

International Workshop. Neurology 1993; 43: 250-60.

9. Forrete F, Rigaud AS, Morin M, Gissebrecht M, Bert P. Assesing vascular dementia.

Neth J Med 1995; 47: 185-94.

23
10. Chui HC, Mack W, Jackson JE, Mungas D, Reed BR, Tinklenberg J, et al. Clinical

criteria for the diagnosis of vascular dementia. A multi-center study of comparability and

inter rater reliability. Arch Neurol 2000; 57: 191-6.

11. Chui HC. Dementia associated with subcortical ischemic vascular disease (SIVD). Ann

Am Neurol 2001: 2FC.005-89-107.

12. Roman GC. Senile dementia of the Binswanger type. A vascular form of dementia in the

elderly. JAMA 1987; 258: 1782-8.

13. Sachdev PS, Brodaty H, Looi JCL. Vascular dementia: diagnosis, management and

possible prevention. Med J Aust 1999; 170: 81-5.

14. Orgogozo JM, Forette F. Efficacy of memantine in mild to moderate vascular dementia

(the MMM trial). Presented at the 6th International Springfield on advancec in

Alzheimer’s Therapy. Stockholm, April 5-8, 2000.

15. Wilcock G, Mobius HJ, Stoffler A. A double-blind, placebo-controlled multicentre study

of memantine in mild and moderate vascular dementia (MMM 500). Int Clin

Psychopharmacol 2002; 17: 297-305.

24